Tampilkan postingan dengan label klip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klip. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juli 2023

Mudhif Ke Pondok Gontor 3 Kediri


Perjalanan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Darussalam Kampus 3 di Kediri ini adalah perjalanan pertamaku. Adapun keperluannya adalah mudhif/menjenguk si bungsu F5 yang saat ini sedang menuntut ilmu di kota ini. Sebelumnya tidak benar- benar berencana mau sini, selain karena jarak yang jauh, juga karena tidak mudah mencari irisan waktu antara aku, abinya anak-anak dan anak sendiri.  Ini pun aku akhirnya berangkat berdua dengan F2 saja, karena Abinya gak bisa.

Mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)

Ketika F5 keukeuh sejak kelas IV madrasah ibtidaiyah minta melanjutkan jenjang lanjutan pertamanya ke pondok, dan menyebut secara eksplisit Pondok Gontor, sejak saat itulah baru kami sebagai orang tua mencari informasi tentang PMDG.

Gontor adalah sebuah nama yang tidak asing lagi di Indonesia. Banyak tokoh nasional yang telah lahir dari Rahim Gontor. Sebutlah misalnya Ust. Didin Hafidzudin ketua Muhammadiyah, atau Ust. Hidayat Nur Wahid, mantan ketua DPR MPR, Anwar Fuadi (penulis Negeri Lima Menara), dll. Sempat sih kami membujuk F5 untuk mencari pondok seputaran Bandung aja. Kami tunjukkan akun-akun official berbagai pondok, tapi ternyata dia sudah mantap dengan pilihannya. Bahkan Ketika di masa pandemi yang lain belajar daring, F5 sanggup melalui bimbel seleksi masuk Gontornya secara luring.

PMDG ini terdiri dari pondok putra dan pondok putri. Berdiri pertama kali di desa Gontor, Kec. Mlarak, Kab. Ponorogo. Inilah yang kini disebut sebagai Gontor 1/Gontor Pusat. Saat ini Gontor memiliki 12 Kampus Putra di berbagai kota di Indonesia (Ponorogo,  Kediri, Banyuwangi, Magelang, Kendari, Lampung Timur, Lampung Selatan, Aceh Besar, Solok, Tanjung Jabung Timur dan Poso) serta 9 kampus untuk Gontor Putri  di Ngawi (3 kampus),  Konawe Selatan, Kediri, Poso, dan Kampar.  Banyak juga ya..

Yang membedakan PMDG dengan sekolah lain atau pondok lain adalah tahun ajarannya yang menggunakan tahun hijriyah dan libur pekanannya di hari Jumat. Awal tahun ajaran adalah bulan Syawal. Dan libur akhir tahunnya adalah selama bulan Ramadhan. PMDG berdiri 12 Rabbiul Awwal 1345 H artinya tahun ini (1445 H) akan memasuki usia 100th.

 

Mudhif

Mudhif arti awalnya adalah tuan rumah, atau orang yang menjamu tamu. Ya sebenarnya nggak jauh-jauh amat sih kalau dilihat keadaannya, dalam hal Mudhif dipakai untuk istilah berkunjung/menjenguk santri yang sedang belajar di Pondok. Soalnya kalau orang tua hadir di pondok/mudhif, maka dia akan menjamu santri-santri, anaknya dan teman-teman anaknya. Biasanya dilakukan di jam-jam sarapan, santap siang dan makan malam. Atau di jam istirahat belajar.  Karena liburnya hari Jumat itulah, makanya aku mudhif di hari Jumat.. biar bisa ketemu agak lama. Pengennya... Realisasinya mah tetep aja, anak-anak sibuk dengan kegiatan.

 

Perjalanan Menuju Gontor Kampus 3

Dari Bandung, ada dua pilihan menuju kampus 3 kediri ini. Yang pertama naik bis, yang kedua naik kereta api. Naik bis aku skip karena aku khawatir mabuk perjalanan. Kereta api menjadi pilihan. Stasiun terdekat dengan PMDG Kampus 3 adalah Stasiun Kediri Kota. Aku naik kereta Malabar yang berangkat dari Stasiun Kiara Condong pk. 17.30  turun di stasiun Kediri Kota sekitar pukul 4 Pagi. Suasana sangat sepi. Tapi pagi itu ada satu resto yang buka, kami makan malam sekaligus sarapan di sana, lalu duduk sebentar menunggu adzan subuh.

Setelah menunaikan sholat subuh, kami keluar stasiun. Ternyata sudah ada beberapa kendaraan yang menunggu penumpang. Sebelumnya aku cek di aplikasi ojek online, biaya sekitar 60rb dari stasiun kota sampai pondok. Tapi berhubung suasana masih gelap, dan penawaran harga dari pengemudi omprengan tidak terlalu jauh dari harga ojol, aku akhirnya memilih naik omprengan aja. Harga ditawarkan pertama 100rb, tapi dapat ditawar menjadi sekitar 70-75rb.

Perjalanan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Darussalam Kampus 3 di Kediri ini adalah perjalanan pertamaku. Adapun keperluannya adalah mudhif/menjenguk si bungsu F5 yang saat ini sedang menuntut ilmu di kota ini. Sebelumnya tidak benar- benar berencana mau sini, selain karena jarak yang jauh, juga karena tidak mudah mencari irisan waktu antara aku, abinya anak-anak dan anak sendiri.  Ini pun aku akhirnya berangkat berdua dengan F2 saja, karena Abinya gak bisa.

 

Mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG)

Ketika F5 keukeuh sejak kelas IV madrasah ibtidaiyah minta melanjutkan jenjang lanjutan pertamanya ke pondok, dan menyebut secara eksplisit Pondok Gontor, sejak saat itulah baru kami sebagai orang tua mencari informasi tentang PMDG.

Gontor adalah sebuah nama yang tidak asing lagi di Indonesia. Banyak tokoh nasional yang telah lahir dari Rahim Gontor. Sebutlah misalnya Ust. Didin Hafidzudin ketua Muhammadiyah, atau Ust. Hidayat Nur Wahid, mantan ketua DPR MPR, Anwar Fuadi (penulis Negeri Lima Menara), dll. Sempat sih kami membujuk F5 untuk mencari pondok seputaran Bandung aja. Kami tunjukkan akun-akun official berbagai pondok, tapi ternyata dia sudah mantap dengan pilihannya. Bahkan Ketika di masa pandemi yang lain belajar daring, F5 sanggup melalui bimbel seleksi masuk Gontornya secara luring.

PMDG ini terdiri dari pondok putra dan pondok putri. Berdiri pertama kali di desa Gontor, Kec. Mlarak, Kab. Ponorogo. Inilah yang kini disebut sebagai Gontor 1/Gontor Pusat. Saat ini Gontor memiliki 12 Kampus Putra di berbagai kota di Indonesia (Ponorogo,  Kediri, Banyuwangi, Magelang, Kendari, Lampung Timur, Lampung Selatan, Aceh Besar, Solok, Tanjung Jabung Timur dan Poso) serta 9 kampus untuk Gontor Putri  di Ngawi (3 kampus),  Konawe Selatan, Kediri, Poso, dan Kampar.  Banyak juga ya..

Yang membedakan PMDG dengan sekolah lain atau pondok lain adalah tahun ajarannya yang menggunakan tahun hijriyah dan libur pekanannya di hari Jumat. Awal tahun ajaran adalah bulan Syawal. Dan libur akhir tahunnya adalah selama bulan Ramadhan. PMDG berdiri 12 Rabbiul Awwal 1345 H artinya tahun ini (1445 H) akan memasuki usia 100th.

 

Mudhif

Mudhif arti awalnya adalah tuan rumah, atau orang yang menjamu tamu. Ya sebenarnya nggak jauh-jauh amat sih kalau dilihat keadaannya, dalam hal Mudhif dipakai untuk istilah berkunjung/menjenguk santri yang sedang belajar di Pondok. Soalnya kalau orang tua hadir di pondok/mudhif, maka dia akan menjamu santri-santri, anaknya dan teman-teman anaknya. Biasanya dilakukan di jam-jam sarapan, santap siang dan makan malam. Atau di jam istirahat belajar.  Karena liburnya hari Jumat itulah, makanya aku mudhif di hari Jumat.. biar bisa ketemu agak lama. Pengennya... Realisasinya mah tetep aja, anak-anak sibuk dengan kegiatan.

 

Perjalanan Menuju Gontor Kampus 3

Dari Bandung, ada dua pilihan menuju kampus 3 kediri ini. Yang pertama naik bis, yang kedua naik kereta api. Naik bis aku skip karena aku khawatir mabuk perjalanan. Kereta api menjadi pilihan. Stasiun terdekat dengan PMDG Kampus 3 adalah Stasiun Kediri Kota. Aku naik kereta Malabar yang berangkat dari Stasiun Kiara Condong pk. 17.30  turun di stasiun Kediri Kota sekitar pukul 4 Pagi. Suasana sangat sepi. Tapi pagi itu ada satu resto yang buka, kami makan malam sekaligus sarapan di sana, lalu duduk sebentar menunggu adzan subuh.

Setelah menunaikan sholat subuh, kami keluar stasiun. Ternyata sudah ada beberapa kendaraan yang menunggu penumpang. Sebelumnya aku cek di aplikasi ojek online, biaya sekitar 60rb dari stasiun kota sampai pondok. Tapi berhubung suasana masih gelap, dan penawaran harga dari pengemudi omprengan tidak terlalu jauh dari harga ojol, aku akhirnya memilih naik omprengan aja. Harga ditawarkan pertama 100rb, tapi dapat ditawar menjadi sekitar 70-75rb.

Suasana di Pondok Gontor Kampus 3

Sesampai di area kampus, kami diterima di Balai Penerimaan Tamu atau biasa disebut Bapenta. Disisi Bapenta ada dua aula besar untuk penginapan tamu, satu khusus tamu laki-laki, satu lagi khusus tamu perempuan. Para tamu dapat menginap di sini, gratis. Bila menghendaki sewa kasur, disediakan dengan harga 10rb/malam.

Selain itu, ada juga Gazebo yang memuat sekitar 2-4 orang, terdiri dari satu ruangan sekitar 3x3m dengan sewa 75rb/malam. Namun sayang sekali pas aku tiba di sini, Gazebo sudah penuh. Akhirnya aku menginap di Bapenta.

 

Nomor telpon penting di sekitar Kampus 3

Ini bukan nomor internal kampus ya.. tetapi nomor para supporter yang akan menyukseskan acara mudhif ayah bunda.

  • Mama Haidar 0812-2995-8396

Wali santri dapat menitip apapun ke mama Haidar ini, mulai dari printilan semacam gembok yang ilang, hingga makanan yang kita perlukan buat sarapan, makan siang ataupun makanan lain. Insya allah siap menyediakan. Aku pesan nasi kuning buat sarapan yang siap jam 6 pagi. Bisa juga pesan gorengan, jus, dsb

  •  Mbak Nurul Kurir Makanan 0858-5620-2148

Ini juga sama dengan Mama Haidar. Menerima titipan belanjaan di sekitar pondok. Kita kan memang pendatang yang mungkin baru pertama datang, belum hafal tempat. Jadi mba Nurul ini sangat membantu. Aku pesan nasi padang buat makan siang.  

  •  Pak RT (Pak Sunar) / Pemilik Dzava Travel 0821-4041-8799

Beliau melayani travel, sewa motor, charter mobil, catering, tumpeng dll. Sewa motornya ini membantu banget, sehari 65rb. Dan bapaknya percaya banget. Motornya disimpan di depan Bapenta. Selain itu beliau juga menerima pesanan makanan, jajan-jajan gitu. nanti dianterin ke anak kita yang di pondok.

  • Aplikasi Ojek online

Kalau anak-anak request makanan-makanan perkotaan, makan aplikasi ojol ini menjadi 911. Dimana kita dapat memperolah harga diskon atas pembelanjaan kita. Dan sebagai tamu yang tidak mengenal daerah, maka aplikasi ini menjadi sesuatu yang penting. Aku beli martabak bisa dapat harga 60rb an untuk 2 kotak martabak manis plus 2 kotak martabak asin.

Sementara itu dulu ceritaku dari PMDG Kampus 3 kediri ya..  Daah



3.       

Sementara itu dulu ceritaku dari PMDG Kampus 3 kediri ya..  Daah

Rabu, 19 Juli 2023

Bersih dan Sehat, Mulai dari Mana ?

Personal Hygiene memang istilah baru buatku. Tetapi setelah aku membaca berbagai sumber ternyata itu bukanlah hal baru. Personal hygiene gampangnya adalah bagaimana aku memelihara kesehatan dan kebersihanku sendiri. Bisa dikatakan adalah bagaimana keseharian kita dalam memperhatikan hal halyang terkait dengan kesehatan dan kebersihan.

Kalau ngobrolin itu, sebagai orang awam, tentunya personal hygiene ini tidak terlepas dari kebiasaan keluarga. Bagaimana dulu bapak dan Ibu membentukku, mengajariku dan memberikan teladan, itulah yang aku ketahui sekarang. Kalau secara standar, sebenarnya yang diajarkan kedua orang tua jaman dulu sudah memenuhi standar ya.. Kebetulah Ibu pernah sekolah perawat walaupun tidak sampai lulus karena keburu pindah sekolah karena Simbah ingin ibu menjadi seorang guru.


Kebiasaan keluarga yang ditanamkan dulu :

- Mandi dan ganti baju dua kali sehari, pagi dan sore

- keluar rumah harus pakai sandal, sekolah pakai sepatu (hihi ini setting tahun 80an ya, di mana anak sekolah aja masih ada yang nyeker)

- cuci kaki sebelum naik ke kasur baik tidur siang atau tidur malam

- gosok gigi sebelum tidur dan bangun tidur minimal cuci muka

- gelas dan makanan selalu ditutup

- nggak boleh jajan sembarangan/jajan yang makanannya terbuka dan dikerubungin lalat, Bapak mencontohkan, selalu jajan makan yang terbungkus, seperti nagasari, arem-arem, bugis, dll nggak pernah jajan yang makanan tidak terbungkus yang cara meladeninya dipegang-pegang pakai tangan. :D

- membersihkan tempat tidur sebelum tidur dan merapikan lagi dipagi hari

- Baju kotor dicuci setiap hari

- Mencuci piring sehari 3x setelah makan pagi,makan siang, dan makan malam

- mencuci rambut/keramas minimal banget seminggu sekali. 

- Bapak melarang anak-anak mandi di kali  (bayangin hampir semua anak di kampung suka mandi di kali, dan kita gak boleh, hiks)

- Mempunyai sarana MCK sendiri untuk sekeluarga ( di kampung banyak yang yang masih share tempat MCK dan jambannya pun masih ada yang cemplung langsung gitu)

- Makan sehari 3x dengan komposisi nasi-lauk-sayur. 

- Anak-anak mendapat tugas siapa yang ngepel siapa menyapu rumah, siapa menyapu halaman rumah.

- Menjemur kasur di hari libur.

- tidak bertukar handuk dan sikat gigi.

- Membuang sampah pada tempat sampah. Dulu di dapur ada tempat sampah, nanti pagi dan sore dibuang ke lubang sampah yang kalau penuh diurug tanah. Etapi dulu itu jarang sekali sampah plastik. Semua jajanan dibungkus daun, dan kalau belanja kita bawa keranjang belanja.


Itu beberapa hal yang aku ingat dari masa kecil yang selalu dibiasakan oleh orang tua. Tetapi ada satu kisah lucu, entah pas aku duduk di kelas berapa, waktu itu aku lihat temanku mencari kutu dari kepalanya, dan "mithes" (menekan telur kutu dengan kuku ibu jari), aku pikir itu asyik sekali.. aku ambil dong satu kutu dan ku letakkan di kepalaku. walhasil seisi rumah semua jadi kutuan. Aku dan kedua adik perempuanku. Cukup panjang perjalanan membasmi kutu rambut ini. Sepertinya sampai aku SMP baru hilang bersih karena aku mulai memasuki usia puber, malu kalau ketahuan kutuan dan rambutnya berhias 'permata' telur kutu. 

Tapi soal kutu ini ternyata di anak-anakku juga terjadi, tanpa mereka 'memelihara kutu' seperti yang aku lakukan di waktu kecil, eh mereka tertular juga. Waktu itu dari ART yang berambut panjang dan terlihat kutu satu dua berjalan jalan di rambutnya. 


Setelah aku cukup dewasa dan belajar agama, ternyata soal kebersihan ini diajarkan di awal sekali. Kalau buka buku Fiqh maka bab awal awal adalah tentang Thoharoh/bersuci. Menurut pemahamanku yang dangkal, ini berarti memang Islam sangat mengutamakan kebersihan bahkan lebih tinggi lagi kesucian / bersih luar dalam, bersih secara harfiah dan secara makna.


Diantara pelajaran bersuci ada yang namanya sunah sunah fitrah/sunah yang paling mendasar yang harus dilakukan terkait personal hygiene :

Artinya: "(Sunnah) fitrah ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur bulu ketiak, memendekkan kumis, dan memotong kuku." (HR Bukhari dan Muslim).


Tentunya ini berlaku untuk laki - laki dan perempuan ya.. Dan kalau belajar Fiqh masih banyak yang dibahas di bab thoharoh ini ya.. bagaimana cara bersuci dari hadas kecil dan hadas besar, bagaimana cara mensucikan dari najis, dsb Dibahas sangat rinci.


Bagaimana menanamkan personal hygiene ke anak-anak ?

Dulu, aku mungkin hanya melihat kebiasaan Bapak, Ibu dan kakak-kakak udah nyante ya.. skrg gantian anak-anakku, mereka melihat yang dilakukan oleh bapak-ibunya, itulah yang mereka terapkan saat dewasa.


Jumat, 30 Juni 2023

Pemurah



Ada satu pengalaman yang membuatku sangat terkesan.  Sebelum aku cerita lebih jauh, silakan cari posisi nyaman dulu ya.. buat ndengerin eh buat baca ceritaku nanti.  Jadi  begini... 

Di depan rumahku kan ada pasar kaget setiap pagi. Nggak pasar pasar amat sih.. soalnya cuman ada satu tukang ayam, satu tukang buah dan satu tukang sayur. 

Nah si tukang buah ini kita biasa panggil dengan sebutan Abah. Abah nih jualan utamanya adalah pisang. Pisangnya fresh banget dari petani. Selalu sih pisang ambon, kadang yang kuning kadang yang ambon lumut. Aku sering beli untuk di bawa ke kantor. Eh, ini bukan karena aku baik seperti Rehan ya.. tetapi karena aku pemegang uang kas ruangan, dan aku bertanggung jawab untuk beli camilan setiap harinya.  Nah seminggu sekali bisa dipastikan aku beli pisang.

Menurutku pisang jualan Abah harganya wajar terkendali. Sekilonya dihitung Rp. 10,000. Jadi kadang aku beli yang satu sisir seberat 2.5kg, kadang ada yang sampai 3.5 kg

Saking udah hafal di depan rumahku ada tukang pisang, seksi konsumsi panitia peringatan Idul Adha di kantor minta tolong aku beliin pisang. Oke, aku sanggupin ya.. timbang beli pisang ini.

Akupun pesan ke Abah, bahwa aku mau beli pisang hari Kamis sore karena Jumat mau dibawa ke kantor.  Kamis sore Abah datang bawa pisang. Pas dia antar, katanya semua ada 10kg. Terus harganya dia diskon dong, jadi 7rb/kg. Abah bilang total 70rb aja. Habis itu dia nyimpen lagi dua sisir kecil "ini untuk Neng nggak usah dibayar"  katanya.

Kaget dong aku.. dari harga aja udah didiskon, yang asalnya 10rb/kg  jadi 7rb/kg. Masih dikasih imbuhan / tambahan lagi dua sisir. Masya allah... otak dagangku langsung bergerak. Ya kalau Abah misalnya belanjanya hanya 5rb/kg, maka dengan menjual 10 kg Abah laba 20rb. Eh laba itu dikurangi 2 sisir yang dia tambahkan. Lalu laba bersih Abah berapa ? haha... ini masuk  literasi numerasi  nggak sih ?

Ya begitulah kalau hitung-hitungan sama manusia, matematikanya juga matematika manusia.  Tapi yang kulihat, para pedagang kecil ini, matematikanya  udah matematika langit. 

Seperti Abah yang jual pisang tadi. Tukang gorengan dekat rumah juga sama. Kalau beli minimal 10rb, pasti dapat tambahan minimal satu. Kalau beli 20rb, tambahannya bisa dua atau tiga buah gorengan. Masya allah..

Ini belum sama si tukang sayur ya.. kalau misalnya kita ambil bumbu-bumbu sekadarnya saja, misal daun salam dua lembar, sereh dua buah, pasti sama dia nggak akan dihitung harganya. "udah ngasih aja ini mah"

Aku jadi inget apa yang pernah diucapkan oleh seorang Ustazah dalam sebuah kajian. Memberi itu bukan perkara memiliki atau berlebih. Terkadang ada orang yang berlebih malah enggan memberi. Memberi itu perkara kebiasaan. Orang yang biasa memberi / berbagi, akan mudah berbagi. Kalau bahasa Jawa ada istilah "nyah nyoh" yang artinya kurang lebih mudah memberi. Dikit dikit, ngasih. Dikit dikit ngasih. 

Kalau diuangkan memang dua lembar daun salam dan dua batang sereh mungkin tidak material dalam hitungan akuntansi ya, tapi coba hitung kalau ada 5 orang aja pembeli macam aku yang kalau beli itu ya sebutuhnya aja, males nyetok, maka yang tadinya nggak ada harga itu, bakal bunyi juga. Minimal 5 rb lah. Hitung lagi 5 rb itu = laba menjual sekian ikat bayam. Lah ini matematika manusia lagi hahaha

Ya deh ya deh.. mungkin memang orang-orang pemurah itu level berbaginya udah level atas ya.. udah nggak itungan lagi. Karena mereka merasakan kebahagiaan justru saat berbagi, saat dapat membahagiakan orang lain. Dan mereka juga sudah merasakan sendiri bukti janji Pemilik Alam ini, kalau berbagi maka akan dibalas berlipat ganda. 

Semoga Allah karuniakan sifat pemurah bagi kita semua. 

Kamis, 29 Juni 2023

Waktu Terbaik untuk Menulis


Menulis.
Gampang diucapkan, perlu latihan untuk melakukan. Setuju ?

Ya, menurutku, menulis ini soal kebiasaan. Hanya perlu latihan. Karena aku yakin pada dasarnya setiap orang bisa kok menulis. Terbukti kan kalau kita ngobrol sama temen melalui aplikasi chating, maka obrolan tersebut dapat dilakukan panjang lebar. Nah sebenarnya topik yang dibicarakan itu kan dapat disajikan dalam bentuk tulisan. Di sinilah kebiasaan itu akan memengaruhi warna tulisan seseorang.

Jaman  sekitar tahun 80'an, sebelum dunia digital menyerbu, menulis diari banyak dilakukan untuk menyalurkan buah pikiran. Entah sedih, entah lucu, entah marah,  semua dituangkan ke dalam diari. Apalagi ketika jatuh cinta, diari menjelma bak rubrik puisi. Sementara itu, di toko buku dan alat tulis pun, dijual bermacam-macam diari. Dari yang murah hingga yang sedikit mahal. Dari yang polos hingga yang bergambar. Dari yang tanpa aroma hingga yang kertasnya wangi. Suatu kebahagiaan tersendiri saat dapat memiliki diari yang ada kunci. Ada yang samaan ? Fiks kita udah tua haha

Kemudian setelah menginjak remaja, diari digantikan oleh buku agenda. Memuat jadwal kegiatan kita sekaligus ada ruang untuk mencurahkan perasaan. Aku biasa mengisinya saat sendirian. Entah di rumah, entah di perpustakaan. Rasanya plong sekali kalau sudah menulis di buku tersebut. Aku masih menulis di buku hingga anak ketiga lahir. Yang tadinya lebih banyak menulis curhat galau ala remaja, agenda berubah isi menjadi catatan tumbuh kembang anak. Kapan anak sakit, ke dokter mana, dikasih obat apa, kapan anak belajar bicara bahkan sampai mencatat kosa kata yang diketahui mereka. Se-gabut rajin itu . 

Lalu datanglah masanya emak ini mengenal internet. Ucapkan selamat tinggal pada kertas, pena dan dunia corat coret.  
Pertama tahu dunia tulis menulis dapat dilakukan secara daring, ketika jamannya Multiply. Apa yang sebelumnya tertulis rahasia di diari, kemudian diolah menjadi cerita yang boleh dibaca dan dikomentari teman-teman. Maka, era sahabat pena pun beralih ke sahabat maya. Jalinan pertemanan terasa erat meskipun tanpa kopi darat. Bahkan kalau yang sering berkunjung blog / blog walking, akan saling hafal nama anak-anak sekaligus kisah tumbuh kembangnya. 
Karena waktu itu anak-anak masih kecil, biasanya aku menulis di malam hari ketika anak-anak sudah tidur dan blogwalking di siang hari saat istirahat kantor, sambil makan, sambil memerah ASI . Hingga tiba saat kiamat untuk multiply, menulis pun pindahan ke blogspot. Masih bertahan hingga sekarang.

Dari kebiasaan menulis diari sejak anak-anak hingga kini menulis di media sosial/blog, maka kalau ngobrolin kapan best time untuk menulis, aku bisa rangkum sebagai berikut :

1. Menulis saat kepala terasa penuh. 
Menulis itu seperti mengurai kegelisahan. Ketika kepala penuh oleh berbagai macam hal, mungkin kalau anak sekarang bilang 'over thingking' maka menuliskan apa yang ada di kepala kita itu menurutku akan menjadi saat terbaik untuk menulis. Rasanya akan sangat-sangat ringan setelah berhasil menuliskan. Aku menggambarkan  ini tuh seperti adegan Dumbledor mengambil  'isi kepala'nya menggunakan tongkat dan menyimpannya didalam kuali eh kuali apa guci ya.. ada yang inget adegan ini di Harry Potter seri berapa ? haha.. ya itu .. saat kepala penuh. Keluarkan dalam bentuk tulisan.

2. Menulis saat ada 'dead line'
Deadline apapun itu. Entah tugas menulis di kampus, tugas laporan di kantor, tulisan untuk lomba, termasuk juga tulisan tema yang diminta komunitas. Jadi komunitas itu memang support banget ya untuk kebiasaan menulis (ku).  Entah kenapa, kalau sudah mendekati deadline biasanya ide-ide mengalir deras. Sampai-sampai muncul istilah "the power of kepepet" dari kondisi seperti ini.

3. Menulis saat setelah mendapatkan pengalaman/pengetahuan baru.
Misalnya kita usai mengikuti suatu majelis ilmu, usai baca buku, menamatkan film ataupun berkunjung ke suatu tempat, maka menuliskan kembali apa yang kita dengar dan kita lihat sebelumnya, akan menjadi sebuah sajian yang bukan saja memperpanjang ingatan, tetapi bisa jadi akan menjadi kenangan atau bahkan data di masa depan. 
Yang aku alami pernah ya, di salah satu isian data pribadi anak, ditanya anak pernah sakit apa saja,dan kapan. pernah dirawat di RS apa enggak, nah ternyata jawabannya aku temukan di blog. Padahal waktu menuliskan itu, ya nggak sengaja buat dipakai nanti, tapi ternyata bermanfaat di kemudian hari.

4. Menulis saat mendapatkan hikmah dari suatu kejadian
Nah kalau ini sih semacam refleksi gitu ya.. ada kejadian apa, terus kita mendapatkan apa dari kejadian tersebut. Misal pernah berbuat kesalahan, pelajaran apa yang didapatkan dari kesalahan itu, dan next kita akan melakukan apa supaya tidak terulang lagi kesalahan tersebut. Hal ini kurasakan sebagai release emosi juga sih.. Menerima kenyataan bahwa kita tidak sempurna. Bahwa terkadang kita tidak baik-baik saja. Tapi memang gitu kan kodrat perjalanan manusia. Selalu akan ada ujian. 
Eh tapi ini gak melulu nulis kejadian yang sedih sedih ya..Momen keseruan bersama anak-anak atau tingkah lucu mereka, akan jadi kenangan indah saat mereka dewasa. Atau bisa juga kejadian yang menggembirakan. Pencapaian-pencapaian yang didapat dan apa yang telah dilakukan untuk itu. Siapa tahu ini akan menjadi ilmu tacit yang bermanfaat untuk orang lain. Ya kan ?

Kayaknya sih segitu dulu ya best time untuk menulis versi aku. Silakan teman-teman dapat menambahkan .. tentu aku akan senang hati menerimanya..


 

Minggu, 25 Juni 2023

Fashion = Passion ?

Apa itu  fashion ?

Apa yang pertama kali terbayang ketika membaca kata 'fashion' ? Pakaian, baju. Iya sama banget. Aku juga selalu mikirnya kalau fashion itu soal pakaian.  Aku sempat mencari di KBBI tapi tidak menemukan kata tsb. Jadi cari ke Wikipedia. Apa katanya ?

Fashion is a form of self-expression with a specific context, such as time, place and purpose. Example of these are clothing, footwear, lifestyle, accessories, makeup, hairstyle, and body posture.

Ternyata oh ternyata, fashion adalah bentuk self expression dalam konteks yang spesifik,seperti waktu, tempat, ataupun maksud tertentu. Fashion meliputi pakaian, alas kaki, gaya hidup, aksesoris, make up, gaya rambut dan postur tubuh.  Jadi ternyata fashion itu sangat luas cakupannya ya.. dan pakaian dan sepatu hanya sebagian kecilnya saja.


Aku suka  fashion 

Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, sempat menyukai gambar menggambar model pakaian. Pakai blocnote bikinan sendiri dari kertas bekas yang dibawakan Bapak dari kantor. Aku seneng banget ketika gambarku ada yang diapresiasi oleh ibu dengan membuatnya menjadi nyata dalam bentuk karya. Ibu membuatkan tiga  dress untuk aku dan dua adik perempuanku, motif kainnya  sama tetapi modelnya beda beda sesuai gambar yang aku buat. Jangan bayangkan hasil karya tingkat tinggi, karena model yang kubuat hanya beda-beda tipis, di model kerah, model lengan dan lipitan-lipitan.  Tapi aku sudah seneng banget.  Masih ingat banget, kain dasar putih dengan motif  raket kecil-kecil berwarna-warni. 

Terus ketika aku agak besar sedikit, diajarin menjahit sama ibu. Aku mulai merombak-rombak baju, tempel sana sini, potong sana sini. Dan syukuuurrr... banget,.. nggak pernah aku dimarahin misal bajunya jadi nggak pantes dipakai. Eh tapi belum pernah sih, karena rombakannya hanya sederhana. Semacam memotong lengan panjang jadi lengan pendek, mengganti manset menjadi bentuk tali, menambahkan saku/kain polos di baju motif, dsb. Menjahit rok, menjahit blus sederhana, menjahit tas, mukena, dll. Mewarnai sepatu juga pernah. Dan hobby ngulik ini sesekali masih aku kerjakan. Rekam jejaknya ada di blog kreasi titi. 

Sekarang aku punya 3 anak gadis juga seperti ibuku. Ketiga anak gadis ini mempunyai gaya berpakaian yang berbeda-beda. Kalau dulu ketika kanak-kanak, baju Mbak dengan mudah dilungsurkan ke dua adiknya tanpa protes, kini dua gadis muda memilah lagi baju lungsuran kakak pertama. Kalau sesuai gaya mereka, ya diambil. Kalau nggak sesuai kadang dipakai umminya kadang disumbangkan. Kok dipakai Ummi ? iya..soalnya sudah hampir sama ukuran bajunya. Umminya ogah rugi. Bukan hanya tukang ngabisin makanan ya.. jadi tukang nampung lungsuran juga rupaya. Sekarang di rumah bisa tuh saling pinjam sepatu, tas, baju, kerudung,  tanpa mengubah style masing-masing. 

Jujurly, dari empat perempuan di rumah, sepertinya hanya aku yang semua gaya dicoba dan semua warna dipakai. Prinsipku dalam berpakaian sederhana saja : nyaman dan aman. 

Nyaman misalnya dari segi modelnya simpel, kainnya adem, warna bisa dikompromikan kalau dikasih, tapi kalau beli biasanya nggak jauh jauh dari warna gelap hehe

Aman dalam artian tidak melanggar ketentuan tentang aurat. tidak menyerupai laki-laki, tidak nerawang, tidak  sempit, dsb. 


Fashion = Passion

Apakah fashion menunjukkan passion (ketertarikan) ? Kata siapa ? Ini opiniku aja sih. Soalnya kata-katanya berima, dan sangat mirip bila dilafalkan dengan logat Sunda. 

Menurut pendapatku, bisa jadi fashion ini menggambarkan passion seseorang. Tentu bukan hal yang asing bagi para pecinta drakor, ketika mereka kemudian memakai fashion ala ala Korean Style. Dan di pasaran pun semakin banyak tersedia, artinya memang banyak permintaan kaan..

Atau misalnya kasus di rumahku, salah satu anak gadisku yang saat ini kuliah di kehutanan, gaya fashionnya perlahan-lahan bergeser ke pakaian yang lebih kasual, simpel, dan nggak banyak model semacam renda, lipit, dsb. Beda dengan anak pertama dan ketiga yang udah jadi pegawai kantoran. 


Fashion seperti apa yang paling cocok ?

Intinya menurutku sih, pilih gaya fashion yang membuat kita nyaman sekaligus  percaya diri ketika mengenakan itu. Karena ketika kita percaya diri dengan apa yang kita pakai, maka aura positifnya juga akan memancar ke sekitar (tsaah....) Dan tentunya sesuaikan juga apa yang kita pakai setiap kita akan kemana, bersama siapa, acara apa dan bertemu siapa. Contoh :

- seorang ibu lebih memilih tas punggung yang berfungsi seperti tas doraemon dan memakai baju yang simpel agar bisa bebas lari ketika dia pergi ke ruang publik membawa dua balita (siapa yang samaan ?).  

- memilih dress anggun ketika pergi kondangan 

- mengenakan pakaian formal ketika bertemu klien, dsb. 

Semua itu dimaksudkan agar tidak keluar dari norma-norma umum yang berlaku lingkungan kita, yang imbasnya bisa jadi akan memengaruhi interaksi kita dengan orang-orang di sekitar kita.