Tampilkan postingan dengan label family trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family trip. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2016

Titian Muhibah #1 : Persiapan Perjalanan

Buat sebagian keluarga, liburan bersama sudah seperti menjadi agenda wajib. Sehingga sudah dipersiapkan baik waktu maupun pembiayaannya.
Tapi buat keluargaku, liburan itu seperti sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan. Biasanya kami menjadikan mudik sebagai 'liburan'. Ya karena saat itulah anak-anak bisa berkunjung ke kota lain dan bertemu dengan keluarga besar.
Akan tetapi, sejak Eyang Kakung wafat sekitar dua tahun lalu, kami sekeluarga baru sekali mudik ke Lampung yaitu pas pernikahan Echi.

Nah kemarin ceritanya Abi mau ngajakin anak-anak berkunjung ke keluarga kakak dan adikku. Meskipun mampir mampir ke beberapa tempat wisata, tapi karena lebih banyak silaturrahimnnya, jadi Abi menyebut perjalanan ini semacam titian muhibah. :)
Selama ini kalau mau mengunjungi saudara saudaraku secara teknis agak susah, karena saudara-saudaraku ada 6 orang yang tinggalnya di 6 kota 5 provinsi. Nah kebetulan tahun lalu adikku yang sebelumnya ikut suami tugas ke Sumatera, pindah ke Purworejo di Jawa Tengah. Sehingga kalau kami ke Jawa Tengah, dapat menemui beberapa keluarga. Yaitu keluarga kakak pertama di Cilacap, keluarga adikku di Purworejo dan adik satu lagi di Temanggung. Udah gitu kami rencana akan diantar kakakku yang ketiga. Jadi minimal ini ketemu lah ya...lima orang. Yang dua lagi di Jaksel dan Bekasi insya Allah kapan-kapan lagi.

Maka Abi meminta aku merencanakan segala sesuatunya. Awalnya aku bikin rencana destinasi secara sederhana plus dengan akomodasinya. Karena ini perjalanan panjang, maka segala sesuatunya harus disiapkan.
Berikut rencana singkatnya :
Hari 1 ; Perjalanan ke Cilacap dengan KA Ekonomi, malamnya menginap di rumah kakak
Hari 2 : Berkunjung ke tempat wisata di sekitar rumah kakak, lanjut perjalanan ke Purworejo dengan rental mobil, malamnya menginap di rumah adik
Hari 3 : berkunjung ke Saudara-saudara Bapak dan Ibu lanjut ziarah ke makam Bapak dan Ibu malamnya menginap di penginapan di Magelang
Hari 4 : Berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Taman Pintar, malamnya menginap di penginapan di Yogyakarta
Hari 5 : berkunjung ke keraton dan ke Budhe di Yogyakarta, malamnya perjalanan pulang ke Bandung.
Fyuuuuh, ngebayanginnya udah capek duluan. Tapi karena ini adalah perjalanan pertama ke arah Jawa Tengah buat kami sekeluarga, maka semua anggota keluarga pun antusias.

Kurang lebih seminggu sebelum perjalanan aku udah beli tiket KA Bandung-Cilacap (KA Ekonomi, karena cuma sebentar) dan juga tiket KA Yogya-Bandung (pakai kereta bisnis karena perjalanan bakal semaleman) . Aku juga udah mulai mengintip semacam trivago, traveloka, yogyes dsb untuk pemesanan kamar. Tapi karena aku dibuat bingung dengan perbedaan harga mereka dan fasilitas yang ditawarkan, akhirnya aku memilih pemesanan manual lewat telpon langsung ke pihak hotel. Alhamdulillah semua clear ya...

Setelah itu persiapan berlanjut pada perbekalan. Rencana semula, semua anak bertanggung jawab atas backpacker masing-masing, cuma punya Faiz dan Teteh yang akan digabung di tas Abi. Tapi mengingat bawaan cukup banyak (5 hari-5 kota, gak sempat nyuci laaah....) akhirnya Abi mengeluarkan travel bag simpanan untuk pakaian para cewek.

Ini tas perbekalan para cewek. Yang hijau buat Teteh sama Ayuk, yang batik buat Ummi dan Mbak

Kami berangkat Kamis pagi pukul 05.20 dari stasiun Kiara Condong. Terima kasih buat aplikasi Mybluebird yang sudah 'memastikan' bahwa taksi bakalan datang. Maklumlah, tinggal di Bandung coret ya begini ini, taksi jarang ada yang mau njemput ke arah sini. Tapi alhamdulillah, sejak aku pakai aplikasi My Bluebird, taksi biru ini selalu datang. 
Kemarin kami pesan yang MPV, ceritanya mau nyobain Honda Mobilio sekeluarga gituu.... tapi kemudian ditelpon sama CS Bluebird, katanya  armadanya nggak ada, jadi kami minta dikirim dua taksi sebagai gantinya.
Syukurlah kereta nggak penuh semua, jadi duduknya santai, bisa pindah kanan kiri memilih jendela yang menyuguhkan pemandangan lebih indah

Pemandangan matahari terbit di sekitar Garut
 Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, pada pukul 11 siang kami tiba di stasiun tujuan, yaitu Stasiun Maos. Di Maos inilah aku menempuh pendidikanku semasa SMP. Duuuh.. udah lama banget. Ada kali 20 tahun aku nggak ke Maos ini. Rasanya nyesek dan terharu akhirnya aku bisa sampai sini lagi. Ada perasaan semacam dejavu gitu, karena SMP-ku ini dekat sekali dengan stasiun.
Tapi ternyata pas aku menyusuri sepanjang jalan kenangan (hihi), SMP-ku udah berubah. Yang tadinya menghadap jalan stasiun berubah jadi menghadap jalan baru. Nggak ada bekas sama sekali. Yaah... sayang sekali ya... Padahal pas aku kelas dua, setiap ada kereta lewat, pasti kelihatan dari jendela karena antara rel dan kelasku cuma berbatas jalan.


Aku dan Faiz di Stasiun Maos
Sayang sekali perjalanan dari Maos menuju kampungku di Desa Adiraja Kec. Adipala (kecamatan sebelah), ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir sekian puluh tahun akan memberikan kemajuan di angkutan massal. ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Angkutan pedesaan berupa bis kecil dari Maos ke Adipala sudah jarang, bahkan angkutan kota dari Adipala ke Adiraja sudah punah, alias nggak ada lagi. Kata kakakku, ini terjadi karena orang lebih suka naik motor. Apalagi sekarang kredit motor sudah dapat dilakukan dengan persyaratan yang cukup mudah.
Alhamdulillah kami bertujuh ketemu bis kecil yang kosong, aku meminta sopir mengantarkan kami langsung sampai desaku (jaraknya cuma sekitar 2 km laah, dari Adipala). Alhamdulillah pak sopirnya bersedia, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Kamipun sampai di rumah kakak dengan selamat dan penuh kemudahan.

Minggu, 17 Februari 2013

Jalan Jalan Siang

Sudah sekian lama nggak jalan bareng sama anak anak. Selain karena jadwal antar anggota keluarga yang jarang match, juga karena keinginan dan kantong tidak berjalan seiring. *wkwkwk alias kantong keburu kering, tidak ada budget untuk jajan jajan.

Minggu lalu pas ada kegiatan lomba tumpeng antar Sekolah Ibu, kepikiran mau ngajak anak anak. Mumpung acaranya nggak terlalu serius, tempatnya pun cukup luas, mereka dapat bermain dengan leluasa di GOR tersebut.

Yang mau ikut cuma F3-F5. Ayuk, Teteh dan Faiz. Berempat naik motor enggak mungkin. Kalaupun naik ojek, waaah jadi dua ojek doong.. mendingan uangnya buat beli es. #eh.
Berhitung sama anak anak, akhirnya mereka bersedia jalan kaki. Yippie...

Agar jalan kaki terasa santai, maka aku tidak melewati jalan pada umumnya. Tapi anak anak kubawa masuk gang. Pertama, tentu saja biar enggak kepanasan. Kalau lewat gang kan relatif banyak pohon dan rumah. Kedua biar enggak ramai dan banyak kendaraan. Jadi aku tinggal lihatin anak anak jalan semaunya *hihi* nggak khawatir kesenggol ojek. Ketiga mengajak mereka berpetualang dan mengenali lingkungan sekitar rumahnya.

Aaah, ternyata anak anak senang sekali dibawa  masuk keluar gang. Tebak tebakan belok kiri apa kanan ketika gang bercabang. F3 dan F4 terkenang kembali masa kecil mereka. Pas sampai di tempat yang dulunya berupa sawah, mereka kaget, di situ sudah berdiri puluhan rumah dan juga calon rumah

anak anak takjub melihat pemandangan baru
Setelah melihat lihat perubahan di sana kami melanjutkan perjalanan ke acara lomba tumpeng itu. 
Namanya anak anak, hadir di acara ibu ibu hihi pastilah mereka enggak merasa asyik. Bahkan justru mereka membuat sendiri acara yang mengasyikkan. Berlarian sana sini, melihat lihat kolam ikan di halaman GOR, klo si F3 sih asyik maen hape :p  Sayangnya aku nggak bisa segera meninggalkan lokasi, karena aku salah satu juri lomba tumpeng itu.

Setelah acara lomba selesai, baru deh, kami melanjutkan jalan jalan siang. Kemana ? dekat saja. Ke Kabayan Ujungberung. 
Makan minum sepuasnya berempat, habisnya gak lebih dari cepek. Iriiiit kaaaaan ? Tapi lumayan memberikan nuansa baru buat anak anak

bergaya sejenak setelah makan enak

Faiz masih asyik minum jusnya, si Fadhila udah mau bergaya aja

Ayo Teteh Firda, teruskan perjuanganmu menghabiskan bakso di mangkokmu

Ummi dan Teteh
Ketiga anak itu nampaknya cukup puas untuk acara jalan bareng kali ini. Terbukti pas pulang mereka enggak ada komplen apa apa. Tapi pulangnya ya terpaksa naik ojek setelah ngangkot. Lha panas terik di siang bolong. Syapa suruh jalan jalan siang ya ? hehehe


Kamis, 17 Januari 2013

Hari Kedua Cuti : Taman Lalu Lintas

Sudah lama Faiz menyampaikan keinginannya naik kereta api. Terlebih setelah dia sekolah dan bisa menyanyikan lagu naik kereta api. Tapi sayang seribu sayang, Ummi dan Abinya belum punya kesempatan untuk mengajaknya naik kereta api.
Nah pas hari Sabtu lalu dia bilang lagi pengen naik kereta api, maka spontan aku menjawab Selasa ya.. kita naik kereta api.
Eh, bukannya naik kereta api beneran lho... bayanganku ya naik kereta api - kereta apian. Hehe.. padahal Faiz sudah semakin besar ya... harusnya aku berfikir bukan cuma kereta mainan. Tapi mau naik kereta beneran kok ya males gitu.. apalagi 'cuma' bolak balik misalnya kereta jurusan Bandung Cicalengka. Maka yang terpikir olehku langsung ke kereta mini di Taman Lalu Lintas. Kan udah mirip banget tuh, ada stasiun, ada loket tempat beli tiket, dan keretanya pun berjalan di atas rel. Lengkap dengan jembatan dan terowongan di 'sepanjang' perjalanannya. :)

Dah sepakat sama Faiz hari Selasa mau pergi berdua. Yah mungkin sudah takdir atau gimana, hari Senin sore aku pergi pengajian. Habis sholat maghrib lihat Abi jalan pincang pincang. Langsung kutembak : Abi jatuh lagi ya...?'  (jatuh dari motor), Abi cuma mengangguk. Biasalaah.. nggak mau cerita.
Trus malemnya aku pancing lagi, pas berangkat kantor atau pas pulang kantor ? Abi cuma menjawab pendek, pas pulang kantor. Jatuhnya udah di dekat rumah, karena ada yang mengerem mendadak.
Sempat ragu hari Selasa mau pergi apa enggak, soalnya Abi jadinya ijin nggak ngantor. Tapi berhubung sudah terlanjur janji dengan Faiz, aku pun tetap melanjutkan rencana. Eh, alhamdulillah, malah Abi mau nganterin. Iya sih, kebayang, Bandung sore hari hujan melulu, kalau naik angkot kapan sampainya :)

Akhirnya sekitar 11.30an kami berangkat bertiga. Jalanan relatif kosong. Maka sekitar jam 12 an kami sudah sampai di Taman Lalu Lintas. Sebenarnya taman ini bernama Taman Ade Irma Suryani Nasution. Alamatnya di jalan Belitung no. 2. Mungkin karena di dalamnya banyak unsur unsur pendidikan berlalu lintas, maka dinamakan taman lalu lintas.  Sempat heran, ternyata tiket masuknya masih 5000 perak. Anak di atas dua tahun harus bayar. Murce ya...

Karena tujuannya naik kereta, ditunjuki apapun Faiz tidak tertarik. Maka kami bertiga langsung jalan lurus menuju stasiun kereta. Namun sayang seribu sayang, mungkin karena sepi, keretanya tidak beroperasi.

keretanya sumbangan PT KAI dari tahun 1958 lhoo

Faiz menatap rel kereta dengan penuh harap
Di loket stasiun tidak satupun penjaga. Demikian juga di stasiunnya tidak ada satupun. Berhubung waktu
Karen zhuhur sudah tiba, maka kamipun sholat zhuhur dulu di mushola kecil yang cukup nyaman 
mempelajari situasi dari balik jendela mushola

Usai shalat berjalan lagi. Berharap bertemu kereta motor (kereta yang ditarik sepeda motor). Ternyata kereta inipun tidak beroperasi. Akhirnya perjalanan berhenti di tempat bermain yang pengoperasiannya pake koin. (Yaah... apa bedanya sama yang di Griya ya..)
Faiz nyobain trampolin. Masih dijagain Abi

Ahayy... ternyata robot dari jaman Fikri TK masih ada di sini.
Setelah bosan bermain main dalam ruangan, kuajak Faiz ke tempat penyewaan sepeda. Kebetulan dia kan lagi pengen sepeda yang agak besar. Dengan bersemangat Faiz berlari ke tempat sepeda.
Harga tiket sewanya 4000 perak untuk 15 menit main sepeda. Tapi berhubung kosong, jadi kayaknya si penjaga loket juga males mau nagih :P *alesan
Oya, untuk bersepeda ini disediakan trek khusus. Dibuat seperti di alam terbuka, ada jalan mendaki, ada jalan turun, berputar mengelilingi taman, bahkan masuk terowongan . Ada juga rambu rambu lalu lintasnya, seperti segitiga untuk menunjukkan jalan naik atau jalan turun, tanda halte bis, belok kanan/kiri, dsb.

mencoba sepeda

sudah berani bergaya, masuk terowongan segala
 
Ummi dan Abi

beristirahat sejenak setelah main sepeda
Karena sudah gerimis dan khawatir keburu hujan, kira kira pukul 14 kami pulang. Tak lupa foto dulu di pintu dekat gerbang, di depan papan rambu rambu lalu lintas yang menjadi ikon taman ini.


Sepertinya Faiz cukup puas dengan jalan jalan kali ini. Udah gitu diapun mendapat perhatian penuh dari Ummi dan Abi. Hanya saja masih punya satu hutang ; naik kereta !

Kamis, 28 Juni 2012

Liburan : Outbond, PMR, Camping

Balada anak banyak dan semua tengah beranjak remaja, ternyata tidak mudah membuat acara. Kalau dulu ada apa apa hayuuu.. semua digiring ke acara itu, sekarang mah, harus pandai pandai menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan masing masing anak. Baru ngerasain yah, adil itu bukan berarti sama.

Liburan kali ini, keluarga gak bikin rencana kemana kemana gitu. Soalnya si F1, katanya seminggu pertama nggak libur, konsolidasi PMR nya, sebagai kakak tertua di SMP, nanti pas ada murid murid kelas 7 datang, mereka bakal sosialisasi tentang eskul PMR, sekaligus ada perfom gitu. Gak kebayang perfomnya apa, kali drama, bawa bawa tandu atau gimana. Contohnya tahun lalu dia katanya perfom tentang tsunami. Si Mbak jadi korban tsunami dan naik tandu. Tahun ini kali dia bagian yg menggotong Eh, syapa tau kaaan, karena sejak anak - anak SMP ortu gak pernah diundang lagi ke acara gituan yg di sekolah.

Kemudian si F3 sudah jauh jauh hari mau ikut camping ke Ciater. Semangat banget dia dengan klub cinta alamnya itu. Sudah dua bulan ke belakang dia tiap awal bulan hiking gitu...
Sampai sampai saking semangatnya, Dufan aja lewat. Dufan ? Iyah. Soalnya sekolah kan ngadain tur (gak wajib) ke Dufan. Ini semacam tradisi dua tahunan gitu. F3 ternyata milih camping ke Ciater. Maka berangkatlah dia ke Ciater, nginep semalam.

Nah sekarang tinggal F2 dan F4 nih.. mau kemana. Maka pas temenku SMS ada acara Fun Day with Qur'an yang diadain Rumah Keluarga Indonesia, ya udah anak anak aku ikutkan aja.
Eh, ternyata ada sesuatu yang baru aku tahu lho.. eh baru aku sadari. Si F4 itu ternyata nempel banget sama emaknya. Lah dia kan paling cerewet. Kayak radio gitu bunyi mulu. Ceritanya, di outbond hari ni, tidak ada teman dari sekolah yang sama. Semua peserta baru. Ada sih.. beberapa anak teman ngaji yg sering ke rumah. Tapi yang ke rumah cuman emaknya. Jadi sesama anak jarang kenal.  Nah pas aku mau tinggalin, pikiran jg sama F2 ini, eh... nangis. Ya ampuuun.. nangisnya kayak mau ditinggal mati aja.
Mending klo mati aku gak denger. Lha ini aku masih di situ dah nangis, bunyi lagi.. Terpaksalah akhirnya aku antar sampai lokasi outbond.
Kirain ya, dia bakal pede pede aja masuk lingkungan baru. Ternyata ternyata....
(Ummi nggak perhatian yah ?? Atau Ummi kepedan ?)

Oyah, tempatnya di Pondok Bambu, kira kira 4 km dari Saung Angklung Mang UDjo ke arah cimenyan. Tapi belum sampai Caringin Tilu dia belok kanan. Enak lho... Ada flying fox, nangkep ikan, play ground juga luas wlp cuma ada ayunan. Tapi adeeem banget. Berasa di mana. Padahal itu kan cuma naik ojeg jg bisa  (alias dekat). Tiket masuk cuma 5rb. Tiket wahana (cie..) aku gak tau ya.. tapi yg jelas, anakku cuma bayar 75 udah termasuk transport dari/ke Sucore, makan siang, snack, souvenir, dan wahana2 itu.

Sorenya, pulang pulang si F4 dah senyum senyum. Kutanya kok nggak nangis lagi ? Katanya seneng ikut acara itu dan mau lagi lhooo...
Dan sesuai dengan judul acaranya Fun Day With Qur'an, mereka nambah hapalan baru selama outbond.
foto diculik dari salah satu fb panitia


Jumat, 18 Mei 2012

Akhirnya...


Akhirnya... setelah sekian lama.. selain mudik tentu saja, baru kali inilah kembali jalan jalan dengan formasi full team.
Emang sih.. secara teknis bakalan susah jalan jalan bertujuh sementara kendaraan rodanya masih ada dua, belum nambah nambah juga.
Terpaksalah harus sewa roda orang lain ya.. hehehe.. Maka, pas Abi ngajak makan bareng minggu kemaren aku seneng banget. Walaupun berangkatnya separo tim naik motor dan separo lagi naik angkot nggak masalah laah..

Ceritanya minggu kemaren pas banget timingnya.
F1 sampai F3 baru pada selesai khatam AL Qur'an. Biasanya sih hadiahnya ke toko buku. Berhubung si rak buku udah mulai mual dijejalin melulu, dan belum ada rencana membeli rak lagi, maka untuk sementara membeli buku di stop dulu eh, tepatnya membawa pulang buku distop dulu. (karena ada aja buku yang masih nginep di laci kantor)
Jadi sebagai hadiah khatam kali ini adalah ngajak jalan jalan eh ngajak makan siang bersama.
Tujuannya kali ini masih yg sekali naek angkotlah.. yaitu ke Saung Legit di Cibiru.

Sebagai prolognya : Saung ini bener bener seperti rumah jaman dahulu.Masuk pertama di tampak muka adalah jajaran meja kayu persegi dengan kursi kayu yang kokoh bersandaran tinggi. Kayunya bukan kayu muda seperti kebanyakan sekarang, tapi kelihatan kayu tua. Trus agak ke belakang ada saung saung buat lesehan. Saungnya ada 4 doang. Yang dua terpisah, yang dua lagi bisa digabungin kalau pesertanya banyak. Dan khas rumah makan sunda ada kolam ikan ya.. tapi asyiknya di legit ini, kolamnya dangkal, tapi airnya penuh hampir sampai ke jembatan kecilnya. Jadi anak anak puas banget melihat ikannya yang besar besar itu.

Alhamdulillah kami dapat saung yang paling ujung belakang, yg menurutku paling enak. posisinya paling tinggi dan nggak dilewati orang.

Soal harganya ? di atas ampera dikitlaaah...Tapi karena judulnya hadiah khatam ya masih sekitar budgetlah.
Soal makanannya ? Di sini ada makanan Indonesia, ada juga makanan Eropa. Jadi tinggal pilih, mau nyoba yang mana.
Kalau tanya padaku gimana makanannya, aku pasti menjawab enak semua. Karena lidahku cuma mengenali dua rasa, enak dan enak sekali. haha. tapi berdasarkan apa yang dipesan sama anak anak dan yang direkomendasikan sama Abi.. Maka.... ini pendapat mereka :
Pesanan mbak si tenderloin steak - kayak sate katanya (tapi empuk lho...)
Pesanan fikri : chicken cordon blue - enak banget
Pesanan ayuk : spageti saus bolognaise katanya juga enak
Pesanan teteh : chicken steak katanya enak, kata mbak kayak sate. (ini empuk juga..)
Pesanan bejo : (sunda pisan) nasi timbel komplit - katanya enak juga wong dia makannya banyak 
Pesanan Abi : nasgor sea food. Kayaknya sih enak, soalnya si Abi dari rumah udah mantep mau pesan ini. Kata mbak juga enak. Kataku sih, kurang item/kurang kecap
Minumannya standarlah... jus jus gitu ada yg pake float es krim juga.
Tapi yang aku baru lihat adalah es cocktail yg ternyata aneka buah potong,disusun dalam gelas gitu, trus diatasnya dikasih eskrim . Jadi kayaknya lebih enak dimakan setelah es meleleh sampai buah iris yg paling bawah ya.. Tapi dasar anak anak, es krimnya di serbu duluan, jadi sisanya tinggal makan buah iris doang.

Ah, Tapi itu semua nggak terlalu penting, yang lebih penting dari makanan makanan itu adalah.. kebersamaannya. Sampai lama banget kita di sono.Sekitar dua jam lah. Goler goleran di saungnya yang disediain bantal kecil dan bantal gede. Sampai ngantuk karena angin semilir.
Sementara bejo malah asyik bolak balik cuci tangan yang wastafelnya pendek dan unik pisan. Yaitu pake bakul anyaman bambu yang di dalamnya dilapis semen kali ya.. jadi nggak bocor. Pokoknya tampak luar adalah bakul di bawah kran.
Trus klo mau manggil pramusaji kita pukul kentongan yg ada di saung. hihi..
Trus anak anak juga gantian mainin nangkepin capung dari android Abi yang dapat wifi gratisan

Yah pokoknya asyiklah. Dan tentu saja, untuk sementara hutang jalan jalan ke anak udah dibayar. hehe.. dan ini adalah pengalaman baru buat mereka. Makan makanan kelas menengah gitu... *emak emak pelit mulai berhitung, padahal membayar juga kagak*

Nah supaya nggak dibilang "no pic hoax" aku culikin foto dari sini.

RM Legit, Jl Cipadung, Cibiru

Jumat, 13 April 2012

Jalan Berdua

Jalan bareng pasangan, mungkin menjadi suatu kebiasaan atau bahkan sesuatu yang diagendakan secara tetap buat orang tertentu. Aku lihat tuh, ada temanku yang setiap pagi samper samperan buat sarapan bareng karena kantornya dekatan. Atau ada teman lain yang makan siang bersama. Bahkan ada juga yang sering jalan malam malam berdua, nonton atau makan bareng. Mereka menyebutnya us time.
Kadang kadang ngiri juga.
Tapi aku yakin, kondisi tiap pasangan pasti berbeda beda. Dan pola komunikasinya juga unik.
Dan akhirnya aku berpikir, ini sekedar pengen, atau aku butuh ? Atau jangan jangan aku saja yang menumbuhkan kebutuhan akan us time model seperti itu ?
Dengan pertimbangan aku dan abi yang seperti .. seperti apa yah.. seperti matahari dan rembulan kayak lagunya Nicky.. yang saling berkejaran, atau ibarat langit dan bumi yang saling menatap dari jauh... qqq.. ibarat sepasang suami istri aja deh. .emang kenyataanya gitu. *ogahmikir*
Aku yang aslinya lasak, nggak bisa diem baik jasad maupun mulut, tukang jalan, tukang pergi, eh berjodoh dengan si Abi yang asli anak rumahan. Bicara yang perlu perlu saja. Week end mending baca di rumah dan menghabiskan waktu sama anak anak. Atau membereskan rumah, ngepel sono sini daripada rekreasi. Aku harus menyesuaikan diri doong..
Yah akhirnya aku setelah menikah jadi "agak terkendali". Dan kuberharap sidia juga "agak terwarnai". Meski samar samar

Walaupun... tetep aja aku seneng juga kalau bisa jalan bareng di luar jalan bareng tiap hari pagi sore pulang pergi ke kantor.

Kayak beberapa minggu lalu tuh.. ada temen fb aku yang ternyata teman kantor si Abi mau nikah. Rumahnya di Lembang. Dia ngundang lewat fb. Aku tanya ke Abi :
"Ta, si Santi (kusebutin nama lengkapnya) mau nikah ya ?"
"Iya, kok kamu tahu ?"
"Dia ngundang Ummi, dia teman Ummi di FB. Mutual friend-nya teman blogger Ummi"(padahal, tentu saja si Abi juga)
"Semua orang kantor juga diundang. Cuman tempatnya di Sukawana sana. Tapi nggak enak juga kalau nggak datang. Dua duanya teman kantor" kata si Abi
"Hehe.. ya terserah Abi itu maaah.." jawabku jaim, meski ngarep
Eh, besoknya pulang kantor si Abi bawa undangan aslinya. Dari situ dan percakapan sepotong kemaren, setelah 15 tahun menikah, aku bisa mengartikan si Abi mau datang. Wkakak
Ups, ternyata perjuanganku belum selesai dooong... untuk sekedar bisa jalan jalan kondangan.
Ternyata Sabtu Minggu pas si Santi nikah itu, bibi minta ijin mau pulang kampung. Hadoooh... pikir pikir pikirr..
Ternyata juga, hari Sabtu yang sama, si Firda dan si Ayuk mau pentas di sekolah. Hadooh... pikir pikir pikir.. Ampuuuunnn.
Sibuk amat yaks. Ya eyalah.. anak banyak, ya banyak urusan. Tenang tenang tenang...
Syukur alhamdulillah Allah kasih aku otak yang meski nggak pinter pinter amat tapi amat kreatif.
Masalah bibi, aku usulkan sama Abi, bagaimana kalau  perginya ajak  F5, F3 dan F4 ditemenin sama anak bibi/bi Entin di rumah. Toh yang mudik cuman bibi. Bi entin nggak ikut mudik.  F1 dan F2 kan sekolah siang.
Nah masalah pentas ini.. belum ada dalam sejarah keluarga cie cie.. anak yg TK dan SD pentas orang tua nggak datang.  Jadi kami datang pagi pagi ke sekolah. Untung juga itu acara nggak pake molor molor, pas nyampe di sekolah jam 8 itu udahacara udah mulai.
Alhamdulillah lah,nonton anak anak pentas sampai jam setengah sebelasan. Pokoknya anak anak dan turun naik panggung beberapa kali.. hehe.Udah ngider ngider juga belanja belanji bazaarnya anak anak.
Lalu pulanglah dan siap siap. Agak agak mendung. Cuman niat udah kuat niy. Kata si Abi, udah aja kita jalan, istirahat di kantor Abi buat shalat zhuhur, ntar kalau nyampe sana ternyata hujan, lebih enak ngomongnya karena kita dah separo jalan. Siiplah

Dan alhamdulillah,.. Allah baik padaku dan selalu baik padaku. Singkat cerita sampai rumah si Santi dengan selamat dan cuman kegrimisan sedikit. Nggak perlu buka jas hujanlah.
Trus sepanjang jalan si Faiz juga menikmati. Lihat kanan kiri sepanjang jl. Sersan Bajuri itu. Dan kamseu pisan aku memang 10 th di Bandung baru lihat kalau di sepanjang jalan itu banyak kebun strowberry, ada si Kampung Gajah, ada apa lagi deh, udah lupa. Nggak penting deh itu semua, yang penting adalah jalan barengnya.

Dan dengan kamseu pula sebagai kenang kenangan, pulangnya kami mampir di sebuah kebun/nursery yang lagi sepi gitu dan minta ijin.. "pak..numpang foto yah..."
ini dia hasilnya... (habisan mau numpang foto di gerbang Kampung Gajah, banyak penjaga gitu, jadi malu)

Aku dan Faiz
Aih tumben si Abi mau dipoto
 


Senin, 26 Maret 2012

Jalan Jalan Sama Faiz

Menjadi perempuan adalah kodrat, menjadi Ibu adalah pilihan. Aku suka dengan quote ini. Yah, ibu disini mungkin Ibu yang memerankan tugasnya ya.. bukan sekedar orang yang melahirkan. Toh seseorang tidak harus melahirkan dulu baru menjadi Ibu. (Ibu biologis). Dia bisa menjadi Ibu Guru, Ibu RT, Ibu angkat, dsb. Dan memang kodrat perempuan itu membawanya ke berbagai tugas. Tugas kita sebagai anak terhadap orang tua, tugas sebagai istri di hadapan suami, tugas sebagai anggota masyarakat, tugas sebagai Ibu terhadap anak anaknya (baik anak kandung maupun anak didik), dan tentu saja tugas sebagai hamba-Nya untuk tetap beribadah dan menyebarkan kebaikan serta mencegah kejahatan dan keburukan.
Nah, seringkali karena keterbatasan kita sendiri, kadang kita merasa kok tugas ini tabrakan dengan ini, kok tugas ini tabrakan dengan itu. Sebenarnya tidak, ketika kita lebih jeli melihatnya. Yaitu dengan kaca mata skala prioritas. Ada yang penting dan sekarang, ada yang penting tapi bisa nanti. Ada yang nggak penting tapi harus sekarang (hihi.. ngangkatin jemuran pas ujan gerimis kali ya..*becanda) atau nggak penting dan bisa nanti nanti . Ketika kita bisa memilih inilah maka kita akan senantiasa merasa tentram dengan pilihan kita, menurutku.
Misalnya aja ketika karena sesuatu hal aku nggak bisa ngantor (karena bibi nggak datang dan suamiku nggak bisa gantian membolos) ya sudahlah aku nikmati saja hari membolosku dengan mengoptimalkannya. Maka suatu hari itu akan aku gunakan untuk jalan jalan sama Faiz (iya karena tinggal dia yang di rumah, yang lain kan udah pada sekolah sampai siang/sore).
Aku ajak Faiz ke rumah Puput, urusan dagangan tentu saja, walaupun Puput nggak ada, poin pentingnya adalah aku jalan sama Faiz. Dagangan mah titipin aja sama Mbah.
Kami berangkat dengan jalur yang berbeda. Pertama naik angkot biru dari jalan Rumah Sakit, turun di Superindo, sambung becak dari Superindo ke rumah Put.  (aduuh senengnya,.. karena dia sudah belajar lagu Naik Becak), Pulangnya  ku ajak dia naik jembatan penyebrangan, dan naik angkot jurusan Cibiru sampe bunderan. Lalu naik Damri kesukaannya.
Tak lupa membungkus satu paket KFC untuk makan siangnya.
Maka cukuplah semua menjadi penghibur. Tak terbayar semua senyum dan tawa berdua dengan berapapun potongan penghasilan yang orang sering bilang "sayaaangg.. klo gak masuk... absen ajaa..."


Selasa, 07 Desember 2010

Asyiiiiiikk.. Jalan Bareng Lagi

ikan menari aka ikan terbang

Liburan tahun baru Hijriyah ini, sebetulnya jauh jauh hari aku dah kasih sinyal sama doi, pengen jalan jalan ke tempat yang sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.....
eit tunggu dulu, bukan berdua, tapi sekeluarga.
Sepi disini dimaksudkan agar supaya (halaah... bahasanya !) bisa benar benar istirahat, refreshing, dan sebenarnya aku punya hidden agenda, yaitu mau ngajak semua anggota keluarga untuk berkontemplasi dan bikin resolusi.
Tempat yang kutaksir berat adalah Saung Dada Rosada (maaf ya pak Dada..kami di Uber menyebutnya demikian, karena ada prasasti bertanda tangan nama Bapak di gerbang masuk).
Assyiiik banget tempatnya, ada Saung besar di tengah kolam segi empat, bisalah sampai 20 orang.
Trus dua sisi kolam lain ada beberapa saung kecil kecil 5-7 orang. Di dua sisi lain ada jalan dan Saung Utama yang nyambung dengan Dapur, kasir, dsb.
Trus ada juga saung yang di atas menara, asli bisa lihat kota Bandung. Ada kolam renang kecil yang tiketnya super murah, 3rb saja.
Ada flying fox yang tiketnya super murah juga, cuma 5rb.
Sayangnya cuma satu, usulku itu belum di ACC sama boss. Aku maklum sih, mengingat tempatnya yang jauh di puncak gunung dan musti carter ojeg dari rumah .
Kalau punya mobil sih bisa, walaupun musti perjuangan krn medannya turun lembah, baru naik lagi.

Tapi, ya sudahlah, tempat yang indah itu cukup aku bayangkan. Karena sampai hari H libur tahun baru tidak ada jawaban dari suami.

Eh, tiba tiba, sekitar jam 10-an Abi bilang,
"de, nggak usah masak, kita ke mina wangi ajaaa..."
asyiiiikkkk.... aku segera berkoordinasi dengan anak2, (*ih, bukannya kasih cipika cipiki ke suami yah)

Jam setengah satuanlah kami berangkat, diunjal 2x pake motor.
Acara makan yah seperti biasa, anak anak pesan juice kesayangan mereka, karena ini dah bukan yang pertama anak-anak ke sana, jadi  mereka dah bisa membayangkan jus apa yang bakal di pesan.
Ada jus cangcuter yang merupakan campuran beberapa buah berwarna merah
ada jus rainbow yang penampakannnya asli berwarna warni seperti pelangi, merah (strowberry) hijau (nanas)  putih (sirsak)
trus ada minuman Putri Malu yang ternyata isinya es kelapa, agar biru (masih mikir agar2 merk apa yang biru gini ) tambah nata de coco
Trus si mbak fathimah pesan minuman khas minawangi yang kubilang es goyobod pake gula merah. Hahaha..
Klo makanan sih, masih penasaran sama si Tahu Krispi itu yang ketika kubuat sendiri penampakannya tidak seperti yg disini. Mau nanya resep nggak mungkin kaaan dapat jawaban.. Kami pesan nasi liwet dengan lauk ikan nila merah yang digoreng seperti lagi menari.

Di atas semua itu makanan yang nikmat itu, terima kasih ya Allah, selesai makan hujan turun, jadi kami malah ngobrol.
Tujuan utama ngobrol sama seluruh anggota keluarga, tidak tercapai dengan maksimal, karena perhatian anak anak terpecah dengan keasyikan khas anak anak, main air, lompat sana sini, lihat ini itu, yah, semacam itulah.
Ah, kupikir bisa diatasi, toh mereka punya jadwal curhat yang gilirannya mereka atur sendiri.
Tapi, aku  bisa ngobrol sama suami -yang benar benar jarrraaaanggg banget ngobrol- tentang banyak hal yang  selama ini tak terobrolkan.
Sukurlaaah...



Minggu, 26 September 2010

Kenangan Lebaran 5

Hari terakhir di Lampung.

Ternyata sampai hari ini udah bener bener nggak bisa keluar buat jalan bareng. Anak anak juga maklum kayaknya. Semalem 3 anak terbesar nginep di rumah kakak kedua. Sampai jam 10-an baru datang.

Abi mencari kesibukan dengan membereskan tumpukan buku di lantai atas. Aku bersyukur menemukan buku lain yang bisa kubaca. Ada buku BPS tentang Lampung dalam angka. Tapi sayang udah lewat tahun jadi nama nama Kota dan Kabupaten sudah banyak perubahan. Waktu itu di Lampung cuma ada 5 kabupaten dengan gubernur masih Pudjono Prajoto (hihi hafal yaks, iya sih, soalnya si pak Pudjo ini dulu bupati Cilacap).
Sedangkan sekarang udah 10 kota dan kabupaten.
Ada juga buku buku lama yang masih dengan ejaan lama.
Ada buku tentang Bupati Sumedang, Pangeran Cornel - aku pengen baca.
Ada Nagasasra Sabuk Inten yang bukan komik
Ada buku kumpulan cerpen STA
Ada buku karangan pengarang Belanda
Ada buku buku yang mirip buku perpustakaan SD-ku dulu, yaitu buku2 terbitan Balai Pustaka.
Pesta deh, kalau saja masih lama di sini.
Tapi nggak papa lah, berharap aja jangan dibuang. Soalnya pernah pas kita pulang masih liat Majalah Intisari tahun 60-an dan 70-an (bayangkan !!) pas kita pulang lagi, sudah raib semuanya. Aduuuh, sayangnyaaa......
Si Abi juga kehilangan "Deni si Manusia Ikan"nya. Untung bbrp Lebaran lalu kami sempat 'menyelamatkan'  Little House in the Prairire ke Bandung.
Senengnya baca novel/buku buku lama di rumah Eyang ini adalah, kelihatan bahwa buku itu dibaca pada masanya. Banyak buku yang digaris bawah di kata kata sulit/asing, kemudian di sisi paragrafnya ditulis artinya. Tulisan siapa entah, rapi banget,pake pensil.

Tambah bersyukur lagi, kami bener bener nggak perlu pergi, karena kemudian Kakak Pertama mengantar oleh oleh keripik pisang satu kantong besar. Lengkap dengan Kakak Kedua yang membawa satu kardus full keripik ubi-ubian dan kakak ketiga membawakan kerupuk.
Aku cuma membeli mpek mpek dekat rumah, yang menurutku juga udah jauuuuuuuhhhh lebih enak dari mpek mpek di Bandung.

Sore ini kami bertolak ke Bandung, dengan seribu satu kenangan yang tidak tergambarkan (karena kamera ketinggalan). Makanya aku paksain menuliskannya, meski ternyata masih banyak juga yang bececeran. ya sudahlah, dari pada nggak ada sama sekali.

Kenangan Lebaran 4

Hari ketujuh

Hari ini adikku udah mulai ngantor. Tadinya hari ini mau ngajak anak anak jalan jalan. Minimal makan bareng di luar lah, atau nonton.
Mau nonton pas lihat judul film, gak ada yang asyik. Ada Sang Pencerah kayaknya terlalu serius buat anak anak yang kecil, mau nonton apa tuh, merah putih 2, si Abi nggak tertarik.
Ternyata, acara keluarpun bener bener nggak jadi, karena adik kesatu udah mulai kerja, dan adik bungsu jalan jalan sekeluarga. Klo kami pergi, berarti Eyang di rumah sendiri.

Aku menyelesaikan cucian dan setrikaan yang sempat tertunda karena si Danielle Steel, anak anak asyik nonton TV. Heran juga nih, para keponakan, biasanya pada maen lama lama. Tiap hari ada aja, ini mah sepi sepi ajah.
Pas setrika sedikit heran, kenapa sarung Eyang yang kucuci kemaren belum disetrika sama adikku, akhirnya aku setrika dan kumasukkin kamar Eyang.

Tanggal 15 September, anak pertama adik bungsu -si Kakak Faris- ulang tahun. Kami semua mau diajak jalan ke Laut. Tadinya aku dan Faiz nggak akan ikut karena mau nemenin Eyang. Si istri adik bungsu juga nggak ikut, karena semalem si Kakak Faris ini gak sengaja membuat jari jari adiknya -de Restu- yang mukul Faiz itu - kejepit pintu. Kasian juga, sampai tiga jari tengahnya luka. Yang paling parah ya jari tengah, luka terbuka dan sekaligus luka memar kejepit pintu.

Eh, Faiz dong, melihat kakak kakaknya sibuk, menyiapkan perbekalan baju ganti, makanan, dengan masing masing tas di punggung mereka, Faiz juga ikut sibuk.
"Itut ... itut.... itut..."
"Ikut kemana ? Ummi di sini kok, nggak kemana mana." kataku
"Itut edi, obil " (ikut pergi naik mobil)
Haha, ternyata udah gak bisa di tipu.
Eyang pun jatuh kasian  liat Faiz merengek rengek gitu.
"Ajak aja sih..." kata Eyang
"Takut masuk angin, Yang." kataku ngeles. Padahal kan aku mau nungguin Eyang
"Pakein jaket aja" kata Eyang.
Aku bersitatap sama Abi. Abi mengangguk. Akhirnya aku dan Faiz ikut ke laut. Eyang sama adik bungsuku.

Di laut anak anak yang besar langsung on. Ini kali kedua mereka ke pantai pasir putih ini.
Faiz ini kali pertama ke laut. Sama Abi diajak turun ke air. Pertama takut takut. Eh, lama lama nggak mau naik sama persis dengan kakak kakaknya. Nggak berasa sudah tengah hari dan waktunya pulang.

Malemnya ke rumah kakak pertama. Musti mampir lah. Walaupun sudah ketemu di rumah Eyang, tapi ternyata buat kakak-kakak, datang ke rumah lain artinya. Ya sudah deh, turutkan sajaaaa..

Kenangan Lebaran 3

Hari Ke-4, ke-5 dan ke-6 di Lampung

Lebaran kedua ini kami di rumah saja. Biasanya Lebaran kedua ke Metro. Aku juga udah ngarep, soalnya mau pake tas baru hadiah tea :P
Anak anak juga udah ngarep, mereka mau pake baju baru juga. hahaha...
Bukannya mau silaturrahimnya yaks...
Sebenernya aku senaaaaaanggg sekali mengunjungi Pak Lik di Metro itu. Suasana pedesaannya mengingatkanku akan kampung halaman. Sepanjang jalan di Metro akan nampak sawah yang luas terbentang bagai tak ada ujung, Irigasi yang mengalir lancar, kadangkala nampak kerbau, sapi atau kambing di sana. Sesekali rombongan bebek melintas. Terus di rumah Pak Lik itu, suasanya pedesaannya juga kental, rumah rumah berhalaman luas, halaman antar rumah masih nyambung, gerbang depan tanpa pintu tertutup, dan lebih sempurna lagi dengan bahasa Jawa yang mendominasi. Mungkin itu dulunya perkampungan transmigran.

Walaupun sebenarnya, di rumah pun aku sudah cukup disibukkan dengan pekerjaan wajibku di sini. Yaitu mencuci dan kemudian menyeterika baju kami bertujuh. Menurutku itu sudah cukup menyita waktu bermainku dengan Faiz. Hehe..
Tentunya diselingi membantu adikku memasak di dapur yah, mencuci piring dan peralatan memasak, -karena aku nggak berani masak di sono- dan membersihkan meja makan dan menatanya kembali di pagi hari sebelum jam 6, siang sebelum jam 11, dan sore hari pada jam 5-an untuk menata makan malam.

Anak anak selain Faiz? Jangan tanya, mereka bahkan ingat Ummi cuma malam hari saja ketika tidak berani  tidur beranjak tidur sebelum Ummi masuk kamar. Secara kamarnya di atas, dari lantai atas yang luas itu, cuma kamar kami yang ditinggali, jadi sepi kali yak.

Anak anak asyik dengan TV, sepupu yang datang silih berganti dan tentu saja, -teknologi- yakni tuker tukeran hape, dan tuker tukeran file lewat blutut. duh, anak sekarang...


Alhamdulillah ditengah kebosanan ini, kami -aku dan suami- menemukan tiga novel Danielle Steel di laci meja kamar. Syukurlah syukurlah syukurlah. Paling tidak tiga hari ini bakal ada hiburan, apapun yang terjadi. Meski gak bisa pergi pergi karena klo kami pergi Eyang pasti sendirian di rumah, dan klo kami pergi juga, males naik angkot,sedangkan nyari taksi juga susah. 


Hari Sabtu pagi Eyang minta Abi mengecek dokter udah praktek belum, tapi hari minggu aku baru ingat permintaan Eyang ini, kata Abi, biar saja, pasti masih liburlaaah.
Hari Sabtu malem ke rumah kakak pertama, tapi kakak pertama lagi di kakak kedua, jadi kami langsung meluncur ke rumah kakak kedua.


Hari minggu Faiz dipukul sepupunya yang baru berumur 18 bulan, tapi sampai berdarah di jidatnya. (sampai hari ini bekasnya masih ada).
Lukanya cukup lebar, adalah sekitar diameter setengah cm.  Karena darahnya ngucur, maka kutempel hansaplas. Untung Mama si sepupu punya betadin anak-anak, akhirnya Faiz mau ditempelin itu sambil ngaca.
Hari minggu itu juga, ke rumah adik kedua di Sukarame, Faiz gak mau duduk diem, maunya jalan jalan lihat mobil ke pinggir jalan raya.

Hari Senin, akhirnya Eyang diantar ke RS Immanuel. Sekalian nganterin anak anak Om Iyen ke RS juga. Sampai lewat makan siang baru pada pulang. Eyang sudah lumayan baik. Rupanya asam uratnya naik. (merasa bersalah mode on, dipesenin adik spy nyumputin emping tapi suka lupa)
Eyang dapat suntikan obat, entah apa, tapi akan membuat Eyang bolak balik ke kamar mandi. Eyang disarankan pake diapers bbrp hari ini.
Siang eyang manggil Abi buat masangin kunci diapers. Sore aku sempat mencuci sarung dan pakaian Eyang yang kena air seni.
Senin malam diajak keluarga Adik Bungsu ke Gubug Mas tapi rrruame banget, sampai gak dapat tempat. Trus akhirnya pindah ke yang lain, rumah makan apa yah, aku lupa, ada tiruan kapal diatas balong (padahal itu mess karyawan), trus naik sampan gratis di balong itu, tapi gak makan, cuma minum juice doang dan makan sate ayam yang asliiii enak sekali.

Sementara Abi sama Eyang di rumah berdua.

Tapi secara umum, Danielle Steel yang menutupi semua bolong bolong waktu di sela sela itu :D


faiz dengan tempelan di jidat, untung ada hape si mbak yang mengabadikan.


Kenangan Lebaran 2

Hari ke Tiga di Lampung

Alhamdulillah, bangun pagi Lebaran, anak-anak gak ada yang rungsing.
Kebayang kan, antrian mandinya, ada tiga keluarga di rumah Eyang, keluargaku, dua keluarga adikku dan Eyang sendiri.
Klo Eyang punya kamar mandi pribadi.
Dua kamar mandi sisanya untuk 7 anggota keluargaku, 4 keluarga adik bungsu, dan sepasang adikku dan suaminya.
Tapi alhamdulillah semuanya lancar, lagian masjid cuma di seberang, jadi nggak buru buru amat.

Pagi tadi sudah siap siap memotong ketupat (-ternyata ini jadi tugas aku selama lebaran-setiap ketupat habis, aku yg diminta motong motong)
Anak-anak sudah sarapan dengan menu lebaran, aku juga melihat bekas sarapan Eyang di meja makan, eh, ternyata pas kita mau berangkat shalat, Eyang masih tiduran.
Si Abi menemui Eyang di kamar, katanya Eyang sakit.
(Perasaan pagi tadi masih shubuh di masjid deeeeh....)
Ya sudahlah, akhirnya kita tinggalkan Eyang di rumah sendirian.

Pas shalat Ied, alhamdulillah Faiz gak rewel, tapiiii.. malahan yang rewel kakak kakaknya, berebut di samping Ummi. Padahal kan sisi umi cuma ada dua, kanan dan kiri, sedangkan anak gedenya ada tiga, Mbak, Ayuk dan Teteh.
Grhhhhh......

Sepulang shalat, salam salaman, Eyang udah nungguin di depan, tapi enggak pake baju baru. Biasanya Eyang pake baju baru. Kami semua salam salaman sama Eyang, baru kemudian keluargaku juga salam salaman sendiri.
Ritual berikutnya seusai shalat Ied, adalah ziyarah ke makam Ibu. Semua kakak dan adik kumpul. Abi delapan bersaudara.
Tapi kali ini sepertinya ada yang berbeda, itu kumpulnya nggak bareng. Jadi udah hampir jam 11 baru ke makam, dekat aja sih, memang, tapi nggak nyaman aja.
Biasanya adik membeli bunga tabur, tahun ini juga tidak ada bunga tabur.
Ke makam kita cuma berdoa pendek, membersihkan ala  kadarnya dan kemudian pulang karena yang bapak bapak mau shalat Jumat.

Trus sampai mereka pulang siang itu, juga tidak ada pembicaraan untuk nengok adik Ayah di Metro.
Aku cuma berani nanya ke Abi, kok nggak ada pembicaraan mau ke Metro sih ?
Aneh deh, Bi. Abi cuma nyengir.

Ini ada foto foto dikit, dari kamera hape si Mbak.


tiga cowok ganteng

Jumat, 24 September 2010

Kenangan Lebaran 1

Libur Lebaran kali ini rasa rasanya berbeda sekali. Sebelum berangkat sih seneng banget, Sore itu tanggal 7 sore dapat kiriman hadiah dari pasar pelangi karena menangin sayembara ini.
(horreeee... berhasil bikin link )
Makasih yah, Pasar Pelangi, saking senengnya, sampai - sampai itu tas aku langsung bawa ke Lampung, kumasukin aja ke tas mana aja yang masih muat. secara kan semua udah di packing-packing. Kupikir mau kupamerin pas Lebaran kedua, biasanya kami silatruahim keluarga besar ke Metro.
Trus sore itu aku dapat kiriman THR yang lumayanlaaaah.... 
Kami pun berangkatlah..
"Rasa beda" dimulai setelah buka puasa, Tiba tiba si Abi baru inget bahwa tas kecilnya ketinggalan.
Aku nggak ngeh, karena Abi dah ngeluarin tiket, biasanya tiket bus itu ada di dalam tas. Yah.. gak bakalan sempat lagi, mau sengebut apapun dari Stasiun Hall ke Ujungberung untuk ngambil tas. Isi tas itu adalah uang baru untuk THR keponakan-keponakan, uang Abi juga, obat-obatan, dan tentu saja kamera !!! Masih untung hape dan tiket dikantongin, yah..

Sepanjang perjalanan, alhamdulillah terbilang lancar deh, cuma pas di Merak aja, nunggu 3 jam buat nyebrang.  Tapi anak-anak malah jadi seneng, karena sempat lihat matahari terbit dari atas ferry. Aku sih nggak ikut keluar bis, karena biasanya mual klo di atas. (belum berani nyobain lagi, padahal terakhir mabuk laut akhir tahun 2001)

Nyampe Lampung masih pagi, sekitar jam 8-an. Syukur juga masih inget, bahwa ayukku yang pertama masih ngantor di KPPN Lampung, siapa tahu masih bisa nuker uang buat THR anak-anak dan keponakan (ini ritual wajib di rumah Eyang). Akan diusahakan, kata Mama (panggilan buat Ayuk). Semoga deh.... gak lucu kan, ngasih THR minta kembalian.

As usual, ritual wajib lainnya adalah mempersiapkan masakan lebaran.
Hari pertama di lampung, pagi aku masih sempat tidur tiduran ngelurusin punggung.
Agak siang, aku bantuin Mama bikin risoles dari Mi. (kapan kapan aku kasih tau caranya).
Sorenya aku yang kebagian nggoreng. Hihi..kata mama gorenganku putih tua, alias gosong.
Yah, gpp lah... masih gak pait kok kalau dimakan. aku gak PD aja, klo liat tepung roti masih terang benderang (ngeles...)
Malemnya, aku menggoreng kentang buat sambal goreng, tapi di bawah pengawasan supervisor, yaitu adik iparku. Yah si Kakak pertama dan adik pertama ini yang nurun kepinteran mertuaku memasak.
Alhamdulillah gorengan kentangku gak dikomplen.

Hari kedua di Lampung alias hari terakhir puasa mulai deh itu mengisi ketupat, mempersiapkan kuah kari ayam.  Pagi pagi dah kebagian meres santan, trus memisahkan antara santan kental dan santan encer.
Aku diorder untuk mengaduk si kuah agar tidak pecah. Ah... lumayan pegel juga ya..
entah berapa kg ayam dan entah panci berapa liter tuh, yang dipake masak. Dikau bayangkan aja untuk pasangan 100 ketupat. (yang ini aku bisa ngitung).
Tapi jadi dapet ilmunya - padahal taun kemaren aku jg yang ngaduk yah...
Sementara adikku mengisi ketupat, merebusnya dan Mama memasak rendang dll.
Dan dengan sukses, sore itu aku menggoreng bakwan alias bala bala untuk buka puasa, trus abis maghrib udah bisa ngicip ngicip itu ketupat, kari dan rendang lengkap dengan sambalnya.
 
Malamnya Faiz dah gak bisa tidur karena bunyi dar dor suara kembang api. kami kebagian tidur di atas. Klo dari atas, suara kembang api terdengar jelas, klo dari bawah, suaranya kesaru sama suara kendaraan.
Jadi setiap Faiz di ajak ke kamar, lalu dengar kembang api, maka dia nangis, "yun aja, yun aja" (turun aja, turun aja). Sampai pegel juga nih kaki, naek turun.

(Wah ni postingan kayaknya bakal panjang banget yah.. kupotong aja deh, takutnya pas di save- internet tiba tiba mati. capekdeh...)

Senin, 09 Agustus 2010

Munggahan

Tradisi munggahan mungkin cuma ada di sini, karena sudah beberapa kota dan beberapa pulau aku tinggali, baru di sini kerasa sekali nuansa itu.
Munggahan adalah acara kumpul kumpul, biasanya disertai makan bareng, menjelang datangnya ramadhan.
Ada sisi positipnya jg siy,jk itu dijadikan sarana buat ishlah-memperbaiki hubungan, saling melapangkan dada maupun saling bermaafan,biar puasa nanti ngga ada lagi ganjalan rasa.

Entah karena itu ato karena emang udah jatuh tempo musti pergi bareng,  eh si Abi ngajak keluarga makan di luar, full tim. Awalnya seperti gak sengaja, dari pagi2 si Abi ngajak Faiz potong rambut, ini udah ajakan kedua kalinya. MInggu lalu pas udah siap duduk di kursi, dan di depan cermin, udah dipakein koran buat nahan rambut, eh, pas liat gunting di belakang kepalanya, tiba tiba Faiz berdiri, dan lari .. ndak ndak ndak.... atuuut...
(Dia takut liat gunting).
Nah, pagi itu Faiz teriak "aco... aco" (bakso).
"iya" kata abi," kalau mau bakso kepalanya digundulin dulu seperti bakso".

Eh, ajaib, walaupun cukurnya dengan berbagai teknik dan gaya,  akhirnya acara penggundulan berakhir sukses.
Daaan seluruh pasukan F pun ngebakso di Kepala Sapi Ujungberung.

Berhubung pengambilan gambar dicemberutin ama komandan, jadi acara jalan bareng ga ada foto yang di upload.
Cukup ini saja ya.. logonya si Bakso Kepala Sapi


Walaupun demikian, tetap bersyukurlah, bisa pergi semua... soalnya sussyyaaah banget cari irisan waktunya.

Selasa, 11 Mei 2010

Jalan Bareng : Melihat Pameran Pedang Nabi

Ternyata, punya anak teenagers bukan semakin mudah ya.. tapi semakin banyak tantangan. Membuat mereka 'stay tune' ama kita, ama rumah dan merasa nyaman selalu. Dah beberapa bulan ini kami selalu merutinkan untuk jalan bareng sama anak-anak. Yaah, sejak si Abi kuliah, dan nambah kesibukan di kantor, sering sabtu - ahad bukan cuma Ummi yang pergi, Abi juga ke kantor atau kuliah.

Bulan Mei ini kebetulan ada Pameran Pedang Nabi di Pusdai. Sebenernya pameran ini sudah berlangsung dari 9 April. Tapi nyadar-nyadar klo pameran ini perlu di kunjungi ya pas akhir April. Akhirnya setelah menjadwal, kami - aku dan suami - sepakat tanggal 8 Mei.
"Khawatir ramai, Bi.." kataku
"halah, palingan sepi " jawab suami yakin.

Menjelang  hari yang disepakati itu, aku dah dagdigdug aja, karena ternyata si Abi harus ke kantor. aku juga ada janjian sama ibu-ibu pengajian jam 12. Waah, mepet banget. Jadinya sepakat acara di mundurin tanggal 9 Mei, jam 9 teng. (benar - benar hari terakhir).

Dari beberapa hari sebelumnya aku udah promosi ke anak-anak, ayo - ayo kita mau melihat pedang Nabi. (meski belum kebayang olehku). Yang dibawa dari Musium Topkapi di Turki. (jauhnyaaa)
Besoknya aku dan anak-anak siap pas jam 9. Tapi ups, kenapa si Abi cemberut yaks. Haloooo ada yang salah ?? tapi daripada acara batal, aku tahan untuk tidak menanyakan kenapa si Abi cemberut. (sakit gigi kali...)
Kami berenam naik motor beriringan. Abi sama Teteh dan Mbak, Aku sama Fikri dan Ayuk. Sampai di Pusdai, masya Allaaah.... ternyata antrian sudah demikian panjang dan mengular. Bayangkan, antrian itu udah penuh dari ujung ke ujung plaza.

Setelah beli tiket, kami ikut mengantri untuk melihat Pedang Nabi. (ah ya, cemberut udah pergi dari wajah Abi). Dari jam setengah sepuluhan mengantri, akhirnya jam 11 baru sampai ruang pameran. Dan kami cuma dapat waktu palingan 20-an menitlah.
10 menit pertama, pengantar dari Panitia Pameran, Nonton film tentang Shalahudin Al Ayubi, karena beliaulah yang berinisiatif untuk mengumpulkan berbagai replika peninggalan Rasul SAW.
Setelah film selesai baru masuk ruang pameran. Ternyata Pedang pedang yang di pamerkan bukan pedang yang dipakai untuk  berperang. Jadi hanya pedang-pedang hadiah, atau pemberian. Ada juga sandal kiri Rasulullah, Tongkat Nabi Musa, Tongkat Nabi Muhammad, dan sebagai tambahan ada Mushaf Sundawi. Tapi asa belum puas, udah di suruh keluar lagiii.
Ya deh, untuk mengobati kekecewaan karena menikmati pedangnya tidak sesuai dengan antriannya, akhirnya kami para cewek berfoto ria... tadaaaaa..........