Sabtu, 19 Juli 2025

Challenge 3 KPI: Keluarga Sebagai Basis Karakter Individu dan Bangsa

 



Sebuah catatan

Ini adalah momen kedua aku ikut KPI Online secara langsung di zoom. Sayang sekali saat itu aku mengaksesnya dari laptop kantor sehingga semua file ada di kantor. Tapi aku udah pengen bikin catatan hari ini. hehe

Jujur hati ini tertampar-tampar menyimak materi dari Prof Euis Sunarti. Beliau adalah seorang guru besar dan pakar dalam ketahanan keluarga. Menyampaikan materi tentang Keluarga Sebagai Basis Karakter Individu Bangsa.

Prof Euis mengulas betapa tantangan global keluarga saat ini begitu besar. Perubahan dinamika mobilitas aktivitas dan interaksi membawa perubahan yang berpotensi mengarah pada ketidakpastian dan permisifisme.

Sebagai contoh adalah dengan kemajuan dunia digital, dapat menjadi perangkap dalam bersosial media yang mengonsumsi banyak waktu dan juga konten pornografi maupun game yang menimbulkan adiksi. Ini akan menimbulkan ketidakseimbangan interaksi dalam keluarga dan sosial, bahkan mungkin juga akan mengakibatkan bergesernya peran dan tugas anggota keluarga. Maraknya perselingkuhan, perceraian, masalah seksual tentunya menjadi PR tersendiri buat keluarga Indonesia saat ini.

Di sinilah peran keluarga untuk menginternalisasi adab/akhlak ataupun karakter anak. Hal ini da2.pat ditandai dengan :

1. Kuatnya bonding orang tua-anak dalam pengasuhan

2. penguasaan ruang lingkup pengasuhan, orang tua jangan berhenti belajar

3. metode pengasuhan yang memadai

4. konsistensi dan persistensi

5. Lengkap dan Tuntas 

6. Titik kritis pada hal hal kecil/detail 

Bagaimana agar nilai-nilai keluarga tidak hanya diketahui, tetapi menjadi prinsip yang diterjemahkan dalam perilaku. sehingga tidak ada gap lagi antara pengetahuan dengan tindakan..

Tantangan ketiga

1. Nilai apa yang paling penting dalam keluarga kita?

Kalau buatku sendiri sebagai anak, dulu bapak ibu menanamkan sikap disiplin, sopan santun/tata krama,  dan ramah / tidak membeda-bedakan kepada siapa. Aku ingat betul dulu ada pengamen khusus lagu keroncong yang kalau datang pasti disuguhi makan dan diminta menyanyikan beberapa lagu sekaligus. Semacam nonton live show

Aku bertanya pada anakku value keluarga apa yang kalian dapat dari Umi Abi ?

versi F2 mengatakan ada tiga nilai yaitu : Nilai religi, kejujuran dan tanggung jawab. Ketiga nilai tersebut ditanamkan sejak kecil dan semua kegiatan selalu melibatkan itu. sedangkan yang menjadi kompas adalah Nilai religi.

Jujur aku bersyukur anakku dapat menangkap makna tersebut. Jadi terharu..

2. Membuat deklarasi

Karena anak-anakku yang lima orang sudah terpisah-pisah di lima lokasi, aku tidak membuat ini dan menempel. Tetapi dengan menanyakan kepada mereka, ini seperti aku sedang mendapatkan feedback dari pola pengasuhan selama ini.


3. Contoh nilai perilaku versi anakku dalam kegiatan keluarga.

- Nilai Religi

Kami membiasakan sholat lima waktu secara berjamaah di rumah setiap hari. Setiap selesai maghrib semua anak belajar al quran dan orang tua juga membaca al quran. Khusus di bulan ramadhan hafalan al quran anak akan di cek setiap tahun hingga ramadhan kemaren saat anak-anak udah besar-besar.

Sejak anak-anak bayi, selalu kami libatkan dalam kegiatan kajian pekanan di sekitar rumah, anak bukan penghalang, mereka belajar bersosialisasi sekaligus belajar adab ketika berada di ruang publik.

- Kejujuran

Ketika berbuat kesalahan maka jujur mengakui. Misal ketika pertengkaran atau bahkan perkelahian adik kakak, siapa yang mulai duluan diminta mengaku. Kalau barang-barang hilang atau ketinggalan di sekolah juga demikian. 

Selain itu kami juga menanamkan kepada anak agar belajar dengan sungguh-sungguh, karena kami tidak akan membantu dengan jalur aneh-aneh agar mereka masuk sekolah favorit. Jadi kelima anak masuk sekolah lanjutan juga sesuai akademik masing-masing. 

- Tanggung jawab

Sejak anak-anak bisa diajak bicara  sudah diberikan tanggung jawab sesuai usia, seperti mengembalikan mainan ke tempatnya, membaca dengan tertib (tidak menyobek/coret coret buku), membuang sampah ke tempatnya, membawa piring bekas makan ke sink, menyimpan baju kotor di tempat baju kotor, menjemur handuk, membereskan tempat tidur.. bahkan sekedar menyalakan lampu taman, mengisi air torn yang notabene hanya menekan saklar atau menutup korden juga ada PJ nya (LOL)

Seiring waktu tugas semakin berat. Seperti mencuci piring dibuat jadwal, mengangkat jemuran, menyapu ruangan-ruangan dan halaman, dsb  Jangan ditanya urusan sekolah, buku, PR ataupun tugas, orang tua hanya mensupervisi, bukan mengambil alih. Kami anti, tugas sekolah anak dikerjakan oleh orang tua. Ini juga mengajarkan kejujuran/integritas.

Dari catatanku di atas, Kami percaya keluarga kami dapat membangun Indonesia lebih baik dengan cara berkontribusi di bidang kami masing-masing. Kami orang tua adalah sepasang ASN, anak pertama kedua juga ASN. Insya allah kami selalu berusaha menjaga integritas dan menjadi ASN yang melayani masyarakat. ANak ketiga dst masih menuntut ilmu. 

Semoga kontribusi ini menjadi kontribusi positif untuk Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.