Kapan terakhir mudik? Pernah mudik? Belum pernah mudik?
Pertanyaan seputar mudik hanya cocok ditanyakan kepada para perantau. Kenapa? Karena istilah mudik itu identik dengan pulang kampung. Aku selalu beranggapan, mudik itu dari kata menuju udik (kampung). Eh ternyata ada yang bilang kalau mudik itu dari bahasa Jawa ngoko yakni mulih dhilik (pulang sebenar) dan mulih dhisik (pulang dulu). Pulang ke mana? Tentunya ke daerah asal. Di mana ada orang tua dan keluarga besar tinggal. Jadi sekalian antara ketemu dengan orang tua dan dengan sanak saudara.
Kini, seiring perkembangan trend di masyarakat, istilah mudik sudah agak terwarnai hal lain. Yaitu adanya kondisi bahwa mudik menjadi ajang flexing ataupun pamer keberhasilan selama di perantauan. Ya kalau itu bener sih, sah sah aja. Maksudku .. yang bersangkutan bener-bener sukses. Bisa beli kendaraan, bisa ngumpulin harta kekayaan sehingga bisa dibawa ke kampung halaman. Kalau nggak berhasil ya nggak bakalan bisa pulang kampung dengan membawa oleh oleh atau pun hampers untuk orang kesayangan.
Baca juga : Mempersiapkan Hampers
Yang nggak bener itu, kalau semua pencapaian dia hanya fake. Mobil hanya sewaan. Oleh-oleh dari duit hasil pinjeman. Jadi memaksakan diri biar terlihat sukses dan mapan. Maka setelah lebaran, pulang dari mudik, bukannya seneng ketemu sanak saudara malah pusing ngembaliin duit gimana caranya.
Kenapa mudik dilakukan di hari raya? karena hari raya adalah momen berkumpulnya keluarga bahkan keluarga besar. Mudik itu biasanya ke kampung orang tua, atau tempat di mana dulu kita dibesarkan. Mudik juga menjadi sarana silaturahim setelah sekian lama berpisah. Selain itu, saat ini juga pemerintah menyediakan cuti yang cukup panjang untuk hari raya. Jadi hitung-hitung liburan ya.. dengan tujuan kampung halaman.
Keluargaku sendiri, sudah lama tidak pulang kampung atau mudik ini. Sejak Eyang Kakung meninggal, Abi udah wanti-wanti ke anak-anak bahwa home base kita adalah Bandung. Maka kemanapun kelak kalian pergi, mudiknya juga ke Bandung. Bukan ke Bandar Lampung atau ke Jawa Tengah.
Maka sejak beberapa tahun terakhir ini, kami melewatkan lebaran hanya di Bandung saja. tidak keluar kota bahkan tak jarang tidak keluar rumah juga. Yang penting kebersamaannya ya..









