Tampilkan postingan dengan label jalan bareng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan bareng. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2025

Korban FOMO



Beberapa waktu lalu, lewat di beranda akun media sosialku tentang sebuah destinasi yang sedikit keluar dari kota Bandung, namun masih mudah dijangkau. Mudah dalam artian sarana transportasinya, dan juga harganya yang sangat murah.

Destinasi tersebut, adalah sebuah cafe yang konon estetik, yang terletak di Cicalengka. Dari area kot.a Bandung, dapat ditempuh dengan menggunakan kereta api lokal dengan harga tiket Rp. 5.000 saja. Jadi pulang pergi hanya butuh RP. 10.000. Murah kan?

Di hari libur akhir pekan yang panjang, aku dan anakku sepakat mendatangi tempat tersebut. Beli tiket keberangkatan dari stasiun Kiara Condong.Untuk penumpang luar kota, biasanya masuk dari Stasiun Lama di Jl Kebon Jayanti. Meskipun kalau lihat desain bangunan stasiun saat ini, mestinya penumpang dari sisi Stasiun Lama maupun Stasiun baru sudah dapat terakomodir jalurya. Namun karena aku sendiri belum pernah mencoba,dan kok ya belum pernah tanya ke petugas, akhirnya aku tetap masuk dari Stasiun Lama.

Perjalanan kereta lokal Kiara Condong (KAC)-Cicalengka (CCL) ditempuh dalam waktu 50 menit dan berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Dari Kiara Condong - Gedebage - Cimekar - Rancaekek - Haur pugur - Cicalengka. Kami berdua sempat berdiri dari Kiaracondong sampai Cimekar. Karena di sini banyak yang turun, jadi kami baru dapat tempat duduk.

Kami tiba di stasiun Cicalengka sekitar pk. 11.30. Begitu keluar peron, kami sudah disambut oleh para calo dan kernet angkot yang aktif melakukan penawaran dengan menyebut nama cafe viral itu. Tapi karena di map kulihat jaraknya hanya sekitar 500m dari stasiun, maka kamipun memilih untuk berjalan kaki. Tidak menyangka lho, ternyata cukup banyak juga yang berjalan ke arah yang sama. Whaat? seviral itu kah?

Sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan yang menenteng gelas minuman berlogo cafe itu. Begitu masuk, duh udah kurang sreg dengan suasana yang menurutku mirip pasar. Suara berdengung orang mengobrol, bercampur dengan suara anak yang menangis, di tengah panas yang terik.

Selanjutnya kami mengantre di depan kasir untuk melakukan pemesanan. Pesan minuman OK, kami memilih kopi susu aren dan matca. Pas pesan makanan agak kaget, yang tersedia hanya sebagian menu saja, camilan pun hanya ada tahu cabe garam. Sedangkan kalau kami pesan menu nasi baru dapat disediakan satu jam mendatang. Asli kaget sih.. tapi ya memang rame banget  cafenya.

Oke, kami pun memilih ruang ber-AC. Berharap sedikit kedap suara dan disejukkan oleh pendingin udara. Namun sayang sekali, suasana di ruang AC juga tidak terlalu berbeda. Di ruang ini justru ada sumber suara yang sangat lantang. Ada anak toodler yang suara tangisnya menggoncang dunia combo dengan dua balita yang buka tutup pintu geser di belakangku.

Setengah jam kemudian, minuman datang dalam kemasan gelas plastik. Shak shik shok sih, ini dine in tapi dikasih gelas plastik. Karena udah kepanasan akhirnya aku minta pesanan sisanya di take away aja. Aku buka buka map, cari tempat mengungsi lain yang terdekat. Syukurlah ada. Nanti aku ceritakan di postingan berikutnya.

La-Maja Coffee and Eatery, Cafe Estetik di Cicalengka


Jumat, 24 November 2023

Makan Bakso di Bakso Urat Cisaranten

Bakso di Bandung

Bakso buat orang Bandung, adalah salah satu makanan yang sangat populer. Bola daging ini umumnya terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tepung tapioka / aci. Biasanya disajikan bersama kuah kaldu sapi, mie, tahu, bihun, dan beberapa tambahan seperti sayuran dan bumbu lainnya. Buat orang Bandung mah ada bakso goreng segala ya..
Seiring dengan perkembangan waktu, bakso menjadi makanan yang sangat disukai oleh masyarakat Indonesia, termasuk di Bandung. Sebagai kota yang terkenal dengan wisata kulinernya, Bandung menjadi tempat bagi banyak pedagang kaki lima maupun warung makan yang menyajikan bakso.
Warung-warung bakso ini tersebar di berbagai sudut kota, dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Bakso menjadi salah satu pilihan makanan favorit karena rasanya yang lezat, harga yang terjangkau, dan kemudahan dalam penyajiannya
Seiring berjalannya waktu, variasi bakso pun semakin berkembang. Ada bakso keju, bakso beranak (bakso besar yang berisi bakso kecil-kecil), bakso bakar, bakso mercon (bakso isi cabe) dan banyak inovasi lainnya.
Beberapa pedagang bahkan mencoba menciptakan resep bakso yang unik dan khas. Masing-masing menonjolkan sisi kreatifitasnya. Untuk penyajian kini ada bakso sanguan (bakso yang disajikan bersama nasi), bakso iga (bakso disajikan bersama potongan daging iga), bakso ceker, dsb. Maka bakso pun menjadi makanan favorit warga Bandung dan maupun pendatang. Didukung suhu kota Bandung yang relatif sejuk, maka makan bakso menjadi keasyikan tersendiri.

Bakso Urat Cisaranten


Bakso urat adalah salah satu varian yang saat ini banyak digemari di Bandung. Sebutlah beberapa merk terdahulu seperti Bakso Urat Saturnus (letak di jl Saturnus) yang memiliki banyak cabang, Bakso Urat Cijambe, dan yang terbaru Bakso Urat Cisaranten.
Terletak di Jalan Cingised, warung bakso yang belum genap sebulan buka ini, sudah digemari banyak orang. Apalagi jam makan siang. Warungnya selalu penuh orang.

Menu yang tersedia di Bakso Urat Cisaranten adl sbb :
- Mie Bakso Kecil
- Mie Bakso Kecil Ceker
- Mie Bakso urat
- Mie Bakso urat Ceker
- Mie Bakso Cincang
- Mie Bakso Cincang Ceker
- Mie Bakso Buset
- Mie Bakso Buset Ceker
- Mie Bakso Double
- Mie Bakso Double ceker

Favoritku adalah Mie bakso kecil. Tapi bakso kecil di sini juga ukurannya nggak kecil-kecil amat. Cuman memang paling kecil di antara yang lain.
Menu yang istimewa juga adalah bakso Buset. Ini adalah varian bakso urat yang diisi daging cincang. Disajikan sudah dibelah gitu, mungkin untuk memastikan dalamnya matang sempurna.
Yang aku nggak nyangka juga si bakso cincang-nya. Ketika bakso dipotong aroma sedap daging dimasak langsung menguar.

Tips Makan di Warung Bakso

Jalur jalan Cingised adalah jalur jalan yang cukup padat. Apalagi diambah meja kursinya yang sedikit. Maka ada beberapa tips dari aku :
1. Hindari jajan bakso di jam makan siang. Karena ada yang nungguin, nanti kita makannya jadi buru-buru.
2. Kalau bisa naik kendaraan roda dua. Memang sih sekarang-sekarang mobil masih bisa masuk, di halaman ruko sebelah.
3. Cobain bakso busetnya, mantaaap.. terus pesen lagi bakso kecil untuk tambahan porsi rame-rame.
4. Pembayaran bisa non tunai / QRIS




Demikian pendapat aku tentang warung bakso urat cisaranten. Mungkin kamu punya pendapat lain soal baksonya. Kalau untuk minuman, menurutku ya biasa aja seperti warung lainnya. Aku pribadi, jarang pesan minuman selain air putih atau teh tawar hangat. Karena perutku sudah cukup penuh dengan hidangan-hidangan utama

Selasa, 26 Januari 2016

Titian Muhibah #1 : Persiapan Perjalanan

Buat sebagian keluarga, liburan bersama sudah seperti menjadi agenda wajib. Sehingga sudah dipersiapkan baik waktu maupun pembiayaannya.
Tapi buat keluargaku, liburan itu seperti sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan. Biasanya kami menjadikan mudik sebagai 'liburan'. Ya karena saat itulah anak-anak bisa berkunjung ke kota lain dan bertemu dengan keluarga besar.
Akan tetapi, sejak Eyang Kakung wafat sekitar dua tahun lalu, kami sekeluarga baru sekali mudik ke Lampung yaitu pas pernikahan Echi.

Nah kemarin ceritanya Abi mau ngajakin anak-anak berkunjung ke keluarga kakak dan adikku. Meskipun mampir mampir ke beberapa tempat wisata, tapi karena lebih banyak silaturrahimnnya, jadi Abi menyebut perjalanan ini semacam titian muhibah. :)
Selama ini kalau mau mengunjungi saudara saudaraku secara teknis agak susah, karena saudara-saudaraku ada 6 orang yang tinggalnya di 6 kota 5 provinsi. Nah kebetulan tahun lalu adikku yang sebelumnya ikut suami tugas ke Sumatera, pindah ke Purworejo di Jawa Tengah. Sehingga kalau kami ke Jawa Tengah, dapat menemui beberapa keluarga. Yaitu keluarga kakak pertama di Cilacap, keluarga adikku di Purworejo dan adik satu lagi di Temanggung. Udah gitu kami rencana akan diantar kakakku yang ketiga. Jadi minimal ini ketemu lah ya...lima orang. Yang dua lagi di Jaksel dan Bekasi insya Allah kapan-kapan lagi.

Maka Abi meminta aku merencanakan segala sesuatunya. Awalnya aku bikin rencana destinasi secara sederhana plus dengan akomodasinya. Karena ini perjalanan panjang, maka segala sesuatunya harus disiapkan.
Berikut rencana singkatnya :
Hari 1 ; Perjalanan ke Cilacap dengan KA Ekonomi, malamnya menginap di rumah kakak
Hari 2 : Berkunjung ke tempat wisata di sekitar rumah kakak, lanjut perjalanan ke Purworejo dengan rental mobil, malamnya menginap di rumah adik
Hari 3 : berkunjung ke Saudara-saudara Bapak dan Ibu lanjut ziarah ke makam Bapak dan Ibu malamnya menginap di penginapan di Magelang
Hari 4 : Berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Taman Pintar, malamnya menginap di penginapan di Yogyakarta
Hari 5 : berkunjung ke keraton dan ke Budhe di Yogyakarta, malamnya perjalanan pulang ke Bandung.
Fyuuuuh, ngebayanginnya udah capek duluan. Tapi karena ini adalah perjalanan pertama ke arah Jawa Tengah buat kami sekeluarga, maka semua anggota keluarga pun antusias.

Kurang lebih seminggu sebelum perjalanan aku udah beli tiket KA Bandung-Cilacap (KA Ekonomi, karena cuma sebentar) dan juga tiket KA Yogya-Bandung (pakai kereta bisnis karena perjalanan bakal semaleman) . Aku juga udah mulai mengintip semacam trivago, traveloka, yogyes dsb untuk pemesanan kamar. Tapi karena aku dibuat bingung dengan perbedaan harga mereka dan fasilitas yang ditawarkan, akhirnya aku memilih pemesanan manual lewat telpon langsung ke pihak hotel. Alhamdulillah semua clear ya...

Setelah itu persiapan berlanjut pada perbekalan. Rencana semula, semua anak bertanggung jawab atas backpacker masing-masing, cuma punya Faiz dan Teteh yang akan digabung di tas Abi. Tapi mengingat bawaan cukup banyak (5 hari-5 kota, gak sempat nyuci laaah....) akhirnya Abi mengeluarkan travel bag simpanan untuk pakaian para cewek.

Ini tas perbekalan para cewek. Yang hijau buat Teteh sama Ayuk, yang batik buat Ummi dan Mbak

Kami berangkat Kamis pagi pukul 05.20 dari stasiun Kiara Condong. Terima kasih buat aplikasi Mybluebird yang sudah 'memastikan' bahwa taksi bakalan datang. Maklumlah, tinggal di Bandung coret ya begini ini, taksi jarang ada yang mau njemput ke arah sini. Tapi alhamdulillah, sejak aku pakai aplikasi My Bluebird, taksi biru ini selalu datang. 
Kemarin kami pesan yang MPV, ceritanya mau nyobain Honda Mobilio sekeluarga gituu.... tapi kemudian ditelpon sama CS Bluebird, katanya  armadanya nggak ada, jadi kami minta dikirim dua taksi sebagai gantinya.
Syukurlah kereta nggak penuh semua, jadi duduknya santai, bisa pindah kanan kiri memilih jendela yang menyuguhkan pemandangan lebih indah

Pemandangan matahari terbit di sekitar Garut
 Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, pada pukul 11 siang kami tiba di stasiun tujuan, yaitu Stasiun Maos. Di Maos inilah aku menempuh pendidikanku semasa SMP. Duuuh.. udah lama banget. Ada kali 20 tahun aku nggak ke Maos ini. Rasanya nyesek dan terharu akhirnya aku bisa sampai sini lagi. Ada perasaan semacam dejavu gitu, karena SMP-ku ini dekat sekali dengan stasiun.
Tapi ternyata pas aku menyusuri sepanjang jalan kenangan (hihi), SMP-ku udah berubah. Yang tadinya menghadap jalan stasiun berubah jadi menghadap jalan baru. Nggak ada bekas sama sekali. Yaah... sayang sekali ya... Padahal pas aku kelas dua, setiap ada kereta lewat, pasti kelihatan dari jendela karena antara rel dan kelasku cuma berbatas jalan.


Aku dan Faiz di Stasiun Maos
Sayang sekali perjalanan dari Maos menuju kampungku di Desa Adiraja Kec. Adipala (kecamatan sebelah), ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir sekian puluh tahun akan memberikan kemajuan di angkutan massal. ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Angkutan pedesaan berupa bis kecil dari Maos ke Adipala sudah jarang, bahkan angkutan kota dari Adipala ke Adiraja sudah punah, alias nggak ada lagi. Kata kakakku, ini terjadi karena orang lebih suka naik motor. Apalagi sekarang kredit motor sudah dapat dilakukan dengan persyaratan yang cukup mudah.
Alhamdulillah kami bertujuh ketemu bis kecil yang kosong, aku meminta sopir mengantarkan kami langsung sampai desaku (jaraknya cuma sekitar 2 km laah, dari Adipala). Alhamdulillah pak sopirnya bersedia, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Kamipun sampai di rumah kakak dengan selamat dan penuh kemudahan.

Jumat, 23 Oktober 2015

Berenang di Apartemen Gateway Cicadas Bandung

Seumur-umur aku belum pernah masuk sendirian ke tempat-tempat yang terlihat megah macam hotel atau apartemen gitu. Entah kenapa ada rasa minder atau apa gitu ... Soalnya tampang aku kan pikarunyaen (silakan search sendiri artinya). Yakali, soal pisang nggoreng aja temen aku beli satunya seribuan pas aku beli dikasih satunya limaratusan. Trus pernah pas aku piket nerima SPT tahunan di BTPN masa ada kakek kakek pensiunan yang tiba tiba ngasih aku uang seratus ribua katanya inget sama cucunya. Kutolak tentu saja... apalagi estrinya ngeliatin. hihi ternyata bukan semata faktor aku, tetapi kakek itu  juga udah pikun. hihi... Ya intinya mungkin wajah aku nggak meyakinkan dan akunya juga nggak pedean kali yaa...

Nah ke Apartemen Gateway ini juga awalnya nggak pede, tapi karena waktu itu ada @idaidho tinggal di sana ya aku pede pedein aja. Pada saat awal berdirinya, masuk apartemen sini bebas bebas aja, artinya kita mau turun di lantai berapa aja bisa, langsung nyari room yang kita tuju. Tetapi belakangan mungkin untuk alasan keamanan, kita harus punya kartu akses untuk bisa keluar dari lift. Palingan ya panggil tuan rumah gituu... Buat njemput di bawah.

Tapiii.... Ada lantai yang aksesnya terbuka yaitu ke lantai 3 di mana terdapat public area. Di sana ada playground, kolam renang dan lapangan. Kalau kalian pedean ya bisa aja langsung masuk gerbang, ambil tiket parkir, ke area parkir trus cari liftlah di pojok-pojoknya. Kalau bingung ya nanya nanya dikit sama pemilik toko yang ada di pinggir pinggir area parkir di basement. Mau ke kolam renang, pasti deh ditunjukin.

Nah waktu itu aku sekalian arisan sama Tri sama Mamak Sondang juga beserta anak anak janjian sama tante Ida mau berenang. Sebenarnya renang disini gratis buat penghuni aja, cuman karena penghuninya jarang yang renang, jadi ada penghuni-penghuni lain yang ngajak temennya berenang di sono. Macam idaidho ini. Sekalinya ngajak juga rombongan. Anakku aja 2, tapi Faiz doang yang mau renang, anak Tri tiga tapi cuma Nara yang berenang, dan anak Mamak tiga tiganya berenang karena mereka kebetulan pulang dari Lembang dan bawa baju renang pula.  Mau bayar juga nggak ada loket penjualan karcisnya #alesan.
Alhamdulillaaah, anakku ngerasain berenang di apartemen. Udah gitu sepiiii, jadi berasa kolam renang pribadi. Sayangnya air dingin jadi Ummi gak berani nyebur. hehe

pintu gerbang/gapura apartmen. sekarang udah lebih bagus lagi
makan mendoan di pinggir kolam hehe
Faiz dan the GETs lagi pada renang
play ground dekat kolam renang

Selasa, 15 September 2015

Jalan Jalan ke Taman Lansia

Taman Lansia ? Yup!
Taman untuk orang lanjut usia ? Belum tentu hehe
Seperti yang sudah diketahui orang banyak, sejak kota Bandung dipimpin oleh pasangan Ridwan Kamil-Oded M.Danial, tampaklah perubahan kota Bandung secara kasat mata. Belum sempurna tentu saja. Semua masih dalam proses. Dalam satu kesempatan Ridwan Kamil menyampaikan, masa jabatan walikota itu 5 tahun, jangan menuntut perubahan itu seketika, 100 hari atau setahun dua tahun masa kerja.  ibaratnya hutang yang cicilannya dibayar selama 5 tahun, pasti nggak ada yang mau ketika dipaksa melunasi di tahun pertama atau kedua. Iya kaan ?
Nah salah satu perubahan yang sudah kelihatan adalah dibangunnya (baru) maupun revitalisasi berbagai taman yang sudah ada. Seperti taman lansia ini. Taman Lansia bisa diakses dari keempat sisinya walaupun tulisan TAMAN LANSIA hanya ada di sisi jalan Diponegoro dan belakangnya. Tetapi pintu masuk bisa 12  sisi Jl Cisangkuy maupun sisi Jl. Cilaki. Pada masa RK inilah taman Lansia dibangun kembali, dengan konsep yang baru. Dibangunnya jogging track baru dengan meja dan kursi yang tersebar di sisi-sisi track.
Ada juga track jalan kaki dengan kerikil timbul, biasanya dipakai jalan-jalan sama nenek kakek semacam buat pijat kaki gitu. Trus ada kolam dengan salah satu sisi menjorok ke arah kolam semacam dermaga gituu.... Dan asyiknya, pohon pohon besar tetap dipertahankan, jadi suasana taman sangat rindang dan udarapun terasa segar .
Waktu main ke sini kemarin, aku cuma jalan kaki satu putaran, itupun dipotong berhenti buat beli kue cubit greentea randa kembang di sisi belakang dan juga beli kerak telor di mamang yang mangkal dalam taman.
Berangkat dari rumah jam 6, naik angkot. Jadi pas jalan masih fresh.
gerbang di Jl. Diponegoro
tempat pijit kaki hihihi dimotif lucu lucu seperti bintang ini
Pohon tua ini ada penunggunya :D
Dermaga ala ala

Kamis, 04 September 2014

Bandung - Cilimus - Cirebon - Bandung lagi

Akhir pekan kemarin, mendadak Abi mengijinkan aku pergi bersama rombongan ibu-ibu pengajian ke Cirebon. Kenapa Cirebon? Karena ini kota asal salah satu anggota pengajian. Dan karena beliau memiliki usaha ticketing dan tur juga, maka sekaligus kami menikmati layanan EO dari beliau secara gratis tis tis.

Aku berangkat sama Teteh dan Faiz saja. Karena Mbak, Fikri dan Ayuk hari Sabtu masih ada kegiatan di sekolah,dan mereka nggak mau bolos. Mbak mau ke PMI kota Bandung, pembekalan acara Jumbara di Pangandaran Oktober mendatang. Fikri ada dua eskul, yang dia cinta banget ya eskul IT.
Kalau Ayuk malah masih sekolah biasa dan siangnya ada tugas mewawancara salah satu tokoh, temanya tentang remaja Islam. Ya udin, yang bisa bolos cuma Teteh, Faiz libur. Abi ? Ya mana mungkinlaaah... mau gabung rombongan emak rempong.

Dari Bandung mobil yang aku tumpangi berangkat nyubuh menuju ke daerah Cilimus di Kuningan. Kami akan berenang dan berpetualang di Grage Sangkan. (Silakan gugling sendiri ya...) . Karena kami tidak menginap di hotel tsb, kami langsung masuk ke halaman kiri hotel, tempat kolam renang berada. Alhamdulillah, karena sampai  masih pagi, maka kolam tsb seakan milik kami sampai sekitar jam 10an.

kolam renang dengan HTM 20rebu sajaaa... Ya ampuun, pop mienya juga cuma 8rebu, lebih murah dari harga popmie di kapal fery Selat Sunda.

Selain kolam renang di sini juga ada beberapa wahana lain baik yang gratis maupun yang berbayar.  Yang gratis contohnya lapangan mini futsal, jogging track dan terapi digigit ikan gitu. Kalau yang bayar ada memancing, menunggang kuda, dsb.

ini niiih... tinggal pilih mau yang mana

Ini Faiz dan Teteh di taman

Ini anak-anak nyelupin kaki di kolam yang penuh ikan gitu. Asal kaki masuk aja, bahkan tangan juga, si ikan langsung ngerubutin.

lihat tuh ikannya kecil kecil

Karena hari menjelang siang, kami bersiap siap ke Cirebon. Tapi sebelum ke Cirebon, kami belok dulu ke Linggarjati, melihat eh tepatnya melewati komplek gedung tempat Perjanjian Linggarjati di adakan. Seorang teman sampai berceletuk, subhanallah, gimana ya.. para pejuang dulu bisa sampai di tempat tersebut, lha wong sekarang aja lokasinya masih jauh dari kota. Tapi udara di Linggarjati itu sejuuuuuk... lho... kayaknya emang pas buat perundingan ya.. adem, nggak panas. Sayang nggak sempat popotoan di Linggarjati

Di Cirebon, rencananya kami akan makan empal gentong. Empal gentong ini salah satu masakan khas Cirebon. Semacam gulai gitu. Isinya ada yang daging, jeroan atau campuran daging dan jeroan. Dan aku baru tau, ternyata ada juga empal asem, jadi empal gentong tanpa santan. Semacam sop gitu kali ya... soalnya aku nggak nyicip yang empal asem ini.

penampakan empal gentong dan empal asem
Empal Gentong H. Apud

Setelah kenyang, perjalanan berlanjut ke sentra batik Trusmi. Kami tidak belanja di sana, melainkan ke salah satu toko bernama Wening di jalan Trusmi Kulon Plered.  Suasananya rumahan. Kami masuk toko dengan melepas alas kaki, trus dilayani sambil lesehan. Pramuniaganya pun ramah ramah. Daan, setiap item yang kita beli, masih didiskon lagi dari harga yang tertera. Asyyikkk kaan (besok aku dapat kiriman batik nih).
Setelah puas milih milih batik (milih doang, soalnya jalannya tanggal 31 boooo... di puncak kalender), kami menuju pasar pagi. Di sana jajan oleh oleh Cirebon. Kue gapit aneka rasa, trus  kerupuk melarat yang aneka warna, kerupuk upil (serius namanya kerupuk upil), kerupuk kulit / dorokdok, kerupuk kulit ikan,   daaan sirup tjampolay tentu saja.

Hari menjelang malam maka dan kami harus segera kembali ke Bandung. Masih sempat mampir makan malam di warung tenda pinggir jalan. Sampai Bandung tengah malam, badan tepar tapi hati kami seakan dipenuhi bunga bunga yang sedang mekar :D

Lihat, wajah-wajah yang cerah itu. Anak-anak disumputin dulu



Selasa, 01 April 2014

Taman Wisata Kampung Batu Malakasari

Sebenernya ini postingan lama. Udah ngendon di draft hampir setahun. Pas Faiz lulus dari kelas A di TK Mutiara. hehe.. iyah, ini udah masuk TK A lagi di Attakwa dan sekarang nggak kerasa udah mau lulus kenaikan kelas lagi. Hihi... time flies banget ya...
Cuman karena kok ada benang merah yang menghubungkan, jadi wee... naik cetak deh.

Ceritanya setahun lalu  acara perpisahan Faiz ke Kampung Batu. Tepatnya Taman Wisata Kampung Batu Malakasari - Baleendah - Kabupaten Bandung. Nah, acara perpisahan ini  udah digadang - gadang sama Bu Guru,  kalau bisa semuanya ikut. Yaa... akupun akhirnya ijin nggak masuk kantor. Setelah sehari sebelumnya Bibi bertugas mengambil raport.
Trus kebetulan Teteh juga sudah libur sekolah, jadi kita angkut sekalian dengan resiko nambah iuran transport dan konsumsi 60rebu.
Kalau aku ijin-ijin gini, bukannya enggak sayang sama 5% potongan tunjangan yah.. anggap saja itu tambahan ongkos jalan jalan. Daripada menzholimi teman sebelah yang kerja keras nerima customer sementara aku enak enak jalan - jalan... hihi

Ini foto-foto tahun lalu :
Bibi dan Eka pas baru turun dari bis

mobil kereta apa kereta mobil ? Kendaraan ini berputar keliling lokasi, tiket tahun lalu 10 rebu, tahun ini masih sama. Tampak bukit batu di kejauhan, ini kayaknya kenapa di sebut kampung batu
kolam renang dengan 'ember tumpah' yang bikin Faiz takut takut tapi pengen lihat. Tiket masuk water boom 25rebu per orang. Renang gak renang mbayar.
 
kami semua naik perahu, tiket 5rebu per orang.

Ini Faiz 'belajar' turun ke kolam renang di lokasi water boom. Kelihatan ya.. awal dia mau nyoba, dituntun teteh gitu, agak gamang .. trus terakhir  udah mau mentas aja. Saking paniknya sampai berpelukan sama Teteh. *ini emak bukannya nolongin malah main kamera.
Nah, kok ya di tahun berikutnya, ketika Faiz udah di At-takwa, ada acara outing ke sini juga.
Aku sudah membujuk Faiz supaya tidak ikut saja..kan udah pernah. Dengan enteng Faiz menjawab..itu kan waktu di Mutiara... di At-takwa beluum... aaah.. anak pinter.
sempat kepikir udah aja Faiz berangkat outing sendiri. Toh F1-F4 dulu juga biasa outing nggak dianter. Etapi mendengar komen Abi "kamu tega sama anaknya" langsung luluh deeh...
Kalau dipikir-pikir, kata-kata Abi itu bener 100%. Di rumah,  gak ada pengganti Ummi buat anak-anakku. tetapi di kantor banyak sekali tenaga subtitusi atas ketiadaanku di meja.
Dan akupun minta ijin. Bukannya berat karena harus dipotong ya.... tapi di saat keberangkatan Faiz ini, teman sebelahku sedang cuti. Lha kalau kami berdua cuti, yang jaga loket siapa ??? *errr.. masih ada siih, anak OJT*
Dengan pertimbangan aku nggak tega dengan kegemparan besok kalau tiba-tiba aku gak ada, aku ijin sejak Rabu sore.
"Titi kamu ijinnya mendadak sekali" (boss sedikit panik)
"Iya Bu, saya kan membujuk suami sampai saat saat terakhir" (anak buah ngeles )
"besok tiga orang dinas ke kanwil, kamu tau sendiri kan, 2 orang di depan lagi cuti, si A nggak bisa datang pagi" (boss curcol)
"Wah itu mah tinggal ibu bilang aja 'Aberangkat lebih pagi, usahakan jam 8 sudah di meja' pasti dia datang pagi Bu"  (anak buah ngelunjak, nasehatin boss)
Boss diem sebentar.
"Kamu nggak bisa siang datang, Ti ?" (boss ngarep)
"hehe.. kayaknya... enggak Bu, soalnya di luar kota" (anak buah bandel)
"Ya sudah, jadi siapa saja yang sudah bisa ngerjain kerjaanmu ?" (boss nyerah)
"Si C, D, E" aku menyebutkan nama-nama anak OJT.
Kesimpulannya sebenernya #AYTKTM, apapun yang terjadi, ku tetap membolos. hehehe..

Nah, pas hari keberangkatan, aku sudah sedikit dagdigdug. Pengalaman awal tahun ajaran, kalau aku ada di sekolah atau di dekat Faiz, kebiasaan dia malah jadi manja. Nggak mandiri. Lihat ini ekspresi dia di halaman sekolah.

lihat itu wajah embok-embok'en, alias mau nempel terus sama ummi. Nah pas disuruh naik bis, eh.. lari dengan semangat. Aku suka pose larinya.
Alhamdulillah selama di tempat berlangsungnya acara, Faiz ada kemajuan lah. Mau lepas dari Ummi, nggak kayak tahun lalu, nempel terus nggak mau ikut kegiatan.
jadi dia bergabung dengan teman-temannya. Kegiatannya
- nangkep ikan
- berjalan di jembatan goyang yang bikin basah (aku nyobain, tapi udah sore, kamera dah mati, jadi gak ada gambarnya)
- flying fox khusus buat anak-anak, dimulai dari memanjat jaring laba-laba, naik rumah pohon, baru meluncur.
- menanam jagung
- melihat rumah panggung (ternyata dipakai foto prewed juga)
- memberi makan kelinci dan rusa
Setelah itu baru deh.. anak-anak makan siang dan bersiap berenang. Faiz masih enggak mau renang. Ya sudahlah nggak papa, Ummi juga nggak bawa ganti. Kalau anak nyebur, ummi kan ikut nyebur. kita makan eskrim aja ya.. dipinggir.

eskrim jelly yang rasanya di luar dugaan Faiz - eh nggak mau ngabisin dia, asem katanya.
naik kereta mobil tetep heits... bahkan sampai dua balikan


Sekian laporan tentang kampung batu. Ih.. geje banget ya postingannya.
Kalau benar benar geje... ya anggep aja april moooopp



Rabu, 28 Agustus 2013

Kembali Ke Masa Lalu

Masih cerita mudik ya.... Lebaran kedua kami di rumah saja. Selain karena pertimbangan Jumat di mana para kaum Adam harus serentak ke masjid, juga karena mau ngabisin ketupat dan masakan rumah yang kemarennya ditinggalin.
Selain itu para ibu juga kan musti ngurusin cucian dan setrikaan yang dua hari dicuekin.

Nah Sabtu-nya kami arisan keluarga di kakak kedua. Nggak usah cerita makanannya ya... ntar banyak yang kepengen. Alhamdulillah ngumpul semua, keluarga Echi juga sudah datang dari Pagar Alam. Klo kemaren makan makan berbonus empek-empek, kali ini makan makannya berbonus duren. Wkwkwk...#ups keceplosan

Nah, saat arisan inilah tercetus rencana silaturrahim ke Mbah Metro. Beliau ini satu satunya adik Eyang Kakung. Sayangnya ke Metro enggak semua bisa. Kakak kedua dan ketiga gak bisa ikut karena sudah ada rencana lain.

Buat yang belum tau Metro, Metro itu kurang lebih satu jam- satu jam setengah lagi dari Tanjung Karang. Masuknya Lampung Timur. Kayaknya Metro ini salah satu kota istimewa entah dari apanya. Dia udah KOTA , bukan kabupaten lagi. Trus hampir semua bis jurusan Lampung, pasti terusannya ke Metro. Eh sejak bertahun tahun lalu,  disana ada toko kue yang di atasnya ada kincir angin itu lhoooo... #gakmausebutmerk. Saat itu di Ujungberung aja belum ada. #eh. Jadi? Ya sudahlah... lupakan hehehe
Tenang.... kantor urang juga ada. *biargakngelupaincorps

Yang paling kelihatan adalah sawah yang membentang luas. Beberapa kebun kelapa sawit dan ketela mungkin ya... Dulu salah satu adik ipar Abi ada yang jadi manajer di salah satu pabrik pengolahan tapioka. Tapi gak kelihatan di sepanjang jalan yang kulalui. Di pinggiran kali ya...

Ah ya... did perjalanan ke Metro ini kami sekeluarga pisah-pisah mobil. Ceritanya ada 4 mobil yang berangkat. Abi, Fikri, Mbak di mobil Om Andi. Aku dan Teteh di mobil Tante Mpie. Nah Faiz sama Ayuk di mobil yang disetirin Om Iyen, mobil sport jadul warna merah. Yah.... belum rejeki kali ya....di tengah perjalanan yang sedikit macet karena arus balik Jalinsum, si merah mogok. Padahal baru sepertiga perjalanan. Pas mobil nyala lagi akhirnya Om Iyen memutuskan untuk kembali ke Tanjung Karang daripada mogok di jalan nanti.
Ketika aku terima SMS bahwa mereka balik lagi, langsung deh kepikiran Faiz gimanaaaa..... Khawatirnya nangis atau ngambek gimana. Mana nope Ayuk gak bisa dihubungi kaaan, karena gak ada operator Ax*s di Bandar Lampung. Eh pas lihat status BB Om Iyen bahwa mereka mampir KFC lumayan tenanglaah... lihat Faiz terkendali gitu...

Sesampainya di Metro kami langsung disuruh makan siang. Hidangan skip yaaa.... nggak usahlah cerita gurame gorengnya, tempe goreng dan bening bayam yang sangat sangat nikmat sebagai selingan hidangan bersantan, sambel terasi, eh... kok jadi cerita siiiih... hehe...
Habis makan dan sholat biasalaah... beramah tamah. Saling bertanya anak/cucu dah nambah berapa... udah kerja di mana... dsb. Cucu ? Iyaa... karena anak pertama Mbah Metro udah punya 3 cucu yang lucu lucu.
Ada satu cerita Mbah yang melekat di benakku. Saat itu tahun 70 sekian, Mbah  itu ngajuin kredit ke BRI sejumlah 10 juta, dan ngambilnya harus di Palembang. Kebayang doooooong.... si Mbah saat itu mungkin sudah milyarder kalau saat ini. Nasabah prioritas heheh.. Dasar otak dagang ya.. yang keinget urusan bisnis aja. Bukan aku saja sih... yang lain juga langsung mengkonversikan ke harga emas. Secara tahun 90an aja harga emas masih 20an rebu. Inget karena honor pertamaku menulis cerpen sejumlah 25rebu dulu masih bisa mbeliin cincin emas buat ibuku. *tetibanelongsoingetIbu

Trus tiba tiba ada yang inget foto Eyang dan Mbah pas masih kecil Maka Mbah mengeluarkan foto yang menurut Beliau difoto sekitar tahun 1933. Waduuh... dapat benda bersejarah. Maka semua anak Eyang mengeluarkan kamera. Kami repro foto tsb ala koboy alias difoto ulang. Lumayanlaah... karena fotonya juga masih dalam kondisi bagus. Ngobrol ngobrol gak kerasa udah sore aja. Akhirnya kami pamit pulang. Sorenya di loteng rumah Eyang aku lihat ada buku Sitti Noerbaja (ejaan lama yaaa...) karya Marah Rusli dan buku Salah Pilih tulisan AA Navis. Penerbitnya Balai Pustaka. Waaah... harta karun niiih... Bawa aja ke Bandung, kata Abi. Toh di rumah Eyang juga gak bakal ada yang ngelirik. Xixixi... Kayaknya aku musti bikin satu lemari kaca untuk buku buku antik Eyang. Pulang tahun lalu kami dapat buku kumcer Sutan Takdir Alijahbana. Naaah... kayaknya cerita mudiknya udah selesai ya.. postingan nanti ceritanya udah yang baru.

Minggu, 25 Agustus 2013

Cerita Mudik

Aku dah cerita singkat di postingan sebelum Idul Fitri ... bagaimana perjalanan mudikku yang lancar jaya yaaa... nah sekarang cerita selama di Lampung.

Hari pertama tiba acaranya selalu tidur siang. Apalagi puasa, dan Lampung panasnyaaaa... minta ampun. Tapi berhubung gak kemana mana ya alhamdulillah hari itu gak batal puasanya meski gak sahur. Anak anak juga cuma si Teteh aja yang batal. Faiz emang belum dihitung puasa hehehe..

Besoknya udah siap siap aja masak buat lebaran. Lebaran ini lebaran pertama tanpa Eyang. Buat adik adik di Lampung ya lebaran kedua. Karena lebaran kemarin kan kami gak mudik. Kata si adik ipar, lebaran kemarin gak pada makan di rumah Eyang, jadi kali ini masak kupat cukup 40 buah saja untuk kami dua keluarga. Pleus ayam sayur/goreng 3kg saja. Sambel goreng kentang cukup 1kg. Dan cincaylah... adik bagian masak, kan meski kami sama sama menantu tapi kan dia tuan rumah. Jadi kuberikan kehormatan memasak itu sama si empunya dapur. Aku tugasnya cuci perkakas masak dan bantu ambil ini itu yang diperlukan. Sambil ngobrol tentu saja.
Dan untuk rendangnya daripada gambling rasa karena kami sama sama koboy yang sedang belajar masak, si adik mutusin beli aja di RM padang apa aku lupa namanya di depan Pasar Bambu Kuning. RM Padang ini istimewa sekali, dia TUTUP selama Ramadhan dan karyawan konon tetap digaji FULL selama bulan tsb. Tetapi lebaran pertama dia sudah buka. Jadi skiplah acara masak rendang. Lumayan ngurangin cucian hehehe

Di mana anak anak ketika kami memasak? Hehe yang anak kecil ya main sepeda dll di dalam rumah, yang abegeh abegeh pada asyik nonton tipi dan sambil mainin hape dengan merdeka karena Om-nya langganan wifi dari speedy. No drama. Alhamdulillah. Karena sudah hampir sebaya kali yaa... anak si Om umur 6, 4 dan 2 tahun. Mereka main sama Faiz. Kadang si sulung -kakak Haura- main sama Teteh.

Kemana si Abi dan si Om satu satunya adik cowok Abi ? Mereka berdua ini bagai marahan. Satu di atas satu di bawah. Satu di ruang tamu satunya di teras. Kalaupun sama sama di teras, masing masing baca koran. Persis. Satu sama lain sebelas duabelas. Ngobrolnya sesekali aja.

Hari pertama lebaran sholat di masjid depan rumah. Abis itu sambil nunggu kakak/adik yang lain datang utk sama sama ke makam Eyang, kami photo keluarga. Yah ini adalah semacam ritual wajib beberapa tahun terakhir. Kalau nunggu ke Yonas kapan pergina ? Gak bakalan sempet deh.... bukan waktunya ya.... budgetnya maksude... hehehe... Fotonya udah release di postingan lalu ya...

Setelah dari makam kami diundang ke rumah kakak ketiga. Mestinya ke Mama Eci sebagai kakak tertua, tapi mereka sekeluarga lagi mudik ke Pagar Alam. Sementara kakak kedua yang suami istri sama sama eselon tiga harus melanjutkan acara ramah tamah dengan para pejabat di atasnya.
Oh iya berhubung mobilnya kurang, aku malah jadi bermotor ria duaan sama Abi.Faiznya tentu lebih memilih naik mobil karena dia keliatan udah ngiler banget naik mobil sendiri. Pas menyusur jalan jalan Lampung itu kutanya Abi, inget enggak waktu kitabaru nikah keliling naik motor dan saling menggoda ? Si Abi ketawa kecil dan menjawab, "itu kamu....." hahaha iyain ajalah. Dia inget juga alhamdulillah.

Di rumah tante Nien/Awan Wien kami makan ketupat (lagi). Enaknya di sini makanannnya mantep pedesnya. Trus ada cumi, udang, ikan juga.... Maklumlah di daerah Teluk. Abis makan sambil ngobrol tiba tiba dah disuguhi mpek-mpek. Mulanya yang kecil kecil gitu..... eh sekejap udah lenyap aja. Kemudian abis ashar ditambah lagi nggoreng si kapal selam yang besar besar. Ahhhhh...... kenyang sekali hari itu. Udah gitu makannya khusyuk karena anak anak abege pada makan di kamar  krn asyik baca komik, anak perempuan kecil nonton tivi dan anak kecil laki diajak main bola sama Om Santo. Pulang pulang dah menjelang maghrib dan gak perlu makan malam lagi.
Sayang saking asyiknya makan aku lupa popotoan. Biarlah kenangan iti hanya tergambar di benakku. Maaf ya... biarin deh dibilang hoax juga hahahahaha

Selasa, 06 Agustus 2013

(Menjelang) Mudik

Ih enggak kerasa ya.. udah tanggal 6 lagi. Ternyata udah 'berhari-hari' gak nengokin blog baik posting maupun balesin komen. Apalagi bewe.  Klo bewe pake bb  cuma bisa komen di blog berplatform WP atau yang dah [dot]net atau [dot]com. Jadi ya gak bisa komen di blog sendiri pake bb. Lagipula beberapa hari terakhir kemarin sibuk kejar setoran.
Jumat tanggal 2 ngejar pesenan di oriflame yang masya Allah ramenya. Aku datang jam 9 lebih dikit aja dah dapat antrian 73 di kasir. Padahal dah pake orifast. Nunggu hampir 2 jam. Trus dapat lagi antrian ambil barang yang dipesan dapat nomor 106. Nunggu lagi sejam lebih. Dan pertama kali dalam sejarah, aku bersedia nunggu dari jam sembilanan sampai jam satu baru beres. Ih ngapain siih semangat banget? Awalnya sih karena enggak enak sama bos karena beliau minta pesanan orifnya  diantar tgl 2. Eh tapi yang namanya bisnis kan kudu semangat ya?  Nambah semangat karena aku sekalian ambil hadiah WP 3 yaitu sebentuk tas cewek (gratis). Snakeskin -tiruan- handbag, setelah bulan lalu dapat kacamata hitamnya. Dan ada kejutan selama bulan Agustus ini, tiap hari Oriflame bakal kasih satu produk gratis berbeda setiap pembelanjaan 275 rb harga consultan. Aku dapat eyeliner. (Dipake enggak ya..xixixixi..)
Daaaan dapat hikmah jua. hari itu adalah aku jadi merasakan rasanya antri berjam-jam. Senyum senyum sendiri, karena biasanya kerjaanku di loket, melayani para tamu berwajah penuh harap, dan kemaren itu,  akulah si pemilik wajah penuh harap itu. Lumayan juga sih selama nunggu itu bisa tilawah ngejar khataman.

Trus Sabtu dan Minggu aku sibuk ngejar jahitan. Bikin baju buat 3 gadis karena mereka belum punya 'baju lebaran'. Klo aku ya biasa aja kali gak punya baju lebaran. Toh anak anak sudah besar dan dibelikan pakaian saat membutuhkan. Ratu tega? Hehe
Aku sendiri udah 2 tahun ini gak bikin/beli baju kecuali seragaman seksi /pengajian. Tapi rupanya Abi belum menjadi raja tega. Makanya nanyain itu gadis mau dibeliin apa dibikinin. Aku langsung jawab 'dibikinin' dooong...
Soalnya klo pas makan di RJ kan lewat baju2 tuh, Lihat harga baju cewek udah ya ampuuun mahalnya. Kalau Sondang bilang dompetnya bisa jerit jerit gegara tiket, aku bilang dompetku pingsan deh...  mungkin aku termasuk peliiiiiiit banget dalam standar baju. Rumusnya Enggak boleh lebih dari seratus rebu utk sepotong baju. Dan sejak bertahun tahun lalu angka itu nggak pernah di up grade. :p
Kebetulan ada simpenan kain batik. Alhamdulillah, selesai 3 blouse dalam 2 hari.
Anak anak yang cowok dibeliin karena aku gak bisa njahit baju cowok.

Minggu malem mulai packing packing. Sambung senin pagi.  Senin sore mudik ke Lampuuuung.... Tiketnya bikin pura pura tutup mata karena Abi yang beli. Aku kan lagi bokekwati. Gak da urun sama sekali. Alhamdulillah Abi udah gak ada cicilan, jadi punya tabungan.
Begitupun, Damri yang selama ini paling murah udah terasa mihil. Sebelumnya dia kan hanya eksekutif dan bisnis. Duduknya dua-dua dalam sebaris. Bedanya klo bisnis enggak ada toilet.
Eh taun ini adanya cuma bisnis dan royal. Klas royal ini emang uenak tenan. Sebaris cuma dua-satu. Trus ada wifi+colokan charger+dispenser. Promo mereka kita bisa ngopi2 atau bikin pop mie. Tapi semua iyu gak ngaruh buatku. Gak bisa mainin gadget juga kan .... karena aku duduk berdua Faiz.
Dan memang nyamaaan banget. Lebih lebih  jalanan udah lancar. Jadi cepet banget sampai Merak. Cepet naik kapal. Subuh udah sampai di Lampung.

Btw baca cerita mudik Sondang kok jadi sedih ya... sedih karena ini mudik pertama kami setelah wafatnya ibu dan ayah. Lebih sedih lagi kalau ingat ibu dan bapakku sendiri wafat pas kami masih di Kupang.
Semoga Allah karuniakan kepada beliau berempat  tempat yang lapang di alam kubur. Amiin.
Semoga kami anak anak yang masih di dunia ini bisa menjadi anak shaleh dan shalihah yang bisa membahagiakan ortu di dunia dan akhirat. Amiiiin.

Akhirul kalam, Selamat mudik ya teman teman, selamat berkumpul dengan keluarga besar dan kedua orang tua (termasuk mertua). Mari kita bahagiakan mereka selalu, selagi ada kesempatan. Kita luruskan niat, agar silaturrahimnya juga berpahala.
Amiiin..
Buat yang karena suatu dan lain hal tidak bisa berkumpul dengan orang tua di libur panjang ini, doa dan telepon kita tentu akan akan membahagiakan mereka.