Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2014

Gerakan 20 Menit Mendampingi Anak

Bismillah,,, meneruskan pesan
Dari bu Netty Heryawan :

Serentak tanggal 20 Mei 2014 pukul 18.30 - 18.50 WIB se Jabar

Bentuk kegiatan :
membacakan buku untuk anak/makan bersama
ngobrol
peluk anak katakan kita sayang pada
mereka
ucapkan terima kasih atas kebaikan
mereka
maaf atas kesalahan kita kepada anak
Mendoakan mereka, dll

Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan anak dg ortu sehingga anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang.
(Netty Heryawan)

Semoga program ini berlanjut seterusnya. (Rencananya akan diulang saat hari keluarga nasional di bulan Juni, Hari anak di bulan Juli dan hari Ibu)

Tolong Bantu Sebar Ya

Rabu, 07 Mei 2014

IQ Anakku Very Superior ?


Fikri udah mau UN minggu depan. (ini ketauan draft dari tau kapan).
Fikri udah UN hari ini. Eh, sudah tinggal sehari lagi, besok. Mohon doa ya teman temiiin...
Kalau lihat effort dia sih... aku gak se-dag dig dug jaman Fadhila.
Umminya berdoa ? Ya insya allah... namanya juga ibu, pengen yang terbaik buat anaknya.
Apalagi semester dua ini dia mulai rajin shaum senin kamis. Pernah nyobain puasa daud tapi nggak tahan kali ya... karena masih banyak kegiatan. Masih les seminggu 2x pleus kadang futsal sama teman-temannya.

Kalau aku lihat trend prestasinya juga alhamdulillah ada peningkatan.
Aku sih bukan type yang minta anak jadi juara. Aku cuma minta mereka 'berlomba dengan dirinya sendiri'.  Katanya kan nafsu itu lawan yang paling berat ya... soalnya bak musuh dalam selimut gituu...
Ya alhamdulillah dari posisi 20 sekian di kelasnya pas naik kelas tiga kemarin, Fikri masuk 10 besar kelas di semester 1. Dan beberapa TO juga nilainya membaik.
Aku pernah posting sekilas  tentang hasil TO Fikri di sini.
Makanya pas Fikri bilang mau sekolah di tengah kota, di SMA-nya pak Walikota dulu, akhirnya Abi berpikir ulang soal sekolah harus dekat rumah (dan negeri dan bagus hehe) .
Abi pun memberi gambaran Fikri nanti musti berangkat jam berapa, sarapan jam berapa (ini terkait Ummi kan kudu masak jam berapa), dan pulangnya pun jam berapa harus diperhitungkan resikonya, capek dsb.
Soal biaya nanti Abi dan Ummi yang pikirkan, bagian Fikri adalah meraih nilai agar bisa masuk sekolah tsb. Abi kasih target 5 besar di sekolah sekarang, baru yakin ( insya Allah) masuk SMA 3.
Soalnya SMA 3 dan SMA dekat rumah itu kan sama-sama cluster satu. Kalau Fikri nggak masuk 3, nggak bisa lagi milih SMA dekat rumah walaupun nilainya cukup, dia harus masuk yang cluster 2.
Fikripun terdiam. Mikir kali ya... biasanya jam 6 masih bisa hahahehe di dapur sama aku, atau main bola sama Faiz, ngupi-ngupi cantik eh ganteng dsb.

Nah, hari kemarin pas dia nunjukin hasil TO terakhir yang turun, dia bilang mau berfikir ulang soal sekolah tengah kota. Males euy.... pagi pagi sekali perginya.
Ya kubilang aja, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mendapat sesuatu. Jer basuki mawa bea. Itu kata orang Jawa.
Ya kita lihat nilai kamu ntar ya Nak....
Kemudian  aku juga ngingetin dia agar jangan terpengaruh soal gossip bocoran soal dan lembar jawab. Pokoknya bismillah.
Bukan sekedar jumlah nilai yang kita kejar, tapi keberkahan ilmu itulah yang jadi tujuan, sebagai bagian dari ibadah kita. Dan itu hanya bisa bila selalu menjaga kejujuran.

Kemudian, beberapa hari lalu dia menunjukkan psikotest di sekolahnya. aku sedikit kaget lihat hasilnya.

M. Fikri Ghazy Rabbani memiliki potensi kecerdasan berada pada taraf very superior dengan IQ-158 (berdasarkan skala TIKI) ptensi dalam bidan akademis yang dimiliki sangat baik, tetapi diharapkan jangan cepat puas dan tetap mempertahankan prestasi yang ada
Terus terang aku kaget. Antara bahagia dan cemas. Seneng lah ya.. anak berpotensi pinter, kan kecerdasan nurun dari ibu (keukeuh). Tapi cemas dan khawatir juga, jangan jangan selama ini aku dan suami belum memberikan pola asuh yang cocok buat anak pinter gitu. Jangan jangan selama ini banyak potensi kecerdasan yang terabaikan. Banyak laaah... sampai-sampai, jangan jangan karena pengentahuanku yang terbatas, jadi banyak hal yang Fikri butuhkan yang nggak kepikiran olehku.

Melihat hal itu aku bertanya kepada salah satu psikolog yang aku kenal. Sedang S3, praktisi pendidikan.
Pas aku bilang anakku IQ 158 dia bilang nggak mungkin. Biasanya test yang di sekolah itu levelnya lebih mudah. Jadi nilai IQ akan turun.
Tapi kemudian dia meralat lagi, seandainya turun 10 poin ya masih tinggi juga ya.. atuh dicoba mbak Titi, masuk ke SMA 3, barangkali bisa masuk kelas aksel (akselerasi)
(weeeek... suamiku termasuk yang anti aksel)

Trus minggu berikutnya, aku juga nanya ke teman psikolog yang lain. Beliau sedang S3 juga. praktisi pendidikan juga. konsultan beberapa sekolah di luar Jawa khusus menangani kelas akselerasi
Dan pas kubilang IQ 158 beliau mengatakan "Nggaaak mungkiin... anak very superior itu akan kelihatan sejak awal. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Nggak mungkin ibu baru tahu anak ibu very superior setelah sebesar ini. Test di mana dia ?"
Test di sekolah, kataku.
siapa yang nge-tes ?
Ada yang menawarkan dari lembaga test gitu
Berapa biayanya ?
50 rebu
Nah ini, kadangkala ada lembaga test yang menjual murah test test seperti ini. Mereka ini hanya mengejar uang. Seharusnya sebuah lembaga psikologi tidak mengeluarkan produk skala IQ anak, tetapi tes minat dan bakat. Yah , ini masalah kode etik profesi juga sih.. dan kadang kala juga ada yang baru sarjana psikologi sudah 'berani' bikin lembaga test. Harusnya dia ambil profesi psikolognya dulu, minimal. Atau sudah ambil S2 psikologi linier. Psikologi terapan juga nggak bisa. harusnya gelarnya M.PSi baru boleh memeriksa seperti itu. Itupun bukan untuk IQ

Trus aku minta Fikri untuk mengirim gambar surat itu. Daaaaan....

Yang Tanda tangan M.Psi
Waah... nggak mungkin lho Bu, anak ibu very superior. Ini skala TIKI yang mana ? Ada beberapa grade soalnya. Jangan jangan dikasih yang mudah untuk SD (ah masa' iya sih ?). Terus skala TIKI itu ada beberapa test, minimal 4 test. Nggak mungkin, IQ 158 nggak ketahuan.

Yaaa...kali aja Bu, karena keterbatasan saya, saya tidak dapat mendeteksi seberapa cerdas anak saya.

Nggak, anak very superior itu akan berbeda, akan ketahuan dari obrolannya

Ya mau tahu dari obrolan gimana, wong sama saya aja nggak kepikiran, masa' mau saya obrolin sama dia

Ya pokoknya enggak mungkin deh, IQ very superior. Anak very superior itu prestasi di kelasnya bagus, selalu tertantang dengan segala hal, jadi tidak ada kata menyerah buat dia. Mau gurunya nggak enak, mau temannya nggak enak, dia tidak akan terpengaruh, justru itu menjadi tantangan buat dia. Terus nggak bisa juga langsung masuk kelas aksel, harus menjalani serangkaian test lagi... (ya kebetulan suami juga termasuk yang enggak setuju adik pake kelas aksel, nanti kakaknya kebalap, dan kasian si anak aksel, nggak sempat main musti ngebut belajar - eh ini versi awam yaaa.a.....)

Aku manggut manggut aja
Ya sebenernya sih... nggak terlalu penting buat saya, berapa skala IQ anak saya, mau superior atau very superior. Maksudnya nanya itu supaya saya enggak salah langkah menangani ke depannya.
Ya kalau bener kan, kasihaan... kalau ternyata selama ini cuma dikasih tantangan 'segitu'. Ya kalau ternyata hasilnya salah (haiyaaaaah... sesama psikolog saling adu argumen) ya nggak papa juga. Toh selama ini aku dan Fikri sudah menjalin hubungan yang bagus, anak juga terbuka sama ortu, dari cerita soal pelajaran, sampai soal ngidol (JKT 48) dan rencana bisnis. Itu sudah lebih dari cukup laaah buatku.

Tapi pas melihat siapa yang bertanda tangan di surat itu, si Ibu psikolog yang kedua agak melunak.
"Bu, kalau ibu mau periksa lebih detil, dapat menghubungi psikolog di jalan pager gunung, (hihi gak mau nyebut nama, ntar kayak promosi) beliau juga konsultan aksel. Tapi test-nya nanti juga bukan test IQ, melainkan penelusuran bakat dan minat."

Iya deh, Bu.... aku tanya Fikri dulu.
Dan pas kuceritain Fikri, dianya cuma nyengir aja.
Mi, daripada ratusan ribu buat periksa, mendingan buat jalan jalan aja... hahaha
Dasar bocah, umminya udah khawatir, anaknya selow aja. Ya udah lah Fik, kita ngebakso berdua aja yuuk...

Minggu, 15 Desember 2013

Terkontaminasi

Faiz menyanyi :

Kumpulkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...

Huuuuu..... langsung diteriakin sama kakak-kakaknya. Andai itu di panggung pasti udah diteriakin 'turun.. turuuun !"
Eits tapi bukan Faiz kalau enggak ngeles. Katanya :
"Bentar .. bentar, sekarang enggak pakai lebay" meminta kesempatan kedua.
"Kumpulkanlah ingatanku...
Hapuskan tentang dia"

*klo yang update pasti tahu dimana letak kesalahan lagu itu.*

Yah... itulah Faiz. Umurnya baru 5 tahun. Tapi sudah ikut-ikutan menyanyikan lagu anak remaja.
Ini adalah salah satu tantangan buat mahmud abal-abal seperti diriku ini yang punya anak dengan rentang usia berbeda. Ada ABG di rumah, ada pula ATK alias anak TK. :D

Dulu waktu Fikri kecil pernah nanyain, kenapa anak-anak enggak boleh nyanyiin lagu anak gede, tapi anak gede boleh nyanyiin lagu anak-anak?
Waktu itu jawabanku adalah : karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.
Nampaknya jawaban tersebut cukup masuk akal, sehingga Fikri kecil tidak mempertanyakan lagi hal tersebut.

Tapi, beda anak beda jaman, beda jaman beda lagi tantangannya. Jaman Fikri kan enggak ada remaja yang memperdengarkan lagu, nah kalau jaman Faiz, si hape F1 dan F3 selalu bunyi menemani mereka belajar. Yah enggak mendengarkan secara khususpun  bisa hafal. Harus banyak-banyak mencarikan kegiatan lain yang membuat anak hanya memperhatikan apa yang baik dan pas buat mereka. Susah ? Ya iyalah.. namanya juga tanggung jawab. Ya harus menanggung, gak cuma menjawab aja hahaha...

Kalau kata Fikri, anak-anak ABG sekarang itu terlalu mainstream. Iya sih, lihat saja gaya fotonya, dari mulai bibir monyong hingga lidah menjulur, tangan di pipi sambil mengacungkan dua jari membentuk "V". Anakku juga kalau foto ya kayak gitu.
Lihat gaya rambutnya... lihat gaya pakaiannya...
Semua mirip-mirip. Sampai sampai Abi  enggak bisa membedakan mana yang anggota Chibi Chibi mana anggota JKT 48 kalau mereka foto sendirian. Akupun demikian :D

Nah, kemarin ini ada seorang ibu yang mengeluhkan gadis sulungnya. Kata beliau, sejak kuliah senengnya pakai celana ketat, trus pakai T-shirt dan jaket. Kerudungnya juga lipat segitiga satu peniti dan ujung-ujungnya dilempar ke pundak.
Komenku ya jangan salahkan dulu anaknya. Kita sebagai orang tua harus mawas diri dahulu.
Coba, si kakak itu kalau beli pakaian sama siapa, trus kalau mau keluar pas pamitan, ibu lihat enggak. Sejak kapan si kakak ganti gaya gitu?
Trus selama ini dia mainnya sama siapa.
Segala sesuatu pasti ada awalnya kaaan. Ya ibaratnya garis lurus sama garis serong, berangkat di titik yang sama, setelah jauh/panjang baru kelihatan deh jaraknya.
Nah, tanda tanya doong, selama ini kita kemana ajaaa?

Menurutku I'ts Ok pakai celana panjang. Asalkan tidak ketat. Ini pakemku. Sejauh ini kalau untuk celana jeans anak-anak aku selalu pakai satu nomor di atas yang seharusnya. Supaya enggak ngetat di paha dan betis. Trus buat anak-anak gadis itu aku juga kasih rambu-rambu. Boleh keluar pakai celana jeans, asal atasannya minimal sampai ke paha.
Kalau pakai rok gak boleh yang nerawang membentuk paha, walau pakai leggingpun.
Kerudungnya juga harus (belajar) menutup dada. Memang sekarang belum ada tuh dada, belum nampak yang ditutupnya. Tapi satu dua tahun lagi? Kalau enggak dibiasakan dari sekarang khawatirnya tau-tau aku kaget sendiri dengan gaya fashion anakku.
Kenapa aku tegas gitu?
( Lah si mbak sama si Ayuk aja lebih galak lagi  sama aku. Kalau aku pakai baju agak pas, baru agak lho... belum pas, pasti mereka ribut. Ummi kerudungnya harus panjang nutup pinggang. Bukan berarti balas dendam ya... hahaha)
Yah namanya juga anak-anak. Katanya hidup cuma hari ini. Yang diinget cuma hari ini. Jadi meski ummi udah pernah ingatkan, ya lupa lagi lupa lagi. Aku yakin para gadisku itu sebenarnya sudah tahu rambu-rambu berpakaian mereka.
Ini semacam iseng iseng berhadiah gitu. Aku faham, mereka butuh perjuangan lhoo... untuk berpakaian anti mainstream.
Apakah anakku selalu nurut ? Ya enggaklah......
kalau mereka perginya pas nggak ada ummi dan abi ya kadang pakai gaya mereka sendiri. Namanya juga manusia. Harus selalu diingatkan. Yang udah tua begini aja masih sering lupa dan perlu diingatkan.

Yang bujang gimana ?
Kira kira setali tiga uanglah. Sejak Fikri punya hape baru hasil menabung 2 tahun+dapat donasi, sesekali aku pinjem hp dia buat IG-an. Iseng-isenglah kita lihat koleksi gambar dia.
Ya ampuuun... itu si jekateempatlapan bener bener mendominasi kartu memori.
Ava bbm pun gambar si jekate. Sampai pada suatu hari Abi lihat dan menggoda, kenapa sih gambarnya anak jekate banyak amiit?
Waktu jaman Abi kecil yang disimpan itu gambar gambar artis dan atlet, misalnya Rambo, Stalone (sama aja wkwk), dengan ringan Fikri menjawab  sambil ngeledek Abi
"Kalau aku suka gambar jekate, berarti aku masih normal, Bi. Daripada aku suka sesama cowok"

Gubrak banget enggak sih ??? Nau'dzubillahi min dzalika.

Agak kaget juga, meskipun sejak awal menikah dengan Abi dan punya anak, kami sepakat bahwa kami tidak akan mengarantina anak-anak dalam lingkungan yang homogen. Biarkan mereka tumbuh di lingkungan heterogen dan belajar bertahan. Maka yang harus kami bekalkan adalah imunitas.

*langsung keinget obrolan bareng Sondang, kalau kita ini lama-lama merasa biasa dengan LGBT, karena sering dengar dan sering dibercandakan. Sampai kitapun menganggap bahwa hal tsb biasa aja. Gak ada lagi rasa jijik atau perlawanan dalam hati. Akhirnya memaklumi kaan...*

*pantesan yak, Rasul sejak berabad yang lalu mengingatkan, agar segera mencegah kemungkaran. Tingkatan yang paling utama ya cegahlah dengan tangan/wewenangmu, kalau enggak bisa, cegah dengan lisanmu, kalau enggak bisa ya cegah dengan hatimu. Dan inilah selemah-lemah iman* kemudianhening

Sabtu, 30 November 2013

Penyesalan

Ini bukan judul lagu...  #eh ada gitu ?

Malam-malam, pas aku njahit tas yang akan kubagi-bagi buat pengunjung blog sebelah, F3 tau-tau mbanting sim card hp-nya di depanku. Caper banget yaks...
Aku cuma ketawa dan ngeledek...  patah hati ya..
Dia menjawab... 'ih enggak lah yaw..'
Kupikir kejadian itu ya sudahlah ya... palingan dimensyen butut atau apa.. enggak bersambung deh intinya. Eh..ternyata..

Besoknya pulang kantor, habis maghriban dan anak-anak dah ngaji semua, aku agak santai karena semua setuju makan malam bakso sesuai rikues Abi. Tiba-tiba Teteh masuk kamarku dan ngasih tau kalau Ayuk mau curhat.
Kemudian aku masuk kamar Ayuk, dia lagi sms-an sambil manyun manyun gitu. Kutanya ada apa, mau curhat apa, dia hanya menggidikkan bahu.
Aku mau lihat hapenya, enggak boleh. *gemes enggak siih...*
Terus malah dia membuka casing hapenya dengan kasar.
Kataku 'iiih... hati-hati, belum sah jadi milikmu sampai raport semestermu ketauan...' haha mempan juga omonganku. Trus dia buang lagi sim cardnya.
"Ayuk kenapa ? Patah hati lagi?"
*menggeleng*
"Cowok yang kamu taksir nembak orang lain?"
*menggeleng*
"Sahabatmu menghianati?"
*menggeleng*
"Ya terus kenapa ? Katanya mau curhat"
*malah nangis*
Sebentar aku peluk dan aku biarkan dia menangis di pundakku. Romantis banget kayak drama korea -katanya :)
"Dimarahin teman ?"
*diam*
"Dipanggil guru BP? "
*guru BK, Ummiii.....* sahutnya
"Kamu dipanggil guru BK?"
Enggaklaah...
"Kamu ditembak orang?"
*menggeleng*
"Ada guru yang naksir kamu?"
"Enggak atuuuuh... kalau gitu aku mah udah cerita ke ummi kali..."
"jadi kenapa atuh.... kamu galau galau kunaon ?
*membuang hape*
Ummi memutar otak mencari ide.
"kamu menyesal udah salah ngomong ?"
*mengangguk dan nangis lagi lebih keras, aku peluk lebih erat, kubiarkan dia menangis beberapa saat*

"semua orang juga pernah salah ngomong kaliii, itu adalah resiko yang harus ditanggung. kamu juga harus belajar menanggung resiko, karena kamu sudah mulai dewasa. Makanya kan kita harus memikirkan dulu sebelum mengatakan sesuatu. karena kata-kata yang terucap enggak bisa dihapus lagi"
Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

"ummi waktu kecil  dulu juga  pernah menyesal mengatakan sesuatu. Dulu ada teteh teteh gitu yang nakalin ummi, terus ummi bilang ke ibunya, kalau dia nakalin ummi. Eh, terus dia disabetin pakai kayu sama ibunya, sampai nangis teriak teriak. terus habis itu dia dimandiin, diguyur di sumur. Jaman dulu kan sumurnya dipakai ramai-ramai, satu sumur untuk beberapa keluarga. Sampai teman-teman tau semua kalau dia disabetin ibunya. Ummi menyesal deh udah ngaduin dia sama ibunya. walaupun dia salah juga, tapi ummi enggak nyangka kalau dia bakal disabetin gitu. Ya gitu deh, sampai lama dia marah sama Ummi."
*diam sejenak, ummi mendadak sedih ingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu itu*

"trus, kamu udah minta maaf sama temenmu ?"
"udah"
"bagus, trus dia gimana ?"
"ya udah maafin, tapi ya gitu we... aku malu jadinya"
"temen cewek apa temen cowok ?" *ih ummi kepo deh*
*diem aja si Ayuknya*
" ya sudah, semua perlu waktu, dia juga perlu waktu untuk memaafkanmu. kalau dia sudah maafin, kamu harus menunjukkan sikap baik sama dia. Kan kata Rasul, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk"
*gadisku diam saja, agaknya dia menerima kata-kataku*
"ya sudah, kalau udah maafan, pasang lagi sim-cardnya. temenmu kan enggak cuma dia doang. nanti kalau ada teman lain mau sms, gimana. nanti kalau abi atau ummi mau nelpon kamu  gimana..."
*Ayuk nurut dan masang lagi simcard ke hape yang tadi dipisah pisah mana casing mana batere*
"kamu udah cerita ke temanmu soal ini ?'
*menggeleng*
"Kamu menyimpan sendiri dari kemarin ?"
*mengangguk*
"kamu hebat ih, berarti sudah sanggup menanggung masalah sendiri" *asli, ini mah pengakuan tulus*
*tersenyum*
"tau enggak Yuk, dalam beberapa hal, kita banyak kesamaan lho, kamu kan anak tengah, nomor 3 dari lima anak, ummi juga anak tengah, nomor empat dari 7 anak, kata orang, anak tengah itu lebih dewasa. Dan memang Ayuk lebih tenang dan lebih dewasa"
*ketawa*
Akhirnya kami berpelukan lagi untuk beberapa saat.

Sabtu, 13 Juli 2013

Pilihan Keluarga

Membaca postingan Baginda Ratu "done that been there" (maaf hese ngelink-na)  langsung deh ya keinget mau nyambung postingan aku yang lalu yaitu H2C.
Pas di paragraf tentang kenapa aku pilih sekolah lanjutan negeri, aku cuma kasih alasan simpel, ini pilihan keluarga.
Kalau dibuka diskusi tentang alasan memilih sekolah, pastilah akan panjang dan sulit untuk menemukan kata sepakat. Karena masing-masing orang tua punya alasan dan pertimbangan masing-masing ketika menentukan sekolah anaknya.

Pernah ada yang bertanya, emang gak mempertimbangkan sekolah swasta ? Aku cuma senyum. Dan akhirnya kemarin ada yang nanya beneran sama aku, pas kubilang Ayuk akhirnya masuk madrasah tsanawiyah negeri. Pertanyaannya berasa nodong. Apa akunya yang sensi yah... "Kenapa enggak disekolahin di madrasah xxx ?"  ( sambil menyebut madrasah swasta di mana banyak temen-temenku  yang anaknya sekolah di sana).Terus terang saja madrasah tsanawiyah negeri itu memang bukan pilihan pertama Ayuk - dan kami juga. Pilihan pertamanya adalah SMP umum. Beda ya, kalau SMP itu ada di bawah Diknas kalau madrasah ada di bawah Kemenag. Dari pelajaran juga berbeda, di madrasah pasti nanti akan ketemu lagi pelajaran fiqh, bahasa arab, hadits, dsb.seperti yang pernah Ayuk dapatkan di Madrasah Ibtidaiyah At-takwa Jadi ya kalau mau disandingkan atau dibandingkan pasti akan berbeda. Ya yang harus ridho Ayuk masuk madrasah bukan cuma anaknya, tapi juga orang tuanya. Itu yang terbaik yang dapat diraih Ayuk. Di luar kenyataan bahwa madrasah tsb madrasah percontohan ya... itu berlaku hanya sesama madrasah. Tidak dapat dibandingkan dengan SMP. Meski sama-sama negeri.

Nah jadi apa dong alasannya kenapa kami memilih SMP Negeri ?
Pertama : anak-anak kami, sejauh ini masih diarahkan untuk menempuh jalur pendidikan umum SD-SMP-SLA-PT minimal S1 ( bukan pendidikan agama). Adapun dia menjadi sholeh, menjadi penghafal Al Qur'an, faham ilmu agama, peduli pada sesama, (amiin) dsb itu adalah semacam life skill yang harus melekat dalam dirinya mau apapun profesi dia kelak. Kecuali memang anak kelihatan ada kecenderungan mau mendalami ilmu agama secara profesional.

Kedua: Jalur pendidikan umum ini pesaing terbanyak adalah dari sekolah umum. Standar yang dipakai adalah standar umum. Bukan keahlian khusus lain yang dia miliki. Kecuali sudah benar- benar istimewa mungkin dapat masuk melalui jalur prestasi. Katakan sekarang yang dipakai adalah nilai UN. Berarti nilai UN anak harus dapat mengungguli pesaing-pesaing lainnya. Dan statistik menunjukkan sekolah negeri lah yang paling banyak mengisi  jalur ini. Wabil khusus, smp klaster satu paling banyak memasok murid untuk sma klaster satu. Dan sepertinya itu juga berlaku untuk perguruan tinggi negeri.

Ketiga: Kami ingin anak-anak tumbuh dan menjadi kuat di 'dunia nyata'. Mereka akan hidup di masyarakat yang aneka ragam kelak. Sekolah umum adalah miniatur masyarakat. Dari keluarga mana anak berasal akan kelihatan di sekolah umum.  Kami ingin anak-anak belajar bahwa dunia ini warna warni. Nilai-nilai apa yang dianut sebuah keluarga sedikit banyak akan tergambar di diri anak. Ya misalnya kalau anak nilai UN nya kecil terus bapak ibunya bilang nanti kita beli kunci jawaban saja/nanti beli kursi aja di sekolah anu, atau nanti pindah aja ke sekolah klaster satu, maka anak belajar menghalalkan segala cara dan menggampangkan masalah. Nggak ada semangat juang.

Keempat: ini yang paling berat. Melepaskan anak dari 'karantina' dan proteksi. Kalau dia sekolah di 'sekolah komunitas' yang gurunya baik-baik, sopan-sopan, suasana sekolah religius, dan anak tumbuh jadi sopan dan religius ya itu wajarlah. Tapi bagaimana nanti ? Mau sampai kapan kami sanggup memproteksi?  Enggak tau kapan ajal datang, kapan rejeki diputuskan. Sudah jadi tugas orang tualah memberikan 'imunitas', menanamkan nilai-nilai dasar dari rumah sejak anak- anak lahir,  agar di manapun anak tumbuh besar, dia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar tersebut. Dan menurut kami, makin cepat dia  'praktek' insya allah makin baik hasilnya. Meskipun terus terang saja sampai saat ini kami pun masih tetap berjuang menjaga shalat anak-anak, menjaga hafalan, akhlak dsb karena godaan keburukan itu memang jauh lebih mudah untuk diikuti.

Kelima : (tambahan) alasan biaya. Untuk sekolah negeri gratis aja banyak biaya lain yang harus dikeluarkan. Minimal transport tiap hari dan printilan lain. Uang fotocopy, buku, praktik ini itu, dsb. Realistis aja, ini bapak ibunya pns biasa -bukan pejabat- yang penerimaannya bisa dihitung bahkan sebelum gaji diterima. Belum lagi dipotong cicilan rumah. Kami tidak sanggup menyekolahkan di swasta dengan biaya mahal pleus 'biaya sosial' tinggi - ini kudapat dari temenku yang ngajar di smp swasta favorit- tidak mudah menjaga anak di tengah gempuran gaya hidup konsumerisme. Klo di sekolah negeri setidaknya latar belakang sosial ekonominya juga lebih heterogen .

Ya demikianlah teman teman. Kenapa saya dan suami tetap memilih sekolah negeri untuk anak-anak. Dan itupun harus dekat dari rumah. No macet. No mahal di transport. Maksimal maghrib udah pulang lengkap udah selesai eskul/bimbel. Dan mohon maaf kalau kita dalam hal ini kita harus sepakat untuk tidak sepakat.

Jumat, 08 Juni 2012

Mengajari F5 Tidur di Kamarnya

Seperti diceritakan F5 di blognya, sepertinya benar benar dia terobsesi oleh kata kata Abi, bahwa sebab utama dia nggak masuk attakwa adalah karena masih tidur sama Ummi.

Sebenarnya sudah agak lama aku dan suami mempersiapkan kamarnya. Tapi mungkin karena faktor bungsu dan berasa dia masih kecil (padahal bukan masih kecil ya.. paling kecil diantara 5 iya...), rencana pisah kamar Faiz belum jadi jadi juga. Syukurlah, kejadian dia nggak masuk TK itu membawa hikmah ya.. bisa jadi titik tolaknya.

Jadi kalau kuingat ingat, beberapa hal sampai dia mau tidur di kamarnya adalah :
1. Sosialisasi tentu saja. Itu yang pertama. Aku dan suami bilang bahwa dia semakin besar. Nanti suatu saat harus tidur terpisah dari Ummi dan Abi
2. Mempersiapkan kamarnya. Dan mendandani sesuai hasil kesepakatan antara ortu dan anak. Seperti F5 minta sprei dan bantal angry bird dan shaun the sheep, pas udah dibeliin ya suka rela aja dia tidur di kamarnya. Termasuk disini adalah pernak pernik ketika dia tidur sama kita. Obat nyamuk, minyak gosok anti nyamuk, air putih, apa saja deeeh..
3. Mengajak tidur ketika anak sudah benar benar mengantuk. Kebetulan kamar F5 di atas, jadi selama dia belum ngantuk, ya ditemenin aja main di bawah. Baca, mewarnai, main bola, main topeng monyet, main kartu, apa aja deh... 
4. Mengantarkan ke kamarnya sampai dia tidur. Kata para ahli sih, supaya timbul rasa aman dan nyaman. Karena dia masih masa adaptasi. Di sinilah prosesi mendongeng, mengobrol dan menanyakan kejadian seharian tadi biasanya aku lakukan.
5. Matikan lampu / redupkan lampu agar anak tidur lebih tenang.
6. Bila anak terbangun di malam hari dan menangis, maka kembali temani sampai dia tertidur. Kalau kita ajak anak pindah kamar, khawatirnya anak jadi nggak mau tidur di kamarnya. Syukurlah, sejak F5 lepas ASI, jarang banget terbangun di malam hari. Biasanya sih kalau terlalu panas/berkeringat, atau banyak nyamuk, baru dia bangun.
7. Memberikan penghargaan ketika bangun pagi, kalau dia berhasil tidur di kamarnya malam itu. Tidak harus hadiah mahal, ciuman dan pelukan yang lebih hangat, segelas susu atau sebuah dongeng, bisa jadi hadiah yang berkesan.
8. Tetap menyediakan hari, misalnya hari libur untuk anak anak bisa tidur bersama orang tua/tidur rame rame.
9. Sabar dalam menjalani prosesnya. (Ini yang paling susyaaah...)


ini dia pura pura tidur sehabis pasang sprei

pas Abi ke Lampung, dia tetap 'memaksa' tidur di kamarnya (hiks, Ummi sendirian)

Rabu, 09 Mei 2012

Ummi, Kapan Aku Haid ?

Ini niy, satu lagi cerita punya anak menjelang ABG alias akil baligh gitu lho..
Belajar ngomongin yang dulu kita anggap tabu tabu dan saru saru sekarang aku harus nebalin kuping dan nebalin muka pura pura biasa aja, walaupun sesungguhnya masih terkaget kaget.

Aku udah sering dengar pertanyaan itu dari F1, secara dia kan udah kelas 2 SMP eh kelas 8 yah.. dan sekarang belum haid. *asyik,masih ada waktu menyiapkan kedewasaan
Dan aku jawabnya sih, tunggu aja. Ya emang tunggu aja.
Aku pernah tanya sama temanku yang dokter, katanya haid ini juga ada faktor keturunan. Jadi kalau ibunya haidnya usia berapa, anak juga bakal ikut. Walaupun itu juga sekarang dipengaruhi oleh hormon hormon tubuh kita yg dipengaruhi oleh makanan (ber MSG, ber pengawet,katanya mempercepat ya) terus juga oleh tontonan tontonan.

Nah kini giliran F3 yang nanyain. Dia kan baru kelas 5. Memang sih, secara body udah hampir nyamain kakaknya.
Nah pas kemaren F3 nanya pelan pelan di kamarku
"ummi,kapan aku haid ya...teman temanku yang kecil kecil juga sudah pada haid"
"tunggu aja, nanti juga tiba waktunya. Emangnya Ayuk udah siap.. Kalau udah haid berarti sudah baligh. Sudah mukallaf. Sudah harus menjalankan kewajiban agama dengan sebaik baiknya. Misalnya : Shalat tepat waktu (soalnya dia susah dibangunin), menjaga pergaulan (Ayuk lebih gaol dr Mbak) , menjaga pandangan (meski kelas 5, ayuk udah CCP), puasa, dll"
"Yah, aku belum siap sih ..."
"Nah, berarti Ayuk masih dikasih waktu sama ALlah untuk belajar dan mempersiapkan diri"
"Emang Ummi dulu haid kelas berapa ?"
"Kelas 3 SMP"
"Ih.. lama amaat. Yah, tapi nggak papa lah. Ummi, kata teman Ayuk kalau mau cepat haid pikirin aja yang jorok jorok"
("Hah ?" *panik panik. tapi harus tetap tenaang... tarik napaaasss... baru juga kemaren Mak Sondang ngomongin dampak pornografi)
"hehe.. tuh kan baru juga Ummi bilangin menjaga pandangan, menjaga hati.."
"Hehe... nggak lah Ummi. Aku nggak mau mikirin yang gitu" kata Ayuk sambil berlalu.

Duuuh duuuuh...
Ya Allah jagalah anak anak kami dari hal hal yang tidak Engkau Ridhoi

Kamis, 12 April 2012

Apa Tugas Harian Anakku ?

Hihi.. ini postingan emak emak pisan. Biarin deh. Daripada orang nyangka aku emak emak super bisa ngerjain ini dan itu. Mending aku ceritain.
Semua ini bukan sulapan cyn..soalnya nggak punya tongkat Harry Potter.
Bukan juga dikerjain sendiri. Mana kuaat.... eh mana taahaaan....
Mending diceritain. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat emak emak lain.
Aku dan suami sepakat melatih anak mengerjakan pekerjaan rumah sedini mungkin. Walaupun itu juga belum gitu gitu amat. Masiih sangat jauuuuh... dibandingkan apa yang dilakukan orang tua padaku dahulu. (gak tau ya.. pada suami qqq.. biasa kan anak laki suka diperlakukan lain)
Fathimah : Menyapu ruang tamu dan teras, mengelap kursi teras, termasuk mengepel teras luar ketika habis hujan, masak air pagi hari dan sepanjang hari. Air minum habis ? tinggal teriak ; Mbaaaaakkk.. maka dia tau maksudnya apa
Selain itu dia bertugas menyiapkan perlengkapan makan malam. nyiapin piring, masukin sayur dari dapur ke ruang makan, dan membereskan meja setelah peperangan eh acara makan selesai dll
Fikri : setiap pagi nungguin air PAM ngalir. Mengisi 2 tong persediaan air, 2 bak mandi, 2 ember cuci dan 1 ember persediaan air minum. Klo air PAM nggak ngalir, Fikri dan Abi bekerja sama menimba air dan mengusung pake ember ke bak mandi.
Merapikan kamar sendiri dan menyapu lantai dua. (isinya cuma kamar dia dan ruang setrikaan). Dia petugas ini itu untuk urusan sarapan. Menggelar karpet untuk shalat Maghrib berjamaah. (hal sepele gini aja bisa jadi bahan keributan lho..)
Fadhila : merapikan tempat tidurnya sendiri, membuka jendela, menyapu kamarnya, kamar umi, ruang makan dan ruang belakang. termasuk membereskan meja makan di pagi hari sebelum ada sarapan. dan petugas untuk makan siang. Ini jarang dilakukan, paling akhir pekan aja. pasang karpet ruang tengah klo malam hari buat duduk duduk / belajar bersama.
Firda : merapikan tempat tidurnya sendiri, menutup jendela kamar, menyapu ruang tivi dan dapur.

Tugas lain adalah :
-semua wajib mengeluarkan sampah ke gerobak sampah yang datang seminggu dua kali di hari Rabu dan Sabtu (termasuk Faiz ya..)
-semua anak menyiapkan sendiri buku pelajaran, pakaian dan perbekalan / keperluan sekolah lainnya. ngejadwal aku nggak pernah bantu sedikitpun mulai kelas satu SD. Nyiapin baju sekolah aku nggak pernah bantu mulai kelas B. (udah masuk kamar dan pakai baju sendiri, kalau salah kostum ya resiko) *kejam nggak sih ? Nggak ada cerita juga aku nganterin buku PR dan buku buku lain ke sekolah karena mereka lupa bawa. Supaya mereka belajar bertanggung jawab dan belajar menanggung resiko atas kelalaian. (duh .. bahasanya)
-aku nggak pernah suapin anak anakku di pagi hari menjelang sekolah dengan alasan biar cepat atau biar mau makanlah - sejak mereka kelas B. Resikonya bagiku adalah menyiapkan sarapan sepagi mungkin (krn anak anak suka lama kalau makan) atau pilih sarapan yang mudah buat anak. Resiko buat anak anak, klo mereka sarapannya lama ya bakalan telat ke sekolah.
Klo nyuapin di luar waktu itu siih.. kadang kadang, maksudnya satu suap dua suap gitu deeeh... bukan sepiring ya..
-Mandi, aku udah lepasin anak anak mandi sendiri sejak kelas B. Palingan dikontrol sesekali rambutnya, telinga dan belakang telinga, ketiak, leher dsb. Atau dengan pesan sponsor bagian bagian tubuh mana yang harus mendapat perhatian utk dibersihkan. Memang hasilnya mungkin tidak maksimal. Tapi aku nggak mau anakku telat belajar dan aku jadi emak yang kerepotan.
- cuci piring sendiri sendiri termasuk wadah bekal makan siang/tempat minum dsb terutama di malam hari karena aku lihat, klo pagi kadang aku sibuk masak gak keawasin.
-membereskan lemari baju masing masing. biasanya di akhir pekan
-mengganti seprei/sarung guling/bantal masing masing. *nunggu umminya sadar seprei kamar anaknya dah kelamaan
-tugas ke warung beli kerupuk, beli nasi kuning, beli minyak dsb apapun aku nggak bedain anak laki / perempuan. Siapa yang lagi gak ada tugas sekolah atau tugas lain, itu yang berangkat ke warung.

Jadi ... apa tugas ummi dooong...???  yah selain yang disebutkan di atas tentunya. Emak emak pasti tau kan ?

Selasa, 27 Maret 2012

Olala, Anakku Jatuh Cinta

Pagi hari, baru bangun tidur dan keluar kamar, masih sambil ucek ucek mata si Ayuk langsung cerita;
"Ummi, tadi malam aku nangis lho..."
"Kenapa ? Patah hati ?" si Ummi menjawab setengah menggoda. Soalnya, nggak seperti kakak kakaknya yang kelas 6-an lah baru ngomongin lawan jenis. Ini mah, dari kelas 4 kemarin udah CCP (pake istilah Tri = curi curi pandang)
"Ih Ummi, aku sebelumnya berfikir kenapa orang teh pada bunuh diri gara gara putus cinta, ternyata emang sedih ya..." sambungnya lagi
"Alaah.. cinta anak anak ini. Kamu mau bela belain si dia, lha si dia juga masih anak anak, kalau mau apa apa juga masih nangis ke ibunya, gimana mau ngurusin cewek. ?" aku menetralisir
"Hehe.. iya juga sih, Mi.."
"Udah deh.. jangan terlalu cinta. Nanti kalau kamu SMP, SMA, kamu bakal ketemu orang yang lebih pinter dan lebih cakep dari dia. Apalagi kalau udah kerja."
"Emang Ummi tau, siapa orangnya ?"
"Ya taulaaah..." (asli klo yang ini mah jawaban Sotoy, abis, gonta ganti melulu sih... siapa oknum "si dia" itu)
Rupanya Ayuk cukup puas dengan jawabanku, dia pun beranjak ke kamar mandi.
Huh, dasar bocah !


Minggu, 20 Maret 2011

Kita Tidak Perlu Mencintai Anak Kita !

Yah, betul.... Tidak salah baca.
Kita tidak perlu mencintai anak kita.  Apalagi sampai berbusa busa mulut kita untuk menyatakannya.
"Nak, ibu mencintaimu..., Nak, Ayah mencintaimu"
Percuma saja.


Eit, jangan protes dulu,
Yang harus kita lakukan adalah membuat anak merasa dicintai oleh kita, orangtuanya. Walaupun masih mempunyai seabreg kekurangan.
Apa bedanya ?
Dua hal di atas sangatlah berbeda, mencintai anak adalah dari mind map orang tua, sedang membuat anak merasa dicintai adalah bagaimana kita masuk ke mind map mereka.

Nyatakan cinta kita dengan bahasa yang dibutuhkan anak, bukan bahasa yang sebisa kita.
Bahasa Cinta yang dibutuhkan anak antara lain :

*kata kata yang didengarkan
*waktu yang berkualitas
*hadiah yang spesial
*pelayanan yang memuaskan
*sentuhan yang khas utk tiap anak

Dan, kadangkala, masing masing anak mempunyai 'bahasa cinta' yang berbeda. 

Kita sebagai orang tua mesti pintar pintar mengungkapkan cinta sesuai bahasa anak kita.

Jadi... bapak ibu nggak akan protes lagi kan klo sy katakan tidak perlu mencintai anak kita?

Rabu, 05 Januari 2011

Ummi, aku boleh pacaran nggak ?



Dug ! berasa ditonjok ulu hatiku (lebay, padahal ga tau rasanya gmana).
Yah, kalau itu pertanyaan yang diajukan oleh anak 17+ mungkin aku lebih siap. Tapi ini yang nanya adalah anak yang baru 13+.(berapa hari... belum genap sebulan).
Walaupun berasa asing di telinga, mengingat Ummi dulu tidak pernah membicarakan ini dengan Ibu, tetap aja berusaha menenang nenangkan diri.

"Emang mbak udah punya calon?" tanyaku.
"Belum ada sih..., nanti kalau udah ada, mbak boleh pacaran nggak, Mi ?
"Hehe.. Mbak kan dah tau jawabannya.... " Tetep Ummi nggak mau jawab. Soalnya yakin banget, sewaktu dia masih MI para guru udah ngebahas. Bahkan ada sesi "Keputrian" tiap Jumat siang.
Lagian, Mbak udah baca buku buku kumcer remaja tulisan Asma Nadia, HTR, FLP dan sejenisnya.
"Ih, Ummi mah curang ! Dulu Abi juga waktu sebelum menikah pernah pacaran"
"Kata siapa ?" tanya Ummi kalem dan berlagak pilon.
"Kata Mama " (Mama itu panggilan untuk kakak Abi, semua keponakan memanggil Mama).
"Yaah, itu kan karena saat itu, Abi belum tahu tentang hal ini. Sekarang Mbak udah lebih paham, udah lebih pinter, dan lebih sholehah dibandingkan dengan Ummi dan Abi pada seumur Mbak" kataku
"Aaaah.. Ummi !" kata Mbak sambil berlalu

Surat Cinta

Rupanya trending topic -nya masih seputar cinta.

Sambil membantu menyiapkan makan malam, mbak nanyain..
"Ummi pernah dapat surat cinta nggak, Mi ?"
Ummi yang kebat kebit dengar pertanyaan itu, (gak nyadar dah punya anak gadis) langsung mengalihkan perhatian. Menyanyi lagu Vina Panduwinata.  --- surat cintaku yang pertama, membikin hatiku berlomba -- sembari asyik cuci piring
"Ih... Ummi, serius atuh Mi..., pernah dapat surat cinta nggak ?"
"Nggak laaah" Jawab Ummi menyembunyikan kenyataan
"Kenapa Mi, nggak laku ya..?"
Ummi cuma menjawab dengan senyuman sambil menumis numis.
"Ummi.... mbak serius ini..." Mbak mulai merajuk
"Emang masih jaman gitu, surat-suratan ?" tanyaku.
"Kirim lewat email ajaaa... " adik cowok tiba tiba nyeletuk.
"Sama aja,  itu surat-suratan" kataku.
"Ummi kalau sekarang ada yang ngasih Ummi surat cinta, bagaimana ?" mbak masih usaha
"Ya nggak papa, Kan Ummi sering dapat surat cinta dari kalian... " jawabku (kapan kapan aku posting salah satu atau beberapa suratnya)
"Bukan itu... dari laki laki, misalnya..." kata mbak
"Itu laki laki gila, nggak mikir apa, Ummi udah punya anak dan suami" sambung Fikri
"Yup betul itu jawab Fikri. Ummi punya usulan mbak, bagaimana kalau surat cintanya di laminating, terus dipigura ?"
"Iya Mi, setuju Mi. Ide bagus" Fikri nyeletuk lagi.
(rupanya anak ini diam diam nguping, topik hangat ternyata, pura pura aja mondar mandir, tapi selalu masuk di saat yang tepat)
" Ummiiiiii maaaah...... " Mbak cemberut lagi sambil bawa piring masuk ke ruang makan.

Hhh..... untuk sementara pembicaraan kuanggap selesai. tenaaang... tenaanggg...

Minggu, 19 Desember 2010

20 Langkah Salah dalam Mendidik Anak

Catatan  ini disarikan dari buku yang ditulis oleh Muhammad Rasyid Dimas, penasaran lihat namanya kirain orang Indonesia. Ternyata buku ini merupakan terjemahan. Muhammad Rasyid Dimas ini lulusan Fakultas Pendidikan dan Psikologi Al Imarat University dengan nilai excellent dan menduduki peringkat satu. Selain itu beliau juga master (excellent juga) di Bidang Perencanaan, Analisis dan Perancangan Sistem.
Menurut beliau, ada 20 kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak
1. Memaksakan kewajiban tanpa memberi pemahaman
Kebanyakan yang dikatakan orang tua adalah kalimat perintah. Misal, cepat bangun, cepat makan, pakailah pakaianmu, dsb. Hal ini kadang membuat anak pura pura tidak mendengar dan tidak mengerjakannya. Disisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan si anak menolak perintah dan melanggar larangan lantaran mengikuti hawa nafsunya. Maka menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan pemahaman tentang apa dan kenapa suatu kewajiban dibebankan.
Hal ini akan melatih daya pikir si anak untuk menjangkau suatu hikmah atas kenapa suatu kewajiban ditetapkan. Jangan sampai kelak dia melanggar peraturan dan meninggalkan kewajiban hanya dengan alasan karena dia tidak yakin atau belum bisa menerimanya.

2. Menyikapi perilaku anak hanya dengan satu pola
Misalnya orang tua selalu bersikap keras, padahal anak sudah berusaha menjadi baik. Ini akan membuat anak putus asa dan malas berbuat baik, toh tetap dipersalahkan. atau  anak selalu disanjung padahal dia berbuat kesalahan, maka akan membuatnya tidak mempunyai kepedulian.

3. Enggan menerapkan disiplin
Anak membutuhkan disiplin seperti mereka membutuhkan kasih sayang. Kadang orang tua mudah berputus asa, atau lemah tekadnya untuk membuat anak disiplin. ada juga orang tua yang khawatir, ketika dia menerapkan kesiplinan, maka akan kehilangan cinta si anak.

4. Tidak menggunakan siasat nafas panjang saat menyikapi kesalahan anak
Sabar, sabar dan sabar. Itulah kata yang mewakili dalam hal mendidik anak. Wasiat "jangan marah" yang sering diungkapkan Rasulullah juga berlaku dalam mendidik anak. Karena sikap sabar, tenang, bijak dan pemaaf sangat diperlukan dalam membentuk kepribadian anak.
Beberapa hal yang harus difahami orang tua dlm menyikapi kesalahan anak :
- parameter dunia anak berbeda dengan parameter orang dewasa
- anak berbuat kesalahan adalah lumrah, karena sedang proses belajar
- permasalahan personal tidak akan selesai dalam sehari semalam, jadi perlu waktu dan  kesabaran

5. Tidak berupaya mengetahui motif anak berbuat salah
Kadang si anak berbuat kesalahan tanpa sengaja atau tanpa tahu bahwa dia berbuat kesalahan, jadi orang tua harus berusaha mengetahui latar belakangnya.

6. Selalu menerima syarat yang diajukan oleh anak
Hentikanlah memberikan imbalan atas suatu kewajiban yang dilakukan anak. Ini seolah olah merupakan "suap" bagi si anak. Lebih baik meluruskan motivasi si anak sejak awal daripada setelah besar lebih susah untuk melakukannya.

7. Berlebihan dalam berjanji kepada anak

8. Menghukum anak atas perbuatan baiknya
Misalnya, si anak tiba tiba membereskan tempat tidur sebagai kejutan untuk ibunya. Setelah itu dia lapor pada ibunya, Bu aku sudah membereskan tempat tidur. Kemudian si Ibu berkata : Kamu harusnya mandi dulu baru membereskan tempat tidur !"
Nah si anak akan kecewa. Atau orang tua yang malas memberikan pujian atas hasil karya anak, karena dia sedang sibuk bekerja, dengan jawaban jawaban "Sana, main lagi aja, ibu sedang sibuk" dll secara tidak langsung "menghukum" si anak yang telah berbuat kebaikan.

9. Tidak menghukum perilaku buruk anak
Misal si A memukul temannya, orang tua hanya berkata "namanya juga anak-anak, nanti juga berbaikan lagi". Ini akan membuat si A  semakin menjadi - jadi di lain waktu.

10. Memberikan isyarat negatif Katakan selalu kata kata positif terhadap anak untuk memotivasi. Kamu anak pinter, kamu anak pemberani dsb

11. Membandingkan seroanga anak dengan anak lain dengan tidak adil

12. Memberlakukan standar ganda
Misalnya, pernah orang tua tertawa-tawa dan merasa lucu ketika si anak jalan jalan telanjang dalam rumah. Besoknya dia melakukan hal yang sama tapi pas ada tamu, eh, orang tua marah. Maka si anak akan bingung.
Contoh lain, orang tua meminta anak bicara jujur, tapi pernah meminta si anak mengatakan ayah tidak ada, ketika ada tamu yang tidak disukai, dll.

13. Tidak memenuhi kebutuhan kasih sayang dan cinta anak
Anak membutuhkan kepasatian bahwa dirinya dicintai. Rasa cinta kepada anak, akan membuatnya aman dan tentram serta tumbuh alami dan terhindar dari kegoncangan jiwa, frustasi maupun rendah diri. Anak yang mendapat cinta dan kasih sayang, lebih cenderung bersikap patuh, bisa bekerja sama dan disiplin.

14. Tidak memperhatikan patokan-patokan dalam memberikan sanksi fisik
Tidak memberlakukan hukuman fisik sama sekali, adalah hal yang salah juga. Tetapi, hukuman fisik adalah langkah terakhir. Selain itu, hindari menghukum saat marah. Ada tahapan tahapan memberikan hukuman :
- sampai dua tahun anak tidak boleh dihukum, tapi diberi imbalan atas perbuatan baiknya.
- setelah tiga tahun anak dapat menangkap perubahan roman muka ketika kita marah atau tidak suka.
- sampai usia delapan tahun, hukumannya adalah mengambil/mengurangi kenikmatan jika si anak bersalah.misal anak merusak mainan, maka mainannya disimpan utk waktu tertentu.
- sampai sepuluh tahun, anak ditegur dengan kata-kata.
- setelah 10 tahun anak boleh dipukul dengan "pukulan edukatif". (tidak dimuka, tidak di kepala, tidak menyakitkan, tidak keras)
- mengganti pukulan dengan kecaman ketika si anak sudah sampai tahap "menjadi teman" yaitu sekitar 12-14 tahun.

15. Tidak memperhatikan perbedaaan individual dalam mendidik anak
Setiap anak mempunyai kecenderungan yang berbeda, ada anak penurut, ada anak yang mudah menerima akhak baik, ada anak kritis, semua harus disesuaikan dengan si anak.

16. Tidak bertahap dalam berinteraksi dengan anak
Dalam memperbaiki akhak, pertama yang kita lakukan adalah meluruskan secara umum di hadapan semua anak tanpa menyebutkan si pelaku kesalahan. Jika tidak berhasil, maka luruskanlah di tempat tertutup (terpisah dari anak lain). Selain itu, bila cukup dengan isyarat, maka janganlah dilakukan dengan yang lebih keras dari itu. Harap dipahami, bahwa manusia sulit untuk merubah seluruh perilakunya secara sekaligus, sehingga harus bertahap.

17. Menghina, melecehkan, dan diskriminatif dalam memperlakukan anak

18. Tidak kompak dalam cara mendidik
Komunikasi orangtua, ayah dan ibu, harus menerapkan cara yang sama dalam mendidik anak. Jangan sampai si ayah menolak prinsip ibu, atau sebaliknya. karena ini akan membingungkan si anak.

19. Tidak melibatkan anak dalam membuat aturan
Ini adalah semacam kesepakatan antara ortu dan anak. Sehingga anak pun akan lebih bertanggung jawab ketika dia juga ikut menentukan peraturan.

20. Bersikap negatif dan salah terhadap anak
Otoriter, over protektif, mengabaikan/tidak peduli, memanjakan adalah contoh sikap yang salah terhadap anak.


wallahu 'alam bish-showwab

Minggu, 21 November 2010

Pantesan, Suruh Nikahin Satu Aja

Abi dan F3

Suatu Sabtu,  hari yang sibuk. Asisten Rumah Tangga jadwal libur.
Pagi pagi, setelah kelar memasak, kami harus kesana kemari mengambil raport bayangan.
Pertama tama ke SMP anakku yang paling besar, si F1.
Kemudian ke SD anak ke F2 sampai ke F4.
Rada repot juga, karena kami mengajak serta F4 dan F5.
F1 tetap ke sekolah, F2 dan F3 berdua di rumah.
F3 nggak jadi main ke rumah temannya karena nanti F2 tidak ada teman di rumah.
Sedang membawa mereka semua tidak memungkinkan karena kendaraan kami baru beroda dua. 

Selama di sekolah, Abi memilih aku saja yang mengantri, dan doi menjaga F4 dan F5 bermain di luar.
Walhasil sampai siang kami baru pulang ke rumah.
Yang membuat tambah capek adalah hasil raport anak anak kurang memuaskan.
Memang kami tidak pernah menargetkan mereka untuk menjadi juara kelas.
Tapi, yang mengecewakan kami adalah, hasil raport kali ini benar benar anjlok dibandingkan prestasi mereka sebelumnya.
Kecuali raport si F4 yang full nilai sempurna.  Hanya ada dua nilai 9 itupun nilai tertinggi yang diberikan untuk pelajaran tsb (kesenian dan menghafal) .



Sorenya, sehabis maghrib, seperti biasa aku lagi sibuk menghangatkan sayur untuk makan malam, dan menambah lauk pauk yang habis, untuk makan malam.

Tiba tiba Abi datang ke dapur, langsung nongkrong di bawah. *posisi ngajak cerita*
"De, tadi pagi tuh Abi bingung ..." katanya
"Kenapa ?" aku menoleh sebentar dan kembali mengoseng oseng.
"Kasian Ayuk (F3) mau main nggak jadi" kata Abi.
"Iya juga sih, tapi klo dia main kan kasian Fikri (F2) jadi di rumah sendiri. Sementara kalau Bibi masuk hari ini, besok kita nggak bisa pergi" kataku.
"Ayuk pasti kecewa ya, padahal bukan maksudku untuk melarang dia main" sambung Abi.
"Besok minggu dia bisa main kok " kataku menghibur sambil mencuci tanganku.
Abi diam dan (seperti) berpikir.  Sebentar kemudian dia berkata :
"Pantesan ya, dalam Al Qur'an di sebutkan, nikahilah dua, tiga atau 4 orang, kalau nggak sanggup maka nikahin satu aja. Karena adil itu susah."

Aku langsung balik badan dan menatapnya.
*Dalam hatiku bertanya, Kok jadi ke situ ??? apakah ini sebuah pertanda sudah berubah pikiran ???
Hihihi duluuuuuu sekali, sehari setelah kami menikah, suamiku pernah bilang, umur 40 mau nikah lagi*
Tanpa berlama lama, biar nggak ketauan bengongnya (untung ibu ibu sudah sering berpikir cepat ya...) aku (berusaha) menjawab tetap dalam konteks pembicaraan :
"Halah  anak itu kan sudah biasa sensi, Ayuk juga pasti mengerti kondisi tadi " kataku sambil mencuci wajan.
Abi pun kemudian bergeser ke ruang tivi dan menonton berita.

Selasa, 16 November 2010

Alhamdulillah, Menyapih Dengan Cinta


Alhamdulillah, setelah melalui berbagai perjuangan antara lain seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya,  sudah seminggu lebih Faiz benar benar selesai minum ASI, alias telah sukses disapih dengan cinta versi kami.

Faiz sebenarnya dipersiapkan untuk disapih sejak umurnya masih 18 bulan.
Waktu itu, teman teman di sekitarku yang mempunyai bayi seumuran Faiz, udah ramai menceritakan tentang menyapih dengan cinta (aku gak gaul banget yah...),
yang intinya (menurut pengertianku) anak tidak boleh disapih dengan paksa, apalagi ditipu tipu dengan pahit pahitan atau dengan warna warna ngeri di seputar pabrik ASI kita.

Maka aku pun mulai proses itu. Pertama-tama aku mengatakan ke Faiz,
"Ais, nanti kalau Aiz udah dua tahun, berhenti ya minum ASI-nya"
Saat itu Faiz cuma ngangguk ngangguk dan menjawab hmm pendek saja,  karena mulutnya lagi asyik minum ASI.
Aku menangkapnya itu tanda ia setuju.
Demikiaaannn... terus, aku ulang ulang sampai usianya dua tahun.

Beberapa hari lewat dua tahun usianya, aku lebih serius mengingatkan tentang "berhenti minum ASI' itu.
Entah aku yang salah selama ini, atau bagaimana, suatu ketika aku mengatakannya tidak dengan istilah berhenti, tapi dengan kata kata STOP.
"Aiz, sekarang kan sudah dua tahun, jadi minum ASI-nya stop ya.."
"hhhmmmmmmmmmmmmmmmmm..."  *mulutnya masih ngenyot ASI* jawabannya kali ini lain. *nada meninggi seperti mau nangis*
Walah !! aku baru kepikiran.
Jangan jangan selama ini Faiz belum mengerti arti kata "berhenti"
Aku baru ingat, ketika itu Faiz lagi seneng senengnya main "jalan maju - mundur" dan dia paling suka jalan mundur jauh jauh,
sampai akhirnya kakak kakaknya bilang "STOP" dan dia berhenti mundur.

Waduh, aku harus ganti strategi.
Kami mundurkan lagi saat penyapihan.
Yang target awalnya adalah Lebaran Idul Fitri (Faiz lahir 27 Ramadhan) maka aku -dan Abinya tentu saja- memutuskan untuk memperpanjang tenggat sampai Lebaran Idul Adha.
Aku mulai lagi membujuknya.
Kumulai jalan tengah,  Faiz hanya diijinkan minum ASI pas malam hari.
Kalau siang hari nggak boleh sama sekali. Walaupun hari libur !! Ini berlangsung kira kira sebulan.
Terus terang, hal 'tidak minum ASI di siang hari libur" ini adalah hal yang sulit di banding hari kerja.
Kalau hari kerja kan Ummi nggak di rumah, berbeda dengan hari libur, Ummi di rumah, dan bibi juga ikut libur alias gak ada 'pelarian'  buat Faiz.
Hari kerja pun, bukan nggak ada tantangan, setiap pulang kerja, maghrib maghrib, Faiz serrrriiiiing banget nangis minta minum ASI.
Dan tahu sendiri, di usianya yang makin besar,  suaranya juga makin besar alias teriakannya kenceng banget.
Maghrib gitu lho.. saat kami semua shalat berjamaah, dia teriak teriak dan bergulingan antara Ummi dan Abi.

Jadilah, si Abi yang mulai nggak sabar dengan teriakan itu, lagi lagi kasih ultimatum "Lebaran haji harus udah selesai " !
Walaupun Abi berusaha membujuk dan mengalihkan perhatian Faiz klo lagi nangis nangis gitu, tetep aja Faiz lebih sering memilih di gendong Ummi aja.
Puncaknya seminggu sebelum lebaran kemaren, pas kami tegang nunggu kakak dari Lampung dan temannya yang mendadak mau datang, Faiz teriak teriak lagi.
Asli keras banget, sampai Abi mengeluarkan suara yang agak keras juga untuk menghentikan tangisnya.
Faiz bukannya ngeper terus diem, malah seperti diajarin.
Faiz  teriak lebih keras lagi.
Aku trenyuuuuuh........................ sekali.
Walhasil shalat maghrib kali itu, kujalani dengan berderai derai air mata ditingkahi rengek tangis Faiz.

Selesai shalat, aku ajak Faiz masuk kamar. 
Aku tatap matanya lekat lekat.
Dan kubelai rambutnya dengan segenap cinta.
Anehnya, tangisnya hilang seketika. Dia juga menatap mataku. Aku berkata "
"Faiz, Ummi mau bilang sama Faiz ya..
Sekarang Faiz sudah besar, jadi  Faiz harus  benar benar berhenti minum ASI ya..
Walaupun Faiz nggak minum ASI lagi,
kita masih bisa berduaan, bisa  bermain bersama, baca buku bersama, masih bisa sayang sayangan, dan pergi berdua"

"HUaaaaaaaa........." Tiba-tiba Faiz menangis keras sekali, sepertinya dia mengerti apa yang terjadi baru saja aku bicarakan.
Maka aku peluk dia, sambil ku usap usap kepala dan punggungnya. Faiz menangis tidak lama.
Dan sejak malam itu, ajaib, Faiz berhenti minum ASI. 
Malam itu dia menangis sekali, kemudian aku beri air putih dan tidur lagi. Malam berikutnya malahan jarang sekali Faiz terbangun di malam hari.
Alhamdulillah......

NB : sesekali Faiz masih ingat mau minta ASI, tapi tidak sampai rewel dan menangis teriak teriak seperti sebelum di sapih

Minggu, 14 November 2010

Polah si Kecil Cermin Kepribadiannya ?

era Farah Bararah - detikHealthJakarta, Setiap anak memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda, bahkan pada anak kembar sekalipun. Tapi ternyata kepribadian anak bisa diketahui melalui tingkah lakunya sehari-hari.

"Semua anak memiliki salah satu indera di tubuhnya yang lebih dominan, indera dominan ini yang akan menentukan bagaimana anak-anak berpengalaman dan berhubungan dengan dunia luar," ujar peneliti perilaku Priscilla Dunstan, seperti dikutip dari Parenting, Senin (8/11/2010).

Pengalaman dan cara anak berhubungan dengan dunia luar ini yang akan membentuk kepribadian si kecil. Berikut ini panduan bagi orangtua untuk mengerti dan mengetahui kepribadian anak, yaitu:

Anak taktil


1. Anak-anak taktil akan mengekspresikan dirinya secara fisik. Jika bahagia ia akan melompat-lompat, jika merasa sedih ia akan membutuhkan pelukan, jika marah atau gembira ia akan mendorong atau melempar sesuatu.
2. Umumnya anak-anak ini akan belajar sambil praktek (learn by doing). Pada bayi ia akan senang digendong sepanjang waktu dan lebih mudah ditenangkan melalui gerakan atau sentuhan.
3. Bagi balita, orangtua mungkin akan melihatnya melemparkan diri ke tanah dan meronta-ronta, senang digelitik atau melakukan sesuatu secara fisik dan umumnya tidak suka sendirian.
4. Untuk anak sekolah umumnya akan memberikan respons yang lebih baik dalam hal pelajaran yang melibatkan sesuatu yang nyata atau bisa dipegang.

Anak auditori


1. Anak-anak auditori akan memperhatikan nada suara orang dan tingkat kebisingan.
2. Semua perasaan akan diungkapkan melalui suara, seperti tertawa terbahak-bahak, menangis keras, berteriak saat marah serta selalu mencari ketertiban dan pola. Pada bayi umumnya akan lebih mudah terkejut, dan tenang jika didengarkan musik.
3. Bagi balita umumnya ditunjukkan dengan jeritan bernada tinggi saat sedang marah atau mengamuk, cepat fokus pada percakapan atau musik favoritnya.
4. Sedangkan untuk anak sekolah akan belajar lebih baik ketika sedang membaca sambil bersuara dan lebih mudah menangkap pelajaran melalui suara atau dibacakan.

Anak visual


1. Anak-anak visual akan belajar dengan cara menonton dan meniru.
2. Anak-anak senang memperhatikan mainan melalui bentuk, warna atau ukuran, serta cenderung lebih mudah belajar membaca.
3. Tapi akan terganggu jika terlalu banyak rangsangan secara visual seperti dari televisi, keramaian atau kekacauan.
4. Pada bayi cenderung akan merasa aman atau nyaman jika orangtua atau pengasuh ada di dekatnya.
5. Pada balita amukan yang ditunjukkan akan sangat dramatis dengan ekspresi wajah yang jelas serta air mata berlebihan, biasanya terjadi jika ia mengalami gangguan visual saat menonton televisi atau melihat sesuatu.
6. Untuk anak sekolah akan lebih mudah memahamil pelajaran melalui visualisasi seperti buku bergambar atau kartu.

Dikutip dari sini

Kamis, 11 November 2010

Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak

Sudah lama banget pengen baca buku ini.
Penyebabnya, supervisor di Sygma Daya Insani yang selalu ngompor ngomporin bahwa aku harus baca buku best seller Rekor Muri ini.
Padahal dia sendiri belum berumah tangga lho..

Akhirnya sukuuuuuuuurrrrrr banget, aku berhasil juga membacanya di tengah tengah pelatihan Sahabat Sygma.
(sayang di goodreads gak ada gambar covernya)

Beberapa hal yang dapat kucatat dari buku ini adalah :
1. Gak ada yang salah ketika seorang Ibu memutuskan untuk bekerja di luar rumah, hanya saja memang dia harus berjuang lebih keras, agar dapat melaksanakan tugas tugas utamanya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.Melly Kiong mencontohkan bagaimana dia menyiapkan makan siang buat bekal anak anaknya, dan selalu menyelipkan memo kecil di kotak makan siang anaknya, yang berisi pesan/ungkapan sayang dan TEKA TEKI. Hasilnya si Anak yg tadinya gak mau makan nasi bekal, jadi malah menanti nanti saat 'membuka bekal dari rumah'.
2. Memupuk rasa bersalah adalah sebuah 'kesalahan' yang justru akan membuat kita melakukan kesalahan kesalahan berikutnya. Yang harus kita usahakan adalah bagaimana membuat waktu pertemuan antara kita dengan anak-anak menjadi pertemuan yang berkualitas dan selalu menyenangkan buat kedua belah pihak. Berikan anak kita pengertian bahwa kita bekerja untuk apa, dan ajaklah mereka berbicara.
3. Menyayangi anak TIDAK SAMA dengan memanjakan anak. Melly pernah membuang baju seragam anak ke tempat sampah, karena setelah ganti baju mereka tidak memasukkan baju seragam itu ke keranjang pakaian kotor. hasilnya anak anaknya jadi mau membereskan baju seragamnya sendiri.
4. Pengasuh adalah mitra mendidik anak, jadi kita harus menghargai peran mereka dan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Kalau bisa, para pengasuh ini punya Job Description tertulis, agar -klo pengasuh/asisten lebih dari satu terutama - dapat memahami tugas masing masing
5. Jangan pelit memberikan pujian bagi perilaku baik anak. Gunakan buku penghubung atau kertas tempelan di kulkas rumah untuk mencatat kebaikan anak-anak. Walhasil anak anak akan berlomba lomba melakukan kebaikan.
6. Usahakan komando tunggal di rumah, klo ayah bilang A, berarti ibu harus nurut A. dan sebaliknya.
7. Mengelola keinginan anak dengan konsekuensi2. Dicontohkan misal seorang anak yg minta es krim, boleh asal tidak sedang batuk. TIDAK SEDANG BATUK ini di tekankan, konsekuensinya kalau si anak SEDANG BATUK tidak boleh makan es krim.
8. Beri kesempatan anak melakukan hal hal baru, atau melakukan sendiri. Misalnya menyediakan bangku kecil biar anak yang kecil bisa mencuci tangan/menggosok gigi di wastafel. Awalnya orang tua mungkin khawatir anak jatuh, tapi ternyata anak anak yang diajari mandiri sejak awal, mereka akan bisa benar benar mandiri.
9. Buat what to do list untuk anak anak dan berikan stiker untuk hal hal yg dilakukan tepat waktu. dan beri hukuman juga untuk yang terlambat. Melly mencontohkan misal waktu makan 30 menit, kalau anak makan 35 menit, maka dia harus berdiri 5 menit (sama dengan waktu yg lebih).
Stiker jadwal harian ini menjadi 'tiket' untuk mendapatkan penghargaan 'mingguan'. (jadi ingat postingan di The Urban Mama)
10. Bikin MUSIUM KASIH MAMA yang isinya pernak pernik kecil kecil misal gigi tanggal, rambut anak, atau karya karya anak kita.

Catatanku : dalam hal 'menghukum anak' ini aku pernah baca ada tahapan-tahapannya, kapan kapan di cari lagi deh.
Hihi baru nyadar, reviuw-nya mirip "Rangkuman" pas SD dulu, biarin deh, soalnya bukunya memang teknis banget dan cumi alias cuma minjem, jadi biar gak lupa ya aku tuliskan aja semuanya.

Selasa, 09 November 2010

Lima Makanan Pantangan Buat Anak

Wah, jadi seneng nih, ngumpulin artikel seputar anak. Kali ini, titi dapat dari  sini. Semoga bermanfaat.
Sayang anak bukan berarti memberinya segala jenis makanan dan minuman yang disukainya. Seperti gorengan, burger, camilan kemasan atau kentang goreng. Sebagai orang tua yang cerdas memilih makanan dan minuman yang sehat serta aman untuk anak tercinta sangat penting.
Kami yakin Anda yang memiliki anak sudah mengetahui makanan mana saja yang tidak sehat, memiliki pengawet atau pewarna. Tapi tahukah Anda kalau makanan dan minuman ini sebenarnya tidak baik untuk kesehatan dan perkembangan anak-anak? Meski kita rutin menyantapnya.
Berikut beberapa santapan yang kurang sehat untuk anak Anda, seperti yang dilansir situs Shine:
1. Roti putih, meses dan selai botol
Makanan yang dibuat dari terpung terigu ini menjadi favorit banyak orang yang tinggal di perkotaan sebagai asupan sarapan saat pagi hari. Menyiapkannya mudah, mengenyangkan dan harganya relatif murah. Tapi roti putih berpotensi membuat anak Anda gemuk karena kandungan karbohidratnya tinggi.
Selain itu roti putih juga minim kandungan gizi. Makin berpotensi membahayakan kesehatan jika ditambah olesan selai botol dan meses. Selai botol dan meses buatan pabrik terdapat kandungan bahan pengawet, pewarna dan gula dalam konsentrasi tinggi. Jika terlalu sering dikonsumsi dalam jangka waktu panjang bisa merusak gigi, mulut dan ginjal anak Anda.
Gantilah roti putih dengan roti gandum. Roti gandum dikenal memiliki serat tinggi dan karbohidrat rendah. Jika tak suka rasanya yang tawar, bisa ditambahkan dengan kismis.
2. Kentang panggang dan Roti goreng (pretzel)
Jajanan yang satu ini bukan hanya anak-anak yang doyan, orang dewasa pun demikian. Rasanya gurih dan mengenyangkan. Tapi kentang panggang dan roti goreng punya kandungan lemak dan garam yang tinggi. Nutrisinya juga rendah sehingga kurang bermanfaat untuk daya tahan anak Anda.
Jika ingin kentang panggang yang sehat, tambahkan keju dan daging cincang agar kadar proteinnya tinggi. Jangan lupa brokoli yang direbus tidak terlalu lama sangat baik menangkal sejumlah penyakit.
3. Susu
Susu baik bagi anak. Susu memiliki kandungan vitamin D dan kalsium yang baik bagi pertumbuhan tulang anak. Tapi jangan terlalu lama memberikan susu kepada anak karena kandungan lemaknya tinggi. Lemak yang berlebih pada anak bisa mengakibatkan obesitas atau berat badan yang tidak seimbang. Jika anak mengalami obesitas, ia akan mengalami kesulitan dalam bernafas, beraktivitas, bergaul dan bisa menyebabkan gangguan jantung atau diabetes.
American Academy of Pediatric menganjurkan agar anak yang berusia di atas dua tahun lebih baik meminum susu rendah lemak (low fat milk). Susu rendah lemak tetap mengandung vitamin D dan kalsium, tapi kadar lemaknya rendah.
Tapi akan lebih baik jika anak mendapat air susu ibu (ASI), minimal untuk enam bulan pertama setelah dilahirkan.
4. Pasta apel
Pasta apel, terutama di masyarakat Amerika Serikat, sangat digemari. Harganya murah, praktis dan lezat. Tapi pasta apel tidak sehat karena banyak mengandung bahan pengawet dan gula. Bahan pengawet jika dikonsumsi berlebih bisa berakibat kanker. Gula yang terlalu banyak membuat gigi keropos dan berpotensi kegemukan serta diabetes.
Apel atau buah segar tetap yang paling baik. Biasakan anak-anak menyantap buah segar agar gigi mereka kuat, tidak sariawan, pencernaannya lancar dan jarang sakit flu. Jika anak enggan mengunyah buah, Anda bisa mengirisnya lalu mencampurnya dengan susu rendah lemak dan sereal gandum.
Tapi ingat, buah yang sehat dan segar adalah yang disantap tidak lebih dari lima jam setelah dikupas/dipotong.
5. Makanan kemasan dan minuman soda
Ini salah satu produk yang paling menggoda. Kemasannya menarik mata dan rasanya disukai anak-anak. Sebagian besar makanan kemasan mengandung bahan pengawet. Selain itu kandungan penyedap rasanya (MSG) tinggi. Penyedap rasa tidak baik untuk kecerdasan anak. Selain itu penyedap rasa bisa membuat sariawan bahkan iritasi mulut.
Soda pun demikian. Kandungan gulanya tinggi. Bisa menyebabkan keropos pada gigi anak-anak. Juga berpotensi mengakibatkan keropos tulang dini.
Biasakan anak Anda minum air putih, jus buah segar atau susu rendah lemak. Untuk makanan kemasan, ganti yang terbuat dari rumput laut atau makanan laut. Kedua snack jenis ini tinggi protein, rendah garam dan MSG.
Nah, sebagai orang tua, biasakan Anda memberi contoh makanan dan minuman apa saja yang baik untuk dilahap. Meminta atau mengomeli anak bukan contoh yang baik. Jika asupan anak bergizi dan berimbang, sang buah hati pun akan memiliki daya tahan tubuh dan kecerdasan yang baik.
Fajar AP; redaksi[at]yahoo-inc[dot]com

Kamis, 04 November 2010

Kenapa Anak Laki laki Lebih Pendiam ?

hihi dapat ini dari sini, jadi ngerti deh...

Kenapa Pria Lebih Pendiam ?

Michigan,
Kenapa pria kebanyakan pendiam? Ooo, ternyata ini berhubungan dengan kemampuan berbahasanya. Menurut penelitian anak laki-laki memang cenderung lebih sulit mempelajari kemampuan bahasa.

Maka itu peneliti di Michigan State University menegaskan mengajarkan kemampuan bahasa pada anak laki-laki lebih penting ketimbang perempuan. Tujuannya agar dapat membantu mengembangkan kontrol diri dan akhirnya membantu anak berhasil di sekolah.

"Hal ini menekankan bahwa orangtua sebaiknya lebih banyak menggunakan kata-kata untuk membantu perkembangan anak laki-lakinya," jelas Claire Vallotton, asisten profesor perkembangan anak di Michigan State University, dilansir Sciencedaily, Kamis (4/11/2010).

Menurut Vallotton, anak laki-laki perlu mendapatkan perhatian ekstra dari penyedia perawatan anak dan guru untuk membantunya membangun keterampilan bahasa dan menggunakan keterampilan-keterampilan untuk mengatur emosi dan perilaku.

"Kemampuan bahasa memiliki dampak yang lebih besar pada anak laki-laki, tetapi kebanyakan anak laki-laki cenderung lebih sulit mempelajari bahasa," jelas Catherine Ayoub dari Harvard Medical School.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, pria dan wanita memang berpikir dengan cara yang berbeda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi otak antara pria dan wanita.

Otak terdiri dari dua jenis jaringan utama, yaitu yang disebut dengan materi abu-abu (gray matter) dan materi putih (white matter).

Penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya pria memiliki materi abu-abu 6,5 kali lebih besar dari wanita, sedangkan materi putih wanita 10 kali lebih besar dari pria.

Materi abu-abu merupakan komponen utama sistem saraf pusat, terdiri dari sel saraf tubuh, neuropil (dendrit serta akson un-myelin dan myelin), sel-sel glial (astroglia dan oligodendrocytes) dan kapiler yang bisa diibaratkan sebagai prosesor pada komputer.

Sedangkan materi putih sebagian besar terdiri dari akson myelin (zat lemak putih) yang merupakan jalur transmisi utama sistem saraf.

Inilah sebabnya mengapa pria cenderung lebih unggul pada bidang yang membutuhkan proses lokal seperti matematika. Sementara wanita lebih unggul pada bidang integerasi dan asimilasi (penyesuaian) informasi seperti kemampuan bahasa.

Jumat, 29 Oktober 2010

Ortu Disiplin Anak Disiplin 2

Paling syusah dalam perjuangan menyapih ini adalah pas hari libur.
Karena perjanjianku dengan Faiz adalah minum ASI hanya diikinkan di malam hari saja pas masa transisi ini.

Pagi ini cuma kami berdua di rumah. Faiz udah merengek rengek, mengantuk sambil memberi isyarat pengen ASI.
Akupun bertahan untuk membujuknya.
Menggendongnya,menawarkan susu UHT, menawarkan madu dan Faiz ttp bilang nggak mau.

Aduuh rasanya gak tega dengar rintihan 'sakau' nya.
Tapi kucoba bertahan
"nggak Aiz,perjanjian kita minum asi cuma di malam hari" kataku.
aiz diam
"aiz harus belajar ya,ummi yakin Aiz bisa mengerti" sambungku sambil mengusap kepalanya dg tangan kananku.

faiz masih oek oek bagai bayi ketika kugendong keliling rumah yg sepi sambil nyanyi.
"walking walking 2x
jump jump jump
running running running 2x
and now stop"
setelah beberapa putaran dia mulai tenang.
setelah 10 putaran kuminta merem dia nurut.
setelah 20 menit akhirnya dia pulas.


Asli ! ini pengalaman pertamaku menidurkan tanpa ASI
-Dan saking asyik OL kue lapisku gosong ga ketauaaaaan-