Jumat, 31 Oktober 2025

Naik Woosh Karawang-Tegalluar


Setelah aku bertemu temanku di Karawang dan transit sekitar 3 jam, aku melanjutkan perjalanan Karawang - Tegalluar. Jujur suasana kota Karawang yang paling berkesan adalah panasnya serta kendaraan besar yang berseliweran. Mungkin memang jalur yang aku lewati ke stasiun adalah jalur industri.

Baca : Naik Woosh Jakarta - Karawang

Siangnya aku naik kereta yang jam 14.45. Aku beli tiketnya juga saat lagi ngobrol di kantor temenku. Jadi bisa dibilang on the spot juga. Masih melanjutkan pilihan sisi, kali ini aku juga tetap pilih sisi kanan Memang sih tempat duduknya bertiga, tapi kan kosong ini ya.. jadi tetep bisa sendirian.

Perjalanan ke Bandung diwarnai dengan hujan deras. Sampai-sampai pemandangan di luar sama sekali tidak nampak. Alhamdulillah hujannya paling sampai Purwakarta kali ya. Karena selanjutnya pelan pelan pemandangan nampak. Sadar-sadar udah di sekitar Cimahi. 

Masya Allah, menuju Bandung di sisi kanan ini pemandangan sangat luar biasa. Diwarnai dengan gunung-gunung yang berlapis-lapis. Suasana tambah syahdu karena ada gerimis dan kabut tipis.

Sesampainya di Stasiun Tegalluar aku masih bersantai ria. Karena hari ini aku sudah niat mau me time dan menghabiskan cuti. Sehingga nanti sampai rumah sekitar 17.30 seperti hari-hari aku ngantor. Karena santai inilah aku juga jadi memperhatikan apa apa yang ada di stasiun Tegalluar. 

Ternyata :
1. Stasiun cukup ramai dan ada beberapa tempat makan
2. Toilet dan ruang laktasinya bersih di lantai bawah
3. Ada taksi bluebird (bluebird ya.. bukan golden bird hihi) yang selalu standby
4. Ada shuttle ke Mall Summarecon gratis tis tis 
5. Ada shuttle Damri ke arah kota dan ke arah Jatinangor. Ke arah kota bayar 20rb

Dengan gabutnya aku ikut bis yang ke Mall Summarecon. Ternyata sebelum bis jalan, penumpang di foto dulu sama pak Sopir yang rapi dan ramah. Sampai Mall Summarecon, bis berhenti di pintu Ageung. (Mall Summarecon ada beberapa pintu masuk). Dan tahu nggak, kita juga bisa balik lagi ke stasiun Tegalluar naik shuttle ini. Ada jadwalnya lho..


Begitulah pengalamanku jalan-jalan hari ini, sungguh aku menikmati waktuku ini. Sangat sangat mindfull. Sebelum pulang, aku duduk dulu minum teh sore dan makan kudapan di Koi The. Nanti lagi ceritanya ya... 



Kamis, 30 Oktober 2025

Naik Woosh Jakarta-Karawang



Jarang-jarang ya aku berkesempatan naik Woosh dari Jakarta. Sejak kereta cepat ini diluncurkan, aku baru sekali naik pulang pergi. Berangkat dari Stasiun Padalarang dengan menggunakan Feeder dari Stasiun Bandung, lalu pulangnya dari Halim langsung menuju Tegalluar. 

Makanya begitu ada kesempatan naik Woosh lagi, aku nggak ingin mendapatkan pengalaman terbaik, terutama dari pemandangannya. Akupun mencari tahu dengan mengetikkan pencarian di Google.  Aku menggunakan kata kunci "naik woosh dari jakarta duduk di sisi mana?"

Tak lama keluar jawaban dari AI, katanya: Jika naik Whoosh dari Jakarta, disarankan memilih kursi dengan nomor ganjil dan berada di sisi kiri untuk mendapatkan pemandangan yang lebih luas dan tidak terhalang. Sisi kiri ini akan memberikan pemandangan yang didominasi oleh jalan tol, sementara sisi kanan cenderung memperlihatkan pemandangan alam seperti sawah dan perbukitan. 

pemandangan sisi kiri no kursi ganjil

Akupun segera hunting tiket. Oh iya karena aku perginya di hari kerja, maka aku membeli tiket on the spot. Woosh biasanya kosong di hari kerja.

Kali ini aku rencananya mau naik dari Halim, lalu transit di Karawang menengok teman. Kemudian dari Karawang aku nanti lanjut ke Tegalluar. 

Dari nganterin F3 kerja di kawasan Rasuna Said, aku lanjut pakai ojek daring ke Halim. Dulu aku ke Halim nggak turun dari stasiun sama sekali, karena lanjut naik LRT/MRT. Jadi kali ini aku masih meraba-raba lewat mananya. Aku hanya mengikuti orang-orang yang jalan kaki dari drop off ojek ke atas. Sambil jalan aku sambil cari tiket.  Sebelum masuk aku jajan dulu di area food court. Pilihannya lumayan banyak kalau di Halim. 

Begitu naik kereta, alhamdulillah kursiku sesuai informasi google. Jendelaku full dan aku bisa lihat pemandangan yang hijau-hijau. Nggak sepenuhnya hijau sih, karena mulai banyak tanah yang diurug, mungkin untuk kawasan pemukiman baru atau kawasan industri, karena lokasinya dekat angkutan darat (tol, kereta). Dari Halim ke Karawang cukup 15 menit saja.

Sampai di stasiun Woosh Karawang jujur aku agak shock. Kenapa? Alasanku :
1. Suasana stasiunnya sepi, asli sepi banget. Penumpang yang turun hanya satu dua. Yang naik juga. 
2. Tempat jualan banyak, tapi baru ada Indomaret yang pasang-pasang etalase kecil, bukan cabang toko kayak.
3. Stasiunnya jauh dari kota. Jadi aku musti naik ojol lagi dari stasiun ke tempat temenku di kota.
4. Nggak ada taksi Bluebird dong, adanya cuma Golden Bird. Harga tentu saja mahalan Golden Bird ya..
5. Ada shuttle gratis hanya sampai Grand Outlet sekitar 5-6 menit.

Tapi aku nggak menyesal turun di Karawang, karena bisa ngobrol sama temenku yang sudah lama nggak ketemu.


Rabu, 29 Oktober 2025

Mencari Kost di Jakarta Selatan

Masjid dekat kost

Mencari kost di kota lain hari gini ternyata tidak sesulit jaman aku cari kost. Dulu kalau cari kos biasanya cari rekomendasi teman dulu, habis itu kita mesti survey dulu ke lokasi baru menentukan pilihan. 

Beda banget dengan kondisi saat ini. Ini udah 3 anakku mau tinggal di luar kota, aku cari kostnya benar benar mengandalkan media online.

Waktu F4 kuliah di Yogya, aku cari kost mengandalkan Google Maps. Singkatnya aku buka maps di daerah yang aku tuju, terus aku zoom, terus aku hubungi tuh pemilik kost satu per satu. Lengkapnya aku sudah pernah cerita di sini ya..

Baca ini : Mencari Kost di Yogyakarta

Juni lalu ketika F2 keterima kerja di Jakarta, akupun mencari kost masih dengan sistem seperti itu. Alhamdulillah dapat yang cocok, dan F2 juga nerima-nerima aja dikasih kost yang di dalam gang. Mungkin karena dia cowok dan bawa motor sendiri jadi nggak pusing dengan transportasinya. Dan memang kostnya juga enak sebenernya. Bapak kost juga baik. Minusnya ya cuma di dalam gang itulah.

Nah bulan ini giliran F3 yang ada kerjaan di kota lain. Dapat proyek selama dua bulan di Jakarta Selatan. Aku nggak pusing nyari kost karena si anak udah online banget. Hihi.. Kayaknya berbagai cara dia tempuh. Ada rekomendasi teman, dia chat satu-satu tuh, ternyata problemnya kalau nggak jauh ya habis.

Kemudian dia cari di Google maps. Lalu dia chat juga satu per satu. Ternyata aku baru tahu kalau di dunia peta tempat kost ini ada semacam penipuan. Modusnya adalah dia mengaku-aku sebagai pemilik kost, terus meninggalkan nomor di situ. Nanti kalau ada yang mau survey kost, diminta bayar dulu semacam deposit. Kalau kita nggak peka, mungkin akan terkecoh. Karena dia pakai akun bernama Owner Kost.  Dan di beberapa kost yang tidak mencantumkan nomor telepon,  dia menulis ulasan lalu mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi. Tapi anehnya kalau dia pemilik, dia memberikan bintang 3 ke kost tersebut. Aneh sih menurutku... Jadi aku skip.

Nomor HP sengaja aku potong


Nah satu cara lagi yang aku baru tahu adalah, dia cari di mamikos di daerah yang dia tuju sekitar kantornya. Lalu setelah itu dia chat nama pemilik di akun mamikos tersebut. Setelah terjawab, menanyakan harga, fasilitas dll, tinggal perlu survey. Ajaibnya sekarang udah ada jasa survey kost-an. Cek akun tiktok @ipemendoan.Jadi aku nggak perlu survey lagi kost tersebut, cukup dengan membayar sekitar 100rb an. 

Alhamdulillah, F3 dapat kost sesuai dengan yang dia butuhkan. Kostnya enakeun, tempatnya strategis, di pinggir jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, ada minimarket cuman selisih berapa rumah, dekat masjid besar yang adzannya bisa membangunkan pagi-pagi, ada warung nasi goreng yang harganya terjangkau, dan kalau pagi juga ada warteg yang sudah buka jam 6 buat beli bekal. 

Nasgor dan seafood harga anak kost

Alhamdulillah, tambah satu lagi pengalamanku soal cari kost-an.

Kamis, 16 Oktober 2025

Destinasi Sekitar KM Nol Kota Yogyakarta



Pekan lalu aku kembali berkunjung ke kota Yogyakarta. Selain keperluan menjenguk F4 yang sedang kuliah di sana, aku juga menemani sahabatku yang mengikuti event Malioboro Run 2025. 

Yogyakarta itu mirip Bandung. Hampir setiap minggu ada aja gebrakannya. Muncul destinasi baru, muncul hal viral baru, dan yang lama pun perlu berbenah agar tidak ditenggelamkan oleh algoritma media sosial.

Ke Yogya kali ini aku menginap agak ke pinggir. Tidak mendekati Malioboro tapi ya masih bisa keliling-keliling mengunjungi tempat yang selama ini belum pernah aku kunjungi.

Di seputar titik nol kilometer ini kondisinya sudah berbeda dengan tahun lalu aku ke sini. Penasaran kan ada perubahan apa saja? Yuk kita lihat.

1. Museum Benteng Vredeburg

Bangunan museum ini menurutku masih sangat bagus dan terawat, bersih dan aku senang suasana tidak terlalu ramai. Jadi masih dapat menikmati diorama-dioramanya. Hebat sih menurutku pemeliharaannya. Fasilitas di sini juga lengkap, ada mushola, toilet, dan tempat wudhu. Memang untuk muslimah tempat wudhunya kurang friendly karena tidak tertutup.
Kalau ke sini enaknya agak sore atau malam supaya tidak terlalu panas. Selain itu sekarang kalau malam juga ada pertunjukan air mancur menari yang warna warni

Benten Vredeburg siang hari dan malam hari


2. Foto-foto di titik nol kilometer

Dua tahun lalu aku ke sini masih ada tulisan nol kilometer di sudut jalan antara Jalan KH Ahmad Dahlan dengan Jalan Malioboro. Namun kemarin ke sana sudah tidak ada lagi. Malahan ada tulisan baru di sudut dekan Benteng Vredeburg, di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 ada tulisan Jogja Kota Batik
Untuk bisa foto di sini dengan latar yang bersih agak perjuangan ya, harus pintar-pintar menangkap momen atau mengedit gambar. (lol)

Foto-foto di Titik Nol km

3. Menonton film bisu di Bioskop Sonobudoyo

Aku baru sadar kalau di sini ada bioskop ketika kemarin jalan pelan-pelan di sekitar titik nol kilometer ini. Kupikir tadinya ini bagian dari kafe di sebelahnya. Ternyata bagian dari museum. Di sini diputar beberapa film bersejarah terkait Museum Sonobudoyo. Untuk jadwal penayangannya ada di pukul 16.00, 17.00, 19.00 dan 20.00 WIB. Harga tiketnya Rp. 5.000 per orang

Kebetulan waktu itu aku menonton film sejarah museum, berjudul Sanaboedaja 1935. Filmnya hitam putih dan tanpa suara, berlangsung sekitar 30 menit termasuk iklan. Aku bersyukur nonton ini dulu sebelum masuk museum, sehingga ketika masuk museum terbayang sejarahnya seperti yang diceritakan di film ini.


Bioskop Sonobudoyo

4. Cafe Titik Nol dan Solaria

Nah kalau sudah kehausan atau kelaparan keliling-keliling, kalian bisa mampir ngopi-ngopi cantik di sini. Cafe Titik Nol ini di sebelah bioskop Sonobudoyo. Sedangkan Solaria ini masih agak baru, letaknya di seberang Cafe Titik Nol, di gedung Pos. Setelah makan dan minum, kita lanjut lagi ya
perjalanan keliling titik nol ini.

Cafe titik nol kilometer

5. Foto-foto di depan Museum Sonobudoyo

Sebenarnya di trotoar sini banyak spot foto ya, hampir setiap sudutnya bisa jadi sarana foto cantik. Berikut beberapa di antaranya. Yaitu di patung bola dunia bertuliskan Museum Sonobudoyo dan foto di depan patung raksasa di tembok museum.

Foto di depan Museum Sonobudoyo

6. Museum Sonobudoyo

Masuk ke museumnya dari jalan di seberang Alun-alun Utara. Tiket per orang Rp. 10.000. Jujur aku tidak menyangka kalau Museum Sonobudoyo sebesar ini. Pertama kita masuk gedung yang di depan. Isinya seputar gamelan dan aneka jenis wayang. Bahkan ada pertunjukan tiruan wayang kulit. Di gedung ini juga ada berbagai jenis senjata dan ukir-ukiran. Setelah berkeliling, kupikir udah selesai, ternyata di belakang gedung ini ada lagi gedung museum setinggi lima lantai. Gedung kedua ini sekilas penataan lebih modern, dibantu dengan pencahayaan sehingga menambah artistik karya yang dipamerkan.
Namun sayang, aku yang habis muter-muter di titik nol, udah nggak kuat naik dan menyerah di lantai 2.
Berikut ada beberapa foto yang kuambil di Museum Sonobudoyo

Spot foto di dalam Museum Sonobudoyo

7. Jogja Gallery

Lokasinya masih seputar Museum Sonobudoyo. Cuman, kalau museum di sisi kanan, maka Jogja Galery ada di sisi kiri kalau kita menghadap Alun-Alun Utara. 
Di sini ada pameran hampir rutin, mungkin dapat di cek di akun media sosial Jogja Gallery. Untuk masuknya beda-beda sesuai yang mengadakan acara saat itu. Kebetulan waktu aku datang lagi ada pameran lukisan, dengan tiket masuk aku lupa antar 10rb atau 20rb pokoknya nggak terlalu mahal.
Ke sini kayak ngadem. Menikmati hasil karya istimewa tanpa hiruk pikuk. Merenung dan mencoba menyelami apa yang dimaksud oleh pembuat karya seni.


Nah itu yang aku kunjungi di sekitar titik Nol kilometer Yogyakarta, kalau kamu ke mana saja?



Senin, 06 Oktober 2025

Kesanku Menginap di Omah Manis Tamansiswa

Ke Yogya, berkali-kali pun rasanya tidak cukup untuk mengulik segala penjuru kotanya. Menginap selalu pindah tempat. Berkunjung selalu ke tempat baru. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang kesan-kesanku menginap di Omah Manis Tamansiswa



Alamat :

Jl. Taman Siswa No.1281A, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, 

Daerah Istimewa Yogyakarta 55151

No Telepon : 08112643747


Aku pesan melalui aplikasi Traveloka. Soalnya setelah aku bandingkan dengan aplikasi sejenis, di sini harganya yang paling ekonomis.

Kelebihan Omah Manis Tamansiswa

1. Lokasi

Menurutku lokasi ini mudah dijangkau. Nggak di tengah kota banget jadi suasana lebih tenang, nggak hiruk pikuk. Masuk hotel rasanya adem. Ada masjid depan hotel, lihat anak-anak berlarian ke masjid dan ibu-ibu pengajian habis maghrib. Sampai anakku bilang itu Umi ikut aja pengajian ke masjid. Lol

2. Stafnya ramah-ramah dan sigap

Di lobby kami disambut dengan senyuman, kemudian tanda pengenal kami dicopy dan menitipkan deposit Rp. 50.000/kamar. Kemudian kami ditunjukkan kamar tempat menginap. Pas besoknya minta tolong kamar dibersihkan, pulang jalan-jalan kami mendapati kamar sudah rapi dan wangi. 

3. Kamarnya oke banget

Aku menginap di type deluxe dengan tempat tidur queen. Cahaya masuk ke kamar dengan leluasa. Ada lemari pakaian lengkap dengan hanger, ada meja setrika dan brankas juga ada. Setrika dan hair dryer dapat dipinjam ke resepsionis. Yang aku suka juga di kamar ada semacam mini kitchen set gitu. Ada kulkas,  piring dan gelas, mangkok, sendok, alat cuci piring dan tentu saja teko pemanas beserta printilannya. Namun yang jadi perhatianku adalah, nggak ada botol air mineral di kamar. Jadi air putih ditempatkan di teko kaca, kalau habis bisa isi ulang di dapur setiap lantai. 

4. Tersedia dapur di tiap lantai

Di dapur ini ada alat masak yang boleh dipakai, asal dibersihkan kembali. Kemudian tempat cuci piring, microwave dan juga air galon untuk mengisi ulang teko yang di kamar. Di sini juga ada alat makan yang boleh dipergunakan, asalkan setelahnya dikembalikan dalam keadaan bersih.

5. Ada kolam renang dan tempat gym



Meski tempatnya di dalam gang, Omah Manis Tamansiswa ini lengkap juga lho fasilitasnya. Ada kolam renang dengan ukuran lumayan dan ada juga tempat gym. Kalau pagi, tamu-tamu sarapan bersama di sekitar kolam renang. 

6. Tersedia Sarapan



Di aplikasi nggak ada pilihan tanpa sarapan. Tapi nggak nyesel juga sih sarapan di hotel. Ada camilan dua macam kue satu manis satu asin, terus sego kucing, mie goreng, sayur tumis, mendoan (dua hari mendoan ada terus), sama lauk (hari pertama tahu telur, hari kedua ayam sayur), buah juga selalu ada, minuman teh dan kopi, jus serta infused water. Oh iya buat anak-anak juga ada sereal + susu, sama roti. Pas hari pertama malah ada bubur sumsum. Lebih dari cukup menurutku sih..

7. Dekat pusat oleh-oleh Yogya

Jadi ceritanya aku kemaren ke Yogya nggak mampir ke Malioboro. Jadi beli oleh-olehnya ya sekitar penginapan aja. Ternyata keluar gang udah ada Yudhistira (grosir batik), Pusat Oleh-oleh Jiwa Jogja, Cafe Chouvee, J-House, Bolosego, dsb


Rabu, 01 Oktober 2025

Bakso Solo Balapan

Buat yang bolak-balik lewat Ujungberung - Jatinangor, warung bakso ini tentu cukup menyita perhatian. Lokasinya di pinggir jalan, tempat parkir motor mencukupi, dan tempatnya juga proper. Namanya Bakso Solo Balapan (SB)

Alamat :

Jl. Raya Cinunuk No.172, Cinunuk, Kec. Cileunyi, 

Kabupaten Bandung

Lokasi persisnya di seberang Grand Griya Cinunuk. Warna di luar didominasi kuning dan merah. Jadi bener-bener langsung kelihatan. Makanya aku juga tertarik untuk mencoba. Total mungkin udah tiga kali aku  makan bakso di sini.

Menunya apa saja ya.. coba kita cek di gambar berikut ini

Yang paling spesial ada  bakso mangkok, bakso tulang iga, bakso super jumbo dan bakso mozarella. Ada juga menu bakso biasa yang sama dengan warung bakso lain, seperti bakso urat, telur, polos, kriwil (bakso kriwil ini bakso urat isi urat), bakso mercon (super pedas), bakso ceker, pangsit, bakso tetelan dan bakso tulang.

Ada juga yamin biasa atau pisah kuah juga boleh. Topingnya bisa ditambahkan ceker. Dan kejutannya di sini ada juga nasi lho..

Kemudian ada juga menu mie ayam, yang dapat digabungkan dengan bakso jadi mie ayam bakso. Kalau kita pesan mie ayam bakso, nanti ditanya baksonya mau yang mana.. Selain itu menu standarlah ya.. aneka jus dan es campur, sop buah, soda gembira dll.

Secara umum, apa sih yang menarik untuk mampir lagi ke sini? Ini versi aku ya..

1. Lokasi mudah dijangkau, di pinggir jalan besar.

2. Tempat parkir motor aman (aku pemakai motor ya..) selama 3x ke sini pernah sih ada mobil parkir, tapi paling satu juga udah bikin penuh. Tapi kalau motor 10 juga masih aman.

3. Tempatnya luas, mejanya banyak. Ada yang pakai kursi ada juga yang lesehan. 

4. Nyaman, penerangan cukup, kipas angin ada, dan pastinya nggak terbuka banget kelihatan dari luar, karena di bagian depannya dihias daun artifisial gitu, jadi seperti ada tirai yang mencegah dari debu juga, berisik jalanan juga.

5. Tersedia toilet dan mushola di belakang dengan kondisi cukup bersih dan layak

6. Harga masih masuk akal, dengan rasa yang endess harga segini masih bisa diterima.

7. Rasanya jujur enak, makanya bisa bolak balik ke sini.


Nah kalau kamu warga Bandung kebetulan lewat CInunuk, boleh banget mampir sini nyobain juga Bakso Solo Balapan. Ingat posisinya, di seberang Grand Griya Cinunuk.