Refleksi Jatidiri Perempuan Indonesia
Acara online diawali oleh sepatah kata dari Juru Mudi mba Maunah, agar KPI Online bukan hanya sekedar acara tetapi menjadi ruang menyuarakan gagasan dan harapan saling menyimak saling mendengarkan siapa kita sebenarnya penjaga jati diri bangsa. Kita bukan objek tapi subjek dari pembangunan itu sendiri. “Setiap perempuan memiliki nyala, maka mari tetap menjaga nyala tersebut. Salah satunya melalui KPI, yang hadir sebagai ruang untuk saling menguatkan dan mengingatkan.”Tetap nyalakan semangat untuk diri, keluarga dan masyarakat.Selanjutnya dibuka secara resmi oleh penggagas dan penjaga nilai Ibu Profesional, founding mother Ibu Septi Peni Wulandari. Dalam pembukaan beliau menyampaikan bahwa dalam era global ini banyak perempuan yang kehilangan jati diri. Melalui konferensi ini bagaimana perempuan dapat menerapkan ilmu secara praktikal dalam dunianya sendiri.Setiap diri kita adalah bagian dari solusi. Semua langkah besar dimulai dari langkah kecil.
Runik Sri Arumdati
Ibu Runik menyampaikan topik "Perempuan, Sejarah dan Jati Diri Bangsa" beliau adalah seorang komandan kapal pertama perempuan di Indonesia. Beliau didampingi oleh Ajeng Sekar Pawening, sebagai perajut makna.
Ibu Runik berbagi perjalanan beliau dalam berkarir di dunia maritim. Diawali di usia 19 tahun sebagai KOWAL. Dukungan keluarga menjadi hal penting dalam perjalanan beliau.
Mulai dari awal dukungan Ibunda ketika bu Runik memilih mendaftar ke Kowal.
Bagaimana selanjutnya beliau menyeimbangkan perannya sebagai ibu dan sebagai seorang prajurit.
Dukungan suami dan anak-anak juga sangat mendorong karir beliau.
Bagaimana bersandar kepada Allah bahwa apa yang dihadapi sekarang adalah amanah dari ALlah, pasti ALlah akan membantu. Karena di laut yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.
Orang tua beliau dari TNI angkatan darat, berjiwa besar dan selalu menanamkan anak-anak harus lebih hebat dari orang tua.
Orangtua mengantarkan dengan pendidikan dan doa. Ibu Runik di Angkatan laut, adik beliau jadi polwan dan berpangkat Kombes. Putra beliau juga sudah menempuh pendidikan S2 dan saat ini dinas di pemda Jatim."
Tokoh yang dikagumi adalah Laksamana Malahayati. Di masa itu dengan kapal konvensional berani memimpin kapal perang. Jadi kalau Malahayati bisa, aku juga bisa.
Jalani dengan keikhlasan, boleh jadi apa saja, tapi tanggung jawab utama adalah keluarga. Peran ibu memang sangat kompleks. Semua harus berjalan seiring.
Bagaimana tetap tenang di tengah ketidakpastian. Mengetahui ilmunya, tetap waspada dan memperhatikan sekitar.dan berikan apresiasi kepada para anggota.
Dalam hidup kita . kadang dibenci kadang disukai kadang dicari kadang diabaikan kadang dibutuhkan kadang diabaikan semua itu wajar karena hidup mengajarkan kita untuk bertahan dan melangkah tanpa kehilangan jati diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.