Tampilkan postingan dengan label At-takwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label At-takwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 November 2013

Akhir Pekan Yang Sibuk

Biarin lah ya... nggaya dikit, sibuk-sibukan melulu. Lha kalau enggak sibuk malah dipertanyakan, ngapain aja anaknya lima kok enggak sibuk.

Setelah 5 hari kerja yang super full karena memang lagi 'peak season', menjelang akhir penerimaan laporan bulanan, maka mari kita sambut dua hari akhir pekan yang  (juga) bakal menyibukkan. Udah kebayang soalnya undangan sudah di tangan dari beberapa hari lalu.

Sabtu pagi sampai siang ada acara di sekolah Faiz dalam rangka memeriahkan tahun baru Hijriah. Ada lomba-lomba antar anak, dan ada juga lomba menghias tumpeng untuk ibu-ibunya. Lomba menghias tumpeng tanding antar kelas.
Anak-anak lomba mewarnai, lomba tahfidz Al Qur'an dan lomba busana muslim. Selain itu juga ada penampilan dari masing masing kelas.

Pagi-pagi diawali lomba mewarnai. Anak-anak udah dikondisikan oleh bu guru di selasar kelas. Kertas bergambar dibagikan. Lucu-lucu komen anak kelas A ketika bu guru pesan mewarnainya harus selesai, tidak keluar garis, langsung ada yang nyautin : bu guru, mewarnainya kebanyakan..... hahaha..
Kebayang ya... konsentrasi mereka kan baru 10 menitan. Ini musti menyelesaikan mewarnai satu halaman folio yang paling enggak perlu waktu setengah jam.

Setelah anak-anak mulai mewarnai, para ibu mulai menghias tumpeng. Selesai bantu-bantu menghias tumpeng, aku ke lokasi lomba mewarnai lagi. Kulihat sebagian besar anak kelas A sudah menyerahkan kertasnya. Tentu saja dengan warnaan yang belum selesai. Paling tinggal beberapa anak aja. Faiz masih mewarnai, tapi sebentar-sebentar berhenti, lihat temannya, lihat kertasnya yang belum selesai, mewarnai lagi dikit, lihat temannya lagi yang sudah lari-lari, aaah..... dia sudah bete. Untunglah bu Iis, salah satu guru Faiz, membujuk agar Faiz menyelesaikan gambarnya. Kata bu Iis, ayo semangat Faiz, katanya mau dapat piala...
Aku sih nggak terlalu ngarep yaa... soalnya kan kalau dilombakan sama kelas B, ya kelas A mental kemana-manalah... targetku buat Faiz cukup belajar menyelesaikan tugas yang diberikan.
Akhirnya setelah dibujuk-bujuk Faiz selesai juga mewarnainya. Tapi olala... kenapa itu celana kanan-kiri beda warna? Trus sepatu kenapa satu kuning satu orange ? (Kata Abi ya sah-sah aja, buktinya sekarang juga ada kok yang jual sendal/sepatu kanan-kiri lain gitu).

Selesai mewarnai, anak-anak menuju halaman belakang di mana panggung di gelar.
Eh pas duduk-duduk gitu, Faiz tiba-tiba bilang mau muntah. Adooooh... aku segera gendong dia ke toilet. Dan memang benar langsung muntah. Kenapa ini anak... aku mengingat-ingat ritual pagi tadi. Apa yang salah... mandi air anget, sarapan udah, kekenyangan enggak, tapi ah sudahlah... Faiznya alhamdulillah tetep tenang kok. Aku ke kantor guru minta minyak kayu putih. Alhamdulillah dapat. Setelah dibalur  minyak, Faiz main lagi, dan minta makaaaaan. Laper kali bo, sarapan keluar semua.

Kemudian diumumkan lomba tahfidz akan dimulai,  ternyata hari ini hanya menampilkan para finalis yang sudah diseleksi di kelas pada hari Rabu dan Kamis. Waaah... aku enggak tau kalau ternyata Faiz lolos seleksi tahfidz. Sampai terharu. Lha dia crita tapi enggak meyakinkan gitu. Yakinnya cuma mewarnai aja. Apa umminya yang enggak perhatian ya... alhamdulillah pas dipanggil naik panggung dia mau, enggak pake ngambek tapi suaranya kecil beut. Urusan sama anak-anak kicik gini guru-guru bener bener udah pengalaman. Kalau ngambek ya dilewat dulu. Habis Faiz turun dipanggil teman lain ada yang grogi, ilang deh hafalan. Trus ada juga yang mau menghafal tapi enggak mau naik panggung. Lucu-lucu... kayak teteh kecil dulu, udah didandanin malah ngambek nggak mau nari, katanya kesel wajahnya 'dicoret-coret'. Hahahaha... di make up Teteeeh... Make UP ! (Ketauan banget anak emak gak pernah dandan).

Lomba tahfiz selesai, ada sessi dongeng daru Kak Nur Halimah yang pernah yang pernah menjuarai lomba mendongeng tingkat nasional. Anak anak ngerubutin panggung. Ada yang ikut naik malah, dan mainin boneka tangan. Yaaa... namanya juga anak-anak.

Setelah dongeng selesai, baru lomba busana muslim. Lucu,  pas lihat anak-anak naik panggung satu per satu untuk bergaya, Faiz malah melipir ke arena bazaar. Enggak mau beranjak dari konter walaupun aku udah bilang enggak akan membelikan mainan apapun. Awalnya aku enggak nyadar kalau dia menghindar dari lomba busana ini.  
Ketika kukatakan bahwa kelas A udah selesai naik panggungnya, baru deh dia mau ke arena panggung lagi. Nggak papa ya Faiz, enggak ikut lomba busana muslim, memang kamu enggak ada keturunan nggaya hahaha walaupun kalau di rumah kamu banyak gaya.

Tibalah saatnya untuk penampilan per kelas. Dimulai dari kelas play group, kelas A baru kelas B1 dan B2. Masing masing kelas unjuk kebolehan. Kelas PG menari, kelas A menyanyi dan main tepuk, kelas B menyanyi, menghafal surat, menghafal hadits sama apa lagi ya lupa. Yang jelas kelas B lebih banyak unjuk kebisaannya.
Baru setelah itu diumumkan hasil perlombaan. Ternyata dari semua lomba, ada dua kriteria. Kelas A+PG sama kelas B. Waaah ... ada harapan dooong... Faiz bawa pulang piala. *ummi mulai ngarepdotcom*

Yang diumumkan pertama adalah lomba tahfidz, alhamdulillah Faiz juara dua. Juara satunya emang pede habis, bacaannya juga bagus. juara tiganya yang tadi mau baca tapi gak mau naik panggung.
Baru juga turun panggung, Faiz dipanggil lagi untuk juara dua lomba mewarnai.
Alhamdulillah.... sehari dapat dua piala. Masih jago kandang nggak papa ya.... nanti nanti latihan ke kandang lawan. Faiz kelihatan seneng tapi sok cool gitu.
Ketauan bangganya pas di rumah dia cerita ke siapa aja yang datang.

Habis zhuhur acara berlanjut dengan  pertemuan ibu-ibu PJ sekolah ibu di rumah. Mari siap-siap bila rumah berubah menjadi seperti kapal pecah karena beberapa sudah konfirm mau ngajak SEMUA anaknya. Ada yang 3 ada yang 2. Syukurlah ya.. cuma 5 anak itu pleus Faiz saja.
Karena tadi pagi gak sempat bikin2,  ku beli kue aja di sebelah, pleus ngedadak masak makroni dan puding. Saking sibuknya puding lupa enggak dikeluarin sampai mereka pulang. Anak-anakku yang kesenengan.
alhamdulillah rumah yang berantakan rapi dalam sekejap, karena ibu-ibu dari si anak-anak tadi kerja sama merapikan kembali. enak ya.. punya teman pengertian gini.

Abis ashar aku pergi untuk ngaji pekanan. Hape aja perlu di-charge, semangat ibadah pasti lebih perlu lagi. Maghrib sampai rumah dengan badan lumayan tepar. Syukurlah tadi siang sudah memborong sayur dan lauk masakan ibu-ibu di bazaar, jadi aku tinggal menghangatkan aja.

Hari minggunya aku pergi lagi. Kali ini acaranya cukup serius. Seminar ketahanan keluarga. Kalau diceritain lengkap bisa jadi satu postingan lagi bahkan mungkin bersambung. hehehe... berarti aku harus mengingat-ingat lagi isi ceramah. 
Acara ini sebenarnya sampai sore. Tapi berhubung aku pergi sama Faiz, kayaknya hanya bertahan sampai siang.

Sessi pagi mendengarkan pemaparan tentang  pemikiran feminisme, LGBT, sex bebas, pornografi, pornoaksi dsb serta upaya-upaya penganutnya dalam mensosialisasikan faham tersebut. Ngerilah judulnya.
Intinya bahwa pemikiran-pemikiran  itu 'menyerang' dari institusi terkecil yaitu KELUARGA. Dan haluuuuussss.... banget. Sampai-sampai yang diserang seringnya enggak kerasa. Contohnya : misal ngajari anak baca abjad.  A-apple, B-blue, C- condom (biasanya kan cat yaa).
Masaaa' dari kecil dah dikenalkan dengan benda ituh? X_X
Hadeuuuh.....
Mestinya aku  pergi sama Abi, supaya
Abi dapat infonya langsung dari nara  sumber, sayang,  Abi memilih di rumah menemani 4 anak lainnya.

Contoh lain dari tontonan, melalui karakter-karakter yang nggak jelas cowok ceweknya, secara nggak sadar yang tadinya orang enggak setuju dan menentang, lama kelamaan menjadi memaklumi karena begitu banyaknya pelaku di sekitarnya.
Contoh lain lagi, banyak diantara kita yang sudah maklum aja kalau ada host laki-laki yang melambai. Padahal jaman lenong rumpi dulu kita masih nganggep bahwa perilaku 'melambai' itu sesuatu yang aneh.
Begitulah saudara-saudara.
Jadi berasa makin berat nih, PR menjaga diri dan keluarga. Semoga Allah SWT mudahkan tugas kita para ibu dalam membantu suami mendidik anak-anak. Aaamiin...

Demikianlah akhir pekanku kemarin. Malem masih dilanjut menjahit tas yang beberapa diantaranya bakal aku hadiahkan buat para komentator yang beruntung.
Mau tas ? Langsung aja cuuzzz ke sebelah yaa...

Rabu, 18 September 2013

Lomba Pertama - Hadiah Pertama

Selalu ada yang pertama -katanya.
Ini tentang Faiz.
Di sekolah yang dulu... setiap ada kegiatan outing baik itu berupa lomba lomba atau sekedar jalan jalan, maka Bibi yang saking sayangnya sama Faiz dan khawatir terjadi sesuatu padanya, akan memilih tidak sekolah. Awalnya aku nggak ngeuh dengan keadaan ini, kupikir ya ... namanya sekolah masih main main, klo nggak masuk ya biarin aja.
Tapi stelah Faiz makin pinter ngomong, bisa ngapalin tanggal berdasar informasi dari bu Guru, akhirnya aku tau modus bibi ini.
Ah, tapi ya sudahlah, toh aku dah nitipin Faiz sama beliau, klo ada sesuatu yang beliau rasa enggak sanggup, kenapa aku harus maksa ??? Hehehe... damai aja deh... damaii...
Maka ketika Faiz sekolah sendiri sekarang, kami berharap dia lebih mandiri. Salah satunya adalah memberi kesempatan buat Faiz ikut kegiatan di sekolah.

Pas Agustusan kemarin, salah satu kegiatan di sekolah Faiz adalah lomba lomba. Sayang aku gak bisa ikut datang... selain gak ada undangan buat ortu dari ibu guru, juga karena aku kan baru masuk setelah cuti besar, masa mau ijin lagiiii... Aiih.. malu dooong... ( dan rasanya jadi masuk akal klo boss yang dulu membatasi ijin pegawai keluar di jam kerja maksimal hanya 2x sebulan).

Awalnya, si Faiz gak mau ikut lomba apapun. Tapi kakaknya kasih semangat, nanti dapat hadiah, bla bla bla... akhirnya Faiz mau ikut lombaaa... Dan mau tau dia lomba apa ? Lomba mindahin ikan dari satu baskom ke baskom lain. Xixixi... kebayang gelinya. Padahal setiap Faiz makan sendiri pake tangan, dia selalu membersihkan tangan setiap satu suapan.
Alhamdulillah, Faiz menang. Pulangnya bawa ikan 2 ekor pleus kotak makan hadiah dari bu Guru.
Selamaaaattt.....

Kamis, 01 Agustus 2013

Pesantren Ramadhan

Seminggu sekolah biasa, kemudian Faiz masuk pesantren ramadhan. Selama seminggu pesantren ramadhan, anak anak diminta memakai baju muslim. Kemudian mereka belajar shalat dhuha sekaligus surat-surat pendek, belajar wudhu, membuat karya yang mendekatkan anak anak ke masjid, sekaligus belajar berbagi.
Tiap murid dimohon bantuannya untuk membawa satu susu kotak, gula pasir 1/4 kg, beras 1 kg, mie instan 3 dan minyak goreng 200 ml. Semua dikumpulkan dan diserahkan ke 2 panti asuhan di sekitar sekolah.
Di hari terakhir, hasil karya anak anak selama ramadhan dibagikan, sebenarnya dikemas dalam bentuk parcel gituu... tapi aku lupa ambil gambarnya. *tepokjidat
Pict:yang kiri itu hasil mewarnai kemudian ditempel di celengan yang sudah disiapkan sekolah, kanan atas suasana penyerahan bantuan, kanan bawah karya Faiz lain yang sudah kuambil gambarnya sehari sebelumnya, pas 'menyelinap ' masuk kelas sama Abi melihat lihat loker Faiz

Selasa, 09 Juli 2013

H2C

Kayaknya kesibukan sebagai pengacara baru   masih agak tersisih dengan kondisi ini termasuk kehebohan Faiz untuk belajar sekolah di At-Takwa yang Sabtu kemarin memasuki hari keempat alias pertemuan terakhir sebelum dia sekolah beneran di sana.
Apa sih yang sampai segitunya membuat harap harap cemas ?
Apalagi kalau bukan pendaftaran anak sekolah.

Syukurlah ya... sejak beberapa tahun terakhir ini, hasil seleksi masuk SMP, SMA (hihi di situs PPDB istilahnya masih SMA) dan SMK Negeri di kota Bandung dapat dilihat secara online. Dari mulai data pendaftar sampai rekapitulasinya ada. Kita bisa tahu berapa passing grade atau gampangnya nilai terkecil agar dapat diterima di sekolah yang kita tuju. Lumayan membantu walaupun tentu saja itu sampai pendaftaran sehari sebelumnya. Jangan sampai gara-gara tidak memperhitungkan passing grade ini anak-anak tidak berhasil masuk sekolah negeri ( dan dekat rumah).  Kenapa sekolah negeri ?Simpelnya ini pilihan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan tentu saja. Keluarga lain punya pilihannya masing-masing.

Dengan nilai UN yang didapat mbak, alhamdulillah kami lebih tenang. Pilihan pertama dia SMA 24 di klaster 1 dan pilihan keduanya SMA 23 di klaster 3. Kalaupun dia enggak diterima di pilihan pertama, insya Allah bakal masuk di pilihan kedua. Hasil pantauan melalui PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online Kota Bandung, sejak hari apa itu dia mendaftar, posisinya masih aman di pilihan pertama.

Tapi dengan nilai yang didapat Ayuk, rupanya ini menjadi pengalaman baru bagi kami sekeluarga.
Bukannya tidak menghargai hasil jerih payahnya, tapi hendak mengajarkan bahwa di dunia ini selain kita berjuang melawan sisi negatif diri kita, kita juga berlomba dan bersaing dengan orang lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sedih pas melihat di hari ketiga Ayuk sudah kehilangan pilihan pertamanya di SMP 17. Kamipun membujuk agar dia mau ke SMP 50 yang ibaratnya tinggal ngesot saking dekatnya. Awalnya dia enggak mau karena deket banget sama rumah. Eh pas dia udah mau, ternyata di hari berikutnya nilai dia udah lewat juga. Ayuk mulai menangis diam diam. Setiap ditanya geleng kepala. Pilihan pertama berubah lagi ke SMP 49. Ternyata di hari kelima, lewat pula. Pas Jumat malam itu tinggal 2  SMP Negeri -agak dekat dari rumah-  yang masih memungkinkan nilai Ayuk masuk. Satunya SMP 22 di jalan Supratman, satu lagi  SMP 20 di Kosambi. Udah jauh dari rumah kalau ukuran Abi.
Sabtu, hari terakhir pendaftaran, bismillah memilih SMP 22 di pilihan pertama dan MTs Negeri 2 di Cicaheum sebagai pilihan kedua.
Abi sempat cemas ketika Sabtu menjelang maghrib belum ada nama Ayuk di sekolah manapun. Aku menghibur mungkin masih proses input data. Alhamdulillah habis isya sudah ada nama Ayuk diterima di MTsN 2.
Dan benar saja karena salah perhitungan passing grade, ada teman Ayuk yang akhirnya tidak diterima di SMP manapun. :(
Ayuk kelihatan belum lega diterima di madrasah. Masih terlihat melamun diam diam dan menangis sembunyi sembunyi.  Dia ingin sekolah umum seperti kedua kakaknya. Setelah Abi memberikan pemahaman, bahwa ini bagian dari keputusan Allah, bahwa Allah berikan yang terbaik buat kita, Allah berikan sesuai yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, terlihat Ayuk lebih legowo. Pas hari Minggu siang Ayuk diajak Abi melihat calon sekolahnya, dia langsung jatuh cinta.
Dan Senin ketika dia menerima surat resmi tanda diterima melalui guru At Takwa -karena ndaftarnya kolektif - dia sudah tertawa tawa dan berani menunjukkan foto foto sekolah barunya. Apalagi ketika diberitahu bahwa MTsN 2 adalah madrasah tsanawiyah percontohan dia makin bangga. Kepala At Takwa secara khusus berpesan agar Ayuk menjaga nama baik  AtTakwa karena alumninya sudah dikenal di sana.
Yah satu pelajaran baru sudah dilalui kami sekeluarga. Benar kata Ayuk, hidup itu tak semulus paha cherybelle.