Tampilkan postingan dengan label bacaanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bacaanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2025

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Tutorial Hidup Penuh Rasa

Sudah lama tidak mengikuti dunia perbukuan, aku merasa ketinggalan pengetahuan.Tidak mengikuti itu dalam artian memang tidak update. Dulu pernah sering menulis di Goodreads, lumayan bangetlah dapat update buku baru dari akun-akun lain. Sekarang sama sekali tidak. Penulis favorit terkini versi aku hanyalah Tereliye. Yang beli bukunya pun udah hampir nggak pernah, karena F1 yang lebih sering beli. Sampai akhirnya tiba saat itu..

Tara... aku ketemu dengan Brian Khrisna, seorang penulis. Bukan di acara seputar buku. Tebak di mana? Haha..yap di kantor.  Langsung dong teringat saat masih bertugas di dekat BEC, beberapa kali ketemu pesohor, ada Ebiet Beat A, Gubernur Ahmad Heriawan, Pak Walikota era Ridwan Kamil,anggota JKT 48, dsb. Nah ini ketemu Brian Khrisna juga nggak sengaja.

Aku inget ini pertemuan kedua. Pertemuan pertama tahun lalu waktu beliau menyampaikan surat pemberitahuan penggunaan norma. Kenapa bisa inget? Pertama, karena yang menyampaikan pemberitahuan norma secara langsung itu jarang, kedua, nama beliau itu unik. Brian Khrisna orang Antapani. Ketiga : penulis. Sebagai yang suka nulis aku merasa ada persamaan aja dengan beliau  hahaha sama-sama suka nulis, cuman beda level aja.

Karena kebetulan di antrianku tidak ada tamu lain, iseng-iseng aku tanya, nulis apa. Shock dong ternyata penulis novel. Asli malu juga sih sebenernya.. masa di era informasi segini gencar aku nggak tahu informasi itu. Tapi ya sudahlah.. telanjur malu jadi aku tanya buku terbaru apa. Beliau merekomendasikan Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Dan bulan Januari 2025 itu cetakan pertama. Yang aku baca Cetakan ke-35 Juni 2025. Wow banget sih....

Putus Asa

Pernah nggak sih, merasakan dunia begitu sempit, merasa semua pintu tertutup, karir gitu-gitu aja, pasangan nggak punya, nggak ada yang peduli apalagi yang mengapresiasi, bahkan setelah sekian banyak hal yang kita berikan, sampai-sampai kudu banget harus mengakhiri hidup. Kalau kalian pernah merasakan itu, meskipun selintas, cocok banget baca buku ini.  Karena buku ini dihasilkan dari wawancara penulis dengan para penyintas depresi akut. 



Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati


Penulis: Brian Khrisna


Jumlah halaman: 210


Tahun: 2025


Penerbit: Grasindo.


Pengalaman Hidup

Terkadang, kehidupan yang lurus-lurus itu justru membuat seseorang tidak tahan banting. Berbeda dengan kehidupan yang penuh lika-liku perjuangan. Dan tokoh utama di dalam novel ini yaitu Mas Ale, yang bosan dengan hidupnya yang gitu-gitu aja, Allah pertemukan dengan kehidupan yang sama sekali tidak terbayangkan. Dan perjalanan itu dimulai dari pencarian seporsi mie ayam di pagi hari.

Pelajaran hidup didapatkan dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Dan kebijaksanaan justru ada di tengah-tengah dunia yang orang anggap sebagai dunia kriminal, dunia hitam, dsb. Namun hikmah memang tak pernah memandang tempat dan waktu untuk ditemukan oleh siapapun.

Hal baik yang kita anggap kecil, ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat besar untuk penerimanya. Dan Dia tidak membalasnya seketika, melainkan di saat yang benar-benar kita membutuhkan kebaikan / pertolongan dari orang lain.


Bersyukur

Tak dapat dipungkiri, bahwa rasa syukur terhadap apa yang di depan mata, adalah hal yang membuat seseorang menjadi tenang.

Ketika Mas Ale mengalami semacam trust issue terhadap ibu kandungnya, dia justru menemukan sosok ibu asing yang langsung menganggapnya anak.


Quote of Life

Salah satu kalimat yang dikatakan oleh Pak Jipren, orang tuna netra yang dapat melihat hidup Mas Ale. Katanya : Hidup itu seperti ring tinju. Kekalahan tidak ditentukan oleh saat kamu jatuh, tetapi karena kamu memutuskan untuk tidak mau bangkit lagi.

Minggu, 31 Agustus 2014

Yuuk... Beli Buku Yuuuuk....

Aku suka buku. Suamiku suka buku. Anak-anak juga suka buku. Klop deh.
Kurasa kesukaanku membaca diwariskannoleh ibu bapakku. Dulu waktu aku kecil aku jarang dibelikan mainan, tapi Bapak dan Ibu secara rutin langganan majalah dan koran. Ibu juga sering membawakanku buku yang beliau pinjam dari perpustakaan. Sekarang aku dan suami juga ingin mewariskan kesukaan akan buku ini kepada anak-anak.
Mereka jarang kami belikan mainan. Tapi untuk hadiah setiap kali mereka ulang tahun, setiap mereka selesai satu putaran khataman Al Qur'an atau berprestasi di sekolah, kami mengajak mereka ke toko buku. Kami ingin mewariskan juga bagaimana cara memilih buku.

Dalam memilih buku, ada beberapa hal yang menjadi pertimbanganku, yaitu :
1. Konten/isi buku
Buku tuh kan sumber ilmu. Jadi mau nyari ilmu apa ya tinggal nyari buku yang sesuai dengan kebutuhan kita. Mana buku orang tua/dewasa, mana buku anak-anak, mana buku yang bisa dibaca semua umur. Ini aku pisahkan. Buku anak di rak oaling bawah. Buku semua usia di rak tengah, buku dewasa di rak atas dekat langit-langit. Kalau untuk buku agama lain lagi. Buku Al Quran dan Tafsir paling atas, menyusul buku hadits dan tafsir hadits baru buku rujukan lain.hehe malah jadi ngomongin rak.
2. Penerbit
Biasanya aku pilih penerbit yang sudah menjadi anggota IKAPI. Mungkin gak wajib, tapi gimana ya.. lebih sreg aja gitu. Ibaratnya sudah ada yang merekomendasikan nama tsb kalau idah jadi anggota IKAPI
3. Pengarang
Ini juga penting menurutku. Walaupun sebenernya dengan memilih penerbit udah hampir dipastikan kita udah milih pengarang juga sih. Hanya penulis tertentu yang bisa nerbitin buku di penerbit mayor.
4.  Fisik buku
Don't judge the book from it's cover. Tapi menurutku, yang pertama kali membuat kita melirik sebuah buku di pajangan adalah covernya. Sampul buku itu tempat pertama kita memandang buku. Baru nanti dibaca-baca, apa isinya, siapa penerbit dan pengarangnya dsb. Jadi sampul luar buku itu sangat penting menurutku. Kemudian lay out di dalam buku termasuk ilustrasi dan pemilihan huruf. Kadang aku males baca buku karena hurufnya enggak familiar dengan mataku.
Selain itu  bahan/kertas buku tersebut termasuk model jilidnya. Buku yang berbahan bagus akan awet. Pernah aku beli buku, baru dipinjem satu dua teman, eh, udah hancur jilidnya. Males deeh...

Nah teman-teman, itu caraku memilih buku, bagaimana denganmu ?

Rabu, 27 Agustus 2014

Serba-serbi Buku Anak-anak (ku)

Setelah kemarin aku cerita soal pameran buku, khususnya pameran buku Bandung, yuk.. sekarang ngobrol-ngobrol soal buku anak.
Dari sekian banyak koleksi buku yang ada di lemariku, hampir setengahnya adalah buku anak. Mungkin bahkan lebih. Tapi terus terang saja, aku juga masih suka membaca buku koleksi anak-anakku. Jangan hitung ya.. yang aku membacakan cerita buat mereka, maksudku juga termasuk buku-buku anak remajaku. Karena aku juga ingin tahu, bacaan apa yang dilahap oleh mereka. Dari lima anakku yang paling 'gila baca' anak pertama dan anak keempat. Itu si Mbak #F1, kalau baca novel ibaratnya kudu selesai dalam semalam. Dia tahan sampai tidur telat  gitu. Kalau si Teteh #F4 balah sampai disimpen-simpen di bawah bantal. Kadang kalau aku membangunkan mereka dipagi hari, si Teteh itu sebenernya udah bangun dari tidur. Bukannya bangkit dan ke kamar mandi, eh, malah langsung baca aja. Kok tahu ? Ya tahulah... kan aku emaknya. Kalau tidur mereka jarang matiin lampu alias terang benderang.

Kalau ditanya buku anak seperti apa yang menarik ? Ya pasti lain orang akan lain jawaban. Di rumahku aja yang baru ada lima anak, ada lima selera dalam hal membaca. Meski semuanya masih berebut majalah Bobo tiap minggunya dan berebut majalah Ummi tiap bulannya, masing-masing punya kecenderungan bacaan yang berbeda.
Fathimah misalnya, dia tipe yang melahap semua bacaan. Semua genre untuk bacaan yang sifatnya hiburan ya. Dan dia betah sekali membaca. Mungkin pengaruh dari masa kecilnya juga. Pas dia balita, aku nggak kasih 'mainan' apapun selain buku. Jadi meski masih berebut majalah bobo dengan adik-adiknya dia juga sudah mulai baca-baca novel koleksi Abi dan Ummi. Buku-buku anak macam Lima Sekawan, Trio Detektif, Godek, kayaknya cumah mbak Fathim yang baca. Anak-lain belum menyentuh. Kali karena bukunya udah butut ya.. haha.. ya iyalah.. kan beli di loakan. Tapi...kalau buku-buku yang serius  macam kajian gitu, atau buku-buku pergerakan sih dia belum mau baca.
Fikri beda lagi, meski pas kecil bacaannya sama dengan Mbak Fathimah, makin ke sini dia makin kelihatan condong ke buku-buku sains dan buku petualangan. Dulu aku belikan buku-bukunya, sekarang anak-anak kami persilakan memilih sendiri bukunya, hanya duitnya aja yang dijatah, heheNah kalau Fadhila ini juga beda lagi. Dia sukanya baca cerita romantis. Novel-novel remaja penuh kisah cinta itu yang selalu dibacanya.
Kalau si Teteh masih seputaran majalah, ensiklopedi anak, dan buku-buku karya penulis cilik. Belakangan dia mulia baca buku anak-anak SMP macam serial Pinkberry gitu.
Naaaah.. kalau Faiz gimana ? Hihi terus terang dia sudah mulai  teracuni oleh gadged. Dia udah  mulai pinter soalnya. Kalau misalnya aku kasih waktu main 10-15 menit, eh nanti dia pindah kamar ke kamar Fikri, pinjem lagi hape Fikri di sana. Udah selesai di kamar Fikri, dia mepet-mepet Abi, pinjem lagi punya Abi. Ya gitu deeeh.. tapi aku usahakan tidak ada hari tanpa membaca. Yang pasti, membaca buku iqro'nya setiap habis maghrib. hehe.. becanda. Maksudnya baca buku gitu... dan alhamdulillah, dia sudah mulai bisa 'membaca' dari gambar buku-buku yang sering dibacakan. Makanya kalau buku buat anak seusia dia (TK) aku lebih suka buku yang sedikit kata-kata tapi banyak gambar. Karena ini berguna sekali dalam memacu imajinasi anak.
salah satu buku kesukaan Faiz, isinya lengkap. belajar warna, ukuran, angka, huruf, bentuk, alat transport, dsb.. dikemas dalam bentuk petualangan. Dilengkapi dengan CD, jadi anak bisa belajar dengan audio dan visual sekaligus.
Kalau aku amati sih ya... buku anak ini ada dua jenis. Buku anak yang ditulis oleh anak, dan buku anak yang ditulis oleh orang dewasa. Aku sih enggak fanatik di salah satu jenis aja. Karena menurutku keduanya saling melengkapi. Kalau baca buku karangan anak-anak itu lucu sekali, kadang khayalan mereka tuh seperti nggak nyambung. Misal kisah seorang anak yang jadi foto model tingkat dunia, terbang dari satu negara ke negara lain. Kalau aku mikirnya mereka pergi sama siapa, sekolahnya gimana, komunikasinya gimana.. ehtapi namanya anak-anak ya mikirnya simpel aja kali. Tapi aku kagum juga sama penulisnya, kok kepikiran ya... haha... ya iyalaaah.. makanya tulisannya diterbitin jadi buku. Dan untuk buku anak yang ditulis oleh orang dewasa, terus terang saat ini aku belum dapat menemukan buku-buku seperti Lima Sekawan, si Godek, Trio Detektif, dsb. Artinya buku-buku yang laku sepanjang jaman gitu... buku sekarang kebanyakan muncul sebentar, lalu tenggelam lagi.

Akan tetapi, ada juga hal yang patut disyukuri, sekarang nyari buku anak-anak itu mudaaaaaaah.... sekali. Hampir semua penerbit udah lini buku anak ini. Tinggal pinter-pinternya kita aja sebagai konsumen, mau milih buku yang seperti apa. Siapa pengarangnya dan terbitan mana. Mau yang sifatnya umum atau yang mengupas khusus tentang satu hal.  Kenapa ? Supaya dengan dana yang kita punya, kita bisa mendapat pilihan yang optimal. Jadi jangan sampai ada buku dengan bahasan yang sama, dengan judul, penulis dan penerbit yang berbeda. Sayaaang kaaan.. duitnya... Nah untuk mencegah hal demikian, biasanya aku tanya-tanya teman-teman lain. Dan yang paling mudah ya itu, membaca semua buku anak-anak. Jadi kan inget, buku seperti itu udah punya atau belum.
Trus aku juga lebih suka memilih buku dengan kualitas kertas yang bagus meski harga sedikit lebih mahal, karena akan lebih awet. Setelah dibaca kakaknya bisa disimpen untuk adik-adiknya. Kalau adiknya udah besar, bisa dihibahkan untuk keponakan. (hihi.. emak irit bingit)

Nah, buat teman-teman yang mau milih-milih buku, mau beli buku buat anak atau keponakan, makan datang ke pameran buku akan memudahkan semuanya. Yuuuk.. ke pameran buku yuuuk....

Biar makin gila bacaa....


Rabu, 12 Februari 2014

Suami Wow, Suami Wonderful

Resensi buku
Judul                  : Wonderful Husband
Penulis               : Cahyadi Takariawan
ISBN                 : 978-602-1680-03-2
Penerbit             : PT Era Adicitra Intermedia
Jumlah halaman  : xxi + 314 halaman Ukuran 14,5 cm
Harga buku        : Rp. 55.000,00
Sampul              : Hard cover

Jika  hanya membaca judul pada sampul buku ini, pastilah akan mengira bahwa buku ini khusus untuk para suami. Pun lomba resensi ini, akan lebih tepat bila ditujukan hanya kepada blogger laki - laki. Akan tetapi tidak bagi saya , ketika membaca halaman demi halamannya, maka saya seolah - olah sedang berada di depan sebuah cermin yang sangat lebar dan bersih. Di sana terlihat bayangan saya sendiri dengan jelas. Kemudian, menangislah saya di depan cermin tersebut. Ya, saya menangis membaca buku Wonderful Husband. Air mata saya bukan disebabkan karena suami belum seperti yang tergambar dalam buku ini, sama sekali bukan. Seperti yang diungkapkan Pak Cah di Catatan Pendahuluan, bahwa membahas tentang karakter suami ideal itu laksana jauh panggang dari api. Ada jarak antara cita-cita dan kondisi nyata.
Tapi kesedihan saya lebih disebabkan oleh perasaan betapa tidak pantasnya saya mengharap suami yang wonderful, bila saya sebagai istri juga gini - gini aja. Artinya, kalau saya mengharap suami menuju karakter ideal, sayapun harus berusaha berjalan ke arah karakter istri yang ideal.  Bagaimana cara saya ?Tinggal mengganti aja setiap kata 'suami' dalam buku ini, menjadi kata 'istri'. Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa buku ini seperti hamparan cermin tadi.

Seperti apa sih, gambaran karakter suami ideal itu ? Pak Cah merangkumnya dalam 9 karakter, yaitu :
1. Memiliki kemampuan memimpin keluarga dengan cinta dan kasih sayang;
2. Mampu menundukkan egonya, sehingga dapat mudah mengalah, mengakui kesalahan dan mudah memaafkan;
3. Mampu membahagiakan istri, dan merasa senang jika dapat melakukan hal tersebut;
4. Selalu mengingat kebaikan istri, fokus pada hal positif yang dimiliki istri;
5. Mampu memahami kondisi istrinya,  bukan hanya saat ini, tetapi terus menerus mengenali kondisi istri yang berubah seiring waktu;
6. Mampu menjadi teladan dalam kebaikan bagi istri dan anak-anaknya;
7. Memelihara kesetiaan;
8. Selalu tampil 'young and fresh' dihadapan istri (dan anak-anak)
9. Selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya, perasaan, pelayanan, perlakuan dan kata kata terbaik, rejeki yang baik,  karena nafas cinta adalah (saling) memberi.

Nah, wow banget kan ?
Wow lain adalah, cara penyampaian Pak Cah saat menulis buku ini. Meski bahasannya serius dan berat, tapi saya membacanya enak, terus, enggak mau berhenti. Persis kalau saya baca novel. Bahkan dibolak balik lagi, dibaca ulang di beberapa halaman. Gaya Pak Cah seperti sedang mengobrol dengan para mustami' / audiens. Tidak heran, mengingat jam terbang beliau baik sebagai trainer maupun sebagai ustadz.
Beliau banyak menyertakan contoh-contoh dialog dan masalah yang sering terjadi di antara pasangan. Salah satunya tentang fenomena menit terakhir (hal. 137). Benar sekali, justru di menit-menit terakhir itu sering menimbulkan konflik. Suami sudah siap bepergian, istri masih sibuk mempersiapkan diri. (malu ih, ini mah gue banget).
Ilustrasinya juga saya suka, foto-foto yang diperagakan model untuk menggambarkan setiap karakter, dan gambar kartun di baliknya. Pas sekali menggambarkan. Dan yang paling saya suka adalah gambaran tentang memahami kondisi istri (karakter kelima), gambarnya seorang suami sedang melayani istri sarapan (hal 154), sementara kondisi istri sedang hamil besar, mereka berdua tampak berwajah ceria dan mengobrol bahagia. so sweet kaan..

Nah supaya seimbang dengan semua pujian di atas, saya juga akan menyampaikan -maaf ya Pak Cah- yang bukan pujian. Saya sedikit terganggu dengan tercetaknya kata  blackberry massanger (hal. 22) meski di kemudian ada kata yang sama sudah tercetak dengan benar blackberry messenger (hal 164), afair -satu f apa dua f ya. (hal.144), LDR (long distance relationship) hal 238 kenapa enggak dicetak miring juga. Selain itu rasa-rasanya enggak rela dengan ilustrasi seorang pria berpeci (hal 216) dihadapkan pada pilihan - pilihan selir, pacar, simpanan, bordil disetarakan dengan kata istri. Ini seperti saya melihat serorang tersangka yang entah kenapa kalau di persidangan selalu memakai peci.

Selain itu, saya merasa buku ini 'nanggung' . Saat membaca halaman-halaman awal, saya berpikir ini adalah buku umum. Padahal setahu saya penerbit buku ini adalah penerbit buku-buku Islami.
Apalagi data-data dan contoh yang disampaikan (semacam ayat kauniyah kalau boleh saya katakan demikian) bersifat umum. Sempat terpikir, wah bagus ini, Pak Cah menulis buku populer, bisa bisa saya hadiahkan buat teman teman non muslim. Makin ke belakang, terselip satu dua kisah para sahabat, khalifah Umar bin Abdul Aziz dan kutipan ayat Al Qur'an dan Hadits. Yaah.. enggak jadi dihadiahkan deh.

Satu lagi adalah bentuk buku. Ukurannya mungkin sama dengan buku pada umumnya. Karena lay out buku ini yang berbeda dengan pada umumnya, menyulitkan saya untuk menyimpannya. Belum ada buku bentuk sejenis di rak saya. Kalau di rak buku anak-anak sih ada... Yang ini  mah masalah saya pribadi kali ya..


Artikel ini diikutkan dalam GIVE AWAY RESENSI BUKU WONDERFUL HUSBAND 


Kamis, 24 Januari 2013

The Casual Vacancy, Sepotong Cinta, dan Bukan Review

Suatu malam  di akhir Desember
Orang orang pada cuti. Tapi aku nggak bisa cuti. Pengen beli buku, tapi budget belum ada untuk itu.
Sempat punya uang berjeti jeti, tapi langsung habis lagi *apa hubungannya coba ?

Ummi : Abi, tertarik buku J.K Rowling yang baru nggak ?
Abi    : Enggak !



Eh, sorenya pulang kantor si Abi buka tas dan ngeluarin The Casual Vacancy
(Nyes ! Lihat,  bahkan cinta pun perlu sesuatu untuk membahasakan)


NB :
tapi secara pribadi aku enggak suka buku ini. Memang cara bercerita JK tetap bagus, tapi isinya kok bikin kurang sreg ya.. Terlalu banyak adegan bercinta dan yang mengarah ke sana, trus hampir semua tokoh melakukan hal-hal buruk dan mau tampil sok baik. Masa' sih satu kota nggak ada yang benar benar baik ?

Kamis, 31 Mei 2012

Mozaik Blog Competition : Aku dan Buku


Sebenarnya aku sudah pernah cerita tentang buku. Tapi itu lebih tentang buku dan keluargaku. Kini aku akan bercerita tentang buku dan aku.
Aku merasakan sekali bahwa cinta baca itu bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Tetapi itu adalah kebiasaan yang ditularkan. Ditularkan oleh ayah dan ibu, maupun keluarga. Tentunya juga didukung dengan menyediakan bacaan.

Aku ingat, buku yang pertama aku baca adalah buku "Ini Budi" yang kubaca sebelum aku sekolah. Setalah aku masuk sekolah, baru tahu ternyata itu adalah buku pelajaran kelas satu.
Kemudian sejak aku bisa membaca ini budi  itu aku belajar membaca majalah Ibuku yaitu majalah berbahasa Jawa "Panjebar Semangat".

Teringat olehku, ketika kami -aku dan saudara saudaraku- kecil, saat Ibu pulang mengajar, maka oleh oleh yang paling kami tunggu adalah buku perpustakaan yang Ibu pinjam dari sekolah.

Demikianlah .. akhirnya membaca atau bacaan itu memang menjadi menu yang harus tersedia di rumah kami setiap harinya. Apalagi kami tidak mempunyai televisi. Keadaan ekonomi yang pas pas-an tidak menghalangi kami mencari bacaan. Pinjam dari perpustakaan adalah jalan keluarnya. Atau pinjam majalah bekas dari saudara atau kenalan. Prinsipnya, semua buku yang belum pernah kami baca, adalah buku baru.

Semakin aku beranjak besar, semakin merasakan manfaat membaca. Buku adalah jendela dunia benar benar kurasakan. Terlebih lagi setelah aku menikah, dan ikut suami ke NTT, maka buku menjadi satu satunya teman setia dan guru hampir dalam segala hal.

Ketika aku hamil anak pertama, di saat masih malu malu untuk konsultasi ke dokter kandungan yang laki laki, maka buku menjadi tempat konsultasiku. Aku punya buku panduan kehamilan dari minggu ke minggu. Bukan buku tepatnya fotokopian buku ya.. dan itu aku masih tetap pakai, bahkan sampai aku hamil anak kelima. Baca lagi baca lagi.
Ketika aku bingung masalah agama, maka aku mencari buku buku yang dapat memberikan jawabannya. Sampai inget saat itu kami pernah membeli buku Fatwa Fatwa Kontemporer dengan cara cicilan. Lupa dapat iklannya dimana. Tapi kami mendapatkan bukunya di cicilan pertama yang nggak lebih dari sepuluh ribu rupiah. (Hebat ya .. penjualnya)

Ketika 2002 pindah ke Bandung, betapa takjubnya, ternyata dari 7 dus yang dititip/dipaket ke rumah Eyang, 5 dus berisi buku dan 2 dus saja yang berisi harta selain buku. (pakaian, rice cooker, tape recorder, setrikaan).
Dan lebih takjub lagi,  koleksi buku yang sudah mendominasi harta kekayaan kami itu ternyata masih sangat sangat kurang bila ditinjau dari kategori bacaan.
Maka, untuk memuaskan kehausan kami akan buku, aku mulai bergabung dengan Sygma Daya Insani yang menyediakan buku buku berkualitas. Dengan bergabungnya aku di sana, dapat komisi komisi penjualan buku, maka buku selain sumber ilmu, kini juga bisa dikatakan menjadi sumber penghasilan. Dari menjual buku aku bisa membeli buku lainnya.
Malah tahun 2011 kemarin aku juga bergabung dengan Mizan Dian Semesta karena naksir buku-bukunya.

Dan akhir tahun 2010, ketika aku mulai mengenal dekat dengan internet, aku kenal dengan sebuah penerbit buku indie (kata orang begituuu...). Yaitu www.nulisbuku.com. Kala itu, aku sering ikut proyek proyek yang diadakan oleh/di nulis buku. Alhamdulillah, sudah ada beberapa bukuku (tepatnya buku antologiku) yang diterbitkan oleh nulisbuku.  Total baru 8 buku.
Aku pernah ceritakan disini, disini dan disini.
Nah, maka sekarang satu lagi arti buku buatku yaitu sebagai bentuk pengakuan, bahwa apa yang sudah kubaca ternyata menghasilkan tulisan tulisan. Mungkin belum cukup bermutu menurut sebagian orang, tapi itu adalah proses belajar buatku.

Dan sampai sekarang, semua arti buku yang kusampaikan itu, semuanya masih kurasakan. Sebagai teman setia, sebagai guru, sebagai sumber penghasilan tambahan dan sebagai pengakuan atas kemampuanku.
Terima kasih Bapak, Ibu, yang telah mengenalkanku pada buku.
Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Mozaik

Senin, 23 April 2012

Cinta Buku

belum berani keluar kamar, atau pas ngantri kamar mandi, udah baca lagi. Walaupun kadKami mencintai buku. Amat mencintai buku. Ingat jaman SD dulu Ibu selalu pinjam dari sekolahan. Setelah aku agak gede, kebetulan aku ditugasi jadi penjaga perpustakaan. Uuuh.. senengnya.

Yah, perasaan pas aku udah punya uang sendiri, aku secara tetap menyisihkan uang untuk beli buku. Udah gitu aku kos sekamar dengan karyawan PT Gema Insani Pers (penerbit buku Islam yg jaya saat itu) . Eh, ternyata ketika sudah menikah, koleksi eh simpanan bukuku jauuuuuuuuhhh di bawah koleksi suamiku. Sampai dikatain, gajimu habis kemana, kok bukunya cuma segini.Yah, gimana enggak kalah, si dia sih, mainannya ke Kwitang. Pusatnya buku tea.Lagian, hihi.. tau sendiri lah.. cewek kan ini itu kebutuhannya. Ngomong pake bayar aja dijabanin. (telpon telponan maksudnya...) Jaman itu kan ada kartu telepon tea yah.. atau kalau di tempat kos ada telpon rumah pake koin. Klo kehabisan koin, nuker dulu di situ situ juga dengan membuka gemboknya.
Eh, kembali ke buku.

Katanya hari ini kan hari buku. (harinya dah mau habis). Unesco menetapkan 23 April sebagai World Book Day. Tujuannya adalah untuk menggiatkan membaca, penerbitan dan hak cipta. Sejarahnya kenapa tanggal ini yang dipilih,  karena  ini adalah tanggal lahir dan tanggal kematian William Shakespeare.

Dan, kalau mengingat masa lalu betapa buku itu sangat sulit didapatkan. Udah gitu harganya juga cukup mahal. Inget waktu di Kupang, NTT. Setiap ada teman tugas ke Jakarta entah diklat entah apa, pasti titipan kita ya si buku itu. Dari mulai buku serius semacam Fatwa - Fatwa Kontemporer ustadz Yusuf Qordowi, sampai buku kecil kecil untuk Fathimah dan Fikri saat itu.
Seneng juga sih melihat anak anak sekarang terlihat akrab sekali dengan buku. Pulang sekolah pada baca. Malam malam habis belajar, buku jadi pengantar tidur. Pagi hari kala mereka bangun tidur kepagian dan yang sebel juga, mau disuruh ini itu mereka sedang asyik berkutat dengan buku. hehe

Ini adalah beberapa sisa koleksi buku anak jaman Fathimah kecil dulu. (14 tahun lalu)

Buku buku di atas yang berjudul Labu dan Kehidupan Semut itu aku beli di Kupang. Udah di tumpukan paling bawah toko buku yang berdebu. Tapi bukunya bagus, terbitan Gramed klo gak salah. Trus buku Pocahontas itu nitip temenku yang diklat, tapi dia nggak mau dibayar, karena abis diklat keluar SK Mutasi dia pindah ke Jawa. Buku buku selanjutnya itu udah beli di Bandung. Terbitan Mizan Yang paling depan itu diwarnai sama Mbak Fathimah

rak pertama

Makanya, sekarang bersyukur banget di Bandung ini toko buku dapat di jangkau hanya dengan sekali ayun kaki. (lebay) Pameran buku tiga kali setahun ya.. Dua kali pameran Ikapi dan satu kali Islamic Book Fair. Belum lagi event-event nya Grup Gramedia yang udah nggak pernah ikut pameran buku Bandung lagi. Yang ada sekarang kejar kejaran sama anggaran RT yang makin membengkak.  Segitu juga tetep sih.. selalu jatuh cinta sama buku. Rak buku di rumah udah nggak sanggup lagi menampung pertambahanan buku.
Setelah pakai rak rak kecil diskonan dari hypermarket gitu... dan makin lama makin penuh, kebetulan sekali temen nawarin rak buku ini. Dengan bahan kayu jati, menurutku harganya sesuai lah.
Keidean dari rak pertama dan si penjual nawarin boleh mesen, maka kita pesan rak kedua. Sengaja dibuat tinggi dan jarak antar susunan nggak selebar rak pertama. Rak ini untuk menyimpan novel novel, materi materi kuliah, majalah dsb.
Tapi tetep aja rak buku masih berantakan dan buku anak anak pun masih nyebar di rak yang kecil kecil dan di meja belajar mereka.

PR : Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan semua buku buku itu.

Sabtu, 25 Februari 2012

Ayo Ke Perpustakaan

Kalau mendengar kata perpustakaan, yang ada di benakku adalah ruangan kecil a la kadarnya, space kosong yang berada di antara gedung lama dan gedung baru, kemudian tiba tiba dikasih atap dan ada beberapa rak buku di dalamnya. Satu jendela menghadap halaman, sebuah meja kecil dan sebuah dipan ! Kok ?
Yap ! Tidak salah, itu adalah perpustakaan SD -ku yang merangkap ruang UKS.
Tapi itu menjadi surga bagiku. Sebagai dokter kecil, aku bisa masuk ruang itu kapan saja. Dan sebagai penyuka buku, itu adalah kebahagiaan tiada terkira. Aku tak perlu lagi masuk ruang guru (yang menyeramkan itu) untuk sekedar baca buku.
Rasa-rasanya sudah hampir semua buku di perpustakaan itu aku baca. Bahkan aku juga minta ibuku meminjam dari sekolahnya. Ih, padahal sama sama SD Inpres. Pasti nggak jauh bedalah ya... Mana kutahu, jaman itu ya...
Akhirnya berlanjut sampai besar jadi suka baca. Walaupun sekarang membacanya banyak alasan ini dan itu dan sudah mulai pilih pilih. Gila euy... banyak banget bacaan. Jangankan mau lihat yang di luaran, buku yang sudah dibeli saja belum semuanya kebaca. Belum lagi e-book e-book donlot-an itu.  Yah tapi nggak ada ruginya kok nyimpen buku. Ketika suatu saat kesepian, atau suatu saat perlu referensi .. Oh, tinggal ambil buku itu..
Yah syukurlah dapat suami juga yang lebih lebih suka buku dari aku. Prinsipku kan lebih baik meminjam dari pada membeli Klo suami sebaliknya, lebih baik membeli daripada meminjam (dan meminjamkan hehe) Akhirnya harta kekayaan terbanyak dan termahal sampai saat ini masih diduduki si buku itu. (soalnya rumah belum lunas qqq)
Daaaan... syukurlah... kebiasaan membaca itu menurun ke anak anak. Bukan menurun kali ya.. anak anak kan melihat lingkungan dia pertama tumbuh dan dibesarkan. Yah kalau malam malam rumahku sepi itu berarti bukan lagi pada pergi, tp lagi pada asyik dengan buku masing masing.. hahaha.. lebay ini mah..
Daaan.. syukur pula di sekolah anakku ada perpustakaan . Nggak baru sih, tapi kayaknya manajemennya baru atau baru diperbaiki. Dah banyak buku buku yang bener bener diinginkan anak anak model KKPK gitu. (Yang terus terang aku males belinya.... cepet banget beranak pinaknya). Jadi anak anak makin rajin ke perpustakaan. Makin rajin baca. Iyalah.. yang rajin baca ya Nak... biar terbiasa dengan budaya literasi, biar nggak jadi anak instan, biar ntar nggak nyontek kalau bikin skripsi... biar terbuka jendela informasi, biar terbuka ruang improvisasi.. ayo baca baca baca ...



*Ini Ayuk di perpustakaan sekolah. Gambarnya nyulik dari Grup sekolahan. hihi

Jumat, 10 Februari 2012

Double Dating

Bila ada ababil alias amak amak labil mungkin akulah orangnya. Haha
Entah kenapa, kmrn itu bad mood pisan, males untuk bekerja, pengen seneng seneng tapi nggak tau apa. Ah..lebay dot com lah judulnya.
Eh, kok ya kebetulan Tri ngajak makan bareng genk maksi. Nggak lama kemudian, si Hany juga ngajak makan bareng mantan anak pelayanan.  Udah gitu tempatnya berdekatan.  Aduuh.. bagai mendapat durian runtuh deh.
Untung saja hari itu , Novi dengan baik hati mau bertukar piket istirahat denganku.
Jadi aku bisa pergi. Dan dengan otak kriminal pula aku berniat membolos eh ijin pulang cepat. (apa bedanya sih...)
Rupanya si durian durian itu belum berhenti berguguran, di H-1 tiba tiba ada yang pesan paket Tuppi my first moment collection dan rainbow. (lumayan nambah omset) dan di hari H saudara saudara, masih satu durian lagi jatuh. Tak disangka tak di nyana, Mbak Ida yang dianter mas Setia katanya mau lewat kantor aku. Aduuuh... terima kasih aku tak perlu membawa dua paket tuppie itu by angkot.
Masih nyamper Tri dan Doel serta chika di perempatan, lalu aku
dating sama Echi nyampein pasmina di perempatan itu juga. kemudian mobil mas Setia pun parkir dengan aman di Mpek mpek pak ANang jl. lengkong. Satu lagi durian jatuh, aku ditraktir mbak Ida. Khusus AKu, yang lain bayar sendiri. (sayang sondang nggak ikut, pun aku blm sempat telepon krn saking bahagianya mau ketemu mantan pelayanan)
Setelah selesai makan mpek-mpek, perjalanan berlanjut naik becak ke WS. Semua sudah kumpul full team cewek. Ramenya.... Curhatnya.... Ah.. nggak berasa setengah dua. Waktunya pulang. Satu lagi durian runtuhnya, Mbak Ama membeli paket Nabiku Idolaku dari Mizan tanpa aku harus presentasi panjang lebar.
Terima kasih ya ALllah.... untuk kebahagiaan yang tak disangka sangka. Tertebus rasanya potongan untuk membolosku hari ini.
*gambar nyusul ya...
ini fotonya, bukan pas lagi makan makannya ya.. tapi kebayang kan.. ini juga suasana makan bareng di ruangan hehe

Jumat, 25 Maret 2011

The Gogons : James and The Incredible Incident


Karya : Tere LIye

akhirnya selesai juga membaca the gogons. buku terakhir dari buku buku tereliye yang aku belum baca. dan belum punya. Karena stok di TBO kosong dan nyari di toko buku juga udah susah, aku mendapatkannya dengan cara meminjam dari temanku di Jakarta. (niat banget yak ?)

Ceritanya enak, seputar anak muda gitu..
Adalah tentang the Gogons, sebuah genk 6 cowok yang sudah menjalin persahabatan selama 6 tahun. Nah di tahun ke 6 itulah berbagai cobaan menerpa persahabatan mereka.
Masalah dimulai ketika Adi menikah dan ternyata keluarganya tidak harmonis
Kemudian Diar sakit, dan ternyata sakit diabetnya udah parah
Lalu Azhar yang kecelakaan justru di hari bahagia karena dia udah berani ngajak pulang bareng cewek yang udah lama ditaksirnya
Kemudian Dito, pacaran sama bule Australia dan dijadikan carrier narkoba
Ari, yg ternyata sebelumnya telah menjalani terapi psikologi jadi terpukul dan kambuh lagi gangguan mentalnya.
Terakhir tentang James, yang ternyata "dihantui" masa lalunya dengan teman kecil bernama Weni.

Kalau aku belum baca semua buku tere kecuali the gogons ini, buku ini asli memukau. Anak muda dihadapkan dengan berbagai problema kehidupan
Tapi berhubung aku udah baca semua buku tere, aku bisa komen bbrp hal berikut :
- Deskripsi tentang "cara operasi telpon seluler" mulai dari BTS ke satelit ke BTS lagi, ada di buku Burlian, eliana dan the gogons ini
- Sedikit deskripsi tentang senja saat the gogons di kuta, kubaca berulang ulang di SBR
- Jalinan kehidupan di the gogons mirip mirip dengan rembulan jatuh di wajahmu
hihi... kayaknya Tere demen sama ketiga hal tersebut.
Tapi apapun tetap buku buku tere menarik dan menantang untuk dibaca. Selalu ada "pesan" yang terselip di setiap ceritanya.

ah ya, kok belum terbit serial the gogons berikutnya ya.. tentang si Dito itu..

Kamis, 24 Februari 2011

Senja Bersama Rossie


Karya : Tereliye

"tak ada mawar yang tumbuh di tergarnya karang"duh duh... puitis banget. Bisa aja Tere Liye membuat perumpamaan.

Tentang kisah Tegar, yang bersahabat sejak kecil dengan Rossie. Saking dekatnya persahabatan mereka sejak anak anak sampai dewasa, selalu berdua, selalu ada jika dibutuhkan, akhirnya Tegar sangat yakin, bahwa Rossie tak mungkin menerima orang lain disisinya.

Ternyata salah, karena tidak pernah mengungkapkan apa yang Tegar rasakan, akhirnya Rossie menerima ungkapan cinta dari orang lain yang baru dua bulan dikenalnya. Dan mereka segera menikah.

Hal itu membuat Tegar sangat terpukul. Dia melarikan diri dari kehidupan Rossie, sampai 5 tahun setelah pernikahan Rossie, baru Tegar bisa berdamai dengan masa lalunya.

Rossie telah sempurna dengan keluarga yang bahagia, bersama suami dan anak anaknya yang sempurna tanpa cela.

Tegar pun telah merencanakan sebuah pernikahan dengan perempuan lain.

Tiba tiba, tragedi bom bali memporakporandakan seluruh rencana.Rossie kehilangan suami, dan mengalami trauma. Keadaan memaksa Tegar kembali ke sisi Rossie dan anak anaknya.

Kayaknya jadian lagi deh... eh.. ternyata benar.

Hmmm...cukup menguras air mata, buatku yang cengeng ini. Tapi sekali lagi dari buku Tereliye, -menurutku Tereliye suka keindahan - kata katanya indah, ceritanya indah apalagi tentang sunset lengkap dengan detikannya, tapi ... kok pelakunya harus ganteng ganteng, cantik cantik, pinter pinter, kaya kaya. Semua sempurna

Asa, Malaikat Mungilku


Penulis : Astuti J Syahban, Mizan
Adalah kisah tentang Asa, yang bagai lautan asa tak bertepi, dalam menghadapi kenyataan dan menghadapinya, bahwa di usianya yang masih sangat muda, dia menderita Lupus (SLE).
Asa Putri Utami, yang tak lain adalah putri pengarang buku ini, sungguh sangat bersabar, pemberani, polos, tulus, bersih hatinya, pemurah, lembut perasaannya dan sungguh sangat 'dewasa' dalam menjalani masa pengobatan dan perawatan yang tidak mudah.
Berjuang melawan maut yang bagai mengintip di balik pintu, yang sewaktu waktu bisa saja datang menghampiri. Tapi jiwanya telah ikhlas, membumbung diwarnai langit, maka tiada sedikitpun ketakutan dan kesedihan dia rasakan.

Disapanya para dokter dan perawat yang dia hafal semua namanya.
Disapanya teman teman sekamarnya
Didoakannya setiap yang menjenguk dan yang memberikan bantuan biaya pengobatan baginya.
Dikuatkannya orang orang yang disekelilingnya.
Dalam penderitaannya, dia tidak kehilangan ceria dan kepolosan seorang bocah.
Pun ketika Ayah Bundanya kehabisan uang untuk biaya pengobatannya, maka dia pinjamkan tabungannya yang tiga juta rupiah. Ketika Ibunya berjanji akan memberinya uang lebih atas pinjaman itu, dia tidak mau. Takut makan uang riba, katanya.
Dan ketika ajal semakin dekat, dia katakan ke Ibunya, bahwa pinjaman itu dianggap lunas aja. "Alhamdulillah, Asa nggak jadi makan uang riba, katanya." (Ya ampuun.. ngenes banget aku bacanya)

Suatu ketika, Asa akan minum obat, dia minta ganti diapers ke Ibunda. tapi kata bunda, diapersnya baru diganti. Nanti aja kalau pas mau sholat, gantinya.
Akhirnya dia minum juga obat itu sambil berkata "ya Allah, ampunilah Asa, minum obat tidak dalam keadaan suci "
Aduuh.. anak sekecil itu sudah menjaga kesucian sepanjang waktu. Bahkan dalam keadaan sakit sekalipun !

Ketika sakitnya semakin parah, SLE komplikasi dengan tekanan darah tinggi dan gagal ginjal. Ketika dia minum obat darah tinggi, maka ginjalnya semakin rusak. Dan harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Entah bagaimana dia menahankan. Tapi hari harinya tetap dihiasi dengan zikir dan shalawat. Muraja'ah (mengulang hafalan) dari Al QUr'an yang begitu ingin dia khatam menghafalnya.
Ketika rasa sakit menderanya, dia tidak mengeluh apalagi berteriak, tapi justru mengeraskan dzikir atau bacaan Al Qur'annya.

Demikianlah selalu, sampai ajal benar benar mendatanginya.
"Mama ikhlaskan aku ya, soalnya aku juga sudah ikhlas. Kalau aku mati, Mama jangan menangis"
Pantaslah jika malaikat pun berebut menjemputmu dan membawanya ke surga.

Oh, Asa. Begitu banyak aku belajar darimu. Sungguh beruntung Ayah dan Ibu memiliki anak sepertimu.
Sungguh beruntung aku bisa membaca kisah yang ditulis Ibundamu.

Selasa, 04 Januari 2011

Sang Pencerah


Karya : Akmal Nasery Basral
Aku belum nonton filmnya. Kupikir tadinya film diangkat dari novel, ternyata ini merupakan novelisasi film / skenario. Tapi dari komentar para ahli, katanya buku ini justru melengkapi film.

Tentang Darwis kecil, anak Kiai Abu Bakar, salah satu khatib dan amin (tibamin) di masjid Gede Kauman. Mungkin semacam Masjid Raya di suatu provinsi.
Darwis kecil yang penuh tanya, kenapa ada tradisi selamatan untuk orang meninggal di hari ke 7, ke 40, ke 100 dan keseribu. Keluarga yang berduka harus menyediakan makanan untuk para tetamu. Makanan yang nota bene mereka juga jarang atau nggak pernah menikmati dalam kondisi normal.
Kenapa ada tradisi padusan (mandi bersama di kali dekat Masjid Gede) untuk menyambut ramadan
Kenapa ada selamatan suran (di bulan suro/muharram)
kenapa ada sekatenan dimana rakyat sangat menderita.
Kenapa musti ada sesajen.

Darwis kecil hingga dewasa selalu penuh tanya. Itulah yang membuatnya tidak pernah berada dlm zona nyaman. Selalu ada pertanyaan membuatnya selalu bergerak, belajar dan belajar sehingga ditemukan jawaban.
Maka di usia 15 tahun, berangkatlah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama kepada para ahlinya. terbukalah matanya. Terbukalah pandangannya. Ditemukanlah jawaban2 atas pertanyaannya.
Setelah lima tahun, Darwis kembali ke Tanah jawa dan berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.
Maka dimulailah pergerakan itu. Bagaimana beliau berusaha untuk "menyadarkan" para Kiai bahwa tradisi yang selama ini dijalani, bukanlah berasal dari tuntunan/teladan Rasulullah.
Ingin rasanya ikut "menikmati" perjuangan beliau,
Bagaimana beliau berusaha meluruskan kiblat hampir seluruh masjid di pulau jawa yang sebelumnya hanya menghadap ke arah barat, tapi tidak lurus ke arah makkah/baitullah
Bagaimana beliau mengajak kembali ke ajaran Rasulullah yang tantangannya justru dari para Kiai sepuh
Bagaimana mengajarkan agama tanpa membosankan dan tanpa menghasilkan ketaklidan
Bagaimana belajar berorganisasi ke Budi Utomo dan beliau melahirkan muhammadiyah
Bagaimana belajar dari Kwekschool dan kemudian membuat madrasah yang seperti "sekolahan" / bentuk madrasah yang kita kenal sekarang

Senin, 20 Desember 2010

Kembali Ke St Clare



Karya Enid Blyton

ini ku ambil dari tumpukan buku anak-anak. Aku mulai berfikir apa dan bagaimana bacaan dapat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Makanya aku coba selalu membaca-baca apa yang dibaca anakku. eh keasyikan malah.

aku suka buku ini. (sayang nggak punya dari seri satu).
Diceritakan, dua kembar, Pat dan Isabel, disekolahkan di St Clare, sekolah berasrama khusus untuk anak perempuan. Mulanya mereka tidak betah, karena suasananya sangat berbeda dengan sekolah yang sebelumnya Redwoods. Tapi setelah menjalani, mereka akhirnya menyukai sekolah itu.
Yang asyik adalah, ini pertama kalinya si kembar pesta tengah malam. Pestanya menggoreng sosis di ruang musik. Hihi.. ketahuan juga akhirnya.
Yang asyik lainnya adalah keisengan mereka "ngerjain" para guru.
Aduh duh, berasa pengen muda kembali.
Tapi sejujurnya banyak pelajaran moral yang diambil dari sini, terutama adalah tentang pentingnya kejujuran dan sikap ksatria.

Minggu, 19 Desember 2010

20 Langkah Salah dalam Mendidik Anak

Catatan  ini disarikan dari buku yang ditulis oleh Muhammad Rasyid Dimas, penasaran lihat namanya kirain orang Indonesia. Ternyata buku ini merupakan terjemahan. Muhammad Rasyid Dimas ini lulusan Fakultas Pendidikan dan Psikologi Al Imarat University dengan nilai excellent dan menduduki peringkat satu. Selain itu beliau juga master (excellent juga) di Bidang Perencanaan, Analisis dan Perancangan Sistem.
Menurut beliau, ada 20 kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak
1. Memaksakan kewajiban tanpa memberi pemahaman
Kebanyakan yang dikatakan orang tua adalah kalimat perintah. Misal, cepat bangun, cepat makan, pakailah pakaianmu, dsb. Hal ini kadang membuat anak pura pura tidak mendengar dan tidak mengerjakannya. Disisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan si anak menolak perintah dan melanggar larangan lantaran mengikuti hawa nafsunya. Maka menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan pemahaman tentang apa dan kenapa suatu kewajiban dibebankan.
Hal ini akan melatih daya pikir si anak untuk menjangkau suatu hikmah atas kenapa suatu kewajiban ditetapkan. Jangan sampai kelak dia melanggar peraturan dan meninggalkan kewajiban hanya dengan alasan karena dia tidak yakin atau belum bisa menerimanya.

2. Menyikapi perilaku anak hanya dengan satu pola
Misalnya orang tua selalu bersikap keras, padahal anak sudah berusaha menjadi baik. Ini akan membuat anak putus asa dan malas berbuat baik, toh tetap dipersalahkan. atau  anak selalu disanjung padahal dia berbuat kesalahan, maka akan membuatnya tidak mempunyai kepedulian.

3. Enggan menerapkan disiplin
Anak membutuhkan disiplin seperti mereka membutuhkan kasih sayang. Kadang orang tua mudah berputus asa, atau lemah tekadnya untuk membuat anak disiplin. ada juga orang tua yang khawatir, ketika dia menerapkan kesiplinan, maka akan kehilangan cinta si anak.

4. Tidak menggunakan siasat nafas panjang saat menyikapi kesalahan anak
Sabar, sabar dan sabar. Itulah kata yang mewakili dalam hal mendidik anak. Wasiat "jangan marah" yang sering diungkapkan Rasulullah juga berlaku dalam mendidik anak. Karena sikap sabar, tenang, bijak dan pemaaf sangat diperlukan dalam membentuk kepribadian anak.
Beberapa hal yang harus difahami orang tua dlm menyikapi kesalahan anak :
- parameter dunia anak berbeda dengan parameter orang dewasa
- anak berbuat kesalahan adalah lumrah, karena sedang proses belajar
- permasalahan personal tidak akan selesai dalam sehari semalam, jadi perlu waktu dan  kesabaran

5. Tidak berupaya mengetahui motif anak berbuat salah
Kadang si anak berbuat kesalahan tanpa sengaja atau tanpa tahu bahwa dia berbuat kesalahan, jadi orang tua harus berusaha mengetahui latar belakangnya.

6. Selalu menerima syarat yang diajukan oleh anak
Hentikanlah memberikan imbalan atas suatu kewajiban yang dilakukan anak. Ini seolah olah merupakan "suap" bagi si anak. Lebih baik meluruskan motivasi si anak sejak awal daripada setelah besar lebih susah untuk melakukannya.

7. Berlebihan dalam berjanji kepada anak

8. Menghukum anak atas perbuatan baiknya
Misalnya, si anak tiba tiba membereskan tempat tidur sebagai kejutan untuk ibunya. Setelah itu dia lapor pada ibunya, Bu aku sudah membereskan tempat tidur. Kemudian si Ibu berkata : Kamu harusnya mandi dulu baru membereskan tempat tidur !"
Nah si anak akan kecewa. Atau orang tua yang malas memberikan pujian atas hasil karya anak, karena dia sedang sibuk bekerja, dengan jawaban jawaban "Sana, main lagi aja, ibu sedang sibuk" dll secara tidak langsung "menghukum" si anak yang telah berbuat kebaikan.

9. Tidak menghukum perilaku buruk anak
Misal si A memukul temannya, orang tua hanya berkata "namanya juga anak-anak, nanti juga berbaikan lagi". Ini akan membuat si A  semakin menjadi - jadi di lain waktu.

10. Memberikan isyarat negatif Katakan selalu kata kata positif terhadap anak untuk memotivasi. Kamu anak pinter, kamu anak pemberani dsb

11. Membandingkan seroanga anak dengan anak lain dengan tidak adil

12. Memberlakukan standar ganda
Misalnya, pernah orang tua tertawa-tawa dan merasa lucu ketika si anak jalan jalan telanjang dalam rumah. Besoknya dia melakukan hal yang sama tapi pas ada tamu, eh, orang tua marah. Maka si anak akan bingung.
Contoh lain, orang tua meminta anak bicara jujur, tapi pernah meminta si anak mengatakan ayah tidak ada, ketika ada tamu yang tidak disukai, dll.

13. Tidak memenuhi kebutuhan kasih sayang dan cinta anak
Anak membutuhkan kepasatian bahwa dirinya dicintai. Rasa cinta kepada anak, akan membuatnya aman dan tentram serta tumbuh alami dan terhindar dari kegoncangan jiwa, frustasi maupun rendah diri. Anak yang mendapat cinta dan kasih sayang, lebih cenderung bersikap patuh, bisa bekerja sama dan disiplin.

14. Tidak memperhatikan patokan-patokan dalam memberikan sanksi fisik
Tidak memberlakukan hukuman fisik sama sekali, adalah hal yang salah juga. Tetapi, hukuman fisik adalah langkah terakhir. Selain itu, hindari menghukum saat marah. Ada tahapan tahapan memberikan hukuman :
- sampai dua tahun anak tidak boleh dihukum, tapi diberi imbalan atas perbuatan baiknya.
- setelah tiga tahun anak dapat menangkap perubahan roman muka ketika kita marah atau tidak suka.
- sampai usia delapan tahun, hukumannya adalah mengambil/mengurangi kenikmatan jika si anak bersalah.misal anak merusak mainan, maka mainannya disimpan utk waktu tertentu.
- sampai sepuluh tahun, anak ditegur dengan kata-kata.
- setelah 10 tahun anak boleh dipukul dengan "pukulan edukatif". (tidak dimuka, tidak di kepala, tidak menyakitkan, tidak keras)
- mengganti pukulan dengan kecaman ketika si anak sudah sampai tahap "menjadi teman" yaitu sekitar 12-14 tahun.

15. Tidak memperhatikan perbedaaan individual dalam mendidik anak
Setiap anak mempunyai kecenderungan yang berbeda, ada anak penurut, ada anak yang mudah menerima akhak baik, ada anak kritis, semua harus disesuaikan dengan si anak.

16. Tidak bertahap dalam berinteraksi dengan anak
Dalam memperbaiki akhak, pertama yang kita lakukan adalah meluruskan secara umum di hadapan semua anak tanpa menyebutkan si pelaku kesalahan. Jika tidak berhasil, maka luruskanlah di tempat tertutup (terpisah dari anak lain). Selain itu, bila cukup dengan isyarat, maka janganlah dilakukan dengan yang lebih keras dari itu. Harap dipahami, bahwa manusia sulit untuk merubah seluruh perilakunya secara sekaligus, sehingga harus bertahap.

17. Menghina, melecehkan, dan diskriminatif dalam memperlakukan anak

18. Tidak kompak dalam cara mendidik
Komunikasi orangtua, ayah dan ibu, harus menerapkan cara yang sama dalam mendidik anak. Jangan sampai si ayah menolak prinsip ibu, atau sebaliknya. karena ini akan membingungkan si anak.

19. Tidak melibatkan anak dalam membuat aturan
Ini adalah semacam kesepakatan antara ortu dan anak. Sehingga anak pun akan lebih bertanggung jawab ketika dia juga ikut menentukan peraturan.

20. Bersikap negatif dan salah terhadap anak
Otoriter, over protektif, mengabaikan/tidak peduli, memanjakan adalah contoh sikap yang salah terhadap anak.


wallahu 'alam bish-showwab

Rabu, 01 Desember 2010

Pasangan (Jadi) Jadian


Karya Lusiwulan
Andai saja anakku belum membaca buku ini, pastilah aku nggak buru buru pingin nyelesaiin baca, dan sudah berhenti di bab pertama. Karena kupikir tidak ada gizi yang bisa aku ambil dari buku ini. (Maaf ya, Lusi...).
Sama sekali aku tidak suka dengan ide 'tinggal serumah' cuma berdua yang dilakukan oleh Jagad dan Yayi. Ide untuk menerima kos laki laki di rumah perempuan lajang yang tinggal sendiri adalah benar benar menantang dan mengundang setan.
Dan akhirnya, kejadian juga, sepulang pesta, dan mabuk.
Udah gitu kepergok sama Kakek, Mama dan Papa Yayi, yang ngedadak datang, sekaligus Mama dan Papa Jagad.
Pembelaannya, mereka melakukan dalam keadaan mabuk. (Yang di akhir buku di ralat sendiri oleh penulis via tokoh Yasmin-bahwa mereka nggak benar benar mabuk, toh Yayi masih bisa nyetir dari apartemen Kumala sampai rumah). Dan akhirnya Jagad dan Yayik dipaksa menikah.

Ide konyol lain adalah nikah pura pura yang mereka lakukan. Tinggal serumah layaknya suami istri, tapi masing masing masih jalan dengan pacarnya.
Duh duh.. serasa aku lagi melanglang ke dunia mana dan di jaman apa... (*sembari berpikir apa aku yang kuper tapi sembari bersyukur juga di lingkaran pertemananku tidak pernah menjumpai hal seperti itu)
Sukur deh, mereka nggak nambah dosa dengan akhirnya menikah beneran di akhir cerita.

Selasa, 30 November 2010

Adventures of Tom Sawyer



Karya Mark Twain
Tom Sawyer, si rambut kriwil yang 'jahil' dan tengil, aduh..
aduh duh duuuh... mengingatkanku tentang masa kecil dan pengen banget rasanya kembali ke masa itu. ketika masih bisa main "jamuran" dilanjutkan petak umpet di bawah purnama. Keluar masuk kebon di keremangan malam.

Jiwa petualangan si Tom ini tidak terbatasi oleh ruang dan waktu (maksudnya gak kenal waktu),di rumah, di sekolah, di gereja, saat main, saat makan, saat bekerja, semuaaanyaaa... disertai jiwa petualangan.
Nggak heran kalau dia kepikiran 'ngerjain' anak laki-laki sekampung untuk menggantikan dia mengecat pagar dengan cara 'menjual mahal' kesempatan mengecat itu. Padahal si Tom ini, disuruh mengecat pagar sebagai hukuman.
Nggak heran juga kalau dia nembak teman teman cewek di sekolahnya sampai segitunya. (aku kok lupa ya, si TOm ini berapa tahun umurnya).
Sangat nggak heran ketika dia 'pura pura hilang' dengan pergi ke pulau dan kembali lagi setelah tiga hari kemudian saat 'upacara pemakamannya sendiri' dilangsungkan di gereja.
Banyak deh, seru, ASLI !!!

Berhubung ini aku cu-mi (fikri minjam temennya, aku ikutan baca), jadi berharap. Fikri pun akan dapat mengambil sisi sisi 'kejantanan' si Tom ini.

Senin, 15 November 2010

Memoirs Of Bossi

Karya Lusiana Liu -Gramedia
Ini buku anakku.

pengen tahu dunia anak muda, secara anakku dah menjelang baligh, maka kubaca buku buku mereka.

Buku ini menceritakan tentang kisah cinta antara Bossi (Ary) dengan Boss (CH) di masa SMP yang 'entah kenapa' dilarang dan disembunyikan sama ortunya.
Ternyata, pernah ada kejadian/kecelakaan yang berakibat Ary lupa pada apa yang dia alami sebelum kecelakaan itu.
Kecelakaan inilah yang membuat orang tua Ary, melarang Ary berteman dengan semua (?) teman SMP-nya.
Semua terjawab di bagian akhir buku ini.

Pas baca sih, aku merasa banyak hal lebay yang diceritakan, (atau krn aku sudah sangat tua yah ?? jadi gak nyambung)
misal :
- Ary hanya boleh berteman dan pergi dengan satu orang teman (Bora)
- Ide klub-klub-an penggemar Sollie dan CH duuuh...sampai segitunya.
- Ide Bossi berubah watak tiap jam 3 sore..
- Pertandingan berdiri lama lamaan di pinggir kali, ih, ngapain geto loh
- Adegan Bora cium pipi pas dibukain gerbang (hiiii...serrreeemmm anakku masih kelas 1 SMP soalnya, dan aku emak emak yang kolot)

apapun..... hihi... *ngikik dulu*
berhubung aku sendiri baru bisa komen doang, ya seneng seneng aja sih bacanya. Cukup menghibur dan runtut ceritanya.
Dan, aku juga jadi tahu 'kelakuan anak muda' jaman sekarang emang beda sama jaman aku muda dulu.

Perjalanan Ajaib

Penulis : Kim Dong Hwa, Mark Victor Hansen, dkk
Ini buku Graphic Novel kedua yang kubaca setelah buku Tita yang kureview sebelum ini.
Ini buku anakku juga.
Buku ini model chicken soup gitu deh..

Buat orang dewasa seperti kita, kisah kisah di dalam novel ini mungkin bukan kisah yang baru, alias udah sering baca di milis milis atau dari email email kiriman teman.
Tapi buat anak-anak?
Makanya aku suka sekali anakku memilih buku ini sebagai hadiah khatam Qur'an.
Sampai sampai anakku yang SD kelas 1 pun sudah bisa ikutan membaca.

...more Ini buku Graphic Novel kedua yang kubaca setelah Tita.
Ini buku anakku juga.
Isinya model model chicken soup gitu deh..

Buat orang dewasa seperti kita, kisah kisah di dalam novel ini mungkin bukan kisah yang baru, alias udah sering baca di milis milis atau dari email email kiriman teman.
Tapi buat anak-anak?
Makanya aku suka sekali anakku memilih buku ini sebagai hadiah khatam Qur'an.
Sampai sampai anakku yang SD kelas 1 pun sudah bisa ikutan membaca.

Berharap anakku bisa lebih empati ketika membaca kisah Napoleon yang sembunyi di sebuah toko.
Berharap bisa lebih rapi ketika membaca kisah si Pencuri
Berharap lebih memahami orang tua dan bersyukur dengan keadaan mereka ketika membaca kisah pekerjaan ayahku
Berharap bisa menyerap hikmah ke-13 kisah di dalam buku ini.
(PR : Kayaknya aku musti wawancara anak-anak untuk mengetahui pendapat mereka tentang buku ini)

Kamis, 11 November 2010

Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak

Sudah lama banget pengen baca buku ini.
Penyebabnya, supervisor di Sygma Daya Insani yang selalu ngompor ngomporin bahwa aku harus baca buku best seller Rekor Muri ini.
Padahal dia sendiri belum berumah tangga lho..

Akhirnya sukuuuuuuuurrrrrr banget, aku berhasil juga membacanya di tengah tengah pelatihan Sahabat Sygma.
(sayang di goodreads gak ada gambar covernya)

Beberapa hal yang dapat kucatat dari buku ini adalah :
1. Gak ada yang salah ketika seorang Ibu memutuskan untuk bekerja di luar rumah, hanya saja memang dia harus berjuang lebih keras, agar dapat melaksanakan tugas tugas utamanya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.Melly Kiong mencontohkan bagaimana dia menyiapkan makan siang buat bekal anak anaknya, dan selalu menyelipkan memo kecil di kotak makan siang anaknya, yang berisi pesan/ungkapan sayang dan TEKA TEKI. Hasilnya si Anak yg tadinya gak mau makan nasi bekal, jadi malah menanti nanti saat 'membuka bekal dari rumah'.
2. Memupuk rasa bersalah adalah sebuah 'kesalahan' yang justru akan membuat kita melakukan kesalahan kesalahan berikutnya. Yang harus kita usahakan adalah bagaimana membuat waktu pertemuan antara kita dengan anak-anak menjadi pertemuan yang berkualitas dan selalu menyenangkan buat kedua belah pihak. Berikan anak kita pengertian bahwa kita bekerja untuk apa, dan ajaklah mereka berbicara.
3. Menyayangi anak TIDAK SAMA dengan memanjakan anak. Melly pernah membuang baju seragam anak ke tempat sampah, karena setelah ganti baju mereka tidak memasukkan baju seragam itu ke keranjang pakaian kotor. hasilnya anak anaknya jadi mau membereskan baju seragamnya sendiri.
4. Pengasuh adalah mitra mendidik anak, jadi kita harus menghargai peran mereka dan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Kalau bisa, para pengasuh ini punya Job Description tertulis, agar -klo pengasuh/asisten lebih dari satu terutama - dapat memahami tugas masing masing
5. Jangan pelit memberikan pujian bagi perilaku baik anak. Gunakan buku penghubung atau kertas tempelan di kulkas rumah untuk mencatat kebaikan anak-anak. Walhasil anak anak akan berlomba lomba melakukan kebaikan.
6. Usahakan komando tunggal di rumah, klo ayah bilang A, berarti ibu harus nurut A. dan sebaliknya.
7. Mengelola keinginan anak dengan konsekuensi2. Dicontohkan misal seorang anak yg minta es krim, boleh asal tidak sedang batuk. TIDAK SEDANG BATUK ini di tekankan, konsekuensinya kalau si anak SEDANG BATUK tidak boleh makan es krim.
8. Beri kesempatan anak melakukan hal hal baru, atau melakukan sendiri. Misalnya menyediakan bangku kecil biar anak yang kecil bisa mencuci tangan/menggosok gigi di wastafel. Awalnya orang tua mungkin khawatir anak jatuh, tapi ternyata anak anak yang diajari mandiri sejak awal, mereka akan bisa benar benar mandiri.
9. Buat what to do list untuk anak anak dan berikan stiker untuk hal hal yg dilakukan tepat waktu. dan beri hukuman juga untuk yang terlambat. Melly mencontohkan misal waktu makan 30 menit, kalau anak makan 35 menit, maka dia harus berdiri 5 menit (sama dengan waktu yg lebih).
Stiker jadwal harian ini menjadi 'tiket' untuk mendapatkan penghargaan 'mingguan'. (jadi ingat postingan di The Urban Mama)
10. Bikin MUSIUM KASIH MAMA yang isinya pernak pernik kecil kecil misal gigi tanggal, rambut anak, atau karya karya anak kita.

Catatanku : dalam hal 'menghukum anak' ini aku pernah baca ada tahapan-tahapannya, kapan kapan di cari lagi deh.
Hihi baru nyadar, reviuw-nya mirip "Rangkuman" pas SD dulu, biarin deh, soalnya bukunya memang teknis banget dan cumi alias cuma minjem, jadi biar gak lupa ya aku tuliskan aja semuanya.