Ada satu pengalaman yang membuatku sangat terkesan. Sebelum aku cerita lebih jauh, silakan cari posisi nyaman dulu ya.. buat ndengerin eh buat baca ceritaku nanti. Jadi begini...
Di depan rumahku kan ada pasar kaget setiap pagi. Nggak pasar pasar amat sih.. soalnya cuman ada satu tukang ayam, satu tukang buah dan satu tukang sayur.
Nah si tukang buah ini kita biasa panggil dengan sebutan Abah. Abah nih jualan utamanya adalah pisang. Pisangnya fresh banget dari petani. Selalu sih pisang ambon, kadang yang kuning kadang yang ambon lumut. Aku sering beli untuk di bawa ke kantor. Eh, ini bukan karena aku baik seperti Rehan ya.. tetapi karena aku pemegang uang kas ruangan, dan aku bertanggung jawab untuk beli camilan setiap harinya. Nah seminggu sekali bisa dipastikan aku beli pisang.
Menurutku pisang jualan Abah harganya wajar terkendali. Sekilonya dihitung Rp. 10,000. Jadi kadang aku beli yang satu sisir seberat 2.5kg, kadang ada yang sampai 3.5 kg
Saking udah hafal di depan rumahku ada tukang pisang, seksi konsumsi panitia peringatan Idul Adha di kantor minta tolong aku beliin pisang. Oke, aku sanggupin ya.. timbang beli pisang ini.
Akupun pesan ke Abah, bahwa aku mau beli pisang hari Kamis sore karena Jumat mau dibawa ke kantor. Kamis sore Abah datang bawa pisang. Pas dia antar, katanya semua ada 10kg. Terus harganya dia diskon dong, jadi 7rb/kg. Abah bilang total 70rb aja. Habis itu dia nyimpen lagi dua sisir kecil "ini untuk Neng nggak usah dibayar" katanya.
Kaget dong aku.. dari harga aja udah didiskon, yang asalnya 10rb/kg jadi 7rb/kg. Masih dikasih imbuhan / tambahan lagi dua sisir. Masya allah... otak dagangku langsung bergerak. Ya kalau Abah misalnya belanjanya hanya 5rb/kg, maka dengan menjual 10 kg Abah laba 20rb. Eh laba itu dikurangi 2 sisir yang dia tambahkan. Lalu laba bersih Abah berapa ? haha... ini masuk literasi numerasi nggak sih ?
Ya begitulah kalau hitung-hitungan sama manusia, matematikanya juga matematika manusia. Tapi yang kulihat, para pedagang kecil ini, matematikanya udah matematika langit.
Seperti Abah yang jual pisang tadi. Tukang gorengan dekat rumah juga sama. Kalau beli minimal 10rb, pasti dapat tambahan minimal satu. Kalau beli 20rb, tambahannya bisa dua atau tiga buah gorengan. Masya allah..
Ini belum sama si tukang sayur ya.. kalau misalnya kita ambil bumbu-bumbu sekadarnya saja, misal daun salam dua lembar, sereh dua buah, pasti sama dia nggak akan dihitung harganya. "udah ngasih aja ini mah"
Aku jadi inget apa yang pernah diucapkan oleh seorang Ustazah dalam sebuah kajian. Memberi itu bukan perkara memiliki atau berlebih. Terkadang ada orang yang berlebih malah enggan memberi. Memberi itu perkara kebiasaan. Orang yang biasa memberi / berbagi, akan mudah berbagi. Kalau bahasa Jawa ada istilah "nyah nyoh" yang artinya kurang lebih mudah memberi. Dikit dikit, ngasih. Dikit dikit ngasih.
Kalau diuangkan memang dua lembar daun salam dan dua batang sereh mungkin tidak material dalam hitungan akuntansi ya, tapi coba hitung kalau ada 5 orang aja pembeli macam aku yang kalau beli itu ya sebutuhnya aja, males nyetok, maka yang tadinya nggak ada harga itu, bakal bunyi juga. Minimal 5 rb lah. Hitung lagi 5 rb itu = laba menjual sekian ikat bayam. Lah ini matematika manusia lagi hahaha
Ya deh ya deh.. mungkin memang orang-orang pemurah itu level berbaginya udah level atas ya.. udah nggak itungan lagi. Karena mereka merasakan kebahagiaan justru saat berbagi, saat dapat membahagiakan orang lain. Dan mereka juga sudah merasakan sendiri bukti janji Pemilik Alam ini, kalau berbagi maka akan dibalas berlipat ganda.
Semoga Allah karuniakan sifat pemurah bagi kita semua.

