Tampilkan postingan dengan label cerita SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita SMA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Pengumuman UN SMP

Sebenernya Sabtu kemarin ada acara Internalisasi Corporate Value di Sariater.  Tapi kan hari itu juga ada acara pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri. Hadoooh... dilema kakaaak...
Apalagi pas aku bilang ke Fikri, "Fik, Sabtu sama Abi aja ya.. Ummi ada acara kantor"
Jawaban Fikri sepotong dan jleb
"Ih .. Ummi mah bukannya mentingin kepentingan anaknya"
Wkwkwkwk... siapa yang tega coba ?
Akupun menghadap pak Bos, apakah kiranya bisa ijin dari acara ICV dengan menyampaikan alasannya. Alhamdulillah pak Bos mengijinkan dengan syarat aku membuat surat dan melampirkan copy undangan dari sekolah. Alhamdulillah...

Pada hari pengumuman dan perpisahan di sekolah Fikri itu, anak laki-laki diminta memakai jas dan berdasi. Anak perempuan memakai pakaian tradisional. Waaah... anak anak kelas 9 jadi kelihatan cantik dan ganteng dan nampak lebih dewasa.

Pas acara perpisahan ini juga dijelaskan tentang program pak Walikota yang sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait, bahwa mulai tahun ini di kota Bandung berlaku sistem rayon untuk pendaftaran sekolah. Sistem cluster yang membedakan peringkat sekolah dihapus.
Kenapa pakai rayon ? Supaya anak sekolah di lokasi yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Diharapkan dengan ini akan mengurangi polusi dan kemacetan, serta meningkatkan kualitas sekolah di semua rayon. Dengan sistem cluster, anak pinter hanya terkumpul di sekolah tertentu. Sehingga ada istilah sekolah cluster 1,2,3 dengan passing grade yang berbeda-beda. Nah sekarang enggak ada itu.
Sebagai insentif/penghargaan dari pak Wali untuk anak-anak dan orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang terdekat dengan rumah, pak Wali memberikan tambahan skoring 10% dari NEM. Ini berlaku hanya untuk pilihan pertama.
Pilihan pertama bebas mau di rayon manapun, kalau di luar rayon tanpa tambahan skoring.
Pilihan kedua harus di rayon sendiri dan tanpa tambahan skoring. Jadi... tambahan skoring 10% itu hanya buat anak anak yang memilih sekolah di rayonnya sebagai pilihan pertama
Hmmmmmm..... tarik nafas dulu panjang panjang. Musti lihat dulu berapa NEM Fikri nih, karena SMA tempat pak Wali sekolah dulu beda rayon sama tempat tinggal kami. :p

Selesai penjelasan sistem rayon dari pak Kepsek, diumumkan nama-nama anak yang menduduki peringkat 10 besar. Dag dig dug ? Iya. Soalnya kan dari 4x Try Out, dua kali Fikri masuk 10 besar. Walaupun nilainya masih seputar 34-35 gitulaaah... tapi kan gossipnya soal UN lebih mudah dari soal TO hehehe
Jreng jreng jreng...... ternyata nilai peringkat 10-nya aja 36,6 . Kalau Fikri nggak masuk, berarti nilainya kurang  dari itu ?
Pertanyaan berikutnya : Be-ra-pa ?

Memang awalnya Fikri pengen sekolah di kota, tapi pas Abi memberi gambaran resiko sekolah di kota yang antara lain musti berangkat lebih pagi dan pulang pasti juga lebih sore, belum eskulnya, belum kerja kelompok, belum tugas tugas rumah juga harus tetap dikerjakan (Fikri bertugas mengisi air, cuci piring pas gilirannya dan membersihkan kamar+lantai atas setiap hari) beberapa hari kemudian Fikri nampak bimbang. Ya intinya ada 'harga' yang harus dibayarlah...  Tapi kubilang kita boleh merencanakan, tapi teteeep lihat NEM dulu.

Setelah pengumuman-pengumuman, semua orang tua/wali murid  dipersilakan masuk ke  kelas anaknya masing - masing untuk mendapatkan nilai. Aku udah nggak sabar pengen lihat nilai Fikri berapa.
Berapa ?

B. Indo : 8.20
Matematika : 9.75
B. Inggris : 9.40
IPA. : 8.50
Jumlah : 35,85

Apakah itu bagus ? Tanya Sondang.
Ya baguslaaaah.... kalau sendirian. Atau kalau dibandingkan NEM Mbak tahun lalu, apalagi kalau dibandingkan NEM Abi dan Ummi yang 5-6-7  *qiqiqi mengingat NEM diri sendiri jaman baheula.
Ntar kalau dibilang kurang bagus, seperti tidak mensyukuri hasil jerih payah anak.
Masalahnya....Fikri bakal bersaing dengan anak lain yang nilainya lebih bagus dari nilai dia. Kan kan kan? Dan kita nggak tau berapa banyak.

Melihat nilai tersebut, kesimpulannya Fikri mau nggak mau harus memilih sekolah sama dengan Mbak. Yang katanya ada penampakan itu... qiqiqi
Dan sampai kemarin, mereka berdua  masih pegang kesepakatan, katanya nanti akan pura-pura nggak kenal ? Whaaaat ?
Yah, biarin ajalah, namanya juga ABG labil, mari kita lihat gimana nantinya.

Senin, 28 April 2014

Ada Penampakan di Sekolah ?

Dah sebulanan ini mbak Fathim sibuk latihan PMR. Makin sibuk latihan seminggu kemarin, karena nyiapin lomba antar sekolah hari Minggu di Banjaran sana.
Setiap hari pulang sore. Kalau dipikir-pikir, udah lebih-lebih aja dari yang kerja. Setengah tujuh sudah berangkat sekolah, kadang malah jam 6 atau jam 6.15. Pulangnya pun menjelang maghrib. Kadang duluan dia kadang duluan aku.

Dua hari terakhir ini pamer tangannya ada luka gegara bikin tandu. Jadi ceritanya ada semacam mitos di anak PMR, kalau bikin tandunya sampai tangannya luka itu berarti udah jago. Kenapa ? Itu tanda narik talinya udah sangat keras.
Hehe aneh ya... gak tau juga sih.. namanya juga anak anak.
Ya aku cuma ngingetin, jangan sampai lukanya parah, pas giliran lomba malah gak bisa naliin tandu. Hilang deh semua jerih payah latihan.
Setiap habis latihan dia sibuk kompres es tangannya. Katanya dengan dikompres pakai es, rasanya sakitnya lebih mendingan.

Udahlah pulangnya sore terus,  mba Fathim tampak menggalau gitu. Bentar bentar minta peluk.
Emang sih, dulu pernah dikasih tahu bu Elia -psikolog SD- , kata beliau anak anak yang baligh gitu butuh pelukan dan sentuhan. Kalau dia minta peluk ya aku peluk. Tapi kalau kurasa dah lebay ya kubilang enggak.
Pas kugodain apa ditembak cowok, atau apa dianya cemberut.
"Si Ummi mah dikit-dikit cowok"
"Yeee...kan kamu cantik, kali aja ada yang naksir" ummi ngeles. Mbak nggak jadi cemberut.

Jadi kenapa dong tampak galau gitu? Apa karena tanggal tua ? #eh. Pastinya bukan karena itu ya.. karena jatah uang jajan dan transport gak dikurangi meski tanggalnya udah nenek-nenekpun.
Ternyata dia menggalau karena cerita sahabatnya. Sobatnya itu katanya bisa lihat dunia lain.
Di sekitar sekolah sering melihat penampakan. Dan dia cerita ke Mbak Fathim.
Ya ampuuun... si anak yang kalau malam ke kamar mandi aja masih minta anterin adiknya, berani-beraninya mendengar cerita penampakan ? Hmmmm....

Kata Mbak, pernah beberapa kali korban kecelakaan di bawa masuk ke sekolahnya. Trus dulu juga pernah ada kesurupan massal. Makanya, wajar aja kalau penampakannya semacam anak sekolah yang sedih lah... tangan yang menggapai minta tolonglah...dsb nggak usah dirincilah daripada horor. Kurang lebih kayak yang  di acara Thukul itulah, yang malem-malem nyari tempat sepi. (Aku pernah nonton di TV, malem minggu klo gak salah, jangan tanya stasiunnya karena aku gak bakalan tau.)

Daaaan.... mbaknya terpengaruh. Cerita tempat-tempat yang "adaan" di lingkungan sekolah, di tangga pojok sanalah. Di WC lah... di belakang dekat kali lah... bla bla bla.
Ya kubilangin aja, itu bukan arwah gentayangan. Itu adalah jin yang menyerupai.
Iyaaa.... mbak juga tahu, katanya.
Ya kalau udah tau, apalagi yang ditakutkan ? Ya nggak ? Toh beda alam iniii...
Adapun soal temannya yang 'bisa melihat' itu, terus terang aku masih percaya nggak percaya.  Karena beda dunia. Satunya alam ghaib satunya dari alam nyata.
Tapi ya sudahlah... aku kemudian menguatkan mbak, supaya tetap menjaga shalat dan tidak lepas dzikrullah.
Dan... kalau takut, ya udah sih... jangan dengerin cerita serem serem lagi.
Jangan mendatangkan penyakit buat diri sendiri. Aku tegasin dalam hal ini. Nanti males Umminya, dengerin curhat 'itu-itu aja' gak move on-move on.
Ya tapi rupanya topik penampakan ini masih berlanjut, minimal sampai hari tadi.

Trus gimana hasil lomba PMR-nya ? Hehe bagian tandu masih belum menang. Yang menang kelompok pertolongan pertama, pertolongan keluarga dan mengarang.
Pas kutanya, lho kenapa tandu gak menang ? Kan udah pada jago bikin tandunya ?
"Kalah cepat, Mi..." jawab si Mbak loyo.
Berarti nanti juga harus berlatih kecepatan ya Nak, pakein timer supaya ketahuan berapa lamanya.

Trus gimana dengan penampakan ?
Nanti lagi ya... tunggu cerita berikutnya dari nara sumber

Minggu, 15 Desember 2013

Terkontaminasi

Faiz menyanyi :

Kumpulkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...

Huuuuu..... langsung diteriakin sama kakak-kakaknya. Andai itu di panggung pasti udah diteriakin 'turun.. turuuun !"
Eits tapi bukan Faiz kalau enggak ngeles. Katanya :
"Bentar .. bentar, sekarang enggak pakai lebay" meminta kesempatan kedua.
"Kumpulkanlah ingatanku...
Hapuskan tentang dia"

*klo yang update pasti tahu dimana letak kesalahan lagu itu.*

Yah... itulah Faiz. Umurnya baru 5 tahun. Tapi sudah ikut-ikutan menyanyikan lagu anak remaja.
Ini adalah salah satu tantangan buat mahmud abal-abal seperti diriku ini yang punya anak dengan rentang usia berbeda. Ada ABG di rumah, ada pula ATK alias anak TK. :D

Dulu waktu Fikri kecil pernah nanyain, kenapa anak-anak enggak boleh nyanyiin lagu anak gede, tapi anak gede boleh nyanyiin lagu anak-anak?
Waktu itu jawabanku adalah : karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.
Nampaknya jawaban tersebut cukup masuk akal, sehingga Fikri kecil tidak mempertanyakan lagi hal tersebut.

Tapi, beda anak beda jaman, beda jaman beda lagi tantangannya. Jaman Fikri kan enggak ada remaja yang memperdengarkan lagu, nah kalau jaman Faiz, si hape F1 dan F3 selalu bunyi menemani mereka belajar. Yah enggak mendengarkan secara khususpun  bisa hafal. Harus banyak-banyak mencarikan kegiatan lain yang membuat anak hanya memperhatikan apa yang baik dan pas buat mereka. Susah ? Ya iyalah.. namanya juga tanggung jawab. Ya harus menanggung, gak cuma menjawab aja hahaha...

Kalau kata Fikri, anak-anak ABG sekarang itu terlalu mainstream. Iya sih, lihat saja gaya fotonya, dari mulai bibir monyong hingga lidah menjulur, tangan di pipi sambil mengacungkan dua jari membentuk "V". Anakku juga kalau foto ya kayak gitu.
Lihat gaya rambutnya... lihat gaya pakaiannya...
Semua mirip-mirip. Sampai sampai Abi  enggak bisa membedakan mana yang anggota Chibi Chibi mana anggota JKT 48 kalau mereka foto sendirian. Akupun demikian :D

Nah, kemarin ini ada seorang ibu yang mengeluhkan gadis sulungnya. Kata beliau, sejak kuliah senengnya pakai celana ketat, trus pakai T-shirt dan jaket. Kerudungnya juga lipat segitiga satu peniti dan ujung-ujungnya dilempar ke pundak.
Komenku ya jangan salahkan dulu anaknya. Kita sebagai orang tua harus mawas diri dahulu.
Coba, si kakak itu kalau beli pakaian sama siapa, trus kalau mau keluar pas pamitan, ibu lihat enggak. Sejak kapan si kakak ganti gaya gitu?
Trus selama ini dia mainnya sama siapa.
Segala sesuatu pasti ada awalnya kaaan. Ya ibaratnya garis lurus sama garis serong, berangkat di titik yang sama, setelah jauh/panjang baru kelihatan deh jaraknya.
Nah, tanda tanya doong, selama ini kita kemana ajaaa?

Menurutku I'ts Ok pakai celana panjang. Asalkan tidak ketat. Ini pakemku. Sejauh ini kalau untuk celana jeans anak-anak aku selalu pakai satu nomor di atas yang seharusnya. Supaya enggak ngetat di paha dan betis. Trus buat anak-anak gadis itu aku juga kasih rambu-rambu. Boleh keluar pakai celana jeans, asal atasannya minimal sampai ke paha.
Kalau pakai rok gak boleh yang nerawang membentuk paha, walau pakai leggingpun.
Kerudungnya juga harus (belajar) menutup dada. Memang sekarang belum ada tuh dada, belum nampak yang ditutupnya. Tapi satu dua tahun lagi? Kalau enggak dibiasakan dari sekarang khawatirnya tau-tau aku kaget sendiri dengan gaya fashion anakku.
Kenapa aku tegas gitu?
( Lah si mbak sama si Ayuk aja lebih galak lagi  sama aku. Kalau aku pakai baju agak pas, baru agak lho... belum pas, pasti mereka ribut. Ummi kerudungnya harus panjang nutup pinggang. Bukan berarti balas dendam ya... hahaha)
Yah namanya juga anak-anak. Katanya hidup cuma hari ini. Yang diinget cuma hari ini. Jadi meski ummi udah pernah ingatkan, ya lupa lagi lupa lagi. Aku yakin para gadisku itu sebenarnya sudah tahu rambu-rambu berpakaian mereka.
Ini semacam iseng iseng berhadiah gitu. Aku faham, mereka butuh perjuangan lhoo... untuk berpakaian anti mainstream.
Apakah anakku selalu nurut ? Ya enggaklah......
kalau mereka perginya pas nggak ada ummi dan abi ya kadang pakai gaya mereka sendiri. Namanya juga manusia. Harus selalu diingatkan. Yang udah tua begini aja masih sering lupa dan perlu diingatkan.

Yang bujang gimana ?
Kira kira setali tiga uanglah. Sejak Fikri punya hape baru hasil menabung 2 tahun+dapat donasi, sesekali aku pinjem hp dia buat IG-an. Iseng-isenglah kita lihat koleksi gambar dia.
Ya ampuuun... itu si jekateempatlapan bener bener mendominasi kartu memori.
Ava bbm pun gambar si jekate. Sampai pada suatu hari Abi lihat dan menggoda, kenapa sih gambarnya anak jekate banyak amiit?
Waktu jaman Abi kecil yang disimpan itu gambar gambar artis dan atlet, misalnya Rambo, Stalone (sama aja wkwk), dengan ringan Fikri menjawab  sambil ngeledek Abi
"Kalau aku suka gambar jekate, berarti aku masih normal, Bi. Daripada aku suka sesama cowok"

Gubrak banget enggak sih ??? Nau'dzubillahi min dzalika.

Agak kaget juga, meskipun sejak awal menikah dengan Abi dan punya anak, kami sepakat bahwa kami tidak akan mengarantina anak-anak dalam lingkungan yang homogen. Biarkan mereka tumbuh di lingkungan heterogen dan belajar bertahan. Maka yang harus kami bekalkan adalah imunitas.

*langsung keinget obrolan bareng Sondang, kalau kita ini lama-lama merasa biasa dengan LGBT, karena sering dengar dan sering dibercandakan. Sampai kitapun menganggap bahwa hal tsb biasa aja. Gak ada lagi rasa jijik atau perlawanan dalam hati. Akhirnya memaklumi kaan...*

*pantesan yak, Rasul sejak berabad yang lalu mengingatkan, agar segera mencegah kemungkaran. Tingkatan yang paling utama ya cegahlah dengan tangan/wewenangmu, kalau enggak bisa, cegah dengan lisanmu, kalau enggak bisa ya cegah dengan hatimu. Dan inilah selemah-lemah iman* kemudianhening

Sabtu, 09 November 2013

Cerita ABG : Jatuh Cinta dan Patah Hati

Meramaikan program PKK (Peduli Kata Kunci)-nya Warung Blogger, kali ini aku mau cerita satu aja tentang ABG-ABG di rumah yang jumlahnya ada tiga.
Aku suka iniih, membuat kecele para pengguna mesin pencari, yang mencari konten-konten negatif di dunia maya dengan kata kunci tertentu. Kalau para blogger udah menuhin dunia maya dengan konten positif yang mudah ditemukan mesin pencari, pastilah konten negatif itu akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Cerita ABG, bukan cerita aku blogger gaul ya... kalau aku blogger gak gaul mah iya banget. Mainnya ke situ-situ aja. Yang komennya juga itu-itu aja. Hahaha... susah move on, aku kan type setia.... *tendangsampaiawang-awang
Hihi malah menceracau kacau, katanya mau nulis Cerita ABG. Iya deh.. iya... kita mulai.. begini ceritanya... sudah berlalu hampir setahun.

Buat men-temen yang udah jadi ibu, apa yang ibu pikirkan  ketika bangun pagi hari, anak yang menjelang gadis tiba-tiba memeluk dan berkeluh : "Ummi, sekarang aku tahu, kenapa orang patah hati bisa bunuh diri."
Jreng... jreng... jreng.... kemana Ummi waktu anak gadisnya nangis semaleman ? *ngringkukdikamar
Kemana Ummi waktu anaknya perlu teman curhat ? *asyikbikinpostingan
Kemana Ummi ? Di mana Ummi ? Ummi sibuk ? Ummi ngertiin anaknya nggak siih?

Tenang... tenang... Ummi ada kok.
Karena aku tahu type anak-anakku, enggak laju lebay gitu aku nanggepinnya. Masih dalam pelukku, dengan santai  kutanya balik :
"Trus kamu mau bunuh diri ?"
"Enggaklah.... kan dosa Ummi, rugi banget" jawab gadisku.
Alhamdulillaah. Berarti dia masih menganggap bahwa selain 'cinta monyet'-nya itu, masih buaaanyaaak hal berharga yang pantas dikejar. Dan karena secara normatif anak-anakku sudah tahu bahwa pacaran itu dilarang agama, aku tinggal masukin nilai-nilai yang diterima logika mereka.
Salah satunya aku  pakai resepnya mba Tri. Kurang lebih begini :
"Jangan terlalu mencintai teman-teman SD, nanti kalau kamu SMP banyak teman SMP yang lebih keren. Jangan juga terlalu serius sama teman SMP, karena di SMA akan lebih banyak lagi cowok yang lebih keren. Kalau mau serius pas kuliah. Karena kalian sudah semakin dewasa dan lebih bisa mempertimbangkan segala sesuatunya. "

Ya gitu deh... itu baru cerita satu anak ya... tapi seputar jatuh cinta dan patah hati aku masih pakai rumus yang ini. Alhamdulillah nampaknya berhasil untuk dua gadis pertama. Paling tidak, mereka nampak segera move-on dari para cowok-cowok CCP-nya dan segera beraktifitas yang lain atau dapet CCP baru. :p *mudahcintadanmudahlupa.
Kalau yang cowok belum kelihatan punya gebetan siih...

Dan untuk nasihat yang lebih serius aku bilang gini : (dapat dari tweet siapa ya, lupa. Kata-kata bijak atau nasehat Islam gitu ).
"Bila kau mencintai seseorang, lihatlah apakah dia dekat dengan Allah atau tidak. Kalau Allah aja dia tinggalin, apalagi kamu ?"

Memang awalnya buat telingaku rada-rada jengah mendengar cerita ABG versi anak-anakku. Mengingat jaman aku seumuran mereka dulu apa-apa kan dirasa sendiri. Paling nulis di diary.
Tapi kan mending anak-anak curhat sama kita kaan, dari pada curhat sama orang lain.
Minimal walaupun dia curhat sama temannya, dia curhat juga sama kita, jadi ada semacam second opinion.
Nah yang kulakukan sehingga anak-anak mau cerita adalah :
* ada sessi berdua -quality time- dengan masing-masing anak. Waktunya atur-atur saja.
* belajar bertanya tentang dunia mereka dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik. Nggak mencela, nggak motong cerita, full attention.
* ikut baca buku/novel mereka
* sesekali stalking TL / akun socmed mereka spy enggak kudet. #eeeaaaa

Nah ini Cerita ABG-ku. Lain keluarga pasti lain cerita. Mana ceritamu ?

*postingan ini tidak dilombakan karena kesulitan teknis dalam pendaftaran* bilangajamalesngelink

Selasa, 29 Oktober 2013

LDR

Maaf yee... judulnya lebai...
Kalau yang menduga ini tentang Abi, maaf lagi, kecele.

Ceritanya minggu lalu aku pakai tas punggung yang jreng jreng jreng, perpaduan ungu sama kuning menyala. Kumat? Haha enggak kok. Itu cuma tukar pakai dengan Fathimah.
Selama 4 hari F1 ada acara sekolahan, LDK (latihan dasar kepemimpinan) yang kerja sama dengan Secapa TNI. Tempatnya masih di Bandung siih... alhamdulillah... di asrama pula, jadi enggak khawatir terhadap perubahan cuaca seperti hujan dan panas yang begitu mudah berganti akhir-akhir ini. Tapi kan, gak boleh bawa hape dan gak boleh dijenguk.
Buat kami, ini adalah kepergian mbak yang terlama. Pernah study tour ke Yogya, tapi kan cuma dua malam.
Sampai Faiz aja 'protes' pas dikasih tau mau pergi Senin pulang Kamis. Mbak meuni lama lama teuing perginya... gitu katanya.

Senin pagi itu mbak berangkat sekolah seperti biasa. Siang baru pergi LDK.Biasa 'enggak pamit'. Jadi kebiasaan si mbak ini, suka sambil lewat dapur salim sambil bilang berangkat. Padahal dia masih mau ngapain lagiii ... gitu di kamar. Kadang masih nyemil apa di meja makan.
Beda kalau F2 suka bolak balik pamit, nantilah kapan kapan aku buat jurnal khusus ttg kebiasaan (aneh) mereka dalam hal pamit.
Mengingat dia mau pergi lama, kayaknya dia berangkat enggak bilang lagi gitu, rasanya kok ada yang kosooooong gitu. Mari kita mendadak melow..
Aih ya sudahlah, aku menyibukkan diri dengan memasak. Toh hari ini Abi gak dines jadi ada di rumah.
Nah begitu jam 9-an ada SMS masuk.
"Ummi, mbak berangkat sekarang ya..."
Akupun segera ke back office trus nelpon dia.
Hik hik... sampai bingung mau bilang apa. Speechlesss gituu... mendadak aja kerongkongan tercekat. Ada yang mau jebol di sudut mata. akhirnya aku cuma bilang hati hati ya mbaak, sepi nggak ada kamu, nggak ada yang diomelin.

Pas aku selesai nelpon ada dua temen ebo-ebo yang nanya. Ada apa ? Adoooooh, berarti keliatan banget itu perubahan ekspresiku. Pas aku cerita, antara menahan air mata dan menertawai kecengenganku, ibu yang satu menghibur. Sukur deh, di asrama. Pas putri pertama beliau kebagian di Ranca Upas. Jadi kayak camping gitu... ya deh... akupun kembali bekerja.

Besoknya ada temen sekantor yang ternyata anaknya ikut LDK juga. Cowok. Tapi dia bawa hp sembunyi-sembunyi. Katanya pas di sms gimana ? Jawabnya : seneng. Gitu doang. Tapi mewakili ya.... akupun jadi sedikit lebih tenang. Singkat cerita sampai hari Kamis semua baik-baik saja.

Hari Kamis sore aku pulang kantor, mbak udah di rumah. Suaranya serak. Katanya kebanyakan teriak dan sorak. Meski demikian, dia tetep ngomoooooongggg terus, cerita banyak hal. Cerita mentornya lah, cerita temannya lah, soal makan, soal makanan, soal mandi yang musti antri dan gantian, soal tidur, daaaan.... soal hantu tentu saja. Nggak seru yaa.. kalau nginep di asrama gitu gak ada serem-seremnya.hehe
Akhirnya pas menjelang jam tidur, dan pembicaraan masih didominasi dia, kasian anak yang lain nggak kebagian sessi. aku godainlah si mbak. "Mbak, tau enggak, Allah kasih kamu serak itu sebagai pengingat, supaya kamu istirahat ngomong"
"Habisan serruuuu Umiiii". Ya meski pas dia ngomong itu sejatinya adik-adiknya juga bagai didongengin aja, pada melingker di tempat tidur gitu.

Nah, besok paginya, pas aku masak, si mbak mampir ke dapur (dia libur) dan bilang : "Ummi, kemarin aku di sana nangis lho..."
"Kenapa?" Tanyaku
"Aku inget Ummi...."
Hihihi..... aku cukup tahu diri enggak membahas lebih lanjut. So do, I jika di posisi dia.
Yippie, senengnya mendapati ternyata bukan aku aja yang (hampir) nangis,  ternyata ada dua anak cengeng di rumah gara-gara 4 hari pisah.
:p