Menulis.
Gampang diucapkan, perlu latihan untuk melakukan. Setuju ?
Ya, menurutku, menulis ini soal kebiasaan. Hanya perlu latihan. Karena aku yakin pada dasarnya setiap orang bisa kok menulis. Terbukti kan kalau kita ngobrol sama temen melalui aplikasi chating, maka obrolan tersebut dapat dilakukan panjang lebar. Nah sebenarnya topik yang dibicarakan itu kan dapat disajikan dalam bentuk tulisan. Di sinilah kebiasaan itu akan memengaruhi warna tulisan seseorang.
Jaman sekitar tahun 80'an, sebelum dunia digital menyerbu, menulis diari banyak dilakukan untuk menyalurkan buah pikiran. Entah sedih, entah lucu, entah marah, semua dituangkan ke dalam diari. Apalagi ketika jatuh cinta, diari menjelma bak rubrik puisi. Sementara itu, di toko buku dan alat tulis pun, dijual bermacam-macam diari. Dari yang murah hingga yang sedikit mahal. Dari yang polos hingga yang bergambar. Dari yang tanpa aroma hingga yang kertasnya wangi. Suatu kebahagiaan tersendiri saat dapat memiliki diari yang ada kunci. Ada yang samaan ? Fiks kita udah tua haha
Kemudian setelah menginjak remaja, diari digantikan oleh buku agenda. Memuat jadwal kegiatan kita sekaligus ada ruang untuk mencurahkan perasaan. Aku biasa mengisinya saat sendirian. Entah di rumah, entah di perpustakaan. Rasanya plong sekali kalau sudah menulis di buku tersebut. Aku masih menulis di buku hingga anak ketiga lahir. Yang tadinya lebih banyak menulis curhat galau ala remaja, agenda berubah isi menjadi catatan tumbuh kembang anak. Kapan anak sakit, ke dokter mana, dikasih obat apa, kapan anak belajar bicara bahkan sampai mencatat kosa kata yang diketahui mereka. Se-gabut rajin itu .
Lalu datanglah masanya emak ini mengenal internet. Ucapkan selamat tinggal pada kertas, pena dan dunia corat coret.
Pertama tahu dunia tulis menulis dapat dilakukan secara daring, ketika jamannya Multiply. Apa yang sebelumnya tertulis rahasia di diari, kemudian diolah menjadi cerita yang boleh dibaca dan dikomentari teman-teman. Maka, era sahabat pena pun beralih ke sahabat maya. Jalinan pertemanan terasa erat meskipun tanpa kopi darat. Bahkan kalau yang sering berkunjung blog / blog walking, akan saling hafal nama anak-anak sekaligus kisah tumbuh kembangnya.
Karena waktu itu anak-anak masih kecil, biasanya aku menulis di malam hari ketika anak-anak sudah tidur dan blogwalking di siang hari saat istirahat kantor, sambil makan, sambil memerah ASI . Hingga tiba saat kiamat untuk multiply, menulis pun pindahan ke blogspot. Masih bertahan hingga sekarang.
Dari kebiasaan menulis diari sejak anak-anak hingga kini menulis di media sosial/blog, maka kalau ngobrolin kapan best time untuk menulis, aku bisa rangkum sebagai berikut :
1. Menulis saat kepala terasa penuh.
Menulis itu seperti mengurai kegelisahan. Ketika kepala penuh oleh berbagai macam hal, mungkin kalau anak sekarang bilang 'over thingking' maka menuliskan apa yang ada di kepala kita itu menurutku akan menjadi saat terbaik untuk menulis. Rasanya akan sangat-sangat ringan setelah berhasil menuliskan. Aku menggambarkan ini tuh seperti adegan Dumbledor mengambil 'isi kepala'nya menggunakan tongkat dan menyimpannya didalam kuali eh kuali apa guci ya.. ada yang inget adegan ini di Harry Potter seri berapa ? haha.. ya itu .. saat kepala penuh. Keluarkan dalam bentuk tulisan.
2. Menulis saat ada 'dead line'
Deadline apapun itu. Entah tugas menulis di kampus, tugas laporan di kantor, tulisan untuk lomba, termasuk juga tulisan tema yang diminta komunitas. Jadi komunitas itu memang support banget ya untuk kebiasaan menulis (ku). Entah kenapa, kalau sudah mendekati deadline biasanya ide-ide mengalir deras. Sampai-sampai muncul istilah "the power of kepepet" dari kondisi seperti ini.
3. Menulis saat setelah mendapatkan pengalaman/pengetahuan baru.
Misalnya kita usai mengikuti suatu majelis ilmu, usai baca buku, menamatkan film ataupun berkunjung ke suatu tempat, maka menuliskan kembali apa yang kita dengar dan kita lihat sebelumnya, akan menjadi sebuah sajian yang bukan saja memperpanjang ingatan, tetapi bisa jadi akan menjadi kenangan atau bahkan data di masa depan.
Yang aku alami pernah ya, di salah satu isian data pribadi anak, ditanya anak pernah sakit apa saja,dan kapan. pernah dirawat di RS apa enggak, nah ternyata jawabannya aku temukan di blog. Padahal waktu menuliskan itu, ya nggak sengaja buat dipakai nanti, tapi ternyata bermanfaat di kemudian hari.
4. Menulis saat mendapatkan hikmah dari suatu kejadian
Nah kalau ini sih semacam refleksi gitu ya.. ada kejadian apa, terus kita mendapatkan apa dari kejadian tersebut. Misal pernah berbuat kesalahan, pelajaran apa yang didapatkan dari kesalahan itu, dan next kita akan melakukan apa supaya tidak terulang lagi kesalahan tersebut. Hal ini kurasakan sebagai release emosi juga sih.. Menerima kenyataan bahwa kita tidak sempurna. Bahwa terkadang kita tidak baik-baik saja. Tapi memang gitu kan kodrat perjalanan manusia. Selalu akan ada ujian.
Eh tapi ini gak melulu nulis kejadian yang sedih sedih ya..Momen keseruan bersama anak-anak atau tingkah lucu mereka, akan jadi kenangan indah saat mereka dewasa. Atau bisa juga kejadian yang menggembirakan. Pencapaian-pencapaian yang didapat dan apa yang telah dilakukan untuk itu. Siapa tahu ini akan menjadi ilmu tacit yang bermanfaat untuk orang lain. Ya kan ?
Kayaknya sih segitu dulu ya best time untuk menulis versi aku. Silakan teman-teman dapat menambahkan .. tentu aku akan senang hati menerimanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.