Tampilkan postingan dengan label give away. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label give away. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

I'm In : Menularkan Kebahagiaan

Dapat cerita ini dari teman :

 Bahagia itu "Pilihan"
Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari... Memanggil taksi, dan naik...
"assalaamu alaykum Pak..."katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu...
"Pagi yang cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum...

Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dgn senang hati
Ia melajukan taksinya...
Sesampainya ditempat tujuan.. 

Pemuda itu membayar dengan selembar 20ribuan, untuk argo yang hampir 15 ribu...
"Kembaliannya buat bapak saja...selamat bekerja Pak.." kata pemuda dengan senyum...
"Terima kasih..." jawab Pak sopir taksi dgn penuh syukur...

"Wah.. aku bisa sarapan dulu nih..." Pikir sopir taksi itu...
Dan ia pun menuju kesebuah warung.

"Biasa Pak?" tanya si mbok warung.
"Iya biasa.. Nasi sayur...Tapi.. Pagi ini tambahkan sepotong ayam "..jawab Pak sopir dgn tersenyum

Dan, ketika membayar nasi , di tambahkannya seribu rupiah 
"Buat jajan anaknya si mbok... " begitu katanya.
Dgn tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dgn senyum lebih lebar
Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini...  Dan diberikannya pada temannya yg tdk punya bekal.
Begitulah...cerita bisa berlanjut.. Bergulir... .spt bola salju...
Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu...
Begitu juga keluarga si mbok...
Teman2 si anak...

keluarga mereka...
Semua tertular kebahagiaan...

Kebahagiaan, spt juga kesusahan, bisa menular kpd siapa saja disekitar kita...
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan...
Siapkah kita menularkan kebahagiaan hari ini??

Bisa menerima itu adalah berkah...
Tapi bisa memberi adalah anugerah....

Semoga sisa hidup kita selalu bahagia dan membuat org lain bahagia dgn keberadaan kita...
Semangat pagi Sahabat, ayo selalu berbagi, walaupun itu hanya sebuah senyum...

Nah, kayaknya cerita di atas, pas banget ya... sama program eh apalah namanya si I'm In ini....

I’m participating in the Pay-it-Forward initiative. The first 5 people who comment on this status with “I’m in” will receive a surprise from me at some point in this calendar year – anything from a sweet dessert, a lovely CD, a ticket, a book or just absolutely any surprise I see fit! There will be no warning and it will happen when I find something that I believe would suit you and make you happy! These 5 people must make the same offer in their status (FB or Path or Twitter, etc.) and distribute their own joy. Simply copy this text onto your profile, (don’t share) so we can form a web of connection and kindness.
Let’s do more nice and loving things for each other in 2014, without any reason other than to make each other smile and show that we think of each other. Here’s to a more enjoyable, more friendly and love-filled year!


Nah karena aku sudah dapat hadiah dari Mbak Tituk, maka aku berkomitmen akan membagi hadiah juga insya Allah.
Hadiahnya spesial, tas rajut yang kubuat sendiri. Dirajut dengan penuh cinta dan kehangatan seorang sahabat.
Karena ini perlu waktu untuk membuatnya, maka insya Allah tiap bulan cuma bisa kirim satu. Akan dibuat berurutan sesuai urutan komen ya....
Ya kalau sampai belum terkirim semua aku udah keburu nggak ada maaf maaf aja... tolong diiklaskan. Karena anakku belum ada yang tahan bikin sampai segini gedenya. hehe...
Ukurannya kurang lebih masuk tab 7 inch / ipad mini.
Yang komen duluan boleh pilih duluan warna yang tersedia.
Silakaaan....


penampakan tas
detil rumbai rumbai di sisi
warna yang bisa dipilih. ungu terong, gradasi coklat, gradasi hitam, gradasi biru, dan gradasi kuning-tosca

Selasa, 04 Maret 2014

Wonderful Wife Wannabe

Setelah teman-teman membaca  resensiku atas buku Wonderful Husband, maka supaya seimbang,akupun ikut GA Mak Ida  Laila tentang wonderful wife.
Terus terang, agak kesulitan menulis tema ini, karena Mak Ida Laila hanya meminta 3 poin saja karena beliau suka dengan angka tiga..
Pengennya sih aku bisa posting ini di tanggal tiga bulan tiga supaya lebih fenomenal lagi angka tiga-nya. Tapi apa daya menunggu pinjaman leppi ke Abi enggak cocok aja waktunya. Jadi sampai detik terakhir ini ya aku postingnya pakai hape juga akhirnya. Gapapa lah ya... ya maap maap aja kalau settingnya kurang bagus. Hehehe...

Bicara tentang wonderful wife,  tentunya bicara tentang ranah idealisme. Bila seseorang bicara tentang idealisme, belum tentu orang tersebut sudah ideal ya .... ya seperti aku ini. Jangan dianggap aku sudah menjadi istri yang ideal. Jauuh... masih jauuuh sekali.
Hanya saja, bagiku idealisme ini semacam  mercusuar, dialah pemandu arah kemana kita hendak menuju. Maka lampu mercusuar ini harus selalu menyala agar tidak ada yang tersesat jalan.
Jadi, menurutku, sebagai istri kita harus mempunyai suatu idealisme tertentuagar kita selalu ingat bahwa ada sebuah cita - cita yang tengah kita usahakan, dan ada sebuah tujuan yang tengah kita perjuangkan.

Adapun karakteristik wonderful wife, menurutku terwakili oleh tiga poin berikut :

Yang pertama : seorang wonderful wife hendaknya selalu berusaha menjadi pribadi yang taat kepada Allah.
Kriteria pertama ini mencakup 3 hal :
* menyadari bahwa penikahannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan  tuntunan sunah Nabi-Nya.
Sehingga, semuanya pun dalam kerangka ibadah pada Allah yang muaranya adalah keridhaan Allah.
Dengan semangat ibadah ini, maka setiap tantangan yang dihadapi di dalam pernikahannya akan dia kembalikan kepada Allah.
Semua kesulitan bukan jadi halangan, melainkan menjadi pintu untuk menuju ridha Allah semata. Intinya, sebuah pernikahan hendaknya membuat istri makin dekat kepada Allah. Bukan sebaliknya.
* seorang wonderful wife menyadari sepenuhnya, bahwa ikatan pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kokoh /mitsaqan ghalizha yang disaksikan oleh Allah.  Maka sang istri akan selalu menjaga kesetiaan janjinya, di saat ramai ataupun sepi, di hadapan suami maupun di belakangnya,  bahwa dia akan selalu setia terhadap  pernikahannya.
* mencintai dan membenci dengan cara- cara yang  Allah ajarkan.
Dalam kehidupan berumah tangga tentu tentu banyak ditemukan perbedaan antara suami dengan istri.  Suami juga manusia, manusia biasa pula. Jadi pasti ada saja kekurangannya. Mungkin ada sesuatu hal dari suami yang  tidak disukai istri, tapi sesungguhnya, bila kita buat daftar antara yang disukai dan tidak, maka kita akan menemukan hal lain yang disukai jauh lebih banyak dari yang tidak disukai.  Maka janganlah kita membenci satu hal, karena bisa jadi hal itu lebih baik buat kita. Jangan pula kita terlalu mencintai sesuatu karena bisa jadi hal tsb buruk buat kita.

Kriteria kedua : seorang wonderful wife selalu berusaha untuk  taat pada suaminya.
Kriteria inipun mencakup 3 hal :
*mengikuti perintah suami sepanjang tidak bertentangan dengan aturan Allah.
*selalu menambahkan cinta di dalam setiap pelayanan terhadap suami dan keluarganya.
Salah satu kekuatan cinta adalah memberi. Pelayanan penuh cinta, untuk orang yang dicintai, tentu kualitas pelayanannya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang melayani hanya sebatas menjalankan kewajiban.
*menjaga harta dan kehormatan suami. Mempergunakan harta suami dengan sebaik-baiknya untuk dibelanjakan di jalan Allah sesuai ijinnya.  Selalu menjaga kehormatan suami dan menjaga rahasianya. Jangan sampai kehormatan suami jatuh gara-gara kita, sikap kita yang kurang baik atau kurang amanah.

Ketiga : Seorang wonderful wife adalah partner terbaik suami dalam mendidik generasi.
* mendidik anak-anak dengan penuh semangat dan penuh cinta
* senantiasa menjadi teladan dalam rumahnya
* bersabar dalam mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya.

Nah, itulah kriteria wonderful wife menurutku.
Sedangkan masukan untuk blog Mak Ida, menurutku sudah bagus. Apalagi pasca operasi. Sudah lengkap pula isinya.
Satu saja masukannya, Mak Ida kan sudah makin banyak 'penggemar' nih, mungkin perlu menambahkan alokasi waktu untuk blog walking.
Iih... aku seneng lhooo klo Mak Ida berkenan mampir ke blog ini.
Makasih ya Maaak... sudah menginpirasi dan berbagi dengan kami.
Sukses untukmu, Mak Ida.

ARTIKEL INI DISERTAKAN DALAM GA “WONDERFUL WIFE By Ida Nur Laila

Rabu, 12 Februari 2014

Suami Wow, Suami Wonderful

Resensi buku
Judul                  : Wonderful Husband
Penulis               : Cahyadi Takariawan
ISBN                 : 978-602-1680-03-2
Penerbit             : PT Era Adicitra Intermedia
Jumlah halaman  : xxi + 314 halaman Ukuran 14,5 cm
Harga buku        : Rp. 55.000,00
Sampul              : Hard cover

Jika  hanya membaca judul pada sampul buku ini, pastilah akan mengira bahwa buku ini khusus untuk para suami. Pun lomba resensi ini, akan lebih tepat bila ditujukan hanya kepada blogger laki - laki. Akan tetapi tidak bagi saya , ketika membaca halaman demi halamannya, maka saya seolah - olah sedang berada di depan sebuah cermin yang sangat lebar dan bersih. Di sana terlihat bayangan saya sendiri dengan jelas. Kemudian, menangislah saya di depan cermin tersebut. Ya, saya menangis membaca buku Wonderful Husband. Air mata saya bukan disebabkan karena suami belum seperti yang tergambar dalam buku ini, sama sekali bukan. Seperti yang diungkapkan Pak Cah di Catatan Pendahuluan, bahwa membahas tentang karakter suami ideal itu laksana jauh panggang dari api. Ada jarak antara cita-cita dan kondisi nyata.
Tapi kesedihan saya lebih disebabkan oleh perasaan betapa tidak pantasnya saya mengharap suami yang wonderful, bila saya sebagai istri juga gini - gini aja. Artinya, kalau saya mengharap suami menuju karakter ideal, sayapun harus berusaha berjalan ke arah karakter istri yang ideal.  Bagaimana cara saya ?Tinggal mengganti aja setiap kata 'suami' dalam buku ini, menjadi kata 'istri'. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa buku ini seperti hamparan cermin tadi.

Seperti apa sih, gambaran karakter suami ideal itu ? Pak Cah merangkumnya dalam 9 karakter, yaitu :
1. Memiliki kemampuan memimpin keluarga dengan cinta dan kasih sayang;
2. Mampu menundukkan egonya, sehingga dapat mudah mengalah, mengakui kesalahan dan mudah memaafkan;
3. Mampu membahagiakan istri, dan merasa senang jika dapat melakukan hal tersebut;
4. Selalu mengingat kebaikan istri, fokus pada hal positif yang dimiliki istri;
5. Mampu memahami kondisi istrinya,  bukan hanya saat ini, tetapi terus menerus mengenali kondisi istri yang berubah seiring waktu;
6. Mampu menjadi teladan dalam kebaikan bagi istri dan anak-anaknya;
7. Memelihara kesetiaan;
8. Selalu tampil 'young and fresh' dihadapan istri (dan anak-anak)
9. Selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, perasaan, pelayanan, perlakuan dan kata kata terbaik, rejeki yang baik,  karena nafas cinta adalah (saling) memberi.

Nah, wow banget kan ?
Wow lain adalah, cara penyampaian Pak Cah saat menulis buku ini. Meski bahasannya serius dan berat, tapi saya membacanya enak, terus, enggak mau berhenti. Persis kalau saya baca novel. Bahkan dibolak balik lagi, dibaca ulang di beberapa halaman. Gaya Pak Cah seperti sedang mengobrol dengan para mustami' / audiens. Tidak heran, mengingat jam terbang beliau baik sebagai trainer maupun sebagai ustadz.
Beliau banyak menyertakan contoh-contoh dialog dan masalah yang sering terjadi di antara pasangan. Salah satunya tentang fenomena menit terakhir (hal. 137). Benar sekali, justru di menit-menit terakhir itu sering menimbulkan konflik. Suami sudah siap bepergian, istri masih sibuk mempersiapkan diri. (malu ih, ini mah gue banget).
Ilustrasinya juga saya suka, foto-foto yang diperagakan model untuk menggambarkan setiap karakter, dan gambar kartun di baliknya. Pas sekali menggambarkan. Dan yang paling saya suka adalah gambaran tentang memahami kondisi istri (karakter kelima), gambarnya seorang suami sedang melayani istri sarapan (hal 154), sementara kondisi istri sedang hamil besar, mereka berdua tampak berwajah ceria dan mengobrol bahagia. so sweet kaan..

Nah supaya seimbang dengan semua pujian di atas, saya juga akan menyampaikan -maaf ya Pak Cah- yang bukan pujian. Saya sedikit terganggu dengan tercetaknya kata  blackberry massanger (hal. 22) meski di kemudian ada kata yang sama sudah tercetak dengan benar blackberry messenger (hal 164), afair -satu f apa dua f ya. (hal.144), LDR (long distance relationship) hal 238 kenapa enggak dicetak miring juga. Selain itu rasa-rasanya enggak rela dengan ilustrasi seorang pria berpeci (hal 216) dihadapkan pada pilihan - pilihan selir, pacar, simpanan, bordil disetarakan dengan kata istri. Ini seperti saya melihat serorang tersangka yang entah kenapa kalau di persidangan selalu memakai peci.

Selain itu, saya merasa buku ini 'nanggung' . Saat membaca halaman-halaman awal, saya berpikir ini adalah buku umum. Padahal setahu saya penerbit buku ini adalah penerbit buku-buku Islami.
Apalagi data-data dan contoh yang disampaikan (semacam ayat kauniyah kalau boleh saya katakan demikian) bersifat umum. Sempat terpikir, wah bagus ini, Pak Cah menulis buku populer, bisa bisa saya hadiahkan buat teman teman non muslim. Makin ke belakang, terselip satu dua kisah para sahabat, khalifah Umar bin Abdul Aziz dan kutipan ayat Al Qur'an dan Hadits. Yaah.. enggak jadi dihadiahkan deh.

Satu lagi adalah bentuk buku. Ukurannya mungkin sama dengan buku pada umumnya. Karena lay out buku ini yang berbeda dengan pada umumnya, menyulitkan saya untuk menyimpannya. Belum ada buku bentuk sejenis di rak saya. Kalau di rak buku anak-anak sih ada... Yang ini  mah masalah saya pribadi kali ya..


Artikel ini diikutkan dalam GIVE AWAY RESENSI BUKU WONDERFUL HUSBAND 


Senin, 10 Februari 2014

Gula Aren, Lebih Nikmat dan Lebih Sehat

Orang Jawa selalu diindentikkan dengan makanan manis. Yup ! Benar sekali. Minimal pada kebiasaan keluargaku dulu, makanan atau camilan yang paling sering dibuat oleh Ibu, adalah camilan yang manis seperti lemet, klepon, onde-onde singkong parut yang isinya gula, mendut, dsb. Biasanya, ibuku memakai gula aren untuk pemanisnya. Kata Ibu, masakan dengan gula aren rasanya lebih nikmat. Karena aku yang ke warung dan tahu harga gula aren itu lebih mahal dari gula merah/gula jawa, aku percaya saja. Kan, ada paribasan bahasa Jawa tuh, ono rego ono rupo. Artinya kurang lebih, kualitas sesuai harga.
Tapi seiring dengan kedewasaanku, aku semakin dapat membedakan, memang masakan dengan gula aren itu lebih nikmat dibandingkan dengan gula merah biasa yang berasal dari nira kelapa.

Ketika aku tinggal di Kupang, untuk pertama kalinya aku mengenal gula semut. Saat itu  aku mendapatkannya gratis dari teman. Teman-teman di Kupang biasa  menggunakan gula semut untuk mengoles roti sebagai pengganti selai atau meises. Ada juga yang menggunakan sebagai pemanis minuman kopi atau teh. Memang di Kupang banyak terdapat pohon aren. Di sebrang komplekku, di pinggir pantai, hutan aren yang tidak begitu lebat, panjang terbentang hingga ratusan meter.
Sampai saat itu aku masih menganggap bahwa gula semut adalah sesuatu yang eksklusif, sebagaimana ibuku memperlakukan gula aren. Jadi akupun hanya mempergunakan sesekali, bahkan diirit-irit, belum terpikir untuk menjadikannya sebagai pemanis pengganti gula pasir di rumahku.

gula semut sebagai olesan roti tawar
Setelah aku mulai ngeblog dan  pernah memenangkan give away yang disponsori mbak Evi, akhirnya aku mengenal gula semut dalam kemasan yang higienis dan modern. Enggak tanggung-tanggung, hadiah yang kudapatkan adalah satu box Arenga organic palm sugar. Alhamdulillah banget. Apalagi aku lagi sudah mulai suka memasak dan mencoba resep-resep. Masakan favoritku dengan gula semut ini adalah carrot cake dan bubur sumsum. Mudah membuatnya, sekalinya bikin langsung banyak,  dan dijamin anti gagal.

Ini nih, sekotak inilah gula aren yang kudapatkan. Gambar dipinjam dari sini

Dari blog mbak Evi pula aku tahu bahwa ternyata gula aren bukan hanya membuat masakan dan kue menjadi lebih nikmat, tetapi juga ada banyak manfaat lain dan lebih sehat. Gula aren itu bisa menjadi semacam energy bar untuk para pendaki gunung, sebagai pelengkap resep obat tradisional, diolah dengan tungku dan tanpa tambahan zat pengawet, dan berasal dari nira pohon aren yang tumbuh alami tanpa pupuk kimia dan pestisida. Gula aren juga mengandung senyawa yang berfungsi menghambat penyerapan kolesterol di saluran pencernaan. Ini mah aku banget ya.. soalnya, walaupun kurus, ternyata kolesterolku tinggi.
Sudah saatnya ini, aku sediakan gula aren sebagai pemanis sehat di rumahku, di tempat yang mudah dijangkau anak-anak. Agar gula aren buat mereka bukan lagi menjadi barang eksklusif, tapi sebagai satu pilihan karena mereka peduli pada kesehatan.

 
 

Minggu, 01 September 2013

Cerita di Balik 'Rahasia Kapten Bhirawa'

Iseng iseng nggaya sok penting sesekali boleh lah yaa.... Efek lagi sakit pusing flu dan batuk cuma baring baring di rumah karena kata dokter aku harus istirahat. Ini si bocah Faiz, ngapain juga pakai solider ikut ikutan sakit jadi enggak sekolah...... So, ada dua orang sakit berduaan di rumah nih.

Gini, mungkin teman teman ada yang tahu, akhir Agustus lalu aku dapat hadiah dari Pak Dhe Cholik karena menjadi salah satu pemenang give away beliau yaitu GA 63 untuk cerpenku yang berjudul Rahasia Kapten Bhirawa . Bukan cerpen sih, lebih tepat cerita super pendek, bikin #FF atau flash fiction dengan HANYA 63 kata saja . Susah? Susah susah gampang.
Syukur kepada Allah atas ide yang muncul tiba tiba dan begitu saja.
Ceritanya waktu itu aku lagi mengulang kembali hafalanku surat Al Mulk.
Pas sampai di ayat 23 yang artinya : "katakanlah : Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur" tiba tiba muncullah ide dasar flash fiction itu.
Dari ayat Al Qur'an di atas, beberapa poin tafsir yang kuingat adalah bahwa organ yang pertama berfungsi adalah pendengaran, kemudian baru penglihatan. Bahkan sejak dalam kandungan. Subhanallah, makanya klo hamil kita disuruh jaga kata kata, kasih bacaan yang baik baik buat si jabang bayi, bahkan mengajaknya bicara. Dan bayipun akan mengenali suara suara orang yang sering menyapanya ketika lahir nanti.
Demikian pula penglihatan, untuk menguji apakah bayi dalam perut bisa melihat atau tidak, silakan ibu berada di kamar yang gelap, lalu nyalakan senter ke arah perut. Niscaya bayi akan bereaksi.
Sebaliknya kalau seseorang menua nanti, maka yang paling pertama berkurang adalah fungsi pendengaran, disusul fungsi penglihatan. Makanya kalau ngomong sama orang tua kadang musti agak lebih keras volumenya. *pengalamanpribadi,banyaktamutamusepuh di loket*
Dari situlah ide dasar cerita tersebut. Yaitu tentang kemampuan membaca gerak bibir. Pernah heboh kan dulu yaa... saat ada pemain bola tingkat dunia yang memaki lawannya di tengah lapangan, para ahli membaca gerak bibir ditanyai ngomong apa *misuh2 opo gitu* si pemain itu. Sampai akhirnya ramai di koran. Lupa aku, kena skors atau enggak si pemain tsb.

Nah kembali ke cerita, mengapa tokohnya pak kapten ? Ya karena yang empunya hajat kan pensiunan angkatan, dan aku kok membayangkan dengan sotoy-nya, jangan jangan beliau diajari ilmu rahasia semacam membaca gerak bibir ini kali ya... *kebanyakanbacaceritadetektif*
Dan alasan paling pentingnya, kali aja dapat lebih berkenan di hati beliau dan dapat mencuri perhatian beliau sebagai dewan juri.  Xixixixi...

Ceritanya pak Kapten ini sudah bebas tugas. Kebayang kaaan... usianya di atas 60 tahun pastinya. Dan kebiasaan beliau sejak muda adalah selalu memandang mesra sang istri bila sedang bicara.  Istrinya cantik siiih... namanya  Kamaratih. Ternyata kebiasaan sangat baik *dan bikin ngiri* ini sangat bermanfaat saat pendengaran pak Kapten sudah mulai berkurang. Beliau bukan lagi mengandalkan telinga untuk mendengar, tetapi kini mengandalkan mata. Dengan ilmu membaca gerak bibir tadi. Namanya ilmu apa, tanya aja Om Wiki yaaa...
Dan di hari istrinya pensiun, yang setelah itu mereka akan menikmati hari pensiun berdua, *so sweet enggak siiih* Kapten Bhirawa tiba - tiba kepikiran, gimana nanti dia akan mendengarkan istrinya, bila pandangannya sudah mulai rabun ??? Itu ditandai dengan bayangan remang istrinya di pagar. Artinya jarak pandang pak Kapten sudah berkurang. Masa' di pagar rumah aja udah remang remang... Pak Kapten sudah mulai rabun. Aah.... aku jadi ikut sedih membayangkannya. Sukurlah cuma fiksi ya... Jadi sedihnya bentar aja, pas lagi ngarangnya.
Daaaaan, alhamdulillah,  cerita yang agak sedih ini mendatangkan kebahagiaan buatku. Yaitu mendapatkan hadiah sbb

Selasa, 30 Juli 2013

Kiriman di saat Liburan

Hihi...
Postingan ringan sekedar laporan sama mbak-mbak yang sudah bermurah hati berbagi rejeki.

Jadi ceritanya di bulan Juli ini aku memenangi 2 giveaway. Bukan pemenang utama, namanya juga masih belajar. Ngeblog juga masih angin anginan, dan bewe juga pemalasan. Yah intinya kurang latihan hehe..
'Ala kulli hal, alhamdulillah lah.. hadiah hadiah itu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Kalau bukan kehendak Allah, gak mungkin kan, rejeki itu bakal jatuh  ke aku.

Yang pertama adalah menang kontes Menyemai Cinta-nya Mbak Niken alias Bunda Lahfy. Seneng banget dapat hadiah kedua. Waktu nilainya diumumin, subhanallah.. selisih nilainya dikit dikit banget.
Hadiahnya mukena bali yang bagus dan adem, buku Yusuf Mansyur yang juga bikin adem batin, serta buku KKPK. Sama pin khas mbak Niken. Lovely little garden. Mbak Niken ini pengertian banget, ternyata buku Ust. YM itu buku pengganti. Harusnya hadiahnya buku tulisan beliau Rembulan Cinta Seorang Bunda. Cuman karena aku udah pernah beli, jadi bukunya diganti. Padahal gapapa juga yaa.. kan bukunya bisa dibagi lagi ke adik/teman/saudara. Tapi diganti ya alhamdulillah, aku jadi punya buku baru. Makasih ya Bun...

Nah kemudian kiriman ke dua dari Mbak Lies dan Mbak Ika, karena aku menjadi salah satu pemenang di GA tentang persahabatan blogger. Alhamdulillah. Hadiahnya adalah satu buah pashmina Thailand warna pink cerah gitu... kayaknya cocok dipakai sama gamis putih pas lebaran nanti :D
Makasih ya mbaak... baru tahu klo mbak berdua ini ternyata tinggal di Jateng. Hehehe

Sekali lagi jazakumullah khairan katsiron, semoga Allah memberikan balasan dengen rejeki yang lebih baik dan berlipat ganda. Amiiin.

Pict-nya digabungin ya....

Rabu, 26 Juni 2013

Aku dan Ika, Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Pertama kali aku mendengar nama Ika Rahma aka Iko adalah dari Mak Sondang. Promosinya si Mak Iko ini masih muda belia, masih 17+. *penting. Akupun penasaran. Baca postingan-postingan dapur hangus yang mudah dipraktekkan, dan gaya bahasa yang kocak khas anak muda, membuatku penasaran seperti apa kiranya si Iko itu kok Sondang pun begitu gencarnya mempromosikan.

Akhirnya kami saling inbox di fb. Waktu itu Ika cerita mau ke bengkel depan kantor. Maka jadilah aku kopdar berdua Ika, eh bertiga ding, sama Vio. bahkan tanpa Sondang yang memperkenalkan.

Waktu itu kami makan berdua di sebrang kantorku, dengan kata lain di samping bengkel tempat Ika menservice motornya.
Dasar udah jodoh kali ya, di pertemuan pertama itu langsung nyambung aja. Cerita ngalor ngidul, gak kerasa dua jam berlalu. Bahkan si Vio yang selalu menjadi attachment Ika pun, langsung mau sama aku.

pertemuan pertama
Dan pertemuan pertama berlanjut dengan pertemuan pertemuan berikutnya. Bahkan ketika Ika Rahma menjadi salah satu finalis lomba blog majalah Sekar, dengan suka rela aku menjadi tim suksesnya. *jiah* terus dapat traktiran waktu dia ternyata menang.
Sayang aku belum bersedia menerima tawaran dia menjadi salah satu admin di grup dapur hangus. Hihi .. aku enggak punya jadwal online yang pasti. Maklum, emak emak rempong.
Kemudian sempat jalan berdua nganterin ramekin ke rumah Ayu Diah Respatih, salah satu food blogger yang tinggal di Ujungberung, aku jadi penunjuk jalan :D.

Aku jarang berkunjung ke blog Ika, dan demikian pula (kayaknya) sebaliknya *gak tau ya.. klo Ika diam diam jadi silent reader,   kami langsung berkomunikasi lewat japri. Lewat sms dan bbm-an. Kadang curhat curhatan. Kadang ya cuma ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan dagangan, curhat curhatan, atau sekedar saling menggoda dan mengolok, ngomongin jadwal mudik, ngomongin kapan ketemuan lagi untuk ngasih oleh oleh, hehe asyik deh pokoknya. Usia yang terpaut hampir dua kali lipat tidak mempengaruhi cinta kami berdua. *lebay
Pas Ika ulang tahun ke 17+  *angka penting kemaren dia request kue tripple mousse .

kue ultah Ika *bikinnya nggak ngebayangin kerepotan gimana Ika bawa pulangnya

Dan terakhir kemaren ketemuan hari Kamis, pas aku lepas piket. Mau makan siang sore bareng karena kami sama sama belum makan siang.

bbm selisiban, aku udah jalan duluan, si Ika malah nyamperin aku ke kantor :P
Dan belum lama ini dengan terang terangan dia mempublish dooong status hubungan persahabatan kami :


publish status di face book

Naah.. kiranya tidak perlu aku tambahin lagi, sudah cukup kaan.. bukti bukti, berawal dari dunia maya, aku dan Ika bisa menjalin persahabatan di dunia nyata.

Cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway Ikakoentjoro’s Blog dan Lieshadie’s Blog -Indahnya Persahabatan Blogger-”

Senin, 24 Juni 2013

Menyemai Cinta : Pernikahan Tanpa Pacaran


foto nikah, masa'  suami istri foto berdua, yang  satu tangannya di depan, satu lagi tangannya di belakang punggung X_X

Aku menikah dengan Abi tanpa pacaran. Begitulah kenyataanya. Kami diperkenalkan oleh guru mengaji. Aku saat di Jakarta dulu aktif di sebuah yayasan . Suami ustadzah ketua yayasan adalah seorang ustadz terbang yang wilayah dakwahnya sampai ke Kupang-NTT kota penempatan pertama Abi setelah jadi PNS. Abi yang kemudian diklat ke  Jakarta, datang menemui ustadz mohon bantuan dicarikan jodoh. Targetnya selama 3 bulan diklat di Jakarta semua proses dapat dilalui mulai dari taaruf / kenalan sampai menikah.

Menurut cerita  Abi,  ketika itu dia dikasih 2 amplop tertutup yang berisi biodata akhwat. Pas minta dipilihkan, kata ustadz insya Allah dua duanya cocok dengan abi. Akhirnya Abi memilih yang ada di tangan kanan ustadz. Isinya ? Biodataku. :D
Si Abi pun shalat istikharah mau lanjut atau tidak setelah melihat data diriku. Ketika Abi memutuskan mau lanjut ta'aruf baru aku dikasih tahu sama ustadzah bahwa ada ikhwan yang siap ta'aruf. Awalnya aku sampaikan bahwa aku belum siap. Karena aku masih belum bisa masak dan masih males mandi *sampai sekarang.
Tapi ustazah menasehatiku bahwa kesiapan itu sangat relatif. Soal belum bisa masak itu bisa berlatih. Dan soal males mandi insya allah enggak bakalan males mandi lagi setelah nanti punya suami. Dan yang paling jleb adalah ketika ustazah membacakan hadis
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.”
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Maka akupun takluk dan menuruti kata ustadzah. Aku menerima biodata Abi.

Awalnya agak minder. Melihat Abi yang 8 bersaudara kuliah semua pastilah dari keluarga berada. Sedangkan aku dari keluarga yang sangat sederhana, dari 7 bersaudara yang sampai bangku kuliah cuma baru dua orang. Kemudian perbedaan latar belakang budaya, Abi Sumatera dan aku dari Jawa, khawatir nanti menjadi kendala. Tapi sekali lagi ustazah menguatkan bahwa Islam akan menyatukan kami berdua insya allah. Akupun takluk sekali lagi untuk lanjut ke taaruf atau berkenalan langsung.

Taaruf saat itu tanggal 28 Oktober . Inget karena aku  pulang upacara Sumpah Pemuda. Saat ta'aruf itulah aku sekali lagi takluk melihat kemantapan dan komitmen abi utk melanjutkan proses. Maka dengan persiapan kilat lamaran pun dilakukan tanggal 10 November. Abi ke Cilacap diantar papa Echi.
Hari itu juga ditentukan tanggal pernikahan insya Allah 18 Desember 1996.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tanggal 31 Des Abi berangkat ke Kupang. Aku ditinggal di Jakarta sambil mengurus proses pindah kantor. Dan setelah 3 bulan LDR-an,  Maret 1997 aku bisa menyusul abi ke sana.

Lalu mana cerita menyemai cintanya ?
Sabaaar yaaa ...kuceritakan itu semua supaya terbayang situasi dan kondisinya. Bahwa cinta itu ternyata bisa ditanam dan disemaikan  *macam biji ajah
Jadi apa doooong resep atau rahasia menyemai cinta itu ?

1. Ta'aruf lebih dalam melalui komunikasi yang intens. Tak kenal maka tak sayang ta'aruf. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun pertama di Kupang, aku masih bercucuran air mata. Bisa dibilang ini adalah masa perkenalan yang sebenarnya. Karena 12 hari pertama setelah menikah dan sebelum Abi kembali ke Kupang itu cuma hari bersenang senang. Yang kami lakukan dalam proses perkenalan ini adalah saling membuka diri.. mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Mengungkapkan keinginan dan mimpi- mimpi tentang sebuah kekuarga juga tentu saja bercerita tentang masa kecil . Saling mempelajari masa lalu akan memudahkan kita memahami kebiasaan pasangan di saat ini. Memang selama 3 bulanLDR an banyak diungkap lewat surat dan telepon. Tapi komunikasinya belum seintens setelah bertemu dan berkumpul langsung.

2. Saling memberi hadiah.
Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. Itu adalah pesan Rasul saw. Dari hadiah kecil sampai hadiah besar. Dari hadiah bernilai sampai hadiah yang tak ternilai harganya semacam perhatian. atau ciuman selamat pagi /malam di kening pasangan.

3. Melakukan aneka aktivitas bersama. Waiting traisen because kulinten ..Pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena berawal dari kebiaaan) itu ternyata benar adanya. Aku yang masih cuti sebulan banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Belanja ke pasar berdua. Makan berdua. Tidur berdua. yaeyalah... Kalau aku mencuci Abi membantu menjemurnya. Kebetulan di komplek kami air PAM mengalir 3 hari sekali, itupun keciiiil sekali sehingga enggak naik ke bak mandi. Maka kamipun kerja sama nampungin air. Kadang di pagi yang cerah atau di senja yang indah (cieeee puitis kali) kami ke pantai yang cuma tinggal nyebrang jalan depan komplek. Duduk duduk sambil ngobrol, jalan jalan di pasir sambil sambil pegangan tangan layaknya orang pacaran . Yaeyalah emang lagi pacaran. Pacaran ba'da nikah kata Ustadz Salim A Fillah, atau ATM  kata Ippho . Amati-taaruf-menikah. Kalau lagi males keluar rumah karena cuaca di Kupang memang sangat panas, kami duduk-duduk saja di rumah sambil baca buku dan saling merayu. Kamipun sering shalat berjamaah dan saling mrnyimak bacaan Al Qur'an
Dari aktivitas bersama inilah tumbuh kebiasaan tumbuh kesepahaman, akhirnya saling membantu dan saling menopang.

4. Saling mendoakan. Doa adalah kekuatan yang tak terkira. Doa pun dapat merubah takdir. Maka kamipun saling mendoakan. Mendoakan segala kebaikan untuk orang yang kita cintai. Karena kami menikah dalam rangka mencintai Allah dan untuk menyempurnakan ibadah pada-Nya, kamipun  selalu membaca doanya orang orang yang bersatu di jalan Allah. Sambil berdoa sambil membayangkan wajah orang yang didoakan. Antara lain adalah dengan membaca doa rabithah. Rabithah artinya ikatan. Agar selamanya, ikatan cinta pada ALlah dan ikatan Islam-lah yang menyatukan kami berdua.
Doa dicopy dari sini

artinya :
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan keutamaan iman padaMu dan keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada sahabat-sahabatnya... Allahumma Amiin."

5. Komitmen. Kemauan yang bukan sekedarnya, tapi kemauan yang kuat untuk menumbuhkan cinta. Tidak ada kata tidak bisa. Karena bagi Allah semua mudah adanya. Dia maha membolak balik hati. Benci jadi cinta, cinta jadi benci. Mungkin setelah sekian tahun bersama nanti ada rasa jenuh, kecewa, atau perasaan negatif lainnya. Maka komitmen inilah yang akan membingkai langkah pertama dst di atas yang itu teruuus berlangsung sepanjang hayat. Taaruf jalan terus. Kita berubah.pasangan berubah. kondisi berubah. Ada anak ada perbedaan sikap. Nambah harta atau kurang harta, semua bisa merubah seseorang. Maka kita harus teruus belajar mengenali pasangan.Saling memberi hadiah atau memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya (tahniah), menjaga waktu-waktu istimewa berdua, dan saling mendoakan harus terus dilakukan sampai akhir hayat nanti.

Nah, teman teman, itulah yang kulakukan untuk menyemai cinta dalam pengalamanku selama hampir 17 tahun meniti bahtera rumah tangga, menikah dengan orang yang baru dikenal dan alhamdulillah sampai hari ini Allah masih menjaga ikatan kami berdua dan mengaruniai kami dengan 5 anak yang semoga menjadi anak sholeh dan shalihah. Dan berharap, semoga kebersamaan kami ini, kekal dunia dan akhirat. Amiiin.



Minggu, 21 April 2013

Selera Madiun di Kota Kembang

Setelah mengikuti tantangan #8minggungeblog minggu pertama, maka tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua. Temanya tentang local flavour.

Waktu anak-anak dan remaja, aku tinggal di Cilacap. Salah satu makanan kesukaanku adalah pecel. Apakah pecel itu ? Yaitu campuran sayur mayur yang sudah direbus biasanya bayam, kangkung, kacang panjang, taoge, kemudian disiram bumbu kacang / saos kacang pedas. Enaknya dimakan sama kerupuk dan mendoan.

Nah untuk mengobati rasa kangen kampung halaman, alhamdulillah di Bandung ada warung pecel. Namanya Warung Pecel Madiun. Letaknya di Jalan Haria Banga No 3 Bandung. Meski selera Jawa Timur, rasanya masih oke di lidahku. Dan juga di kantongku tentu saja.
Posisinya strategis banget, dekat kantor (penting ini ya...) dekat Unisba, dekat BEC, dekat Gramedia, ya.. jalan kaki lah ... enggak sampai sekilo, paling paling 5 ons eh, 500 meter... *bawang kali ya.. pake di-ons segala.


Mengenai tempat makan ini, sebenernya aku punya semacam 'janji' gitu, janji itu kubuat karena aku lebih sering bekal makan siang dari rumah daripada jajan di kantor.  Bunyi janji : "tidak akan makan di tempat yang sama, kalau pun makan di tempat yang sama, maka harus memesan menu yang berbeda dengan sebelumnya".
Nah tapi anehnya, setiap aku ke Pecel Madiun, seperti sudah reflek aja aku pesan nasi pecel dan mendoan :)  Tuh, kan setiap, berarti sering ke sini. Iya laah.. wong dekat sekali dari kantor. Kadang juga ke sini karena diajak ketemuan sama Sondang atau sama Ikarahma. Atau ya..  ..sekedar mampir aja setelah belanja belanji di toko bahan kue pas di sebrang warung pecel ini.

foto pecel menyusul yaa...

Yah meski namanya Pecel Madiun, di sini sedia juga makanan lain seperti nasi rawon, ayam goreng, dll.

Nah pas aku inget kemaren, aku nyobain pesan nasi rawon. Si mas yang menghidangkan sepertinya agak buru - buru (atau mangkoknya yang kepenuhan ya ?) maka pas nyampe penampakan si rawon ini menjadi seperti ini
Nasi rawon, kerupuk dan telor asin. Telor asinnya lupa nggak dipesan
Kenapa kuah rawon ini begitu pekat ? Rahasianya adalah pada bumbu bernama 'kluwek' yang dicampurkan di sana. Tanpa kluwek, maka rawon tidak akan menjadi rawon. (Halaaah... apaan sik ?) Rasanya mak nyusss.. dagingnya empuk, bikin ketagihan. Kalau aku sih, itu taoge kurang banyak, karena aku penyuka sayur.

Minumnya apa ? Teh pahit jelas gratissss ya... sudah tersedia di dekat pintu masuk, bisa langsung ambil sendiri pas datang. Kalau mau pesan minuman yang khas dari sini adalah es cincau hitam. Yang bikin beda dari yang lain es cincau di sini pakai santan dan gula merah. (Soalnya kalau es cincau ibu mertua aku, pakainya susu dan sirup merah)
Nyesss... abis hhssss hssss... kepedesan nasi pecel atau rawon, langsung minum es cincau ini. Adem di perut.


Selain es cincau, bisa juga pesan wedang. Wedang ini merupakan ramuan rebusan rempah rempah gitu. Ada jahe, ada kunyit, kencur, ataupun perpaduannya. Ada wedang beras kencur, wedang jahe, wedang kunir asem. Kalau di menu sih disebut pake es. Tapi kita juga bisa pesan enggak pakai es alias hangat. Karena aku penasaran dengan salah satu namanya, aku pesan wedang secang. Ternyata rasanya perpaduan gitu, antara pedas jahe dan rasa kunyit. Woww.... sesuatu dan patut dicoba !

aneka wedang
Harga gimana harga ? Ini kan hal yang penting juga. Harga sangat sangat bersahabat. Dijamin enggak mahal. Maka jangan heran kalau pas ke sini di jam makan siang, bakalan enggak kebagian meja dan harus ngantri dulu. Soalnya memang benar benar laris manis. Sekitar jam satu aja sering mendoan sudah habis. Padahal kan itu salah satu yang khas dari sini. Daftar harga ini diambil bulan April 2013. Bisa berubah sewaktu-waktu dengan pemberitahuan langsung di Pecel Madiun. (lihat tuh, tempelan perubahan harganya.... :D)

daftar harga menu makanan di Pecel Madiun
daftar harga minuman
Nah, buat teman - teman Jawa Timur yang ada di Bandung, atau pas berkunjung ke Bandung, silakan coba makan di sini. Teman lain yang mau nyobain makanan Jawa Timur, juga dipersilakan mampir. Kalau perlu teman makan, hubungi aku aja ya.... aku mangkal dekat situ kok, kalau di hari kerja :P

#8 MingguNgeblog minggu kedua

Seharian Keliling Bandung

Selamat datang di Bandung, Keke dan Naima.....

Kali ini Ummi Titi akan menawarkan cara menghabiskan satu hari di Bandung dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pertama - tama kita akan mengunjungi Taman Lalu Lintas. Taman ini buka jam 8 pagi. Di sini Keke dan Naima bisa belajar segala sesuatu tentang berlalu lintas. Mulai dari rambu-rambu lalu lintas, mencoba berbagai alat transportasi (ada sepeda, kereta api, kereta motor) sekaligus mempraktekkan tentang rambu-rambu lalu lintas itu di jalan - jalan yang terdapat dalam area taman. Pasti Keke dan Naima tidak tertarik lagi menaiki binatang tiruan yang ada ataupun maen ayunan ataupun naik flying fox, tapi di Taman ini ada sebuah perpustakaan yang bisa di kunjungi. Sekarang di sana juga ada komposter, yaitu alat untuk merubah sampah-sampah daun menjadi kompos. Kita bisa bertanya sama bapak penjaganya, bagaimana proses pembuatan kompos itu. Selain itu, Keke dan Naima juga dapat mempelajari nama-nama pohon yang terdapat di dalam taman. Eh, mau berenang ? Di sini juga ada kolam renangnya.
Tiket masuk taman  hanya 6 ribu rupiah. Sedangkan tiket masing masing wahana rata-rata hanya 4 ribu rupiah.

rambu-rambu lalu lintas
kereta api mini sumbangan dari PJKA

Nah, setelah capek keliling taman dan mencoba wahana wahana yang ada, Keke dan Naima bisa makan di dalam taman lho. Kalau makan di PVJ atau di Ciwalk tentu hal biasa. Nah, biar berkesan kita makan yang lain dari biasanya. Memang di dalam ada tempat makan yang sedia sate, bakso, popmie, lotek dll. Tapi ada tempat makan yang unik di sini. Yaitu warung-warungnya di luar taman, tapi mereka menggelar tikar di dalam taman. Mereka melayani pesanan dari balik pagar. Menunya bisa dipilih yang sehat seperti bakso tahu atau nasi timbel lengkap dengan ayam goreng, ikan asin dan sambel lalap. Setelah makan, bisa sholat dan istirahat sebentar di masjid kecil dalam taman.

Supaya petualangan sedikit seru, dari Taman Lalu Lintas, kita naik angkot ya.. Ke mana ? kita ke Saung Angklung Mang Udjo. Naiknya angkot hijau nomor 02. Tanya dulu ya... soalnya angkot-angkot di seputar taman lalu lintas ada dua arah. Arah pemberangkatan dan arah tujuan. Nanti kita naik angkot 02 jurusan Terminal Cicaheum.

Sebelum sampai terminal, kita turun di Padasuka. Jalan kaki dikit atau boleh naik ojek dua ribu saja, kita menuju Saung Angklung Mang Udjo. Ngapain aja di sana ? Bisa nanya - nanya proses / cara pembuatan angklung. Bisa nyobain main angklung. Kalau sedang beruntung, di sana sedang ada pementasan, ya kita bisa ikut nonton. Kalau rombongan sekitar 100 orang, biasanya disuguhi pementasan anak-anak sanggar angklung.
Saung ini punya filosofi lho ... yaitu 5M, artinya  : mudah, murah, menarik, massal dan mendidik


Ini rombongan kantor pas jam istirahat ke sana dan nyobain main angklung :)

Setelah puas mencoba angklung, kita menuju destinasi berikutnya.. yaitu Monumen Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika. Dari terminal Cicaheum, kita cukup sekali naik bis Damri. Bisa pilih yang AC biar enggak terlalu berdesakan. 

Monumen Nol Kilometer
Monumen ini terletak persis di sebrang halte CKC /GKN (Gedung Keuangan Negara). Di samping hotel Preanger. Di halaman Kantor PU. Waduh lengkap banget ya... Ngapain di sini ? popotoan laah.. narsis-narsisan dikit. 
Nah .. setelah itu, kita jalan kaki sedikit menuju jalan Braga. Yang paling monumental di sini adalah Museum Asia Afrika ya.. Tapi kalau kesorean ya sudah tutup. Paling tinggal foto-foto lagi di tiang bendera di depan museum. Kemudian kita jalan - jalan sore sepanjang jalan Braga. Bisa membeli roti di toko roti kuno di sana, namanya toko Sumber Hidangan. Roti yang dijual di sini, tanpa pengawet dan tanpa pengembang. Sehingga rotinya tampak kecil kecil. Eh, meskipun kecil-kecil, rasanya enakk lhoooo.... Kalau kita beli, bungkusnya pake bungkus kertas. Waah.. pokoknya jadul banget deeh.. Etalasenya juga model jadul. Sayang enggak sempat ambil gambar waktu itu.
Kalau tadi siang Keke dan Naima makan di pinggir taman, maka sore ini bisa milih tempat makan di sepanjang jalan Braga. Yang cepat saji ada Wendy's (hihi paling suka brokoli kejunya) atau pilih tempat makan di Braga City Walk.  
Naaah.. bener bener seharian keliling Bandung kaan ? 



Postingan ini diikutkan dalam

 

Senin, 15 April 2013

Rumahku 'Diskotik Mewah'

Baru tahu kemarin kalau  blog angingmammiri  punya gawe #8minggungeblog. Satu tema akan diberikan untuk setiap minggu. Nah, tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. Temanya Sekitar Rumah. Baiklah, aku mulai ceritanya ya...

pemandangan depan rumahku

Sebuah rumah, 'berhalaman' sawah. Hanya berbatas sebuah jalan selebar 4 meter.
Sejauh mata memandang, hijau terhampar dan perbukitan di kejauhan. Bila malam tahun baru tiba, semua anggota keluarga keluar, melihat kembang api yang ditembakkan dari kaki bukit.
Tanpa tetangga di hadapan.
Sebelah kanan sawah terbentang luas, dari balik jendela kamar, tampak rumah-rumah di RW sebelah.
Sebelah kiri ada jalan kampung yang terhubung dengan jalan tembus menuju ke komplek perumahan lain.
Itulah rumahku, diskotik = di sisi komplek sa-eutik terjemah bebasnya kurang lebih sedikit mepet ke komplek . Dan juga 'mewah' alias mepet sawah.

Sebuah rumah di pinggiran Bandung. Maka diskotik pun dapat berarti di sisi kota saeutik
Meskipun diskotik, namun letak rumahku sangat sangat strategis. Alhamdulillah. Semua dalam hitungan menit.

Sekolah ? 40 meter dari rumah ada sebuah TK yang kini menjadi tempat sekolah si F5
Hanya kurang dari 1 km menuju sekolah dasar / madrasah ibtidaiyah Islam yang  lumayan favorit, yang kemudian menjadi tempat sekolah ke-4 anakku yang pertama.
Hanya satu kali naik angkot menuju 3 buah SMP Negeri  yang clusternya berbeda. Cluster 1, cluster 2 dan cluster 3. Anak pertamaku tidak berhasil masuk cluster jadi masuk SMP N cluster 2. Anak kedua alhamdulillah berhasil masuk SMPN cluster 1. Jadi kalau pagi, satu ke kiri satu ke kanan sesuai arah sekolahnya. Nah anak ketiga tahun ini mau masuk SMP, cita citanya pengen masuk SMP yang sama dengan kakak pertamanya.
Sekitar  500 meter dari rumah, ada  SMAN favorit di Kota Bandung, yaitu SMAN 24. Diseberang SMA ada bimbel Nurul Fikri. Sekali mendayung, dua tempat tertuju sudah.

Kampus ? Ya, dekat juga laaah... silakan anak anak tinggal pilih, ke kanan ke ITB ke kiri arah Jatinangor ke Unpad. Pengennya orang tua mah anak dikekepin aja, nggak usah kuliah ke luar kota. Ke luar negeri sekalian ntar kalau S2, tapi cari bea siswa ya..
Sedangkan anak ? Pengennya segera mandiri aja. Sekarang yang SMP aja bilang mau kuliah di Lampung, kampung halaman Abi-nya.

Pasar ? Tinggal pilih. Ada dua pasar dekat rumahku. Pasar Pasir Jati tinggal jalan kaki, atau naik motor kalau malas. Atau pasar Ujungberung yang lebih besar dan lebih lengkap. Dari sayuran sampai perhiasan. Dari pakaian sampai alat alat rajutan. :D
Pasar kaget juga ada ! Ya di Pasir Jati itu. Dari pasar naik sedikit.  Kadang kadang  kami jalan-jalan ke sana.. 

Dokter ? Rumah Sakit ? Bidan ? Semua ada. Dokter praktek umum dan bidan ada di belakang rumahku. Ada praktek dokter gigi  paling 100 meter -an dari rumah. Lengkap dengan dokter gigi spesialis anak dan apoteknya. Sekarang malah di depan apotik itu berdiri klinik yang akan buka 24 jam mulai Juni nanti. Rumah Sakit Umum Daerah, paling 2KM dari rumah. Tapi semoga jangan sampai ya.. dirawat di rumah sakit. Yang diminta tetep sehat semuanya.

Nah, semakin berkembangnya perumahan di sekitar rumah, maka ada makna baru dari diskotik ini. Yaitu di sisi toko sa-eutik.  Yaaa... bagaimana tidak ? Di sekitar rumahku saja lengkap ada 5 mini market yang cukup ditempuh dengan jalan kaki. Yomart, Alfamart, Indomaret, SB-Mart , dan UB Istiqomah. Dan entah sudah sejak tau kapan, aku sudah meninggalkan kebiasaan belanja bulanan ke supermarket. Selain malas membawa belanjaan yang seabreg dengan motor, kayaknya kok kalau belanja bulanan duitnya langsung habis :D.  Padahal untuk mendukung bisnis sampinganku untuk muterin uang belanja, aku kan perlu cash flow yang lancaaar. Jadi ya aku belanjanya tiap minggu aja ke toko toko di atas. Suka suka aja mau pilih yang mana.

Kini, di sebelah kanan rumahku pun telah berdiri sebuah toko bahan bangunan, berhimpitan tembok. Sebelahnya lagi sudah menjadi sebuah komplek perumahan. 
Sedangkan di depanku, sebagian sawah sudah mulai di urug. 



Sudah begitu, urugan itu menutup selokan yang mengalirkan air menuju kali.  Beberapa kali hujan terakhir, selokan itu meluap, dan airpun masuk ke sawah. Bukan mustahil, sawah yant tersisa pun, tidak lama lagi akan dijual karena sering kebanjiran. Yaaah, rumahku bisa bisa enggak 'mewah' lagi deeeh...

Nah, apakah rumahmu 'diskotik' juga ? Atau 'mewah' ?



#tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri

Selasa, 02 April 2013

Aku dan Keluargaku : Edisi Lebaran

Full Team, foto Lebaran 2012

Baiklah.. khusus untuk mas Furqon yang sedang punya hajat, dan juga buat teman teman yang baru berkunjung ke sini.. perkenalkan...inilah keluargaku..
Berdiri di barisan belakang, dari kiri ke kanan :
F1 : Mbak Fathimah
F3 : Ayuk Fadhila
F2 : Kyai Fikri

Duduk di barisan depan :
F5 : Faiz dipangku sama Ummi
F4 : Teteh Firda dipangku sama Abi

Foto bersama di momen Lebaran ini menjadi saat yang ditunggu tunggu. Entah Idul Fitri entah Idul Adha, selalu kami foto bersama. Ah ya, wajahku mungkin kelihatan sedikit pucat ya.. karena hari pertama Idul Fitri itulah aku pertama kali keluar rumah setelah bedrest di seminggu terakhir di bulan Ramadhan. #curcol.
Nah .. sekarang semakin kenal kaaaan... dan nggak bingung lagi kalau kusebut F1, F2 dst.. :D



Minggu, 31 Maret 2013

My Old And New

Assalamu'alaikum Bunda Yati...

Ini adalah foto pada hari pernikahan saya : Desember 1996.
Pada malam hari setelah akad nikah dan resepsi, kedua keluarga besar mempelai beramah tamah

Aku dan suami diapit Ayah Mertua  (sebelah kiriku) dan Bapakku (sebelah kanan suami)
Aku dan suami, saat mengantar Faiz ke Taman Lalu Lintas, Januari 2013

Bunda Yati yang aku kenal :
Jujur Bun, saya jarang blog walking, paling sesekali mampir ke blog teman yang sering komen di blog saya. Tapi dari notifikasi email, dari grup face book Emak Emak Blogger, saya sering sekali melihat nama Bunda Yati 'berseliweran'. Subhanallah... Pas tahu Bunda bikin GA, maka saya langsung ngubek - ubek blog Bunda deh. Ternyata di usia yang sudah lansia Bunda Yati begitu produktif menulis di blog. Terbukti dari jumlah posting blog Bunda di  tahun 2011, 2012, 2013 yang lebih banyak dariku. (Soalnya semalem anakku protes, Ummi postingannya dikit amat, dalam setahun cuma segitu, berarti enggak tiap hari nulis...) Ya sebenarnya enggak heran juga siiih... Bunda kan memang penulis pas di masa muda. Bahkan Bunda juga ikut chalenge #prompt hihi yang aku  belum pernah ikut satupun. Dan yang subhanallah juga, Bunda pun menulis buku - buku antologi.  (pengen yang kado untuk pasutri  #kode)

Harapanku :
Semoga Bunda tetap menulis, tetap menginspirasi, bahkan seandainya saking sibuknya atau karena sesuatu hal Bunda tidak dapat menulis sendiri, semoga Bunda mendapatkan asisten untuk terus menuliskan apa yang hendak Bunda bagikan kepada kami semua.
Kemudian : semoga suatu saat Bunda dapat menerbitkan buku solo. Misal tentang kiat - kiat mengisi waktu di usia lansia, "Lansia- Lansia Bahagia" , "Manajemen hati dan manajemen hari ketika kembali sendiri" (maksudnya anak sudah menikah semua dan suami sudah berpulang) dsb.



Senin, 25 Februari 2013

Bahasa Daerah Itu Mudah

Anak pegawai negeri, menjadi seorang pegawai negeri, kemudian diperistri pegawai negeri, membuatku melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Belum banyak siiih.. tetapi setiap daerah yang pernah kutinggali mempunyai bahasanya masing-masing.

Aku numpang lahir di Temanggung, kemudian sejak masih balita ikut pindah orang tua ke Cilacap.
Masa kecil di Cilacap ini, bisa dikatakan aku bicara dalam 2 bahasa daerah *jiaaah
Yaitu : bahasa bandek (sebutan orang Cilacap untuk bahasa Jowo alus macam bahasa Yogya) kupakai untuk bicara dengan keluarga, dan  bahasa ngapak (istilah untuk dialek Banyumasan)  untuk bicara dengan teman teman sepermainan.
Jadi kalau di rumah bilang "ojo koyo kuwi' begitu keluar berganti menjadi "aja kaya kuwe" a la bahasa ngapak. Artinya sama, jangan begitu.
Yang lucu adalah ketika bermain bersama adik/kakak dan teman-teman sekaligus, bisa secara otomatis mengganti bahasa pada saat yang bersamaan, tergantung bicaranya dengan siapa. Teman - teman di Cilacap  kadang menirukan cara bicara kami. Karena logatnya masih kurang pas, lebih sering kami jadi tertawa bersama.
Aku menikmati saat-saat ini hingga lulus SMEA. Dan aku sangat berterima kasih pada Bapak dan Ibuku yang terus memakai 'bahasa ibu' meski sudah tinggal jauh dari tanah kelahiran. Paling tidak, ini membuatku selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran bahasa daerah, bahkan pas SMEA aku pernah menjuarai lomba karya tulis dua bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, juara ketiga se-kabupaten Cilacap. *lumayan

Setelah SMEA aku pindah Jakarta karena kuliah. Kebetulan induk semangku Betawi asli,  dan teman kos anak Lumajang, Jawa Timur.
Maka bertambah satu lagi kosa kata bahasa daerahku.
Aku pun mulai mengenal elo - gue . Mulailah aku ber - "elu elu gue gue". Tapi sayang, kata anak-anak Jakarta, logat gue medok . Haha, dan akhirnya mereka melarang gue nyoba berbahasa Betawi.
Ada kejadian lucu ketika bicara dengan anak Lumajang. Ternyata meskipun sama-sama Jawa, ada kosa kata tertentu yang sedikit berbeda penempatannya.
Misalnya ;
Temen yang dari  Lumajang nanya : "Wis mari, Ti ?  (Sudah selesai , Ti ?)
Aku menjawab : " Mari opo, aku ora lara."  (Sembuh apa, aku nggak sakit)
Nggak nyambung kaan ? Iyah !
Ternyata di Jawa Timur, mari artinya sudah selesai, sedangkan di Jawa Tengah mari ya sudah selesai juga siiih, sudah selesai sakitnya, alias sudah sembuh. :p
Kemudian ada kata lain yang aku juga baru tahu, kalau di Jawa Tengah, sampeyan (kata ganti orang kedua) biasanya digunakan untuk yang sebaya / Jawa ngoko alus. Tetapi di Jawa Timur sampeyan itu untuk kata ganti orang kedua yang lebih tua/dihormati .

Lain lagi ceritanya ketika aku sudah menikah, aku ikut suami ke Kupang, NTT. Ternyata di sana juga ada bahasa daerah, tepatnya bahasa Indonesia logat Kupang. Masih dapat dimengerti. Hanya ada beberapa kosa kata baru. Akupun coba coba belajar bicara bahasa Kupang ini.
Misalnya :
saya = beta / kadang di singkat be saja
pergi = pigi / disingkat pi saja
tidak = sonde / disingkat son
tahu = tau
sudah = sudah / disingkat su
belum = belom
punya = pung
Misalnya berkata : saya tidak tahu = beta sonde tau / be son tau
Ada kejadian lucu saat awal tinggal di Kupang. Aku diajak silaturrahim ke salah satu teman suami.
Kebetulan saat itu si bapak yang dicari sedang pergi. Anak tertuanya yang membukakan pintu untuk kami.
Suami : Bapak ada, ko ?
Anak : Ada pi.... (ada kok pergi, kataku dalam hati, maksudnya sih sedang pergi begitu...)
Atau satu lagi yang kadang menjadi semacam plesetan teman teman kantor. Dalam bahasa Kupang, istri dikatakan sebagai maitua. Istriku = be pung maitua. Nah rata-rata teman-teman yang penempatan Kupang itu bulok alias bujang lokal, karena  tidak mengajak serta istri dan anak-anak pindah ke sana. Kalau sedang bercanda-canda kadang mereka keceplosan  mau mencari be pung maimuda. Artinya ? Yah, begitulah kira-kira.
Ada ada saja...

Aku senang menirukan bahasa Kupang ini. Kali ini tidak ada yang mengolok olok / melarangku berbahasa Kupang. Tidak seperti kejadian ketika gue di Jakarta. Lima tahun di Kupang, cukup membuatku fasih bicara logat Kupang. Dengan anak-anak aku juga membiasakan bahasa Kupang.  Sampai saat ini kalau bertemu, telepon atau komen di facebook teman teman Kupang, aku masih menggunakan bahasa Kupang. Beta su bisa !

Nah, sekarang sudah sepuluh tahun aku tinggal di Bandung. Bertambah lagi bahasa daerahku. Bahasa Sunda.
Pertama - tama aku belajar bahasa Sunda dari ibu tukang sayur dekat rumah. Aku selalu menanyakan apa bahasa Sunda dari kalimat yang kuucapkan. Si ibu berbicara kemudian aku menirukan. Lama-kelamaan jadi terbiasa. Selain itu, aku  juga belajar teman-teman kantor dan juga dari buku pelajaran bahasa Sunda anak-anak yang mulai masuk sekolah dasar. Alhamdulillah, semakin dipakai semakin lancar. Kadang aku menggunakan bahasa Sunda lemes (halus) untuk bicara dengan anak-anak.  Tapi anak-anak malah enggak tahu karena teman-teman main mereka tidak mempergunakan bahasa Sunda lemes dalam pergaulan.
Sayangnya, aku terkadang masih diprotes teman-teman Bandung karena  logatku yang masih belum fasih mengucapkan kata-kata yang mengandung suara khusus macam Cicaheum, Cibeureum, Cimbeuleuit , Leuwi Panjang, bageur, cageur, peuyeum, dsb . Kalau sudah demikian, ya aku tinggal ngeles aja, punteun atuh, da nuju diajar. (maaf ya, kan masih belajar) :D

Menurutku bahasa Sunda ini tidak begitu susah, karena masih mirip- mirip bahasa Jawa, bahasa ibuku.
Yang sama misalnya  ;
- kanggo / kangge (artinya untuk), hanya kalau bahasa Sunda kanggo lebih halus dari kangge.
- dahar (Sunda) dan dhahar (Jawa), artinya sama-sama makan, tapi dahar Sunda untuk sebaya, dhahar Jawa untuk bahasa kromo / halus
Tapi ada juga lho.. yang artinya sungguh berbeda, gedang di Sunda artinya pepaya, sedang di Jawa Tengah artinya pisang.

Wow, ini aku belum cerita suamiku orang Lampung, bapaknya Jawa ibunya Palembang ?  Hehe, karena tinggal di Lampung tidak lama, maka terus terang aku belum bisa bahasa Lampung. Bahasa Palembang pun belum pacak. Semoga lain waktu aku bisa mendapat kesempatan mempelajari bahasa Palembang. Paling tidak aku sudah membiasakan lidahku mencicip empek-empek dan perutku pun tidak protes diajak minum cuka empek-empek pagi hari. *apacoba ?

Intinya, aku senang menirukan dan mempelajari bahasa  daerah di mana aku tinggal. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menurutku mengenal bahasa daerah ini membawa banyak hal positif, antara lain :
* lebih mengakrabkan kita dengan masyarakat setempat;
* memudahkan kita dalam berkomunikasi;
* mempelajari bahasa daerah menunjukkan kesungguhan kita untuk membaur;
* mempelajari bahasa daerah adalah bentuk sekaligus bukti penghormatan kita atas kebudayaan setempat;
* membelajari bahasa daerah memudahkan kita menawar harga di pasar wkwkwk :D

Oke Niar, terbukti  belum aku cinta bahasa daerah ?

"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"