Kayaknya kesibukan sebagai pengacara baru masih agak tersisih dengan kondisi ini termasuk kehebohan Faiz untuk belajar sekolah di At-Takwa yang Sabtu kemarin memasuki hari keempat alias pertemuan terakhir sebelum dia sekolah beneran di sana.
Apa sih yang sampai segitunya membuat harap harap cemas ?
Apalagi kalau bukan pendaftaran anak sekolah.
Syukurlah ya... sejak beberapa tahun terakhir ini, hasil seleksi masuk SMP, SMA (hihi di situs PPDB istilahnya masih SMA) dan SMK Negeri di kota Bandung dapat dilihat secara online. Dari mulai data pendaftar sampai rekapitulasinya ada. Kita bisa tahu berapa passing grade atau gampangnya nilai terkecil agar dapat diterima di sekolah yang kita tuju. Lumayan membantu walaupun tentu saja itu sampai pendaftaran sehari sebelumnya. Jangan sampai gara-gara tidak memperhitungkan passing grade ini anak-anak tidak berhasil masuk sekolah negeri ( dan dekat rumah). Kenapa sekolah negeri ?Simpelnya ini pilihan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan tentu saja. Keluarga lain punya pilihannya masing-masing.
Dengan nilai UN yang didapat mbak, alhamdulillah kami lebih tenang. Pilihan pertama dia SMA 24 di klaster 1 dan pilihan keduanya SMA 23 di klaster 3. Kalaupun dia enggak diterima di pilihan pertama, insya Allah bakal masuk di pilihan kedua. Hasil pantauan melalui PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online Kota Bandung, sejak hari apa itu dia mendaftar, posisinya masih aman di pilihan pertama.
Tapi dengan nilai yang didapat Ayuk, rupanya ini menjadi pengalaman baru bagi kami sekeluarga.
Bukannya tidak menghargai hasil jerih payahnya, tapi hendak mengajarkan bahwa di dunia ini selain kita berjuang melawan sisi negatif diri kita, kita juga berlomba dan bersaing dengan orang lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sedih pas melihat di hari ketiga Ayuk sudah kehilangan pilihan pertamanya di SMP 17. Kamipun membujuk agar dia mau ke SMP 50 yang ibaratnya tinggal ngesot saking dekatnya. Awalnya dia enggak mau karena deket banget sama rumah. Eh pas dia udah mau, ternyata di hari berikutnya nilai dia udah lewat juga. Ayuk mulai menangis diam diam. Setiap ditanya geleng kepala. Pilihan pertama berubah lagi ke SMP 49. Ternyata di hari kelima, lewat pula. Pas Jumat malam itu tinggal 2 SMP Negeri -agak dekat dari rumah- yang masih memungkinkan nilai Ayuk masuk. Satunya SMP 22 di jalan Supratman, satu lagi SMP 20 di Kosambi. Udah jauh dari rumah kalau ukuran Abi.
Sabtu, hari terakhir pendaftaran, bismillah memilih SMP 22 di pilihan pertama dan MTs Negeri 2 di Cicaheum sebagai pilihan kedua.
Abi sempat cemas ketika Sabtu menjelang maghrib belum ada nama Ayuk di sekolah manapun. Aku menghibur mungkin masih proses input data. Alhamdulillah habis isya sudah ada nama Ayuk diterima di MTsN 2.
Dan benar saja karena salah perhitungan passing grade, ada teman Ayuk yang akhirnya tidak diterima di SMP manapun. :(
Ayuk kelihatan belum lega diterima di madrasah. Masih terlihat melamun diam diam dan menangis sembunyi sembunyi. Dia ingin sekolah umum seperti kedua kakaknya. Setelah Abi memberikan pemahaman, bahwa ini bagian dari keputusan Allah, bahwa Allah berikan yang terbaik buat kita, Allah berikan sesuai yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, terlihat Ayuk lebih legowo. Pas hari Minggu siang Ayuk diajak Abi melihat calon sekolahnya, dia langsung jatuh cinta.
Dan Senin ketika dia menerima surat resmi tanda diterima melalui guru At Takwa -karena ndaftarnya kolektif - dia sudah tertawa tawa dan berani menunjukkan foto foto sekolah barunya. Apalagi ketika diberitahu bahwa MTsN 2 adalah madrasah tsanawiyah percontohan dia makin bangga. Kepala At Takwa secara khusus berpesan agar Ayuk menjaga nama baik AtTakwa karena alumninya sudah dikenal di sana.
Yah satu pelajaran baru sudah dilalui kami sekeluarga. Benar kata Ayuk, hidup itu tak semulus paha cherybelle.














