Tampilkan postingan dengan label Smile Institute. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smile Institute. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

Faiz Minta Adik

Niatnya sih semalem mau nyelesaiin Berani Cerita minggu kemarin di blog sebelah. Udah ngebayangin jalan cerita, udah 2 hari ini baca-baca referensi tentang 3 kakak beradik dari Kuru, yaitu Amba, Ambika dan Ambalika dalam kisah Mahabarata. Tokoh yang bakal kuambil ya antara Amba atau Ambalika. Soalnya harus ada tokoh Amba. Eh lha kok bingung nempatin prompt-nya dimana. Maklumlah, belum 'berani cerita' beneran, masih maju mundur kanan kiri.  Ya sudahlah kita cerita tentang adik yang lain aja. Postingan ini khusus dipersembahkan untuk yang masih galau antara mau nambah adik atau enggak. Kalau aku insya Allah udah mantep. Cukup lima. *kecualiAbiberubahpikiran*

Kemarin malam, menjelang jam sepuluh, tinggal aku dan Faiz yang belum tidur. Faiz sedang asyik menjadi tokoh utama dalam mewarnai. Dan aku jadi pemeran pembantu. Sedang asyik-asyiknya coret sana sini ini itu kok tiba-tiba Faiz berhenti mencoret, dan menatapku *senyap*
"Ummi aku mau adiklaah"
*Ummi pengsan, sejujurnya ini kedua kali Faiz mengatakan kalimat ini dalam 3 bulan terakhir*
"Mau adik laki apa perempuan?"
*ummi ngulur waktu untuk berpikir*
"Aku mau adik perempuan"
" Besok kita pinjam de Acha, adiknya Mas Karim". (Usianya sekitar 2 tahun)
" enggak mau, aku mau yang satu tahun"
"Oh, kalau gitu kita pinjam de Ilma, adiknya Ayash, kan baru setahun"
"Aku mau yang kamu hamiiiil" *nada meninggi, sambil menatapku*
"Ummi udah tua Nak, sudah tidak sehat untuk hamil"
"Bunda Ayash hamil, mbak Didin hamil..." *Faiz menyebut nama teman-teman Ummi yang lagi hamil. Ummi masih cari jurus.
"Emang kalau punya adik, kamu mau ngurusin?"
"Apaaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau nemenin?"
"Apaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau ngajak main?"
"Apaa?"
"Aaah, nggak usah apa-apa, pura-pura. Nanti kalau ada adik, adiknya dong yang tidur sama Ummi, sama Abi"
"Nggak papa, kalau libur juga aku bakal tidur di luhur" (di atas, di kamarnya)
"Nanti kalau aku pergi, kamu nggak diajak, yang diajak cuma adik bayi"
Faiz berhenti mewarnai, dan menatapku lagi.
"Nggak papa juga kali, kalau pergi bawa dua anak"
*si Ummi mulai kehabisan kata*
"Iyaa, bawa dua anak, Teteh sama kamu"
"Bukaaaan, aku sama adik bayi"
"Capek kaliii...pergi ngajak dua anak maah"
Faiz terdiam. Nerusin mewarnai.
Pas udah jam sepuluh, aku nganter dia ke kamarnya. Udah dipaksa tidur ini. Matanya masih cenghar karena menjelang maghrib baru bangun tidur.
Nah pas di kasurnya itu, dalam pelukanku aku tanya lagi,
"Faiz, nanti kalau ada adik, aku nggak bisa lagi nganter kamu tidur kayak gini. Gimana ? Nggak punya adik nggak papa ya ?"
Faiz ngangguk ngangguk.

Ish, semoga kalimat terakhir itu yang terekam di benak dia, kan kata Kang Dudit dari Smile Institut, saat yang tepat untuk meng'hipnotis' itu saat seseorang dalam kondisi rileks, seperti saat menjelang tidur nyenyak ... saat otak ada di gelombang alfa.

Pict:kebayang ya, anak yang nempel Ummi macam amplop dan perangko gini, tiba tiba mau punya adik...

Minggu, 20 Maret 2011

Kita Tidak Perlu Mencintai Anak Kita !

Yah, betul.... Tidak salah baca.
Kita tidak perlu mencintai anak kita.  Apalagi sampai berbusa busa mulut kita untuk menyatakannya.
"Nak, ibu mencintaimu..., Nak, Ayah mencintaimu"
Percuma saja.


Eit, jangan protes dulu,
Yang harus kita lakukan adalah membuat anak merasa dicintai oleh kita, orangtuanya. Walaupun masih mempunyai seabreg kekurangan.
Apa bedanya ?
Dua hal di atas sangatlah berbeda, mencintai anak adalah dari mind map orang tua, sedang membuat anak merasa dicintai adalah bagaimana kita masuk ke mind map mereka.

Nyatakan cinta kita dengan bahasa yang dibutuhkan anak, bukan bahasa yang sebisa kita.
Bahasa Cinta yang dibutuhkan anak antara lain :

*kata kata yang didengarkan
*waktu yang berkualitas
*hadiah yang spesial
*pelayanan yang memuaskan
*sentuhan yang khas utk tiap anak

Dan, kadangkala, masing masing anak mempunyai 'bahasa cinta' yang berbeda. 

Kita sebagai orang tua mesti pintar pintar mengungkapkan cinta sesuai bahasa anak kita.

Jadi... bapak ibu nggak akan protes lagi kan klo sy katakan tidak perlu mencintai anak kita?