Tampilkan postingan dengan label berkebun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berkebun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

Panen Kersen

Ih... alhamdulillah senengnya .. seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, pohon kersen yang aku tanam makin rimbun dan berbuah banyak. Membuat gembira bukan hanya diriku (hihi..) tapi juga anak anakku. Akhirnya mereka mengalami yang namanya naik pohon. Seperti  Ummi dan Abinya jaman kecil dulu. Walaupun pohon itu adalah satu satunya pohon yang tumbuh di halaman kami.

Rupa rupanya, yang seneng bukan cuma aku yang nanem pohon itu, dan juga anak anak, ternyata banyak juga anak tetangga yang sering mampir dan ikut manjat pohon kersen ini.
Mulanya anak anak melarang, mungkin khawatir nggak kebagian. Padahal kersen ini kan tiap hari ada yang masak. Udah diambilin juga besoknya ada lagi dan ada lagi.

Pas Sabtu minggu lalu, si Abi ngeluarin tangga kirain buat apa. ternyata....
  
Metik kersen
Dan hasilnya adalah....
Teteh dan kersen hasil panen

 Dan entah benar entah tidak secara ilmiah ya.. sejak turunnya hujan, kersen ini makin besar dan ranum...
maniiisss... apalagi kalau disimpan di kulkas. Hmm.. manis dan dingin..

Senin, 02 April 2012

Panen Pertama

Alhamdulillah, pohon yang kutanam belum setahun sudah tumbuh tinggi, bercabang cabang dan  berdaun lebat. Dan hari Ahad pas long week end lalu aku kembali bersih bersih kebun. Merapikan batang batangnya yang sudah sampai ke jalan. Iiih.. senengnya.. ternyata sudah ada buah yang masak. Aku segera mencari galah untuk memetiknya. (Mau manjat malu soalnya... hehe)

Buah apa sih ? Halah, ini tentang buah kersen. Buah masa kecil. Tau kan pohon kersen ? Biasanya sih jadi pohon peneduh di pinggir jalan. Sebenernya tidak sepenuhnya buah masa kecil ya.. soalnya sampai sekarang aku masih suka kersen. Bahkan pas hamil Faiz, aku suka memetik kersen di halaman parkir Rumah Sakit Al Islam. MInta ijin aja sama satpamnya atau petugas parkirnya.

Dengan pohon kersen ini, halaman rumah kami sekarang jadi teduh sekarang.  Tanaman di pot juga tumbuh subur, karena nggak kepanasan lagi. Si Abi juga jadi suka duduk duduk di tritikan (pinggir rumah) buat baca koran atau baca Qur'an. Karena nggak semata mata kelihatan dari jalan raya yang jaraknya cuma 5 meteran.

Walaupun sempat dikerubutin ulat, dan nggak ada yang mau mendekat (selain yang nanem), alhamdulillah pohonnya dah serimbun ini sekarang
pohon kersen
Dulu Abi yang menghancurkan semen di halaman utk lokasi tanam ini. Huhu ..sampai Abi beli palu yang super besar dah tatah yang akhirnya patah. *senengbanget atas dukungannya (halamanku di semen semua sama pemilik rumah sebelumnya. Belum kami apa apain sampai sekarang. Pengennya ganti paving blok biar bisa nyerap air.)

Nah inilah kersen hasil panen pertama itu..


Sebenernya ada empat, mbak satu, Teteh satu, aku dua.. hahaha

Kamis, 29 Desember 2011

Berkebun (atau bertenak ulat ) ?

Sebagai seseorang yang menggeluti multi peran (cie cie...) dan memiliki multi talent (jiah.. enggak banget)  salah satu hal yang kulakukan di sela sela hari libur adalah berkebun. Di seberang jalan depan rumahku terbentang sawah nan luas, adalah setengah hektar. Tapi bukan milikku .. hehe.. jadi aku cuma menikmati saja proses si Bapak membajak sawah, menyemai bibit, menanamnya, mencabut gulma dan beberapa hari (iyah, hari.. karena gak kerasa, usia padi kan paling 3 bulanan yah..) kemudian, akan terdengar suara kelontang  kaleng kaleng berisi kerikil pengusir burung burung ketika padi mulai menguning. Dan saat yang paling berbahagia adalah ketika di pagi buta, beberapa Ibu sudah duduk duduk di pinggir sawah, itu pasti saatnya panen tiba. Lumayan laaaah... meski cuma lihat, cukup jadi pengusir penat kehidupan kota Bandung, wabil khusus Cijambe, yang mulai macet di pagi dan sore hari.

Eh, kebunku bukan yang kuceritakan tadi ya.. kebunku hanya sepetak tanah sisa yang tidak dibeton oleh pemilik lama, kira kira ukuran 50 cm x 200 cm. Hayaaah.. berkebun apa ?? Macam macamlah aku tanam di situ. Ada bunga anggrek liar di pinggir tembok, disusul rumput menghampar, dipinggir pinggirnya aku tanam sansivera, disela sela rumput sekarang aku tanam sebuah pohon nanas (haha..sebuah saja), satu pohon kunyit, dan satu pohon kemangi. hehe.
Nah di hari bumi  tahun ini, aku menanam pohon kersen. Orang ada yang bilang buah cery kampung, atau apalah  terserah kalian menyebutnya.  Eit jangan diketawain, itu pohon pinggir jalan ya.. Ini mah soal menentramkan diri, mengenang masa kecil, memanjat pohonnya, meraih buahnya yang mulai merah ranum, dan langsung hap ! masuk mulut tanpa dicuci. hmmm... yummmi...

Beberapa teman melarangku, Bibi juga, katanya banyak ulat. Suamiku nggak ngelarang (ya eyalaaah... dia kan tumbuh di kota, gak hafal masalah 'perkebunan'. Abi lah yang membantu menghancurkan semen kira kira ukuran 50x50 cm, dan menggali lubangnya untuk si Kersen kesayangan. Daaaannn... dalam 6 bulan saja, pohon itu sudah tumbuh, rimbun dan rindang. Lengkap dengan ulat ulatnya yang bergelantungan (tuh kaaan.... kata Bibi). Ulat bulu lagiii....
Merasa sebagai satu satunya oknum yang wajib bertanggung jawab, hari Sabtu pagi minggu lalu aku berpakaian lengkap, membawa galah dan memukul mukul ranting kersen itu agar si ulat berjatuhan. setelah berjatuhan, dengan kejamnya aku matiin pakai galah bambu. Adalah.... barang 30 ekor ulat. Alamaaaak.. janganlah kau tanya apa yang kurasakan ketika melakukan itu. Demi si buah cery kampung aku rela melakukannya.
Mau lihat sebagian ulat itu ? Ini dia, yang bersembunyi di bawah pot di dekat pohon kersen itu.
Hiiiii....