Sunyi bukan berarti sepi, tapi inilah saatnya untuk kembali pada diri dan, menikmati waktu.
Suatu hari aku kedatangan tamu sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Jalannya perlahan dan bicaranya pun terdengar pelan. Sang suami kelahiran tahun 1955 dan istrinya 1959. Yang paling mengejutkanku adalah, beliau berdua ini dalam proses mengajukan kredit usaha dari salah satu bank pemerintah. Kebetulan aku membantu menyiapkan kelengkapan administrasinya.
Sembari aku membantu, tanganku bekerja mulutku mengajak mengobrol agar suasana tidak terlalu kaku. Sebetulnya pertanyaanku sederhana seperti, bapak dulu dinas di mana, sekarang tinggal di mana, ke kantorku tadi naik apa, eh malah sang istri cerita banyak hal. Tentang usahanya yang nggak jalan, tentang anak-anak yang menurutnya yang sudah tidak peduli, dsb. Di sini aku sedikit merenung, ya usia 71 dan 67 tahun baru mau mulai usaha kuliner. Jujur aku agak menyangsikan daya tahan fisik keduanya. Apalagi belum ada riwayat usaha kuliner sebelunya. Sang Bapak dulunya pegawai kantoran dan ibu suka memasak. Tak urung aku hanya bisa menyemangati dan mendoakan kesehatan untuk keduanya begitu administrasi yang diperlukan sudah selesai.
Ketika aku melihat sepasang suami istri tadi, aku seperti melihat diriku di masa depan. Di usia yang melewati setengah abad ini, apa yang akan aku lakukan setelah tidak lagi bekerja kantoran nanti?
Saat anak-anak sudah mentas dan bekerja di kotanya masing-masing, atau sedang menyelesaikan studi di kota lain, tinggal aku sendiri bersama suami di rumah yang lengang. apa yang terjadi nanti?
Ibu, sebagai orang yang sangat dekat dengan anak-anak dan disibukkan dengan berbagai urusan mereka, terkadang tidak mendapatkan perhatian yang dia butuhkan. Di balik ketegarannya, mungkin seorang ibu menyembunyikan dengan rapi air mata perjuangannya. Ketika diberikan ruang untuk perempuan berbicara rasa, tak jarang dia tetap memilih untuk menyimpannya sendiri.
Tapi tidak denganku, aku akan berbagi dengan teman-teman semua apa yang sudah aku alami.
Beberapa hal yang aku rasakan ketika penghuni rumah sehari-hari tinggal aku dan suami adalah:
1. Rumah terasa sunyi, tidak ada celoteh anak-anak yang minta ini itu, atau rayuan minta dicarikan barang-barang mereka dengan kalimat sakti 'the power of mother'
2. Kehilangan semangat untuk memasak, karena masakan hampir tidak ada yang menyantap. Aku dan suami pekerja kantoran.
3. Banyak menghabiskan waktu di kantor, karena di kantor masih ramai bahkan hingga maghrib tiba
4. Enggan ketika akhir pekan tiba, karena terbayang dua hari kosong tanpa aktivitas yang berarti.
5. Banyak waktu yang terbuang habis untuk menggulir media sosial tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Tahu-tahu sudah larut dan mengantuk tertidur dan besok bekerja lagi.
6. Kecemasan menghadapi kenyataan bahwa usia tak lagi muda, raga tak lagi sekuat dahulu kala, dan kematian yang terasa di depan mata.
Syukurlah itu sudah terjadi 2 tahun lalu, dan berita baiknya aku segera menyadari bahwa kondisiku telah melenceng dari cita-cita hidup mulia. Alih-alih mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, malahan berkutat di hal-hal dangkal. Aku menanyakan ke satu dua teman dekatku, apakah mereka merasakan kondisi yang sama denganku. Ketika sudah bertemu dengan dua orang, kami sepakat untuk bergandeng tangan mencari solusi.
Langkah-langkah yang kami lakukan saat itu adalah:
1. Silaturahim, menemui salah seorang psikolog yang kami kenal, akhirnya kami tahu midle life crisis itu benar adanya. Rupanya kami sedang mengalami hal tersebut. Kami disarankan untuk memvalidasi berbagai perasaan dan kecemasan yang ada. Menerima dan menyadari sepenuhnya. Kami pun disarankan untuk mulai melakukan journaling. Diharapkan dengan menulis ada waktu untuk kontemplasi, menerima berbagai keadaan yang tidak menyenangkan, sekaligus memanjatkan syukur atas nikmat yang Allah berikan. Kamipun dipersilakan untuk silaturahim lagi bila diperlukan.
2. Kami disarankan untuk mengubah cara pandang tentang kosongnya rumah, anak- anak yang tumbuh makin dewasa dan berpencaran. Sunyi bukan berarti sepi, tapi inilah saatnya untuk kembali pada diri dan, menikmati waktu. Cepat atau lambat, anak-anak akan meninggalkan kami.
3. Mencoba hal baru seperti olahraga jalan kaki dan yoga bersama, berkegiatan sosial dan lebih aktif dalam kegiatan keagamaan. Aku sendiri mengambil kelas tahsin online.
4. Lebih menikmati hobi yang kita miliki. Akupun kembali menjahit dan berkebun
5. Belanja dengan berkesadaran. Selain untuk berhemat juga untuk mengondisikan terhadap penurunan penghasilan ketika nanti memasuki usia pensiun.
Demikian sekelumit cerita yang beberapa waktu ini aku simpan sendiri bersama orang-orang terdekat. Harapanku, kalian tidak perlu mengalami kejadian sepertiku karena kalian sudah lebih siap menghadapinya.