Rabu, 30 Juli 2014

#1Hari1Masjid : Masjid Al Muttaqin - Komplek Gedung Sate Bandung

Beruntung sekali, Ramadhan lalu aku mendapat undangan dari Pondok Qur'an Bandung untuk mengikuti acara Sehari Bersama Al Qur'an. Dan tambah pula keberuntunganku karena acaranya diadakan di Masjid Al Muttaqin - Komplek Gedung Sate Bandung.
Sekedar info aja, seumur umur jadi warga Jawa Barat, aku baru dua kali masuk komplek Gedung Sate ini. Pertamanya bertahun tahun lalu pas ngajuin proposal kegiatan ormas Salimah, sama yang kemarin ini acara sehari bersama Al Qur'an.  Pertama dulu aku gak bawa motor, jadi masuk dari pintu Jl. Diponegoro, langsung masuk gedung dewan (yang lama). Nah kemarin aku masuk dari pintu belakang. Sempat nanya beberapa kali sebelum ketemu pintu yang dituju. Dan whaaaat ? Satpamnya ramah dan nggak ditanya aku mau ngapain masuk area Gedung Sate. (Kayaknya bisa nih, lain kali ke sini lagi khusus buat popotoan).
Tapi aku bilang siih, mau ke masjid. Secara aku gak tahu lokasi masjidnya di mana, jadi sekalian nanya. Hehe...

Masjid ini ada di halaman kiri Gedung Sate. Pas aku jalan ke arah masjid, di halaman Gedung Sate lagi ada pengambilan gambar buat acara salah satu TV swasta.
Pantes aja ya... ketika aku masuk juga nggak di tanya. Kali banyak orang yang keluar masuk atau sekedar foto foto.

Aku agak terkejut melihat penampakan bagian depan masjid.
Dekorasinya seperti gedung kantor gitu. apalagi setelah lihat bagian dalam, tambah heran lagi. Pertama yang kutemui adalah ruangan besar semacam lobby gituu.... Besaaaar....
Baru kemudian masuk ke ruang utama masjid.

Pintu masuk ke ruang utama ada 3, tengah, sisi kiri dan sisi kanan. Keherananku belum berakhir. Ketika melihat ruang utama masjid ini yang sungguh berbeda dengan masjid - masjid yang pernah aku kunjungi.
Ada ruang yang kontur tanahnya lebih rendah lagi dibanding pas masuk pertama tadi.
Dan ada tembok pembatas setinggi paha. Di bagian depan ada semacam panggung dan di sisi panggung tersebut baru terdapat ruang imam dan podium.

Setelah sekian lama duduk di dalam masjid, teman sebelah cerita kalau masjid ini dulunya ruang sidang DPRD Provinsi Jabar.  Oh..pantes. langsung sekali lagi pandangan kuedarkan ke sekeliling ruangan.
Panggung itu mungkin tadinya tempat ketua dewan memimpin sidang. Trus di atas ada semacam balkon, baik di sisi kiri kanan maupun arah belakang yang berhadapan dengan panggung.
Oh iya, dinding lantai dua itu cukup menarik perhatianku.
Karena di sana ada ukiran atau diorama tertentu. Sayang tidak terlalu jelas dilihat dari bawah.

Meski penampilan secara fisik berbeda, tapi suasana adem khas masjid tetap terasa.
Sehari bersama Al Quran yang seharusnya aku ikuti selama lima jam, aku hanya ikut selama 2.5 jam tanpa terasa. Seneng banget, ketemu para pecinta Al Quran.
Ketemu para hafizhoh.
Moga ketularan semangat mereka.
Cerita lengkapnya di postingan lain aja ya...

Hari menjelang sore pas aku ninggalin komplek gedung sate. Lewat air mancur di depan masjid, banyak anak anak lagi asyik bermain.
Trus lewat dekat parkiran, ada yang lagi latihan beladiri Satria Nusantara.
Trus lihat juga ada burung burung yang asyik bercengkrama dekat kandang.
Adeeemmm...
hhhmmmm kapan ya... ke Gedung Sate lagi. Ada satu spot yang aku penasaran, yaitu barisan tanaman yang bertuliskan GEDUNG SATE.
Aku mau foto di sana hehe

bagian depan gedung masjid.
bagian podium dan imaman
dinding lantai dua
lampu lampu di atas ruang utama

Selasa, 29 Juli 2014

Selamat Idul Fitri

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Sabtu, 26 Juli 2014

Mengais Sisa Ramadhan

Tertatih aku mengejar bulan
Mengais sisa - sisa Romadhon
Terjatuh.. terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
Syawal tlah menjelang
Tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
Amal ibadah bagi insan beriman

Duhai sahabat pilihan Alloh
Di sini, dipertigapuluh terakhir
Kita bertemu dalam renungan
Satu jiwa satu hati dan satu iman

Tuhan
kekalkanlah tali ini
Rekatkan dalam dzikir padaMu
Biarkan rindu kian bersemayam
Karena kasih dan cintaMu

Duhai sahabat pilihan Alloh
Dihari ke tujuh ba'da Romadhon
Hati masih sedih ditinggalkan
Seluruh jiwa terasa sakit
Tiada kawan penghibur
Kecuali Alloh semata

Hanya satu tumpuhan harapan
Jumpa Romadhon dengan izin Tuhan
Madrasah perjuangan dan kesabaran
Menuju Ar-royan yang dijanjikan

*dari Nasyid Suara Persaudaraan berjudul Elegi untuk AA.

Jumat, 25 Juli 2014

#1Hari1Masjid: Masjid Lautze 2, Bandung



Teman - teman, maaf ya.. selama Ramadhan ini aku jarang posting. Nanti lah kisah lengkapnya insya ALlah aku ceritain...
Sekarang karena copas, jadi cepet nih... bikin postingan.
Ceritanya ikut acaranya Prima, #1hari1masjid seperti yang kupasang bannernya di side bar.
Alhamdulillah, atas kebaikan Prima jualah, kirimanku bisa dimuat di blognya. Makasih, Prima...
Makasih atas ide ide cemerlangnya. Boleh ya... ke depan aku pakai hesteknya buat postinganku tentang masjid. Seperti juga kupakai hestek #1hari1ayat milikmu...

Papan penunjuk nama

Bagian depan masjid Lautze 2 dari arah patung bola

bagian dalam masjid, dengan dekorasi dan karpet yang dominan warna merah


Walaupun setiap hari melintasi jalan ini, akan sangat dimaklumi bila para pelintas tidak menyadari kehadiran sebuah masjid disini. Itu tidak lain karena masjid ini diapit oleh deretan ruko-ruko. Ya,  masjid ini juga menjadi bagian dari ruko tersebut. Satu-satunya penanda bahwa disana ada masjid, adalah papan nama berwarna kuning, dengan tulisan merah menyala khas etnis Tionghoa yang berbunyi Masjid Lautze-2 dan menunjuk ke arah pintu. Di sisi kanan pintu terdapat toko yang juga bernama Toko Lautze yang menjual buku dan aneka perlengkapan lainnya.

Masjid Lautze-2 terletak di jalan Tamblong nomor 27 Bandung, lebih tepatnya berada di pertemuan empat jalan yaitu jalan Lembong-jalan Sumatera-Jalan Veteran-dan jalan Tamblong; persis di seberang RS Bungsu. Menempati ruko sewaan berukuran 6x7m. Tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah masjid. Tapi karena di sekitar lokasi tersebut hanya ada satu masjid ini, maka tiap tiba waktu shalat Jum’at, jamaah pun rela shalat di luar masjid/di trotoar.

Dari sisi arsitektur, masjid ini sepertinya sengaja didekorasi dengan dominasi warna merah. Mulai dari pintu depan, ada sebuah ragam hias dengan dominasi merah dan kuning. Kemudian pintu utamanya juga merah. Demikian pula dengan warna dinding di dalam masjid. Dekorasi ini bertujuan agar warga muslim Tionghoa yang baru memeluk Islam merasa ‘home’ saat memasuki masjid ini. Sehingga mereka merasa betah untukberlama-lama di masjid dalam rangka mendalami Islam menuju muslim kaffah.
 
Aktifitas di masjid ini, semuanya berada dibawah manajemen Yayasan Haji Karim Oei. Siapakah beliau sehingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah yayasan? Haji Karim Oei/Haji Abdul Karim adalah salah satu tokoh nasional yang sangat berjasa menyebarkan Islam terutama di kalangan Tionghoa. Beliaulah pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dalam masa hidupnya, beliau pun pernah menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat Pusat. Untuk mengabadikan jasa dan perjuangan beliau, maka setelah beliau wafat tahun 1988, dibentuklah Yayasan Haji Karim Oei di Jakarta pada tahun 1991.

Mengapa Lautze2?
Itulah pertanyaan saya ketika pertama kali melihat papan nama masjid ini. Ternyata angka Dua adalah untuk membedakan masjid ini dengan Masjid Lautze 1 di Jakarta yang juga berada dibawah manajemen Yayasan Haji Karim Oei.

Menurut penjaga yang sedang membersihkan trotoar di seputar masjid, Masjid Lautze 2 biasanya buka sekitar pukul 9 pagi, sampai ashar atau sampai maghrib.  Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang memasuki masjid dan mengambil inventaris masjid. Seperti yang teman-teman lihat, bagian luar masjid pun tidak terlewat dari aksi vandalisme. Dipenuhi dengan coretan-coretan yang sungguh merusak pemandangan.
 
Mudah-mudahan lebih banyak lagi orang mengetahui bahwa bangunan ini adalah masjid, sehingga bisa menjaga kebersihan lingkungannya bersama-sama.

***