Minggu, 04 Juni 2023

Air oh Air

Hai kawan, yang aku mau ceritakan ini adalah kejadian yang aku alami sendiri tentang pengalamanku berinteraksi dengan air. Khususnya air bersih yang kita butuhkan dan kita pakai sehari-hari.

Masa kanak-kanak di Cilacap, aku dibentuk untuk menyediakan air sendiri. Jadi setiap mau mandi ya harus menimba air dulu. Mengisi bak mandi yang ukurannya memang kecil, kalau dipakai mandi seorang dua orang udah kosong lagi. Jadi semua yang mau mandi di kamar mandi ya harus mengisi dulu. Kalau yang malas mengisi, biasanya memilih mandi di luar, masih pakai celana pendek, langsung guyur air dari timba, sabun sabun ala kadarnya, guyur lagi, selesai deh.. Tapi kan buat anak gadis kadang mandi tuh semacam me time ya... keramas dulu, gosok dulu badan pakai batu, sikat kuku kaki pakai sikat gigi bekas.. belum acara cari kutu hihi.. dulu aku kecil kutuan soalnya... ya begitulah.. Saat itu usiaku sekitar 8-10 tahun. 

Kemudian kami pindah kontrakan dan nggak punya sumur. Kami numpang di sumur tetangga. Tentunya udah izin ya.. dan memang jamak kalau di kampung mah, satu sumur dipakai beberapa keluarga. Di sini Bapak minta tolong tetangga untuk menimba air, mengisi bak mandi sehari dua kali. pagi dan sore. Plus ada 2 drum air sebagai cadangan. Mulailah edisi berhitung air dimulai. Anak 7 eh tinggal  yang tinggal di rumah karena mas mas udah kerja di lain kota. Benar benar setiap tetes itu sangat berarti. Air bekas  wudhu ditampung buat nyiram halaman yang berdebu.  Air cucian beras buat nyiram tanaman. Air di dandang bekas ngukus nasi buat ngerendemin panci aron, dll intinya mah Bapak Ibu ngajarin supaya kita hemat air.  Nyuci pakaian sama mbak ART dilakukan di sumur.

Berlanjut ke masa-masa SMEA, ngekos juga seperti itu. Mandi dan cuci pakaian harus nimba sendiri. Ibu kos punya kran air, tapi itu khusus buat cuci piring dan untuk bak mandi keperluan ibu kos. Bak mani anak anak ya nimba sendiri. Kemudian di masa-masa mahasiswa, soal air ini tinggal puter kran ya.. tapi ternyata kepedulian sesama teman kadang ada yang ngeselin juga. Meski tinggal putar kran, kadang ada yang mandi sampai ngabisin air, terus bak mandinya ditinggalkan kosong. Yang antri berikutnya kan jadi nunggu lagi supaya airnya kembali terisi. 

Terus puncaknya soal air ini adalah saat aku tinggal di Kupang. Di sini aku belajar banyak. Keadaanlah yang memaksaku untuk itu. Tadinya kupikir pengalamanku dengan air di masa kecil udah cukuplah.. menempaku agar cukup bijak menggunakan air. Eh, ternyata belum cukup ya.. dan masih perlu ditambah lagi. 

Aku nyusul suami tinggal di Kupang - NTT setelah menikah dan mengajukan pindah ikut suami. yaitu dari awal tahun 1997 hingga akhir 2001. Kami tinggal di pinggiran kota, yakni di Jalan Pasir Panjang.  Di atas kami ada daerah Perumnas, di atasnya lagi ada daerah kantor Walikota. Entah kenapa ya.. waktu itu di daerah Pasir Panjang kebagian air PAM itu tiga hari sekali. Itupun mengalirnya hanya di waktu malam. Bayangin dulu aja ya.. stok air tiga hari sekali... Padahal di daerah kantorku di Jl Palapa atau kantor Abi di jalan Cak Doko air mengalir normal setiap hari. Bisa dibilang 24 jam malahan.  

Jadi triknya adalah kami memiliki 3 drum besar, setiap air mengalir kami akan mengisi tiga drum itu. Tapi tetep aja pakainya harus hemat-hemat, karena deg deg an juga apakah tiga hari lagi air bakal ngalir. Apalagi kalau tiba musim kemarau.  Ada masanya kami mengisi drum itu dengan cara mengumpulkan segayung demi segayung, kemudian ditampung ke ember, lalu dari ember baru masuk ke drum. Kenapa harus pakai gayung ? Karena airnya nggak bisa naik. Maklum rumah kami di komplek bagian paling belakang. Pasti di depan juga sedang melakukan hal yang sama. Jadi kami menyiasatinya adalah memiringkan tiang kran hingga setinggi gayung tadi.  Jangan tanya bak penampung bawah tanah ya... yang biasa dilakukan di Jawa, soalnya untuk menggali tanah di Kupang itu orang sana bilang "setengah mati'. Karena tanahnya berbatu/batu karang.

Kok bisa kondisi gitu punya anak tiga selama 5 tahun di sana ? Cuci popoknya gimana ?

Ya sama lah.. nyuci popok mah .. tapi tetap hemat air intinya ya.. Untuk baju bayi dan baju balita yang kena ompol dicuci setiap hari, kadang pagi kadang malam pulang kerja. Kemudian baju para dewasa dan baju anak yang kondisi kering, ya nyucinya tiga hari sekali pas air mengalir itulah. Nggak kebayang sih ya.. kalau sekarang melakukan lagi. Nyuci manual malam-malam, terus sambil momong balita karena no ART haha.. ya sekarang cerita udah bisa sambil ketawa. 

Ada masanya ketika musim kemarau, air benar benar nggak ngalir. Solusi ? pergi ke kota. Numpang mandi di kantor, dan numpang nyuci di hari libur. Kalau nggak ke kantor, kadang kita ke sebuah masjid di daerah Oebobo, aku lupa nama masjidnya. Tapi takmirnya baik banget, dan memang masjid itu menjadi tumpangan kita - kita yang sering nggak kebagian air. 

F1 dan F2 nyiram tanaman malam-malam

Itu sekelumit kisah ya.. yang mengajariku bagaimana untuk mensyukuri setiap tetes air yang Allah berikan, baik yang kudapat secara mudah maupun dengan usaha lebih. Sampai saat ini juga jadi terbiasa. Buka kran secukupnya aja, nggak usah besar-besar. Mandi ya diukur-ukur, nggak sekedar gebyar-gebyur. Ambil minum ya dihabiskan, jangan dibuang-buang. Menggosok kamar mandi pakai air bekas nyuci, dsb.. itu udah kayak reflek aja ya.. Meski di Bandung ini bisa dibilang air melimpah. Meskipun air ini termasuk energi yang terbarukan, gampangnya mah ada lagi ada lagi gitu ya.. tapi siapa yang tahu cadangan air tanah ini akan sampai kapan ? Dan seberapa banyak curah hujan 'isi ulang' ? Wallahu a'lam.  Itulah, makanya setidaknya aku tidak memboroskan air.  Sesimpel itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.