Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2025

Wisata Kuliner di Pasar Ngasem Yogyakarta

Pasar Ngasem


Kota wisata seperti Yogyakarta, selalu menyiapkan kejutan untuk para pelancong yang datang.  Beberapa tahun terakhir, sejak F4 kuliah di UGM, hampir setiap tahun aku ke Yogya. Bahkan kadang setahun 2-3 kali. Tetapi setiap ke sana, pasti ada lagi yang baru, ada lagi yang baru.

Oktober kemarin ke Yogya bertepatan dengan even Malioboro Run. Aku nggak ikut lari sih, hanya menemani sahabatku yang sudah jadi pelari kalcer. Biasanya kalau ke Yogya aku menginap di sekitar Malioboro atau sekitar UGM. Tapi kali aku menginap di daerah Taman Siswa.


Jarak dari penginapan ke Pasar Ngasem kalau di Google Maps hanya sekitar 3km
So aku sama sahabatku memutuskan untuk jalan kaki aja sekalian olahraga pagi. Gass dua orang emak pergi jalan kaki ke Pasar Ngasem.

Alamatnya :
Pasar Ngasem
Jl. Polowijan No.11, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55133

Kalau dari arah Taman Siswa, menuju Pasar Ngasem melewati lingkungan keraton Yogyakarta. Aku bisa melihat suasana kehidupan di belakang keraton. Selama ini kalau datang ke keraton selalu dari arah depan, dan hanya melihat sisi depannya saja.


Kesan pertama melihat suasana pasar Ngasem adalah Oh.. pasarnya tidak terlalu besar. Dan pagi itu sekitar jam 7 lebih, tapi pasarnya udah ramai banget. Antrian gudeg mengular. Aku dan sahabatku yang tidak terbiasa makan nasi di pagi hari, memilih mengitari pasar mencari jajanan.

Antrian sarapan gudeg

Makanan tradisional yang aku dapatkan di Pasar Ngasem:
- lepet jagung/lemet jagung (makanan dari jagung manis tambah sedikit tepung, kelapa parut dan gula kemudian dibungkus pakai klobot jagung)
- kue apem warna warni
- lemet singkong
- carabikang
- lapis beras (ini jarang ya.. sekarang kebanyakan dari terigu)
- wajik
- ciplukan
- cendol durian
Tapi sayang aku lupa motoin makanan-makanan itu. 




Selain jajan pasar, di sini aku juga beli oleh-oleh makanan keringan yang sekiranya awet untuk dibawa di perjalanan ke Bandung. Yang lagi hype ada slondok udang, bentuknya bulat seperti donat, tapi tekstur mirip kerupuk, rasanya enak. Aku beli slondok singkong juga, sama peyek koin.

Alhamdulillah hampir sekitar setengah jam muter-muter dan menikmati kuliner pasar Ngasem. Setelah itu balik ke hotel jalan kaki lagi. Menyala kakiku




Kamis, 16 Oktober 2025

Destinasi Sekitar KM Nol Kota Yogyakarta



Pekan lalu aku kembali berkunjung ke kota Yogyakarta. Selain keperluan menjenguk F4 yang sedang kuliah di sana, aku juga menemani sahabatku yang mengikuti event Malioboro Run 2025. 

Yogyakarta itu mirip Bandung. Hampir setiap minggu ada aja gebrakannya. Muncul destinasi baru, muncul hal viral baru, dan yang lama pun perlu berbenah agar tidak ditenggelamkan oleh algoritma media sosial.

Ke Yogya kali ini aku menginap agak ke pinggir. Tidak mendekati Malioboro tapi ya masih bisa keliling-keliling mengunjungi tempat yang selama ini belum pernah aku kunjungi.

Di seputar titik nol kilometer ini kondisinya sudah berbeda dengan tahun lalu aku ke sini. Penasaran kan ada perubahan apa saja? Yuk kita lihat.

1. Museum Benteng Vredeburg

Bangunan museum ini menurutku masih sangat bagus dan terawat, bersih dan aku senang suasana tidak terlalu ramai. Jadi masih dapat menikmati diorama-dioramanya. Hebat sih menurutku pemeliharaannya. Fasilitas di sini juga lengkap, ada mushola, toilet, dan tempat wudhu. Memang untuk muslimah tempat wudhunya kurang friendly karena tidak tertutup.
Kalau ke sini enaknya agak sore atau malam supaya tidak terlalu panas. Selain itu sekarang kalau malam juga ada pertunjukan air mancur menari yang warna warni

Benten Vredeburg siang hari dan malam hari


2. Foto-foto di titik nol kilometer

Dua tahun lalu aku ke sini masih ada tulisan nol kilometer di sudut jalan antara Jalan KH Ahmad Dahlan dengan Jalan Malioboro. Namun kemarin ke sana sudah tidak ada lagi. Malahan ada tulisan baru di sudut dekan Benteng Vredeburg, di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 ada tulisan Jogja Kota Batik
Untuk bisa foto di sini dengan latar yang bersih agak perjuangan ya, harus pintar-pintar menangkap momen atau mengedit gambar. (lol)

Foto-foto di Titik Nol km

3. Menonton film bisu di Bioskop Sonobudoyo

Aku baru sadar kalau di sini ada bioskop ketika kemarin jalan pelan-pelan di sekitar titik nol kilometer ini. Kupikir tadinya ini bagian dari kafe di sebelahnya. Ternyata bagian dari museum. Di sini diputar beberapa film bersejarah terkait Museum Sonobudoyo. Untuk jadwal penayangannya ada di pukul 16.00, 17.00, 19.00 dan 20.00 WIB. Harga tiketnya Rp. 5.000 per orang

Kebetulan waktu itu aku menonton film sejarah museum, berjudul Sanaboedaja 1935. Filmnya hitam putih dan tanpa suara, berlangsung sekitar 30 menit termasuk iklan. Aku bersyukur nonton ini dulu sebelum masuk museum, sehingga ketika masuk museum terbayang sejarahnya seperti yang diceritakan di film ini.


Bioskop Sonobudoyo

4. Cafe Titik Nol dan Solaria

Nah kalau sudah kehausan atau kelaparan keliling-keliling, kalian bisa mampir ngopi-ngopi cantik di sini. Cafe Titik Nol ini di sebelah bioskop Sonobudoyo. Sedangkan Solaria ini masih agak baru, letaknya di seberang Cafe Titik Nol, di gedung Pos. Setelah makan dan minum, kita lanjut lagi ya
perjalanan keliling titik nol ini.

Cafe titik nol kilometer

5. Foto-foto di depan Museum Sonobudoyo

Sebenarnya di trotoar sini banyak spot foto ya, hampir setiap sudutnya bisa jadi sarana foto cantik. Berikut beberapa di antaranya. Yaitu di patung bola dunia bertuliskan Museum Sonobudoyo dan foto di depan patung raksasa di tembok museum.

Foto di depan Museum Sonobudoyo

6. Museum Sonobudoyo

Masuk ke museumnya dari jalan di seberang Alun-alun Utara. Tiket per orang Rp. 10.000. Jujur aku tidak menyangka kalau Museum Sonobudoyo sebesar ini. Pertama kita masuk gedung yang di depan. Isinya seputar gamelan dan aneka jenis wayang. Bahkan ada pertunjukan tiruan wayang kulit. Di gedung ini juga ada berbagai jenis senjata dan ukir-ukiran. Setelah berkeliling, kupikir udah selesai, ternyata di belakang gedung ini ada lagi gedung museum setinggi lima lantai. Gedung kedua ini sekilas penataan lebih modern, dibantu dengan pencahayaan sehingga menambah artistik karya yang dipamerkan.
Namun sayang, aku yang habis muter-muter di titik nol, udah nggak kuat naik dan menyerah di lantai 2.
Berikut ada beberapa foto yang kuambil di Museum Sonobudoyo

Spot foto di dalam Museum Sonobudoyo

7. Jogja Gallery

Lokasinya masih seputar Museum Sonobudoyo. Cuman, kalau museum di sisi kanan, maka Jogja Galery ada di sisi kiri kalau kita menghadap Alun-Alun Utara. 
Di sini ada pameran hampir rutin, mungkin dapat di cek di akun media sosial Jogja Gallery. Untuk masuknya beda-beda sesuai yang mengadakan acara saat itu. Kebetulan waktu aku datang lagi ada pameran lukisan, dengan tiket masuk aku lupa antar 10rb atau 20rb pokoknya nggak terlalu mahal.
Ke sini kayak ngadem. Menikmati hasil karya istimewa tanpa hiruk pikuk. Merenung dan mencoba menyelami apa yang dimaksud oleh pembuat karya seni.


Nah itu yang aku kunjungi di sekitar titik Nol kilometer Yogyakarta, kalau kamu ke mana saja?



Senin, 06 Oktober 2025

Kesanku Menginap di Omah Manis Tamansiswa

Ke Yogya, berkali-kali pun rasanya tidak cukup untuk mengulik segala penjuru kotanya. Menginap selalu pindah tempat. Berkunjung selalu ke tempat baru. Kali ini aku akan berbagi cerita tentang kesan-kesanku menginap di Omah Manis Tamansiswa



Alamat :

Jl. Taman Siswa No.1281A, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, 

Daerah Istimewa Yogyakarta 55151

No Telepon : 08112643747


Aku pesan melalui aplikasi Traveloka. Soalnya setelah aku bandingkan dengan aplikasi sejenis, di sini harganya yang paling ekonomis.

Kelebihan Omah Manis Tamansiswa

1. Lokasi

Menurutku lokasi ini mudah dijangkau. Nggak di tengah kota banget jadi suasana lebih tenang, nggak hiruk pikuk. Masuk hotel rasanya adem. Ada masjid depan hotel, lihat anak-anak berlarian ke masjid dan ibu-ibu pengajian habis maghrib. Sampai anakku bilang itu Umi ikut aja pengajian ke masjid. Lol

2. Stafnya ramah-ramah dan sigap

Di lobby kami disambut dengan senyuman, kemudian tanda pengenal kami dicopy dan menitipkan deposit Rp. 50.000/kamar. Kemudian kami ditunjukkan kamar tempat menginap. Pas besoknya minta tolong kamar dibersihkan, pulang jalan-jalan kami mendapati kamar sudah rapi dan wangi. 

3. Kamarnya oke banget

Aku menginap di type deluxe dengan tempat tidur queen. Cahaya masuk ke kamar dengan leluasa. Ada lemari pakaian lengkap dengan hanger, ada meja setrika dan brankas juga ada. Setrika dan hair dryer dapat dipinjam ke resepsionis. Yang aku suka juga di kamar ada semacam mini kitchen set gitu. Ada kulkas,  piring dan gelas, mangkok, sendok, alat cuci piring dan tentu saja teko pemanas beserta printilannya. Namun yang jadi perhatianku adalah, nggak ada botol air mineral di kamar. Jadi air putih ditempatkan di teko kaca, kalau habis bisa isi ulang di dapur setiap lantai. 

4. Tersedia dapur di tiap lantai

Di dapur ini ada alat masak yang boleh dipakai, asal dibersihkan kembali. Kemudian tempat cuci piring, microwave dan juga air galon untuk mengisi ulang teko yang di kamar. Di sini juga ada alat makan yang boleh dipergunakan, asalkan setelahnya dikembalikan dalam keadaan bersih.

5. Ada kolam renang dan tempat gym



Meski tempatnya di dalam gang, Omah Manis Tamansiswa ini lengkap juga lho fasilitasnya. Ada kolam renang dengan ukuran lumayan dan ada juga tempat gym. Kalau pagi, tamu-tamu sarapan bersama di sekitar kolam renang. 

6. Tersedia Sarapan



Di aplikasi nggak ada pilihan tanpa sarapan. Tapi nggak nyesel juga sih sarapan di hotel. Ada camilan dua macam kue satu manis satu asin, terus sego kucing, mie goreng, sayur tumis, mendoan (dua hari mendoan ada terus), sama lauk (hari pertama tahu telur, hari kedua ayam sayur), buah juga selalu ada, minuman teh dan kopi, jus serta infused water. Oh iya buat anak-anak juga ada sereal + susu, sama roti. Pas hari pertama malah ada bubur sumsum. Lebih dari cukup menurutku sih..

7. Dekat pusat oleh-oleh Yogya

Jadi ceritanya aku kemaren ke Yogya nggak mampir ke Malioboro. Jadi beli oleh-olehnya ya sekitar penginapan aja. Ternyata keluar gang udah ada Yudhistira (grosir batik), Pusat Oleh-oleh Jiwa Jogja, Cafe Chouvee, J-House, Bolosego, dsb


Sabtu, 23 Desember 2023

Mencari Kost di Yogyakarta



Waktu F4 diterima kuliah kuliah di Yogya, sejujurnya yang pertama aku pikirin adalah mencari kostnya gimana. Ada beberapa sahabat di Yogya, tapi lokasinya agak jauh dari UGM. 😀😁
Ketika F1 kuliah di Cimahi dan F2 di Jatinangor, keduanya bisa ditempuh pakai motor. Cari kost langsung ke lokasi. F3 agak jauhan dikit ke Bogor, banyak travel. Ya kalau ke Yogya kan butuh waktu yang lebih panjang karena jaraknya lebih jauh.
Aku gak nyari lewat aplikasi cari kost yang terkenal itu, karena pas lihat-lihat kost buat F2 dan F3, terus dibandingkan saat aku cari on the spot, beda harganya lumayan.
Lalu apa yang aku lakukan ?
Sebagai penggemar Google map, kali ini aku mencoba mengambil manfaat dari google map.
1. Pertama-tama aku cari lokasi yang dituju. Kuketik nama fakultasnya.
2. Terus aku cari titik-titik kost di sekitar situ. Lalu aku zoom lagi sampai bermunculan banyak nama kost-an.
3. Lalu aku buka satu persatu, kulihat postingan dari pemilik dan ulasan dari pengunjung. Kalau dari pengunjung biasanya fotonya apa adanya. Komen juga kebanyakan review jujur kaan..
4. Lalu aku telpon nomor yang tertera di google. Kutanyakan masih ada kamar kosong apa enggak, kalau ada WA nya lanjut chat WA. Nanya harga kostnya berapa, bulanan apa tahunan, dskat tempat makan apa enggak, dsb sambil minta foto-foto dari pemilik.
5. Nah karena di Yogya itu masyarakat terkenal ramah, ketika nemu kost yang penuh, aku tanya lagi, "nyuwun sewu, barangkali ibu punya nomor temen lain yang punya kost an juga" Eh dikasih dong...
Jadi total total aku nelpon sekitar 5 tempat kost dan ada salah satu yang udah sreg. Karena takut diambil orang, aku DP -in lah tempat itu.
6. Ketika tiba waktunya mendaftar ulang tiba, pertama kulihat adalah kost yang udah di DP in ini.
Alhamdulillah anaknya cocok, umminya cocok, harganya cocok. Jadi gak survey ke yang lainnya. Sekarang udah masuk tahun kedua, alhamdulillah anaknya masih betah di sana.
Dan tadi pagi, rumus di atas aku bagikan ke sobatku yang mau pindah tugas ke Bogor.
Agak siang aku chat lagi mbaknya.. Jawabannya udah dapat beberapa. Besok mau ke TKP.
Alhamdulillah... Agak agak terharu juga.. Ya Allah .. Syukurlah sobatku itu dapat solusi dari salah satu tantangan saat tiba SK mutasi.