Long weekend kemarin aku sempat jalan sama temenku cari kado. Kado ini diperuntukkan buat salah seorang sahabat yang dulu bareng-bareng tugas di front office pas ngantor di dekat BEC. Sepulang mencari kado ini, aku dianterin pulang. Kebetulan di mulut gang yang menuju rumahku, ada warung bakso baru, jadi kami mampir makan bakso dulu. Hitung-hitung sebagai pengganti kalori yang kami keluarkan saat berkeliling dari toko ke toko tadi.
Usai makan bakso, aku melihat antrian tukang ojek yang sangat panjang. Iseng aku memberi kode ke antrian terdepan kalau aku mau naik. Sebenernya jarak dari depan ke rumahku ini tidak terlalu jauh. Tapi kupikir ya udahlah sesekali naik ojek. Toh udah lama juga aku nggak naik ojek pangkalan.
Nah pas aku turun terus aku bayar, aku kaget ya.. si Mang ojeknya marah.
"Saya rugi udah ngantri lama tapi ternyata nganternya dekat" katanya.
Whaaat ?
"Bapak rugi apa ?" tanyaku menahan diri.
"Ya rugi, kan antrinya lama, tapi nganternya cuman sebentar" keukeuhnya
"Bukannya bapak untung ya, bensinnya keluar dikit, terus bisa segera balik dan mengantri lagi. Kan walaupun dekat saya bayarnya sesuai tarif yang jauh" kataku.
"Rugi, Bu.. nanti ngantrinya lama lagi. Kalau dekat mending jalan kaki aja" katanya sambil pergi.
Aku bengong nggak habis pikir, cara berhitungnya bapak itu gimana ya.. Tapi ya sudahlah.. mungkin memang cara berhitung kami berbeda. wkwkwk.
Itu kan aku turun di jalan ya.. karena aku mau belanja dulu. Usai belanja aku penasaran pengen tahu mindset tukang ojek yang lain gimana. Sengaja aku berdiri di pinggir jalan. Menunggu tukang ojek yang lewat. Tak lama kemudian ada tukang ojek yang mangkal di pinggir jalan menawariku.
"Nggak papa saya naiknya dekat ?"
"Oh ngga papa Bu.. mangga dijajap (Silakan, diantar) Kunaon kitu Bu " Mangnya bertanya balik.
"Tadi saya diomelin sama ojek yang sebelum Bapak, katanya rugi kalau saya naiknya cuman dekat aja. Padahal saya kan bayar sesuai tarif." curcolku.
"Waah.. yang mana orangnya Bu, Ibu nandain orangnya nggak ? atau motornya ?" Oh iya bener ya, tadi nggak kepikiran nandain motornya..
"Nggak Pak, saya nggak inget yang mana motornya.."
"Yah Bu.. memang ya begitulah yang di sana mah.. nggak tau kenapa, ribut terus ...
Lalu aku lanjut wawancara Bapak Ojek.
"Bapak kenapa nggak mangkal di depan ?" tanyaku ingin tahu.
"Males ah Bu di sana, banyak banget orang. Apalagi libur gini, sepi, nggak ada anak sekolah" kata Bapaknya.
"Emang kalau bapak di tempat tadi, ada penumpang ?"
"Ya ada aja Bu...kalau udah rezeki mah, seperti Ibu ini.." (dalam hati aku salut sama Bapak yang sellow gini nih.. prinsipnya hampir mirip sama aku)
"Iya si ya Pak..." aku menyepakati.
Tak lama kemudian aku sampai di rumah, Bapak ojek kubayar sesuai tarif, bilang makasihnya sampai beberapa kali. Duh aku jadi dapat insight dari peristiwa tadi.
Ternyata niat baik tidak selalu ditanggapi dengan baik. Niat aku menjadi 'penumpang' buat mang Ojek, biar bisa ngurangin antrian mereka, eh.. disikapi lain. Ya tarik nafas aja.. memang begitulah dunia nyata kali ya.
Kondisi fisik yang lelah dan jenuh, dapat memicu kemarahan. yang mungkin justru terlepas ke orang yang nggak tahu apa-apa kayak aku.
Bersyukur.. dan pasrah.. membuat sellow dalam menyikapi dan menjalani tantangan kehidupan.
Sampai rumah aku cerita pengalamanku ke anak gadis. Malah dia kasih tips, "Ummi jangan naik dari pangkalan ojek yang itu, cari aja yang sebelum atau sesudahnya" Okey. akupun penasaran lihat google map. Oh ternyata yang kecewa bukan aku aja haha

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.