Apa yang membuat beliau istimewa?
Rahmah EL Yunusiyyah adalah sosok perempuan hebat dari Tanah Minangkabau yang lahir pada 26 Oktober 1900 di Nagari (desa) Bukit Surungan, Kota Padang Panjang. Beliau adalah pendiri sekolah agama Islam perempuan pertama di Indonesia, bahkan di kawasan Asia. Sekolah itu dinamai Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang. atau Madrasah Islamiyah Lil Banat
Apa nilai atau sikap yang bisa kita contoh dari beliau?
- Sejak kecil, ia sudah senang dan tekun belajar ilmu-ilmu agama.
- Di samping belajar/mengaji di rumah, ia juga belajar di sekolah diniyah yang didirikan dan dipimpin oleh kakak kandungnya, Zainuddin Labay el-Yunusi, seorang ulama terkemuka di daerahnya, Padang Panjang, Sumatera Barat.
- Semasa kecil, Rahmah el-Yunusiyah konon sering menemui ulama terkemuka di daerahnya untuk menambah pengetahuan keagamaannya.
- perempuan muda yang mempunyai cita-cita memajukan daerahnya juga kaumnya. yaitu dengan mendirikan Madrasah Islamiyyah Lil Banat
Apakah ada perempuan dalam keluarga kita yang juga punya peran seperti tokoh itu?
Ya
Bagaimana kita bisa meneruskan semangatnya?
Berbekal, belajar baru kemudian beraksi
Membuat Kolase / Pohon Keluarga Perempuan
Perempuan-Perempuan penting dalam keluarga
1. Ibu, seorang ibu yang berprofesi guru dan memiliki 7 putra / putri. Dengan sabar menjalani peran-peran tsb. Membawa anak ke sekolah adalah bukan hal yang aneh. Pernah di suatu masa ada 3 asisten rumah tangga, tapi Ibu tetap memasak untuk anak-anak dan keluarga. Ibu juga memperkenalkan ke anak-anak dalam pekerjaan beliau. Kami ada yang bantu mengoreksi ulangan, mengetik soal, menyelesaikan sulaman, dsb. Bahkan ketika sudah SMA aku diminta menulis di buku rencana mengajar, didikte oleh Ibu.
2. Ibu Mertua, seorang business women dengan 8 putra/putri. Semuanya mengenyam pendidikan tinggi. Ibu menjalankan bisnis rangkaian bunga. Saat itu termasuk yang cukup tersohor di Bandarlampung. Tapi Ibu tetap menyediakan makanan terbaik untuk keluarga, memasak sendiri. Aktivitas dimulai sebelum subuh, mandi, sholat, mencuci,memasak, pukul 6 pagi sarapan sudah siap. Ibu juga sangat rapi dan tertata. Buku-buku di perpustakaan keluarga semua diberi tanggal beli dan tanda tangan beliau. Ibu juga aktif di PKK. Larangan bekerja di ranah publik dari bapak mertua, tidak menghalangi langkah beliau untuk berbagi manfaat. Dan hebatnya Ibu mertua adalah salah satu lulusan Perguruan Diniyyah Padang Panjang.
3. Adik Ipar
Beliau adalah penerima tongkat estafet resep keluarga. Jadi ketika Ibu sudah semakin lanjut usia, kaka pertama juga sudah berkeluarga, maka adik ipar inilah yang selalu membantu Ibu mertua memasak. HIngga ketika Ibu Mertua tiada, adik ipar ini dipanggil Ibu oleh keponakan-keponakannya. Beliau cukup struggle, menikah pada usia yang sudah sangat matang hingga kini belum diamanahi putra/putri
4. Kakak Ipar
Kesetiaannya mendampingi kakakku dari masa jaya hingga masa juang. Mulai dari menikah dengan status istri pegawai BUMN. Kemudian kakakku resign, ekonomi melemah, bersama-sama mendirikan lembaga Bimbel. Dan hingga kini berjalan, tiga anak sudah kuliah semua, dan anak-anak juga dilibatkan untuk menjadi pengajar.
Refleksi
- Aku terlahir dari perempuan kuat, maka aku telah dididik menjadi kuat, Akupun kuat dengan izin Allah
- Perempuan dengan segala perannya, tetap kembali ke keluarga sebagai tempat pulangnya.
- Sabar adalah kunci dalam menjalani segala pernak-pernik kehidupan.
bagian bawah karya
Unggah ke media sosial dengan tagar:
#PerempuanBerjatiDiri #KPI2025
#RefleksiJatiDiri





