Tampilkan postingan dengan label belajarzerowaste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajarzerowaste. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Oktober 2024

Kelas Belajar Zero Waste


Empat bulan ke belakang aku baru saja mengikuti kelas belajar zerowaste angkatan 14. Kelas yang padat merayap ini memberikan pondasi untuk menjadi seorang praktisi zerowaste. Aku sendiri mengikuti kelas ini bagaikan mendapat rezeki nomplok. Melihat iklannya tanpa sengaja di IGS seorang teman, kemudian aku klik tautan pendaftaran. Pendaftarnya sangat banyak. Langsung terpenuhi dalam waktu 6 jam 55 menit 32 detik (sumber:IG @belajarzerowaste_id)

Beberapa hari kemudian, diumumkanlah siapa siapa yang boleh mengikuti kelas tersebut. Ada sekitar 500 peserta yang mendaftar. Dari jumlah tersebut sekitar 300an orang yang lolos dalam seleksi. alhamdulillah namaku salah satunya.  Saat itulah aku baru tahu kalau banyak sekali yang berminat menjadi calon peserta BZW.  Bismillah aku harus komitmen selama 4 bulan, belajar tiap pekan sekaligus mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.


Opening Ceremony kelas dilangsungkan secara daring pada tanggal 29 Juni 2024. Di dalam kelas BZW ini sebenarnya dibagi lagi menjadi 4 tahapan. Di setiap tahapan, akan diseleksi lagi siapa yang lanjut berjalan dan siapa yang tinggal. Tahapan-tahapannya yaitu :

  • Kelas pengantar
  • Kelas bertumbuh
  • Kelas Bergiat
  • Kelas Berdaya


Kelas Pengantar

Pada tahap ini peserta baru diberikan materi teknis. Karena belajarnya daring melalui GCR/Google Class Room. Materinya meliputi :

1. Teknik memakai GCR oleh Kak Nurul Aulia dan kak Kasuma. 

2. Adab menuntut ilmu oleh Meirna F dan Niki Fadjar

3. Berbagi di media sosial oleh Kang Kuswan dan Kak Dhani Andhika. Kala itu kita belajar teknik foto, teknik pengambilan gambar di foto/vieo serta  pengenalan aplikasi capcut secara cepat untuk dibagikan di media sosial.


Kelas Bertumbuh

1. Mindset Belajar Zero Waste oleh  Lenti Nucifera dan kak Ana

2. Evaluasi Konsumsi Keluarga oleh Rachma DO Amelia dan Hena Christina

3. Cegah Sisa Konsumsi oleh Legis Novianty dan Noor Sofiah

4. Pilah Sisa Konsumsi oleh Anisah Helmy dan dIan Pratiwi


Kelas Bergiat

1. Olah sisa konsumsi organik oleh teh Lita Eliana dan Defi Pransiska

2. Olah sisa konsumsi anorganik oleh Kak Yenni Merdeka dan Ida Sani

3. Pengelolaan limbah B3 dan Medis Skala rumah tangga oleh Anisah Nuraini dan Iis Istianah

4. Jejak Karbon, Air dan Listrik oleh Widia Anggia V dan Ilma Amalia


Kelas Berdaya

1. DIY Pembersih Alami oleh Nurza Dwi dan Iah Syariah

2. Ketahanan pangan (berkebun) oleh Aang Hudaya dan Tri Damayanti

3. Mengelola makanan homemade oleh Suciana Widi dan Kartika Eka

4. Zerowaste Event oleh Nurie Lubis dan Dea Fadhilah. Untuk tugas materi ini dapat dibaca lagi Kopdar Kelas B BZW#14 dan Sharing Zerowaste Journey

5. Pelopor dan personal branding oleh Oeliva Iswandi dan Nia Metyana

6. Public Speaking oleh Dhea hajaru dan Tita Dewangga


Demikian 4 tahapan di kelas BZW yang aku rangkum dari akun instagram @Belajarzerowaste_id. 

Bukan hal yang mudah bisa lolos di 4 tahapan. Karena sampai detik ini pun masih terus berjuang menjadi pembelajar dan pelaku gaya hidup minim sampah/zerowaste.

Oh iya semua materi di atas, kalau ada penugasan, sifatnya individal. Dan selama4 bulan itu stamina perlu di jaga terus. Bayangin deh misal hari Senin malam itu materi, selasa pagi jam 7ada kuis, nanti sabtu sudah harus mengumpulkan tugas yang berupa tautan postingan kita di media sosial.


Nah gimana, kamu siap untuk ikut kelas ini?  


Senin, 30 September 2024

Kopdar Kelas B BZW#14 dan Sharing Zerowaste Journey

Here I Am


Iya ini kami, Alhamdulillah jadi juga ketemuan hari ini. Jam 9 pagi di Taman Ganesha ITB. Dari semalam udah pada konfirmasi. Ada beberapa yang berhalangan, yaitu Teh Yuli ternyata ayahnya operasi dan harus mudik. Terus teh Uva anak-anak sedang kurang sehat jadi nggak bisa bepergian jauh. Oke dari 12 izin 2 jadi tinggal sepuluh. Terus paginya teh Hesti Johan juga izin, belum memungkinkan untuk pergi. Tapi alhamdulillah ada masuk teh Najla.  Jadi masih bersepuluh.

Perkenalan

Jam 9 teng udah di lokasi. Masih cari-carian. Tapi alhamdulilah datangnya hampir berbarengan. Aku datang udah ada teh Alvi, teh Elsa, teh Rizka, teh Linda dan teh Meta. Cari cari lokasi akhirnya mepet ke bundaran dekat tulisan Taman Ganesha. Soalnya di situ jalannya buntu jadi jarang orang lalu lalang. 

Setelah duduk dan berkumpul, hingga pukul 9.10 baru berenam itu. Kita pun berdiskusi, kasih toleransi hingga pukul 9.15 kita mulai acaranya. Acara jadi dipandu oleh teh Linda yang masya allah kocak, bisa menghidupkan suasana. Setelah dibuka lalu perkenalan singkat. 
  • Mak Linda panggilan Mak Ling, tinggal di Cijerah Cimahi (Pharmindo)
  • teh Mehta tinggal di Cisangkan Cimahi
  • teh Alvi tinggal di Sumbersari
  • teh Elsa tinggal di Tani Mulya, Ngamprah
  • teh Rizka tinggal di Cimahi
  • Aku, di Ujungberung.
Biar inget Mak Ling mengajak semua main game sebut nama orang lain dan asalnya. Karena masih dikit ya hapal aja. Kemudian sharingpun di mulai. Kami hompimpah buat menentukan urutan.
Setelah itu menyusul teh Aghni dan teh Putri datang. 

Sharing Session

1. Rizka

Masih muda belia, baru lulus dari DKV UPI tahun 2023 lalu. Mengenal zerowaste sejak melakukan penelitian tentang ZW untuk pengerjaan skripsinya. Mulai dari membaca buku-buku yang membahas tentang ZW hingga buku anak-anak. Karena teh Rizka ini membuat karya untuk adik adik tuli berupa buku ZW. lihat deh foto di bawah ini. Satu kata untuk BZW : Chalenging

2. Elsa

Teh Elsa sudah cukup lama mengenal ZW. Bahkan udah lama juga bikin ecobrick. Tapi karena nggak tahu buat apa, sesuai lingkungan masyarakat sekitar, akhirnya sampahnya dibakar lagi, dibakar lagi. Syukurlah sekarang sudah pindah ke Tani Mulya, di rumah sendiri. Jadi lebih mudah menerapkan ZW. Satu kata untuk BZW : Seru

3. Mehta

Teh Mehta ini dari Cimahi ke Taman Ganesha dengan naik sepeda. Wow keren banget. Mengenal ZW karena awalnya dari frugal living. Jarang jajan lebih sering memasak. Merasa bersalah jajan minuman minimarket. Karena minuman itu merupakan mood booster buat dia. Satu kata untuk BZW : Membumi

4. Teh Linda

Teh Linda udah malang melintang di dunia BZW. Beliau trainer juga di YPBB. Punya produk deodorant. Tapi nggak dibawa. Selain itu itu juga aktif di bank sampah. Satu kata untuk BZW : Enjoy

5. Teh Alvi

Mengenal ZW sudah cukup lama juga. Cuman ya on off gitu. Penasaran ikut kelas BZW sampai DM mimin di instagram. Wow semangat banget. Tergerak bener bener adalah ketika TPA Sarimukti terbakar, benar benar aroma sampah itu menguar di sekitar tempat tinggalnya. Dari situ baru ikut aksi ZW . Satu kata untuk BZW:Santai

5. Teh Aghni

Seorang anak mudah yang aktif. Datang dengan kaki ditopang alat-alat medis pasca operasi karena ototnya ada yang putus saat hiking. Seorang perawat di RS AL Ihsan ini juga pecinta alam. Keren banget sih ya. .anak mudah udah punya prinsip zerowaste. Jadi kalau mau naik gunung dihitung dulu bawaan biar gak ada foodloss atau foodwaste. Terus turunnya sambil clean up sepanjang jalan. wow keren. Satu kata untuk BZW : Mudah

6. Teh Putri

Seorang Ibu dari dua putra putri ini dulunya pernah mengajar di Sekolah Alam Bandung. Mengenal ZW ya dari sekolah alam yang sudah menerapkan gaya hidup minim sampah buat guru serta anak-anaknya. Kemudian setelah menikah dan punya anak-anak sendiri baru mulai menerapkan di rumah juga sekaligus sebagai bahan pembelajaran anak-anak. Satu kata  untuk bzw : Seru

Setelah semua yang hadir sharing perjalanan zerowaste nya.. acara ditutup dengan makan bersama, alias botram. Sesuai tema kita, event minim sampah, maka di sini terlihat ya semua makanan yang di bawa adalah makanan beneran, bukan makanan pabrikan/produk. 
Setelah acara sedianya akan ada trash audit. tetapi karena waktu sudah siang dan beberapa akan lanjut acara lain jadi trash auditnya di rumah.
Teh Alvi - ada kulit ubi (8gr) dan kemasan (3gr)
Teh Elsa - 2 kemasan susu (11gr)
Yang lain belum ada setoran trash auditnya.

Tapi dari dua itu aja.. bener bener minim sampah kan ya.. udah gitu sampahnya juga dibawa pulang masing-masing untuk proses selanjutnya sesuai diajarkan di kelas BZW. 




 

Minggu, 29 September 2024

Persiapan Acara Sharing Zero Waste Journey

Sharing Zerowaste Journey

Perjalanan mengikuti kelas Belajar Zerowaste mengantarkan aku pada lingkaran pertemanan baru. Apa pasal? Bila tugas-tugas sebelumnya lebih ke tugas inidividu, di tugas ke-11 ini kami diminta merancang sebuah acara yang minim sampah. Tentunya ini tidak dapat dilakukan sendirian.

Akupun mulai berpikir dan menimbang-nimbang, ke mana gerangan aku akan melabuhkan harapan, eh salah maksudnya akan membuat acara ini. Awalnya kepikiran mau sosialisasi tentang gaya hidup minim sampah kepada komunitas ibu-ibu pengajian. Bisalah kali diatur di salah satu sesi ada aku yang bicara.

Belum sempat aku bikin woro-woro di grup kajian, eh ada ajakan dari teh Elsa untuk bergabung membuat event di Bandung. Tentu aku menyambut gembira penawaran tersebut. Ya hitung-hitung sebagai pemanasan, bagaimana nanti mengelola pertemuan dengan orang-orang baru di dunia zerowaste, maka sekarang belajar dulu dengan orang-orang zerowaste. sekaligus praktek ilmu ya..

Ketika aku dimasukkan ke dalam grup whats app, di sana telah ada 10 orang anggota. Yaitu : teh Alvi, teh Elsa sebagai inovator acara, teh Hesti, teh Rizka, teh Linda aka Makling, teh Putri, teh Aghnia, teh Najla, teh Mehta, teh Yuli dan Teh Ulva. Mereka rumahnya jauh jauh lho, beberapa dari Cimahi, ada yang dari Bojongsoang juga, bahkan teh Ulva dari Subang.

Dari obrolan di grup, sudah disepakati bahwa acara akan diselenggarakan pada tanggal 29 September 2024 hari Ahad di taman Ganesha Bandung. Target peserta adalah anggota kelas B yang tinggal di Bandung Raya. Rancangan acara nanti adalah kopdar, tukar barang, dan botram. Aku manut untuk pemilihan waktunya. Karena ngejar jam tayang tugas juga, nanti tanggal 6 Oktober.

Secara garis besar aku setuju dengan konsep acaranya, aku juga mengusulkan agar ada sesi berkenalan terlebih dahulu, karena kita semua belum ada yang saling kenal maupun saling bertemu sebelumnya. Jadi memang murni baru berinteraksi dalam kelas saja alias secara online melalui percakapan WhatsApp. Itupun jarang yang tek tokan saling menjawab. Lebih sering tanya jawab dengan teteh-teteh Fasil.

Kemudian aku juga menanyakan tentang konsep botram nya bagaimana. Apakah setiap orang membawa bekal masing-masing atau setiap orang membawa menu yang berbeda untuk semua peserta. Jawaban dari teh Elsa adalah kita bawa bekal masing-masing kemudian dipersilakan bila akan ada yang membawa hidangan untuk semuanya. Oke fiks ya..

Mengingat akan ada anak-anak, maka ada yang mengusulkan untuk membuat sesi games untuk anak. Namun setelah di data, dari 12 peserta BZW yang akan hadir, anak-anak baru berjumlah 5 anak usia 3 tahun ke atas, dan 3 anak usia tiga tahun ke bawah. Untuk games anak belum disepakati. Belum disepakati juga nanti yang pegang anak siapa selagi sharing berlangsung.

Lalu sesi berkenalannya bagaimana secara detail? Kalau usulan dari teh Linda awalnya kenalan dulu singkat, nama asal dan aktivitas. Baru setelah kenalan, nanti ada sharing perjalanan kita dengan BZW/ gaya hidup minim sampah. Mungkin sejak kapan, dengan siapa, bagaimana… nanti kalau di lokasi dapat ditanyakan langsung baik oleh peserta lain maupun oleh moderator.

Untuk dokumentasi acara tadi telah disepakati bahwa semua dokumen dalam bentuk digital. nanti yang akan menyimpan hasil foto-foto dari semua peserta adalah teh Aghnia. Beliau yang akan membuat drive untuk mengunggah. Semua peserta sepakat soal ini.. Karena meskipun sumber datanya sama tetap nantinya ada beda penyajian satu persatu.

Diskusi pun menjadi alot ketika telah membahas tentang sesi clean up atau bebersih taman. Sebagian peserta menanyakan tentang waktunya apakah masih tersedia karena target waktu pertemuan hanya dua jam. Kemudian pertimbangan lain adalah bagaimana nasib sampah yang telah kita kumpulkan. Apakah akan dibawa oleh salah seorang peserta kopdar atau bagaimana. Hingga jelang rapat onlilne berakhir diskusi ini belum ada solusi. Akhirnya mengingat waktu yang cukup pendek, peserta rapat sepakat bahwa acara clean up untuk sekarang belum dulu. Pertemuan ini fokus pada kondisi kita, masih banyak yang belum saling kenal.

Ada satu lagi sebenarnya acara ruang berbagi. Yaitu barter atau bertukar barang hasil declutering. Sebenarnya semua sepakat ada sesi ini. Tapi hingga H-1 nggak ada yang mengunggah barang dan nggak ada juga yang mau / butuh barang. Aku bilang ada dua kaos baru warna merah dan kuning, gak ada yang bersedia adopsi juga jadi ya .. ruang berbaginya berlalu begitu saja.

Penasaran banget kan ya.. sama jalannya acara nanti gimana..


Senin, 26 Agustus 2024

Kreasi dari Bungkus Santan Instan




Hai teman-teman cukup lama juga ya aku gak muncul di blog ini. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang yang aku lakukan untuk mengolah sisa konsumsi anorganik. Ini masih bagian dari tugas di kelas belajar zerowaste 2024. 

Yang aku mau buat ini adalah dompet koin dengan mempergunakan bahan-bahan yang biasa disebut orang sebagai 'barang bekas'. Kenapa? Karena sesuai dengan prinsip dalam  berzerowaste yang memiliki beberapa tingkatan yang orang mengenal dengan istilah 3R yaitu Reduce, Re-use dan Recycle. 

Yang mau aku buat ini bisa masuk kategori reuse / guna ulang. Aku menggunakan kembali wadah santan yang seharusnya sudah dibuang, sekaligus merecycle/mengolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Yuk kita mulai ..

Alat dan bahan yang dibutuhkan:

1. Kain perca, atau kain sisa yang ada di rumah. Bisa juga memakai kain bekas yang masih cukup bagus atau cukup kuat. Kebetulan aku dapat kain perca dari penjahit dekat rumah. Oh iya teman - teman juga dapat mempergunakan potongan kain dari misal celana yang kepanjangan, atau gamis yang terlalu panjang. kain apapun itu, diusahakan bukan beli kain baru.

2. benang dan jarum jahit. aku sengaja menggunakan jarum jahit tangan, selain karena barangnya kecil,  juga untuk menghemat pemakaian listrik.

3. kancing, aku pakai kancing bekas yang dilepas dari baju usang yang sudah mau dibuang. bisa juga pakai kain velcro.

4. wadah santan instan yang sudah dicuci dan dikeringkan. Sebenarnya kalian juga bisa menggunakan  wadah susu cair yang 200ml bila menginginkan dompet yang lebih besar. Jadi fleksibel saja sesuai ukuran kain yang ada.

5. gunting dan mistar


Cara membuatnya :

1. Tumpuk/lipat kain menjadi dua lapis, dengan sisi bagus ada di dalam. Kemudian potong sesuai ukuran wadah santan. Sisakan space untuk jahitan sekitar 0,5 - 1cm. Potong juga yang untuk calon tutup berbentuk segitiga seperti pada gambar di atas.



2. Jahit sisi-sisinya seperti tampak pada gambar 3, sisakan sisi yang ada garis kuning. Setelah itu balik sehingga sisi jahitan ada di bagian dalam.  

3. Masukkan wadah santan ke dalam kantong kain yang dijahit tadi, kemudian rapikan bagian mulutnya. Lipat ke dalam bagian kain yang tersisa di mulut wadah santan, lalu dijahit sekeliling dengan tusuk feston. Bisa juga dilem menggunakan lem tembak/lem kayu.



4. Rapikan juga potongan untuk tutup yang berbentuk segi tiga, lalu sambungkan dengan bagian wadahnya. Buatlah seperti bentuk wadah santan saat awal kita beli. Jangan lupa pasang kancing / velcro sebagai pengaman dompet yang akan kita buat ini.

5. Nah dompet dari kain perca dan sisa konsumsi anorganikpun siap dipergunakan sebagai dompet koin atau dompet asesoris yang kecil-kecil lainnya.

Bagaimana, cantik dan fungsional kaan? Apakah kamu tertarik untuk mencobanya?