Tidak lama setelah lahir adik kelima, Bapak dipindahtugaskan ke Cilacap. Kamipun akhirnya menetap Cilacap.
Semasa Lajang
Aku belajar merantau sejak SMEA. Waktu itu aku kos berdelapan. Tiap hari kami bergantian menanak nasi dan membeli sayur / lauk karena ibu kos tidak menyediakan makan. Selain itu kami juga mengatur jadwal mandi (kamar mandi ada dua dipakai 8 anak kos + 2 tuan rumah) dan jadwal mencuci pakaian, karena kalau semua mencuci, tali jemuran langsung penuh. Intinya, di dalam rumah kos itu, kami telah belajar bermasyarakat, saling menghormati dan bertenggang rasa.
Lulus SMEA aku masuk STAN. Kehidupan sebagai anak kos pun dilanjutkan. Aku bersama teman-teman berkongsi menyewa rumah. Selain lebih murah, kami juga belajar mengurus rumah. Maka jadwal piket pun dibuat. Siapa yang kebagian menyapu, siapa mengepel lantai, siapa memasak, siapa mencuci piring, menyapu halaman, menggosok kamar mandi, dsb. Kami benar-benar belajar mandiri. Tapi kehidupan anak kos pastilah penuh warna. Misalnya ada yang mendadak ujian sehingga tidak dapat menunaikan tugas sesuai jadwal, ada yang ingin belajar dalam diam, dan sebaliknya ada yang nggak bisa belajar kalau nggak sambil mendengarkan musik. Ada yang rajin merapikan, ada juga yang sembarangan.Di sinilah, lagi lagi kami harus belajar bertenggang rasa, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan sikap sepenanggungan sebagai satu 'keluarga' di perantauan.
Setelah Menikah
Selesai kuliah, tidak lama kemudian aku dilamar oleh seseorang. Desember 1996 kami menikah.
Suamiku ini ternyata seorang pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Ayah mertua asli Jawa, Ibu asli Palembang. Tinggal di Lampung. Suamiku lahir-besar di Lampung, kuliah ikatan dinas di Jakarta dan penempatan pertama sebagai PNS di Kupang.
Maka perantauanku tahap berikutnya pun dimulai. Aku kali ini merantau karena ikut suami.
![]() |
| Aku dan anak-anak (baru F1-F3) di ruang tamu rumah Kupang |
Sedangkan Bapakku, wafat akhir tahun 2001, dua minggu sebelum kami pindah tugas ke Bandung. Memang saat itu sudah packing-packing, bahkan sebagian barang sudah dipaketkan, tapi tetap saja kami belum siap berangkat dua minggu lebih awal karena terkait dengan pekerjaan kantor baik suamiku maupun pekerjaanku. Belum lagi masalah biaya pindah. Tidak memungkinkan juga misalnya saat itu pulang ke Jawa terus balik lagi ke Kupang lalu pindahan. Mau tidak mau, kami kembali merelakan tidak dapat mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir.
Demikian juga setelah pindah ke Bandung, Ibu mertua meninggalpun kami tidak dapat menemui jenazah beliau. Waktu itu tahun 2003, satu satunya cara ke Lampung yang terjangkau buat kami adalah naik bis malam. Ibu wafat hari Ahad pagi , dimakamkan hari itu juga. Malamnya kami baru berangkat dari Bandung.
Wafatnya ketiga orang tua kami inilah yang menjadi hal paling membekas selama di perantauan.
Hikmah Merantau
* Merantau itu menguatkan, melatih kemandirian, dan mendewasakan
Merantau sejak remaja, alhamdulillah membuatku merasa siap ketika diajak suami merantau di Kupang. Suka duka ditanggung berdua. Mengurus (sampai dengan) tiga anak balita, tanpa asisten rumah tangga. Kalau pagi semua berangkat, anak anak ke penitipan, Ummi dan Abi pergi ngantor. Malam anak anak tidur, Ummi dan Abi berbagi tugas rumah tangga cuci, setrika, ngepel, dsb. Ada masalah keluarga ? Dibicarakan berdua. Jauhnya kami dari keluarga besar, justru mendekatkan kami satu sama lain.
* Merantau itu menambah saudara.
Ketika kita merantau, pengganti keluarga kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, yang dekat dengan kita. Ibaratnya minta gula, garam nggak mungkin telpon ke kakak atau ibu di kejauhan, tetep aja yang dimintai tolong pertama dan bisa datang cepat adalah tetangga dekat. Maka ketika merantau kita harus pandai pandai menjalin tali silaturrahim.
* Merantau memperkaya pengalaman
Bertemu lebih banyak orang, melihat lebih banyak budaya, mengunjungi lebih banyak daerah tidak akan menjadi sia-sia untuk kita.
* Merantau membuatku lebih arif terhadap alam
Contoh ketika di Kupang, air PAM mengalir 3 hari sekali. Yah, jadwalnya memang 3 hari sekali baru ngalir, sedangkan di rumah ada tiga balita. Kebayang kan seberapa cucian pritilannya ? Tapi disitulah justru kami jadi lebih dapat menghargai air dan memakainya sesuai keperluan saja.
* Merantau membuatku makin cinta Indonesia
Jawa, Sumatera, Bali, NTT baru itu sebagian keindahan Indonesia yang kulihat. Masing-masing mempunyai daya tarik yang tidak ada di daerah lain. Semua membuat rindu untuk didatangi kembali.
Sedikit Tips untuk perantau
* Terimalah keadaan. Penerimaan akan membuat kita tenang. Kalau dalam diri kita ada sedikit saja penolakan, maka kita tidak akan betah di perantauan
* Berbagilah dengan yang dekat. Entah itu suami atau sahabat. Kalau kita berbagi dengan yang jauh, misalnya orang tua, apalagi kalau keadaan kita 'tidak enak', pasti orang tua jadi khawatir. Bahkan aku ada temen yang ikut suami ke luar Jawa, eh, sama ibunya disuruh pulang ke Jawa, ninggalin suaminya di sono. Kalau suami diambil orang gimana coba #eh
* Bertanya kepada yang lebih dahulu tinggal di daerah tersebut, bagaimana trik-trik menghadapi kesulitan di perantauan. Pasti senior kita dengan senang hati akan membagi pengalamannya, bahkan tidak mustahil akan membantu kesulitan kita.
* Bersabar dan bersyukur.
* Banyakin minta doa dari kedua orang tua
-----------------------------
NB*hihi.. mau diikutkan GA mbak Milati tp gak sempat ngedit, telat deeh...lumayan ah, buat postingan

