Minggu, 27 Juli 2025
DR. CAPT. E. Kartini M.M, Nakhoda Kapal Perempuan Pertama Indonesia
Jumat, 25 Juli 2025
Challenge 6 : Perempuan Indonesia Penjaga Lokalitas Pelaku Aksi Global
Lie Anne Avantie atau lebih dikenal dengan nama Anne Avantie adalah desainer kebaya ternama Indonesia. Beliau lahir di Semarang pada tanggal 20 Mei 1964. Karya-karyanya dikenal anggun dan penuh nilai budaya.
Anne tidak menempuh pendidikan formal dalam bidang fashion. Ia belajar secara otodidak dari pengalaman menjahit dan mengamati lingkungan sekitarnya. Bakatnya tumbuh dari hobi membuat pakaian boneka saat kecil, hingga akhirnya membuka usaha di garasi rumah.
Karya Anne Avantie mulai dikenal luas pada era 1990-an. Ia mengangkat kebaya ke panggung mode modern, menggabungkan sentuhan tradisional dan kontemporer. Banyak selebritas, bahkan pejabat dan tokoh nasional, memakai rancangannya.
Ia rutin tampil di ajang fashion bergengsi, termasuk Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week.
1. Tetap mempertahanankan sentuhan etnik pada karya kebayanya yang modern
2. Mengangkat budaya lokal Indonesia ke kancah internasional
3. Beliau aktif dalam kegiatan sosial:
- Anne mendirikan Rumah Batik Semarang di Semarang
- dan mendukung panti rehabilitasi serta pasien kanker dan anak-anak berkebutuhan khusus di bawah naungan yayasan Wisma Kasih Bunda
- Anne juga mendukung UKM yang membuat karya seni dalam negeri
- Dispilin, Disiplin menjadi landasan untuk membentuk kekompakan. Kekompakan untuk menjaga dan mengembangkan keindahan warisan budaya, lewat seni angklung
- Jujur Jujur bermakna Saung Angklung Udjo bukan cuma tempat, tetapi ruang di mana kejujuran jadi jiwa yang memperkaya setiap nuansa seni.
- Optimis - semangat penuh optimisme dalam melestarikan keindahan warisan budaya, melalui seni angklung
Kamis, 24 Juli 2025
Perempuan, Kearifan Lokal dan Identitas Nasional
Apakah anda mengenal jam karet? Bagi sebagian orang Indonesia tentunya budaya tsb bukan hal yang asing, bahkan melakukannya. Kita akui ada budaya tsb di Indonesia, tapi kurang arif. Ada lagi misalnya orang Indonesia suka berkumpul, tapi kalau pertemuan selalu selesai Isya, ini sudah terlalu malam.
- pendidikan karakter
- melestarikan bahasa daerah
- membangun literasi sejak dini
- mempererat hubungan keluarga
"Kearifan lokal bukan fosil masa lalu melainkan benih masa depan. Menghargainya berarti merawat akar, agar pohon identitas kita tetaplah kokoh."
Selasa, 22 Juli 2025
Challenge 5 : Menjaga Kearifan Lokal Sebagai Identitas Nasional
Sebuah Catatan
1. Bahasa, terdiri dari lebih 700 bahasa daerah, dan bahasa Indonesia adalah pemersatunya
2. Keragaman lagu dan tari daerah
Apa tradisi atau adat istiadat yang masih dijalankan di sekitar kita?
Karena saya tinggal di Bandung maka saya mengamati kebudayaan di sini ya.. Yang sering terlihat adalah masih ada tradisi yaitu Benjang, biasanya menyatu dengan Sisingaan yaitu anak laki-laki yang diarak keliling kampung saat disunat, diiringi musik tradisional seperti angklung, gamelan, kecapi, suling dan lagu daerah berbahasa Sunda.
| sumber : www.subang.go.id |
Apa makanan tradisional yang menjadi identitas daerah?
Di Bandung sebenarnya banyak makanan tradisional yang sudah dikenal luas, seperti cuanki, batagor, siomay, seblak, cilok, cimol, cilor dan peracian lainnya. Tapi aku ingin menampilkan makanan tradisional alin yang disebut AWUG. Sebenarnya awugnya itu sendiri hampir sama dengan awug Jawa Tengah, tapi kalau di Bandung penjual awug biasanya sekalian menjual kue kue tradisional lainnya.
| Sumber : IG Awug Cibeunying |
| Awug Cibeunying (koleksi pribadi) |
Tentu saja ada. Upacara adat misalnya saat pernikahan, ada pantun Sunda yang disebut "sisindiran" isinya bukan menyindir ya.. tetapi nasehat, kisah cinta ataupun lucu-lucuan / ngabodor.
Kalau permainan tradisional disebutnya "kaulinan barudak" atau permainan anak-anak. Di Jawa Barat ini mirip dengan di Jawa Tengah tempat aku berasal. Seperti main egrang, ucing sumput (petak umpet), dsb
Sedangkan pakaian khas Sunda untuk perempuan mengenakan kain dan kebaya, untuk laki-laki memakai baju pangsi (biasanya setelan hitam-hitam dan mengenakan ikat kepala batik)
Siapa tokoh lokal yang melestarikan budaya tersebut?
Ada satu tokoh pelestari kesenian yang namanya sudah mendunia yaitu Mang Udjo dengan padepokannya Saung Angklung Udjo. Di sini memadukan hampir semua seni dari Jawa Barat seperti yang aku ceritakan di atas. Permainan, tarian, musik, lagu, wayang golek, dan semua disajikan dalam satu pertunjukan yang sangat atraktif.
Baca juga :
Berkunjung ke Saung Angklung Udjo
Apa nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal itu?
Dalam budaya Sisingaan, seorang anak yang habis disunat, dinaikkan ke tandu berbentuk singa, kemudian diiringi musik dan lagu serta tari / kuda lumping, adalah untuk menghibur si anak dan mengalihkan dari rasa sakit (dulu belum ada anestesi ya.. ) teman-temannya menari di sekelilingnya.
Kegiatan pekan budaya di keluarga
Mungkin ini kurang relate ya.. kalau aku praktekkan dengan kondisi anak 5 dengan si bungsi usia 17 tahun dan sedang mondok. Aku mau cerita saja sih bagaimana kami yang berasal dari keluarga Indonesia (orang tuaku Jawa Tengah, mertua dari Lampung/Palembang), sempat merantau ke Kupang, NTT, anak-anak juga lahir ada yang di Kupang, di Lampung dan di Bandung. Dan saat ini kami menetap di Bandung. Perjalanan keluarga ini telah menjadikan kami menjadi keluarga Indonesia.
- waktu ikut suami ke NTT beta ju belajar bahasa Kupang (aku belajar bahasa Kupang)
- Aku dan anak anak belajar bahasa Sunda dan bahasa Jawa
- Kami mengenakan pakaian kain tenun NTT
- Setelah di Bandung anak-anak belajar angklung, bahkan 3 gadis kami ikut eskul angklung.
- Anakku yang kedua kini giat berkain dalam berbagai kesempatan.
- Sesekali kami berseragam batik, ataupun memakai songket Palembang
- Makanan tradisional dari berbagai daerah cukup familiar dengan lidah kami (jagung titi dari Kupang, getuk goreng Sokaraja dari Jawa Tengah, pempek, tekwan, dsb dari Palembang, dan jangan ditanya makanan Bandung ya..
“Tradisi apa yang dulu sering dilakukan dan sekarang mulai hilang?”
Kalau ini aku masih bisa menjawab karena aku mengalami sendiri ya.. dulu Nenek selalu mendongeng (tradisi bertutur), menceritakan kisah-kisah penuh makna sebelum kami tidur di malam hari. Pada masa aku menjadi ibu, tradisi bertutur itu bergeser ke membacakan buku.
Ada juga tradisi membuat bubur merah dan bubur putih saat memberikan nama untuk anak-anak, inipun sudah tidak aku lakukan dengan alasan satu dan lain hal. Tetapi aku membuat dan mengenalkan bubur merah dan bubur putih ini ke anak-anakku.
Senin, 21 Juli 2025
Perempuan Pembangun Jati Diri Bangsa
1. Perundungan
2. Pelaku perundungan
3. Pelaku kejahatan siber
4. Korban kejahatan seksual
5. Pelaku kejahatan seksual
6. korban pornografi dari media sosial
7. pelaku/pemilik media pornografi
8. Gangguan mental, memang belum ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) ya tetapi ODMK-orang dengan masalah kejiwaan
- waspada dengan tumpukan emosi anak / emotional backpack of our child. ketika emosi mereka tidak diwadahi, tidak divalidasi, itu akan menumpuk.
- berikan mereka waktu spesial / special time. Spesial time ini bukan hanya saat bersama kita. Tetapi mencakup juga waktu spesial ketika mereka ingin sendirian. Sebagai orang tua kita perlu memberikan itu.
- dengarkan / listen, apapun yang mereka ceritakan, tanpa judging tanpa menghakimi. termasuk juga tanpa memberikan nasehat ketika tidak diminta.
Tantangannya
1. Tantangan untuk menjadi ibu multi peran, hatta ibu tidak bekerja pun banyak peran di masyarakat ataupun sebagai perempuan pengusaha, tidak harus perempuan pekerja di sektor formal
2. Tantangan dunia kerja nanti, bagaimana anak-anak gen Z diberitakan sebagai generasi yang lekas bosan di dunia kerja dsb.
Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa kedekatan antara orang tua dan anak dapat menjadi pendorong prestasi, yaitu dengan tumbuhnya rasa syukur dan modal psikologis. dukungan emosional dan kedekatan dalam hubungan akan menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa optimis.
Langkah untuk Emotional Coaching
- Izinkan mereka mengekspresikan emosi, menangis tertawa, sedih, gembira, marah, dsb tapi ada batasan
- Biarkan mereka menceritakan hari-hari mereka
- Ajarkan mereka problem solving, bukan kita yang menyelesaikan
Mastery Coaching
- berikan tanggung jawab
- mensupport mereka bukan mengambil alih
Setelah semua usaha yang kita lakukan, ada baiknya kita sadari hal berikut "kita tidak dapat mengubah orang lain, tetapi kita dapat mengubah diri kita dan respon kita terhadap kejadian di sekitar kita. ketika respon kita berubah, maka perlahan dunia di sekitar kita juga akan berubah"
Priviledge sebuah keluarga akan memengaruhi anak-anaknya. Misal dalam kondisi Bu Ratih yang menempuh pendidikan hingga S3 dan suami beliau seorang penulis, maka anak-anak melihat bahwa kedua orang tuanya senantiasa dalam keadaan belajar. Hal ini secara tidak sadar terpatri dalam diri anak-anak. Dan bagaimana putra beliau menjadi penulis berawal dari menulis diary baru kemudian diajari teknis menulis oleh ayahnya.
Membagi waktu dan perhatian untuk anak-anak bagaimana? dalam satu keluarga tidak mungkin 7x24jam sibuk terus, ada waktu waktu santai, itu yang dimanfaatkan. Atau misalnya dalam perjalanan. Karena keluarga bu Ratih dan Pak Ario misal salah satu diminta mengisi acara, maka seluruh keluarga di boyong. Nah dalam perjalanan ini biasanya terjadi dialog.
Belajar Kelompok KPI Online
1. Motivasi
2. Berbagi
3. Komunikasi
4. Kerjasama
5. Bahagia
6. Karakter
Minggu, 20 Juli 2025
Challenge 4:Nilai-nilai Luhur untuk Generasi Penerus
Sabtu, 19 Juli 2025
Challenge 3 KPI: Keluarga Sebagai Basis Karakter Individu dan Bangsa
Sebuah catatan
Ini adalah momen kedua aku ikut KPI Online secara langsung di zoom. Sayang sekali saat itu aku mengaksesnya dari laptop kantor sehingga semua file ada di kantor. Tapi aku udah pengen bikin catatan hari ini. hehe
Jujur hati ini tertampar-tampar menyimak materi dari Prof Euis Sunarti. Beliau adalah seorang guru besar dan pakar dalam ketahanan keluarga. Menyampaikan materi tentang Keluarga Sebagai Basis Karakter Individu Bangsa.
Prof Euis mengulas betapa tantangan global keluarga saat ini begitu besar. Perubahan dinamika mobilitas aktivitas dan interaksi membawa perubahan yang berpotensi mengarah pada ketidakpastian dan permisifisme.
Sebagai contoh adalah dengan kemajuan dunia digital, dapat menjadi perangkap dalam bersosial media yang mengonsumsi banyak waktu dan juga konten pornografi maupun game yang menimbulkan adiksi. Ini akan menimbulkan ketidakseimbangan interaksi dalam keluarga dan sosial, bahkan mungkin juga akan mengakibatkan bergesernya peran dan tugas anggota keluarga. Maraknya perselingkuhan, perceraian, masalah seksual tentunya menjadi PR tersendiri buat keluarga Indonesia saat ini.
Di sinilah peran keluarga untuk menginternalisasi adab/akhlak ataupun karakter anak. Hal ini da2.pat ditandai dengan :
1. Kuatnya bonding orang tua-anak dalam pengasuhan
2. penguasaan ruang lingkup pengasuhan, orang tua jangan berhenti belajar
3. metode pengasuhan yang memadai
4. konsistensi dan persistensi
5. Lengkap dan Tuntas
6. Titik kritis pada hal hal kecil/detail
Bagaimana agar nilai-nilai keluarga tidak hanya diketahui, tetapi menjadi prinsip yang diterjemahkan dalam perilaku. sehingga tidak ada gap lagi antara pengetahuan dengan tindakan..
Tantangan ketiga
1. Nilai apa yang paling penting dalam keluarga kita?
Kalau buatku sendiri sebagai anak, dulu bapak ibu menanamkan sikap disiplin, sopan santun/tata krama, dan ramah / tidak membeda-bedakan kepada siapa. Aku ingat betul dulu ada pengamen khusus lagu keroncong yang kalau datang pasti disuguhi makan dan diminta menyanyikan beberapa lagu sekaligus. Semacam nonton live show
Aku bertanya pada anakku value keluarga apa yang kalian dapat dari Umi Abi ?
versi F2 mengatakan ada tiga nilai yaitu : Nilai religi, kejujuran dan tanggung jawab. Ketiga nilai tersebut ditanamkan sejak kecil dan semua kegiatan selalu melibatkan itu. sedangkan yang menjadi kompas adalah Nilai religi.
Jujur aku bersyukur anakku dapat menangkap makna tersebut. Jadi terharu..
2. Membuat deklarasi
Karena anak-anakku yang lima orang sudah terpisah-pisah di lima lokasi, aku tidak membuat ini dan menempel. Tetapi dengan menanyakan kepada mereka, ini seperti aku sedang mendapatkan feedback dari pola pengasuhan selama ini.
3. Contoh nilai perilaku versi anakku dalam kegiatan keluarga.
- Nilai Religi
Kami membiasakan sholat lima waktu secara berjamaah di rumah setiap hari. Setiap selesai maghrib semua anak belajar al quran dan orang tua juga membaca al quran. Khusus di bulan ramadhan hafalan al quran anak akan di cek setiap tahun hingga ramadhan kemaren saat anak-anak udah besar-besar.
Sejak anak-anak bayi, selalu kami libatkan dalam kegiatan kajian pekanan di sekitar rumah, anak bukan penghalang, mereka belajar bersosialisasi sekaligus belajar adab ketika berada di ruang publik.
- Kejujuran
Ketika berbuat kesalahan maka jujur mengakui. Misal ketika pertengkaran atau bahkan perkelahian adik kakak, siapa yang mulai duluan diminta mengaku. Kalau barang-barang hilang atau ketinggalan di sekolah juga demikian.
Selain itu kami juga menanamkan kepada anak agar belajar dengan sungguh-sungguh, karena kami tidak akan membantu dengan jalur aneh-aneh agar mereka masuk sekolah favorit. Jadi kelima anak masuk sekolah lanjutan juga sesuai akademik masing-masing.
- Tanggung jawab
Sejak anak-anak bisa diajak bicara sudah diberikan tanggung jawab sesuai usia, seperti mengembalikan mainan ke tempatnya, membaca dengan tertib (tidak menyobek/coret coret buku), membuang sampah ke tempatnya, membawa piring bekas makan ke sink, menyimpan baju kotor di tempat baju kotor, menjemur handuk, membereskan tempat tidur.. bahkan sekedar menyalakan lampu taman, mengisi air torn yang notabene hanya menekan saklar atau menutup korden juga ada PJ nya (LOL)
Seiring waktu tugas semakin berat. Seperti mencuci piring dibuat jadwal, mengangkat jemuran, menyapu ruangan-ruangan dan halaman, dsb Jangan ditanya urusan sekolah, buku, PR ataupun tugas, orang tua hanya mensupervisi, bukan mengambil alih. Kami anti, tugas sekolah anak dikerjakan oleh orang tua. Ini juga mengajarkan kejujuran/integritas.
Dari catatanku di atas, Kami percaya keluarga kami dapat membangun Indonesia lebih baik dengan cara berkontribusi di bidang kami masing-masing. Kami orang tua adalah sepasang ASN, anak pertama kedua juga ASN. Insya allah kami selalu berusaha menjaga integritas dan menjadi ASN yang melayani masyarakat. ANak ketiga dst masih menuntut ilmu.
Semoga kontribusi ini menjadi kontribusi positif untuk Indonesia.
Minggu, 13 Juli 2025
Challenge 2 KPI: Sejarah Maritim dan Peran Perempuan Indonesia
Kisah Malayahati
Malahayati adalah perempuan asli Aceh kelahiran 1 Januari 1550. Beliau menjadi satu di antara beberapa singa betina dari Tanah Rencong yang bernyali besar, selain Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia yang melawan penjajah. Nama asli Malayahati adalah Keumalahayati, ia berasal dari keluarga pengarung samudra berdarah biru. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah seorang Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh. Malahayati adalah cicit dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua di Kesultanan Aceh yang memerintah pada tahun 1530 sampai 1539.
Tumbuh besar di lingkungan istana, lalu mengikuti akademi militer angkatan laut kesultanan bernama Mahad Baitul Maqdis. Saat menginjak usia 35 tahun, Malahayati sudah menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah semasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil memerintah. Oleh Sultan Riayat Syah, Malahayati diberi pangkat laksamana dan mempunyai mimpi ingin membangun sebuah armada tempur laut yang seluruh prajuritnya adalah perempuan.
Impian tersebut terwujud setelah suami Malahayati gugur di peperangan melawan portugis. Ia menamakan pasukan elite tersebut dengan Inong Balee atau prajurit perempuan yang berstatus janda. Jumlahnya mencapai 2.000 orang. Inong Balee adalah para janda dari prajurit yang gugur kala bertempur melawan Portugis. Berbekal kemampuan yang didapat ketika menimba ilmu di Mahad Baitul Maqdis, Malahayati melatih Inong Balee menjadi pasukan tempur yang disegani.
Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya sebatas di perairan Selat Malaka saja, namun juga sampai ke pantai timur Sumatra dan Malaya.
Mereka juga membangun Benteng Inong Balee di sebuah perbukitan tak jauh dari pesisir Teluk Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tempat perlindungan pertama yang seluruhnya dibangun oleh kaum hawa tersebut memiliki tinggi tembok sekitar 100 meter dan cukup aman untuk menahan serangan musuh.
Malahayati wafat pada 1615 dan dimakamkan di dekat bentengnya di Desa Lamreh, Krueng Raya. Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2017 berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 115/TK/Tahun 2017.
Kini nama Malahayati diabadikan sebagai nama salah satu Kapal Perang AL RI, dan juga menjadi nama pelabuhan di kec. Masjid Raya, Banda Aceh.


