Tampilkan postingan dengan label Faiz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faiz. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Januari 2024

Sekelumit Kisah Anak Pondok

Punya anak yang lagi melanjutkan pendidikan di pondok itu banyak ceritanya. Ya kangennya, khawatirnya, harapannya, bahagianya, sedihnya, terharu, .... Campur aduk muter-muter macam roller coaster.


Pas tahun-tahun pertama, yang diharapkan banget yaitu telponnya. Pokoknya telepon genggam nggak boleh di posisi mode silent. Karena sekali aja kejadian missed call maka kita gak akan bisa telepon balik. Karena mereka nelponnya dari wartel. 

Selain telepon, cwrita yang sering terjadi adalah kehilangan barang. Entah karena ceroboh entah karena memang bener-bener ilang alias diambil sama yang membutuhkan. Ini enggak cuman barang kecil macam sandal sepatu kaos kaki, bahkan kasur lipatpun bisa hilang. Gimana menurutmu? 

Seiring berjalannya waktu, kondisi emosyenel seorang ibu yang ditinggal mondok berangsur-angsur stabil. Udah jarang ya nangis kangen, yang ada nangis di atas sajadah, berdoa buat kebaikan mereka. 

Anak-anak pun demikian. Udah mulai terbiasa dengan permasalahan pondok. Dibikin santai aja... Butuh yang baru ya beli lagi aja. Telpon rumah dulu, minta kiriman ini dan itu. Meski dapat dibeli di toko pondok, tetep aja rasanya lebih enak kiriman dari rumah. Padahal mungkin ya barang jajanannya itu-itu aja. Bedanya cuman di uang yang keluar, dari kantong pribadi vs dari kantong Umi/Abi. 

Lebih naik lagi kelasnya, lebih jarang lagi telponnya. Selain karena kesibukan yang bertambah, mungkin juga karena sudah lebih terbiasa dalam menghadapi dan menangani masalah yang terjadi di pondok. 

Anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan tidak mudah mengeluh. 
Sampai-sampai di kalangan orang tua beredar istilah "kalau nggak nelpon berarti ananda baik-baik aja". Emang boleh sesantai itu? 

Memang sih.. Seringnya begitu .. Nanti Kalau uang habis juga nelpon. Tapi pernah kejadian juga  si F5 beberapa tahun lalu, nggak nelpon selama sebulanan. Kebetulan waktu itu udah dekat-dekat perpulangan. Ketika Nelpon ditanya kenapa lama nggak nelpon, jawabannya nanti aja ceritanya pas di rumah. 

Ketika liburan tiba, ternyata oh ternyata, dia sakit mata. Karena dikhawatirkan menular, yang sakit mata ini dirawat di Balai Kesehatan. 
Memang waktu itu banyak rombongannya, sampai setelah itu yang agak sembuh dikarantina di GOR. Lah malah anaknya menikmati, piye jal? Katanya dispensasi nggak masuk kelas dan bisa main bola sepuasnya. Dassar anak-anak. 

Itu baru sebagian kecil cerita. Masih banyak pernak pernik yang kalau diceritakan mungkin bisa jadi novel macam Negeri Lima Menara 😃