Tampilkan postingan dengan label cerita ABG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita ABG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

IQ Anakku Very Superior ?


Fikri udah mau UN minggu depan. (ini ketauan draft dari tau kapan).
Fikri udah UN hari ini. Eh, sudah tinggal sehari lagi, besok. Mohon doa ya teman temiiin...
Kalau lihat effort dia sih... aku gak se-dag dig dug jaman Fadhila.
Umminya berdoa ? Ya insya allah... namanya juga ibu, pengen yang terbaik buat anaknya.
Apalagi semester dua ini dia mulai rajin shaum senin kamis. Pernah nyobain puasa daud tapi nggak tahan kali ya... karena masih banyak kegiatan. Masih les seminggu 2x pleus kadang futsal sama teman-temannya.

Kalau aku lihat trend prestasinya juga alhamdulillah ada peningkatan.
Aku sih bukan type yang minta anak jadi juara. Aku cuma minta mereka 'berlomba dengan dirinya sendiri'.  Katanya kan nafsu itu lawan yang paling berat ya... soalnya bak musuh dalam selimut gituu...
Ya alhamdulillah dari posisi 20 sekian di kelasnya pas naik kelas tiga kemarin, Fikri masuk 10 besar kelas di semester 1. Dan beberapa TO juga nilainya membaik.
Aku pernah posting sekilas  tentang hasil TO Fikri di sini.
Makanya pas Fikri bilang mau sekolah di tengah kota, di SMA-nya pak Walikota dulu, akhirnya Abi berpikir ulang soal sekolah harus dekat rumah (dan negeri dan bagus hehe) .
Abi pun memberi gambaran Fikri nanti musti berangkat jam berapa, sarapan jam berapa (ini terkait Ummi kan kudu masak jam berapa), dan pulangnya pun jam berapa harus diperhitungkan resikonya, capek dsb.
Soal biaya nanti Abi dan Ummi yang pikirkan, bagian Fikri adalah meraih nilai agar bisa masuk sekolah tsb. Abi kasih target 5 besar di sekolah sekarang, baru yakin ( insya Allah) masuk SMA 3.
Soalnya SMA 3 dan SMA dekat rumah itu kan sama-sama cluster satu. Kalau Fikri nggak masuk 3, nggak bisa lagi milih SMA dekat rumah walaupun nilainya cukup, dia harus masuk yang cluster 2.
Fikripun terdiam. Mikir kali ya... biasanya jam 6 masih bisa hahahehe di dapur sama aku, atau main bola sama Faiz, ngupi-ngupi cantik eh ganteng dsb.

Nah, hari kemarin pas dia nunjukin hasil TO terakhir yang turun, dia bilang mau berfikir ulang soal sekolah tengah kota. Males euy.... pagi pagi sekali perginya.
Ya kubilang aja, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mendapat sesuatu. Jer basuki mawa bea. Itu kata orang Jawa.
Ya kita lihat nilai kamu ntar ya Nak....
Kemudian  aku juga ngingetin dia agar jangan terpengaruh soal gossip bocoran soal dan lembar jawab. Pokoknya bismillah.
Bukan sekedar jumlah nilai yang kita kejar, tapi keberkahan ilmu itulah yang jadi tujuan, sebagai bagian dari ibadah kita. Dan itu hanya bisa bila selalu menjaga kejujuran.

Kemudian, beberapa hari lalu dia menunjukkan psikotest di sekolahnya. aku sedikit kaget lihat hasilnya.

M. Fikri Ghazy Rabbani memiliki potensi kecerdasan berada pada taraf very superior dengan IQ-158 (berdasarkan skala TIKI) ptensi dalam bidan akademis yang dimiliki sangat baik, tetapi diharapkan jangan cepat puas dan tetap mempertahankan prestasi yang ada
Terus terang aku kaget. Antara bahagia dan cemas. Seneng lah ya.. anak berpotensi pinter, kan kecerdasan nurun dari ibu (keukeuh). Tapi cemas dan khawatir juga, jangan jangan selama ini aku dan suami belum memberikan pola asuh yang cocok buat anak pinter gitu. Jangan jangan selama ini banyak potensi kecerdasan yang terabaikan. Banyak laaah... sampai-sampai, jangan jangan karena pengentahuanku yang terbatas, jadi banyak hal yang Fikri butuhkan yang nggak kepikiran olehku.

Melihat hal itu aku bertanya kepada salah satu psikolog yang aku kenal. Sedang S3, praktisi pendidikan.
Pas aku bilang anakku IQ 158 dia bilang nggak mungkin. Biasanya test yang di sekolah itu levelnya lebih mudah. Jadi nilai IQ akan turun.
Tapi kemudian dia meralat lagi, seandainya turun 10 poin ya masih tinggi juga ya.. atuh dicoba mbak Titi, masuk ke SMA 3, barangkali bisa masuk kelas aksel (akselerasi)
(weeeek... suamiku termasuk yang anti aksel)

Trus minggu berikutnya, aku juga nanya ke teman psikolog yang lain. Beliau sedang S3 juga. praktisi pendidikan juga. konsultan beberapa sekolah di luar Jawa khusus menangani kelas akselerasi
Dan pas kubilang IQ 158 beliau mengatakan "Nggaaak mungkiin... anak very superior itu akan kelihatan sejak awal. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Nggak mungkin ibu baru tahu anak ibu very superior setelah sebesar ini. Test di mana dia ?"
Test di sekolah, kataku.
siapa yang nge-tes ?
Ada yang menawarkan dari lembaga test gitu
Berapa biayanya ?
50 rebu
Nah ini, kadangkala ada lembaga test yang menjual murah test test seperti ini. Mereka ini hanya mengejar uang. Seharusnya sebuah lembaga psikologi tidak mengeluarkan produk skala IQ anak, tetapi tes minat dan bakat. Yah , ini masalah kode etik profesi juga sih.. dan kadang kala juga ada yang baru sarjana psikologi sudah 'berani' bikin lembaga test. Harusnya dia ambil profesi psikolognya dulu, minimal. Atau sudah ambil S2 psikologi linier. Psikologi terapan juga nggak bisa. harusnya gelarnya M.PSi baru boleh memeriksa seperti itu. Itupun bukan untuk IQ

Trus aku minta Fikri untuk mengirim gambar surat itu. Daaaaan....

Yang Tanda tangan M.Psi
Waah... nggak mungkin lho Bu, anak ibu very superior. Ini skala TIKI yang mana ? Ada beberapa grade soalnya. Jangan jangan dikasih yang mudah untuk SD (ah masa' iya sih ?). Terus skala TIKI itu ada beberapa test, minimal 4 test. Nggak mungkin, IQ 158 nggak ketahuan.

Yaaa...kali aja Bu, karena keterbatasan saya, saya tidak dapat mendeteksi seberapa cerdas anak saya.

Nggak, anak very superior itu akan berbeda, akan ketahuan dari obrolannya

Ya mau tahu dari obrolan gimana, wong sama saya aja nggak kepikiran, masa' mau saya obrolin sama dia

Ya pokoknya enggak mungkin deh, IQ very superior. Anak very superior itu prestasi di kelasnya bagus, selalu tertantang dengan segala hal, jadi tidak ada kata menyerah buat dia. Mau gurunya nggak enak, mau temannya nggak enak, dia tidak akan terpengaruh, justru itu menjadi tantangan buat dia. Terus nggak bisa juga langsung masuk kelas aksel, harus menjalani serangkaian test lagi... (ya kebetulan suami juga termasuk yang enggak setuju adik pake kelas aksel, nanti kakaknya kebalap, dan kasian si anak aksel, nggak sempat main musti ngebut belajar - eh ini versi awam yaaa.a.....)

Aku manggut manggut aja
Ya sebenernya sih... nggak terlalu penting buat saya, berapa skala IQ anak saya, mau superior atau very superior. Maksudnya nanya itu supaya saya enggak salah langkah menangani ke depannya.
Ya kalau bener kan, kasihaan... kalau ternyata selama ini cuma dikasih tantangan 'segitu'. Ya kalau ternyata hasilnya salah (haiyaaaaah... sesama psikolog saling adu argumen) ya nggak papa juga. Toh selama ini aku dan Fikri sudah menjalin hubungan yang bagus, anak juga terbuka sama ortu, dari cerita soal pelajaran, sampai soal ngidol (JKT 48) dan rencana bisnis. Itu sudah lebih dari cukup laaah buatku.

Tapi pas melihat siapa yang bertanda tangan di surat itu, si Ibu psikolog yang kedua agak melunak.
"Bu, kalau ibu mau periksa lebih detil, dapat menghubungi psikolog di jalan pager gunung, (hihi gak mau nyebut nama, ntar kayak promosi) beliau juga konsultan aksel. Tapi test-nya nanti juga bukan test IQ, melainkan penelusuran bakat dan minat."

Iya deh, Bu.... aku tanya Fikri dulu.
Dan pas kuceritain Fikri, dianya cuma nyengir aja.
Mi, daripada ratusan ribu buat periksa, mendingan buat jalan jalan aja... hahaha
Dasar bocah, umminya udah khawatir, anaknya selow aja. Ya udah lah Fik, kita ngebakso berdua aja yuuk...

Senin, 28 April 2014

Ada Penampakan di Sekolah ?

Dah sebulanan ini mbak Fathim sibuk latihan PMR. Makin sibuk latihan seminggu kemarin, karena nyiapin lomba antar sekolah hari Minggu di Banjaran sana.
Setiap hari pulang sore. Kalau dipikir-pikir, udah lebih-lebih aja dari yang kerja. Setengah tujuh sudah berangkat sekolah, kadang malah jam 6 atau jam 6.15. Pulangnya pun menjelang maghrib. Kadang duluan dia kadang duluan aku.

Dua hari terakhir ini pamer tangannya ada luka gegara bikin tandu. Jadi ceritanya ada semacam mitos di anak PMR, kalau bikin tandunya sampai tangannya luka itu berarti udah jago. Kenapa ? Itu tanda narik talinya udah sangat keras.
Hehe aneh ya... gak tau juga sih.. namanya juga anak anak.
Ya aku cuma ngingetin, jangan sampai lukanya parah, pas giliran lomba malah gak bisa naliin tandu. Hilang deh semua jerih payah latihan.
Setiap habis latihan dia sibuk kompres es tangannya. Katanya dengan dikompres pakai es, rasanya sakitnya lebih mendingan.

Udahlah pulangnya sore terus,  mba Fathim tampak menggalau gitu. Bentar bentar minta peluk.
Emang sih, dulu pernah dikasih tahu bu Elia -psikolog SD- , kata beliau anak anak yang baligh gitu butuh pelukan dan sentuhan. Kalau dia minta peluk ya aku peluk. Tapi kalau kurasa dah lebay ya kubilang enggak.
Pas kugodain apa ditembak cowok, atau apa dianya cemberut.
"Si Ummi mah dikit-dikit cowok"
"Yeee...kan kamu cantik, kali aja ada yang naksir" ummi ngeles. Mbak nggak jadi cemberut.

Jadi kenapa dong tampak galau gitu? Apa karena tanggal tua ? #eh. Pastinya bukan karena itu ya.. karena jatah uang jajan dan transport gak dikurangi meski tanggalnya udah nenek-nenekpun.
Ternyata dia menggalau karena cerita sahabatnya. Sobatnya itu katanya bisa lihat dunia lain.
Di sekitar sekolah sering melihat penampakan. Dan dia cerita ke Mbak Fathim.
Ya ampuuun... si anak yang kalau malam ke kamar mandi aja masih minta anterin adiknya, berani-beraninya mendengar cerita penampakan ? Hmmmm....

Kata Mbak, pernah beberapa kali korban kecelakaan di bawa masuk ke sekolahnya. Trus dulu juga pernah ada kesurupan massal. Makanya, wajar aja kalau penampakannya semacam anak sekolah yang sedih lah... tangan yang menggapai minta tolonglah...dsb nggak usah dirincilah daripada horor. Kurang lebih kayak yang  di acara Thukul itulah, yang malem-malem nyari tempat sepi. (Aku pernah nonton di TV, malem minggu klo gak salah, jangan tanya stasiunnya karena aku gak bakalan tau.)

Daaaan.... mbaknya terpengaruh. Cerita tempat-tempat yang "adaan" di lingkungan sekolah, di tangga pojok sanalah. Di WC lah... di belakang dekat kali lah... bla bla bla.
Ya kubilangin aja, itu bukan arwah gentayangan. Itu adalah jin yang menyerupai.
Iyaaa.... mbak juga tahu, katanya.
Ya kalau udah tau, apalagi yang ditakutkan ? Ya nggak ? Toh beda alam iniii...
Adapun soal temannya yang 'bisa melihat' itu, terus terang aku masih percaya nggak percaya.  Karena beda dunia. Satunya alam ghaib satunya dari alam nyata.
Tapi ya sudahlah... aku kemudian menguatkan mbak, supaya tetap menjaga shalat dan tidak lepas dzikrullah.
Dan... kalau takut, ya udah sih... jangan dengerin cerita serem serem lagi.
Jangan mendatangkan penyakit buat diri sendiri. Aku tegasin dalam hal ini. Nanti males Umminya, dengerin curhat 'itu-itu aja' gak move on-move on.
Ya tapi rupanya topik penampakan ini masih berlanjut, minimal sampai hari tadi.

Trus gimana hasil lomba PMR-nya ? Hehe bagian tandu masih belum menang. Yang menang kelompok pertolongan pertama, pertolongan keluarga dan mengarang.
Pas kutanya, lho kenapa tandu gak menang ? Kan udah pada jago bikin tandunya ?
"Kalah cepat, Mi..." jawab si Mbak loyo.
Berarti nanti juga harus berlatih kecepatan ya Nak, pakein timer supaya ketahuan berapa lamanya.

Trus gimana dengan penampakan ?
Nanti lagi ya... tunggu cerita berikutnya dari nara sumber

Jumat, 18 April 2014

Ketika ABG Ditembak

Dor !
Pastinya bukan ditembak itu ya.... tapi ditembak dalam artian yang lain. Tau kan, Buuuu ?
Iyaa... ada yang bilang demen sama kita. Aih.. kata-katanya meuni jadul pisan. "Demen". Ya ada yang suka gitu deh... lope lope...
Tentu saja bukan aku yaa.. siapa juga mau nembak nenek - nenek lincah sepertiku, yang ditembak ini adalah anak gadisku. Trusss bukan anak pertama juga, melainkan anak yang ketiga.
He eh... lain ladang lain belalang, lain anak lain gayanya.
Kalau mbak Fathim itu kayaknya type-nya mirip-mirip aku gitu. Seriuuus sekolah, tekuuun (karena ngrasa gak pinter-pinter amat), trus cuek. Cueknya nggak bebek kayak aku yang dulu (rrrr.. sampai sekarang siih.. ) yang gak pernah bedakan, parfuman, handbody itu udah maksimal deh. *lirikparfumyangtumpahdilacikantor*
Ya jadi gaya pergaulan sama cowok ya lempeng dotcom. Semua teman.

Nah kalau anak ketiga ini sosial bingits. Mengenal socmed jelas lebih cepat dari kakak-kakaknya. Makainya pun lebih intens. Bener bener buat bersosialita laah... maka gak heran kalau temennya juga banyak.

Ceritanya kapan itu dia cerita ada yang nembak. Aku dengan gaya cuek kutanyain :
"Trus kamu terima ?"
"Ya enggaklah... aku nggak suka"
"Cowoknya bukan yang kamu suka ?"
"Hehe... iya"
"Trus, kalau cowok yang kamu suka yang nembak, kamu bakal terima enggak?" #ummikepo
Matanya berputar-putar dan tersenyum nakal.
"Ya enggak juga, mau ngapain juga jadian".
"Oh.... kirain" kataku
"Enggak laah Ummi... anak yang nembak aku itu teh udah terkenal. Pacaran sama kakak kelas semua tahu, pergi berduaan, nonton gitu gitu deh..  eh baru juga putus 4 hari masa udah ngajak aku jadian. Bukan cowok setia banget kaan ? Masa sih segitu mudahnya melupakan ceweknya yang dulu..."
*pengen ngikik asli dapat alasan gini*

Alhamdulillaah Nak.... meski di luar aku menampakkan ekspresi datar, ya sejujurnya aku pengen jingkrak-jingkrak.
Coba ya... kelas satu smp, mau jadian, mau ngapain coba? Nikah pastilah masih panjaaang.
Dan aku ngeriiii.... definisi pacaran jaman sekarang versi anak-anak yang diteliti bu Elly Risman, kalau cewek kan pacar itu teman curhat apalah, lha cowok pacar itu pergi berdua, jalan berdua, dsb dsb yang langsung sensor 17+.

Trus beberapa hari kemudian, pas lagi makan bareng Ayuk, dia cerita lagi soal temennya yang cewek.
"Ayuk, aih kamu cerita ditembak ke ibu kamu, ibu kamu nggak marah ?"
"Enggaklah, biasa aja keleuus"
"Ih, enak ih... kamu bisa curhat bebas gitu. Kalau aku cerita sama mamah aku pasti udah dimarah-marahin. Belajarlah apalah..."
Kami berdua berpandangan dan tertawa bersama.

Syukurlah ya Naaak... bukan kamu yang enak bisa curhat sama Ummi, tapi ummi juga enak, sampai sekarang nggak perlu ngepoin kamu, kamu bakal cerita sendiri.
Semoga kamu tetap teguh memegang prinsipmu ya : jomblo itu nasib, single itu pilihan.
Jadi gak kan terpengaruh ya.. meski di sekelilingmu ada banyak dar der dor teman jadian. Perjalanan masih panjang.

Minggu, 15 Desember 2013

Terkontaminasi

Faiz menyanyi :

Kumpulkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...

Huuuuu..... langsung diteriakin sama kakak-kakaknya. Andai itu di panggung pasti udah diteriakin 'turun.. turuuun !"
Eits tapi bukan Faiz kalau enggak ngeles. Katanya :
"Bentar .. bentar, sekarang enggak pakai lebay" meminta kesempatan kedua.
"Kumpulkanlah ingatanku...
Hapuskan tentang dia"

*klo yang update pasti tahu dimana letak kesalahan lagu itu.*

Yah... itulah Faiz. Umurnya baru 5 tahun. Tapi sudah ikut-ikutan menyanyikan lagu anak remaja.
Ini adalah salah satu tantangan buat mahmud abal-abal seperti diriku ini yang punya anak dengan rentang usia berbeda. Ada ABG di rumah, ada pula ATK alias anak TK. :D

Dulu waktu Fikri kecil pernah nanyain, kenapa anak-anak enggak boleh nyanyiin lagu anak gede, tapi anak gede boleh nyanyiin lagu anak-anak?
Waktu itu jawabanku adalah : karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.
Nampaknya jawaban tersebut cukup masuk akal, sehingga Fikri kecil tidak mempertanyakan lagi hal tersebut.

Tapi, beda anak beda jaman, beda jaman beda lagi tantangannya. Jaman Fikri kan enggak ada remaja yang memperdengarkan lagu, nah kalau jaman Faiz, si hape F1 dan F3 selalu bunyi menemani mereka belajar. Yah enggak mendengarkan secara khususpun  bisa hafal. Harus banyak-banyak mencarikan kegiatan lain yang membuat anak hanya memperhatikan apa yang baik dan pas buat mereka. Susah ? Ya iyalah.. namanya juga tanggung jawab. Ya harus menanggung, gak cuma menjawab aja hahaha...

Kalau kata Fikri, anak-anak ABG sekarang itu terlalu mainstream. Iya sih, lihat saja gaya fotonya, dari mulai bibir monyong hingga lidah menjulur, tangan di pipi sambil mengacungkan dua jari membentuk "V". Anakku juga kalau foto ya kayak gitu.
Lihat gaya rambutnya... lihat gaya pakaiannya...
Semua mirip-mirip. Sampai sampai Abi  enggak bisa membedakan mana yang anggota Chibi Chibi mana anggota JKT 48 kalau mereka foto sendirian. Akupun demikian :D

Nah, kemarin ini ada seorang ibu yang mengeluhkan gadis sulungnya. Kata beliau, sejak kuliah senengnya pakai celana ketat, trus pakai T-shirt dan jaket. Kerudungnya juga lipat segitiga satu peniti dan ujung-ujungnya dilempar ke pundak.
Komenku ya jangan salahkan dulu anaknya. Kita sebagai orang tua harus mawas diri dahulu.
Coba, si kakak itu kalau beli pakaian sama siapa, trus kalau mau keluar pas pamitan, ibu lihat enggak. Sejak kapan si kakak ganti gaya gitu?
Trus selama ini dia mainnya sama siapa.
Segala sesuatu pasti ada awalnya kaaan. Ya ibaratnya garis lurus sama garis serong, berangkat di titik yang sama, setelah jauh/panjang baru kelihatan deh jaraknya.
Nah, tanda tanya doong, selama ini kita kemana ajaaa?

Menurutku I'ts Ok pakai celana panjang. Asalkan tidak ketat. Ini pakemku. Sejauh ini kalau untuk celana jeans anak-anak aku selalu pakai satu nomor di atas yang seharusnya. Supaya enggak ngetat di paha dan betis. Trus buat anak-anak gadis itu aku juga kasih rambu-rambu. Boleh keluar pakai celana jeans, asal atasannya minimal sampai ke paha.
Kalau pakai rok gak boleh yang nerawang membentuk paha, walau pakai leggingpun.
Kerudungnya juga harus (belajar) menutup dada. Memang sekarang belum ada tuh dada, belum nampak yang ditutupnya. Tapi satu dua tahun lagi? Kalau enggak dibiasakan dari sekarang khawatirnya tau-tau aku kaget sendiri dengan gaya fashion anakku.
Kenapa aku tegas gitu?
( Lah si mbak sama si Ayuk aja lebih galak lagi  sama aku. Kalau aku pakai baju agak pas, baru agak lho... belum pas, pasti mereka ribut. Ummi kerudungnya harus panjang nutup pinggang. Bukan berarti balas dendam ya... hahaha)
Yah namanya juga anak-anak. Katanya hidup cuma hari ini. Yang diinget cuma hari ini. Jadi meski ummi udah pernah ingatkan, ya lupa lagi lupa lagi. Aku yakin para gadisku itu sebenarnya sudah tahu rambu-rambu berpakaian mereka.
Ini semacam iseng iseng berhadiah gitu. Aku faham, mereka butuh perjuangan lhoo... untuk berpakaian anti mainstream.
Apakah anakku selalu nurut ? Ya enggaklah......
kalau mereka perginya pas nggak ada ummi dan abi ya kadang pakai gaya mereka sendiri. Namanya juga manusia. Harus selalu diingatkan. Yang udah tua begini aja masih sering lupa dan perlu diingatkan.

Yang bujang gimana ?
Kira kira setali tiga uanglah. Sejak Fikri punya hape baru hasil menabung 2 tahun+dapat donasi, sesekali aku pinjem hp dia buat IG-an. Iseng-isenglah kita lihat koleksi gambar dia.
Ya ampuuun... itu si jekateempatlapan bener bener mendominasi kartu memori.
Ava bbm pun gambar si jekate. Sampai pada suatu hari Abi lihat dan menggoda, kenapa sih gambarnya anak jekate banyak amiit?
Waktu jaman Abi kecil yang disimpan itu gambar gambar artis dan atlet, misalnya Rambo, Stalone (sama aja wkwk), dengan ringan Fikri menjawab  sambil ngeledek Abi
"Kalau aku suka gambar jekate, berarti aku masih normal, Bi. Daripada aku suka sesama cowok"

Gubrak banget enggak sih ??? Nau'dzubillahi min dzalika.

Agak kaget juga, meskipun sejak awal menikah dengan Abi dan punya anak, kami sepakat bahwa kami tidak akan mengarantina anak-anak dalam lingkungan yang homogen. Biarkan mereka tumbuh di lingkungan heterogen dan belajar bertahan. Maka yang harus kami bekalkan adalah imunitas.

*langsung keinget obrolan bareng Sondang, kalau kita ini lama-lama merasa biasa dengan LGBT, karena sering dengar dan sering dibercandakan. Sampai kitapun menganggap bahwa hal tsb biasa aja. Gak ada lagi rasa jijik atau perlawanan dalam hati. Akhirnya memaklumi kaan...*

*pantesan yak, Rasul sejak berabad yang lalu mengingatkan, agar segera mencegah kemungkaran. Tingkatan yang paling utama ya cegahlah dengan tangan/wewenangmu, kalau enggak bisa, cegah dengan lisanmu, kalau enggak bisa ya cegah dengan hatimu. Dan inilah selemah-lemah iman* kemudianhening

Sabtu, 30 November 2013

Penyesalan

Ini bukan judul lagu...  #eh ada gitu ?

Malam-malam, pas aku njahit tas yang akan kubagi-bagi buat pengunjung blog sebelah, F3 tau-tau mbanting sim card hp-nya di depanku. Caper banget yaks...
Aku cuma ketawa dan ngeledek...  patah hati ya..
Dia menjawab... 'ih enggak lah yaw..'
Kupikir kejadian itu ya sudahlah ya... palingan dimensyen butut atau apa.. enggak bersambung deh intinya. Eh..ternyata..

Besoknya pulang kantor, habis maghriban dan anak-anak dah ngaji semua, aku agak santai karena semua setuju makan malam bakso sesuai rikues Abi. Tiba-tiba Teteh masuk kamarku dan ngasih tau kalau Ayuk mau curhat.
Kemudian aku masuk kamar Ayuk, dia lagi sms-an sambil manyun manyun gitu. Kutanya ada apa, mau curhat apa, dia hanya menggidikkan bahu.
Aku mau lihat hapenya, enggak boleh. *gemes enggak siih...*
Terus malah dia membuka casing hapenya dengan kasar.
Kataku 'iiih... hati-hati, belum sah jadi milikmu sampai raport semestermu ketauan...' haha mempan juga omonganku. Trus dia buang lagi sim cardnya.
"Ayuk kenapa ? Patah hati lagi?"
*menggeleng*
"Cowok yang kamu taksir nembak orang lain?"
*menggeleng*
"Sahabatmu menghianati?"
*menggeleng*
"Ya terus kenapa ? Katanya mau curhat"
*malah nangis*
Sebentar aku peluk dan aku biarkan dia menangis di pundakku. Romantis banget kayak drama korea -katanya :)
"Dimarahin teman ?"
*diam*
"Dipanggil guru BP? "
*guru BK, Ummiii.....* sahutnya
"Kamu dipanggil guru BK?"
Enggaklaah...
"Kamu ditembak orang?"
*menggeleng*
"Ada guru yang naksir kamu?"
"Enggak atuuuuh... kalau gitu aku mah udah cerita ke ummi kali..."
"jadi kenapa atuh.... kamu galau galau kunaon ?
*membuang hape*
Ummi memutar otak mencari ide.
"kamu menyesal udah salah ngomong ?"
*mengangguk dan nangis lagi lebih keras, aku peluk lebih erat, kubiarkan dia menangis beberapa saat*

"semua orang juga pernah salah ngomong kaliii, itu adalah resiko yang harus ditanggung. kamu juga harus belajar menanggung resiko, karena kamu sudah mulai dewasa. Makanya kan kita harus memikirkan dulu sebelum mengatakan sesuatu. karena kata-kata yang terucap enggak bisa dihapus lagi"
Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

"ummi waktu kecil  dulu juga  pernah menyesal mengatakan sesuatu. Dulu ada teteh teteh gitu yang nakalin ummi, terus ummi bilang ke ibunya, kalau dia nakalin ummi. Eh, terus dia disabetin pakai kayu sama ibunya, sampai nangis teriak teriak. terus habis itu dia dimandiin, diguyur di sumur. Jaman dulu kan sumurnya dipakai ramai-ramai, satu sumur untuk beberapa keluarga. Sampai teman-teman tau semua kalau dia disabetin ibunya. Ummi menyesal deh udah ngaduin dia sama ibunya. walaupun dia salah juga, tapi ummi enggak nyangka kalau dia bakal disabetin gitu. Ya gitu deh, sampai lama dia marah sama Ummi."
*diam sejenak, ummi mendadak sedih ingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu itu*

"trus, kamu udah minta maaf sama temenmu ?"
"udah"
"bagus, trus dia gimana ?"
"ya udah maafin, tapi ya gitu we... aku malu jadinya"
"temen cewek apa temen cowok ?" *ih ummi kepo deh*
*diem aja si Ayuknya*
" ya sudah, semua perlu waktu, dia juga perlu waktu untuk memaafkanmu. kalau dia sudah maafin, kamu harus menunjukkan sikap baik sama dia. Kan kata Rasul, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk"
*gadisku diam saja, agaknya dia menerima kata-kataku*
"ya sudah, kalau udah maafan, pasang lagi sim-cardnya. temenmu kan enggak cuma dia doang. nanti kalau ada teman lain mau sms, gimana. nanti kalau abi atau ummi mau nelpon kamu  gimana..."
*Ayuk nurut dan masang lagi simcard ke hape yang tadi dipisah pisah mana casing mana batere*
"kamu udah cerita ke temanmu soal ini ?'
*menggeleng*
"Kamu menyimpan sendiri dari kemarin ?"
*mengangguk*
"kamu hebat ih, berarti sudah sanggup menanggung masalah sendiri" *asli, ini mah pengakuan tulus*
*tersenyum*
"tau enggak Yuk, dalam beberapa hal, kita banyak kesamaan lho, kamu kan anak tengah, nomor 3 dari lima anak, ummi juga anak tengah, nomor empat dari 7 anak, kata orang, anak tengah itu lebih dewasa. Dan memang Ayuk lebih tenang dan lebih dewasa"
*ketawa*
Akhirnya kami berpelukan lagi untuk beberapa saat.

Sabtu, 09 November 2013

Cerita ABG : Jatuh Cinta dan Patah Hati

Meramaikan program PKK (Peduli Kata Kunci)-nya Warung Blogger, kali ini aku mau cerita satu aja tentang ABG-ABG di rumah yang jumlahnya ada tiga.
Aku suka iniih, membuat kecele para pengguna mesin pencari, yang mencari konten-konten negatif di dunia maya dengan kata kunci tertentu. Kalau para blogger udah menuhin dunia maya dengan konten positif yang mudah ditemukan mesin pencari, pastilah konten negatif itu akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Cerita ABG, bukan cerita aku blogger gaul ya... kalau aku blogger gak gaul mah iya banget. Mainnya ke situ-situ aja. Yang komennya juga itu-itu aja. Hahaha... susah move on, aku kan type setia.... *tendangsampaiawang-awang
Hihi malah menceracau kacau, katanya mau nulis Cerita ABG. Iya deh.. iya... kita mulai.. begini ceritanya... sudah berlalu hampir setahun.

Buat men-temen yang udah jadi ibu, apa yang ibu pikirkan  ketika bangun pagi hari, anak yang menjelang gadis tiba-tiba memeluk dan berkeluh : "Ummi, sekarang aku tahu, kenapa orang patah hati bisa bunuh diri."
Jreng... jreng... jreng.... kemana Ummi waktu anak gadisnya nangis semaleman ? *ngringkukdikamar
Kemana Ummi waktu anaknya perlu teman curhat ? *asyikbikinpostingan
Kemana Ummi ? Di mana Ummi ? Ummi sibuk ? Ummi ngertiin anaknya nggak siih?

Tenang... tenang... Ummi ada kok.
Karena aku tahu type anak-anakku, enggak laju lebay gitu aku nanggepinnya. Masih dalam pelukku, dengan santai  kutanya balik :
"Trus kamu mau bunuh diri ?"
"Enggaklah.... kan dosa Ummi, rugi banget" jawab gadisku.
Alhamdulillaah. Berarti dia masih menganggap bahwa selain 'cinta monyet'-nya itu, masih buaaanyaaak hal berharga yang pantas dikejar. Dan karena secara normatif anak-anakku sudah tahu bahwa pacaran itu dilarang agama, aku tinggal masukin nilai-nilai yang diterima logika mereka.
Salah satunya aku  pakai resepnya mba Tri. Kurang lebih begini :
"Jangan terlalu mencintai teman-teman SD, nanti kalau kamu SMP banyak teman SMP yang lebih keren. Jangan juga terlalu serius sama teman SMP, karena di SMA akan lebih banyak lagi cowok yang lebih keren. Kalau mau serius pas kuliah. Karena kalian sudah semakin dewasa dan lebih bisa mempertimbangkan segala sesuatunya. "

Ya gitu deh... itu baru cerita satu anak ya... tapi seputar jatuh cinta dan patah hati aku masih pakai rumus yang ini. Alhamdulillah nampaknya berhasil untuk dua gadis pertama. Paling tidak, mereka nampak segera move-on dari para cowok-cowok CCP-nya dan segera beraktifitas yang lain atau dapet CCP baru. :p *mudahcintadanmudahlupa.
Kalau yang cowok belum kelihatan punya gebetan siih...

Dan untuk nasihat yang lebih serius aku bilang gini : (dapat dari tweet siapa ya, lupa. Kata-kata bijak atau nasehat Islam gitu ).
"Bila kau mencintai seseorang, lihatlah apakah dia dekat dengan Allah atau tidak. Kalau Allah aja dia tinggalin, apalagi kamu ?"

Memang awalnya buat telingaku rada-rada jengah mendengar cerita ABG versi anak-anakku. Mengingat jaman aku seumuran mereka dulu apa-apa kan dirasa sendiri. Paling nulis di diary.
Tapi kan mending anak-anak curhat sama kita kaan, dari pada curhat sama orang lain.
Minimal walaupun dia curhat sama temannya, dia curhat juga sama kita, jadi ada semacam second opinion.
Nah yang kulakukan sehingga anak-anak mau cerita adalah :
* ada sessi berdua -quality time- dengan masing-masing anak. Waktunya atur-atur saja.
* belajar bertanya tentang dunia mereka dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik. Nggak mencela, nggak motong cerita, full attention.
* ikut baca buku/novel mereka
* sesekali stalking TL / akun socmed mereka spy enggak kudet. #eeeaaaa

Nah ini Cerita ABG-ku. Lain keluarga pasti lain cerita. Mana ceritamu ?

*postingan ini tidak dilombakan karena kesulitan teknis dalam pendaftaran* bilangajamalesngelink