Yah,
anak sekarang mah beda sama anak jaman dulu, jaman aku. Meski masih SD
dan SMP mereka ada UTS macam mahasiswa aja. ALhamdulillah UTS nya udah
selesai 2 minggu lalu. Dan kemaren dua Sabtu berturut turut aku
mengambil raport hasil UTS itu.
Sebenernya
aku termasuk orang tua yang "nrimo" , dalam segala hal. Jadi dalam hal
raport anak anak ini juga aku nggak punya target khusus. Yang selalu aku
tekankan ke anak anak adalah, mereka berjuang melawan diri mereka
sendiri. bukan melawan orang lain. Jadi aku mengukurnya yah dengan
melihat keseharian mereka di rumah. Ini review hasil raport itu
Mbak :
Untuk
hasil di kelas cukup memuaskan. Dia ranking 3. Semester genap lalu dia
rangking 7. Tapiii... ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Tidak lulus
KKM bukan berarti nilai merah ya.. karena KKM ini adalah batas minimal
yang ditentukan oleh sekolah. Ada yang 7, ada yang 7.5 tergantung
pelajarannya.
Dari 3 pelajaran itu, satu pelajaran (bahasa Sunda) itu sekelas nggak ada yang mencapai KKM (aneh kan ? ) Ya sudahlah.
Tapi
kalau catatan dariku adalah... Mbak belum cukup maksimal dalam belajar.
Habis maghrib belajar sambil main hape. Subuh subuh bangun pagi kembali
pegang hape. Rasa rasanya harus diambil tindakan khusus terhadap benda
bernama hape ini.
Fikri
Ini
adalah raport pertama Fikri di SMP. Dia memang berhasil masuk SMP
cluster 1 dibanding Mbaknya yang masuk SMP cluster 2. Aku cukup maklum
kalau persaingan di sana begitu ketat. Maka ketika disebutkan 10 besar
di kelas dan Fikri masuk di sana, aku sudah bersyukur. Tapi .. .lagi
lagi ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Memang saat aku konsultasikan
ke Walikelas, ini hal yang biasa. Nanti anak minta remidial aja ke guru
pelajaran ybs.
Tapiiii...
besoknya ketika aku bertemu dengan temanku yang sekolah di sekolah yang
sama dengan Fikri, ternyata anakknya ranking 10 dan nilainya itu jauh
lebih besar dari nilai Fikri yang rangking 4 . Waah, ada yang salah
niy.
Sebenarnya
aku melihat Fikri ada kemunduran dalam mengelola waktu dibanding SD
dulu. Waktu SD kan dia full day, jadi udah banyak belajar laah di
sekolah. Maka kalau di rumah aku gak gitu nuntut. Sekarang Fikri sekolah
siang. Nah kalau pulang sekolah di sore hari dia sudah capek. Tapiii..
di pagi hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga, dia tinggal santai
santai.
Yah, ada yang harus dikoreksi.
Untuk
Mbak dan Fikri mulai malam tadi, mulai abis maghrib sampai pagi
menjelang sekolah, hape harus disimpang di suatu tempat yang disepakati
yaitu di rak buku.Nggak boleh lagi dibawa bawa ke kamar atau di bawa
bawa tidur. Dengan harapan malam hari bisa konsentrasi mengulang
pelajaran, dan pagi hari bisa baca walaupun sedikit.
Fadhila
Tahun
ini dia tetap di kelas 5A. tapi sesuai pengalaman tahun tahun
sebelumnya, kelas A ini justru untuk anak anak yang agak 'kurang' dalam
prestasi akademik.
Memang
selama setengah semester ini, nilai Fadhila lumayan naik laah dibanding
nilai semester genap di kelas 4. Dan betapa terkejutnya aku, ketika
menerima raport Fadhila masuk 5 besar. Bukan terkejut senang ya...
tetapi terkejut, karena dengan nilai yang dia capai (dan ada 4 pelajaran
yang tidak lulus KKM) ternyata itu yang paling sedikit tidak lulusnya.
Halaaah !!. Kayaknya ada yang harus dikomunikasikan niy, ke sekolah.
Dalam waktu dekat ini. Harus.
Khawatirnya Fadhila cukup puas dengan hasil itu dan dia berhenti belajar.
Aku
tetap memberikan dia penghargaan atas hasil yang di capainya. Tapi aku
mengajak dia untuk realistis. Bahwa sekali lagi, dia berlomba bukan
dengan teman sekelas. Tapi dia harus melawan "rasa malas" dalam
dirinya. Aku tunjukkan nilai (calon NEM) yang masih di kisaran 9,7,7
kalau dijumlahkan sekitar 24-25. Dan jumlah itu belum masuk untuk SMP
Negeri dekat rumah. Bahkan yang cluster 3 sekalipun !!
Alhamdulillah Fadhila setuju kalau aku kasih soal tambahan semacam try out gitu untuk latihan dia di rumah.
Firda
Alhamdulillah,
tidak ada catatan dalam hal prestasi akademik. Tapi ada catatan dalam
hal 'pengungkapan pendapat'. Katanya Firda di kelas jarang bertanya atau
menjawab kalau tidak di tanya. Kata gurunya, apa karena mencari aman
atau apa. Tapi kalau ulangan tertulis mah nggak ada masalah.
Aih
.. aku jadi khawatir, jangan jangan karena keseringan di cela cela sama
kakak kakaknya dia jadi menghambat kepedeannya. Wah harus lebih serius
juga nih.. menangani yang ginian.
Binun
juga kadang kadang, kapan membiarkan anak anak menyelesaikan masalah
sendiri supaya mereka belajar problem solving dan kapan mencampuri
urusan mereka. Habis. .. kadang kayak yang musuhan, satu dua menit
kemudian dah baikan lagi.
Ternyata banyak PR juga buat Ummi Abinya.