
Work-life Balance bukan istilah baru. Namun sejak pandemi covid melanda Indonesia, istilah ini mencuat dan seringkali disebut di lingkungan sekitarku. Mungkin gara-garanya ketika covid dan banyak work from home, batasan antara jam kerja dan bukan jam kerja menjadi tipis. Banyak justru yang menjadi lebih sibuk dan merasa bekerja 24/7 karena hubungan melalui telepon ataupun email yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk di luar jam dan hari kerja.
Work-life balance menurutku adalah kondisi di mana kita sebagai pribadi dapat menjalankan peran secara seimbanga antara pekerjaan, keluarga, relasi/pertemanan dan me-time/waktu untuk diri sendiri. Tentunya ini bukan hal yang mudah, sehingga sangat layak untuk diperjuangkan oleh siapun ibu pekerja di luar sana yang membaca tulisan ini. Mari kita buka satu per satu.
1. Work / pekerjaan
Pekerjaan ini ada tempatnya dan ada juga waktunya. Hendaknya kita dapat membuat boundaris agar kehadiran "work" ini tidak mendesak atau menggeser unsur lainnya. Jadi misalnya kita berada di posisi yang pekerjaannya menuntut banyak perhatian atau pemikiran, maka kita perlu membuat batasan.
2. Family / keluarga
Keluarga juga memiliki hak atas diri kita. Sehingga ketika sudah lewat jam kerja maka perhatian kita sebisa mungkin tidak tentang pekerjaan lagi. Ada istilah tidak membawa soal pekerjaan masuk ke dalam rumah. Ini untuk menjaga jangan sampai ketika di kantor ada masalah dibawa-bawa sampai ke rumah dan keluarga terkena dampak, padahal mereka sudah menunggu kepulangan kita dari kantor.
3. Friends / relasi /teman
Kehidupan kita tidak terlepas dari teman, karena manusia adalah makhluk sosial. Keberadaan teman ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas diri kita ketika kita memilih berteman dengan orang yang tepat. Atau bisa juga menambah relasi dan networking kita.
4. Self / diri sendiri
Jangan dilupakan kebutuhan kita untuk sekedar menepi dari hiruk pikuk dunia dan kehidupan ini. Di waktu waktu untuk diri sendiri ni dapat kita pergunakan untuk meningkatkan pengetahuan, belajar hal baru, beribadah, dan lain sebagainya.
Keempat hal di atas bukan sesuatu yang dibenturkan, tetapi dijalankan selaras sehingga mengarah pada keseimbangan. Ada waktunya kita memprioritaskan satu hal, ini bukan suatu hitungan matematika yang menjadi 25 persen setiap unsurnya.
Keseimbangan ini bukan kita pribadi yang merasakan, tetapi orang-orang sekitar kita dulu yang akan merasakan. Yang kita butuhkan hanyalah ikhtiar, dan komitmen dengan setiap peran tersebut





.jpg)


