| foto nikah, masa' suami istri foto berdua, yang satu tangannya di depan, satu lagi tangannya di belakang punggung X_X |
|
Aku menikah dengan Abi tanpa pacaran. Begitulah kenyataanya. Kami diperkenalkan oleh guru mengaji. Aku saat di Jakarta dulu aktif di sebuah yayasan . Suami ustadzah ketua yayasan adalah seorang
ustadz terbang yang wilayah dakwahnya sampai ke Kupang-NTT kota penempatan pertama Abi setelah jadi PNS. Abi yang kemudian diklat ke Jakarta, datang menemui ustadz mohon bantuan dicarikan jodoh. Targetnya selama 3 bulan diklat di Jakarta semua proses dapat dilalui mulai dari taaruf / kenalan sampai menikah.
Menurut cerita Abi, ketika itu dia dikasih 2 amplop tertutup yang berisi biodata akhwat. Pas minta dipilihkan, kata ustadz insya Allah dua duanya cocok dengan abi. Akhirnya Abi memilih yang ada di tangan kanan ustadz. Isinya ? Biodataku. :D
Si Abi pun shalat istikharah mau lanjut atau tidak setelah melihat data diriku. Ketika Abi memutuskan mau lanjut ta'aruf baru aku dikasih tahu sama ustadzah bahwa ada ikhwan yang siap ta'aruf. Awalnya aku sampaikan bahwa aku belum siap. Karena aku masih belum bisa masak dan masih males mandi
*sampai sekarang.
Tapi ustazah menasehatiku bahwa kesiapan itu sangat relatif. Soal belum bisa masak itu bisa berlatih. Dan soal males mandi insya allah enggak bakalan males mandi lagi setelah nanti punya suami. Dan yang paling jleb adalah ketika ustazah membacakan hadis
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau
ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak
engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul
kerusakan yang merata di muka bumi.”
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)
Maka akupun takluk dan menuruti kata ustadzah. Aku menerima biodata Abi.
Awalnya agak minder. Melihat Abi yang 8 bersaudara kuliah semua pastilah dari keluarga berada. Sedangkan aku dari keluarga yang sangat sederhana, dari 7 bersaudara yang sampai bangku kuliah
cuma baru dua orang. Kemudian perbedaan latar belakang budaya, Abi Sumatera dan aku dari Jawa, khawatir nanti menjadi kendala. Tapi sekali lagi ustazah menguatkan bahwa
Islam akan menyatukan kami berdua insya allah. Akupun takluk sekali lagi untuk lanjut ke taaruf atau berkenalan langsung.
Taaruf saat itu tanggal 28 Oktober . Inget karena aku pulang upacara Sumpah Pemuda. Saat ta'aruf itulah aku sekali lagi takluk melihat kemantapan dan komitmen abi utk melanjutkan proses. Maka dengan persiapan kilat lamaran pun dilakukan tanggal 10 November. Abi ke Cilacap diantar papa Echi.
Hari itu juga ditentukan tanggal pernikahan insya Allah 18 Desember 1996.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tanggal 31 Des Abi berangkat ke Kupang. Aku ditinggal di Jakarta sambil mengurus proses pindah kantor. Dan setelah 3 bulan LDR-an, Maret 1997 aku bisa menyusul abi ke sana.
Lalu mana cerita menyemai cintanya ?
Sabaaar yaaa ...kuceritakan itu semua supaya terbayang situasi dan kondisinya. Bahwa cinta itu ternyata bisa ditanam dan disemaikan *
macam biji ajah
Jadi apa doooong resep atau rahasia menyemai cinta itu ?
1. Ta'aruf lebih dalam melalui komunikasi yang intens. Tak kenal maka
tak sayang ta'aruf. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun pertama di Kupang, aku masih bercucuran air mata. Bisa dibilang ini adalah masa perkenalan yang sebenarnya. Karena 12 hari pertama setelah menikah dan sebelum Abi kembali ke Kupang itu cuma hari bersenang senang. Yang kami lakukan dalam proses perkenalan ini adalah saling membuka diri.. mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Mengungkapkan keinginan dan mimpi- mimpi tentang sebuah kekuarga juga tentu saja bercerita tentang masa kecil . Saling mempelajari masa lalu akan memudahkan kita memahami kebiasaan pasangan di saat ini. Memang selama 3 bulanLDR an banyak diungkap lewat surat dan telepon. Tapi komunikasinya belum seintens setelah bertemu dan berkumpul langsung.
2. Saling memberi hadiah.
Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. Itu adalah pesan Rasul saw. Dari hadiah kecil sampai hadiah besar. Dari hadiah bernilai sampai hadiah yang tak ternilai harganya semacam perhatian.
atau ciuman selamat pagi /malam di kening pasangan.
3. Melakukan aneka aktivitas bersama.
Waiting traisen because kulinten ..Pepatah Jawa
witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena berawal dari kebiaaan) itu ternyata benar adanya. Aku yang masih cuti sebulan banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Belanja ke pasar berdua. Makan berdua. Tidur berdua. yaeyalah... Kalau aku mencuci Abi membantu menjemurnya. Kebetulan di komplek kami air PAM mengalir 3 hari sekali, itupun keciiiil sekali sehingga enggak naik ke bak mandi. Maka kamipun kerja sama nampungin air. Kadang di pagi yang cerah atau di senja yang indah (cieeee puitis kali) kami ke pantai yang cuma tinggal nyebrang jalan depan komplek. Duduk duduk sambil ngobrol, jalan jalan di pasir sambil sambil pegangan tangan layaknya orang pacaran . Yaeyalah emang lagi pacaran. Pacaran ba'da nikah kata Ustadz Salim A Fillah, atau ATM kata Ippho .
Amati-taaruf-menikah. Kalau lagi males keluar rumah karena cuaca di Kupang memang sangat panas, kami duduk-duduk saja di rumah sambil baca buku
dan saling merayu. Kamipun sering shalat berjamaah dan saling mrnyimak bacaan Al Qur'an
Dari aktivitas bersama inilah tumbuh kebiasaan tumbuh kesepahaman, akhirnya saling membantu dan saling menopang.
4. Saling mendoakan. Doa adalah kekuatan yang tak terkira. Doa pun dapat merubah takdir. Maka kamipun saling mendoakan. Mendoakan segala kebaikan untuk orang yang kita cintai. Karena kami menikah dalam rangka mencintai Allah dan untuk menyempurnakan ibadah pada-Nya, kamipun selalu membaca doanya orang orang yang bersatu di jalan Allah. Sambil berdoa sambil membayangkan wajah orang yang didoakan. Antara lain adalah dengan membaca doa rabithah. Rabithah artinya ikatan. Agar selamanya, ikatan cinta pada ALlah dan ikatan Islam-lah yang menyatukan kami berdua.
 |
| Doa dicopy dari sini |
artinya :
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha
mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam
rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela
syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih
sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang
tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan keutamaan iman padaMu dan
keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan
matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau
sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada
sahabat-sahabatnya... Allahumma Amiin."
5. Komitmen. Kemauan yang bukan sekedarnya, tapi kemauan yang kuat untuk menumbuhkan cinta. Tidak ada kata tidak bisa. Karena bagi Allah semua mudah adanya. Dia maha membolak balik hati. Benci jadi cinta, cinta jadi benci. Mungkin setelah sekian tahun bersama nanti ada rasa jenuh, kecewa, atau perasaan negatif lainnya. Maka komitmen inilah yang akan membingkai langkah pertama dst di atas yang itu teruuus berlangsung sepanjang hayat. Taaruf jalan terus. Kita berubah.pasangan berubah. kondisi berubah. Ada anak ada perbedaan sikap. Nambah harta atau kurang harta, semua bisa merubah seseorang. Maka kita harus teruus belajar mengenali pasangan.Saling memberi hadiah atau memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya (tahniah), menjaga waktu-waktu istimewa berdua, dan saling mendoakan harus terus dilakukan sampai akhir hayat nanti.
Nah, teman teman, itulah yang kulakukan untuk menyemai cinta dalam pengalamanku selama hampir 17 tahun meniti bahtera rumah tangga, menikah dengan orang yang baru dikenal dan alhamdulillah sampai hari ini Allah masih menjaga ikatan kami berdua dan mengaruniai kami dengan 5 anak yang semoga menjadi anak sholeh dan shalihah. Dan berharap, semoga kebersamaan kami ini, kekal dunia dan akhirat. Amiiin.