Jumat, 30 Juni 2023

Pemurah



Ada satu pengalaman yang membuatku sangat terkesan.  Sebelum aku cerita lebih jauh, silakan cari posisi nyaman dulu ya.. buat ndengerin eh buat baca ceritaku nanti.  Jadi  begini... 

Di depan rumahku kan ada pasar kaget setiap pagi. Nggak pasar pasar amat sih.. soalnya cuman ada satu tukang ayam, satu tukang buah dan satu tukang sayur. 

Nah si tukang buah ini kita biasa panggil dengan sebutan Abah. Abah nih jualan utamanya adalah pisang. Pisangnya fresh banget dari petani. Selalu sih pisang ambon, kadang yang kuning kadang yang ambon lumut. Aku sering beli untuk di bawa ke kantor. Eh, ini bukan karena aku baik seperti Rehan ya.. tetapi karena aku pemegang uang kas ruangan, dan aku bertanggung jawab untuk beli camilan setiap harinya.  Nah seminggu sekali bisa dipastikan aku beli pisang.

Menurutku pisang jualan Abah harganya wajar terkendali. Sekilonya dihitung Rp. 10,000. Jadi kadang aku beli yang satu sisir seberat 2.5kg, kadang ada yang sampai 3.5 kg

Saking udah hafal di depan rumahku ada tukang pisang, seksi konsumsi panitia peringatan Idul Adha di kantor minta tolong aku beliin pisang. Oke, aku sanggupin ya.. timbang beli pisang ini.

Akupun pesan ke Abah, bahwa aku mau beli pisang hari Kamis sore karena Jumat mau dibawa ke kantor.  Kamis sore Abah datang bawa pisang. Pas dia antar, katanya semua ada 10kg. Terus harganya dia diskon dong, jadi 7rb/kg. Abah bilang total 70rb aja. Habis itu dia nyimpen lagi dua sisir kecil "ini untuk Neng nggak usah dibayar"  katanya.

Kaget dong aku.. dari harga aja udah didiskon, yang asalnya 10rb/kg  jadi 7rb/kg. Masih dikasih imbuhan / tambahan lagi dua sisir. Masya allah... otak dagangku langsung bergerak. Ya kalau Abah misalnya belanjanya hanya 5rb/kg, maka dengan menjual 10 kg Abah laba 20rb. Eh laba itu dikurangi 2 sisir yang dia tambahkan. Lalu laba bersih Abah berapa ? haha... ini masuk  literasi numerasi  nggak sih ?

Ya begitulah kalau hitung-hitungan sama manusia, matematikanya juga matematika manusia.  Tapi yang kulihat, para pedagang kecil ini, matematikanya  udah matematika langit. 

Seperti Abah yang jual pisang tadi. Tukang gorengan dekat rumah juga sama. Kalau beli minimal 10rb, pasti dapat tambahan minimal satu. Kalau beli 20rb, tambahannya bisa dua atau tiga buah gorengan. Masya allah..

Ini belum sama si tukang sayur ya.. kalau misalnya kita ambil bumbu-bumbu sekadarnya saja, misal daun salam dua lembar, sereh dua buah, pasti sama dia nggak akan dihitung harganya. "udah ngasih aja ini mah"

Aku jadi inget apa yang pernah diucapkan oleh seorang Ustazah dalam sebuah kajian. Memberi itu bukan perkara memiliki atau berlebih. Terkadang ada orang yang berlebih malah enggan memberi. Memberi itu perkara kebiasaan. Orang yang biasa memberi / berbagi, akan mudah berbagi. Kalau bahasa Jawa ada istilah "nyah nyoh" yang artinya kurang lebih mudah memberi. Dikit dikit, ngasih. Dikit dikit ngasih. 

Kalau diuangkan memang dua lembar daun salam dan dua batang sereh mungkin tidak material dalam hitungan akuntansi ya, tapi coba hitung kalau ada 5 orang aja pembeli macam aku yang kalau beli itu ya sebutuhnya aja, males nyetok, maka yang tadinya nggak ada harga itu, bakal bunyi juga. Minimal 5 rb lah. Hitung lagi 5 rb itu = laba menjual sekian ikat bayam. Lah ini matematika manusia lagi hahaha

Ya deh ya deh.. mungkin memang orang-orang pemurah itu level berbaginya udah level atas ya.. udah nggak itungan lagi. Karena mereka merasakan kebahagiaan justru saat berbagi, saat dapat membahagiakan orang lain. Dan mereka juga sudah merasakan sendiri bukti janji Pemilik Alam ini, kalau berbagi maka akan dibalas berlipat ganda. 

Semoga Allah karuniakan sifat pemurah bagi kita semua. 

Kamis, 29 Juni 2023

Waktu Terbaik untuk Menulis


Menulis.
Gampang diucapkan, perlu latihan untuk melakukan. Setuju ?

Ya, menurutku, menulis ini soal kebiasaan. Hanya perlu latihan. Karena aku yakin pada dasarnya setiap orang bisa kok menulis. Terbukti kan kalau kita ngobrol sama temen melalui aplikasi chating, maka obrolan tersebut dapat dilakukan panjang lebar. Nah sebenarnya topik yang dibicarakan itu kan dapat disajikan dalam bentuk tulisan. Di sinilah kebiasaan itu akan memengaruhi warna tulisan seseorang.

Jaman  sekitar tahun 80'an, sebelum dunia digital menyerbu, menulis diari banyak dilakukan untuk menyalurkan buah pikiran. Entah sedih, entah lucu, entah marah,  semua dituangkan ke dalam diari. Apalagi ketika jatuh cinta, diari menjelma bak rubrik puisi. Sementara itu, di toko buku dan alat tulis pun, dijual bermacam-macam diari. Dari yang murah hingga yang sedikit mahal. Dari yang polos hingga yang bergambar. Dari yang tanpa aroma hingga yang kertasnya wangi. Suatu kebahagiaan tersendiri saat dapat memiliki diari yang ada kunci. Ada yang samaan ? Fiks kita udah tua haha

Kemudian setelah menginjak remaja, diari digantikan oleh buku agenda. Memuat jadwal kegiatan kita sekaligus ada ruang untuk mencurahkan perasaan. Aku biasa mengisinya saat sendirian. Entah di rumah, entah di perpustakaan. Rasanya plong sekali kalau sudah menulis di buku tersebut. Aku masih menulis di buku hingga anak ketiga lahir. Yang tadinya lebih banyak menulis curhat galau ala remaja, agenda berubah isi menjadi catatan tumbuh kembang anak. Kapan anak sakit, ke dokter mana, dikasih obat apa, kapan anak belajar bicara bahkan sampai mencatat kosa kata yang diketahui mereka. Se-gabut rajin itu . 

Lalu datanglah masanya emak ini mengenal internet. Ucapkan selamat tinggal pada kertas, pena dan dunia corat coret.  
Pertama tahu dunia tulis menulis dapat dilakukan secara daring, ketika jamannya Multiply. Apa yang sebelumnya tertulis rahasia di diari, kemudian diolah menjadi cerita yang boleh dibaca dan dikomentari teman-teman. Maka, era sahabat pena pun beralih ke sahabat maya. Jalinan pertemanan terasa erat meskipun tanpa kopi darat. Bahkan kalau yang sering berkunjung blog / blog walking, akan saling hafal nama anak-anak sekaligus kisah tumbuh kembangnya. 
Karena waktu itu anak-anak masih kecil, biasanya aku menulis di malam hari ketika anak-anak sudah tidur dan blogwalking di siang hari saat istirahat kantor, sambil makan, sambil memerah ASI . Hingga tiba saat kiamat untuk multiply, menulis pun pindahan ke blogspot. Masih bertahan hingga sekarang.

Dari kebiasaan menulis diari sejak anak-anak hingga kini menulis di media sosial/blog, maka kalau ngobrolin kapan best time untuk menulis, aku bisa rangkum sebagai berikut :

1. Menulis saat kepala terasa penuh. 
Menulis itu seperti mengurai kegelisahan. Ketika kepala penuh oleh berbagai macam hal, mungkin kalau anak sekarang bilang 'over thingking' maka menuliskan apa yang ada di kepala kita itu menurutku akan menjadi saat terbaik untuk menulis. Rasanya akan sangat-sangat ringan setelah berhasil menuliskan. Aku menggambarkan  ini tuh seperti adegan Dumbledor mengambil  'isi kepala'nya menggunakan tongkat dan menyimpannya didalam kuali eh kuali apa guci ya.. ada yang inget adegan ini di Harry Potter seri berapa ? haha.. ya itu .. saat kepala penuh. Keluarkan dalam bentuk tulisan.

2. Menulis saat ada 'dead line'
Deadline apapun itu. Entah tugas menulis di kampus, tugas laporan di kantor, tulisan untuk lomba, termasuk juga tulisan tema yang diminta komunitas. Jadi komunitas itu memang support banget ya untuk kebiasaan menulis (ku).  Entah kenapa, kalau sudah mendekati deadline biasanya ide-ide mengalir deras. Sampai-sampai muncul istilah "the power of kepepet" dari kondisi seperti ini.

3. Menulis saat setelah mendapatkan pengalaman/pengetahuan baru.
Misalnya kita usai mengikuti suatu majelis ilmu, usai baca buku, menamatkan film ataupun berkunjung ke suatu tempat, maka menuliskan kembali apa yang kita dengar dan kita lihat sebelumnya, akan menjadi sebuah sajian yang bukan saja memperpanjang ingatan, tetapi bisa jadi akan menjadi kenangan atau bahkan data di masa depan. 
Yang aku alami pernah ya, di salah satu isian data pribadi anak, ditanya anak pernah sakit apa saja,dan kapan. pernah dirawat di RS apa enggak, nah ternyata jawabannya aku temukan di blog. Padahal waktu menuliskan itu, ya nggak sengaja buat dipakai nanti, tapi ternyata bermanfaat di kemudian hari.

4. Menulis saat mendapatkan hikmah dari suatu kejadian
Nah kalau ini sih semacam refleksi gitu ya.. ada kejadian apa, terus kita mendapatkan apa dari kejadian tersebut. Misal pernah berbuat kesalahan, pelajaran apa yang didapatkan dari kesalahan itu, dan next kita akan melakukan apa supaya tidak terulang lagi kesalahan tersebut. Hal ini kurasakan sebagai release emosi juga sih.. Menerima kenyataan bahwa kita tidak sempurna. Bahwa terkadang kita tidak baik-baik saja. Tapi memang gitu kan kodrat perjalanan manusia. Selalu akan ada ujian. 
Eh tapi ini gak melulu nulis kejadian yang sedih sedih ya..Momen keseruan bersama anak-anak atau tingkah lucu mereka, akan jadi kenangan indah saat mereka dewasa. Atau bisa juga kejadian yang menggembirakan. Pencapaian-pencapaian yang didapat dan apa yang telah dilakukan untuk itu. Siapa tahu ini akan menjadi ilmu tacit yang bermanfaat untuk orang lain. Ya kan ?

Kayaknya sih segitu dulu ya best time untuk menulis versi aku. Silakan teman-teman dapat menambahkan .. tentu aku akan senang hati menerimanya..


 

Selasa, 27 Juni 2023

Motivasi dan Konsistensi

 Sering ya... dalam hati sudah ada krenteg atau niat, tetapi kemudian suara hati yang lain bilang "nanti aja sih" atau malah bilang "jangan, buat apa".  Boleh boleh aja sih mau nurutin bisikan untuk menunda, ataupun untuk tidak melakukan, tetapi.. dalam hal apa dulu... Kalau itu dalam hal melakukan kebaikan.. sebaiknya ya sat set, bergegas melakukan supaya tidak timbul penyesalan di kemudian harii.


Padahal, kalau dilihat-lihat, saat ini teknologi sudah sangat memudahkan aktivitas kita. Hampir semua dapat dikerjakan hanya dengan menekan tombol atau mengeluarkan suara perintah untuk  teknologi tertentu. Saking mudahnya sehingga aktivitas tubuh kita semakin menurun. Saking udah gampang semuanya . Teknologi bukan sekedar memudahkan, ternyata bahkan sampai tahap memanjakan kita, jadi kitanya nggak perlu capek-capek. Memang ya...ini kalau lagi diperhatiin malah seperti ujian juga buat kita bagaimana memanfaatkan waktu yang ada.


Nah kalau bicara soal waktu, tentunya waktu luang ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan hal-hal yang positif,  Hal yang kita sukai, hal yang bermanfaat buat diri sendiri sebagai bentuk self love kita. Apapun kegiatan positif itu, bisa lebih intensif dilakukan ketika kita membuat jadwal ini adalah semacam  komitmen di awal, bahwa kita akan melakukan itu sekarang dan seterusnya.. Kemudian konsistensi, konsistensi ini adalah hal yang dilakukan terus menerus, nggak usah ngoyo yang penting rutin. Selalu dikerjakan..


Berbincang  masalah konsistensi ini, kita akan merasa tidak mudah ketika misal berhadapan dengan anak-anak kita yang imut dan yang lucu.  Misal ketika anak bungsu kita minta disuapin. Di mana kita sudah pernah sounding sama dia bahwa dia tidak akan disuapin lagi.

Maka kita sebaiknya tetep konsisten dengan prinsip kita, bahwa tidak ada lagi acara nyuapin. Sebenernya anaknya sih fine fine aja, cuma cek cek ombak aja. Nah emaknya yang kadang enggak tegaan, enggak konsisten. Ini bener-bener tantangan kaaan..


Ketika kita konsisten melakukan suatu kebaikan, maka itu akan menjadi inspirasi kebaikan juga bagi orang lain. Terutama bagi anggota keluarga kita. Nah setelah kita kembali kepada Allah nanti, kita berharap kita inilah yang akan menjadi inspirator-inspiraor kebaikan buat anggota keluarga kita. Dan kebaikan ini akan kita estafetkan kepada beliau. 


Salah satu kebaikan yang kadang diabaikan misalnya olah raga. Olah raga ini kadang berupa mode aja untuk beberapa orang. Tetapi buat mereka yang sudah merasakan olah raga suatu kebutuhan, sudah merasakan manfaatnya, maka mereka akan meluangkan waktu untuk malakukan olah raga ini. Mereka bukan saja membuat jadwal, tetapi mengusahakan untuk melakukan jadwal tersebut secara rutin. Rutin inilah yang disebut konsisten. Big why nya tentu perlu kita ketahui. Ketika kita mempunyai suatu goal tertentu, pasti kita akan bersemangat melakukan secara rutin. 


Senin, 26 Juni 2023

Review = Sekehendakmu ?

 (Catatan dari Ruang Berbagi KLIP)

Nara sumber : Evi Syahidah


Review dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata ulasan. 

Review buku adalah tangapan tafsiran, penilaian terhadap mutu/kualitas/isi dari sebuah buku dengan menekankan pada penilaian obyektif atas buku tsb.

Sebelum memulai review, mari kita tengok ke dalam diri kita, mengenai kegiatan kita bersama buku, seberapa rutin kita  membaca buku  ? Karena keterampilan review ini tidak dapat dilepaskan dengan kegiatan gemar membaca. Nah setelah menamatkan buku lalu apa ? Kegelisahan inilah yang mendorong mba Evi Syahidah / Visya menulis review. Selain untuk menjaga ingatan tentang buku yang dibaca juga berbagi dengan teman lainnya.

Beliau memilih Instagram sebagai media untuk menulis review. Mengapa di Instagram ? Ternyata ada beberapa alasan yang beliau ungkapkan, antara lain :

- pengguna Instagram didominasi oleh penduduk Asia Pasifik utamanya dari Indonesia - India
- 84 persen lebih koresponden memakai IG
- instagram adalah platform media sosial  kedua terbesar yang banyak digunakan masyarakat
- format konten IG lebih variatif, ada story, ada feed dan ada reels.


Manfaat membuat review bagi kita adalah 

1. melatih kemampuan menulis, karena ketika kita mereview buku kita membiasakan menuliskan lagi apa yang telah kita dapatkan.
2. memberikan feedback utk penulis yang bukunya kita review. Jadi ingat dulu jaman rajin mengikuti goodreads Indonesia, di sana buku yang kita review dapat dibaca oleh penulisnya.
3. sebagai arsip pribadi, agar ilmu yang telah kita dapatkan tidak melayang begitu saja. Dan bila buku hilang, kita juga telah memiliki catatan hasil baca buku tsb.
4. menjalankan manfaat dari isi buku
5. menstimulasi kerja otak
6, menjadi pejuang literasi baca tulis di indonesia
7. membantu calon pembaca mudah mengetahui sebuah buku tanpa harus membaca secara buku secara keseluruhan
8. berbagi konten posifif
9. menemukan ruang klolaborasi dengan multi pihak


Ada perbedaan struktur penulisan review antara buku  nonfiksi dengan buku fiksi. 

Bila buku non fiksi maka kita harus menuliskan identitas buku,  sekelumit sinopsis, sekitar daftar isi, alur penyampaian, pesan moral yang kita dapatkan dari buku tersebut, sekaligus plus minusnya, serta tentu saja  kesimpulan atau penutup dari kita sebagai bentuk call to action.

Bila buku fiksi  selain identitas dan sinopsis, maka alur cerita dan sudut pandang penulis kita review, juga pesan moral tentu saja. Yang tidak diulik hanya hal daftar isi buku fiksi.

Tahapan membuat review :

  • reading baca sinopsis dan blurb buku, baca buku sampai tamat
  • brainstorming, baca ulang, diskusi
  • executing format konten, draf reiew sesuai strktur
  • membuat visual ulasan buku
  • sharing jadi proof reader, membuat takarir/caption
  • unggah dan bagikan

Tips menulis review :

  • awali dengan motivasi
  • membuat anotasi saat baca buku tsb
  • netral, artinya tidak mendewakan tidak merendahkan penulis
  • memuat point penting 
  • tidak membocorkan  isi buku secara keseluruhan

 

Satu hal yang perlu dicatat adalah, ketika kita akan menulis review, maka kita perlu menuntaskan membaca buku tsb.


Minggu, 25 Juni 2023

Fashion = Passion ?

Apa itu  fashion ?

Apa yang pertama kali terbayang ketika membaca kata 'fashion' ? Pakaian, baju. Iya sama banget. Aku juga selalu mikirnya kalau fashion itu soal pakaian.  Aku sempat mencari di KBBI tapi tidak menemukan kata tsb. Jadi cari ke Wikipedia. Apa katanya ?

Fashion is a form of self-expression with a specific context, such as time, place and purpose. Example of these are clothing, footwear, lifestyle, accessories, makeup, hairstyle, and body posture.

Ternyata oh ternyata, fashion adalah bentuk self expression dalam konteks yang spesifik,seperti waktu, tempat, ataupun maksud tertentu. Fashion meliputi pakaian, alas kaki, gaya hidup, aksesoris, make up, gaya rambut dan postur tubuh.  Jadi ternyata fashion itu sangat luas cakupannya ya.. dan pakaian dan sepatu hanya sebagian kecilnya saja.


Aku suka  fashion 

Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, sempat menyukai gambar menggambar model pakaian. Pakai blocnote bikinan sendiri dari kertas bekas yang dibawakan Bapak dari kantor. Aku seneng banget ketika gambarku ada yang diapresiasi oleh ibu dengan membuatnya menjadi nyata dalam bentuk karya. Ibu membuatkan tiga  dress untuk aku dan dua adik perempuanku, motif kainnya  sama tetapi modelnya beda beda sesuai gambar yang aku buat. Jangan bayangkan hasil karya tingkat tinggi, karena model yang kubuat hanya beda-beda tipis, di model kerah, model lengan dan lipitan-lipitan.  Tapi aku sudah seneng banget.  Masih ingat banget, kain dasar putih dengan motif  raket kecil-kecil berwarna-warni. 

Terus ketika aku agak besar sedikit, diajarin menjahit sama ibu. Aku mulai merombak-rombak baju, tempel sana sini, potong sana sini. Dan syukuuurrr... banget,.. nggak pernah aku dimarahin misal bajunya jadi nggak pantes dipakai. Eh tapi belum pernah sih, karena rombakannya hanya sederhana. Semacam memotong lengan panjang jadi lengan pendek, mengganti manset menjadi bentuk tali, menambahkan saku/kain polos di baju motif, dsb. Menjahit rok, menjahit blus sederhana, menjahit tas, mukena, dll. Mewarnai sepatu juga pernah. Dan hobby ngulik ini sesekali masih aku kerjakan. Rekam jejaknya ada di blog kreasi titi. 

Sekarang aku punya 3 anak gadis juga seperti ibuku. Ketiga anak gadis ini mempunyai gaya berpakaian yang berbeda-beda. Kalau dulu ketika kanak-kanak, baju Mbak dengan mudah dilungsurkan ke dua adiknya tanpa protes, kini dua gadis muda memilah lagi baju lungsuran kakak pertama. Kalau sesuai gaya mereka, ya diambil. Kalau nggak sesuai kadang dipakai umminya kadang disumbangkan. Kok dipakai Ummi ? iya..soalnya sudah hampir sama ukuran bajunya. Umminya ogah rugi. Bukan hanya tukang ngabisin makanan ya.. jadi tukang nampung lungsuran juga rupaya. Sekarang di rumah bisa tuh saling pinjam sepatu, tas, baju, kerudung,  tanpa mengubah style masing-masing. 

Jujurly, dari empat perempuan di rumah, sepertinya hanya aku yang semua gaya dicoba dan semua warna dipakai. Prinsipku dalam berpakaian sederhana saja : nyaman dan aman. 

Nyaman misalnya dari segi modelnya simpel, kainnya adem, warna bisa dikompromikan kalau dikasih, tapi kalau beli biasanya nggak jauh jauh dari warna gelap hehe

Aman dalam artian tidak melanggar ketentuan tentang aurat. tidak menyerupai laki-laki, tidak nerawang, tidak  sempit, dsb. 


Fashion = Passion

Apakah fashion menunjukkan passion (ketertarikan) ? Kata siapa ? Ini opiniku aja sih. Soalnya kata-katanya berima, dan sangat mirip bila dilafalkan dengan logat Sunda. 

Menurut pendapatku, bisa jadi fashion ini menggambarkan passion seseorang. Tentu bukan hal yang asing bagi para pecinta drakor, ketika mereka kemudian memakai fashion ala ala Korean Style. Dan di pasaran pun semakin banyak tersedia, artinya memang banyak permintaan kaan..

Atau misalnya kasus di rumahku, salah satu anak gadisku yang saat ini kuliah di kehutanan, gaya fashionnya perlahan-lahan bergeser ke pakaian yang lebih kasual, simpel, dan nggak banyak model semacam renda, lipit, dsb. Beda dengan anak pertama dan ketiga yang udah jadi pegawai kantoran. 


Fashion seperti apa yang paling cocok ?

Intinya menurutku sih, pilih gaya fashion yang membuat kita nyaman sekaligus  percaya diri ketika mengenakan itu. Karena ketika kita percaya diri dengan apa yang kita pakai, maka aura positifnya juga akan memancar ke sekitar (tsaah....) Dan tentunya sesuaikan juga apa yang kita pakai setiap kita akan kemana, bersama siapa, acara apa dan bertemu siapa. Contoh :

- seorang ibu lebih memilih tas punggung yang berfungsi seperti tas doraemon dan memakai baju yang simpel agar bisa bebas lari ketika dia pergi ke ruang publik membawa dua balita (siapa yang samaan ?).  

- memilih dress anggun ketika pergi kondangan 

- mengenakan pakaian formal ketika bertemu klien, dsb. 

Semua itu dimaksudkan agar tidak keluar dari norma-norma umum yang berlaku lingkungan kita, yang imbasnya bisa jadi akan memengaruhi interaksi kita dengan orang-orang di sekitar kita. 

Sabtu, 24 Juni 2023

1001 ALASAN NGEBLOG



Jumat 23 Juni 2003 kemarin sebenarnya ada even Sidina yang aku udah capcipcup pengen ikut. Acaranya kebetulan online dan dilaksanakan pada malam hari. Apa itu ? Sharing dari Mak Tanti Amelia, salah satu blogger senior yang kini juga bergabung di Sidina Community dengan tema 1001 alasan Ibu Harus Ngeblog dan Praktik. Qodarullah .. belum rezeki aku untuk ikut acara tsb,  pulang kantor, langsung ke gym, habis maghrib tau tau ketiduran dan terbangun sudah pukul 22 malam. Sehingga hari ini aku mengejar ketinggalan melalui youtube Sidina.

Senang sekali rasanya mendapatkan sharing dari Mak Tanti, mengingat aku juga salah satu blogger yang sempat hiatus. Sempat membiarkan blog begitu lama, tanpa postingan apa-apa. Ikut acara inis eperti mendapatkan suntikan semangat agar kembali menulis. 
Ada beberapa kendala dalam menulis, apalagi itu menulis di blog pribadi kita ya, yang nggak ada tenggat waktu, nggak ada target.. 
Beberapa kendala tsb antara lain :
1. Writer's Block
2. Sulit mencari ide
3. Bingung cara memulai

Tidak dipungkiri aku sendiri pernah mengalami yang namanya hilang mood ini, atau lebih banyak disebut sebagai writer's block. Yakni suatu kondisi dimana seorang penulis tidak dapat menuliskan apapun. Soalnya kok tema blog gratisan yang isinya curhat seperti blogku ini sekarang jarang dijumpai ya.. hehe.. kebanyakan blog yang sudah beralih ke TLD (top level domain) yang berbayar/langganan.
Tapi ya sudahlah, kita manfaatin dulu aja yang kupunya. Untuk menuliskan hal-hal istimewa, maupun ilmu-ilmu istimewa seperti yang kudapatkan hari ini.
 
Mak Tanti memberikan beberapa tips untuk mengatasi hal ini, antara lain :
1. Segarkan pikiran, misal dengan minum segelas kopi, teh atau minuman lain kesukaanmu.
2. Mencari waktu yang tepat untuk menulis, yaitu waktu yang tidak ada / minim distraksi
3. Buat outline atau mind map dulu, tentang apa yang akan kita tulis. Di sini Mak Tanti memberikan contekan dengan cara mencari 5W+1H dari tema tsb.
4. Perbanyak referensi / sumber.  (ini aku pernah dapat resep juga dari kelas menulis yang lain, resepnya baca-baca-baca-tulis)  Nah bisa jadi "baca"nya nggak hanya 3 sumber, bisa banyak sumber, untuk menghasilkan satu tulisan.

Oh iya, kalau ingin menulis lebih rajin, berjejaring, tambah teman dan tambah ilmu, mak Tanti menyarankan untuk ikut komunitas blogger. Contoh Komunitas Emak Blogger (KEB). Yeay aku udah member, kalau belum dihapus. Biasanya komunitas - komunitas ini menetapkan persyaratan minimal jumlah tulisan,  yang menunjukkan keaktifan blog tsb. 

Banyak ilmu baru di kelas ini ternyata, karena ada hal-hal teknis yang disampaikan mengenai seluk beluk blog. Aku coba cari DA / PA blog ini.. hasilnya adalah....


alhamdullillaah ... Terima kasih Sidina, terima kasih Mak Tanti, semoga setelah ini aku lebih bersemangat lagi dalam menulis

Kamis, 22 Juni 2023

K I S S

Di keseharian kita, entah bersama anak-anak, suami, asisten rumah tangga, maupun rekan kerja,  terkadang ada yang namanya kebuntuan komunikasi. Atau dengan kata lain, komunikasi yang kita lakukan tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Apa yang kita maksudkan, tidak dapat dipahami oleh  pihak yang berkomunikasi dengan kita. Jadi inget salah satu pelajaran di kelas Ibu PRofesional yang telah lalu, ada sesi yang disebut sebagai Komunikasi Produktif atau kami biasa menyebutnya komprod.

Salah satu poin yang aku ingat dalam pembelajaran komunikasi produktif  ini adalah KIIS,

Keep Information Short and Simple.

KISS dalam komunikasi ini perlu dilatih, dan dibiasakan. Utamanya oleh kita sebagai pelaku, kita sebagai seorang ibu yang berkepentingan menjaga ketertiban dunia dan perdamaian abadi di wilayah teritorial kita. Iya kan kan kaaan..

Kita ambil contoh suasana di pagi hari. Di mana anak atau beberapa anak akan berangkat sekolah, kebayang kaan.. suasana rebutan kamar mandi, mogok makan, buku hilang atau seragam belum disetrika, yang mana mungkin itu akan menjadi pemicu ketegangan syaraf. Jangan ditambah dengan posisi televisi menyala ya.. nanti yang terjadi adalah kemageran yang hakiki.  Untung aja anak-anak udah mau libur ya.. pasti mamak-mamak sudah mulai santai. Eh atau mulai tegang ya.. soalnya bakal mikirin kegiatan anak selama liburan.

Maka yang perlu dilakukan oleh seorang ibu adalah mengomunikasikan. Pilih kata-kata sederhana yang sekiranya dapat dipahami oleh anak. Cukup satu kata satu kata. Hingga kata-kata tersebut melekat di benak anak. 

Misalkan anak sudah dibiasakan mandi sendiri, menyiapkan dan ganti baju sendiri, terus buku - buku pelajaran sudah  

ditata dalam tas sekolah.. kadang jeda dari satu kegiatan ke kegiatan kemudian itu bisa bikin emak murka. Rebahan dulu lah.. baca komik dulu lah.. atau kalau anak jaman sekarang  mungkin sudah ada yang sibuk mengecek pesan dan sosial media di gawainya.. begitu banyak tantangan ya bu ibuu..

Daripada emak ngomel atau merepet panjang lebar, coba pilih satu kata yang mewakili keinginan kita ..

contoh  : 

- sat set yuk Nak

- bergegas yuk

- dsb

setelah kita temukan, konsistenlah melatih menggunakan kata-kata tsb untuk menyampaikan kondisi yang kita kehendaki.

Atau misalnya ketika anak-anak bermain tapi meninggalkan mainannya begitu saja di ruang keluarga, atau di kamarnya. Dari pada merepet panjang lebar misalnya "kakak teh, ya.. udah umi bilangin berkali-kali, selalu lupa lagi lupa lagi. Apa umi bilang, kalau habis main itu, kembalikan lagi ke tempatnya. Jangan dibiarkan berantakan gini, nanti kalau terinjak gimana.. kalau mainannya rusak gimana.. nanti kalau ilang, nanyainnya ke umi umi juga.. "

Hadeeuh.. kebayang kan ya.. berapa banyak informasi yang masuk dan mungkin anak justru malah nggak merhatiin karena udah bete dengan marah-marahnya kita. So bisa dicoba untuk menemukan satu kata yang pas / mewakili perasaan kita

- Nak, kita RAPI kan yuk mainannya..

misalnya, Itu hanya contoh saja ya. Tentunya para mamak yang membaca tulisan ini dapat mencari dan memilih kata yang paling cocok buat anak anak kita di rumah

Selamat mencoba,,

Senin, 05 Juni 2023

Dikomplain Tukang Ojek

Long weekend kemarin aku sempat jalan sama temenku cari kado. Kado ini diperuntukkan buat salah seorang sahabat yang dulu bareng-bareng tugas di front office pas ngantor di dekat BEC. Sepulang mencari kado ini, aku dianterin pulang. Kebetulan di mulut gang yang menuju rumahku, ada warung bakso baru, jadi kami mampir makan bakso dulu. Hitung-hitung sebagai pengganti kalori yang kami keluarkan saat berkeliling dari toko ke toko tadi.

Usai makan bakso, aku melihat antrian tukang ojek yang sangat panjang. Iseng aku memberi kode ke antrian terdepan kalau aku mau naik. Sebenernya jarak dari depan ke rumahku ini tidak terlalu jauh. Tapi kupikir ya udahlah sesekali naik ojek. Toh udah lama juga aku nggak naik ojek pangkalan.


Nah pas aku turun terus aku bayar, aku kaget ya.. si Mang ojeknya marah.

"Saya rugi udah ngantri lama tapi ternyata nganternya dekat" katanya.

Whaaat ?

"Bapak rugi apa ?" tanyaku menahan diri.

"Ya rugi, kan antrinya lama, tapi nganternya cuman sebentar"  keukeuhnya

"Bukannya bapak untung ya, bensinnya keluar dikit, terus bisa segera balik dan mengantri lagi. Kan walaupun dekat saya bayarnya sesuai tarif yang jauh" kataku.

"Rugi, Bu.. nanti ngantrinya lama lagi. Kalau dekat mending jalan kaki aja" katanya sambil pergi.

Aku bengong nggak habis pikir, cara berhitungnya bapak itu gimana ya.. Tapi ya sudahlah.. mungkin memang cara berhitung kami berbeda. wkwkwk.

Itu kan aku turun di jalan ya.. karena aku mau belanja dulu. Usai belanja aku penasaran pengen tahu mindset tukang ojek yang lain gimana. Sengaja aku berdiri di pinggir jalan. Menunggu tukang ojek yang lewat. Tak lama kemudian ada tukang ojek yang mangkal di pinggir jalan menawariku. 

"Nggak papa saya naiknya dekat ?" 

"Oh ngga papa Bu.. mangga dijajap (Silakan, diantar) Kunaon kitu Bu "  Mangnya bertanya balik.

"Tadi  saya diomelin sama ojek yang sebelum Bapak, katanya rugi kalau saya naiknya cuman dekat aja. Padahal saya kan bayar sesuai tarif." curcolku.

"Waah.. yang mana orangnya Bu, Ibu nandain orangnya nggak ? atau motornya ?"  Oh iya bener ya, tadi nggak kepikiran nandain motornya..

"Nggak Pak, saya nggak inget yang mana motornya.." 

"Yah Bu.. memang ya begitulah yang di sana mah.. nggak tau kenapa, ribut terus ...


Lalu aku  lanjut wawancara Bapak Ojek.

"Bapak kenapa nggak mangkal di depan ?" tanyaku ingin tahu.

"Males ah Bu di sana, banyak banget orang. Apalagi libur gini, sepi, nggak ada anak sekolah" kata Bapaknya.

"Emang kalau bapak di tempat tadi, ada penumpang ?"

"Ya ada aja Bu...kalau udah rezeki mah, seperti Ibu ini.." (dalam hati aku salut sama Bapak yang sellow gini nih.. prinsipnya hampir mirip sama aku) 

"Iya si ya Pak..." aku menyepakati.

Tak lama kemudian aku sampai di rumah, Bapak ojek kubayar sesuai tarif, bilang makasihnya sampai beberapa kali.  Duh aku jadi dapat insight dari peristiwa tadi. 

Ternyata niat baik tidak selalu ditanggapi dengan baik. Niat aku menjadi 'penumpang' buat mang Ojek, biar bisa ngurangin antrian mereka, eh.. disikapi lain. Ya tarik nafas aja.. memang begitulah dunia nyata kali ya.

Kondisi fisik yang lelah dan jenuh, dapat memicu kemarahan. yang mungkin justru terlepas ke orang yang nggak tahu apa-apa kayak aku. 

Bersyukur.. dan pasrah.. membuat sellow dalam menyikapi dan menjalani tantangan kehidupan.

Sampai rumah aku cerita pengalamanku ke anak gadis. Malah dia kasih tips, "Ummi jangan naik dari pangkalan ojek yang itu, cari aja yang sebelum atau sesudahnya" Okey. akupun penasaran lihat google map. Oh ternyata yang kecewa bukan aku aja  haha



Minggu, 04 Juni 2023

Air oh Air

Hai kawan, yang aku mau ceritakan ini adalah kejadian yang aku alami sendiri tentang pengalamanku berinteraksi dengan air. Khususnya air bersih yang kita butuhkan dan kita pakai sehari-hari.

Masa kanak-kanak di Cilacap, aku dibentuk untuk menyediakan air sendiri. Jadi setiap mau mandi ya harus menimba air dulu. Mengisi bak mandi yang ukurannya memang kecil, kalau dipakai mandi seorang dua orang udah kosong lagi. Jadi semua yang mau mandi di kamar mandi ya harus mengisi dulu. Kalau yang malas mengisi, biasanya memilih mandi di luar, masih pakai celana pendek, langsung guyur air dari timba, sabun sabun ala kadarnya, guyur lagi, selesai deh.. Tapi kan buat anak gadis kadang mandi tuh semacam me time ya... keramas dulu, gosok dulu badan pakai batu, sikat kuku kaki pakai sikat gigi bekas.. belum acara cari kutu hihi.. dulu aku kecil kutuan soalnya... ya begitulah.. Saat itu usiaku sekitar 8-10 tahun. 

Kemudian kami pindah kontrakan dan nggak punya sumur. Kami numpang di sumur tetangga. Tentunya udah izin ya.. dan memang jamak kalau di kampung mah, satu sumur dipakai beberapa keluarga. Di sini Bapak minta tolong tetangga untuk menimba air, mengisi bak mandi sehari dua kali. pagi dan sore. Plus ada 2 drum air sebagai cadangan. Mulailah edisi berhitung air dimulai. Anak 7 eh tinggal  yang tinggal di rumah karena mas mas udah kerja di lain kota. Benar benar setiap tetes itu sangat berarti. Air bekas  wudhu ditampung buat nyiram halaman yang berdebu.  Air cucian beras buat nyiram tanaman. Air di dandang bekas ngukus nasi buat ngerendemin panci aron, dll intinya mah Bapak Ibu ngajarin supaya kita hemat air.  Nyuci pakaian sama mbak ART dilakukan di sumur.

Berlanjut ke masa-masa SMEA, ngekos juga seperti itu. Mandi dan cuci pakaian harus nimba sendiri. Ibu kos punya kran air, tapi itu khusus buat cuci piring dan untuk bak mandi keperluan ibu kos. Bak mani anak anak ya nimba sendiri. Kemudian di masa-masa mahasiswa, soal air ini tinggal puter kran ya.. tapi ternyata kepedulian sesama teman kadang ada yang ngeselin juga. Meski tinggal putar kran, kadang ada yang mandi sampai ngabisin air, terus bak mandinya ditinggalkan kosong. Yang antri berikutnya kan jadi nunggu lagi supaya airnya kembali terisi. 

Terus puncaknya soal air ini adalah saat aku tinggal di Kupang. Di sini aku belajar banyak. Keadaanlah yang memaksaku untuk itu. Tadinya kupikir pengalamanku dengan air di masa kecil udah cukuplah.. menempaku agar cukup bijak menggunakan air. Eh, ternyata belum cukup ya.. dan masih perlu ditambah lagi. 

Aku nyusul suami tinggal di Kupang - NTT setelah menikah dan mengajukan pindah ikut suami. yaitu dari awal tahun 1997 hingga akhir 2001. Kami tinggal di pinggiran kota, yakni di Jalan Pasir Panjang.  Di atas kami ada daerah Perumnas, di atasnya lagi ada daerah kantor Walikota. Entah kenapa ya.. waktu itu di daerah Pasir Panjang kebagian air PAM itu tiga hari sekali. Itupun mengalirnya hanya di waktu malam. Bayangin dulu aja ya.. stok air tiga hari sekali... Padahal di daerah kantorku di Jl Palapa atau kantor Abi di jalan Cak Doko air mengalir normal setiap hari. Bisa dibilang 24 jam malahan.  

Jadi triknya adalah kami memiliki 3 drum besar, setiap air mengalir kami akan mengisi tiga drum itu. Tapi tetep aja pakainya harus hemat-hemat, karena deg deg an juga apakah tiga hari lagi air bakal ngalir. Apalagi kalau tiba musim kemarau.  Ada masanya kami mengisi drum itu dengan cara mengumpulkan segayung demi segayung, kemudian ditampung ke ember, lalu dari ember baru masuk ke drum. Kenapa harus pakai gayung ? Karena airnya nggak bisa naik. Maklum rumah kami di komplek bagian paling belakang. Pasti di depan juga sedang melakukan hal yang sama. Jadi kami menyiasatinya adalah memiringkan tiang kran hingga setinggi gayung tadi.  Jangan tanya bak penampung bawah tanah ya... yang biasa dilakukan di Jawa, soalnya untuk menggali tanah di Kupang itu orang sana bilang "setengah mati'. Karena tanahnya berbatu/batu karang.

Kok bisa kondisi gitu punya anak tiga selama 5 tahun di sana ? Cuci popoknya gimana ?

Ya sama lah.. nyuci popok mah .. tapi tetap hemat air intinya ya.. Untuk baju bayi dan baju balita yang kena ompol dicuci setiap hari, kadang pagi kadang malam pulang kerja. Kemudian baju para dewasa dan baju anak yang kondisi kering, ya nyucinya tiga hari sekali pas air mengalir itulah. Nggak kebayang sih ya.. kalau sekarang melakukan lagi. Nyuci manual malam-malam, terus sambil momong balita karena no ART haha.. ya sekarang cerita udah bisa sambil ketawa. 

Ada masanya ketika musim kemarau, air benar benar nggak ngalir. Solusi ? pergi ke kota. Numpang mandi di kantor, dan numpang nyuci di hari libur. Kalau nggak ke kantor, kadang kita ke sebuah masjid di daerah Oebobo, aku lupa nama masjidnya. Tapi takmirnya baik banget, dan memang masjid itu menjadi tumpangan kita - kita yang sering nggak kebagian air. 

F1 dan F2 nyiram tanaman malam-malam

Itu sekelumit kisah ya.. yang mengajariku bagaimana untuk mensyukuri setiap tetes air yang Allah berikan, baik yang kudapat secara mudah maupun dengan usaha lebih. Sampai saat ini juga jadi terbiasa. Buka kran secukupnya aja, nggak usah besar-besar. Mandi ya diukur-ukur, nggak sekedar gebyar-gebyur. Ambil minum ya dihabiskan, jangan dibuang-buang. Menggosok kamar mandi pakai air bekas nyuci, dsb.. itu udah kayak reflek aja ya.. Meski di Bandung ini bisa dibilang air melimpah. Meskipun air ini termasuk energi yang terbarukan, gampangnya mah ada lagi ada lagi gitu ya.. tapi siapa yang tahu cadangan air tanah ini akan sampai kapan ? Dan seberapa banyak curah hujan 'isi ulang' ? Wallahu a'lam.  Itulah, makanya setidaknya aku tidak memboroskan air.  Sesimpel itu.