Tampilkan postingan dengan label KLIP 2025. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KLIP 2025. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juni 2025

Korban FOMO



Beberapa waktu lalu, lewat di beranda akun media sosialku tentang sebuah destinasi yang sedikit keluar dari kota Bandung, namun masih mudah dijangkau. Mudah dalam artian sarana transportasinya, dan juga harganya yang sangat murah.

Destinasi tersebut, adalah sebuah cafe yang konon estetik, yang terletak di Cicalengka. Dari area kot.a Bandung, dapat ditempuh dengan menggunakan kereta api lokal dengan harga tiket Rp. 5.000 saja. Jadi pulang pergi hanya butuh RP. 10.000. Murah kan?

Di hari libur akhir pekan yang panjang, aku dan anakku sepakat mendatangi tempat tersebut. Beli tiket keberangkatan dari stasiun Kiara Condong.Untuk penumpang luar kota, biasanya masuk dari Stasiun Lama di Jl Kebon Jayanti. Meskipun kalau lihat desain bangunan stasiun saat ini, mestinya penumpang dari sisi Stasiun Lama maupun Stasiun baru sudah dapat terakomodir jalurya. Namun karena aku sendiri belum pernah mencoba,dan kok ya belum pernah tanya ke petugas, akhirnya aku tetap masuk dari Stasiun Lama.

Perjalanan kereta lokal Kiara Condong (KAC)-Cicalengka (CCL) ditempuh dalam waktu 50 menit dan berhenti di setiap stasiun yang dilewati. Dari Kiara Condong - Gedebage - Cimekar - Rancaekek - Haur pugur - Cicalengka. Kami berdua sempat berdiri dari Kiaracondong sampai Cimekar. Karena di sini banyak yang turun, jadi kami baru dapat tempat duduk.

Kami tiba di stasiun Cicalengka sekitar pk. 11.30. Begitu keluar peron, kami sudah disambut oleh para calo dan kernet angkot yang aktif melakukan penawaran dengan menyebut nama cafe viral itu. Tapi karena di map kulihat jaraknya hanya sekitar 500m dari stasiun, maka kamipun memilih untuk berjalan kaki. Tidak menyangka lho, ternyata cukup banyak juga yang berjalan ke arah yang sama. Whaat? seviral itu kah?

Sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan yang menenteng gelas minuman berlogo cafe itu. Begitu masuk, duh udah kurang sreg dengan suasana yang menurutku mirip pasar. Suara berdengung orang mengobrol, bercampur dengan suara anak yang menangis, di tengah panas yang terik.

Selanjutnya kami mengantre di depan kasir untuk melakukan pemesanan. Pesan minuman OK, kami memilih kopi susu aren dan matca. Pas pesan makanan agak kaget, yang tersedia hanya sebagian menu saja, camilan pun hanya ada tahu cabe garam. Sedangkan kalau kami pesan menu nasi baru dapat disediakan satu jam mendatang. Asli kaget sih.. tapi ya memang rame banget  cafenya.

Oke, kami pun memilih ruang ber-AC. Berharap sedikit kedap suara dan disejukkan oleh pendingin udara. Namun sayang sekali, suasana di ruang AC juga tidak terlalu berbeda. Di ruang ini justru ada sumber suara yang sangat lantang. Ada anak toodler yang suara tangisnya menggoncang dunia combo dengan dua balita yang buka tutup pintu geser di belakangku.

Setengah jam kemudian, minuman datang dalam kemasan gelas plastik. Shak shik shok sih, ini dine in tapi dikasih gelas plastik. Karena udah kepanasan akhirnya aku minta pesanan sisanya di take away aja. Aku buka buka map, cari tempat mengungsi lain yang terdekat. Syukurlah ada. Nanti aku ceritakan di postingan berikutnya.

La-Maja Coffee and Eatery, Cafe Estetik di Cicalengka