Fikri udah mau UN minggu depan. (ini ketauan draft dari tau kapan).
Fikri udah UN hari ini. Eh, sudah tinggal sehari lagi, besok. Mohon doa ya teman temiiin...
Kalau lihat effort dia sih... aku gak se-dag dig dug jaman Fadhila.
Umminya berdoa ? Ya insya allah... namanya juga ibu, pengen yang terbaik buat anaknya.
Apalagi semester dua ini dia mulai rajin shaum senin kamis. Pernah nyobain puasa daud tapi nggak tahan kali ya... karena masih banyak kegiatan. Masih les seminggu 2x pleus kadang futsal sama teman-temannya.
Kalau aku lihat
trend prestasinya juga alhamdulillah ada peningkatan.
Aku sih bukan type yang minta anak jadi juara. Aku cuma minta mereka
'berlomba dengan dirinya sendiri'. Katanya kan nafsu itu lawan yang paling berat ya... soalnya bak musuh dalam selimut gituu...
Ya alhamdulillah dari posisi 20 sekian di kelasnya pas naik kelas tiga kemarin, Fikri masuk 10 besar kelas di semester 1. Dan beberapa TO juga nilainya membaik.
Aku pernah posting sekilas tentang hasil TO Fikri di
sini.
Makanya pas Fikri bilang mau sekolah di tengah kota, di SMA-nya pak Walikota dulu, akhirnya Abi berpikir ulang soal sekolah harus dekat rumah (
dan negeri dan bagus hehe) .
Abi pun memberi gambaran Fikri nanti musti berangkat jam berapa, sarapan jam berapa (ini terkait Ummi kan kudu masak jam berapa), dan pulangnya pun jam berapa harus diperhitungkan resikonya, capek dsb.
Soal biaya nanti Abi dan Ummi yang pikirkan, bagian Fikri adalah meraih nilai agar bisa masuk sekolah tsb. Abi kasih target 5 besar di sekolah sekarang, baru yakin ( insya Allah) masuk SMA 3.
Soalnya SMA 3 dan SMA dekat rumah itu kan sama-sama cluster satu. Kalau Fikri nggak masuk 3, nggak bisa lagi milih SMA dekat rumah walaupun nilainya cukup, dia harus masuk yang cluster 2.
Fikripun terdiam. Mikir kali ya... biasanya jam 6 masih bisa hahahehe di dapur sama aku, atau main bola sama Faiz, ngupi-ngupi cantik eh ganteng dsb.
Nah, hari kemarin pas dia nunjukin hasil TO terakhir yang turun, dia bilang mau berfikir ulang soal sekolah tengah kota. Males euy.... pagi pagi sekali perginya.
Ya kubilang aja, selalu ada harga yang harus dibayar
untuk mendapat sesuatu. Jer basuki mawa bea. Itu kata orang Jawa.
Ya kita lihat nilai kamu ntar ya Nak....
Kemudian aku juga ngingetin dia agar jangan terpengaruh soal gossip bocoran soal dan lembar jawab. Pokoknya bismillah.
Bukan sekedar jumlah nilai yang kita kejar, tapi keberkahan ilmu itulah yang jadi tujuan, sebagai bagian dari ibadah kita. Dan itu hanya bisa bila selalu
menjaga kejujuran.
Kemudian, beberapa hari lalu dia menunjukkan psikotest di sekolahnya. aku sedikit kaget lihat hasilnya.
 |
| M. Fikri Ghazy Rabbani memiliki potensi kecerdasan berada pada taraf very superior dengan IQ-158 (berdasarkan skala TIKI) ptensi dalam bidan akademis yang dimiliki sangat baik, tetapi diharapkan jangan cepat puas dan tetap mempertahankan prestasi yang ada |
Terus terang aku kaget. Antara bahagia dan cemas. Seneng lah ya.. anak berpotensi pinter, kan kecerdasan nurun dari ibu (keukeuh). Tapi cemas dan khawatir juga, jangan jangan selama ini aku dan suami belum memberikan pola asuh yang cocok buat anak pinter gitu. Jangan jangan selama ini banyak potensi kecerdasan yang terabaikan. Banyak laaah... sampai-sampai, jangan jangan karena pengentahuanku yang terbatas, jadi banyak hal yang Fikri butuhkan yang nggak kepikiran olehku.
Melihat hal itu aku bertanya kepada salah satu psikolog yang aku kenal. Sedang S3, praktisi pendidikan.
Pas aku bilang anakku IQ 158 dia bilang nggak mungkin. Biasanya test yang di sekolah itu levelnya lebih mudah. Jadi nilai IQ akan turun.
Tapi kemudian dia meralat lagi, seandainya turun 10 poin ya masih tinggi juga ya.. atuh dicoba mbak Titi, masuk ke SMA 3, barangkali bisa masuk kelas aksel (akselerasi)
(weeeek... suamiku termasuk yang anti aksel)
Trus minggu berikutnya, aku juga nanya ke teman psikolog yang lain. Beliau sedang S3 juga. praktisi pendidikan juga. konsultan beberapa sekolah di luar Jawa khusus menangani kelas akselerasi
Dan pas kubilang IQ 158 beliau mengatakan
"Nggaaak mungkiin... anak very superior itu akan kelihatan sejak awal. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Nggak mungkin ibu baru tahu anak ibu very superior setelah sebesar ini. Test di mana dia ?"
Test di sekolah, kataku.
siapa yang nge-tes ?
Ada yang menawarkan dari lembaga test gitu
Berapa biayanya ?
50 rebu
Nah ini, kadangkala ada lembaga test yang menjual murah test test seperti ini. Mereka ini hanya mengejar uang. Seharusnya sebuah lembaga psikologi tidak mengeluarkan produk skala IQ anak, tetapi tes minat dan bakat. Yah , ini masalah kode etik profesi juga sih.. dan kadang kala juga ada yang baru sarjana psikologi sudah 'berani' bikin lembaga test. Harusnya dia ambil profesi psikolognya dulu, minimal. Atau sudah ambil S2 psikologi linier. Psikologi terapan juga nggak bisa. harusnya gelarnya M.PSi baru boleh memeriksa seperti itu. Itupun bukan untuk IQ
Trus aku minta Fikri untuk mengirim gambar surat itu. Daaaaan....
 |
| Yang Tanda tangan M.Psi |
Waah... nggak mungkin lho Bu, anak ibu very superior. Ini skala TIKI yang mana ? Ada beberapa grade soalnya. Jangan jangan dikasih yang mudah untuk SD (ah masa' iya sih ?). Terus skala TIKI itu ada beberapa test, minimal 4 test. Nggak mungkin, IQ 158 nggak ketahuan.
Yaaa...kali aja Bu, karena keterbatasan saya, saya tidak dapat mendeteksi seberapa cerdas anak saya.
Nggak, anak very superior itu akan berbeda, akan ketahuan dari obrolannya
Ya mau tahu dari obrolan gimana, wong sama saya aja nggak kepikiran, masa' mau saya obrolin sama dia
Ya pokoknya enggak mungkin deh, IQ very superior. Anak very superior itu prestasi di kelasnya bagus, selalu tertantang dengan segala hal, jadi tidak ada kata menyerah buat dia. Mau gurunya nggak enak, mau temannya nggak enak, dia tidak akan terpengaruh, justru itu menjadi tantangan buat dia. Terus nggak bisa juga langsung masuk kelas aksel, harus menjalani serangkaian test lagi... (ya kebetulan suami juga termasuk yang enggak setuju adik pake kelas aksel, nanti kakaknya kebalap, dan kasian si anak aksel, nggak sempat main musti ngebut belajar - eh ini versi awam yaaa.a.....)
Aku manggut manggut aja
Ya sebenernya sih... nggak terlalu penting buat saya, berapa skala IQ anak saya, mau superior atau very superior. Maksudnya nanya itu supaya saya enggak salah langkah menangani ke depannya.
Ya kalau bener kan, kasihaan... kalau ternyata selama ini cuma dikasih tantangan 'segitu'. Ya kalau ternyata hasilnya salah (haiyaaaaah... sesama psikolog saling adu argumen) ya nggak papa juga. Toh selama ini aku dan Fikri sudah menjalin hubungan yang bagus, anak juga terbuka sama ortu, dari cerita soal pelajaran, sampai soal ngidol (JKT 48) dan rencana bisnis. Itu sudah lebih dari cukup laaah buatku.
Tapi pas melihat siapa yang bertanda tangan di surat itu, si Ibu psikolog yang kedua agak melunak.
"Bu, kalau ibu mau periksa lebih detil, dapat menghubungi psikolog di jalan pager gunung, (hihi gak mau nyebut nama, ntar kayak promosi) beliau juga konsultan aksel. Tapi test-nya nanti juga bukan test IQ, melainkan penelusuran bakat dan minat."
Iya deh, Bu.... aku tanya Fikri dulu.
Dan pas kuceritain Fikri, dianya cuma nyengir aja.
Mi, daripada ratusan ribu buat periksa, mendingan buat jalan jalan aja... hahaha
Dasar bocah, umminya udah khawatir, anaknya selow aja. Ya udah lah Fik, kita ngebakso berdua aja yuuk...