Tampilkan postingan dengan label serieus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serieus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2024

Menghadiri Resepsi di Malam Hari

Menghadiri undangan resepsi pernikahan di malam hariadalah pemgalaman baru bagiku. Aku bisa dikata nggak pernah keluar malam, udah kayak anak ayam aja kaan... Kalau pagi keluar dari kandang, lalu pulamg sebelum gelap tiba. 

Makanya, ketika datang undangan dari tetangga untuk acara malam, aku sedikit bingung juga. 

Akupun segera mencari referensi. Dan aku mendapatkannya di website Parapuan

Menurut referensi yang aku baca tadi, ada beberapa warna gaun yang dapat dipilih untuk acara resepsi malam hari, yaitu:

  1. Hitam plus aksesoris warna emas

Pilihan warna pertama ini akan membuat penampilan menjadi stunning dan juga memberikan kesan langsing. 

  1. Putih

pilihan warna putih, akan memberikan kesan classy.  Lebih baik memilih yang disainnya tidak terlalu ramai

  1. Merah / maroon

Wamenonjolkanrna merah akan langsung  pemakainya. Kalaumenghendaki yang lebih kalem, bisa dicoba warna merah marun yang elegan

  1. Lavender/plum.

Di sini warna yang disarankan adalah keunguan. Ini akan menampakkan citra elegan. 

Setelah mencari rujukan gaun, aku juga mencari rujukan warna sepatu. Dari sumber yang aku baca warna sepatu yang direkomendasikan adalah :

  1. Hitam, karena hitam bisa masuk ke warna gaun mana aja. 

  2. Silver, katanya lebih cocok untuk yang tone kulitmya terang

  3. Gold / emas

Warna gold juga netral sih, tapi aku juga nggak punya. 

Yang nggak bisa ditinggal saat seorang perempuan bepergian pasti tas ya… 

Kalau mengacu pada warna gaun dan sepatu, pastilah warna tas juga nggak akan jauh dari itu. Fiks kaan… 

Kesimpulannya kalau misal budget terbatas, biar nggak bingung-bingung maka minimal kita punya tas dan sepatu kondangan warna hitam atau warna gold biar lebih mudah dipadu padan. 

Setelah urusan pakaian, tas dan sepatu kelar, aku masih mikirin juga perjalanan pulang perginya bagaimana. 

Kebetulan pas aku lagi nyapu halaman, tetangga sebelah lewat. Dia menanyakan aku berangkat kondangan apa enggak. 

Karen aku masih bingung jalan naik apa, aku balik bertanya dia sama siapa dan naik apa. 

Alhamdulillah ternyata ada barengannya… Beberapa ibu ikut menumpang kendaraan miliknya. Karena masih ada space kosong aku ditawari ikut. Tentu saja aku sambut dengan suka cita. 

So, here I am.. Pergi kondangan di malam hari for the first time. 

Karena aku lupa foto-foto, aku kasih tau aja lokasinya yaa






Jumat, 22 Maret 2024

Lakukan 3 Hal ini Agar Puasamu Tenang

Pada kesempatan ini aku akan menuliskan catatan kajian yang disampaikan oleh Dr. Thyazen Abdo Hizam Alhakimi melalui kelas daring. Pertama beliau mengajak kita semua untuk bersyukr, karena kita semua berkesempatan ketemu dengan ramadhan. Kesempatan untuk mendapat pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala di bulan yang penuh rahmat ini. 

Ketika memasuki bulan Ramadhan hendaklah kita sudah tidak mempunyai perselisihan ataupun masih ada permusuhan antara dirinya dan orang lain. Karena Ini akan merusak kebaikan kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadhan. Ketika tidak ada lagi perselisihan maka kita akan beribadah dengan damai dan tenang. Inilah perlunya kita membersihkan hati agar kita dapat mengoptimalkan ibadah di sisa ramadhan ini. 

Siapakah orang lain itu ?

1. Kedua orang tua. 

Orang- orang yang mendurhakai orang tuanya maka ibadahnya tidak akan diterima. Meskipun dia rajin membaca al-quran, rajin berinfak sampai habis satu juta dua juta per hari, rajin menghidupkan malam hari, niscaya tidak sempurna puasanya selagi masih ada masalah dengan orang tua. 

Sebaliknya dengan berbakti kepada orang tua niscaya pahalanya besar disisi Allah.

Meskipun kedudukan sang anak yang tinggi,  jabatan kita sudah sangat mulia, ilmunya  sudah sangat luas, hartanya sangat banyak dan kaya raya, tetap haru memuliakan orang tua. 


2. Pasangan kita baik suami / istri

Seorang istri wajib meminta ridho kepada suaminya, dan  seorang suami juga wajib memberikah hak-hak terhadap istrinya. 

arrijalu qawwamuna Alan-nisa. Laki laki itu pemimpin atas wanita. Sehingga istri yang soleha itu yang menjadikan suaminya adalah yang utama dalam hidup setelah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan RasulNya. Demikian juga seorang suami wajib  membahagiakan istrinya. 

Memberikan rasa secure kepada istrinya. Sudah sifat manusia takut masa depan, takut kehiilangan, takut tidak aman dsb. Nah kebutuhan keamanan ini wajib diberikan oleh suami. 

Jaga jangan sampai saling menceritakan aib dan kekurangan kepada orang lain, seorang istri yang menceritakan aib dan kekurangan suaminya kepada orang lain atau sebaliknya, ini membuat rasa tidak aman. 

Suami istri juga wajib menjaga rasa percaya dan menjaga kesetiaan diantara mereka berdua

3. Terhadap saudaranya.

Lapangkan dada dan bersihkan dari sifat iri hati, dengki, dsb. Orang yang berlapang dada ini tentu tidak mudah alias berat. Apalagi terhadap orang lain yang sudah menyakiti perasaan kita atau sudah mengambil hak kita.

Allah Subhanahu Wa Ta'Ala menurunkan kitabNya dan memerintahkan kita untuk memaafkan orang lain dan tentu juga meminta maaf kepada orang lain. Kemuliaan atau harga diri itu bukan saat seseorang merasa sombong terhadap orang lain. Sama sekali bukan, bahkan Rasulullah menjelaskan tentang orang sombong itu tidak akan pernah masuk surga masuk surga. 

Mari kita melihatnya di dalam diri kita, segera kita perbaiki diri membersihkan hati kita dari meremehkan orang lain 

Rendah hatilah kepada saudaranya. Karena orang orang yang rendah hati ini akan disayangi oleh orang orang di sekelilingnya.

Sekali lagi mari jalani sisa ramadan dengan membersihkan hati kita dari penyakit hati baik terhadap orang tua, pasangan kita dan keluarga, juga dengan saudara-saudara kita, supaya amal saleh yang kita lakukan di bulan ramadhan ini dapat diterima oleh Allah SWT. 

Wallahu alam bish showab. 

Kamis, 21 Maret 2024

Menghafal Al Quran dengan Cara Mudah

 Beberapa hari yang lalu aku berkesempatan mengikuti sebuah kelas online tentang menghafal al Quran. Di antara kita mungkin sudah sering mendengar atau membaca tentang hal ini. Tetapi seiring waktu yang berjalan, sering karena berbagai kesibukan membuat fokus menjadi terbelah. 

Ketika saatnya mengurus rumah, disibukkan dengan pekerjaan rumah. Di kantor, disibukkan oleh pekerjaan kantor. Akhir pekan, memilih berleha-leha. Itu yang aku rasakan ya..

Menurut Ustadz KH Hery Saparjan Mursi, Al Hafiz, ada cara untuk menghafal al Quran yang paling ringan. Berikut adalah tips dari beliau.

1. Luruskan Niat

Ini adalah landasan sebuah amal ibadah. Niat menghafal karena Allah semata. Bukan karena selain-Nya. Janji Allah di dalam Al Quran bahwa Dia akan memudahkan manusia untuk mengingat atau menghafal Al Quran. Di dalam surat Al Qomar, Allah mengulang ayat-Nya hingga empat kali.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sungguh telah Kami mudahkan Al Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?


2. Menggunakan Metode yang sesuai dengan potensi dirinya

Setiap manusia, Allah berikan kemudahan untuk menghafal sesuai dengan potensi dirinya sesuai dengan gaya belajarnya. Ada yang mendengarkan dahulu untuk menghafal. Ada yang lebih mudah ketika sambil menggerakan anggota badan (type belajar secara kinestetik) atau ada juga yang dengan membaca ayat terlebih dahulu. Mungkin kita mendengar ada orang yang punya kemampuan semacam Ustadz Adi Hidayat, yang dapat mengingat letak ayat di sisi kanan atau kiri di atas atau di bawah seperti itu. Atau ada juga yang dengan membaca artinya terlebih dahulu. Yuk kita cari potensi kita di mana lalu optimalkan.


3. Meluangkan waktu bukan mencari waktu luang

Kesibukan manusia yang begitu banyak, membuat dia susah mencari waktu luang. Ketika menghafal al Quran tidak diprioritaskan, akhirnya ya tidak ada waktu. Berbeda dengan orang yang meluangkan waktu. Menyediakan waktu secara konsisten setiap harinya, misalnya pagi, atau malam sebelum tidur, niscaya dia selalu ada waktu bersama Al Quran


4. Mencari Partner menghafal, baik itu guru maupun teman

Mengapa perlu partner ataupun guru? Karena dalam menghafal itu perlu ada yang mengoreksi bacaan kita. Dengan adanya partner yang mendengarkan dan mengoreksi bacaan yang salah, maka menjadikan hafalan semakin kuat dan juga berkualitas.


5. Disiplin untuk memurojah hafalan lama

Menjadi penghafal al quran bukan hanya tentang menambah jumlah hafalan, tetapi juga menjaga hafalan agar senantiasa menetap di dalam dada  Sehingga perlu untuk mengulang -ulang selalu ayat ayat yang telah dihafalkan. Misal memakainya di dalam sholat. Ataupun ada waktu khusus untuk murojaah.


Ustadz mengajarkan doa untuk dimudahkan dalam menghafal dan agar selalu bersama Al Quran

Allahumma a'innii 'aaa hifzhi Kitabikal kariim

Ya Allah tolong bantu hamba untuk menghafalkan ayat-ayatMu yang mulia


Allaahummarzuqna istiqomah ma'al quran

Ya Allah rizkikan pada hamba keistiqomahan bersama al Quran.


Wallahu alam bishshowab. 

Kamis, 29 Februari 2024

Berbagai Modus Penipuan (Bagian 2)

 Sebelum melanjutkan, baca dulu 

Berbagai Modus Penipuan (Bagian 1)


5. Mengajak Review Google Maps

Ini sih masih "rada mendingan" menurutku. Jadi dia ngajak aku mengulas di google map, yang mana itu udah aku lakukan. Terus nanti setiap satu ulasan dia akan bayar kita Rp.10.000 (iya sepuluh ribu rupiah).

Sebagai Google Local Guide aku sudah mencium aroma mencurigakan nih.

Aku tanya balik, ini mengulas beneran apa bohongan? kalau beneran aku mau, kalau bohongan aku nggak mau. S dan K nya apa?

Katanya ulasan beneran, nanti aku tinggal mengulas suatu tempat, terus nanti kirim tangkapan layarnya ke dia bahwa aku sudah mengulas tempat tersebut.

Ok sampai sini masih masuk akal. terus aku tanya lagi, tempatnya ditentukan atau aku pilih sendiri?

Kata dia ditentukan. Nanti mereka kirim foto aku tinggal review.

Yah, itu namanya ulasan bohongan dong, kataku. Bukannya dilarang sama Google ya..

Terus krik-krik dia menghilang..

Pas aku berselancar di dunia maya, aku cari modus penipuan ini ternyata ada. Jadi nanti setelah dia lihat akun google kita, dia minta kan nomor rekening kita utk ia transfer honor itu, nah dari situ dia bisa mengakses isi rekening kita. 


6. Mengajak Like dan subscribe di youtube.

Ini juga lewat telepon. Katanya aku diminta nonton youtube aja nanti like dan subscribe terus aku dapat uang. Yah.. sekali lagi ini nggak riil buat aku yang emang nggak suka nonton dan kedua emang nggak ada waktu. Jadi langsung kujawab, terima kasih mohon maaf saya ibu rumah tangga udah banyak kerjaan di rumah, nggak sempat nonton youtube. beres 


7. Modus Kiriman Ditolak

Ini aku dapat lewat telepon. Memang aku sering mengangkat nomor tidak dikenal ya sodara-sodara. Karena anak bujangku ada yang di luar kota dan kalau nelpon dari wartel, pakainya nomor GSM yang berubah-ubah. udah disimpan wartel-wartel sampai banyak. 

Pas kuangkat nomornya, terdengar suara mbak-mbak resepsionis gitu. Katanya dari kantor pos mau bicara terkait kiriman aku. Oke,sampai sini masih bisa aku terima karena kan resellerku kalau kirim ke luar kota sering ditulis namaku sama admin. sebenernya ini auto sih dari sistem.

Terus yang bicara dialihkan ke mas-mas yang suaranya asli empuk banget. sopan.. menanyakan apakah ini dengan ibu Titi? iya.

Dalam catatan kami ada kiriman ibu yang tidak dapat kami kirimkan karena tidak memenuhi ketentuan.

oh ya kenapa? tanyaku. Aku udah mikir ini apa reseller kirim madu, atau kirim jeniper.. udah mikirnya cairan nih. soalnya pernah tuh ke kalimantan kirim beginian ditolak pakai kilat khusus, akhirnya pakai jalan kapal laut.

Dalam paket Ibu, ini kami temukan ATM, buku rekening, dan sejumlah uang (ah udah mulai ngarang nih.. dalam hati)

Kalau boleh tahu penerimanya siapa Pak? atas nama bapak XYZ

Pengiriman dari kota mana ? Pekanbaru katanya

Wah bapak bercanda ya Pak.. Orang saya aja tinggalnya di Jawa Barat. Berapa nomor telepon penerima Pak ?

0812.... tuuuuuut... Terus akhirnya dia putusin sendiri.


8. Modus Sebagai Penadah

Ini mah dialami sama sahabatku sendiri. Kebetulan suaminya dinas di luar kota, dan beliau tinggal dengan anak-anak yang kebetulan kok ya cewek semua. Jadi serumah anak cewek. Kejadiannya pagi hari ketika suasana komplek agak sepi. Dan rumahnya juga menghadap batas komplek sih, jadi sebrang jalan depan rumahnya itu udah tembok pembatas.

Tiba-tiba pintu diketok oleh tamu. Tamunya dua orang laki-laki, satunya lebih tua. Karena di rumah nggak ada laki-laki, temenku cuman menyembulkan kepala dari balik pintu. Kemudian bapak - bapak itu menanyakan : 

"apakah ini rumah nona  abc ?" (menyebut nama anak pertama yang sudah gadis). 

"Iya betul" kata temenku 

"Kami dari kepolisian, mendapatkan info bahwa putri ibu menjadi penadah barang curian berupa iphone 13"

"Maaf Pak, saya tidak bukain pintu yah. Kalau bapak dari kepolisian silakan ke sini lagi sama satpam komplek atau pak RT"

Eh bener dong dua orang itu balik lagi sambil bawa satpam kompleks

Terus si bapak yang mengaku aparat tadi bilang bahwa imei HP nona abc ini sama dengan imei hape yang dilaporkan hilang. Di sini agak janggal. Temenku beli hape dari 2021 dalam kondisi baru. Masih ada kotak dan notanya. Terus laporan kehilangan itu di tahun tahun 2023. 

Temenku itu telpon suaminya dan suaminya itu yang ngomong sama dua orang yang ngaku polisi itu. 

Terus imei hp nona abc ini di cek, dan apa hasilnya? Ternyata imeinya nggak sama dong. Cuman beda dua angka yang paling belakang. 

Ya ampun.. udah panik banget pasti kalau aku mah.. tapi alhamdulillah meski deg-deg an temenku itu tetap tenang. 

Udah kebayang ya kalau panik, pasti hape disita sebagai barang bukti. Mungkin plus uang damai. Udah gitu nggak tau yang datang siapa..

Itu ya teman teman berbagai modus penipuan yang saat ini sedang marak. Menurutku, kunci dari semua itu adalah literasi. Ikuti perkembangan zaman. Ikutin berita supaya tahu apa yang terjadi di luar sana. Bye..


Rabu, 28 Februari 2024

Berbagai Modus Penipuan (Bagian 1)

Teknologi semakin maju dan orang pun semakin kreatif. Berbagai cara dipergunakan untuk mencari penghasilan. Sayang sekali ada saja yang tidak peduli dengan halal-haram. Semua diterjang demi perut kenyang. Tak peduli harta orang lain hilang atau melayang.
Beberapa modus penipuan yang kudapati dari pengalaman pribadi maupun keluarga/teman antara lain :
1. Mengaku dari Instansi tertentu
Mungkin modus undangan nikah sudah nggak laku ya..hari ini di WAG keluarga beredar pesan penipuan berupa pemberitahuan yang mengatasnamakan instansi tempat kerjaku. Sebagai orang yang ada di dalam ya aku dapat membedakan lah ya.. mana surat beneran mana yang palsu. Terkadang dari Kop surat dan nomor surat juga sudah terlihat. Atau dari model stempel. Sesimpel itu.

surat penipuan

2. Mengaku dari bank tertentu
Kejadian ini aku alami sendiri. Kadang aku berpikir itu orang orang dapat nomor telepon kita dari mana sih. Kenapa banyak sekali yang tiba-tiba mengirim pesan ke nomor whatsapp kita. Jadi beberapa hari lalu aku terima pesan, isinya seperti ajakan mengisi survey dari sebuah bank swasta. 
Sayang seribu sayang, masih dalam lindungan Allah, aku nggak punya tabungan di bank tersebut. Sedangkan dia menyapaku dengan sebutan : Yth. Nasabah Bank XXX.
Sontak aku menjawab dengan sedikit iseng : "Ngarang ih, orang saya aja gak punya rekening di bank tsb"  
Langsung aku blokir dan laporkan sebagai Spam.




3. Mengaku dari Market Place tertentu
Yang ini sih sudah beberapa kali. Modusnya seolah-olah aku mendapat hadiah dari marketplace. Sebut saja si oren. Ya kan kebetulan aku nggak punya akun si oren itu. Jadi ya langsung aku blokir dan laporkan juga.

4. Mengajak Bisnis
Yang ini sih aku asli gabut banget karena melayani sampai ketemuan. Jadi ceritanya ada nomor tidak dikenal menelponku. Nanya, Mbak Titi apa kabar? Gitu-gitu lah.. seolah-olah dia itu temanku. Sedangkan aku memang orangnya agak pelupa, jadi ya  iya iya aja. Singkat kata dia ngajak ketemuan buat menawarkan bisnis, terus nanya alamat kantor.
Wew siapa yang mau kasih lah. Aku arahkan dia ke sebuah cafe dekat kantor dengan jam pertemuan sepulang kantor. Eh datang dong dia dari daerah pasir kaliki bela belain. yang mana itu jauh dan macet.
Terus dia presentasi ini dan itu.. intinya menawarkan investasi sekian ratus juta, dengan return yang fantastis. 
Sebagai orang yang udah terjun di bisnis "sektor riil" alias agen kurma yang barangnya ada dan labanya keliatan bangsa 5rb -10rb, dalam hati aku ketawa aja sih dapat tawaran itu.
Karena dua mbak-mbak ini juga sopan, aku pun menolak dengan sopan juga. "maaf ya mbak, aku ibu rumah tangga nggak ada uang sebanyak itu" 
Terus si nama perusahaannya itu aku cek nomor NPWP-nya, ternyata tidak terdaftar. Ya salaam.. nggak mungkin kan ya perusahaan sebesar itu nggak memiliki NPWP. Udah jelas banget ini mah nepu.
Bersambung...


Rabu, 26 Maret 2014

Obrolan Politikus (nerusin Obrolan Pelacur)

Sebelum ini aku cerita tentang orang yang nggak percaya mekanisme demokrasi. Dia memilih golput dan revolusi.
Ceritanya ada di sini.

Demokrasi itu katanya kekuasaan di tangan rakyat. Ya kalau pengen hasil demokrasi bagus, ya bagusin dulu rakyatnya. Asal tau saja korupsi itu bukan milik pejabat. Korupsi itu sekarang milik rakyat juga. Berapa tahun lalu pernah ikut pelatihannya BIG. Lha itu rakyat yang tiba-tiba ngaku miskin biar dapet jamkeskin dan lain-lainnya apa namanya gak korupsi ? Jelas-jelas dia gak berhak.
Oke ya... jadii.. kalau mau hasil demokrasi baik yuuuk kita baikin dulu rakyatnya. Aku pernah cerita bagaimana kita mengambil peran dalam upaya perbaikan itu di postingan yang ini.

Nah sekarang, penyelenggara negara atau yang pegang tampuk pemerintahan itu siapa sih ? Kalau pas jaman masih suka cerdas cermat P4 (jiaah... ketauan lahir jaman kapan) mah eksekutif (presiden dan jajarannya ke bawah, termasuk LPND dan pegawai di luar negeri), legislatif (MPR yang terdiri dari DPR dan perwakilan daerah/golongan, sekarang DPD), dan yudikatif (Mahkamah Agung, sekarang ada KY dan MK). Jaman reformasi nambah inspektif yaitu BPK.
Kalau di daerah pemerintahnya adalah Gubernur/Walikota/Bupati pleus DPRD.

Kesimpulannya kalau aku pe en es, ya   aku ini bagian dari pemerintahan. Kalau coba-coba nuding pemerintah belum becus ngurus negara ya sama aja nuding diri sendiri hiks. Sedih nggak siih...
Trus kalau dibilang anggota dewan pada korupsi ?
Yaelah..... musti flash back deh ke lima tahun lalu.  Dulu yang kita pilih siapa ? Atau lima tahun lalu, kita milih atau enggak ?
Klo salah pilih, ya tahun ini mestinya move on.
Kalau nggak milih ? ya nggak usah komenin ... hehe.. cukup menonton aja.*ini kata sondang*
Atau kalo sampai saat ini gak percaya ada caleg yang bisa dipercaya, ya coba aja nyalonin diri sendiri jadi caleg (kalau berani) xixixi.
Menurutku Aleg ini penting, karena mereka yang bakal ngatur2 kehidupan kita 5 tahun ke depan. Semua RUU harus disetujui mereka agar jadi UU. Biar dikata RUU baik macam yang anti pornografi itu, panjaaaaang sekali perjuangannya.
Di level daerah, bikin perda harus disetujuin mereka.
So sebaiknya kita memilih caleg yang kita kenal. Atau caleg yang direkomendasikan oleh orang yang kita percaya. Dengan kata lain pakai jalur 'temennya temen' .
Atau kita kenali mereka. Kan promonya banyak tuh,  sepanjang jalan. Follow dan stalking akun2 socmed mereka. Kepoin tuh, aktivitas mereka kepoin juga rekam jejaknya bila memungkinkan.
Ya kalau nyari yang sempurna gak bakalan ada. Seperti kita nyari jodoh dulu. Meski kita tahu suami kita gak sempurna, tapi karena dia baik, dan cucok ama kita, ya kita terima buat teman seumur hidup -insya Allah.

Trus kalau gak milih emang kenapa ?

Kan kita awalnya ngomongin uang pajak  ni ya.. kalau nggak milih, sayang uang pajak kita *yaelah kembali ke pajak* yang sudah dipakai menggaji orang KPU pusat, provinsi dan sekian ribu kota/kab, ngehonorin panwaslu, dipake bikin sekian juta  bilik suara, bikin sekian ratus juta kertas suara (kali 4 utk memilih DPRD II, DPRD I, DPR RI dan DPD), ngehonorin para pelipatnya, ngebayarin ongkirnya ke seluruh Indonesia, ngebayarin biaya promosinya, ngebayarin biaya pengamanannya, alamaaaaak...mihil amat yak pemilu kita ini. Ya mangkanya jangan sia-siakan.

Nah, nah, nah... Jadi plis plis plis, temen-temen nanti tanggal 9, gunakan hak pilihmu ya... Jangan nggak milih dan lalu  bikin revolusi kayak bapak yang kuceritain tadi.

Sekali lagi, politik itu menjadi kotor bukan karena banyaknya orang jahat di dalamnya, tetapi karena sedikitnya orang baik yang mau terlibat. Pilihan kita, menentukan masa depan kita, masa depan bangsa dan negara kita.

Sabtu, 22 Maret 2014

Obrolan Pelacur* (1)

*pelan-pelan curhat (pinjem istilah De yang kubaca di postingan Om Dani)

Suatu siang yang terik, aku masih melayani tamu karena tandemku sakit.
- Bu, itu beneran tuh, kantor ibu bebas korupsi
+ Insya Allaah...
- soalnya saya males bayar pajak kalau uangnya cuma dikorupsi
+ pajak yang bapak bayarkan,  dipakai seluruh departemen pak, beserta pemkot dan pemprov seluruh Indonesia.
- iyaa tapi kan ada temen ibu yang korupsi
+ maaf pak, bapak salah alamat. Seharusnya bapak bicara langsung kepada yang bersangkutan, dan kepada semua orang yang korupsi. soalnya saya nggak kenal sama mereka
- para pemimpin, pejabat juga sama aja. Sudah dipilih malah korupsi, makanya saya males nyoblos, golput aja. *emalahcurcol
+ kalau bapak nggak milih, bagaimana Bapak melakukan perubahan ?
- revolusi  *semangatbanget
+ :)  revolusi ? Siapa yang memimpin ? Tetep aja Bapak milih pemimpin revolusi. Siapa yang jadi korban ? Malah tambah banyak. Jangan-jangan uang pajak yang bapak bayarkan,  yg sudah  jadi gedung, jembatan, pasar, bakalan musnah percuma jadi korban revolusi
- Pokoknya revolusi
+ :) terima kasih, selamat siang. 

Hadeuuuh... Cepek deh enggak sih ? Klo ada klien yang gitu. Iih, sebenernya sih sudah pengen pasang tampang tanduk. Tapi kan gak boleh ya... harus tetep senyum.
Mungkin seharusnya gak perlu ditanggepin juga, tapi klo sudah lapar, panas, capek trus disinisin gitu,  ya pengen 'ngelawan' juga jadinya.
Sejujurnya  dalam hati banyaaaaaak banget yang mau diomongin sama orang-orang seperti di atas.
Antara lain :
Ya kalau Anda  pe en es-pe en es juga, gak usahlah sok-sok ngomongin pembayaran pajak. Wong pajak Anda ditanggung pemerintah kok. 
Atau kalau gaji Anda dibawah 2 juta*sebut angka*, gak usah juga ngomongin bayar pajak. Lho kok ? Yaeyalah, kan penghasilan tidak kena pajak sekarang 2.025rb.
*yang bingung soal pajak bisa tanya Mbak Tituk hihi seminggu ini mbak Tituk dah dapat tugas jadi konsultan 

Dan kalau kita bandingkan,  apa yang sudah kita nikmatin dari bangsa dan negara ini  jauuuuh   lebih banyak dari jumlah yang kita 'bayarkan'.  Oke, ini gue aja kali ya.. yang pe en es.
Yang bisa aku sebutin dari nikmat-nikmat itu misalnya:
* Jalan yang lumayan halus, wajarlah ada bolong, orang cantik aja bisa jerawatan.
* penerangan yang lumayan meski masih remang di sana sini, minimal jalur yang aku lewatin.
* keadaan yang lumayan aman -meski masih ada kejahatan, minimal kita masih 'berani' melepas anak keluar rumah buat sekolah dan aktivitas lain.
* Taman-taman dan trotoar yang mulai indah *di bandung ini mah* lumayan buat popotoan
* Pemerintahan yg digaji pakai 'uang pajak kita' yang terus menuju good governance
    - punya gubernur yang baik, satu-satunya  gubernur yang kiprah dan prestasinya banyak mendapat penghargaan.
     - punya walikota yang baik, satu2nya walkot bandung yg berani tanda tangan kontrak dengan KPK utk anti gratifikasi . Dan meski baru 6 bulan menjabat, perubahan sudah terasa di sana sini.

Ya itu baru sebagian kecil. Masih panjang daftarnya klo mau dibuat.
Seneeeng nggak siih ?
Ya kalau aku sih seneng. Bahkan terselip percaya diri, aku sudah mengambil peran, dan menjalani peran tsb meskipun kecil.
Aku sudah memilih orang yang tepat untuk mewakiliku dan memimpinku menuju perubahan.. Dan akupun  menjadi bagian dari upaya perubahan itu.
Dunia politik sering dibilang kotor. Kekotoran itu bukan karena banyaknya orang jahat di sana, tapi karena sedikitnya orang baik yang bersedia terlibat.

> bersambung <

Selasa, 04 Maret 2014

Wonderful Wife Wannabe

Setelah teman-teman membaca  resensiku atas buku Wonderful Husband, maka supaya seimbang,akupun ikut GA Mak Ida  Laila tentang wonderful wife.
Terus terang, agak kesulitan menulis tema ini, karena Mak Ida Laila hanya meminta 3 poin saja karena beliau suka dengan angka tiga..
Pengennya sih aku bisa posting ini di tanggal tiga bulan tiga supaya lebih fenomenal lagi angka tiga-nya. Tapi apa daya menunggu pinjaman leppi ke Abi enggak cocok aja waktunya. Jadi sampai detik terakhir ini ya aku postingnya pakai hape juga akhirnya. Gapapa lah ya... ya maap maap aja kalau settingnya kurang bagus. Hehehe...

Bicara tentang wonderful wife,  tentunya bicara tentang ranah idealisme. Bila seseorang bicara tentang idealisme, belum tentu orang tersebut sudah ideal ya .... ya seperti aku ini. Jangan dianggap aku sudah menjadi istri yang ideal. Jauuh... masih jauuuh sekali.
Hanya saja, bagiku idealisme ini semacam  mercusuar, dialah pemandu arah kemana kita hendak menuju. Maka lampu mercusuar ini harus selalu menyala agar tidak ada yang tersesat jalan.
Jadi, menurutku, sebagai istri kita harus mempunyai suatu idealisme tertentuagar kita selalu ingat bahwa ada sebuah cita - cita yang tengah kita usahakan, dan ada sebuah tujuan yang tengah kita perjuangkan.

Adapun karakteristik wonderful wife, menurutku terwakili oleh tiga poin berikut :

Yang pertama : seorang wonderful wife hendaknya selalu berusaha menjadi pribadi yang taat kepada Allah.
Kriteria pertama ini mencakup 3 hal :
* menyadari bahwa penikahannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan  tuntunan sunah Nabi-Nya.
Sehingga, semuanya pun dalam kerangka ibadah pada Allah yang muaranya adalah keridhaan Allah.
Dengan semangat ibadah ini, maka setiap tantangan yang dihadapi di dalam pernikahannya akan dia kembalikan kepada Allah.
Semua kesulitan bukan jadi halangan, melainkan menjadi pintu untuk menuju ridha Allah semata. Intinya, sebuah pernikahan hendaknya membuat istri makin dekat kepada Allah. Bukan sebaliknya.
* seorang wonderful wife menyadari sepenuhnya, bahwa ikatan pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kokoh /mitsaqan ghalizha yang disaksikan oleh Allah.  Maka sang istri akan selalu menjaga kesetiaan janjinya, di saat ramai ataupun sepi, di hadapan suami maupun di belakangnya,  bahwa dia akan selalu setia terhadap  pernikahannya.
* mencintai dan membenci dengan cara- cara yang  Allah ajarkan.
Dalam kehidupan berumah tangga tentu tentu banyak ditemukan perbedaan antara suami dengan istri.  Suami juga manusia, manusia biasa pula. Jadi pasti ada saja kekurangannya. Mungkin ada sesuatu hal dari suami yang  tidak disukai istri, tapi sesungguhnya, bila kita buat daftar antara yang disukai dan tidak, maka kita akan menemukan hal lain yang disukai jauh lebih banyak dari yang tidak disukai.  Maka janganlah kita membenci satu hal, karena bisa jadi hal itu lebih baik buat kita. Jangan pula kita terlalu mencintai sesuatu karena bisa jadi hal tsb buruk buat kita.

Kriteria kedua : seorang wonderful wife selalu berusaha untuk  taat pada suaminya.
Kriteria inipun mencakup 3 hal :
*mengikuti perintah suami sepanjang tidak bertentangan dengan aturan Allah.
*selalu menambahkan cinta di dalam setiap pelayanan terhadap suami dan keluarganya.
Salah satu kekuatan cinta adalah memberi. Pelayanan penuh cinta, untuk orang yang dicintai, tentu kualitas pelayanannya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang melayani hanya sebatas menjalankan kewajiban.
*menjaga harta dan kehormatan suami. Mempergunakan harta suami dengan sebaik-baiknya untuk dibelanjakan di jalan Allah sesuai ijinnya.  Selalu menjaga kehormatan suami dan menjaga rahasianya. Jangan sampai kehormatan suami jatuh gara-gara kita, sikap kita yang kurang baik atau kurang amanah.

Ketiga : Seorang wonderful wife adalah partner terbaik suami dalam mendidik generasi.
* mendidik anak-anak dengan penuh semangat dan penuh cinta
* senantiasa menjadi teladan dalam rumahnya
* bersabar dalam mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya.

Nah, itulah kriteria wonderful wife menurutku.
Sedangkan masukan untuk blog Mak Ida, menurutku sudah bagus. Apalagi pasca operasi. Sudah lengkap pula isinya.
Satu saja masukannya, Mak Ida kan sudah makin banyak 'penggemar' nih, mungkin perlu menambahkan alokasi waktu untuk blog walking.
Iih... aku seneng lhooo klo Mak Ida berkenan mampir ke blog ini.
Makasih ya Maaak... sudah menginpirasi dan berbagi dengan kami.
Sukses untukmu, Mak Ida.

ARTIKEL INI DISERTAKAN DALAM GA “WONDERFUL WIFE By Ida Nur Laila

Senin, 10 Februari 2014

Gula Aren, Lebih Nikmat dan Lebih Sehat

Orang Jawa selalu diindentikkan dengan makanan manis. Yup ! Benar sekali. Minimal pada kebiasaan keluargaku dulu, makanan atau camilan yang paling sering dibuat oleh Ibu, adalah camilan yang manis seperti lemet, klepon, onde-onde singkong parut yang isinya gula, mendut, dsb. Biasanya, ibuku memakai gula aren untuk pemanisnya. Kata Ibu, masakan dengan gula aren rasanya lebih nikmat. Karena aku yang ke warung dan tahu harga gula aren itu lebih mahal dari gula merah/gula jawa, aku percaya saja. Kan, ada paribasan bahasa Jawa tuh, ono rego ono rupo. Artinya kurang lebih, kualitas sesuai harga.
Tapi seiring dengan kedewasaanku, aku semakin dapat membedakan, memang masakan dengan gula aren itu lebih nikmat dibandingkan dengan gula merah biasa yang berasal dari nira kelapa.

Ketika aku tinggal di Kupang, untuk pertama kalinya aku mengenal gula semut. Saat itu  aku mendapatkannya gratis dari teman. Teman-teman di Kupang biasa  menggunakan gula semut untuk mengoles roti sebagai pengganti selai atau meises. Ada juga yang menggunakan sebagai pemanis minuman kopi atau teh. Memang di Kupang banyak terdapat pohon aren. Di sebrang komplekku, di pinggir pantai, hutan aren yang tidak begitu lebat, panjang terbentang hingga ratusan meter.
Sampai saat itu aku masih menganggap bahwa gula semut adalah sesuatu yang eksklusif, sebagaimana ibuku memperlakukan gula aren. Jadi akupun hanya mempergunakan sesekali, bahkan diirit-irit, belum terpikir untuk menjadikannya sebagai pemanis pengganti gula pasir di rumahku.

gula semut sebagai olesan roti tawar
Setelah aku mulai ngeblog dan  pernah memenangkan give away yang disponsori mbak Evi, akhirnya aku mengenal gula semut dalam kemasan yang higienis dan modern. Enggak tanggung-tanggung, hadiah yang kudapatkan adalah satu box Arenga organic palm sugar. Alhamdulillah banget. Apalagi aku lagi sudah mulai suka memasak dan mencoba resep-resep. Masakan favoritku dengan gula semut ini adalah carrot cake dan bubur sumsum. Mudah membuatnya, sekalinya bikin langsung banyak,  dan dijamin anti gagal.

Ini nih, sekotak inilah gula aren yang kudapatkan. Gambar dipinjam dari sini

Dari blog mbak Evi pula aku tahu bahwa ternyata gula aren bukan hanya membuat masakan dan kue menjadi lebih nikmat, tetapi juga ada banyak manfaat lain dan lebih sehat. Gula aren itu bisa menjadi semacam energy bar untuk para pendaki gunung, sebagai pelengkap resep obat tradisional, diolah dengan tungku dan tanpa tambahan zat pengawet, dan berasal dari nira pohon aren yang tumbuh alami tanpa pupuk kimia dan pestisida. Gula aren juga mengandung senyawa yang berfungsi menghambat penyerapan kolesterol di saluran pencernaan. Ini mah aku banget ya.. soalnya, walaupun kurus, ternyata kolesterolku tinggi.
Sudah saatnya ini, aku sediakan gula aren sebagai pemanis sehat di rumahku, di tempat yang mudah dijangkau anak-anak. Agar gula aren buat mereka bukan lagi menjadi barang eksklusif, tapi sebagai satu pilihan karena mereka peduli pada kesehatan.

 
 

Senin, 06 Januari 2014

[4] Dalam Limpahan Nikmat-Nya

Arrahmaan


Terjemahan :
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
(QS Ar-Rahman ;13)
Dan diulang kembali di ayat 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.





Kalau kita membicarakan nikmat Allah, tentu tidak akan ada habisnya. Lebih tepatnya kita tidak dapat menghitungnya. Karena buaaaanyaaakkk... sekali nikmat yang Allah berikan, bukan bukan berikan, mungkin lebih tepat jika dikatakan nikmat yang Allah limpahkan kepada kita karena saking banyaknya.
Mulai dari yang tidak terasa dan tidak terlihat, hati yang terbuka menerima hikmah, otak yang senantiasa berfikir, jantung yang terus menerus memompa darah dan mengalirkannya ke seluruh tubuh, mata yang dapat melihat keindahan dan dapat berkedip setiap saat, saluran pernafasan yang bekerja dengan baik, saluran pencernaan yang menjalankan fungsinya, pendengaran, indra perasa, tangan, kaki, tulang-tulang yang menopang tubuh untuk tegak berdiri dan menjalankan ibadah, otot-otot yang menopang di balik kulit, udara yang tersedia gratis, makanan yang relatif mudah kita dapatkan, waktu yang tersedia untuk beraktifitas dalam kebaikan, bumi / tempat tinggal yang aman, keluarga yang samara,  teman-teman yang baik, tempat kerja yang enak, penghasilan yang cukup, dsb dsb ....

Pernah dengar cerita tentang orang yang masih menjadi pegawai sementara (belum diangkat menjadi pegawai tetap) di suatu tempat, padahal dia sudah sekian lama bekerja, dan kerjanya baik. Ketika ditanya oleh seorang kyai tentang kondisinya itu dia menjawab : nggak masalah buat saya, karena saya di dunia ini juga hanya sementara saja.
Subhanallah.. inilah contoh pandangan orang yang bersabar atas kondisinya, membuatnya  mudah bersyukur.

Maka ketika Allah bertanya : Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? kita tidak ragu lagi menjawab : tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan

dan masih banyak lagi tentunya....


Minggu, 05 Januari 2014

[3] : Batas Kesabaran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -٢٠٠- 

Terjemahan :
Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan bertahanlah dalam kesabaranmu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (QS Ali Imran; 200)


Sebagai emak-emak beranak banyak (enggak banyak pun) pastilah sering berurusan dengan yang namanya kesabaran ini. Mulai dari hamil dengan tingkat kepayahan yang makin lama makin bertambah. Kemudian melahirkan di mana itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Kemudian menyusui bayi yang sungguh sungguh menuntut tenaga dan daya upaya. Belum urusan mendidik anak, melayani suami, mendelegasikan wewenang ke ART, menjalin hubungan dengan tetangga, urusan pekerjaan, urusan dengan teman, urusan keuangan,  dsb... dsb.. pasti daftarnya panjang.
Pasti semua itu banyak warna-warninya (ehm.... iyalah, kita sebut warna warni aja, macam crayon Lulu) yang seriiiingg sekali menuntut kesabaran dari mulai level satu sampai level entah berapa kita nggak bisa nyebut lagi karena udah mentok sampai ubun ubun. Pertanyaannya, apakah setelah batas kesabaran kita sampai ubun-ubun itu, kita boleh meledakkan kepala kemarahan kita ? *jawabnya dalam hati aja.

Kalau kita baca kisahnya Nabi Yunus as di dalam perut ikan, yang enggak bisa ngapa-ngapain mentok sana sini, eh tapi masih hidup, enggak dimatikan sama Allah, apa kira-kira yang membuat beliau bisa bertahan ? Kesabaran. Kesabaran ini adalah kekuatan untuk bertahan, tetap eksis, tetap survive apapun kesulitan yang dihadapi di dunia.
Seperti kisahnya Nabi Ismail, as dan Nabi Ibrahim as, apakah gerangan yang membuat  Nabi Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail as ? Kesabaran. Kata Nabi Ismail as : lakukan saja, Ayah. Insya Allah saya termasuk golongan orang orang yang sabar. *insya Allah sengaja saya cetak tebal* Jika Allah menghendaki.

Ya, Surat Ali Imran ayat 200 di atas adalah pengingat untuk orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (insya Allah sedang selalu dan akan kami usahakan, Ya Allah), tapi ayat ini  tidak berhenti di titik itu. Ternyata ada kelanjutannya,   dan bertahanlah dalam kesabaranmu. Ini tidak mudah. Makanya kesabaran ini disebut sebagai ummul akhlak / induknya akhlak. Karena dari sanalah semua akhlak baik lahir. Selain dalam urusan-urusan keseharian kita, juga dalam urusan ibadah sangat diperlukan kesabaran. Sabar untuk senantiasa istiqomah. Terus menerus melakukan, tanpa bosan, sampai Allah menghentikan dengan kematian.



Sabtu, 04 Januari 2014

Hari ke-2 : Karena Allah Telah Menjamin

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ -٦- 

Terjemah :

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rejekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalalm Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) QS Huud ayat 6


Sebenernya aku udah pernah cerita soal rejeki ini di postingan aku yang ini. Tapi gapapa lah ya... diomongin lagi. Kan ini lagi terkesan dengan salah satu ayat Allah dalam Al Qur'an. Ibaratnya lagi membaca surat cinta, pasti kan ada bagian-bagian yang membuat kita membuncah dan berbunga-bunga. 

Kali ini aku enggak akan cerita tentang pandanganku soal rejeki, tapi cerita tentang temanku yang subhanallah..
Ada seorang teman yang saat itu punya keponakan baru. Terlahir melalui proses persalinan normal di bidan. Sehat dan imut. Senang dooong ya.... Ongkos melahirkan juga tidak terlalu mahal dibandingkan melahirkan di rumah sakit.
Setelah dua hari menginap di bidan, ibu dan bayi diijinkan pulang. 

Selang seminggu, perasaan Ibu pun mulai was-was. Kenapa ? Karena bayi belum kunjung buang air besar. Masa' sih masalah pencernaan. Kan baru minum ASI. Dan toh si bayi juga enggak rewel atau apa. Pas jadwal kontrol, disampaikanlah keluhan tentang bayi yang belum BAB ini. Kemudian bidan pun memeriksa.
Dan betapa terkejutnya hati Ibu dan temanku tadi, ketika bidan menyampaikan bahwa si bayi tidak punya anus (atresia ani). Ingin rasanya menuntut sang bidan, tapi karena merasa sudah ditolong selama persalinan, akhirnya keinginan itupun tidak dilaksanakan. Lagipula toh tidak ada satu kejadian pun yang terlewat dari kehendak-Nya, maka teman saya dan keluarganya pun menerima ini sebagai bagian dari takdir.

Selama beberapa bulan berikutnya, teman saya ini bolak balik mengantar kakaknya ke rumah sakit untuk mempersiapkan proses operasi. Jangan tanya berapa biaya yang keluar untuk ini. Jangankan untuk biaya operasinya, untuk ongkos transpor, biaya bolak-balik periksa, obat-obatan dsb aja sudah dirasa berat oleh keluarga si bayi. Teman saya yang waktu itu masih kuliah di UPI dan kebetulan mengajar les privat bahasa Inggris, hanya dapat membantu sebisanya. Tetapi satu hal yang sangat berkesan (berkesan banget malahan, karena kejadian ini sudah 10 tahun lalu) adalah kata-kata teman saya saat menghadapi ujian ini :

"Tidak mungkin Allah menzhalimi makhlukNya, Dia menciptakan, pasti Dia menjamin semua rejekinya. Jangankan keponakan saya, hewan melata saja disediakan oleh Allah kebutuhannya. Kalau rejeki keponakan saya sudah habis, pasti Allah akan memanggilnya"

Subhanallah... saya dibuat terkagum-kagum atas prinsipnya itu.Akhirnya si keponakan itu meninggal sebelum operasi dilaksanakan. Ibu si bayi dan segenap keluarga, termasuk teman saya itu, menerima ini sebagai ketentuan terbaik dari Allah. Keyakinannya soal maut, sama dengan keyakinannya soal rejeki tadi. Karena Allah, titik.


yang mau nyusul ikutan #1Hari1Ayat bisa klik link ini

Hari ke-1 : Demi Masa


Terjemah :
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
1. Demi masa
2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian 
3. Kecuali orang - orang yang beriman, dan mengerjakan kebajikan,serta saling menasehati untuk  kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. 


Sebagai postingan awal, aku pilih ayat ini.
Waktu. Ia  memang sesuatu yang tidak nampak, tapi dia itu terasa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan itu sendiri. Selagi kita masih hidup, berarti kita masih memiliki waktu. Makanya sebagaimana kehidupan, kalau sudah terlewat ya enggak bakalan balik lagi. Sayangnya, manusia sering melalaikan soal waktu ini. Memang enak ya.. kita punya waktu senggang, santai, berleha-leha, menunda kebaikan, menunda pekerjaan yang masih bisa dibikin nanti-nanti, apalagi kalau pekerjaan itu yang kita sebel bin pegel mengerjakannya, pasti akan pilih melakukan hal lain yang menyenangkan... tapi ya itu, akhirnya kita sering menyesal sendiri kenapa tidak mengerjakan hal itu sebelumnya, akhirnya ada kesempatan yang terlewat...
Anehnya, meski sudah pernah menyesal, eh, kok ya kadang masih diulangi lagi.
Yaah.. itulah manusia. khusuhon manusia seperti aku ini, yang sering menyesal tapi masih juga mengulang. el u pe a, alias lupa. Alasan yang klise bukan ?

Makanya jleb-jleb banget, firman Allah di sini, berarti kalau manusia tidak melakukan aktivitas beriman, berbuat baik, dan saling mengingatkan maka rugilah dia.
Pantesan dulu para sahabat Rasul kalau ketemu satu sama lain dan mau berpisah, dibacalah surat ini.
Pantesan dulu jaman TPA (Taman Pendidikan Al Qur'an) kalau sore, tiba mau pulang, pasti baca surat ini.
Pantesan Imam Syafi'i berkata :
"Andai manusia benar-benar memperhatikan isi surat ini, niscaya ini sudah cukup untuk merubah keadaan mereka, pendirian mereka dan kelakuan mereka"
Subhanallah...



*Teman-teman yang mau ikut ngeramein #1Hari1Ayat ini, bisa klik ke blog Primadita

Rabu, 20 November 2013

Faiz Minta Adik

Niatnya sih semalem mau nyelesaiin Berani Cerita minggu kemarin di blog sebelah. Udah ngebayangin jalan cerita, udah 2 hari ini baca-baca referensi tentang 3 kakak beradik dari Kuru, yaitu Amba, Ambika dan Ambalika dalam kisah Mahabarata. Tokoh yang bakal kuambil ya antara Amba atau Ambalika. Soalnya harus ada tokoh Amba. Eh lha kok bingung nempatin prompt-nya dimana. Maklumlah, belum 'berani cerita' beneran, masih maju mundur kanan kiri.  Ya sudahlah kita cerita tentang adik yang lain aja. Postingan ini khusus dipersembahkan untuk yang masih galau antara mau nambah adik atau enggak. Kalau aku insya Allah udah mantep. Cukup lima. *kecualiAbiberubahpikiran*

Kemarin malam, menjelang jam sepuluh, tinggal aku dan Faiz yang belum tidur. Faiz sedang asyik menjadi tokoh utama dalam mewarnai. Dan aku jadi pemeran pembantu. Sedang asyik-asyiknya coret sana sini ini itu kok tiba-tiba Faiz berhenti mencoret, dan menatapku *senyap*
"Ummi aku mau adiklaah"
*Ummi pengsan, sejujurnya ini kedua kali Faiz mengatakan kalimat ini dalam 3 bulan terakhir*
"Mau adik laki apa perempuan?"
*ummi ngulur waktu untuk berpikir*
"Aku mau adik perempuan"
" Besok kita pinjam de Acha, adiknya Mas Karim". (Usianya sekitar 2 tahun)
" enggak mau, aku mau yang satu tahun"
"Oh, kalau gitu kita pinjam de Ilma, adiknya Ayash, kan baru setahun"
"Aku mau yang kamu hamiiiil" *nada meninggi, sambil menatapku*
"Ummi udah tua Nak, sudah tidak sehat untuk hamil"
"Bunda Ayash hamil, mbak Didin hamil..." *Faiz menyebut nama teman-teman Ummi yang lagi hamil. Ummi masih cari jurus.
"Emang kalau punya adik, kamu mau ngurusin?"
"Apaaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau nemenin?"
"Apaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau ngajak main?"
"Apaa?"
"Aaah, nggak usah apa-apa, pura-pura. Nanti kalau ada adik, adiknya dong yang tidur sama Ummi, sama Abi"
"Nggak papa, kalau libur juga aku bakal tidur di luhur" (di atas, di kamarnya)
"Nanti kalau aku pergi, kamu nggak diajak, yang diajak cuma adik bayi"
Faiz berhenti mewarnai, dan menatapku lagi.
"Nggak papa juga kali, kalau pergi bawa dua anak"
*si Ummi mulai kehabisan kata*
"Iyaa, bawa dua anak, Teteh sama kamu"
"Bukaaaan, aku sama adik bayi"
"Capek kaliii...pergi ngajak dua anak maah"
Faiz terdiam. Nerusin mewarnai.
Pas udah jam sepuluh, aku nganter dia ke kamarnya. Udah dipaksa tidur ini. Matanya masih cenghar karena menjelang maghrib baru bangun tidur.
Nah pas di kasurnya itu, dalam pelukanku aku tanya lagi,
"Faiz, nanti kalau ada adik, aku nggak bisa lagi nganter kamu tidur kayak gini. Gimana ? Nggak punya adik nggak papa ya ?"
Faiz ngangguk ngangguk.

Ish, semoga kalimat terakhir itu yang terekam di benak dia, kan kata Kang Dudit dari Smile Institut, saat yang tepat untuk meng'hipnotis' itu saat seseorang dalam kondisi rileks, seperti saat menjelang tidur nyenyak ... saat otak ada di gelombang alfa.

Pict:kebayang ya, anak yang nempel Ummi macam amplop dan perangko gini, tiba tiba mau punya adik...

Minggu, 13 Oktober 2013

Awas : Pencuri di Tengah Hari

Oktober tahun lalu...

Jumat siang. Adzan telah berkumandang. Aku tengah sibuk karena menjelang tanggal akhir laporan, dan aku piket siang pula.
Kalau sudah sibuk begitu, boro-boro mengangkat telpon -dan memang enggak boleh tetelponan di saat melayani pelanggan-, membaca dan membalas SMS pun kadang terlupakan.
Biasanya aku membaca dan membalas SMS saat perlu ke toilet, jadi sekalian.
Terkecuali kalau lagi sedikit tamu, masih bisa laah balas-balas sms atau bbm-an.

Sebelum piket aku menyempatkan ke toilet. Betapa terkejutnya aku, ketika mendapati  miscalled berkali-kali dari nomor rumah, dari nomor teh Eva -penjaga toko kue samping rumah- dan juga dari berbagai nomor tak dikenal. Detak jantungku langsung berpacu cepat. ADA APAA ???

Langsung aku telpon nomor teh Eva. Betapa terkejutnya ketika telpon diangkat yang terdengar adalah suara Ayuk yang nangis nggerung-nggerung. (Bhs Jawa : menangis tersedu dengan suara keras)
"Ummmi..... cepet pulaaang.... Ayu takuuut...."
Begitu suara Ayuk.
"Kenapa ? Ada apa ?"
"Ada pencuri masuk rumah kita... "
"Innalillahi.... *aku menenangkan diriku sendiri* Kamu KETEMU enggak sama mereka ?"
"Engggaak... *alhamdulillaah, syukurku dalam hati*  waktu aku pulang sama Teteh, kamar ummi berantakan. Kirain Abi lagi beres-beres, aku panggil panggil enggak ada orang. Terus aku lihat kamarku, kamar Mbak, semua juga berantakan. Aku takuuut.. aku langsung lari keluar"
"Terus Teteh di mana ?"
"Teteh di rumah Nisa. " *alhamdulillah*
" Bibi sama Faiz di mana ?"
" Bibi belum pulang dari jemput Faiz" *alhamdulillah*
"Ya sudah, Ayuk berhenti  nangis. Malu sama Teh Eva ya.. Alhamdulillah Ayuk enggak ketemu sama orang jahatnya. Alhamdulillah semua selamet. Dzikir ya Nak, biar tenang. Ummi pulang sekarang"
"Laptop Abi sama Ummi diambil pencuri...." Ayuk masih bicara sambil menangis.
"Iya ... sudah. Enggak papa. Yang penting kalian selamat. Sudah ya... kalau takut pulang, di teh Eva saja dulu. Ummi pulang sekarang."

Ayuk menuruti kata-kataku. Kemudian aku  menelpon nomor yang tak dikenal, ternyata nomor Ayah Nisa. Kondisi Teteh sama, menangis dan ketakutan. Syukurlah si Teteh bawaannya agak lebih tenang. Setelah kubilang aku mau pulang, Teteh berhenti menangis.

Aku bergegas mencari pengganti piket. Minta izin pak boss, pinjem motor dan pulang. Percuma telpon Abi juga lagi Jumatan. Aku cuma sms : Ummi pulang, ada pencuri masuk rumah.

Sepanjang jalan aku bersyukur, alhamdulillah anak-anak selamat. Nggak terbayangkan kalau pas pencuri masuk, ada bibi dan Faiz... oh Noooo...... nau'dzubillahi min dzalik. Apalagi udah baca berita serem-serem *kayak ceritanya baginda ratu dan komen mbak tituk*'

Pas aku sampai rumah, Bibi dan anak anak sudah pulang. Jumatan sudah kelar. Sudah ada pak RW di halaman rumahku. Juga beberapa bapak-bapak sekitar.

Kemungkinan maling masuk lewat pintu belakang, dan keluar lewat pintu samping. Ada pisau dapurku tergeletak di tembok samping. 

Pak RW kemudian menelpon pak polisi yang biasa ada di kelurahan. Kami menunggu dan berusaha tidak merusak TKP. Tak lama kemudian Abi datang. Nggak bakalan tega deh melihat wajah Abi lama-lama.
Yang paling kehilangan tentu Abi. Di laptopnya ada data-data skripsi *sampai setahun ini belum ada progress berarti* dan pekerjaannya. Ada juga scan-an foto-foto masa kecilnya sampai selama hampir 10 tahun kami berumah tangga saat belum punya kamera digital.  Dan netbook second-ku pun hadiah dari Abi, *honor Abi ada proyek kerja sama dengan anak itb dan harus 2 minggu ke Cirebon dan pepanasan sampai kulit terbakar*

Tapi sampai pak RW pulang, pakpol tak kunjung tiba. Sampai mbak dan Fikri pulang, bahkan sampai maghrib pakpol enggak datang juga. Ya sudahlah, kata Abi beresin aja. Yang penting kita slamet semua.
Kamipun membereskan rumah. Pisau dapur yang di luar ya di bawa masuk. Udahlah ... enggak usah ngarep barang bakal kembali. Kecil sekali kemungkinannya. Insya Allah ada banyak hikmah yang tersembunyi dari kejadian ini. Semoga Allah mengganti kehilangan ini dengan yang lebih baik dan lebih berkah. Amiiin.


Sedikit tips aja buat teman-teman dari hikmah yang dapat kuambil atas kejadian ini
:

* tetap waspada, meski keluar sebentar/dekat, tetap saja kunci semua pintu dan jendela. intinya tutup akses orang asing masuk rumah.

*menjaga hubungan baik dengan tetangga itu perlu. Ada tempat 'pelarian' buat kita / anak minta tolong bila ada kejadian darurat. 
Tentu kita juga harus siap jika dimintai pertolongan yaa...

*tetap menjalin komunikasi sepanjang hari dengan anak-anak meski kita di tengah kesibukan pun. minimal sms-an pulang jam berapa, sampai di mana, dsb kalau anak-anak telat pulang / atau kita telat pulang.

*menyimpan barang berharga di tempat yang tidak mudah di tebak.

*tetap berdoa dan pasrahkan semua pada-Nya. 
Dia sebaik- baik penolong dan penjaga.


Semoga teman-teman jangan sampai mengalami kejadian sepertiku ini. Amiiin.

Senin, 15 Juli 2013

Syukur

Rodhiitu billahi robba
Aku ridho Allah sebagai Rabb-ku

Penggalan doa tersebut sudah sering aku dengar , sering juga kubaca. Bahkan doa yang sama sering dilafazkan oleh anak-anak kita yang masih TK.
Tapi baru merenungkan kedalaman makna kalimat tersebut setelah kemarin membaca lagi definisi atau cakupan makna dari kata Rabb itu.
Menurut buku ringkasan tafsir Ibnu Katsir, kata Rabb berarti pemilik, yang berhak penuh, majikan, yang memelihara serta menjamin kebaikan dan perbaikan semua makhluk alam semesta .
Subhanallah, dengan kata lain Rodhitu billahi robba adalah pernyataan bahwa kita ridho / menerima apapun yang dikehendaki oleh Allah atas diri kita, mau diatur-atur apapun wong Allah majikan kita, yang memelihara kita dan menjamin kebaikan kita. Dengan kata-kata yang lebih ekstrim mau dikasih duit yang dikit sehingga terkategori kismin eh miskin, mau dikasih penyakit, atau sebaliknya banyak duit, dan sehat sentausa jika tingkat ridhonya sudah sampai pada apa yang dimaksudkan tsb, maka tidak akan ada bedanya dalam hal penyikapannya.
Dan menurutku, ridho inilah yang akan mengantarkan seseorang pada syukur. Apalagi jika disambungkan dengan ayat : alhamdulillahi rabbil 'alamin  - segala puji bagi Allah rabb semesta alam.
Ini adalah kalimat syukur  yang bila  seorang anak manusia mengucapkannya maka Allah akan menjawab "hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku". Alhamdulillahi rabbil 'alamin adalah seutama-utama doa.
Pantesan aja ya, kata Allah kalau seseorang bersyukur, maka Allah akan tambahkan lagi nikmat-Nya pada orang tsb.
Dan bisa saja toh tambahan itu bukan nikmat materi (saja) tetapi nikmat ketenangan batin yang selalu bersyukur atas apapun karunia Allah yang didasari oleh sikap ridho tadi.
Ah...  ini renunganku di hari keenam Ramadhan. Teu sapertos nuju ceramah kan, ?

Sabtu, 13 Juli 2013

Pilihan Keluarga

Membaca postingan Baginda Ratu "done that been there" (maaf hese ngelink-na)  langsung deh ya keinget mau nyambung postingan aku yang lalu yaitu H2C.
Pas di paragraf tentang kenapa aku pilih sekolah lanjutan negeri, aku cuma kasih alasan simpel, ini pilihan keluarga.
Kalau dibuka diskusi tentang alasan memilih sekolah, pastilah akan panjang dan sulit untuk menemukan kata sepakat. Karena masing-masing orang tua punya alasan dan pertimbangan masing-masing ketika menentukan sekolah anaknya.

Pernah ada yang bertanya, emang gak mempertimbangkan sekolah swasta ? Aku cuma senyum. Dan akhirnya kemarin ada yang nanya beneran sama aku, pas kubilang Ayuk akhirnya masuk madrasah tsanawiyah negeri. Pertanyaannya berasa nodong. Apa akunya yang sensi yah... "Kenapa enggak disekolahin di madrasah xxx ?"  ( sambil menyebut madrasah swasta di mana banyak temen-temenku  yang anaknya sekolah di sana).Terus terang saja madrasah tsanawiyah negeri itu memang bukan pilihan pertama Ayuk - dan kami juga. Pilihan pertamanya adalah SMP umum. Beda ya, kalau SMP itu ada di bawah Diknas kalau madrasah ada di bawah Kemenag. Dari pelajaran juga berbeda, di madrasah pasti nanti akan ketemu lagi pelajaran fiqh, bahasa arab, hadits, dsb.seperti yang pernah Ayuk dapatkan di Madrasah Ibtidaiyah At-takwa Jadi ya kalau mau disandingkan atau dibandingkan pasti akan berbeda. Ya yang harus ridho Ayuk masuk madrasah bukan cuma anaknya, tapi juga orang tuanya. Itu yang terbaik yang dapat diraih Ayuk. Di luar kenyataan bahwa madrasah tsb madrasah percontohan ya... itu berlaku hanya sesama madrasah. Tidak dapat dibandingkan dengan SMP. Meski sama-sama negeri.

Nah jadi apa dong alasannya kenapa kami memilih SMP Negeri ?
Pertama : anak-anak kami, sejauh ini masih diarahkan untuk menempuh jalur pendidikan umum SD-SMP-SLA-PT minimal S1 ( bukan pendidikan agama). Adapun dia menjadi sholeh, menjadi penghafal Al Qur'an, faham ilmu agama, peduli pada sesama, (amiin) dsb itu adalah semacam life skill yang harus melekat dalam dirinya mau apapun profesi dia kelak. Kecuali memang anak kelihatan ada kecenderungan mau mendalami ilmu agama secara profesional.

Kedua: Jalur pendidikan umum ini pesaing terbanyak adalah dari sekolah umum. Standar yang dipakai adalah standar umum. Bukan keahlian khusus lain yang dia miliki. Kecuali sudah benar- benar istimewa mungkin dapat masuk melalui jalur prestasi. Katakan sekarang yang dipakai adalah nilai UN. Berarti nilai UN anak harus dapat mengungguli pesaing-pesaing lainnya. Dan statistik menunjukkan sekolah negeri lah yang paling banyak mengisi  jalur ini. Wabil khusus, smp klaster satu paling banyak memasok murid untuk sma klaster satu. Dan sepertinya itu juga berlaku untuk perguruan tinggi negeri.

Ketiga: Kami ingin anak-anak tumbuh dan menjadi kuat di 'dunia nyata'. Mereka akan hidup di masyarakat yang aneka ragam kelak. Sekolah umum adalah miniatur masyarakat. Dari keluarga mana anak berasal akan kelihatan di sekolah umum.  Kami ingin anak-anak belajar bahwa dunia ini warna warni. Nilai-nilai apa yang dianut sebuah keluarga sedikit banyak akan tergambar di diri anak. Ya misalnya kalau anak nilai UN nya kecil terus bapak ibunya bilang nanti kita beli kunci jawaban saja/nanti beli kursi aja di sekolah anu, atau nanti pindah aja ke sekolah klaster satu, maka anak belajar menghalalkan segala cara dan menggampangkan masalah. Nggak ada semangat juang.

Keempat: ini yang paling berat. Melepaskan anak dari 'karantina' dan proteksi. Kalau dia sekolah di 'sekolah komunitas' yang gurunya baik-baik, sopan-sopan, suasana sekolah religius, dan anak tumbuh jadi sopan dan religius ya itu wajarlah. Tapi bagaimana nanti ? Mau sampai kapan kami sanggup memproteksi?  Enggak tau kapan ajal datang, kapan rejeki diputuskan. Sudah jadi tugas orang tualah memberikan 'imunitas', menanamkan nilai-nilai dasar dari rumah sejak anak- anak lahir,  agar di manapun anak tumbuh besar, dia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar tersebut. Dan menurut kami, makin cepat dia  'praktek' insya allah makin baik hasilnya. Meskipun terus terang saja sampai saat ini kami pun masih tetap berjuang menjaga shalat anak-anak, menjaga hafalan, akhlak dsb karena godaan keburukan itu memang jauh lebih mudah untuk diikuti.

Kelima : (tambahan) alasan biaya. Untuk sekolah negeri gratis aja banyak biaya lain yang harus dikeluarkan. Minimal transport tiap hari dan printilan lain. Uang fotocopy, buku, praktik ini itu, dsb. Realistis aja, ini bapak ibunya pns biasa -bukan pejabat- yang penerimaannya bisa dihitung bahkan sebelum gaji diterima. Belum lagi dipotong cicilan rumah. Kami tidak sanggup menyekolahkan di swasta dengan biaya mahal pleus 'biaya sosial' tinggi - ini kudapat dari temenku yang ngajar di smp swasta favorit- tidak mudah menjaga anak di tengah gempuran gaya hidup konsumerisme. Klo di sekolah negeri setidaknya latar belakang sosial ekonominya juga lebih heterogen .

Ya demikianlah teman teman. Kenapa saya dan suami tetap memilih sekolah negeri untuk anak-anak. Dan itupun harus dekat dari rumah. No macet. No mahal di transport. Maksimal maghrib udah pulang lengkap udah selesai eskul/bimbel. Dan mohon maaf kalau kita dalam hal ini kita harus sepakat untuk tidak sepakat.

Senin, 24 Juni 2013

Menyemai Cinta : Pernikahan Tanpa Pacaran


foto nikah, masa'  suami istri foto berdua, yang  satu tangannya di depan, satu lagi tangannya di belakang punggung X_X

Aku menikah dengan Abi tanpa pacaran. Begitulah kenyataanya. Kami diperkenalkan oleh guru mengaji. Aku saat di Jakarta dulu aktif di sebuah yayasan . Suami ustadzah ketua yayasan adalah seorang ustadz terbang yang wilayah dakwahnya sampai ke Kupang-NTT kota penempatan pertama Abi setelah jadi PNS. Abi yang kemudian diklat ke  Jakarta, datang menemui ustadz mohon bantuan dicarikan jodoh. Targetnya selama 3 bulan diklat di Jakarta semua proses dapat dilalui mulai dari taaruf / kenalan sampai menikah.

Menurut cerita  Abi,  ketika itu dia dikasih 2 amplop tertutup yang berisi biodata akhwat. Pas minta dipilihkan, kata ustadz insya Allah dua duanya cocok dengan abi. Akhirnya Abi memilih yang ada di tangan kanan ustadz. Isinya ? Biodataku. :D
Si Abi pun shalat istikharah mau lanjut atau tidak setelah melihat data diriku. Ketika Abi memutuskan mau lanjut ta'aruf baru aku dikasih tahu sama ustadzah bahwa ada ikhwan yang siap ta'aruf. Awalnya aku sampaikan bahwa aku belum siap. Karena aku masih belum bisa masak dan masih males mandi *sampai sekarang.
Tapi ustazah menasehatiku bahwa kesiapan itu sangat relatif. Soal belum bisa masak itu bisa berlatih. Dan soal males mandi insya allah enggak bakalan males mandi lagi setelah nanti punya suami. Dan yang paling jleb adalah ketika ustazah membacakan hadis
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.”
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Maka akupun takluk dan menuruti kata ustadzah. Aku menerima biodata Abi.

Awalnya agak minder. Melihat Abi yang 8 bersaudara kuliah semua pastilah dari keluarga berada. Sedangkan aku dari keluarga yang sangat sederhana, dari 7 bersaudara yang sampai bangku kuliah cuma baru dua orang. Kemudian perbedaan latar belakang budaya, Abi Sumatera dan aku dari Jawa, khawatir nanti menjadi kendala. Tapi sekali lagi ustazah menguatkan bahwa Islam akan menyatukan kami berdua insya allah. Akupun takluk sekali lagi untuk lanjut ke taaruf atau berkenalan langsung.

Taaruf saat itu tanggal 28 Oktober . Inget karena aku  pulang upacara Sumpah Pemuda. Saat ta'aruf itulah aku sekali lagi takluk melihat kemantapan dan komitmen abi utk melanjutkan proses. Maka dengan persiapan kilat lamaran pun dilakukan tanggal 10 November. Abi ke Cilacap diantar papa Echi.
Hari itu juga ditentukan tanggal pernikahan insya Allah 18 Desember 1996.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tanggal 31 Des Abi berangkat ke Kupang. Aku ditinggal di Jakarta sambil mengurus proses pindah kantor. Dan setelah 3 bulan LDR-an,  Maret 1997 aku bisa menyusul abi ke sana.

Lalu mana cerita menyemai cintanya ?
Sabaaar yaaa ...kuceritakan itu semua supaya terbayang situasi dan kondisinya. Bahwa cinta itu ternyata bisa ditanam dan disemaikan  *macam biji ajah
Jadi apa doooong resep atau rahasia menyemai cinta itu ?

1. Ta'aruf lebih dalam melalui komunikasi yang intens. Tak kenal maka tak sayang ta'aruf. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun pertama di Kupang, aku masih bercucuran air mata. Bisa dibilang ini adalah masa perkenalan yang sebenarnya. Karena 12 hari pertama setelah menikah dan sebelum Abi kembali ke Kupang itu cuma hari bersenang senang. Yang kami lakukan dalam proses perkenalan ini adalah saling membuka diri.. mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Mengungkapkan keinginan dan mimpi- mimpi tentang sebuah kekuarga juga tentu saja bercerita tentang masa kecil . Saling mempelajari masa lalu akan memudahkan kita memahami kebiasaan pasangan di saat ini. Memang selama 3 bulanLDR an banyak diungkap lewat surat dan telepon. Tapi komunikasinya belum seintens setelah bertemu dan berkumpul langsung.

2. Saling memberi hadiah.
Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. Itu adalah pesan Rasul saw. Dari hadiah kecil sampai hadiah besar. Dari hadiah bernilai sampai hadiah yang tak ternilai harganya semacam perhatian. atau ciuman selamat pagi /malam di kening pasangan.

3. Melakukan aneka aktivitas bersama. Waiting traisen because kulinten ..Pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena berawal dari kebiaaan) itu ternyata benar adanya. Aku yang masih cuti sebulan banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Belanja ke pasar berdua. Makan berdua. Tidur berdua. yaeyalah... Kalau aku mencuci Abi membantu menjemurnya. Kebetulan di komplek kami air PAM mengalir 3 hari sekali, itupun keciiiil sekali sehingga enggak naik ke bak mandi. Maka kamipun kerja sama nampungin air. Kadang di pagi yang cerah atau di senja yang indah (cieeee puitis kali) kami ke pantai yang cuma tinggal nyebrang jalan depan komplek. Duduk duduk sambil ngobrol, jalan jalan di pasir sambil sambil pegangan tangan layaknya orang pacaran . Yaeyalah emang lagi pacaran. Pacaran ba'da nikah kata Ustadz Salim A Fillah, atau ATM  kata Ippho . Amati-taaruf-menikah. Kalau lagi males keluar rumah karena cuaca di Kupang memang sangat panas, kami duduk-duduk saja di rumah sambil baca buku dan saling merayu. Kamipun sering shalat berjamaah dan saling mrnyimak bacaan Al Qur'an
Dari aktivitas bersama inilah tumbuh kebiasaan tumbuh kesepahaman, akhirnya saling membantu dan saling menopang.

4. Saling mendoakan. Doa adalah kekuatan yang tak terkira. Doa pun dapat merubah takdir. Maka kamipun saling mendoakan. Mendoakan segala kebaikan untuk orang yang kita cintai. Karena kami menikah dalam rangka mencintai Allah dan untuk menyempurnakan ibadah pada-Nya, kamipun  selalu membaca doanya orang orang yang bersatu di jalan Allah. Sambil berdoa sambil membayangkan wajah orang yang didoakan. Antara lain adalah dengan membaca doa rabithah. Rabithah artinya ikatan. Agar selamanya, ikatan cinta pada ALlah dan ikatan Islam-lah yang menyatukan kami berdua.
Doa dicopy dari sini

artinya :
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan keutamaan iman padaMu dan keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada sahabat-sahabatnya... Allahumma Amiin."

5. Komitmen. Kemauan yang bukan sekedarnya, tapi kemauan yang kuat untuk menumbuhkan cinta. Tidak ada kata tidak bisa. Karena bagi Allah semua mudah adanya. Dia maha membolak balik hati. Benci jadi cinta, cinta jadi benci. Mungkin setelah sekian tahun bersama nanti ada rasa jenuh, kecewa, atau perasaan negatif lainnya. Maka komitmen inilah yang akan membingkai langkah pertama dst di atas yang itu teruuus berlangsung sepanjang hayat. Taaruf jalan terus. Kita berubah.pasangan berubah. kondisi berubah. Ada anak ada perbedaan sikap. Nambah harta atau kurang harta, semua bisa merubah seseorang. Maka kita harus teruus belajar mengenali pasangan.Saling memberi hadiah atau memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya (tahniah), menjaga waktu-waktu istimewa berdua, dan saling mendoakan harus terus dilakukan sampai akhir hayat nanti.

Nah, teman teman, itulah yang kulakukan untuk menyemai cinta dalam pengalamanku selama hampir 17 tahun meniti bahtera rumah tangga, menikah dengan orang yang baru dikenal dan alhamdulillah sampai hari ini Allah masih menjaga ikatan kami berdua dan mengaruniai kami dengan 5 anak yang semoga menjadi anak sholeh dan shalihah. Dan berharap, semoga kebersamaan kami ini, kekal dunia dan akhirat. Amiiin.



Senin, 04 Maret 2013

Hari Pencoblosan

Tanggal 24 Februari kemarin masyarakat Jawa Barat menentukan 'nasibnya' untuk lima tahun mendatang. Kenapa menentukan nasib ? Karena di hari itu mereka memilih gubernur/kepala daerah.
Mungkin kesannya sepele ya.. hanya mencoblos selembar kertas. Namun kisah dibalik itu tidak sesederhana tampaknya.
Bisa dibayangkan seandainya dalam setiap kesempatan pemilihan semacam itu terjadi 'salah pilih', ternyata orang yang dicoblos tidak amanah menjalankan kewajibannya, waaah.. kalau aku sih bakal menyesal seumur hidup, minimal menyesal selama 5 tahun itu.
Kenapa aku bersemangat memilih pemimpin ? Terinspirasi sama novel Tereliye (Burlian) di salah satu bab ada yang bercerita tentang pemilihan kepala desa. Diantara sekian banyak calon-calon yang buruk menurut pandangan masyarakat, tetep ayah Burlian berpendapat  harus memilih satu yang terbaik diantara mereka. Kenapa ? Yah, karena memang kita perlu pemimpin.
Menurutku pemimpin inilah yang akan mengarahkan,  memutuskan, dan mengambil resiko. Jangankan manusia, hewan-hewan di dunia ini saja mempunyai pemimpin. Lihatlah bebek, selalu ada satu bebek yang berjalan terdepan. Burung-burung terbang membentuk formasi V, ada yang paling depan. Ketika yang terdepan kelelahan, maka dia mundur dan diganti oleh satu burung yang lain.
Rasulullah pun memerintahkan kita untuk memilih pemimpin dalam sebuah perjalanan hatta itu cuma diikuti oleh 3 peserta. Jadi memang pemimpin itu sangat urgen. Setidaknya aku pribadi termasuk yang meyakini ini.

Oleh karena itu, akupun tidak keberatan ketika diajak untuk ikut kegiatan semacam voter education. Untuk meningkatkan kepedulian tentang hak pilih ini. Supaya tingkat partisipasi dalam pemilihan makin tinggi.
Kebayang ya.. kalau satu orang berfikiran "Ah.. cuma aku ini yang nggak milih" . Eh, ternyata satu orang ini dikalikan sekian, terjadi di sekian daerah, akhirnya jumlahnya mencapai 20% dari seluruh daftar pemilih tetap. Banyak kaaann ? Oke kalau karena alasan ekonomi, misalnya buruh pabrik asal Garut, kerja di Bandung, gak bisa mudik 'sekedar' untuk nyoblos. Yang model begini aku masih agak maklum. Tapi kalau untuk yang kepikiran 'ah cuma aku ini yang nggak nyoblos' itu, aku belum bisa terima.
Kepikiran nggak ya.. sama mereka, berapa biaya negara yang 'disia-siakan' karena dia nggak milih. Biaya cetak kartu suara dia, biaya nglipet kartu suara dia, biaya transport dari KPU ke TPS, dsb. Itu kan pemborosan namanya..
Trus kepikiran nggak ya... kalau ternyata 'suara' yang seharusnya menjadi hak dia, karena dia nggak milih, eh malah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertangggung jawab untuk menggelembungkan suara salah satu kandidat.
Trus yang lebih parah lagi, karena sekian orang yang berfikiran sama tadi enggak menentukan pilihan -padahal dia bisa- ternyata pemilukada harus berlangsung dua putaran maka akan lebih banyak lagi anggaran negara yang 'terbuang percuma'.
Mungkin ini terkesan lebay, tapi memang kenyataannya itung itungannya demikian.
Makanya KPUD juga udah ngeluarin ketetapan untuk memudahkan, siapapun yang namanya tidak ada di daftar pemilih tetap, asalkan punya KTP Jawa Barat, maka dia boleh mempergunakan hak pilihnya. Tinggal mau apa enggak.
Setidaknya aku telah 'mengambil resiko' mengamanahkan kepemimpinanku kepada seseorang. Kalau dia salah, aku berhak mengingatkan. Kalau di amanah, maka aku akan memberikan pujian.
Eh, kok jadi serieus gini ... hehe okelah itu tadi cuma pendapatku saja. Boleh setuju boleh juga punya pendapat lain. Monggo...

Jadi yang aku lakukan di hari pencoblosan kemarin itu ...

Pagi-pagi jalan bareng, sekeluarga ke pasar kaget di Pasir Jati, sekalian sarapan



Trus agak siang ke TPS deeh... nyoblos calon gubernur

Trus pulang nyoblos ada odong odong lewat, nemenin F5 naek odong-odong
Sisa hari itu aku isi dengan merajut sambil berdoa, mendoakan pilihanku tentu saja dan berdoa biar pemilu aman tentram damai, nggak pakai rusuh, yang kalah bisa legowo yang menang nggak usah bangga. Siapin aja kerja.  Sayang rajutannya gak sempat difoto, udah keburu habis. Buat jualan #eh.

Kamis, 07 Februari 2013

Sebaik-baik Nasehat adalah Kematian

Aku pernah punya teman yang menurutku subhanallah sekali. Hafalannya banyak, tilawahnya juga banyak. Minimal yang beliau laporkan ke ustazah adalah 2 juz per hari, atau 14 juz dalam sepekan. Atau bisa dikatakan dia khatam Al Qur'an sebulan 2x (subhanallah...).
Tutur katanya lembut , kalau bicara runut. Beliau ini sebenarnya ustadzah juga. Binaan pengajian beliau waktu itu adalah mahasiswi-mahasiswi ITB. Meskipun demikian, beliau tetap mengaji dan sangat menghormati ustadzah kami.

Pada suatu hari aku minta nasihat sama beliau. Katakan namanya Mbak Siti.
"Mbak, kasih aku nasihat dong. Biar bisa shalihah seperti Mbak Siti"
"Sebaik baik nasehat adalah kematian" jawab beliau menyitir salah satu hadits.  Aku sempat shock *lebay dengan kata kata mbak Siti. Dan akupun langsung terdiam. Memikirkan apa makna di balik kalimat pendek beliau tersebut. Karena mbak Siti enggak bersedia menjelaskan. Ya jadinya aku berusaha mencari hikmah di balik nasehat itu.

Setelah aku renungkan, memang benar sebaik baik nasehat itu kematian. Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat diambil. Orang yang senantiasa memikirkan kematian maka :
1. akan memanfaatkan waktu sebaik baiknya
kenapa ? karena hidup di dunia ini sangat sangat terbatas waktunya. Setiap hari berganti maka semakin sedikit waktu yang kita punyai. Bahkan orang bijak mengatakan, waktu adalah hidup itu sendiri. Kalau nggak ma(mp)u memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, siap siap aja menyesal dalam kehidupannya

2. akan selalu menyegerakan kebaikan
karena ajal itu sifatnya rahasia. Padahal dia akan menghampiri siapa saja. Jangan sampai belum berbuat baik eh, keburu dipanggil sama Yang Maha Kuasa. Pernah dengar nasehat seorang ustadz tentang rahasia ajal ini ternyata adalah nikmat dari Allah. Coba, kalau orang tahu kapan akhir hidupnya, macam orang yang bakal dihukum tembak mati, pastilah dia enggak enak makan, enggak enak tidur, maunya ibadah melulu.
'Beribadahlah engkau seolah olah engkau akan mati besok pagi'

3. tidak akan menghalalkan segala cara
orang orang yang beriman, tentu mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian. Di mana kita semua akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita. mulut terkunci, kaki dan tangan akan bersaksi. Orang orang yang menghalalkan segala cara, tentu melupakan semua ini. Nah mereka yang mengingat mati, akan menjadikan hal ini semacam rambu rambu bagi segala amal perbuatannya. 

4. tidak akan mencintai dunia secara berlebihan
dunia ini fana. kita tinggal hanya sementara. yang abadi adalah akhirat nanti. Jadi dia tidak akan mencintai yang fana dan melupakan yang abadi. Semua yang kita 'miliki' di dunia ini hanyalah pinjaman dari Yang Maha Memiliki. Dia Maha Kuasa untuk mengambil kapanpun dia sukai. Wajar jika salah seorang sahabat Nabi SAW berpesan "letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu".  

5. akan mempersiapkan bekal untuk mati
Allah berfirman : berbekallah, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah takwa. (QS 2;197)

Itulah menurutku nasehat yang dapat diambil dari 'kematian'. Tentu teman teman juga dapat mengambil hikmahnya selain itu. Ayo dong bagi bagi di sini...

"Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, 
seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam"