Tampilkan postingan dengan label fadhila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fadhila. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2025

Mencari Kost di Jakarta Selatan

Masjid dekat kost

Mencari kost di kota lain hari gini ternyata tidak sesulit jaman aku cari kost. Dulu kalau cari kos biasanya cari rekomendasi teman dulu, habis itu kita mesti survey dulu ke lokasi baru menentukan pilihan. 

Beda banget dengan kondisi saat ini. Ini udah 3 anakku mau tinggal di luar kota, aku cari kostnya benar benar mengandalkan media online.

Waktu F4 kuliah di Yogya, aku cari kost mengandalkan Google Maps. Singkatnya aku buka maps di daerah yang aku tuju, terus aku zoom, terus aku hubungi tuh pemilik kost satu per satu. Lengkapnya aku sudah pernah cerita di sini ya..

Baca ini : Mencari Kost di Yogyakarta

Juni lalu ketika F2 keterima kerja di Jakarta, akupun mencari kost masih dengan sistem seperti itu. Alhamdulillah dapat yang cocok, dan F2 juga nerima-nerima aja dikasih kost yang di dalam gang. Mungkin karena dia cowok dan bawa motor sendiri jadi nggak pusing dengan transportasinya. Dan memang kostnya juga enak sebenernya. Bapak kost juga baik. Minusnya ya cuma di dalam gang itulah.

Nah bulan ini giliran F3 yang ada kerjaan di kota lain. Dapat proyek selama dua bulan di Jakarta Selatan. Aku nggak pusing nyari kost karena si anak udah online banget. Hihi.. Kayaknya berbagai cara dia tempuh. Ada rekomendasi teman, dia chat satu-satu tuh, ternyata problemnya kalau nggak jauh ya habis.

Kemudian dia cari di Google maps. Lalu dia chat juga satu per satu. Ternyata aku baru tahu kalau di dunia peta tempat kost ini ada semacam penipuan. Modusnya adalah dia mengaku-aku sebagai pemilik kost, terus meninggalkan nomor di situ. Nanti kalau ada yang mau survey kost, diminta bayar dulu semacam deposit. Kalau kita nggak peka, mungkin akan terkecoh. Karena dia pakai akun bernama Owner Kost.  Dan di beberapa kost yang tidak mencantumkan nomor telepon,  dia menulis ulasan lalu mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi. Tapi anehnya kalau dia pemilik, dia memberikan bintang 3 ke kost tersebut. Aneh sih menurutku... Jadi aku skip.

Nomor HP sengaja aku potong


Nah satu cara lagi yang aku baru tahu adalah, dia cari di mamikos di daerah yang dia tuju sekitar kantornya. Lalu setelah itu dia chat nama pemilik di akun mamikos tersebut. Setelah terjawab, menanyakan harga, fasilitas dll, tinggal perlu survey. Ajaibnya sekarang udah ada jasa survey kost-an. Cek akun tiktok @ipemendoan.Jadi aku nggak perlu survey lagi kost tersebut, cukup dengan membayar sekitar 100rb an. 

Alhamdulillah, F3 dapat kost sesuai dengan yang dia butuhkan. Kostnya enakeun, tempatnya strategis, di pinggir jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, ada minimarket cuman selisih berapa rumah, dekat masjid besar yang adzannya bisa membangunkan pagi-pagi, ada warung nasi goreng yang harganya terjangkau, dan kalau pagi juga ada warteg yang sudah buka jam 6 buat beli bekal. 

Nasgor dan seafood harga anak kost

Alhamdulillah, tambah satu lagi pengalamanku soal cari kost-an.

Rabu, 17 Mei 2023

SUNMORI - SUNDAY MORNING RIDING

Hobi sunmoriku dimulai ketika masa pandemi dan mulai merasa bosan karena tiap hari hanya di rumah dan di rumah saja, Maka ketika F2 mengenalkan aktivitas baru yakni sunmori, ummi dengan semangat 45 gegap gempita menyambutnya. Terutama sejak F5 mulai mondok Mei 2021 dan nggak ada lagi bocil di rumah, praktis setiap libur tiba kesepian datang melanda.

Sunmori pun menjadi kesenangan baru. Bisa jadi sarana cuci mata, sekaligus healing tipis-tipis. Ke mana biasanya sunmori ? Nggak ada ke mana-mana. Sungguh-sungguh cuman random aja. Kadang ke gunung.. menyusuri jalan-jalan di sekitar rumah. Kadang ke kota, merambah daerah-daerah yang nggak pernah dilewati. Tapi ada juga sih yang nggak pernah ketingalan saat sunmori yaitu mampir belanja atau sekedar jajan sarapan.

Kalau F2 sunmori kadang sendiri, kadang juga sama F5 kalau pas di rumah. Sedangkan Ummi, nggak pernah sendiri. Belum sepemberani itu... Pasti ngajak salah satu antara F3, atau F4 atau F5. Cuman kan sekarang F4 dan F5 jarang ada di rumah, jadi ya paling sering sama F3.

Seperti hari Ahad kemaren ... setelah beres kerjaan domestik, aku ajak F3 jalan. Dianya mau, kebetulan lagi nggak ada kegiatan juga. Pas kutanya mau kemana, katanya pengen ke kota aja. Karena udah jam 8 lebih dan matahari mulai beranjak naik, sampai digodain sama Abi, katanya udah nggak morning lagi.. kami berdua hanya tertawa sambil salim pamitan.

Dari rumah aku ambil jalur kiri, menuju jalan Sukarno Hatta. Sejujurnya agak ngeri macet juga, dulu kan sempat ada pasar kaget / pasar minggu di sekitar Metro dan di Samsat. Eh ternyata udah nggak ada dong.. jalanan lancar sampai dekat Metro Indah Mall. Di situ mulai tersendat. Aku pikir macet lampu merah, panjang amaaat. Ternyata lagi ada pawai dari salah satu partai menuju kantor KPUD Kota Bandung, konon tanggal 14 Mei kemarin adalah hari terakhir pendaftaran bakal calon legislatif  DPRD Kota Bandung.

Lepas dari lampu merah samsat, perjalanan cukup lancar menuju Buah Batu dan Batununggal. Kami lurus terus. Targetku sampai ujung Sukarno Hatta. Dan untuk pertama kalinya aku melewati jalan layang Kopo. Ternyata jalan layangnya lumayan panjang lho.. Perasaan lebih panjang dari jalan layang Supratman ataupun Gatot Subroto yang dibangun hampir bersamaan dengan ini. Sebentar aku searching dulu ya.. penasaran soalnya ..

- Jalan Layang Jl Jakarta-Supratman ; panjang 0.5 km dan lebar 9 meter.

- Jalan Layang Laswi  panjang 0,5 km dan lebar 9 meter.

- Jalan Layang Kopo : panjang 1.3 km dan lebar 18 meter

Fix, ternyata benar ya.. jalan layang Kopo lebih panjang dari jalan layang Jl Jakarta dan Jl Laswi.

Perjalanan dilanjut terus menuju daerah Rajawali. Daaaan... surprise dong aku.. baru ngeuh ternyata  setelah melewati bundaran di ujung jalan Sukarno Hatta, terus kita masuk Jl Elang Raya... di sini tuh kita jalan di sisi kanan, bukan di sisi kiri sebagaimana biasanya... Mungkin karena dari Jalan Rajawalinya satu arah ya.. yang dari Cimahi .. terus dari jalan Elang ini, harus belok ke kanan nantinya.. ya itu aja sih pembahasannya.. 



Dari jalan Elang, terus menyusur jalan Rajawali Timur, lalu lurus menuju Balai Kota. Di sinilah sempat agak ragu, ini kalau aku mau ke Baltos, mendingan belok di Jalan Riau atau terus aja lewat Wastu Kencana.. karena reflek nyetir ke kiri lebih kuat aku memilih menyusur jalan Wastu Kencana, belok ke Pajajaran, lalu ke Jl Cihampelas bawah dan masuk lagi Wastu Kencana. Setelah lewat Hotel California dan Pasar Bunga, belok kiri menuju Tamansari untuk ke Baltos.  Kayaknya lebih dekat ke Riau terus  Jl Juanda lalu jalan Sulanjana yak.. entahlah.. haha

Di Baltos kami berhenti sejenak. Memang ada yang dicari sih.. F3 lagi cari blazer dan aku butuh rok lipit hitam buat seragam Senin. Syukurlah di Baltos langsung ketemu yang dicari di lantai bawah doang. Karena waktu sudah mendekati jam makan siang, kami memilih pulang. Bukan apa-apa, yang di rumah belum dimasakin 


Jumat, 09 Mei 2014

Operasi Kecil

Jiaaaah.... judulnya sok keren banget.
Ini bukan salah satu jenis operasi seperti yang kita kenal pada umumnya ya...
Tetapi lebih ke operasi mengeluarkan benda super keciiillll  haha

Ceritanya Bandung akhir akhir ini kan hampir selalu hujan di siang hari. Ketika hujan itu, halaman sekolah Ayuk selalu digenangi air. Juga jalan raya menuju tempat pemberhentian angkotnya.
Entah udah jadi semacam 'gaya' anak-anak  atau gimana, kalau ujan gitu semuanya rombongan lepas sepatu, nyeker daaaaannnn main air.
Ya ampuun... anak SMP gitu lho. Jangan jangan kurang panjang ya, masa masa mandi hujan saat mereka kecil. Hehe...
Pas jaman F1 sampai F3 sih perasaan sering kuberi kesempatan mandi hujan. Kalau F4 dan F5 yang jarang.
Ya tapi mungkin karena SMP itu masanya peer group jadi seneng aja kali, si Ayuk hujan hujanan ramai ramai gitu.
Nah, di hari Rabu pagi tiba tiba Ayuk bilang kakinya sakit. Sampai jinjit gitu jalannya.
Pas kuperiksa ada bintik hitam di telapak kakinya. Ini pasti kerikil. Karena dia kan suka pulang nyeker gituuu...
Hmmm aku tahu ini bakal agak sulit. Karena ambang nyeri anak ini rendah banget. Dikiiiit aja kena towel teriaknya segede apa.
Pas mau kuambil pakai pemotong kuku, dia udah nangis duluan.
'Ya udah, nanti malem ke klinik di depan'
'Nggak mau ke dokter.... ' malah tambah nangis.
'Hmmmm... kita lihat nanti sore ya...'
Ih, kalau buat bolang macam aku, itu sih keciiil... dulu pas kecil kan sering main ke kebon dan kena duri yang item-item segede jarum yaa...
Aih, tapi tantangan anak sekarang kan beda lagi.

Sore pas pulang kerja, Ayuk ngeluh kakinya tambah sakit. aku ajak ke dokter enggak mau. Eh, si mbak malah njahilin, katanya nanti kakinya infeksi dan diamputasi, Ayuk tambah nangis. Khawatir bakalan infeksi dan diamputasi. Hadeeeeuuuh... heran deeeh.
Karena tidak ada alternatif lain selain harus mengeluarkan kerikil tersebut, sedangkan dia enggak mau ke dokter, padahal udah kubilangin kalau ke dokter nanti kan disuntik matirasa,jadi gak bakal sakit, eh.. tetep aja gak mau.
Akhirnya .. karena makin malam makin nyeri,  Ayuk nyerah, ntar aja pas dia tidur, dia mau kerikilnya dikeluarin.
sedikit nekat siiih.... karena pas malem mendapatkan cutter baru, eh, nggak ada alkohol buat sterilisasi. Yaudin deh, bismillah aja. Pertama kaki Ayuk di kompres es batu biar sedikit baal. Trus setelah berkutat sekitar satu jam karena Ayuk meski tidur masih sedikit kerasa dan bentar bentar narik kakinya, alhamdulillah berhasil ngeluarin kerikil. Besarnya ? cuma sedikit lebih besar daripada ujung jarum.

kerikil di ujung jarum

Jumat, 18 April 2014

Ketika ABG Ditembak

Dor !
Pastinya bukan ditembak itu ya.... tapi ditembak dalam artian yang lain. Tau kan, Buuuu ?
Iyaa... ada yang bilang demen sama kita. Aih.. kata-katanya meuni jadul pisan. "Demen". Ya ada yang suka gitu deh... lope lope...
Tentu saja bukan aku yaa.. siapa juga mau nembak nenek - nenek lincah sepertiku, yang ditembak ini adalah anak gadisku. Trusss bukan anak pertama juga, melainkan anak yang ketiga.
He eh... lain ladang lain belalang, lain anak lain gayanya.
Kalau mbak Fathim itu kayaknya type-nya mirip-mirip aku gitu. Seriuuus sekolah, tekuuun (karena ngrasa gak pinter-pinter amat), trus cuek. Cueknya nggak bebek kayak aku yang dulu (rrrr.. sampai sekarang siih.. ) yang gak pernah bedakan, parfuman, handbody itu udah maksimal deh. *lirikparfumyangtumpahdilacikantor*
Ya jadi gaya pergaulan sama cowok ya lempeng dotcom. Semua teman.

Nah kalau anak ketiga ini sosial bingits. Mengenal socmed jelas lebih cepat dari kakak-kakaknya. Makainya pun lebih intens. Bener bener buat bersosialita laah... maka gak heran kalau temennya juga banyak.

Ceritanya kapan itu dia cerita ada yang nembak. Aku dengan gaya cuek kutanyain :
"Trus kamu terima ?"
"Ya enggaklah... aku nggak suka"
"Cowoknya bukan yang kamu suka ?"
"Hehe... iya"
"Trus, kalau cowok yang kamu suka yang nembak, kamu bakal terima enggak?" #ummikepo
Matanya berputar-putar dan tersenyum nakal.
"Ya enggak juga, mau ngapain juga jadian".
"Oh.... kirain" kataku
"Enggak laah Ummi... anak yang nembak aku itu teh udah terkenal. Pacaran sama kakak kelas semua tahu, pergi berduaan, nonton gitu gitu deh..  eh baru juga putus 4 hari masa udah ngajak aku jadian. Bukan cowok setia banget kaan ? Masa sih segitu mudahnya melupakan ceweknya yang dulu..."
*pengen ngikik asli dapat alasan gini*

Alhamdulillaah Nak.... meski di luar aku menampakkan ekspresi datar, ya sejujurnya aku pengen jingkrak-jingkrak.
Coba ya... kelas satu smp, mau jadian, mau ngapain coba? Nikah pastilah masih panjaaang.
Dan aku ngeriiii.... definisi pacaran jaman sekarang versi anak-anak yang diteliti bu Elly Risman, kalau cewek kan pacar itu teman curhat apalah, lha cowok pacar itu pergi berdua, jalan berdua, dsb dsb yang langsung sensor 17+.

Trus beberapa hari kemudian, pas lagi makan bareng Ayuk, dia cerita lagi soal temennya yang cewek.
"Ayuk, aih kamu cerita ditembak ke ibu kamu, ibu kamu nggak marah ?"
"Enggaklah, biasa aja keleuus"
"Ih, enak ih... kamu bisa curhat bebas gitu. Kalau aku cerita sama mamah aku pasti udah dimarah-marahin. Belajarlah apalah..."
Kami berdua berpandangan dan tertawa bersama.

Syukurlah ya Naaak... bukan kamu yang enak bisa curhat sama Ummi, tapi ummi juga enak, sampai sekarang nggak perlu ngepoin kamu, kamu bakal cerita sendiri.
Semoga kamu tetap teguh memegang prinsipmu ya : jomblo itu nasib, single itu pilihan.
Jadi gak kan terpengaruh ya.. meski di sekelilingmu ada banyak dar der dor teman jadian. Perjalanan masih panjang.

Jumat, 31 Januari 2014

Selamat Milad, Ayuk

Dia, yang datangnya membawa kemanfaatan
Dia, yang diliputi dengan keutamaan, -semoga Allah memberikan balasan terbaik atas keutamaannya-
Dia, sang bidadari surga,
Fadhila Huriyatul Firdausi
Selamat milad anakku, 29
Januari ini sudah 13 tahun ya..
No cake, no party, as Abi said :)
But, look !
Kuenya datang sendiri, ada yang ngirimin. *tengkyu kapkeiknya, Tante Sondang... *

Jadi, jangan pernah khawatir kau tak akan mendapatkan sesuatu, karena semua sudah Dia tentukan takarannya.
Jangan pernah khawatir kehilangan bagianmu, karena itu tak kan Dia pindahtangankan.

Inilah kenanganmu atas tonggak- tonggak usiamu.
'Dimusuhin' teman cewek sekelas dari kemarinnya,
Taburan bedak dari lantai dua sekolahmu hingga putih baju seragammu
Muka putih laksana badut,
Itu semua akan terkenang sepanjang hidupmu.

Selamat milad, gadisku.
Semoga semua kebaikan dan keutamaan Allah tambahkan padamu, hingga bermanfaatlah kehadiranmu.
Amiin.

Pict : ucapan dari temannya

Senin, 23 Desember 2013

Highlight Last Week

Pas aku lihat jadwal postingan sebelum yang dipaksain harus tayang hari Ibu kemarin,  ya ampunn... udah seminggu. Padahal kan minggu kemarin banyak banget peristiwa bersejarah dan berkesan. Dan mau cerita satu demi satu rasanya udah enggak mood lagi, tapi ya sayang juga untuk dilewatkan. Baiklah mari kita cekidot satu demi satu

17 Des
Jadwal Faiz berenang. Yang terakhir di semester ini. Setelah kesempatan berenang pertama dan kedua yang dia enggak berani masuk ke kolam, alhamdulillah, kali ini dia mau masuk kolam renang. Kata bu Guru, ini sebuah kemajuan.
Meski belum berani mandi air dingin (ini mah gue banget) tapi sudah mau main ciprat air sama bu Guru dan membenamkan muka ke dalam air.
Syukurlah ya... semoga ke depannya dia bisa berenang beneran.

Ini pas aku jemput Faiz di renang kedua. Belum mau masuk kolam samsek. Giliran yang lain udahan dan lari-larian, baru deh ikutan
18 Des
Anniv pernikahan yang ke 17. Sweet seventeen...... sampai enggak bisa berkata-kata. Udah kuposting di IG-ku. hehe
Seperti biasa, enggak ada acara apa-apa. Nggak ada us time, biasa aja deh pokoknya. Bahkan aku juga lupa. Pagi pagi, bangun tidur aku teriak, asyiik ada yang ulang tahun.
Si mbak nanya, siapa Mi ? Kamu ultah tanggal berapa ? tanyaku balik
Tanggal 20.
Oh berarti ulang tahun pernikahan Ummi dan Abi hehehe..
Sampai diketawain Baginda Ratu tuh, pas aku cerita hal ini. intinya, aku lupa, mana yang tanggal ultah mbak, yang mana yang anniv aku dan Abi.
Tapi pas aku  pulang kantor, Abi ngeluarin satu set pisau Oxone. Anak-anak nyorakin itulah hadiah anniv -nya.
Abi membelikan yang warna biru

Trus hari ini juga si Teteh mamerin apa yang dibawa dari sekolahnya hasil class meeting gitu.
Yang pertama adalah bungkusan berisi lunch box, mug dan buku KKPK sebagai hadiah juara tiga lomba mengarang cerpen tingkat sekolah.
Dan satunya lagi adalah piala juara 1 lomba sains tingkat sekolah. Pesertanya kelas 3 - 5. Karena kelas 6 jadi panitianya.

Hadiah Teteh.
Aku jadi ingat pembicaraan malam sebelumnya, ketika Teteh nanya menurutku bakat dia apa. Ya kubilang aja, kamu nyamannya ngerjain apa. Dia suka menulis. Bahkan dia juga sudah punya blog.
kupikir dia mau bilang nulis atau apa, ternyata dia bilang, bakatnya sains.
Baguslah Nak, kalau gitu. Semoga dia menjadi seseorang yang seimbang maksimal otak kiri dan otak kanannya. Kan ilmumnya bisa ditularkan melalui tulisan. Jarang- jarang lho...
Banyak orang pintar tapi sulit menuangkan kepintarannya dalam bentuk tulisan.Sebaliknya karena pandai menulis, ilmu yang sedikit menjadi abadi dan lebih luas manfaatnya karena dibagikan lewat tulisan.

19 Des
Ambil rapot Faiz. Seneng deeh.. ketemu Bu Guru. Faiz banyak kemajuan katanya, yang awalnya datang pendiam seperti pengamat sekarang sudah mulai terdengar suaranya. Sudah berani berpendapat. Dan sudah bermain dengan semua teman. awal-awal kalau main cari aman. Mainnya sama anak perempuan yang no terjangan, no pukulan, no dorong-dorongan. Nggak mau main bola dsb. Sekarang sih sudah mau, walaupun masih pada tahap main berdua dengan siapaa.. gitu, belum mau main ramai-ramai atau masuk tim futsal. Tapi kan itu kemajuan. Bu Guru enggak tau aja, kalau di rumah main bolanya kayak apa. Ya emang sih.. nggak bakalan ditabrak sama Fikri atau Abi haha
Rapot Faiz juga lumayan bagus, kebanyakan berkembang sesuai harapan.
Hanya satu catatan bu Guru, bu Guru menargetkan Faiz mempunyai hafalan yang lebih banyak dari kebanyakan temannya. Lho ! ini mah bu Guru kasih PR buatku :p

Faiz main bola di sekolah, captured by Bu Guru.

Trus pas ngambil rapot ini juga, ketemu guru Teteh, katanya Teteh sih.. ngumpulin cerpen di hari terakhir. Padahal karya teman-teman lain sudah dinilai karena mengumpulkan lebih awal. (duh ini mah emaknya banget, ikut lomba di saat - saat terakhir). Jadi jurinya menilai cepat cepat.
aku bilangin Teteh, lain kali kalau ada lomba lagi, buat maksimal dan kumpulin di awal waktu. Siapa tahu jurinya jatuh cinta pada pandangan pertama. hahaha

Malemnya aku dibuat ngikik sendiri mendengar percakapan Faiz sama Teteh
Teteh : Iz, mbak besok ulang tahun lho
Faiz : Iya gitu ? kita ucapkan yuk
Teteh : yuk kita bikin ucapin ya besok bangun pagi, kita bikin kartunya.
Terus mereka berdua bikin kartu love-love gitu.

20 Des
Ultah mbak
Pagi-pagi bener Faiz sama Teteh bangun tidur ngasih kartunya ke Mbak. Sayang euy, aku lupa ngambil gambarnya, dan lupa juga ngintip apa kata-kata yang mereka tuliskan #emakKepo

Hari ini juga giliran Fikri dan Mbak terima rapot. Bagian Abi untuk ngambil raport mereka berdua.
Fikri rapotnya alhamdulillah ada kemajuan, pesat. Aku tidak membandingkan dia dengan temannya, tapi dengan dirinya sendiri. Di akhir semester lalu Fikri 10 besar dari belakang. Dan alhamdulillah semester ini melejit ke 10 besar dari depan.


kalau Mbak rapotnya ya lumayan juga. Kan tahun ini sudah berlaku penilaian yang bukan pakai angka tea. Jadi nilai mbak dalam abjad. Nilainya B semua, beberapa B+  ada juga B- tapi aku lupa ada berapa buah. ya alhamdulillah.
Kata mbak, nilai dia bagus tapi tidak memuaskan. hahaha.. syukurlah ya.. kamu udah bikin target sendiri mbaak.. bukan kata Ummi lhoo.....*cuci tangan

21 Des
Ambil rapot Teteh.
Alhamdulillah hasilnya juga bagus. Kalau dari peringkat kelas juga naik. Semester lalu peringkat 6, sekarang peringkat 3. Tapi aku lebih suka membandingkan nilai dia semester ini dengan semester sebelumnya. Naik 1 poin. lumayan lah. Belum seperti semester satu kelas 3 sih. Semester lalu tuh, nilai Teteh anjlok karena dia lagi tergila-gila baca buku. Iyah, tergila-gila. Sampai bukupun dibawa tidur dan disimpan di bawah bantal. Bangun subuh bukannya keluar kamar, malah nglanjutin baca (niru siapa nih...)
Ya sudahlah, toh yang dia baca juga buku yang bermanfaat. Aku hanya mengingatkan saja, jangan sampai jauh tertinggal di pelajaran. Karena Teteh kan masih pakai 'jalur pada umumnya'. Belum yang ngambil spesialis apaaa gitu.... Jadi nilai juga masih penting untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi nantinya.

Satu catatan dari Wali Kelas adalah menanyakan tentang aktivitas Teteh di socmed.
Ya kusampaikan saja, aku tahu mengikuti aktivitas dia. Wong dia fb-an dari hapeku kok. Dan kalau Teteh belum marah aku stalking lewat akun dia, baca-baca inbox dia. Karena Teteh memang lumayan lengket sama aku. Kalau yang besar-besar kan sudah berasa punya privasi gitu. setiap pinjem hape, langsung log out pas hape dikembalikan. hehehe


Itulah cerita singkat minggu lalu. Masih ada satu cerita lagi di week end yaitu tentang peringatan hari ibu bareng ebo-ebo pengajian. Tapi entar lagi deh.. udah pegel nulisnya


Sabtu, 07 Desember 2013

Bingung

Si Teteh kemarin malam masuk kamarku saat aku lagi nemenin Faiz mewarnai.
"Umi, aku bingung deh.."
"Bingung kenapa ?" Siap siapin jawaban pertanyaan
"Kalau aku lagi kesel sama Ayuk sama Mbak, trus aku ngambek gitu, kata mereka aku nggak boleh kekanak-kanakan. Karena aku sudah besar."
"Ya memang benar kan, kamu sudah besar".ih Ummi bukannya ngebelain yah
"Iya, katanya aku sudah besar. Tapi kalau Mbak sama Ayuk lagi ngobrol berdua trus aku datang, mereka bilang aku jangan ikut ndengerin, karena aku masih kecil."
"Oh, itu maksudnya kamu belum cukup besar untuk mendengarkan obrolan tentang anak SMP dan SMA" *ini jawaban ngeles bukan siih?

*dan memang sejak bertahun -tahun lalu aku sudah tidak menggunakan istilah sudah besar atau masih kecil, tapi pakai istilah belum cukup besar untuk..." tepatnya sejak Fikri mempertanyakan hal yang sama saat dia TK.

Sabtu, 30 November 2013

Penyesalan

Ini bukan judul lagu...  #eh ada gitu ?

Malam-malam, pas aku njahit tas yang akan kubagi-bagi buat pengunjung blog sebelah, F3 tau-tau mbanting sim card hp-nya di depanku. Caper banget yaks...
Aku cuma ketawa dan ngeledek...  patah hati ya..
Dia menjawab... 'ih enggak lah yaw..'
Kupikir kejadian itu ya sudahlah ya... palingan dimensyen butut atau apa.. enggak bersambung deh intinya. Eh..ternyata..

Besoknya pulang kantor, habis maghriban dan anak-anak dah ngaji semua, aku agak santai karena semua setuju makan malam bakso sesuai rikues Abi. Tiba-tiba Teteh masuk kamarku dan ngasih tau kalau Ayuk mau curhat.
Kemudian aku masuk kamar Ayuk, dia lagi sms-an sambil manyun manyun gitu. Kutanya ada apa, mau curhat apa, dia hanya menggidikkan bahu.
Aku mau lihat hapenya, enggak boleh. *gemes enggak siih...*
Terus malah dia membuka casing hapenya dengan kasar.
Kataku 'iiih... hati-hati, belum sah jadi milikmu sampai raport semestermu ketauan...' haha mempan juga omonganku. Trus dia buang lagi sim cardnya.
"Ayuk kenapa ? Patah hati lagi?"
*menggeleng*
"Cowok yang kamu taksir nembak orang lain?"
*menggeleng*
"Sahabatmu menghianati?"
*menggeleng*
"Ya terus kenapa ? Katanya mau curhat"
*malah nangis*
Sebentar aku peluk dan aku biarkan dia menangis di pundakku. Romantis banget kayak drama korea -katanya :)
"Dimarahin teman ?"
*diam*
"Dipanggil guru BP? "
*guru BK, Ummiii.....* sahutnya
"Kamu dipanggil guru BK?"
Enggaklaah...
"Kamu ditembak orang?"
*menggeleng*
"Ada guru yang naksir kamu?"
"Enggak atuuuuh... kalau gitu aku mah udah cerita ke ummi kali..."
"jadi kenapa atuh.... kamu galau galau kunaon ?
*membuang hape*
Ummi memutar otak mencari ide.
"kamu menyesal udah salah ngomong ?"
*mengangguk dan nangis lagi lebih keras, aku peluk lebih erat, kubiarkan dia menangis beberapa saat*

"semua orang juga pernah salah ngomong kaliii, itu adalah resiko yang harus ditanggung. kamu juga harus belajar menanggung resiko, karena kamu sudah mulai dewasa. Makanya kan kita harus memikirkan dulu sebelum mengatakan sesuatu. karena kata-kata yang terucap enggak bisa dihapus lagi"
Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

"ummi waktu kecil  dulu juga  pernah menyesal mengatakan sesuatu. Dulu ada teteh teteh gitu yang nakalin ummi, terus ummi bilang ke ibunya, kalau dia nakalin ummi. Eh, terus dia disabetin pakai kayu sama ibunya, sampai nangis teriak teriak. terus habis itu dia dimandiin, diguyur di sumur. Jaman dulu kan sumurnya dipakai ramai-ramai, satu sumur untuk beberapa keluarga. Sampai teman-teman tau semua kalau dia disabetin ibunya. Ummi menyesal deh udah ngaduin dia sama ibunya. walaupun dia salah juga, tapi ummi enggak nyangka kalau dia bakal disabetin gitu. Ya gitu deh, sampai lama dia marah sama Ummi."
*diam sejenak, ummi mendadak sedih ingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu itu*

"trus, kamu udah minta maaf sama temenmu ?"
"udah"
"bagus, trus dia gimana ?"
"ya udah maafin, tapi ya gitu we... aku malu jadinya"
"temen cewek apa temen cowok ?" *ih ummi kepo deh*
*diem aja si Ayuknya*
" ya sudah, semua perlu waktu, dia juga perlu waktu untuk memaafkanmu. kalau dia sudah maafin, kamu harus menunjukkan sikap baik sama dia. Kan kata Rasul, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk"
*gadisku diam saja, agaknya dia menerima kata-kataku*
"ya sudah, kalau udah maafan, pasang lagi sim-cardnya. temenmu kan enggak cuma dia doang. nanti kalau ada teman lain mau sms, gimana. nanti kalau abi atau ummi mau nelpon kamu  gimana..."
*Ayuk nurut dan masang lagi simcard ke hape yang tadi dipisah pisah mana casing mana batere*
"kamu udah cerita ke temanmu soal ini ?'
*menggeleng*
"Kamu menyimpan sendiri dari kemarin ?"
*mengangguk*
"kamu hebat ih, berarti sudah sanggup menanggung masalah sendiri" *asli, ini mah pengakuan tulus*
*tersenyum*
"tau enggak Yuk, dalam beberapa hal, kita banyak kesamaan lho, kamu kan anak tengah, nomor 3 dari lima anak, ummi juga anak tengah, nomor empat dari 7 anak, kata orang, anak tengah itu lebih dewasa. Dan memang Ayuk lebih tenang dan lebih dewasa"
*ketawa*
Akhirnya kami berpelukan lagi untuk beberapa saat.

Jumat, 01 November 2013

Lima Anak Lima Gaya

Seperti yang kusebut di postingan lalu soal LDR, tetiba aja kepikiran mau bikin postingan tentang gaya 'pamit' nya anak-anak kalau mau  keluar rumah.

Sebenarnya urusan exit permit ini adalah wewenang mutlak Abi. Artinya kemanapun anak-anak mau pergi di luar urusan sekolah, maka harus minta izin ke Abi. *lempartanggungjawab ke Abi.
Ya anak-anak pun kayaknya lebih suka pamit ke Abi, soalnya -ini opiniku- Abi lebih ngertiin dunia anak (kota). Aku kan tumbuh besar di desa, dan tipeku kayak yang  enggak punya keinginan pergi-pergi gitu. Bagiku buku-buku, alam,  craft dan makan kenyang, sudah cukup menjadi hiburan.  Jadi ya wajar kaan...  kalau sampai sekarang aku males jalan  ke mall-mall  sekitar kantor itu.
Itulah kenapa kalau anak-anak pamit untuk pergi main (yang menurutku enggak penting) ya aku gak bakal kasih ijin hehe.
Tapi syukurlah yaa... .. mereka izinnya ke Abi, bukan ke Ummi. Walaupun izin sudah keluar, tetep aja siih,  saat pamit ke
Ummi, masih di 'omat' (pesen) banyak hal.
Misalnya : sebisa mungkin enggak lewat waktu makan. Trus  aku juga  lebih galak eh lebih ketat dari Abi soal lamanya bepergian. Bahasaku enggak boleh lewat dua waktu shalat. Selain membiasakan anak agar menjadikan waktu shalat sebagai standar pengaturan waktu mereka, pengennya juga menjalankan ajaran Rasul, segera pulang kalau urusan sudah tersampaikan. Khawatir si empunya rumah mau ada urusan lain, jadi tertunda gegara kita.
Kesimpulannya, kalau pergi main jam 9 ya ashar sudah harus di rumah. Kalau perginya habis zhuhur ya sebelum maghrib udah di rumah. Tapi kalau perginya ashar, ya tetep aja maghrib sudah harus di rumah :p.  Masih konvensional ? Biarin aja. Ini bentuk ikhtiar kami menjaga anak-anak dari hal yang tidak diinginkan di luar sana.

Oh iya, jam malam ini berlaku juga untukku ya... maghrib sudah harus di rumah.  kan orang tua harus kasih contoh...
klo Abi sih dapat hak istimewa luar biasa, karena aku kan  bukan ibunya hahahahaha
Bukan, bukan itu, karena  Abi kan laki-laki, sudah dewasa, insya Allah sudah bisa menjaga diri. Trus kalau pergi juga, pasti urusannya memang penting.  
Walaupun prakteknya Abi juga jarang banget bepergian abis maghrib, kecuali ke pengajian bapak-bapak dan/atau urusan kantor kayak sekarang lagi kena shift, ada 2 hari yang pulang jam 8 malam.

Setelah aku ingat-ingat #haiyah -maklum, faktor U- seperti ini nih gaya pamitnya anak-anakku...

1. Fathimah
Kalau mau pergi ke rumah temen/kerja kelompok, SMS ke Abi langsung,  enggak di cc ke Ummi. Kalau Ummi ngecek sore-sore suka bingung ini anak kemana. Etapi satu dua kali begitu, lihat aja Abi kalau Abi tenang-tenang, berarti semua terkendali.
Kalau berangkat sekolah, pamitnya sambil lewat. Tau-tau udah senyap aja. Nggak ada suaranya.
Kadang aja kalau mau ulangan, suka ada permintaan khusus buat didoakan.

2. Fikri
Kalau dia ini, pamitnya bisa berkali-kali. Habis mandi ganti seragam trus sarapan, setelah sarapan sambil nggendong tas udah pamit. Kalau masih kepagian, dia duduk lagi. Pinjem hapeku dan twitteran. Atau ngelaba sisa sarapan yang kebetulan dia suka. Misal roti/pancake. Atau nggado lauk klo kelihatan banyak. Nanti baru pamitan lagi. Trus pakai kaos kaki, pamitan lagi. Kadang ditambah kata-kata : Ummi, ridho ya.. aku pergi. Ridho ya, kalau aku meninggal hari ini.
Si anak bujang ini masih nurut kalau dicium, enggak lari-lari kayak F1 dan F3 kalau mau dicium Abi.

3. Fadhila
Pamitnya es te de. Konsisten. Biasanya sih habis nyapu, mandi, ganti baju sekolah trus sarapan. Karena seragamnya pakai kerudung blong yang tinggal masukin, F3 ini suka santai - santai saat sarapan. Tapi bukan berarti sarapannya jadi banyak, tapi justru dia susumputan supaya bisa makan dikiiit. Nah habis sarapan, pake kerudung barulah dia pamit. Pamit di saat terakhir.

4. Firda
Firda agak istimewa ini. Mungkin karena belum puas jadi bungsu atau justru karena udah berasa 5 tahun jadi bungsu baru F5 lahir, jadi dia agak spesial. Jangan coba-coba pergi kalau dia masih di kamar mandi atau masih nutup kamar lagi ganti baju. Dia bakalan nangis. Sedih. Jadi kalau mau pergi ya harus dia lihat pleus salaman. Salamannya suka berkali kali. Dulu jaman masih searah aku nganter TK, bisa tuh salaman di rumah sekali, depan kelas sekali, trus pas aku balik ke motor dia ikut lagi ke parkiran dan salim lagi. Uff.. ummi kan udah pengen lari ngejar setor jari. ya tapi syukurlah, biasanya kalau kita tetep ridho gegara anak seperti ini, kok ya enggak telat. Ada ... saja kemudahan di perjalanan yang bikin kita cepet nyampe kantor. Kalau F4 ini suka kasih embel-embel : dadah Ummi, Selamat Bekerja ! Sampai jumpa nanti sore. Dan semacamnya.
Sampai gede sekarang ini, kebiasaan salam berkali-kali masih berlaku. Jadi kalau aku berangkat, sebelum keluar aku salimin anak²  yang masih ada di rumah. Eh nanti pas di luar ketika aku mau naik motor, si Teteh ini bakal minta salaman lagi.

5.Faiz
Faiz ini tepatnya bukan pamitan ya.. tapi dipamiti. Secara dia kan belum pergi-pergi sendiri. Faiz menjadi tempat berkumpul segala kehebohan kakak-kakaknya. Yang salim berkali-kali, yang nangis (kadang) kalau ditinggal, yang kasih ucapan bertubi tubi plus ciumannya juga yang musti pipikanankirijidatjanggut belum pelukannya. Katanya. "Selamat bekerja ummi, bawa oleh-oleh Ummi, semoga selamat Ummi,  sampai jumpang#. Asli pakai jumpang ini mah... bukan jumpa.
Awalnya mungkin karena  dulu belum banyak kosa kata. Asal mirip sama yang didengarnya aja.  Sekarang mah dah keenakkan, pakai kata jumpang itu. Kalau diingetin malah kayak sengaja nylelek gituuu... ya tapi namanya bontot, tetep aja berasa lucu lagi menggemaskan.

Eh,  pas disandingkan gini, ternyata sebagian besar anakku kalau pamit musti berkali-kali ya.. *nurun siapa ini?*
Moga aja bukan karena mereka males sekolah ya... tapi semata-mata karena mereka masih betah di rumah. Hahahaha *bedanya apa?*

Jumat, 11 Oktober 2013

Mencoba Melobi

* Fathimah
Pada suatu sore, sepulangku dari kantor dan tengah istirahat sejenak ba'da shalat maghrib, F1 masuk kamarku dan ngelendot gitu. Aku usap-usap kepalanya.
'Tumben... ngapain peluk peluk Ummi?'
'Kangen, atuuuh'
'Haiyah.. kayak enggak ketemu berapa taun aja'
'Ummi, Abi ngijinin lho aku mbonceng temen aku'
'Udah punya SIM belum ?'
'Udahlaah, kan kata Ummi aku enggak boleh mbonceng anak yang enggak punya SIM'
'Lho katanya kamu paling tua di angkatanmu karena lahir (des) 97?'
'Kan SIM motor sekarang 16 tahun Mi...' (iya gitu ? Dalam hati doang sih... mau bilang nembak kali haduuh inget kata-kata Sondang soal stereotyping ituh)
'Masa sih ? Ummi ketinggalan info nih ...'
'Mi, nanti kalau aku 17 tahun beli motor matic ya....'
'Mmmmm kayaknya kalau buat dipakai Ummi atau kamu ... belum perlu deh mbaak.. Ummi kan masih searah sama Abi, kamu sekolah tinggal ngesot aja, jadi kita belum perlu motor'
Fathimah pun bangun kembalj ke kamarnya.
Ohh... jadi arti pelukan tadi......

*Fikri
Timingnya sama. Pas aku leyeh-leyeh bentar abis maghrib sebelum masak.
Dengan wajah cerah ceria full cengar cengir , pulang bimbel langsung tiduran di sampingku.
"Ngapain cengar cengir ?"
"Ummi, aku TO-nya tertinggi lho se-kota Bandung. Se-Nurul Fikri Bandung."
"Oya ? Hebat dong. Emang berapa nilai kamu?"
"Ummi telpon aja ke NF. Aku minta hadiah 50 rebu ya Mi..." sambil nyengir lebar.
"Ah, Ummi mah mau nunggu pemberitahuan resmi dari NF. 50 rebu mah keciilll (disaat enggak bokek, glek). "
Fikri enggak melanjutkan perjuangan semangat lima puluh ribunya, ganti asyik twitteran pake hapeku.

*Fadhila
Ini mah aku baru masuk rumah.
"Ummi ... aku punya kabar gembira. Aku dapat seragam lagi lho..."
"Seragam apa yang sekarang ?"
"Seragam batik."
"Alhamdulillah..."
"Ummi punya janji ya .. sama aku, mau beliin legging baru" - hihi legging 20 rebuan buat daleman rok sekolah. Aku memang selalu ribut kalau para gadis itu pura-pura lupa gak pakai celana panjang tapi malah pake celana selutut.
"Oh ya... insya Allah nanti besok dibeliin"

See..... yang paling murah dan memang perlu saja yang langsung mendapat persetujuan. Hahaha dasar emak pelit eh irit ya...

Minggu, 15 September 2013

SMS Istimewa

Dua minggu lalu, waktu aku sakit flu berat pleus batuk yang sampai bikin terk*ntut-k*ntut  akhirnya aku menyerah pada dokter. Rupanya kunyit madu tidak  mempan lagi untuk mengobati sakit gegara banyak dosa ini. Akupun dikasih obat dan dokter memaksaku istirahat dua hari. *lupakan potongan demi kesehatan*
Gara-gara minum obat ini, kalau malam aku tertidur cepat. Pas malam pertama istirahat itu, aku bener-bener enggak dengar apa-apa habis isya. Termasuk lupa juga gimana Faiz tidur nantinya. Karena kebetulan malam itu Abi jadwal pengajian.
Tau-tau sekitar jam sepuluhan Ayuk ngetuk-ngetuk pintu sambil nggendong Faiz. Katanya Faiz kebangun dan nangis. Fikri yang sekamar malah tidur dengan nyenyaknya. Sementara Abi belum datang dari pengajian. Antara sadar dan tidak, aku bergeser dan memberikan ruang untuk Faiz tidur di kamarku. Beberapa waktu kemudian, ketika Abi datang menanyakan kenapa Faiz tidur di kamar kami, sambil ngantuk kujawab 'tadi udah ke atas tapi kebangun dan nangis'. Abi pun maklum.
Nah yang bikin nyeesss adalah, pagi hari ketika aku terbangun  ternyata semalam  ada SMS dari Ayuk yang enggak kebaca olehku. *Boro-boro ya... namanya juga lagi teler..
Haduuuh.... emak-emak gampang mewek inipun langsung terharu.
Akupun bersyukur semalam ngijinin Faiz gabung,  ternyata sepanjang sisa malam itu, Faiz agak demam, dan makin panas tinggi di pagi hari. Entah kenapa. Mungkin semalam pas dia nangis itu, sebenernya sudah merasa enggak enak badan. Tapi gak bisa menyampaikannya. Alhamdulillah Ayuk dengar tangisan Faiz dan membawanya turun. Akhirnya sepanjang Senin itu, ada dua orang sakit kruntelan di rumah, sementara yang lain beraktivitas.

Jumat, 30 Agustus 2013

SOPAN SANTUN

Waktu baca postingan Baginda Ratu tentang ebo ebo enggak sabaran yang nggedor nggedor toilet, aku langsung keinget sama salah satu ibu dari teman Ayuk. *marikitamenggosip*
Kan banyak ya.. teman Ayuk yang sering main ke rumah, tapi hanya ada satu teman Ayuk yang ibunya istimewa sekali.
Setiap menjemput si anak, ibu itu tidak pernah turun dari motor, tapi teriak teriak dari jalan memanggil nama anaknya. Yup, saya ulang, TERIAK.
Ya ampuuuuunnn..... cuma ngelus dada.
Klo yang namanya menjemput, buatku WAJIB turun dan KETEMU sama orang tua teman anak kita. Minimal bilang terima kasih, anak kita udah ngerecokin dia, sukur sukur kita mbawain apa gitu.. sebagai ucapan terima kasih. Jadi, teriak dari jalan, buatku is enggak banget.

Nah kok ya kebetulan, si teman Ayuk itu sekarang pisah sekolah sama Ayuk. Beberapa hari lalu Ayu nunjukin akun IG si anak itu, yang foto enggak pakai baju, pakai handuk doang, sambil statusnya "habis mandi" lengkap pakai handuk di kepalanya. *bisaku-link kan siiih.. tapi enggak usah aja deh*
Eh, ini bukan anak gadis lho ya.. yang kuceritakan. Tapi anak kemarin sore yang BARU lulus SD belum genap 3 bulan.
Aku tanya Ayuk, trus kamu bilang apa ke dia?
Ayuk bilang : aku sms dia, kenapa foto gitu diaplod, malu atuh
Dia jawab apa ? tanyaku.
Diem aja.
Akhirnya aku bilang Ayuk, "ya batasan sopan santun keluarga dia, BEDA sama batasan keluarga kita. Mungkin dia lihat di luar banyak gambar orang gak pakai baju dan itu biasa saja, jadi ya dia berani aja posting foto gituan. Dan bukan dianggap sesuatu yang memalukan."
"udah salah pergaulan kali Mi"
"Asal kamu ingetin dia aja" kataku.

Nah, pas kemarin malam malam ada teman Fikri yang teriak teriak manggil Fikri dari jalan, dan aku pas berdua sama Ayuk di kamar, aku ingetin lagi.
"kamu kalau ke rumah temanmu jangan teriak teriak gitu. pencet bel dan tanyakan baik baik"
"Iya atuh Ummi, aku ingat pesan Ummi"

Semoga ya Nak, ingat dan selalu ingat.

Selasa, 16 Juli 2013

Hari Pertama Sekolah

Enggak TK, enggak SD enggak SMP bahkan SMA, hari pertama sekolah itu selalu seru. Menyimpan tanya. Gimana nanti ya? Apalagi bila masuk sekolah baru.

F1 mulai masuk sma dengan seragam smp-nya. Katanya ada acara MPLS. Masa Pengenalan Lingkungan sekolah. Kata bu kepsek waktu rapat ortu hari Sabtu kemarin sih enggak bakal ada ospek. Nggak akan disuruh pake pita pita. Si mbak rada hebohan orangnya. Semalem pinjem topi smp segala. Padahal di sekolahnya kalau berkerudung tidak wajib bertopi. Ya udin, tinggal sepakatan aja kenapa ? Ya tapi gitulah. Klo nggak heboh nggak seru. Trus bawa karton dikasih nama dia pleus karron ukuran 60x60 cm yang dibungkus plastik. Kuusulin pake kresek putih.Eh Abi keidean pake plastik putih besar besar bekas bungkus tupperware. Passss... ada yg lebar 60cm. Sorenya  pulang sekolah Fathimah dapat tugas bawa papan nama (lagi) kali ini segi lima, ada foto pake baju batik (mendadak foto menjelang buka puasa kemarin) pleus ada logo sma 24 (digambarin manual pake tangan). Tris si karyon 60x60 harus digambarin peta kota Bandung (dan Abi yang nggambarin si mbak tinggal nebelin+ngewarnain) .
Entah dapat tugas apa lagi ntar sore nih...

F2 masuk kelas baru, naik kelas 3. Hhhhmmmmmm.... meski enggak heboh tapi rada dagdigdug melepas si boy .  Kemarin raportnya berhias 'A' beberapa hari. Padahal kan dia sekolah teruus. Abinya sampai murka eh marah saking marahnya sampai enggak bisa marah kayak dulu pernah salah satu anak ada yng drop raportnya dari 10 besar ke no 2 dari belakang. Ceritanya Fikri kemarin liburan kena hukuman enggak boleh main. Boleh keluar kalau ke masjid atau disuruh Ummi ke warung.
Si Fikri ngelesnya itu adalah beberapa hari di hari class meeting. Dia ke sekolah tapi males nyari guru yang pegang absen *duh langsung nunjuk  nurun dari siapa nih ogah beramah tamah*
Nah pas mau berangkat sekolah si Fikri nanya "Ummi ridho enggak aku berangkat sekolah?"
Beuuh mau jawab apa coba? Ya pasti ridholah, asalkan enggak mampir ke mana mana, asalkan dijaga waktu waktu sholatnya. Gunakan masa muda sebelum menyesal. Dan ceramah lainnya. Si Fikri berangkat sekolah.

F3 hari pertama masuk smp. Dapat tugas bawa nama yang digantung di leher dan 'kursi goyang' dari karton ukuran 30x30 cm yang ditulisin kursi goyang. Biasa aja enggak terlalu heboh. Enggak boleh bawa hape, padahal salah satu yang bikin ngebet pengen smp adalah karena anak anak baru dibelikan hape sendiri setelah smp :p Ya sudahlah. Takdir aja Ayuk dapat sekolah yang memasukkan larangan bawa hape ini. Meski sayah sebagai ortu rada keberatan ya, karena hape diperlukan untuk koordinasi penjemputan dsb.
Pulangnya cuma dapat tugas nge-laminating kertas Asmaul Husna yang dibagikan sekolah.

F4 masuk kelas 4. Kelas baru, baju baru setelah 3 tahun pake baju seragam yang sama, sepatu baru (beli di pasar 50rb doang) daan wali kelas baru. Kayaknya Firda seneng dapat wali kelas yang ini, bapaknya fun gitu, suka nyanyi dan menggubah lagu. belom belom sudah bikin moto kelas, yaitu kelas JUARA it's mean jujur, unggul, aktif, rapi, akhlak mulia.
Semoga bikin anak anak tambah semangat. Amiiin

F5 hehe drama was began....
Sebelum hari h setiap hari ngobrolin ini tanggal berapa karena ingat tanggal 15 masuk sekolah. Pagi pagi bangun subuh tidur lagi dan minta dibangunin jam 10. Whaat??? Yes ! Kalau jam 10 kan sekolah udah usai dan ini berarti dia enggak perlu sekolah. Si Abi cuma geleng geleng kepala aja lihat kelakuan bungsunya.
Dengan sedikit bujuk rayu maulah dia mandi pagi dan sarapan. Pas mau berangkat jalan pelan pelan keluar rumah. Kata Abi biasalah itu, nervous hari pertama. Udah dijanjiin, kalau hari ini masih nangis konsekuensinya besok ummi enggak ikut ngantar. Iya sepakat. Eh... ternyata masih nangis juga. Pake suara keras dan kaki menjejak-jejak tanah. Si Abi lihat anaknya nangis malah diambil videonya. Haha.. Aku dah percaya aja sama bu guru TK attakwa ini, lha mbak aja dulu sampai sebulan dramanya. Karena agak lama nangisnya akhirnya Abi manggil Faiz, dipeluk dulu tapi tetep harus kembali ke barisan. Akhirnya Faiz menyerah sama bu Noneng. Digandeng masuk kelas tinggal isaknya. Dah enggak bunyi. Dan ya... selama di kelas duduk manis ngikutin belajar. Drama pisan kan? Pas istirahat juga masih digandeng -gandeng sama bu Noneng. Udah nggak nangis tapi enggak mau main apapun.  Bahkan ketika diajak main sama Abi juga gak mau. *dendam sigana hahaha....
Aku mengintip aja dari lokasi yang Faiz enggak bisa lihat aku. Takut dia nangis lagi lihat aku.
Sampai pulang aman. Enggak nangis. Pas pulang juga ketawa seperti gak ada adegan drama sebelumnya. Acting pisan budak teh...
Nah sesuai perjanjian kemarin hari ini tadi Faiz sekolah hanya berdua Abi. Sempat melangkah gontai sebelum pergi. Tapi pas pulang sekolah tadi teriak "aku nggak nangiiis....." hebat . Besok jangan nangis lagi ya....

Selasa, 09 Juli 2013

H2C

Kayaknya kesibukan sebagai pengacara baru   masih agak tersisih dengan kondisi ini termasuk kehebohan Faiz untuk belajar sekolah di At-Takwa yang Sabtu kemarin memasuki hari keempat alias pertemuan terakhir sebelum dia sekolah beneran di sana.
Apa sih yang sampai segitunya membuat harap harap cemas ?
Apalagi kalau bukan pendaftaran anak sekolah.

Syukurlah ya... sejak beberapa tahun terakhir ini, hasil seleksi masuk SMP, SMA (hihi di situs PPDB istilahnya masih SMA) dan SMK Negeri di kota Bandung dapat dilihat secara online. Dari mulai data pendaftar sampai rekapitulasinya ada. Kita bisa tahu berapa passing grade atau gampangnya nilai terkecil agar dapat diterima di sekolah yang kita tuju. Lumayan membantu walaupun tentu saja itu sampai pendaftaran sehari sebelumnya. Jangan sampai gara-gara tidak memperhitungkan passing grade ini anak-anak tidak berhasil masuk sekolah negeri ( dan dekat rumah).  Kenapa sekolah negeri ?Simpelnya ini pilihan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan tentu saja. Keluarga lain punya pilihannya masing-masing.

Dengan nilai UN yang didapat mbak, alhamdulillah kami lebih tenang. Pilihan pertama dia SMA 24 di klaster 1 dan pilihan keduanya SMA 23 di klaster 3. Kalaupun dia enggak diterima di pilihan pertama, insya Allah bakal masuk di pilihan kedua. Hasil pantauan melalui PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online Kota Bandung, sejak hari apa itu dia mendaftar, posisinya masih aman di pilihan pertama.

Tapi dengan nilai yang didapat Ayuk, rupanya ini menjadi pengalaman baru bagi kami sekeluarga.
Bukannya tidak menghargai hasil jerih payahnya, tapi hendak mengajarkan bahwa di dunia ini selain kita berjuang melawan sisi negatif diri kita, kita juga berlomba dan bersaing dengan orang lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sedih pas melihat di hari ketiga Ayuk sudah kehilangan pilihan pertamanya di SMP 17. Kamipun membujuk agar dia mau ke SMP 50 yang ibaratnya tinggal ngesot saking dekatnya. Awalnya dia enggak mau karena deket banget sama rumah. Eh pas dia udah mau, ternyata di hari berikutnya nilai dia udah lewat juga. Ayuk mulai menangis diam diam. Setiap ditanya geleng kepala. Pilihan pertama berubah lagi ke SMP 49. Ternyata di hari kelima, lewat pula. Pas Jumat malam itu tinggal 2  SMP Negeri -agak dekat dari rumah-  yang masih memungkinkan nilai Ayuk masuk. Satunya SMP 22 di jalan Supratman, satu lagi  SMP 20 di Kosambi. Udah jauh dari rumah kalau ukuran Abi.
Sabtu, hari terakhir pendaftaran, bismillah memilih SMP 22 di pilihan pertama dan MTs Negeri 2 di Cicaheum sebagai pilihan kedua.
Abi sempat cemas ketika Sabtu menjelang maghrib belum ada nama Ayuk di sekolah manapun. Aku menghibur mungkin masih proses input data. Alhamdulillah habis isya sudah ada nama Ayuk diterima di MTsN 2.
Dan benar saja karena salah perhitungan passing grade, ada teman Ayuk yang akhirnya tidak diterima di SMP manapun. :(
Ayuk kelihatan belum lega diterima di madrasah. Masih terlihat melamun diam diam dan menangis sembunyi sembunyi.  Dia ingin sekolah umum seperti kedua kakaknya. Setelah Abi memberikan pemahaman, bahwa ini bagian dari keputusan Allah, bahwa Allah berikan yang terbaik buat kita, Allah berikan sesuai yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, terlihat Ayuk lebih legowo. Pas hari Minggu siang Ayuk diajak Abi melihat calon sekolahnya, dia langsung jatuh cinta.
Dan Senin ketika dia menerima surat resmi tanda diterima melalui guru At Takwa -karena ndaftarnya kolektif - dia sudah tertawa tawa dan berani menunjukkan foto foto sekolah barunya. Apalagi ketika diberitahu bahwa MTsN 2 adalah madrasah tsanawiyah percontohan dia makin bangga. Kepala At Takwa secara khusus berpesan agar Ayuk menjaga nama baik  AtTakwa karena alumninya sudah dikenal di sana.
Yah satu pelajaran baru sudah dilalui kami sekeluarga. Benar kata Ayuk, hidup itu tak semulus paha cherybelle.

Kamis, 04 Juli 2013

Dialog Bapak Anak

Sabtu sampai Minggu kemarin Ayuk panas. Dua hari itu dia tiduran aja di kamar. Enggak mau makan. Mainin hape. Aku tiduran di tempat tidur sebrangnya sambil membaca Album Kenangan Ayuk di SD. Abi masuk kamar dan tiduran di samping Ayuk

Kamu jangan meninggal dulu atuh. Belum ngrasain SMP
Iya enggak bakalan.
Emang nanti kalau besar kamu  mau jadi apa ?
Enggak taulah
Mau bikin grup band ?
Enggak mau ah. Kalau grup band kan harus mau pake rok pendek2 gitu
Emang enggak bisa pake kerudung kayak grup apa dulu itu ?
Sunny ?
Iya .. tuh kan mereka pada pake kerudung
Iya makanya mereka enggak terkenal. Nggak tau di mana sekarang
Mau nyanyi sendiri kayak Fatin ?
Enggak ah. Malu
Kan duitnya banyak
Iya tapi suaranya kudu bagus
Atau mau main sinetron?
Enggak mau. Cape. Soalnya berangkat (shooting)nya pagi pagi nanti pagi lagi baru pulang. Si itu aja ada yg dipecat sama manajemennya gara gara mau pulang jam lima.
Iya emang. Abi juga dipecat gara gara mau pulang jam 5 mau main sama anak anak
Ah, abi bohong. *ketawa
Trus jadi apa nanti ?
mau jadi ibu rumah tangga aja
Terus karirnya apa ?
Ya kumaha nanti we
Trus keahliannya apa, kan ibu rumah tangga punya keahlian khusus
Ya apa yaa ... masak lah
Nanti kamu kayak chef mari**a. Pake baju pendek2. Atau kayak chef F**** Q*** pake baju dadanya keliatan
Ya enggaklah aku kan masaknya di rumah
*pengen suami kaya tapi Bi...*ada yang nimbrung
Enggaklah, enggak harus. Pengusaha.. nanti aku bikin kafe gitu. Kan hidup itu enggak selalu lurus. Kata anggun juga hidup enggak semulus paha cherrybelle
*ketawa
Oya? Anggun bilang gitu ?
Iya ada di you tube
Trus kalau mau bikin kafe kenapa kalau abi bilang pagi2 bantuin ummi kamu enggak mau?
Kafe aku kan jualan kopi. Enggak jualan masakan. Ummi kan enggak pernah bikin kopi.
*ya belajar sama abi tuh bikin kopi*
Abi kan bikinnya kopi sachet
Kopi aja ?
Iya. Kopi yang dicampur campur gitu. Kan katanya  lebih enak yang diramu daripada yang sachet.
*obrolan terhenti


Ayuk dan Abi tahun 2005

Selasa, 18 Juni 2013

Pengumuman kelulusan Ayuk

Lain ladang lain belalang. Lain anak lain gayanya.
Berbeda dengan pengumuman kelulusan mbak yang pake drama, pengumuman kelulusan Ayuk dia langsung yang nerima di sekolah. Jadi memang kebijakan sekolah si anak sendiri yang nerima amplop pengumuman itu. Emang sih amplopnya tertutup. 'Kepada'nya orang tua siswa. Tapi anak anak diijinkan membuka amplop tersebut.
Sabtu tanggal 8 itu seharusnya Faiz trial lagi di Attakwa. Aku udah kondisikan dia dari Sabtu sebelumnaya bahwa sekolah nanti hanya diantar Abi karena Ummi mau me time ngaji. Tapi ada satu hal yang aku luppppaaa *istridurhaka* Sabtu subuh adalah jadwal Abi setoran hafalan di pondok quran. Selama ini jadwal tersebut tidak beririsan denganku karena Sabtu kan agak santai. Nah ini sabtu aku ngaji jam 7 trus langsung Sekolah Ibu. Faiz udah kugantiin pakaian dan belum kujawab permintaannya mau ikut ngaji.
Nah pas Abi datang jam 7 kurang gitu Abi malahan ngasih ijin Faiz ikut aku. Libuuur deh trialnya.

Judulnya hari itu aku udah konsen aja di acaraku. Setelah selesai pertemuan dengan ibu-ibu pengajian aku langsung menuju Sekolah Ibu Pasir Endah. Pulang pulang udah hampir jam 12 siang. Sambil melepas lelah aku leyeh-leyeh di kasur. Eh tiba tiba terdengar salam Ayuk, masuk masuk langsung nangis. Aku bingung kenapa ini anaak. Ternyata oh ternyata lebih lebih dari drama. Ternyata dia takut dimarahin karena nilai UN-nya 'kecil' tepatnya nilai dia lebih kecil dari kakak kakaknya.
Aku peluk dan hibur Ayuk tapi malah nangisnya tambah sesenggrukan. Abi yang baru keluar dari kamar mandi dan mendengar keributan langsung ke TKP. Baru setelah Abi meyakinkan bahwa Abi puas dan bangga dengan hasil yang dicapai Ayuk, nangisnya reda.
Daaaaaan hasilnya adalaaah:


alhamdulillaah, 25.15

Selasa, 04 Juni 2013

Berakhir Pekan di Sekolah

Dua kali akhir pekan ini, acara masih seputar di sekolah anak-anak.  Sabtu akhir bulan Mei ada acara project school. Namanya ganti, tapi acaranya mirip market day di tahun - tahun sebelumnya. Anak-anak berjualan, ada pentas seni juga dan tentu saja lomba lomba. Etapi tahun ini enggak ada lomba / pengumuman lomba.

Teteh Firda jualan carrot cake bikinanku, resepnya dari Mak Sondanglaah.. tapi untuk penghematan aku enggak pakai creamchees, pakainya krim biasa yang ditaburi keju parut di atasnya. Sayang seribu sayang, biarin aja dibilang hoax juga, karena buru buru bikinnya pagi itu, jadi aku nggak sempat ambil gambarnya. Tapi malamnya aku sempat nytatus di fb, tentang pengalaman marut wortel dalam proses carrot cake ini *penting.
Ternyata jualannya anak kelas 1-3 yang menunggui adalah orang tua murid. ALhamdulillah jualan Teteh habis. Katanya ada yang memborong.

pura-pura nytatus, padahal jualan parutan :D
Kelompok Ayuk  jualannya macem-macem, mungkin karena kelas 6 juga ya.. semua sudah bisa menghandel. Ayuk jualan roti bakar, agar-agar (nggak tau yang bikin siapa),  trus jualan juga gelang - gelang bikinanku.

gelang rajutanku

canded camera - Ayuk membakar roti (toaster sponsored by Mak Sondang)

Firda pentas angklung - hayooo cari yang mana dianya..
Ngomong - ngomong soal pentas ini, si Ayuknya rada ngambek, karena kami tidak menunggu sampai dia pentas. Adooooh... maapin ya kekurangsensitipan Ummi dan Abi, kirain karena dia sudah besar, ya sudahlah... ngapain juga nungguin, mana acara off dulu satu jam, sedangkan aku belum masak segala buat makan siang F2 karena  F1 lagi study tour ke Yogya.
Maka setelah capcus dari Attakwa kami mampir dulu makan bakso di bakso Sugih, jalan AH Nasution. Enak lhooo... recomended deh, mie ayamnya apa lagi. Sayang ya.. aku kan pergi sama Abi, jadi enggak bisa futu futu makanan *jaim dikit

Naah.. setelah itu, Abi mengajak kami muter muter komplek, dan mampir beli helm ! kejutaaaan... Rupanya Abi jatuh hati kasihan lihat helm aku dari 2007 belum ganti sementara dia udah beli helm ke3 kalinya. Jadilah aku memilih helm cewek untuk memulai pencitraan anggun dan sholihah. *bekappakemasker

sebenernya sama beli helm F5 juga, tapi ntarlah ceritanya


Kamis, 09 Mei 2013

I'm not an achiever

Pas awal awal Sondang masuk SBM dia cerita di acara semacam pengenalan kampus gitu kalii yaa, ada sesi di mana dia dan teman teman seangkatannya 'dilepas' begitu saja di alun alun Sukabumi tanpa dikasih uang saku dan diminta mencari cara gimana caranya untuk bisa pulang ke Bandung. Terus Sondang ceritalah apa yang dilakukan anak anak SBM itu, ada yang ngajar, ada yang bikinin program di sebuah BPR, ada yang nawarin jasa mbersihin got, dsb. Aku malah lupa apa yang dilakuin Sondang saat itu, yang kuingat cuma episode dia sakit di alun alun itu. #peace ya Ndang.....
Sebagai orang jadul yang sangat awam maka akupun bertanya sama Sondang, apa maksud dan tujuan sesi itu. "Achievement More" kata Sondang.
Cerita tadi begitu membekas dalam benakku, pantesan orang orang sukses itu makin sukses karena jiwa achievement more-nya itu diasah terus menerus.  Dari the gank makan siang aja aku dah belajar banyak hal. Gak usah lah sampai ke tahap ngelmu akademik yang pastinya aku gak akan sampai, dari sehari hari aja urusan masak memasak aku dah ketinggalan jauh. Tri kalau nyobain resep itu begitu telaten sampai menghasilkan masakan yang 'sempurna'. Enggak heran kalau kukis dan kue kue buatan dia udah mulai banyak yang pesen :) *aku pesan gratisan aja yaaa....
Sondang juga demikian, aku masih inget pas dia belajar bikin perkedel dulu masih nanya itu mbuletinnya pake tangan apa pake sendok, kujawab suka suka kita lah mau pake tangan atau pakai dua sendok sampai akhirnya si Iko meracuni bahwa untuk mencetak perkedel yang necis itu cukup menggunakan skop es krim :p

Berharap barang  sedikit dari semangat achiever mereka itu menular kepadaku. Kayaknya musti memperbanyak pergaulan sama mereka nih, semoga  ntar klo Sondang lulus SBM *selesaiin tesismu Mak eh dapat ART dulu* trus  jadi kasi humas aku ditarik jadi anak buahnya, kan bisa coaching, biar bisa belajar banyak dan lebih sering ditraktir :p

Kembali pada diriku sendiri kenapa sampai berkesimpulan seperti itu, kalau kuingat-ingat jaman SD aku leading di pelajaran, juara kelas, maklum tinggal di kampung. Sekampung apakah ? Jangan bayangkan laskar pelangi ya.. Gambaran aja, enggak sampai 2/3 teman SD ku melanjutkan SMP dan lebih sedikit lagi yang kemudian sampai SMA. Bahkan rival terberatku di SD, malah gak ke SMP karena langsung ijabsah gak lama setelah menerima ijasah.

Kemudian aku lanjut SMP ke kecamatan sebelah, ketemulah aku dengan anak-anak pinter dari SD di beberapa kecamatan. Saat aku menyadari bahwa aku 'tidak mungkin' dapat menyalip kepandaian mereka maka akupun menyerah berjalan dalam speed aku saat itu. Aku sampai lupa aku juara berapa saat SMP yang jelas targetnya hanya cukup 10 besar di kelas ( di kelas yaaaa bukan di angkatan ).

Pas aku SMEA kembali aku menemukan lawan yang 'seimbang'. Aku milih SMEA saat itu karena memang aku ingin langsung bekerja setelah lulus. Apa saja lah semacam pekerjaan klerikal gitu. Selain itu, sebagai anak PNS yang tujuh bersaudara aku sadar bahwa bapak dan ibu pasti akan lebih sulit mengatur keuangan kalau aku kuliah. Kemudian setelah bekerja aku akan segera menikah dan punya anak. (Lihat, cita cita saja aku tak punya ).
Maka di SMEA ini kami bersaing di dalam radiusku . Maksudnya aku enggak perlu belajar jauh lebih keras. Hasilnya waktu itu aku meraih NEM tertinggi, dan sainganku itu kedua. Sebaliknya dia meraih nilai ijasah tertinggi dan aku kedua. Atau sebaliknya, sudah lupa. Maklum itu sudah 22 tahun lalu *masya Allah.... sudah setua itukah aku saat ini?
Trus kenapa nyasar sampe STAN ?
Itupun kudapat tanpa perjuangan yang berarti karena memang sudah rejeki. Trus mungkin karena aku ujian juga tanpa target, jadi ngerjainnya soal ujiannya yaah....biasa aja...... no stress. Lagipula saat itu masuk stan tidak sekeren sekarang, persaingannya ketat sekali.
Awalnya  di STAN lumayan pede berdampingan sama anak SMA ngerjain akuntansi. Tapi setelah ketemu dengan intermediate, advance, akpem, maka akupun menyerah. Ibaratnya IP aku di stan itu 3,2,1 dari tingkat satu sampai tiga. Lulus ? Ya enggaklaaaahhh.....

So bagaimana aku menjalani hidup tanpa target gitu ? Alhamdulillah Allah kasih kreatifitas padaku. Aku selalu percaya ada cara lain. Selalu percaya ada alternatif. Maka buatku tak masalah itu atau ini tidak tercapai, karena aku akan segera menemukan penghiburan lain atau pencapaian di bidang lain.  Tapi itu some time enggak baik juga. Klo misalnya sekedar gak laku dagangan ini insya allah bakal laku dagangan itu mah masih enggak masalah, tapi kalau mau ikut ustadz Yusuf Mansur one day one ayat kemudian aku punya alternatif one week one ayat kan jadi berabee  x_x

Nah yang bikin aku kepikiran adalah pas kemaren sebelum UN si F3 bilang gini  'ummi klo aku gak masuk smp 17 (klaster 2) gimana?'  Reflek doooong aku menjawab 'nggak papa.... masih ada smp 50 (klaster 3)'.
"Aiih si ummi mah .... bukannya,  menyemangati malah bilang gituuu" F3 sewot.
"Yaa abis bagaimana lagi ? Masuk kemana kemana itu kan tergantung NEM kamu. Ummi kan hanya menawarkan alternatif solusi :p" * asli jawaban ngeles.

Nah itu, I'm not an achiever mungkin gak terlalu jadi masalah buatku. Tapi kalau aku kemudian enggak bisa menyuntikkan pada anak-anakku semangat untuk berprestasi lebih tinggi , untuk meraih cita cita yang diimpikan, itu baru masalah yaaaa....
Ah kudu belajar achieve more nih.
Helpppp...............,.

Selasa, 12 Maret 2013

Oleh-Oleh Mabit

Pas aku lagi asyik asyik masak, tiba tiba si F3 yang pulang mabit sekolah nyamperin aku di dapur sambil ngomong
"Nanti kalau ummi dan abi udah tua, trus aku sudah menikah, aku mau tinggal sama ummi ah. "
'Malu atuh, kalau kamu sudah menikah tapi tinggal sama ummi sama abi" si F1 duluan nimpalin.
'iya nanti kalau kamu sudah menikah kamu harus belajar mandiri, tinggal di rumah sendiri ' aku menyetujui pendapat F1.
'Bukan gitu maksudnya, maksudnya aku mau nemenin Ummi sama Abi" F3 meluruskan persepsi .
'Yah yang ada kali kamu ngajak ummi dan abi tinggal sama kamu Yuk.. ' mbak juga meluruskan pendapatnya.
"Emang kenapa Ayuk jadi kepikiran kayak gitu ?" tanyaku.
"Tadi aku kan habis nonton film. Ih sedih deh Ummi. Sampai anak anak pada nangis"


Pas sorenya lagi baring-baring di kamar, si F3 masih nyambung pembicaraan itu lagi.
"Nanti ya, pokoknya aku mau ndengerin semua cerita Ummi, nggak akan bosen walaupun cerita Ummi diulang ulang juga... aku sayang deh sama Ummi. *ummi terharu ceritanya, tapi gak mau ngaku, malah nimpalin :
'Eh, pasti kamu nonton film yang ini ya..
yang ingatkah dulu ketika kamu kecil, kamu minta dibacakan cerita yang sama berulang ulang
ingatkah ketika kamu kecil... bla bla bla.. Aku ngomong biar gak keliatan kaca kaca di mataku. hihi..
"Iya Ummi.. aku nonton film itu".
Yang mana sih ? Penasaran ya ?
Sebenernya itu sudah lama sekali ya.. suka dapat kiriman - kiriman slide gitu. Sekarang  pas udah jaman bbm, sering juga dapat bc-nya. Nah yang pengen tahu, pengen ingat, lengkapnya adalah sebagai berikut :

*********
Anakku yang kusayangi 
pada suatu saat dikala kamu menyadari
bahwa aku telah menjadi sangat tua,
cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku
jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan,
jika aku mendapatkan kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri,
sabarlah!
kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku
untuk mengajarimu tentang segala hal yang perlu kau tahu,
saat kau masih kecil.

jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali,
janganlah menghentikanku!
dengarkanlah aku!
ketika kau kecil,
kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang,
dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur,
dan aku lakukan itu untukmu !

jika aku enggan mandi,
jangan memarahiku
dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan!
ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu!
aku mengajarimu banyak hal,
cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik,
berperilaku yang baik,
bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.

jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan ,
beri aku waktu untuk mengingat, dan jika aku gagal melakukannya,
jangan sombong dan memarahiku,
karena yang penting bagiku adalah aku dapat bersamamu
dan
dan dapat berbicara bersamamu

jika aku tak mau makan,
jangan paksa aku!
aku tahu bilamana aku lapar dan tak lapar.
ketika kakiku tak mampu lagi menyangga tubuhku untuk bergerak seperti sbebelumnya,
bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku,
mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.
dan kala suatu saat nanti,
ketika aku katakan padamu bahwa aku tak ingin lagi hidup,
ketika aku ingin mati,
jangan marah,
karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti!
cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu,
kita tidak akan benar-benar “hidup” lagi,
kita hanya “tidak mati”!

suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat,
aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu
dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.
kau tak usah merasa sedih,
tidak beruntung atau gagal dihadapanku melihat kondisiku
dan usiaku yang sudah bertambah tua.
kau harus ada didekatku,
mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu,
bagi kesuksesanmu,
seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.
bantulah aku berjalan,
bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran.

Minggu, 17 Februari 2013

Jalan Jalan Siang

Sudah sekian lama nggak jalan bareng sama anak anak. Selain karena jadwal antar anggota keluarga yang jarang match, juga karena keinginan dan kantong tidak berjalan seiring. *wkwkwk alias kantong keburu kering, tidak ada budget untuk jajan jajan.

Minggu lalu pas ada kegiatan lomba tumpeng antar Sekolah Ibu, kepikiran mau ngajak anak anak. Mumpung acaranya nggak terlalu serius, tempatnya pun cukup luas, mereka dapat bermain dengan leluasa di GOR tersebut.

Yang mau ikut cuma F3-F5. Ayuk, Teteh dan Faiz. Berempat naik motor enggak mungkin. Kalaupun naik ojek, waaah jadi dua ojek doong.. mendingan uangnya buat beli es. #eh.
Berhitung sama anak anak, akhirnya mereka bersedia jalan kaki. Yippie...

Agar jalan kaki terasa santai, maka aku tidak melewati jalan pada umumnya. Tapi anak anak kubawa masuk gang. Pertama, tentu saja biar enggak kepanasan. Kalau lewat gang kan relatif banyak pohon dan rumah. Kedua biar enggak ramai dan banyak kendaraan. Jadi aku tinggal lihatin anak anak jalan semaunya *hihi* nggak khawatir kesenggol ojek. Ketiga mengajak mereka berpetualang dan mengenali lingkungan sekitar rumahnya.

Aaah, ternyata anak anak senang sekali dibawa  masuk keluar gang. Tebak tebakan belok kiri apa kanan ketika gang bercabang. F3 dan F4 terkenang kembali masa kecil mereka. Pas sampai di tempat yang dulunya berupa sawah, mereka kaget, di situ sudah berdiri puluhan rumah dan juga calon rumah

anak anak takjub melihat pemandangan baru
Setelah melihat lihat perubahan di sana kami melanjutkan perjalanan ke acara lomba tumpeng itu. 
Namanya anak anak, hadir di acara ibu ibu hihi pastilah mereka enggak merasa asyik. Bahkan justru mereka membuat sendiri acara yang mengasyikkan. Berlarian sana sini, melihat lihat kolam ikan di halaman GOR, klo si F3 sih asyik maen hape :p  Sayangnya aku nggak bisa segera meninggalkan lokasi, karena aku salah satu juri lomba tumpeng itu.

Setelah acara lomba selesai, baru deh, kami melanjutkan jalan jalan siang. Kemana ? dekat saja. Ke Kabayan Ujungberung. 
Makan minum sepuasnya berempat, habisnya gak lebih dari cepek. Iriiiit kaaaaan ? Tapi lumayan memberikan nuansa baru buat anak anak

bergaya sejenak setelah makan enak

Faiz masih asyik minum jusnya, si Fadhila udah mau bergaya aja

Ayo Teteh Firda, teruskan perjuanganmu menghabiskan bakso di mangkokmu

Ummi dan Teteh
Ketiga anak itu nampaknya cukup puas untuk acara jalan bareng kali ini. Terbukti pas pulang mereka enggak ada komplen apa apa. Tapi pulangnya ya terpaksa naik ojek setelah ngangkot. Lha panas terik di siang bolong. Syapa suruh jalan jalan siang ya ? hehehe