Tampilkan postingan dengan label #Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Ibu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juni 2014

Siti Oded M. Danial : Jadilah Penulis Yang Mampu Menduplikasi Kebaikan

Pada hari Sabtu kemarin, aku mendapat kesempatan berkunjung ke rumah Ibu Siti Oded M. Danial. Beliau adalah istri wakil walikota Bandung. Kedatanganku bersamaan dengan rombongan dari Sekolah Perempuan yang dipimpin oleh teh Indari Mastuti.

Selama ini aku selalu membayangkan, alangkah sungkannya memasuki rumah-rumah yang dijaga satpam gitu. Nanti gimana, bilang apa kalau ditanya-tanya. Tapi alhamdulillah, pas aku mendekati pintu gerbang rumah, pak satpam bertanya ramah. Dan ketika kami menyampaikan maksud kedatangan, langsung di persilakan masuk.

teras depan
Teras dengan kursi kayu yang tegas dan sederhana adalah pemandangan pertama yang aku jumpa. 
Kemudian karena pintu sudah terbuka lebar, kami memasuki ruang tamu yang bersih dan rapi, dengan makanan kecil dan minuman yang sudah ready. Selain itu,  mataku juga menangkap dua buah foto di dinding, yaitu foto Bapak Oded M. Danial dalam seragam dinas wakil walikota dan Ibu Siti Oded M. Danial (mungkin mengenakan seragam PKK yaaa... hihi )


Foto Bapak Oded M. Danial beserta Ibu


Kami langsung diminta masuk ke ruang tengah yang super luas. Nampaknya ruangan ini sering dipergunakan untuk aneka pertemuan.
Ibu Siti menemui kami semua yang jumlahnya mendekati duapuluh orang dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan. Kami duduk lesehan dan diminta memperkenalkan diri satu demi satu.
Jamuan kue-kue tradisional dan buah segar menambah kehangatan. Kami merasa diterima. Sama sekali tidak ada jarak.

Karena adzan dzuhur telah berkumandang, beliau mempersilakan kami untuk shalat. Dan ketika selesai shalat, betapa tersanjungnya kami, ternyata beliau sudah menyiapkan hidangan spesial berupa nasi soto khas Jawa Timur. Kenapa spesial ? selain rasanya yang mak nyuus, tentu saja karena soto ini dimasak sendiri oleh Ibu Siti Oded.
Sekilas beliau bercerita, bahwa memasak makanan untuk banyak orang adalah hal yang biasa dilakukan sebelum menjabat ibu wakil walikota, yaitu menyediakan makan untuk para karyawan di tempat pembuatan es krim milik Bapak Oded M. Danial yang jumlahnya belasan orang. Dan ini no art ya... NO ART ! (hihi penting ya.... harus di capslock). Dan tentu saja aktivitas masak memasak ini tidak menyita waktu beliau dan aktivitas dakwah beliau di beberapa majelis taklim. Apalagi  mengganggu waktu ibadah beliau.
Dapat bocoran dari teh Indari, beliau ini sudah terbiasa setiap hari tilawah minimal 3 juz.
Nggak heran kalau putri bungsu beliau yang baru menginjak 6 tahun sudah mempunyai banyak hafalan Al Qur'an. (ihiks.... langsung pasang cermin besar - besar)

Dan subhanallah, begini ya.. rasanya silaturrahim dengan orang sholeh. Baru melihat keseharian aja sudah banyak hikmah dan pelajaran. Dan makin terpukau ketika beliau memberikan petuah kepada kami semua.
Menurut beliau, silaturrahim merupakan salah satu saat di mana kita dapat berbagi rejeki. Bukan saja rejeki yang berupa materi ya... tetapi berbagi atas semua yang Allah karuniakan kepada kita semua termasuk ilmu pengetahun. (Dalam konteks penulis dan blogger kali bisa dimasukkan ya.. silaturrahim melalui blog walking).

Beliau berpesan kepada para penulis dan calon penulis, khususnya penulis perempuan,  agar menggali potensi diri sedalam-dalamnya. Jadilah penulis perempuan yang senantiasa menampilkan tulisan dan sosok-sosok yang membawa kebaikan, misalkan wanita -wanita shalihah di sekitar Nabi dan Rasul. Salah satunya adalah Khadijah, pernah nggak terbayangkan bagaimana dukungan Khadijah terhadap aktivitas Rasulullah. Di rumah Rasul tentu banyak aktivitas, banyak tamu, menyediakan jamuan dsb. Dan beliau tidak lalai dalam mendidik anak-anak. Daaaan.. Khadijah tetap mengurus bisnisnya. Super sekali kaan..

Kemudian, setelah terbiasa menulis tentang kebaikan dan sosok pembawa kebaikan, beliau  menyemangati agar para penulis perempuan  berusaha menjadi sosok yang menginspirasi dan mampu menduplikasi kebaikan. Bukan hanya di dunia maya, tetapi juga dibawa ke dunia nyata. Karena ada orang-orang yang tidak tersambung dengan dunia maya.
Tingkatkan kepedulian terhadap sekitar, bergaullah dengan tetangga, ikutlah arisan, ikutlah kegiatan di masyarakat, dan sebarkanlah kebaikan yang kita tulis itu melalui pertemuan-pertemuan tersebut agar wilayah kebaikan semakin luas.

Subhanallah... lengkap sekali nasehatnya, Bu...
Terima kasih sudah menerima kami semua...



teh Indari, Qanita (putri bungsu bu Siti), dan Ibu Siti Oded



Kamis, 26 Desember 2013

Hari Ibu bersama Ibu dan Anak

Ceritanya kemarin kami mengadakan peringatan Hari Ibu. Acaranya disatuin sama acara Bincang-Bincang Santai (BBS) Rumah Keluarga. BBS-nya sendiri ini udah kali kedua. Kali pertama pertengahan tahun kemarin bersama Ibu Atalia Kamil dan Ibu Zulaeha Rahman. Kali ini nara sumbernya adalah Ibu Yuria Pratiwi Cleopatra, nama tenarnya Teh Patra- alumni ITB yang sudah lulus S2 Keuangan Syariah di UI. Temanya nggak jauh-jauh dari seputar keluarga dan mendidik anak.

Sebelum acara BBS dimulai, acara dimeriahkan dengan lomba mewarnai untuk siswa TK yang notabene adalah  anak-anak peserta BBS.
Acara dibuka dengan tasmi' (mendengarkan hafalan Al Qur'an) surat An-Naba. Full  40 ayat. Dibawakan oleh Sofi - kelas 5 SD Cendekia Muda. Sofi ini putri Ibu Nailah ketua Pimpinan Cabang Persaudaraan Muslimah (Salimah) Ujungberung. Wah, kalau ketemu anak kecil yang sudah mulai menghafal Al Qur'an gini malu hati. Umur segitu dulu aku masih main di sawah dan di kali, dan baru belajar menghafal bacaan shalat. Umur segini sekarang, hafalan juga segini-gini aja. Astaghfirullah...

Setelah tasmi' ada sambutan sebentar dari panitia dan pemaparan oleh Teh Patra. Ramai ? Pastilah. Namanya juga acara ibu dan anak. Anak anak riuh bermain di halaman TK, sementara ibu-ibu tetap konsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan Teh Patra saking menariknya.

ini lho ulah anak-anak selama ibunya mengikuti BBS

Beliau cerita tentang mendidik anak. Bahwa memberikan pendidikan terbaik untuk anak itu bukan berarti harus masuk sekolah yang favorit dan mahal. Ya harus disesuaikan dengan kondisi  kita masing-masing. Apa yang tidak didapat anak dari sekolahan, orang tua harus mengusahakan. Sebagai praktisi homeschooling, beliau menceritakan aktivitasnya, di saat sekolah serba mahal, kenapa enggak jika para ibu mengajar sendiri anak-anaknya. Dalam komunitas home schooling ini ibu akan mengajar sesuai latar belakang ilmunya. Misal belajar bahasa ke Mama A. Belajar matematika ke Mama si B, dst.
Ya tapi kembali lagi ke kondisi setiap keluarga. Pilihannya apa. Semua ada kurang lebihnya. Tapi dari pilihan itu, minimal ada 4 hal yang dibekalkan orang tua pada anak :
* kemampuan membaca, memahami dan menghafal Al Qur'an ( krn dari Al Qur'an anak akan mengenal diri dan Tuhannya)
* kemampuan berbahasa - sebagai bekal dia berinteraksi dengan sesama
* kemampuan untuk survive - termasuk ilmu pengetahuan sesuai jamannya ada di sini ya...
* kesehatan fisik
Pas sesi tanya jawab, ibu ibu berebut untuk bertanya. Bukan karena dapat doorprize dari Fera|Faza|Faqih OLShop, tapi karena pengen lebih jelas.

Acara ditutup dengan penyerahan hadiah lomba mewarnai yang berupa piala, piagam penghargaan, bingkisan dan voucher diskon untuk test STIFIN dari Pak Human. Vocer itu dapat digunakan sebagai pengurang biaya test STIFIN yang aslinya Rp.350rb. Buat temen-temen yang mau nanya-nanya tentang STIFIN bisa langsung  berkunjung ke website : www.pakhuman.com atau melalui FB Human Revalsyah / chat WA 087825240626.

Selesai acara panitia langsung rapat evaluasi. Alhamdulillah dapat kejutan masing-masing sekotak nasi kuning dari bu Yani.
Lumayan capek juga, tapi seneng karena acara sukses. Anak senang, ibu senang, keluarga tenang hehehe


Sofi - berkerudung Ungu. Ditemani adiknya
hihi itu yang kerudung biru siapa ya.. menyamar jadi bu guru TK
Juri dan sebagian panitia foto bersama dengan teh Patra (tengah, berkerudung abu)

Minggu, 22 Desember 2013

Kenangan tentang Ibu

Ketika aku keluar kamar seusai shalat dan tilawah subuh tadi, mbak yang sedang cuci piring memberi isyarat minta cipika cipiki. "Happy Mother Day, Ummi". Kemudian disusul oleh Teteh yang juga baru selesai shalat subuh. "Selamat hari, Ibu. I love You"

Di penghujung Desember ini, ada beberapa hari 'istimewa' yang sambung menyambung. Ultah perkawinan 18 des, ultah mbak 20 des, dan juga hari Ibu 22 Des. Aku sendiri menganggapnya bukan sesuatu yang harus dirayakan atau apa, tetapi tanggal tanggal tersebut ibaratnya seperti patok-patok kilometer di perjalanan hidup. Sebagai penanda, bahwa suatu saat akan tiba di akhir perjalanan.

Bila kita lihat sejarah Hari Ibu di Indonesia, yang bermula dari Kongres Perempuan 22 Des 1928, aku melihatnya lebih ke penghargaan akan perjuangan seorang perempuan.  Di Indonesia kita mengenal nama-nama pejuang yang berasal dari kaum kita, sebutlah Ibu Kartini, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, Tjut Mutia, Nyi Ageng Serang, Christina Marta Tiahahu, dan masih banyak lagi.

Perjuangan seorang Ibu bukan saja di era baru. Sejarah kemanusiaan telah mengukir indah perjuangan seorang ibu untuk kehidupan dan keberlangsungan generasi. Kita mengenang perjuangan Bunda Hajar yang berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa demi bayi Ismail as. Kita juga mengenang perjuangan Maryam menghadapi cemooh penduduk  ketika Allah titipkan bayi kecil Isa as melalui rahimnya. Bunda Khadijah yang menghibahkan seluruh hartanya untuk pencerahan umat, bunda Fathimah yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang begitu berat demi keridhoan Allah dan Rasul-Nya. 
Dan sesungguhnya perjuangan semua Ibu di muka bumi ini dimulai ketika di rahimnya telah Allah ciptakan calon jabang bayi.

Ibu mengandung selama 9 bulan lebih, dengan konsekwensi merasakan "wahnan 'ala wahnin" kesusahan di atas kesusahan, kesusahan yang bertambah-tambah. Yang mual tapi harus tetap makan demi kebutuhan asupan gizi si jabang bayi. Yang menggendong janin kemanapun dia pergi, dsb.
Setelah jabang bayi lahir, seorang Ibu masih harus menyusui.
Di samping itu, pendidikan si anak pun bermula dari Ibu.  Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Subhanallah, tak heranlah bila dikatakan surga itu di bawah telapak kaki ibu. Dan Rasulpun memerintahkan agar seorang anak mematuhi kata-kata atau perintah ibu sejauh perintah tersebut tidak melanggar ketentuan Allah.

Kalau aku membuka kenangan tentang ibuku sendiri, rasanya tak kan sanggup kata-kataku melukiskan perjuangan beliau. Aku mengenal Ibu sebagai pribadi yang sabar dan anggun, tidak pernah marah meledak maupun tertawa terbahak-bahak. Mengandung, melahirkan, menyusui sekaligus mendidik 7 anak bukanlah perkara mudah. Bukan, bukan 7 anak, tepatnya 10 anak, karena ada 3 kakakku yang meninggal waktu kecil. Entah usia berapa, tidak ada yang berani membuka luka lama itu, kecuali selentingan saja. Aku hanya melihat ibuku pernah menangis dan berdoa di deretan makam-makam mungil tanpa nisan saat pulang ke kampung mbah.

Ibuku seorang guru sekolah dasar. Meski tiap hari mengajar, mempunyai 2 ART aku tahu ibuku menyempatkan memasak sebelum bekerja. Karena aku selalu diutusnya ke pasar dan kemudian membantu beliau sekedar memotong-motong sayur atau bumbu dapur. Masakan standar saja. Bobor, oseng, sup, sayur bening, goreng tempe / tahu, paling banter ikan atau udang. Sesekali menyembelih ayam peliharaan. Tidsk ada baking atau apa. Aku ingat ibuku belajar baking saat aku sudah SD. Bolu 'seprapatan' yang benar benar hommy yummy di lidahku saat itu.

Aku melihat ibuku begitu sabar mendidik dan memberikan pengajaran. Beliau bercerita bahwa perjuangan paling berat adalah mengajar kelas 6 dan kelas kecil (kelas satu dan dua). Di kelas kecil,  guru harus membuka mata mereka dan mengajari mereka membaca. Meski berat, toh kami masih bisa tertawa ketika mengoreksi hasil ulangan anak-anak dan mendapati jawaban mereka yang 'enggak nyambung'  sama sekali dengan pertanyaan.  Ya, aku sering dapat order mengoreksi ulangan dan mengetik soal dari ibuku. Dan aku mendapat 'honor' dari tugas itu.
Dan di kelas besar ada beban mental soal prosentase kelulusan.
Mungkin karena aku anak perempuan terbesar ya jadi ibu sharing hal beginian denganku.

Membekas juga di benakku perjuangan ibu di dalam mencukupi nafkah. Berapa sih gaji pasangan PNS kala itu ? Cukup apa untuk membiayai makan dan sekolah anak tujuh?  Kadang gali lubang tutup lubang menjadi jalan keluar. Dan akulah kurir untuk pinjam uang atau membayar hutang. Cukup ibu menulis surat buat sahabat beliau dan aku mengantar surat itu. Di sinilah aku belajar, bahwa berhutang itu bukan semata transaksi keuangan, tapi ini menyangkut masalah harga diri. Aku belajar di posisi orang yang berkesusahan.

Meski kehidupan kami seperti itu, tapi tidak membuat bapak dan ibu pelit berbagi. Bapak, mempunyai seorang pengamen langganan. Ya, langganan. Setiap dia datang kami request beberapa lagi diiringi ukulele. Trus pengamen itu diajak makan bersama. Jangan bayangkan pengamen seperti jaman sekarang ya... saat itu pengamen itu singgah paling hanya sebulan sekali.
Ibu juga ada pengemis langganan. Dia datang di setiap pasaran Pon, menuju pasar di kota kecamatan. Jadi lima hari sekali dia mampir ke rumah kami. Sampai sampai ibu punya piring khusus untuk pak Pon dan selalu menyediakan makanan di pagi hari sebelum bapak itu datang.

Itulah sekelumit kenanganku tentang Ibu. Sengaja aku tidak menuliskan bagian yang mengharu biru, karena aku tak ingin menangis di hari Ibu.

Selamat hari Ibu, teman. Selamat berjuang hingga maut mengistirahatkan.