Tampilkan postingan dengan label serius gak serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serius gak serius. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2024

April Mop!

Hello, April!

Hello April! 

Tanggal 1 April dikenal oleh banyak orang sebagai April Mop!

Masih musim gitu? Sebuah kebiasaan tahunan semacam ngerjain teman atau ngagetin teman yang dilakukan di tanggal 1 April. Bahasa gaul sekarang mungkin nge-prank kali ya? Kamu mau ngeprank temen kamu? Atau sebaliknya, kamu mau jadi korban prank? yang terakhir ini pasti gak ada yang mau ya...

Syukurlah ya, kalau aku tanya anak-anak sih circle mereka sudah nggak lagi melakukan itu. Ya mungkin memang udah pada sadar, nggak ada manfaatnya ngerjain temen semacam itu. Mending waktunya buat ngerjain hal yang lebih bermanfaat. Ngerjain temen gitu kan juga bisa merusak hubungan pertemanan mereka sendiri. Selain itu juga kadang ada yang celaka dengan acara main-main sehingga berkurang kewaspadaan. 

Tadi sih waktu aku kepikiran April Mop ini semacam kejutan buatku yang dibuat oleh aku sendiri. Hehe. Tentunya yang terkait dengan dunia tulis menulis. Ini bukan semacam prank yang berkonotasi negatif ya.. Tetapi ini lebih ke kejutan positif. Apa itu ?

Jadi gini, aku tuh terbiasa banget untuk mengerjakan segala sesuatunya di injury time. Gak tau ya, kayaknya kalau masih agak lama itu ide susah banget untuk keluar. Jadi mau nulis itu ya maju mundur nggak tau nulis apa.

Dan akhirnya tergelincir juga. BUlan lalu aku tu sebenernya nulis 10 tulisan.. ternyata pada di postingan ke sembilan, aku lupa laporan dong.. Monangis banget. Mana bulan lalu tuh kalendernya hanya sampai tanggal 28 kan.. Jadi nggak bisa nambah lagi. Padahal itu udah pas banget 10. Dan aku nyadar bahwa laporan belum dikirim, ketika aku mau ngirim tulisan ke10 di tanggal 28 dini hari. Yaaah.. tarik nafar dalam-dalam.  Rupanya aku harus belajar merelakan bahwa memang ini harus aku terima. Ini adalah karena keteledoranku sendiri.

Alhamdulillah di bulan Maret ini aku berhasil menyelesaikan 10 tulisan. Udah pakai trik trik nulis jelang tengah malam, sekalian dua tulisan. Satu untuk hari ini, satu untuk besok. Tentunya kejadian bulan Februari sama sekali nggak aku inginkan. Makanya sekarang aku mulai nulis di tanggal 1, biar nggak buru-buru., So... kalian boleh bilang April MOP.

Kamis, 28 Maret 2024

Berbagi

Bulan Ramadhan identik dengan bulan berbagi. Orang-orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Berbagi di bulan Ramadhan juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW. 

Selain berbagi secara perseorangan, saat ini juga banyak komunitas-komunitas berbagi yang idenya masya Allah sangat kreatif. Seneng rasanya kalau kebaikan digaungkan oleh banyak orang. Harapannya kebaikan-kebaikan itu mendominasi dan tidak menyisakan ruang untuk kemaksiatan.

Ada beberapa cara berbagi yang mungkin beberapa diantaranya sudah kamu lihat di sekeliling rumah. 

1. Berbagi Makanan

Ini sepertinya yang paling banyak dilakukan orang. Ada yang namanya berbagi takjil, ada sahur on the street, ada lagi apa. tergantung panitia memberikan nama. Mungkin itu dalam skala yang agak lumayan besar dan berupa komunal.  Tetapi dalam versi low budget, berbagi makanan ini juga dapat dilakukan kepada tetangga sekitar, atau teman sekitar. Misal kita masak kolak sepanci, semangkok diantar ke tetangga. Misal kita beli buah sekilo, sebagian dibagi ke teman. Kurasa bukan soal berapa banyak kita memberi ya.. tetapi bagaimana hati kita tersentuh dalam kondisi lapar puasa, kemudian langsung action satu kebaikan.

2. Berbagi barang bekas

Barang bekas ini dapat berupa pakaian, mainan anak, buku-buku, sepatu, dll. Tanpa kita sadari, dalam setahun tumpukan pakaian sudah meninggi, dan rak sepatu sudah nggak muat lagi. Ada teman yang setiap tahun selalu mengadakan bazar barang bekas seperti ini. Kemudian uang hasil penjualannya, dibagikn lagi ke masyarakat dalam bentuk Cinambo.  

3. Berbagi Hampers

Ini buat kalian yang punya budget untuk berbagi ya.. Hampers ini nggak harus mahal menurutku. Tapi bagaimana kalian memberikan sentuhan pribadi di barang / makanan yang kalian bagikan ke teman-teman itu. Bisa kita belanja ke teman kita yang sedang merintis bisnis UMKM. 

4. Berbagi alat ibadah

Berbagi alat ibadah ini dapat dilakukan dengan budget rendah maupun budget tinggi tergantung kamu mau mengusahakan yang mana.Bisa berbagi sendiri, misal mukena beli satu keluar /disumbangkan satu. Berbagi al quran secara rombongan melaui program wakaf sejuta al Qur;an, Serahkan syaamil quran yang mendistribusikan.

5.   Berbagi waktu dan tenaga

Kalau kamu hanya bisa dalam titik ini, jangan merasa bersedih. Selain hal-hal di atas, berbagi waktu dan tenaga menurutku keren banget. Jarang-jarang lho..

Nah teman-teman penyinta kebaikan, buat kalian mana yang paling guwe bantet?

Selasa, 31 Desember 2013

Kisah Kasih Asisten Rumah Tangga

Ini bukan cerita tentang ART yang menjalin asmara ya.. tapi cerita tentang ART yang pernah menemani dan mengasuh anak-anakku.
Jadi aja ini semacam kaleidoskop ART gituuu...

Sewaktu kami tinggal di Kupang selama  hampir 5 tahun dan sampai lahir anak ketiga, tidak ada ART di rumah. Jadi pekerjaan rumah ya dikerjakan berdua aja sama Abi. Kalau Abi nyuci aku setrika. Kalau aku nyuci ya Abi yang setrika. Kadang Abi ya nyuci ya setrika ya ngepel, ya ngisi air hehehe...*istringelunjak*
Trus anak-anak gimana dooong kalau ditinggal kerja?

Pas Mbak Fathimah lahir, ada Ummi dan Cici  yang bersedia menjaga mbak Fathimah. Beliau berdua sepasang suami istri. Anak-anaknya dua orang dan menjadi murid pengajian Abi. Jadi pagi hari sebelum ngantor kami ke rumah beliau nganter mbak Fathimah, siang istirahat nengok ke rumah beliau, baru sore dibawa pulang. Meski punya bayi dan belum presensi sidik jari, aku gak bisa santai-santai istirahat siang. Karena waktu itu berlaku absen 4x. Jadi jam 12 istirahat tanda tangan dan maksimal jam 13.30 sudah harus kembali ke kantor /tanda tangan lagi. Makanya kalau yang nakal, pulangnya bukan jam 12, tapi jam 13 baru keluar, balik lagi menjelang jam pulang.
Kalau telat kembali setelah istirahat ? Ya telat/tlb. Jadi sehari bisa tlb/pc dua kali.
Tapi syukur juga aku ngalamin ini, sepuluh tahun kemudian pas di Bandung, dpt boss yang peduli banget masalah ini, udah enggak kaget. Karena aku sudah mengalami yang lebih dari itu.

Ketika Fikri lahir, Ummi dan Cici enggak sanggup menjaga dua anak. Alhamdulillah ada Nenek Khalid dan Kak Ida yang bersedia. Rumahnya lebih dekat dengan tempat tinggalku. Jadi pagi-pagi mbak Fathim dan Fikri: diboyong ke sana. Eh, Fikri aku bawa ngantor dulu ding, sampai 6 bulan ASI ekslusifnya. Baru setelah itu aku titipin di Nenek. Aku bawain masakan dan jajan-jajanan buat de krucils. Sufor juga nyimpen di rumah Nenek. Nenek Khalid ini baiiiik banget. Seringkali di akhir minggu kami dibikinkan kue-kue gitu. Favoritnya adalah bolu rasa jeruk, waktu itu aku belum tertarik baking, yang kuingat, rasa jeruk itu didapat dari sirup ABC aja, segimana dan bagaimananya aku gak perhatiin hehehe... Trus kalau lebaran dibikinin kuker dan baju baru. Pokoknya enggak itungan. Banyak utang budi sama Nenek Khalid ini.
Pas Fadhila lahir, Nenek Khalid sempat kebingungan bagaimana ini menjaga 3 anak. Fadhila kubawa ngantor sampai usia 6 bulan.
Trus Abi sudah mengajukan pindah ke Jawa. SK Abi keluar, aku menyusul mengajukan pindah juga.
Alhamdulillah waktu itu ada satu lagi anak gadis beliau yang baru keluar dari Pesantren Putri Padang Panjang dan sedang melamar  pekerjaan. Namanya Kak Aminah. Kak Aminah ini yang bersedia membantu menemani Fadhila, akhirnya Fadhila ikut juga ke rumah Nenek Khalid. Iramanya masih sama. Siang istirahat aku ke rumah Nenek. Sore nanti jemput. Jemputnya bukan di rumah, tapi di TPA/Taman Pendidikan Al Qur'an di masjid samping rumah. Karena kalau sore Kak Ida dan kak Aminah mengajar TPA. Kecuali Fadhila kecil yang kujemput di rumah Nenek. Demikian berlangsung selama Agustus-November tahun itu.

Nenek dan Kakek Khalid, pas pulang Haji 2007 mampir ke Bandung
'Cucu' kesayangan Nenek Khalid, sampai tangis-tangisan pas nganter ke bandara saat kami pindahan

Fadhila berumur hampir setahun saat kami pindah Bandung. Waktu itu Mbak Fathimah  sudah sekolah TK sampai siang. Inilah pertama kalinya kami punya ART di rumah.
ART pertama : Mbak Rini, lulusan SMA dari Jawa. Modelnya PP gitu, pagi datang, sore pulang.
Sebelum mulai bekerja, aku main dulu ke rumah kontrakannya. Dia ngontrak dekat kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di Bandung. Dekat rumah teman pengajianku juga.
Hari-hari pertama bekerja pakai celana pendek selutut. Lha aku aja sama pak suami gak boleh pakai celana pendek demi menjaga pandangan Fikri,,  ini ada gadis pakai celana pendek di rumah. Akhirnya kusediakan beberapa celana panjang untuk dipakainya. Alhamdulillah mba Rini gak keberatan.
Untuk memilih acara tivi, kami belikan tabloid bintang, dan kami lingkari acara-acara yang boleh ditonton bersama anak-anak. Kalau anak-anak tidur, terserah mbak Rini mau nonton apa.
Pekerjaan utama menjaga anak dan setrika. Masak dan nyuci sudah kukerjakan sebelum mba Rini datang. Bebersih rumah Abi yang melakukan.
Sayang, mbak Rini kerja hanya dua minggu saja. Dua minggu ?
Umminya galak ya.... kebanyakan peraturan kalii... gajinya kecil pulak.
Hahaha... enggaklaah... insya Allah. Mba Rini pamit baik-baik karena dia diterima kerja di pabrik tekstil. Jadi dia kerja di rumahku iseng-iseng aja nunggu jawaban lamaran kerja. Ya sudah deh belum rejeki. Padahal enak lho ngobrol sama mbak Rini. Yaeyalah... anak sma gitu lho...
Beberapa waktu kemudian pas ketemu lagi aku pangling karena mbak Rini sudah berkerudung cantik.

ART kedua Bi Erna
Usianya sudah setengah tua. Aku tidak ke rumah beliau dulu karena kami sudah kenal sering ketemu di warung ketika belanja.
Default pekerjaannya masih sama dengan Mbak Rini.
Paling sebulanan Bibi ini kerja, minta berhenti karena jam kerjanya terlalu panjang. Maunya yang nyuci setrika terus pulang gituuu... seperti ART pulang pergi pada umumnya. Yah.. bi, emang yang kami butuhkan teman anak-anak selama kami bekerja. Kalau kerjaan rumah mah udah biasa kami kerjakan bersama.
Ya sudah deeh.... kamipun merelakan bibi pindah.

Tidak lama kemudian, ada Bi Marie.
Alhamdulillah masa-masa mencari ART ini GPL alias gak pakai lama. Soalnya model ART pulang pergi ini banyak banget di komplekku. Kalau aku menyapu halaman pagi-pagi, pasti ketemu mereka berangkat kerja. Makanya pas aku perlu, nitip pesan aja sama yang lewat itu -para ART tetanggaku- untuk dicarikan.
Bi Marie bersama kami hampir dua tahunan.  Fikri sudah sekolah juga. Jadi kalau pagi bi Marie hanya berdua Fadhila. Pekerjaan mencuci aku delegasikan. Masak tetap aku yang mengerjakan. Kayaknya masih mendingan membiarkan anak main air daripada anak main dekat kompor..
Nah pas aku mau melahirkan anak ke empat, aku ambil cuti besar selama 3 bulan. Karena aku di rumah, dan tidak dapat tunjangan, maka aku bilang bi Marie kondisiku, aku tidak memungkinkan untuk membayar gajinya. Jadi Bibi Mari aku cutikan, dengan perjanjian kalau dapat kerjaan ya silakan bekerja di tempat lain. Gak balik ke aku gapapa. Tapi kalau mau kembali ya pintu rumah kami terbuka.
Kurang lebih sebulanan, bi Marie main ke rumah dan cerita sudah punya kerjaan. Aku ikut seneng juga, bi Marie enggak nganggur lagi.

Ketika cutiku hampir habis, tante sebelah menawarkan ART. Yang ditawarkan adalah ibu teh Entin-ART beliau. Namanya Bi Esih.
Yang mengejutkan adalah, Tante mensyaratkan Bi Esih pake kerudung untuk bekerja di rumahku. Padahal belum ada pembicaraan apapun antara aku dan bi Esih. Dan akupun enggak menjadikan itu sebagai syarat. Toh ketiga ART terdahulu juga aku gak pakai syarat itu. Tapi bi Esih ternyata menerima. Ya alhamdulillah...
Jadi kalau berangkat kerja Bibi pakai kerudung rapi. Kalau di rumah/pas libur ya kostumnya lain lagi.
Seperti ART terdahulu, aku main ke rumah bibi. Kenalan sama keluarganya, sama suaminya. Asalnya dari Kuningan tapi sudah menetap di Bandung. Suami ya punya toko di pasar.
Tahun-tahun pertama sama Bi Esih itu ibarat orang pacaran putus nyambung gitu. Kadang kesel. Tapi ya untunglah kalau malam Bibi pulang, jadi pas pagi datang lagi, aku udah ilang marahnya.
Misalnya : Bibi keukeuh membawa anak-anakku pulang ke rumahnya kalau siang hari. Tapi Bibi selalu berdalih "moal diculik, moal diciwitan". Gak akan diculik, gak akan dicubitin, tetap disayang.
Iyaaa... percaya. Justru saking sayangnya Bibi sama anak-anak, dan memberikan apa saja, dan mengijinkan nonton apapun di rumahnya itulah yang membuat kami khawatir. Rasa-rasanya seperti ada perebutan perhatian anak-anak dan inkonsistensi peraturan rumah gitu. Tapi ya alhamdulillah setiap malam Bibi pulang anak anak kembali pada kami dan tetap diingatkan dengan peraturan rumah, sebagai anak Abi dan Umi. Lama-kelamaan posisi Bibi itu seperti orang tua kami, gak bisa dibantah. Gemes ? Pecat aja sih ! *ups
Hahahaha.... *iya sekarang bisa ketawa*
Pernah... pernah aku mau day-care in siTeteh waktu itu. Udah survey sana sini, tapi ternyata si Tetehnya juga enggak bisa ditinggalin dan toh mikirnya bentar lagi juga sekolah. Ya udah deh, enggak jadi.
Pernah juga aku mau berhentikan Bibi pas lahiran Faiz. Dengan alasan aku gak bisa membayar gajinya. Eh ternyata Bibi cuma dua hari berhenti, habis itu tetap datang, katanya tetep mau ikut keluarga kami, enggak dibayar juga enggak papa. Drama banget enggak siih ???
Kenapa bisa gitu? Enggak dibayar gak papa. Dibayar nanti-nanti aja, maksudnya.
Tahukah saudara-saudara, Bibi itu bekerja bukannya butuh penghasilan. kayaknya ngisi waktu luang aja. Hasil pasar suaminya sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua. Jadi gaji bibi tiap bulan dibelikan perhiasan (*pinjem dong Bi... buat digadaiin, 4 bulaaan aja..... ) dan setelah terkumpul banyak, menjadi tanah dan sapi di kampung sana. Bibi tidak tertarik overtime kalau dia enggak mau.
Bibi ini baiiik banget sama anak-anak. Enggak pernah mau makan di rumahku, makanya siang selalu pulang dan makan di rumahnya.Katanya buat anak-anak aja. Dibawain oleh - oleh juga enggak mau, kecuali dianter ke rumahnya. Sekarang aja, setelah bibi ada cucu, aku bilang 'titip buat Eka', bibi enggak bisa nolak lagi.
Tiap habis gajian pasti beliin oleh-oleh buat anak-anak. tiap Senin/habis libur pasti mbawain kue buat anak-anak. Jangan tanya kalau habis mudik, pasti bawa beras dan sayuran untuk kami.
Dan yang paling jooss, kalau lebaran dikasih THR, trus ngasih lagi THE lagi ke anak-anakku. Bibi juga mbeliin baju buat anak-anak.  Dulu jamannya Firda, ya Firda yang dikasih. Sekarang jaman Faiz, ya Faiz yang banyak dikasih perhatian sama Bibi.
Dan kurasa Bibi pun perlahan tapi pasti banyak menyesuaikan dengan kebiasaan kami. Pasti dia juga banyak makan hatinya sama kami, namanya juga 7 orang. orang banyak ya banyak maunya.
Itulah sebabnya kami selalu menekankan pada anak-anak, hormatilah bibi sebagai pengganti orang tua selama ummi dan abi enggak ada di rumah. Harus nurut sama bibi. Kalau disuruh makan ya makan, kalau disuruh mandi ya mandi. Kalau keluar rumah pamit sama bibi.

Bi Esih bersama Eka dan Faiz

Dengan 10 tahun bi Esih bersama kami, rasanya aku sudah membuktikan satu anekdot yang ku dapat dari temen kantor :
"Yang membuat pembantu betah itu, kalau bukan karena majikannya yang baik banget, pasti karena dianya yang baik banget".

Senin, 06 Mei 2013

Warna Warni Kehidupan Berumah tangga

Seorang suami /istri merupakan  pasangan yang sudah Allah siapkan jauh jauh hari bersamaan dengan saat ditiupkannya ruh ke dalam janin seorang anak manusia, saat itu juga Allah menentukan rejeki dan ajalnya. Maka kadangkala sepasang anak manusia yang sudah 'jodoh' itu pasti akhirnya ketemu meski harus melalui perjalanan dan perjuangan yang berliku.

Aku ingat betul pas kanak - kanak dulu salah satu asisten ibuku -yang baru belajar membaca dan menulis setelah kerja di rumah kami-  sering meminta bantuanku menulis surat cinta. Entah berapa banyak nama yang telah menerima surat atau mengirim surat cinta padanya. Eh, ternyata oh ternyata yang 'berhasil' menyuntingnya adalah laki-laki yang baru seminggu dikenalnya, yang langsung datang menghadap orangtuanya serta memintanya dengan sikap ksatria. Sampai aku pulang kampung terakhir tahun 2005, pas mampir ke rumah si  Mbak, mereka hidup rukun dalam sebuah rumah tangga, dengan anak-anak yang menjelang dewasa.

Jadi enggak heran kalau jaman dahulu kala orang tua kita menikah melalui proses  perjodohan, yah itu hanya 'wasilah' atau jalan saja, sedangkan intinya adalah mereka memang telah ditakdirkan Allah untuk bertemu.  Demikian juga jalan yang banyak dipilih oleh aktivis dakwah kampus ketika mereka menikah melalui proses ta'aruf. Awalnya mereka diperkenalkan oleh ustadz-ustadzahnya. Perkenalan ini bukan sembarang kenalan layaknya teman, tapi memang sudah dipersiapkan matang dan kedua belah pihak sudah berkomitmen bahwa ini adalah  dalam rangka ikhtiar menuju pernikahan. Proses ini tidak selalu berjalan mulus. Kadang terjadi' setelah perkenalan ternyata kedua belah pihak atau salah satu pihak merasa tidak cocok. Jika kondisinya demikian,  yaa enggak jadi nikahlah. Ustadz dan ustadzah boleh dikata hanya merekomendasikan, yang kemudian dikenal dengan istilah "menikah tanpa pacaran atau pacaran ba'da nikah"
Kedua mempelai sepakat untuk membangun rumah tangga sekaligus membangun cinta diantara mereka.
Nah, apakah kemudian proses di rumah tangga sesimpel itu ? Tentu tidak. Orang yang sudah kenal lama sebelum menikah aja masih ada gesekan atau kesalahpahaman. Apalagi ini yang kenalnya baru sebentar. Cuma karena sejak awal sudah berkomitmen untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, dan dalam niat ibadah mencari ridho Allah, maka gesekan-gesekan itu bukan menjadi masalah, tetapi itu menjadi tantangan yang harus dicari solusinya.  Kadang seorang istri terkaget-kaget ternyata suaminya tukang  ngorok #eh, atau ternyata kalau bicara keras seperti marah-marah. Sebaliknya si suami juga terkaget-kaget ternyata istrinya sangat manja dan kebluknya minta ampun, mesti nyalain petasan buat ngebangunin, misalnya... udah gitu enggak bisa masak pulak. *nyumputdibalikcelemek
Dan lain sebagainya ya... masing masing pasangan pasti punya kejutan yang berbeda. Itu baru ngomongin yang teknis ya.. belum ngomongin sifat, pola komunikasi, emosi, dsb yang enggak kelihatan tapi dirasakan.

Maka, pas aku baca status Mbak Mining, kakak kelas di STAN dulu .. yang sekarang memilih menjadi dosen di Universitas Terbuka, kok rasanya paaaaaassss banget ya....
Semoga kejutannya yang baik baik saja ya... dan kitapun selalu dapat memberikan kejutan manis buat suami (dan anak-anak ) kita tentunya. :)

Sabtu, 27 April 2013

Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Hari - hari yang melelahkan.
Tumpukan pekerjaan demi pekerjaan di peak season kantorku ini benar benar membuat tubuh tuaku mengeluh.
Bahkan mau bangun dari tidur pun terasa badan tidak fit.
Maka akupun meregangkan tangan.
Daaan...... buk ! Auuuuuuwwww....
Seketika aku bangun dari tidur
Dan mendapati buku jariku telah mengelupas kulitnya, karena meninju tembok demikian keras.

Pas awal - awal kalau buat cuci piring /sayur perih.  Sampai sekarang, mungkin karena pas di lipatan jari ya... jadi dipake meregang-menggenggam gitu.. lukanya nggak kunjung sembuh. Trus sering kebentur bentur gelas kalau pas cuci piring, sering juga kegesrek pintu kalau pas ngeluarin motor.

luka setelah dua minggu, belum kunjung sembuh. 

Kamis, 18 April 2013

Edisi Homesick

Beberapa hari lalu aku posting ini di facebook :


Engak lama kemudian, Aini komen gitu ...
Yaah.  emang udah lama juga kali ya.. aku enggak mudik, padahal dekaaat lho.. cuma ke Cilacap. Emang di sana udah enggak ada Bapak dan Ibu, karena beliau berdua sudah tiada. Tinggal ada kakak pertama.
Bener kata suamiku, kalau bapak ibu nggak ada, tarikan untuk pulang kampung itu beda sekali kekuatannya.

Nah, ternyata oh ternyata mimpi itu berlanjut dooong... kalau pada mimpi di atas tidak tampak dengan jelas tempatnya di mana, kemarin mimpi lagi... to the point. Menyebut nama, menyebut tempat.
Jambe Lima, Jambe Pitu, tempat parkir, salim salim sama penjual yang di sana yang notabene teman-teman Bapak alm. Langsung kepengen nangis ajaaa...
FYI, Bapak terakhir tugas di Balai Konservasi Sumber Daya ALam di bawah DepHut, kira kira ngawasin kelestarian hutan gitu deeeh... salah satu wilayahnya adalah Gunung Selok. Jambe Lima dan Jambe Pitu adalah tempat wisata yang ada di Gunung Selok. Semua yang berjualan di lokasi tersebut bisa dipastikan mengenal Bapak. Pas aku salim salim itu, ternyata diantara para penjual itu juga sudah ada yang 'mewariskan' warungnya pada anak-anak merek a yang aku belum mengenalnya. :)

Dan dalam mimpiku kedua tempat itu sudah direnovasi, dengan jalan yang halus...bersih... hutan yang hijau... langit biru.. awan putih... pemandangan ke laut selatan sampai ke garis cakrawala dari sela sela pepohonan.
Ahaaayyyy
Takut dibilang hoaks aku bilang kampungku indah, seperti yang aku ceritakan di buku antologi tentang kampung halaman aku cari di google nemu gambar ini...


foto di dapat dari sini

Rabu, 27 Februari 2013

Anak Seorang Perantau Akhirnya Jadi Perantau

Bapakku asli Magelang. Ibuku asli  Temanggung. Bapak seorang PNS, Ibu seorang Guru. Kami semua tinggal di Pingit, Temanggung.
Tidak lama setelah lahir adik kelima,  Bapak dipindahtugaskan ke Cilacap. Kamipun akhirnya menetap Cilacap.

Semasa Lajang
Aku belajar merantau sejak SMEA. Waktu itu aku kos  berdelapan. Tiap hari kami bergantian menanak nasi dan membeli sayur / lauk karena ibu kos tidak menyediakan makan. Selain itu kami juga  mengatur jadwal mandi (kamar mandi ada dua dipakai 8 anak kos + 2 tuan rumah) dan jadwal mencuci pakaian, karena kalau semua mencuci, tali jemuran langsung penuh. Intinya, di dalam rumah kos itu, kami telah belajar bermasyarakat, saling menghormati dan bertenggang rasa.

Lulus SMEA aku masuk STAN. Kehidupan sebagai anak kos pun dilanjutkan. Aku bersama teman-teman  berkongsi  menyewa rumah. Selain lebih murah, kami juga belajar mengurus rumah. Maka jadwal piket pun dibuat. Siapa yang kebagian menyapu, siapa mengepel lantai, siapa memasak, siapa  mencuci piring, menyapu halaman, menggosok kamar mandi, dsb. Kami benar-benar belajar mandiri. Tapi kehidupan anak kos pastilah penuh warna. Misalnya ada yang mendadak ujian sehingga  tidak dapat menunaikan tugas sesuai jadwal, ada yang ingin belajar dalam diam, dan sebaliknya ada yang nggak bisa belajar kalau nggak sambil mendengarkan musik. Ada yang rajin merapikan, ada juga yang sembarangan.Di sinilah, lagi lagi kami harus belajar bertenggang rasa, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan sikap sepenanggungan sebagai satu 'keluarga' di perantauan.

Setelah Menikah
Selesai kuliah, tidak lama kemudian aku dilamar oleh seseorang. Desember 1996 kami menikah.
Suamiku ini ternyata seorang pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Ayah mertua asli Jawa, Ibu asli Palembang. Tinggal di Lampung. Suamiku lahir-besar di Lampung, kuliah  ikatan dinas di Jakarta dan penempatan pertama sebagai PNS di Kupang.
Maka perantauanku tahap berikutnya pun dimulai. Aku kali ini merantau karena ikut suami.


Aku dan anak-anak (baru F1-F3) di ruang tamu rumah Kupang
Selama lima tahun tinggal di Kupang, banyak sekali kejadian yang sungguh memperkaya lukisan kehidupanku. Namun satu hal yang membuat kami berduka, ketika di Kupang itulah Bapak dan Ibuku kembali ke pangkuan Allah. Saat itu armada penerbangan belum sebanyak sekarang. Tahun 1999 Ibuku wafat. Karena tidak dapat pesawat di hari yang sama, kami tidak dapat mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhir. 
Sedangkan Bapakku, wafat akhir tahun 2001, dua minggu sebelum kami pindah tugas ke Bandung. Memang saat itu sudah packing-packing, bahkan sebagian barang sudah dipaketkan, tapi tetap saja kami belum siap berangkat dua minggu lebih awal karena terkait dengan pekerjaan kantor baik suamiku maupun pekerjaanku. Belum lagi masalah biaya pindah. Tidak memungkinkan juga misalnya saat itu pulang ke Jawa terus balik lagi ke Kupang lalu pindahan. Mau tidak mau, kami kembali merelakan tidak dapat mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir.
Demikian juga setelah pindah ke Bandung, Ibu mertua meninggalpun kami tidak dapat menemui jenazah beliau. Waktu itu tahun 2003, satu satunya cara ke Lampung yang terjangkau buat kami adalah naik bis malam. Ibu wafat hari Ahad pagi , dimakamkan hari itu juga. Malamnya kami baru berangkat dari Bandung. 
Wafatnya ketiga orang tua kami inilah yang menjadi hal paling membekas selama di perantauan.

Hikmah Merantau
* Merantau itu menguatkan, melatih kemandirian, dan mendewasakan 
Merantau sejak remaja, alhamdulillah membuatku merasa siap ketika diajak suami merantau di Kupang.  Suka duka ditanggung berdua. Mengurus (sampai dengan) tiga anak balita, tanpa asisten rumah tangga. Kalau pagi semua berangkat, anak anak ke penitipan, Ummi dan Abi pergi ngantor. Malam anak anak tidur, Ummi dan Abi berbagi tugas rumah tangga cuci, setrika, ngepel, dsb. Ada masalah keluarga ? Dibicarakan berdua. Jauhnya kami dari keluarga besar, justru mendekatkan kami satu sama lain.
* Merantau itu menambah saudara. 
Ketika kita merantau, pengganti keluarga kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, yang dekat dengan kita. Ibaratnya minta gula, garam nggak mungkin telpon ke kakak atau ibu di kejauhan, tetep aja yang dimintai tolong pertama dan bisa datang cepat adalah tetangga dekat. Maka ketika merantau kita harus pandai pandai menjalin tali silaturrahim.
* Merantau memperkaya pengalaman
Bertemu lebih banyak orang, melihat lebih banyak budaya, mengunjungi lebih banyak daerah tidak akan menjadi sia-sia untuk kita.
* Merantau membuatku lebih arif terhadap alam
Contoh ketika di Kupang, air PAM mengalir 3 hari sekali. Yah, jadwalnya memang 3 hari sekali baru ngalir, sedangkan di rumah ada tiga balita. Kebayang kan seberapa cucian pritilannya ? Tapi disitulah justru kami jadi lebih dapat menghargai air dan memakainya sesuai keperluan saja.
* Merantau membuatku makin cinta Indonesia
Jawa, Sumatera, Bali, NTT baru itu sebagian keindahan Indonesia yang kulihat. Masing-masing mempunyai daya tarik yang tidak ada di daerah lain. Semua membuat rindu untuk didatangi kembali.

Sedikit Tips untuk perantau 
* Terimalah keadaan. Penerimaan akan membuat kita tenang. Kalau dalam diri kita ada sedikit saja penolakan, maka kita tidak akan betah di perantauan
* Berbagilah dengan yang dekat.  Entah itu suami atau sahabat. Kalau kita berbagi dengan yang jauh, misalnya orang tua, apalagi kalau keadaan kita 'tidak enak', pasti orang tua jadi khawatir. Bahkan aku ada temen yang ikut suami ke luar Jawa, eh, sama ibunya disuruh pulang ke Jawa, ninggalin suaminya di sono. Kalau suami diambil orang gimana coba #eh
* Bertanya kepada yang lebih dahulu tinggal di daerah tersebut, bagaimana trik-trik menghadapi kesulitan di perantauan. Pasti senior kita dengan senang hati akan membagi pengalamannya, bahkan tidak mustahil akan membantu kesulitan kita.
* Bersabar dan bersyukur.
* Banyakin minta doa dari kedua orang tua

 -----------------------------

NB*hihi.. mau diikutkan GA mbak Milati tp gak sempat ngedit, telat deeh...lumayan ah, buat postingan

Rabu, 20 Februari 2013

Thanks God, It's Friday

#Curhat

Pernahkah menjalani satu hari dengan masalah tantangan yang bertubi-tubi ?

Bangun tidur aku mendapat SMS, ada salah satu teman yang akan mengambil spanduk dan satu x-banner yang dia butuhkan untuk acara Sabtu jam 9 pagi. Sudah aku sampaikan sebelumnya ke teman itu, bahwa kedua benda tersebut masih berada di dua tempat yang berbeda. Bukan di rumahku. Awalnya aku tawarkan untuk mengantar di Sabtu pagi pagi sekali. Tapi teman itu keukeuh mau ambil hari ini. Supaya tenang. Besok udah siap semua. Okelah aku maklum, mungkin ybs sedikit nerves karena baru ini ngadain acara. Padahal kan timbang pasang spanduk sama x-banner itu nggak sampai setengah jam.
Ya udah, aku tanyalah, mau diambil jam berapa ? Jam 6 pagi, katanya. Sekalian suaminya ngantor, karena sore sering hujan.
Oke, daripada berkepanjangan,  kuusahakanlah ya... mengumpulkan kedua benda tersebut sebelum pukul 6 pagi.  Aku telpon teman yang nyimpen spanduk dan SMS ibu yang bikin x-banner. Mau diambil pagi pagi. Spanduk aku ambil sendiri, dan x-banner aku minta tukang ojeg langganan untuk mengambilnya. Setengah enam pagi aku ambil spanduk ke RW sebelah. 
Olala, baru saja aku tiba dari ambil spanduk, si teman sudah SMS, "mbak, maaf nggak jadi pagi ini diambilnya, nanti malam aja sekalian suami pulang kantor". Gubraks !
Masih bengong menatap SMS, si Mang Ojeg nelpon katanya rumah yang bikin X-banner kosong, diketok ketok gak ada yang mbukain. Pas aku telpon, ternyata si Ibu lagi ke pasar. Ya amppuuun, rasa-rasanya enggak ada guna yang kukerjain 'gethuprukan' sepagi ini.  Aku cuma bisa ngahuleung di teras depan, sampai sampai masakanku gosong.

Okelah, kupikir skip adegan ini. Namanya juga dinamika berorganisasi. Aku nggak mau orang orang merusak kebahagiaanku. Yang penting semua terkendali. Anak anak sarapan beli nasi kuning. Makan siang di kantin sekolah masing masing. Untuk si F5 yang makan siang di rumah pesan aja ke ibu warung sebelah.

Dalam perjalanan ke kantor, bu Teguh, salah satu pelanggan yang sejak Senin dah ngobrol mau beli paket Nabiku Idolaku secara cash, tiba tiba nge-bbm
"Mbak, bisa nggak ya bukunya hari ini sudah di rumahku, karena besok pagi pagi mau dibawa keluar kota"
Hmmmm...... tarik nafas panjaaangg.... lepaskan.
Dalam hati aku bilang, yaelah Bu, kenapa bukan dari kemaren sih bilang. 
Yaeyalah cuma dalam hati, masa' mau marah sama pelanggan ya... 
Cuma, kenapa harus hari ini dan pagi ini ? Seluruh kemampuan berfikir dan berimajinasi aku kerahkan. Jam berapa aku musti bertransaksi, dan bagaimana caranya agar kurir bisa mengantar hari ini juga. Padahal aku baru bisa keluar jam 2, karena aku hari ini kebagian piket istirahat. Akhirnya aku berkoordinasi dengan supervisor, alhamdulillah ada jalan keluar. Aku bisa mendapatkan paket itu di Pameran Ikapi dan membawanya pulang untuk diantar sendiri ke rumah pelanggan tadi, tinggal ijin sama Abi, aku pulang sendiri.
Masih di perjalanan,  si Abi bilang, bahwa doi hari ini nggantiin temennya piket sampai jam 8 malam, dan aku diminta pulang sendiri. Ya udah kebetulan, kataku. Karena aku mau antar buku.
Oke sementara semua terkendali.

Di kantor, tanggal 15, tentulah sudah mulai ramai itu para tamu yang mau lapor. Singkat kata aku bertugas seperti biasa. Untung untung untung, nggak ada tamu yang bikin bete (hihi.. kadang ada yang komen komen nggak jelas gitu dan tetap harus kujawab dengan senyum), alhamdulillah juga, mulai hari ini, SPT tahunan bukan counter sendiri, jadi lumayan lancaaarrr sampai jam 2 baru tiba waktu istirahatku. Tepatnya jam 2.15.
Aku shalat dan berfikir mau makan apa jam segini. Pasti warung favorit dekat kantor udah kehabisan persediaan. Biasanya aku bekal makan siang ke kantor, tapi karena kejadian pagi tadi itu aku nggak bisa bawa apa apa ke kantor.
Akhirnya aku makan mie rebus di sebrang kantor. SMS-an sama Tri katanya dia lagi di BEC. Aku mintalah dia datang ke warung tempat aku makan. Mungkin karena aku masih mikir macem macem itu, tumben tumben kata Tri aku kelihatan nggak semangat makan. Aku ceritainlah sama Tri, kejadian pagi ini dan PR-ku mengantar NBI. Tri menghiburku, bisalah..mbak Titi mengatasi....
Sambil ngobrol  sama Tri akhirnya makanku habis seiring habisnya jatah waktu istirahatku. dan aku kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.Tri pulang mau mampir beli coklat dulu buat proyek taman bacaan gratisnya.
FYI, aku nggak pernah jarang sekali pulang ke rumah lewat maghrib. Jadi 'bagaimana caranya agar si buku sampai ke rumah pelanggan nanti sore tanpa aku kemaleman di jalan' itu masih aku pikirin. Sangat aku pikirin tepatnya. Karena kan menyangkut banyak hal. Makan malam anak anak gimana, trus nanti bibi overtime gimana, bibiku soalnya pulang pergi setiap hari / enggak nginep. Mana kalau sore sering hujan. Okelah naik taksi, pikirku. Sementara mungkin ini penyelesaian terbaik. Naik taksi biar cepat pulang.

Maka, demi pelanggan dan demi tidak pulang kemaleman, aku putuskan untuk ijin pulang lebih cepat 30 menit. Kena potong gaji ? Pasti. Tapi masih ketutuplah sama komisi Nabiku Idolaku / NBI, hitungku.
Aku segera ke pameran Ikapi di Jalan Braga. Bertransaksi secara cepat dan segera mencari taksi. Woi, ternyata paket NBI berat sekali. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Alhamdulillah ada pak Ikhsan dari Mizan yang baik hati nganterin eh mbawain buku ke pinggir jalan dan menungguiku sampai dapat taksi. Masya Allah, ternyata nunggu taksi teng jam lima itu susaaaaah sekali. Jalanan yang 15 menit lalu lengang, kini dipenuhi kendaraan. Banyak taksi yang lewat, tapi ada isinya. Banyak taksi yang lampunya menyala, tapi diberhentiin lewat lewat saja. Alhamdulillah jam 17.20 baru dapat itu taksi. Aku duduk, taksi jalan dan langsung hujan.

Baru jalan beberapa meter, sopir taksi bertanya, aku turun di mana. Aku sebutkanlah tujuanku daerah Arcamanik. Kirain taksi bakal seneng ya.. karena denger denger mereka suka nggak mau kalau tujuannya dekat saja. Ternyata oh ternyata, si bapak ini maunya nganter yang dekat saja. Karena mau jemput orang di daerah Unpar. Aku bengong sejenak. Apalagikah ?
Si Bapak keukeuh mau nurunin aku di jalan, mana hujan dan bawa buku, ya bawa buku, dan b e r a t.
Bapaknya sok baik gitu, udah nggak bayar nggak papa Neng, nanti Bapak cariin taksi. Aku diam saja.
Berhenti sejenak di samping Hotel Panghegar, hujan, si Bapak nyetop taksi, nggak ada yang mau berhenti.
Akhirnya maju sedikit. Sampai di Patung Bola, hujan benar benar turun sederas derasnya. Si Bapak masih saja berkata kata, minta maaf, nggak usah bayar, mau jemput ke Unpar, bla bla bla, intinya aku tetap harus turun di jalan. Aku tak berkomentar.
Taksi berjalan terus tanpa argo dinyalakan. Sampai di Kosambi bener bener macet. Jam 6 kurang dikit aku baru sampai di rel kereta api Kosambi. Aku SMS Abi di mana posisiku. Si Abi pesan supaya aku ngabarin anak anak di rumah.
Akhirnya aku nego si Bapak, minta turun di Segitiga Emas saja, supaya ada angkot ke Antapani. Nanti dari Antapani kupikirkan lagi bagaimanalah supaya bisa sampai Arcamanik.
Alhamdulilah pas sampai Segitiga Emas Kosambi, hujan sedikit reda, dan aku turun di depan dealer mobil. Si Bapak mengangkat paket NBI dari bagasi dan meletakkan begitu saja di teras dealer yang mulai sepi. Aku minta ijin nitip barang ke satpam sambil nunggu angkot.
Setengah kesel setengah bingung, nggak kepikir mau nangis,  aku cuma berterima kasih sama sopir taksi.

Tidak berapa lama aku dapat angkot Antapani. Anehnya, paket NBI yang semula tidak sanggup kuangkat sendiri itu, karena kondisi terpaksa, aku sanggup mengangkatnya dari teras dealer sampai naik angkot. The power of kepepet terbukti di sini.

Hujan, banjir, angkot jalan melipir.
Jam 7-an baru sampai terminal Antapani. Mana belum shalat, anak anak sudah pada SMS, mana mikirin makan malam mereka gimana, trus mana suami juga udah nelpon2 lagi, sampa di mana.  Galau deh !
Syukurlah, Mamang sopir angkot mau dicarter ke Arcamanik.
Aku nelpon bu Teguh dan bertanya bagaimana caranya jam segitu aku keluar dari komplek, ada ojek atu enggak. Kata bu Teguh, ojek udah nggak ada, dan si Ibu menawarkan mengantar aku pulang. Ya udah aku setuju dan deal sama sopir, angkot cuma nganter aku langsung balik lagi. Selain itu, kalaupun aku maksa langsung pulang, aku bakal nggak keburu shalat maghrib.

Baru juga selesai shalat, eh sudah adzan Isya. Astaghfirullah.

Aku sedikit terhibur melihat anak anak bu Teguh begitu gembira dan antusias mencoba smart e-Pen dan membaca buku buku Nabiku Idolaku. Lupa sejenak sama anak anak (dan suami) di rumah. Kalau saja anak anak nggak sms, kapan pulang, masih lama nggak, Ummi ada dimana dan bla bla bla, mungkin aku juga masih betah di rumah bu Teguh untuk mencoba semua buku buku dari paket Nabiku Idolaku. Karena walaupun aku book advisor, aku belum punya paket itu :p. #mupeng.

Tanpa terasa, waktu terus berjalan rupanya. Aku semakin kemaleman saja. Akhirnya, jam 8 malam aku baru keluar dari rumah bu Teguh, sekalian  mereka mau jalan jalan di akhir pekan, aku dianter sampai depan rumahku. Alhamdulillah., Meski perut lapar dan kaos kaki / sepatu basah.

Aku mengetuk pintu dan menekan bel, tapi tak seorangpun membukanya. Aku dihukum.
Astaghfirullah.
Belum selesai rupanya kejadian hari ini.

---------@@@----------




Thanks God, it's Friday !

"sesuatu yang tidak dapat membunuhmu maka itu akan menguatkanmu"

Sabtu, 16 Februari 2013

Bebegig Sawah : Kerajinan Rakyat yang Hampir Punah

Mencari sawah di pinggir kota Bandung saat ini, bukanlah hal yang mudah. Semakin banyak sawah sawah yang sudah berubah menjadi pemukiman.
Enggak usah jauh jauh, di kelurahanku saja dari tujuh RW yang ada, setidaknya di setiap RW ada satu komplek baru. Di RW  01 satu lokasi, 02 satu lokasi, RW 3 satu lokasi, RW 4 satu lokasi, RW 5 (RW-ku)  dua lokasi, RW 6 satu lokasi dan RW 7 satu lokasi. Masya Allah. Pantesan aja ya.. jalan depan rumah makin macet aja.

Bersyukur aku, di depan rumahku masih tersisa  sawah yang lumayan luas. Aku menyaksikan proses mulai dari mencangkul, membajak sawah, menebar benih, menanam bibit sampai panen. Dari proses itu yang berlangsung kurang lebih 3.5 bulan yang paling berkesan adalah saat menunggu panen tiba, yaitu ketika padi sudah mulai menguning.
Untuk mengusir hama padi berupa burung pipit, petani membuat orang orangan sawah, atau dalam bahasa Sunda disebut bebegig. Dalam bahasa Jawa disebut memedi sawah (hantu sawah) :)
Nah, untuk musim panen kali ini, entah kenapa pemilik sawah itu membuat bebegig yang lain dari biasanya.
Yaitu ada kepala bonekanya yang dilengkapi dengan kumis dan alis yang sangar, sampai sampai si F5 pertama kali melihat lari ketakutan nabrak kusen pintu dan benjol di pelipisnya. :D *lupamotonya

Mau lihat wajah-wajah 'hantu' itu ?

bebegig sawah dari kejauhan
si wajah hantu

dua penjaga sawah yang siap bertugas mengusir burung burung


burung burung pipit, terbanglah menjauuuh.... :)

padi yang mulai menguning

padi setelah dimakan pipit
Coba manteman bandingkan dua gambar terakhir, padi yang utuh dan padi yang sudah dimakan pipit. Udah nggak ada bulir bulirnya. Pantesan pak tani semangat sekali, masih remang remang juga sudah berjaga mengusir pipit.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, sejak sawah mulai berubah rumah, hama pipit ini semakin banyak. Mungkin mereka kehilangan sumber makannya ya... 

Semoga keberkahan senantiasa Allah limpahkan pada pak tani. Atas kerja keras dan usahanya menyediakan beras buat kitaaaa... Amiiiin
 


Minggu, 06 Januari 2013

Kota Ramah Anak



Sedang menghapus foto foto yang tidak lagi terpakai , rasa rasanya kok sayang membuang kenangan dua foto ini. Kedua foto di atas kuambil beberapa waktu lalu  ketika aku makan siang di sebuah warung tenda pinggir jalan di bilangan jalan Purnawarman. Aku lupa siapa nama kedua anak ini. Kalaupun  sekarang atau nanti ketemu lagi, mungkin juga aku tak akan mengenali mereka.

Entah kenapa, di hari hari liburan anak sekolah itu, tetiba banyak anak anak kecil yang menjual vitamin C. Karena mereka memandangiku terus selama aku makan bakso sementara aku tak hendak membeli barang yang mereka jual, maka kutawarkan kepada mereka makan dan minum bakso eh salah, minum dan makan bakso.
Untuk minumnya mereka minta teh botol, dan sejenak kemudian minta teh botol itu diplastikin aja. Trus baksonya pun demikian, dibungkus sajah.

Sementara menunggu pesanan mereka siap, iseng iseng aku wawancara sama mereka. Masih sekolah apa enggak, katanya masih. Sekolah dimana, katanya sih, di daerah Sukajadi (lumayan jauh lho... dari kantorku, walaupun cuma sekali pake angkot). Trus yang bikin aku ngenes adalah ketika kutanya bapak ibunya di mana kok mereka jauh jauh ke BEC, mereka bilang ibunya kerja nyuci di rumah orang, dan bapaknya tidur tiduran di rumah. #gubraks. hiks.
Untung aja aku nggak kasih mereka duit ya.. dan memang aku paling anti ngasih anak anak seperti ini dalam bentuk uang, karena aku su'uzhon, jangan jangan uang itu hanya akan jatuh ke tangan para dewasa di sekitar mereka.

Setelah pesanan mereka siap, mereka pun berlalu sambil berucap terima kasih dan ketawa ketiwi berdua dengan bakso kuah dalam plastik di tangan mereka.

Mengingat kejadian itu, entah kenapa ya ... aku tiba tiba ingat dengan istilah kota ramah anak. Apakah Bandung termasuk kota ramah anak ?

Senin, 31 Desember 2012

Juara

Meski musimnya terima rapot, ini bukan cerita tentang prestasi  anak anak ya.. Tapi tentang diri sendiri. *narsis
Sudah lama sekali rasanya tidak 'menikmati' momen momen saat kita dinobatkan menjadi juara.

Dulu jaman aku kecil, semua juara lomba lomba mewakili sekolah, piala pialanya disimpan di sekolah. Tidak satupun aku nyimpen piala. Paling paling dapat piagam penghargaan. Inilah yang jadi bukti bahwa kita pernah jadi juara. Tapi kan nggak mungkin piagam itu dipigura semua, paling banter dileminating dan masuk map.

Lain dengan jaman sekarang, kayaknya piala itu lebih mudah didapat. Lomba se RT, juara kelas, lomba tingkat sekolah udah bisa dapat piala.Bukan dendam lho.. ngiri ajah. hehe..Mungkin karena dulu aku tinggal di desa dusun ya.. yang kayak di lagu itu, nun di balik gunung, desa terkurung... jadinya jauh mau pesan piala *halah, nyambung gitu ?
Trus aku juga baru tahu kalau kita bisa pesan piala replika. Jadi kalau anak kita juara apa gitu. .mewakili sekolah, tinggal difoto ajah itu piala, trus kita bawa ke tukang piala, dan pesan piala yang sama seperti itu. Voila, jadilah ada piala yang bisa  dikoleksi di rumah.

Kalau diingat ingat, setua ini aku baru mendapat piala 'pertamaku' adalah di usia 30 tahun. Gak salah ? Enggak. *malu yaks, bayi sekarang aja udah bisa dapat piala dari  lomba foto*
Nggak malu laah, dapat piala kan seneng. Piala itu adalah juara satu lomba mendongeng yang diadakan oleh salah satu TK di Bandung Timur. Senengnyaaa.. minta ampun. Meski piala itu kecil saja.
Trus piala kedua sekitar 2 tahun setelah itu, yaitu juara 3 lomba pidato karyawati se Kanwil. Lumayan agak luas dikit skupnya. Pialanya juga lumayan tinggi. Lebih besar dari piala juara satu  lomba mendongeng. Meskipun kalau diingat-ingat,  aku tidak puas juga dengan performance aku kala itu. *telanjur kalee...
Sayangnya itulah satu-satunya lomba yang diadakan kantor. Setelah itu tidak ada lagi lomba-lombaan.

Nah setelah aku belajar ngeblog di tahun 2010, mulailah ikut-ikutan give away aka kontes kontesan. Walaupun sesungguhnya aku terus terang banci kontes. Alias kurang pede berhadapan dengan para blogger lain yang udah jago jago. Karena sebagai yang ngaku-aku blogger, aku jarang sekali bewe. Bikin postingan aja udah alhamdulillah.
Walaupun demikian, alhamdulillah sudah pernah ngicipin menang GA di jaman multiply dulu. 3 kali. Pertama dapat tas, kedua dapat banyak (gamis, kerudung, kaos kaki, lukisan Bali, merchandise, dll), ketiga dapat boneka tangan yang subhanallah indah sekali. Setelah itu jarang sekali ikut GA. Disamping karena pekerjaanku sekarang lebih sibuk, juga karena kalau sudah di rumah, suka males gak sempat bikin postingan. Jadi beberapa kontes terlewat begitu saja.

Di akhir bulan Oktober lalu, aku ikut dikirim diklat oleh kantor di Balai Diklat Keuangan Cimahi. #Eh, kok ya suasana diklatnya mendukung banget untuk ajang narsis membuktikan kemampuan diri kita. Sesuai judul diklatnya "Diklat Berbasis Kompetensi".
Senengnya ikut diklat ini, pengajar sekedar fasilitator. Suasananya pendidikan orang dewasa. Peserta diminta aktif. Yah pokoknya gue banget deh.
Di akhir diklat itu, alhamdulillah, dari teman teman sekelas, yang hampir semuanya lebih muda dari aku, aku terpilih sebagai peserta dengan nilai post test tertinggi. (dapat hadiah) Dan akupun menjadi peserta paling aktif di kelas (ada juga hadiahnya).  Seneeeeeeenggg banget rasanya. Meski hadiahnya sederhana saja. Yaitu tempat pencil untuk di meja (hadiah post test) dan vacum cleaner mini untuk membersihkan keyboard sebagai hadiah peserta paling aktif.
Tambah seneng lagi, ketika aku pulang diklat, Sondang sudah menyiapkan traktiran buatku. Traktiran atas prestasi itu. hahaha... *itu mah alasan dia buat nraktir aja..

foto bersama fasilitator dan penerima hadiah %  kenaikan nilai pra test ke post test

Alhamdulillah.. ternyata usia bukan penghalang. Yang penting adalah usaha kita ya... Klo mau bikin resolusi untuk tahun depan (mumpung akhir tahun) mungkin aku ingin juara juara lagi. Juara sabar, juara ikhlas, juara tawakal, juara ibadah, juara sedekah... :P . Bukan di lombakan dengan siapa siapa, tapi dilombakan dengan diriku sendiri alias hawa nafsu pribadi. Semoga resolusi ini bisa dicapai, karena hanya diri sendiri yang tahu.
Klo di bisnis, pengen omset lebih besar, sedekah lebih besar, zakat lebih besar. Sukur sukur bisa ngefek orang lain.
Amiiin...



Rabu, 28 Maret 2012

Customer (lagi) !

Habis nulis cerita sedih, saking menghayatinya sampai ini muka juga kebawa sedih. Sampai sampai di kirimin pesan dari teman di back office katanya klo ngelayanin customer jangan pake cemberut. Walaupun aku ngeles, aku hari ini off dari melayani customer karena dapat tugas lain, mencetak tanda terima surat dari pos yang seabreg jumlahnya. Hihi.. tapi katanya ituh para tamu kan tetap melihat wajah cemberutku (padahal sedih).
Baiklah biar agak sedikit ceria aku cerita lucu tentang seorang Bapak yang sudah sepuh. Aku perkirakan usianya di atas usia pensiun. Mungkin sekitar 60 tahun bahkan lebih. Cara bicara dan cara berjalannya yang mengatakan itu.
Pertama aku bertemu adalah waktu bapak itu lapor spt tahunan. Tapi belum diisinya si laporan itu. Beliau hanya membawa SSP.  Jadi aku nggak bisa menerima.
Lucunya begini, laporan tahunan itu kan diterimanya di tenda khusus di luar kantor. Sedangkan kami di loket hanya menerima laporan bulanan. Saat itu antrian penuh sekali. Pas aku panggil nomor 130 (wuih aku masih ingat nomornya), dan ternyata nomor 130 ini lapor tahunan dan aku persilakan ke loket di luar, dengan sigap bapak ini menggantikan posisi nomor antrian 130 sambil meminta potongan kertas nomor antrian 130 yang tadi tidak diberikan padaku oleh si nomor 130 yang asli.
Tweng weeeng....
OK Baiklah... berhubung sudah sepuh aku sedikit mentolerir dengan menerima laporan beliau. Walaupun sesungguhnya laporan itu tidak dapat diterima juga, karena ternyata ada kesalahan nomor kode di SSP-nya. Harus dilakukan pemindahbukuan. Jadi aku persilakan beliau untuk konsultasi ke AR karena kalau aku jelasin di loket, antrian bakal mandek dan jadi panjang.......
Nah dua hari kemudian, ada anak muda yang membawa satu tumpuk laporan bulanan dan surat surat. Saat itu loket juga ramai sekali. Maklum mendekati tanggal 20, batas akhir laporan bulanan.
Eh, di antara surat itu aku menemukan surat si Bapak yang tadi. Permohonan pemindahbukuan. Nah, iseng iseng aku ajak ngobrol si anak muda tadi (kupikir tadinya konsultan si Bapak),
"Oh, ini jadinya pemindahbukuan ya ?" kataku sambil menginput surat si Bapak.
"Ada masalah bu ? " tanya si anak muda. "Soalnya saya tidak tahu, saya cuma dititipin, itu Bapaknya ada di belakang".
Gubrak !! Aduh Maaaak....  aku mau berburuk sangka nih, kayaknya Bapak itu sadar benar, dengan ketuaannya dia bisa mendapatkan kemudahan. Yang pertama 'nyabet' antrian orang, yang kedua 'nitip' ke antrian yang lebih awal.
Tapi aku  kok jadi miris ya... dengan aksi menelikung nelikung seperti ini... apa jangan jangan aku yang lebay !! *tepok jidat

Kamis, 22 Maret 2012

Walk Out

Nyambung ngomongin customer.
Awal awal di kantor baru ini aku takjub takjub. Hampir tiap hari kantor tidak pernah sepi. Ada sih.. saat saat agak senggang yaitu antara tanggal 21 - 27 setiap bulannya. Di awal bulan, dimana kantor kantor yang lain (apa lagi kantorku sebelumnya) begitu sepi pengunjung, di sini sudah ramai. Hehe.. syukur jugalah.. aku tidak dibayar percuma. Tapi memang karena ada kerjaan.
Nah, di musim laporan tahunan ini.. volume customer bisa dua kali lipat, bahkan lebih.
Dan sebagai petugas front office, aduuuh.. sungguh sungguh perlu stok senyum dan kesabaran yang tidak boleh ada batasnya. Macam macam aja orang yang datang.
Kali ini aku mau ceritakan seorang customer dari salah satu perusahaan telekomunikasi yang sudah terkenal di negeri ini. Kukagumi bagian apapun di perusahaan itu,  yang sudah menyediakan form laporan tahunan orang pribadi di dalam sistem mereka, karyawan di bagian apapun tinggal mengunduh dan jadilah.
Hanya sayangnya.. hasil unduhan itu bukanlah bentuk standar.  Di dalam buku petunjuk pengisian laporan tahunan orang pribadi, sudah dijelaskan bahwa bentuk laporan karyawan yang berpenghasilan 60jt ke atas /tahun haruslah kertas F4. Nah karena laporan tahunan ini nantinya di-scan dan dikasih barcode lalu dikirim ke bagian pengolahan dokumen di Jakarta, maka -yang kami pahami-- kertas itu harus standar F4.
Suatu hari datanglah seorang anak muda (hihi.. lebih muda dari aku.. kira kira 30an awal) dengan laporannya yang tidak standar itu.
Titi : Bapak, mohon maaf, kami tidak dapat menerima laporan tahunan Bapak, karena bentuknya tidak standar. (Sambil aku jelaskan alasan dan kutunjukan buku petunjuk)
Tamu : Kami kan tinggal down load di kantor, jadi nggak tahu kalau peraturannya begitu . Terus gimana ?
Titi :  Bapak dapat mengunduh ulang di kantor dan dicetak di kertas F4
Tamu : Ribet amat. Di kantor saya nggak ada kertas F4. Lagian susah juga ijin mau ke sini.
Titi : Bapak dapat membawa kertas F4 dari sini (kataku sambil mengeluarkan kertas F4)  dan Bapak dapat minta tolong office boy untuk kemari.
Tamu : Nggak usahlah. (meno ak kertas dan sambil mencet mencet smart phone-nya)
Titi : atau Bapak dapat menyalin laporan Bapak di sini dengan di tulis tangan (laporannya cuman 1 halaman yang diisi full, halaman lain cuma sedikit-sedikit isinya)
Tamu : Ribet ah. (masih sambil mainin smart phone, dan tiba tiba berdiri serta berjalan keluar. Laporan tahunannya ditinggalkan begitu saja di mejaku)
Titi : ???? bengong (ih, ternyata yang bisa walk out gak cuman anggota dewan aja !!)

Minggu, 18 Maret 2012

Tidak, Terima Kasih

Suka duka bekerja di tempat yang dinilai orang begitu basah, begitu mudah menerima segala pemberian dan gratifikasi, ya resiko laaahh..
Sebelum koorps-ku modernisasi sih aku mafhum sekali bila itu terjadi. Tapi setelah hampir sepuluh tahun berjuang, merubah keadaan, merubah kondisi, membangun citra, Oh.. kalau masih menemui hal hal seperti itu, Aduuuh... sedih deh...
Memang sih, dalam hati kecilku, akuu tidak memungkiri, pastilah masih ada segelintir orang yang masih bermain api. Mereka yang biasa hidup berfoya foya dari uang persembahan, pasti nggak akan cukup hidup sederhana dengan uang barang belasan juta (kelas pejabat), atau uang 8-10  juta kelas rakyat seperti aku. Yang bagiku itu sudah jumlah yang alhamdulillaaah...
Kalau nurutin napsu (sengaja ya, ditulis pake 'p') mah gak bakalan ada habisnya..

Yap, kembali ke topik. Peraturan pelayanan di kantorku adalah dari jam 8 pagi sampai jam 16 sore. Kemarin ada customer datang, mau lapor, udah lewat dari jam empat. Melihat wajahnya dan kusut rambutnya, nggak tega rasanya mau menolak. Mana perempuan lagi. Gerimis pula. Aduh.. bener bener nggak tega deh, memintanya datang kembali esok pagi.
Akhirnya aku terima saja laporan dia, karena itu laporan tahunan yang tanda terimanya manual.
Setelah berbasa basi sebentar, si mbaknya bilang
"Mbak.. jangan marah ya.."
"Iya nggak papa, kan mbak nggak saya marahin kan ? ini laporannya saya terima" kataku
"Iya terima kasih. tapi ini udah di luar jam kerja Mbak .." kata dia lagi
"Oh, ini masih jam kerja saya, jam kerja saya sampai jam lima sore" kataku lagi sambil nyekrek nyekrek tanda terima ke laporannya.
Eh, tiba tiba si mbaknya ngeluarin duit dan menyorongkannya kepadaku . Alamaaak.... Aku yang (terus terang) baru pertama mengalami kaget. Dan untunglah segera mengendalikan diri
"tidak mbak terima kasih. Kami tidak menerima pemberian dari pelayanan yang kami berikan" Kataku. Pasti kalau wajahku putih, saat itu jadi merah.  Aku sih, malu aja klo menerima gituan.  Kayaknya kok nggak sebanding sama harga diri yang di pertaruhkan.
Akhirnya mbak nya mengerti dan pulang. Semoga dia mengenang, bahwa tidak semua pegawai korps-ku mudah tergoda oleh uang

Jumat, 10 Februari 2012

Double Dating

Bila ada ababil alias amak amak labil mungkin akulah orangnya. Haha
Entah kenapa, kmrn itu bad mood pisan, males untuk bekerja, pengen seneng seneng tapi nggak tau apa. Ah..lebay dot com lah judulnya.
Eh, kok ya kebetulan Tri ngajak makan bareng genk maksi. Nggak lama kemudian, si Hany juga ngajak makan bareng mantan anak pelayanan.  Udah gitu tempatnya berdekatan.  Aduuh.. bagai mendapat durian runtuh deh.
Untung saja hari itu , Novi dengan baik hati mau bertukar piket istirahat denganku.
Jadi aku bisa pergi. Dan dengan otak kriminal pula aku berniat membolos eh ijin pulang cepat. (apa bedanya sih...)
Rupanya si durian durian itu belum berhenti berguguran, di H-1 tiba tiba ada yang pesan paket Tuppi my first moment collection dan rainbow. (lumayan nambah omset) dan di hari H saudara saudara, masih satu durian lagi jatuh. Tak disangka tak di nyana, Mbak Ida yang dianter mas Setia katanya mau lewat kantor aku. Aduuuh... terima kasih aku tak perlu membawa dua paket tuppie itu by angkot.
Masih nyamper Tri dan Doel serta chika di perempatan, lalu aku
dating sama Echi nyampein pasmina di perempatan itu juga. kemudian mobil mas Setia pun parkir dengan aman di Mpek mpek pak ANang jl. lengkong. Satu lagi durian jatuh, aku ditraktir mbak Ida. Khusus AKu, yang lain bayar sendiri. (sayang sondang nggak ikut, pun aku blm sempat telepon krn saking bahagianya mau ketemu mantan pelayanan)
Setelah selesai makan mpek-mpek, perjalanan berlanjut naik becak ke WS. Semua sudah kumpul full team cewek. Ramenya.... Curhatnya.... Ah.. nggak berasa setengah dua. Waktunya pulang. Satu lagi durian runtuhnya, Mbak Ama membeli paket Nabiku Idolaku dari Mizan tanpa aku harus presentasi panjang lebar.
Terima kasih ya ALllah.... untuk kebahagiaan yang tak disangka sangka. Tertebus rasanya potongan untuk membolosku hari ini.
*gambar nyusul ya...
ini fotonya, bukan pas lagi makan makannya ya.. tapi kebayang kan.. ini juga suasana makan bareng di ruangan hehe