Minggu, 13 Juli 2025

Challenge 2 KPI: Sejarah Maritim dan Peran Perempuan Indonesia

Kisah Malayahati

Malahayati adalah perempuan asli  Aceh kelahiran 1 Januari 1550. Beliau menjadi satu di antara beberapa singa betina dari Tanah Rencong yang bernyali besar, selain Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia yang melawan penjajah. Nama asli Malayahati adalah Keumalahayati, ia berasal dari keluarga pengarung samudra berdarah biru. Ayahnya adalah Laksamana Mahmud Syah seorang Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh. Malahayati adalah cicit dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua di Kesultanan Aceh yang memerintah pada tahun 1530 sampai 1539.

Tumbuh besar di lingkungan istana, lalu mengikuti akademi militer angkatan laut kesultanan bernama Mahad Baitul Maqdis. Saat menginjak usia 35 tahun, Malahayati sudah menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah semasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil memerintah. Oleh Sultan Riayat Syah, Malahayati diberi pangkat laksamana dan mempunyai mimpi ingin membangun sebuah armada tempur laut yang seluruh prajuritnya adalah perempuan.

Impian tersebut terwujud setelah suami Malahayati gugur di peperangan melawan portugis. Ia menamakan pasukan elite tersebut dengan Inong Balee atau prajurit perempuan yang berstatus janda. Jumlahnya mencapai 2.000 orang. Inong Balee adalah para janda dari prajurit yang gugur kala bertempur melawan Portugis. Berbekal kemampuan yang didapat ketika menimba ilmu di Mahad Baitul Maqdis, Malahayati melatih Inong Balee menjadi pasukan tempur yang disegani.

Pasukan Inong Balee mulai dilibatkan dalam beberapa peperangan melawan Portugis dan Belanda. Wilayah pertempuran mereka tidak hanya sebatas di perairan Selat Malaka saja, namun juga sampai ke pantai timur Sumatra dan Malaya.

Mereka juga membangun Benteng Inong Balee di sebuah perbukitan tak jauh dari pesisir Teluk Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Tempat perlindungan pertama yang seluruhnya dibangun oleh kaum hawa tersebut memiliki tinggi tembok sekitar 100 meter dan cukup aman untuk menahan serangan musuh.

Malahayati wafat pada 1615 dan dimakamkan di dekat bentengnya di Desa Lamreh, Krueng Raya. Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 2017 berdasarkan Keputusan Presiden RI nomor 115/TK/Tahun 2017.

Kini nama Malahayati diabadikan sebagai nama salah satu Kapal Perang AL RI, dan juga menjadi nama pelabuhan di kec. Masjid Raya, Banda Aceh.


Peta Maritim



Anak-anakku ada lima dan sudah besar-besar serta berpencaran. Berdiskusi membuat impian maritim saat ini tidak relate lagi dengan mereka. Maka aku akan menuliskan laut mana saja yang sudah pernah aku arungi.Aku mulai dari barat.
1. Selat Sunda, ini sering kami seberangi ketika kami sekeluarga mudik ke Lampung
2. Laut Jawa, aku pernah menyeberang ke Kepulauan Seribu
3. Selat Bali, pernah kami seberangi ketika kami dari Denpasar menuju Jawa Tengah lewat jalan darat
4. Beberapa kali naik KM Dobonsolo dari Kupang ke Surabaya dan Sebaliknya, ini melewati beberapa laut yaitu Laut Sawu, Samudra Indonesia, Selat Bali dan Selat Madura

Sedangkan pantai yang pernah kami kunjungi :
1. Pantai Pasir Putih (Lampung)
2. Pantai Ancol (DKI Jakarta)
3. Pantai Kepulauan Seribu (DKI Jakarta)
4. Pantai Pangandaran (Jabar)
5. Pantai Teluk Penyu dan Srandil (Jawa Tengah)
6. Pantai Indrayati (DIY)
7. Pantai Pasir Panjang (NTT)

Komitmen kami terhadap laut dan lingkungan pada umumnya yang paling pertama adalah tidak merusak, kemudian menjaga kebersihan, dan ini berlaku di manapun berada. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.