Sebagai satu - satunya anak / menantu Eyang yang tinggal di luar Lampung, kunjungan Eyang Kakung tentulah sangat istimewa. Apalagi bila mengingat usia Eyang Kakung yang menginjak 70 tahun kala itu. Pastilah perjalanan Lampung - Bandung bukan perjalanan yang mudah.
Sebenarnya kunjungan tahun 2010 itu bukan kunjungan pertama Eyang. Dulu waktu masih di rumah kontrakan, Eyang pernah berkunjung, tapi aku juga baru punya anak 4, belum lahir yang kelima. :p
Meski kunjungan kali ini bukan kunjungan pertama, tapi menjadi istimewa karena banyak hal 'pertama' -nya
* Eyang pertama kali melihat rumah kami sendiri, bukan rumah kontrakan lagi. Hehe.. alhamdulillah, Eyang senang melihat rumah kami, yang kami peroleh dengan hasil keringat sendiri. Enggak ngrepotin Eyang
* Eyang ke Bandung mengunjungi anak laki-laki pertamanya (dari 8 anak Eyang, semua perempuan, hanya dua anak laki laki, dan suamiku anak laki laki paling besar)
* Eyang ke Bandung dalam rangka menghadiri wisuda cucu pertama yaitu mbak Echi.
Tapi sayangnya, kunjungan Eyang ke rumah baru kami ini menjadi kunjungan terakhir. Tidak berapa lama sepulang dari Bandung, kondisi kesehatan Eyang drop, nggak bisa bepergian jauh lagi.
Tahun 2012, Allah SWT memanggil Eyang Kakung ke haribaan-Nya.
Tampilkan postingan dengan label Eyang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eyang. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Februari 2013
Sabtu, 28 April 2012
Kehilangan
Beberapa hari yang lalu aku dah ngetik postingan tentang kehilangan.
Mungkin bukan kehilangan hal yang besar. Tapi kok rasanya .. tetep
gimana ya..
Ceritanya pas Abi ke Lampung kemaren, modemku dimainin Faiz. Sore itu padahal aku dan Faiz abis main lepi berdua. Nah pas aku shalat, aku dengar Faiz matiin leppi dan membereskan barang barangnya termasuk si modem itu. Aku lihat dia pegang pegang.Nah setelah shalat, aku pergi pengajian berdua Faiz. Mbak dan Fikri masih pada sekolah.
Malamnya pas aku perlu modem, si Faiz udah tidur. Ditanyain ya nggak mungkinlah dia ingat. Kucari cari ngider seluruh penjuru rumah yang kira kira bisa jadi tempat nggeletakin modem, eh gak ketemu juga. Udah dibantu Mbak dan Fikri, tetep nggak ketemu.
Besok paginya pas Faiz bangun, kutanyain dimana modemnya. Dia langsung menuju rak buku. Dan, enggak ada. Nggak mungkin disimpan disitu, karena nggak ada orang yang mungkin mindahin.
Sampai besoknya dan besoknya dan besoknya si modem tetep nggak ketemu. Udah bongkar kamar, bongkar tempat mainan, meja kompi, rak baju dia, tas sekolah dia, tetep nggak ketemu.
Lenyap, tak berbekas.
Aku yakin Faiz nggak membawanya keluar rumah, soalnya pas pergi itu aku gandeng tangannya kosong. gak megang apapun. sampai seminggu itu modem nggak ada juga.
Kebayang kan ya, betapa seorang blogger (walaupun belum full time) dan OL seller seperti aku kehilangan modem. Mana belum BEP lagi.
Selama beberapa hari itu, kalau malam semuanya udah pada tidur aku diam diam masih mencari modem. Berharap benda itu tiba tiba ada di anak tangga lah, atau diselipan buku. Atau tiba tiba muncul di dalam tas leppi.
Berharap keajaiban.
Di saat aku mencari itulah,diam diam juga aku sudah mulai melow. Gini ya rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Entahlah, akhir akhir ini aku sering mikir yang enggak enggak. Eh yang iya iya. Sering berpikir tentang kehilangan dalam arti kematian.Kematian kan sesuatu yang pasti ya. Entah aku yang ditinggal. Entah aku yang meninggalkan. Makanya MP-ku ini juga kunamai "di sisa waktuku" / di sisa umurku. Cuma kapan persisnya itu yang ghaib. Tak seorangpun tahu.
Yah, gitu deh. Kehilangan modem aja kebayang bayang di mata.
Syukurrr banget , alhamdulillah, emang di rumahku nggak ada juara beres beres yang bisa menandingi Abi. Tepat seminggu, dari Sabtu ke Sabtu, sepulang aku pengajian yang sama, modem itu sudah tergeletak di atas meja kompi. Abi yang menemukan. Di mana ? Di tempat aku selama ini nyari nyari. Jadi memang si bibi Titi ini yang kurang teliti. Apapun ya alhamdulillah.
Nah pas aku posting tentang kehilangan itu, udah panjang dan lebar, eh, si inet langsung putus. Akupun jadi ilfill untuk menuliskannya kembali. Tapi aku memang harus menuliskan kembali.
Sekarang aku akan bicara tentang kehilangan lagi. Ini tentang kehilangan orang yang kita cintai di rumah kita. Pasti bakalan sering ya kebayang dia mondar mandir di rumah, dia duduk, dan bercengkrama dengan kita. Memang aku ini yang melow banget kali yah.
Orang sekedar nutup korden rumah karena suami pulang kemaleman aja udah membayangkan gimana kalau tiba tiba tugas menutup korden itu menjadi tugasku selamanya. Tes tes, air mata udah langsung netes.
Waktu Ibuku meninggal, adik bungsuku sampai berbulan bulan nggak mau potong rambut, karena yang terakhir mencukur rambutnya adalah Ibu. Dia juga nggak mau makan, karena setiap makan pasti bareng Ibu/dilayani Ibu. (Emang adikku ini manja banget sama Ibu)
Udah gitu tahun itu memang dia lagi nganggur, udah lulus SMA , gagal SMPTN dan lagi bimbel (doang) buat SMPTN berikutnya. Hampir tiap hari bareng Ibu yang sudah pensiun.
Sedangkan aku, ketika Ibu meninggal, aku udah bertahun tahun ninggalin rumah. Udah gitu, Bapak dan Ibuku juga udah pindah dari rumah tempat kami dibesarkan. Bisa dikatakan aku tidak/belum punya kenangan di rumah baru itu.
Tambah lagi, aku tidak bisa mengantarkan jenazah ibu ke pemakaman. Karena Ibu meninggal di Jawa Tengah, dan tahun itu aku masih di Kupang.Bukan berarti nggak cinta kalau aku nggak kebayang bayang Ibu.
Karena yang kurasakan saat ini adalah, Ibuku bagai tetap ada di rumah, entah sedang apa. Mungkin sedang memasak kluban (urap) kesukaanya, lantas makan dengan nasi dingin dan duduk di dingklik. Atau mungkin sedang menjahit, sedang berkebun, atau merajut. Mungkin pula sekedar duduk duduk di teras belakang sambil cari angin.
Aku tidak punya memori tentang prosesi meninggalnya Ibu.
Demikian juga Bapak. Ketika Bapakku meninggal, kami semua masih di Kupang. Sebenarnya sudah ada SK pindah. Tapi berangkatnya masih dua minggu lagi. Karena masih packing, membereskan ini itu. Mau langsung pulang kampung, kok kesannya lari dari tanggung jawab. Pekerjaan belum diserah terimakan. Mau pulang, ongkosnya mahal amat. Tidak mampu kami bolak balik Kupang Jawa Tengah sebulan dua kali dengan 3 balita. Orang pindahnya juga atas permintaan sendiri jadi nggak dapat uang jalan.
Akhirnya kamipun tidak dapat mengantarkan jenazah Bapak ke pemakaman.
Sama seperti Ibu, akupun tidak pernah merasa Bapak meninggal. Yang kebayang (di rumah lama) Bapakku sedang baca koran sampai tertidur dan kacamatanya ditangan. Atau bercelana pendek di pagi hari, kemudian menyeterika pakaiannya sendiri. Paling sering adalah Bapak berjalan mondar mandir di halaman sempit depan rumah yang penuh batu kali. Batu itu ditata Bapak sendiri. Kalau sekarang orang menanam kerikil di semen untuk semacam pijat refleksi gitu. Dan kapanpun Bapak melihat ada batu yang berubah dari posisinya, entah karena anak anak berlarian atau karena aku nyapunya grusa grusu maka Bapak akan membetulkan posisi batu itu.
Kalau aku nyapunya nggak bersih (susah kan nyapu area berbatu), Bapak akan mengambil bambu kecil yang runcing untuk menusuk satu demi satu daun yang masih tersisa. Ada daun belimbing, daun jambu biji,daun jambu air.
Yah. aku tidak pernah melihat Bapakku meninggal.
Maka ketika Ibu mertuaku (anak anak memanggil Eyang Putri) meninggal dan ternyata kami pun tidak bisa mengejar saat pemakaman (padahal kami udah di Bandung), maka akhirnya aku mulai belajar. Mungkin inilah bentuk kasih sayang Allah pada perantau macam kami ini. Abi delapan bersaudara tapi cuma dia yang di luar Lampung. Semua ada di Lampung. Inilah cara Allah menghadirkan orang tua yang kami cintai. Di mana, aku dan suami dan anak anakku tidak bisa sering sering hadir secara fisik di dekat mereka. Mereka selalu hidup dalam benak kami berupa memori.
Allah sambungkan kami kini dengan doa yang kami lantunkan dengan sepenuh kesadaran, bahwa Allah udah memanggil beliau beliau semua.Dan kami berusaha ikhlas menerimanya.
Tapi diam diam juga kami jadi melantunkan doa, semoga ketika Eyang Kakung nggak ada nanti, kami diberi kesempatan untuk menghadiri, mengurus jenazah, memandikan dan mengantar ke jenazah ke pemakaman . Karena itulah bentuk penghormatan kami yang terakhir kepada orang tua.
Dan Sabtu dini hari kemarin, saat itu tiba. Telepon dari Lampung membangunkan kami semua. Pukul satu Eyang sudah tiada meninggalkan kami semua. Eyang yang kami cinta, Eyang tempat kami pulang, Eyang yang selalu kami rindukan dan hanya bisa bertemu (hampir) saat lebaran saja,kini telah kembali pada Robbnya. Pada Pencipta dan Pemiliknya.
Ternyata Sejak hari Selasa malam Eyang yang relatif sehat sepulang dari RS, udah nggak mau makan. Maunya shalaaaaaattt terus.
Kalau ditanya jawabnya sedikit saja. Mungkin beliau sedang bercengkrama dengan Allah dalam dzikir dan munajat.
Allah mudahkan kami pulang segera ke lampung. Dini hari itu aku langsung cari rental mobil. Tapi sampai jam 3 belum dapat juga.
Trus papa mbak Eci telepon, kalau sampai jam 7 belum masuk kapal, berarti nggak akan ketemu Eyang. Abi sudah hampir khawatir nggak ketemu lagi.
Aku yakinkan "bisa". Kita akan cari pesawat. Minimal Abi duluan.
Di saat kepepet itulah aku baru ingat kalau aku punya teman yang punya biro perjalanan.
Aku telpon dia dan alhamdulillah... Pesan mendadak untuk minimal dua seat ternyata dapat 8 seat. Semua dimudahkan Allah.
Semua sudah takdir Allah. Akhirnya kami dapat mengantarkan Eyang ke tempat peristirahatan terakhir.
Terbayang wajahnya yang sejuk dan damai. Bagaikan tidur saja. Semoga sakit Eyang selama beberapa waktu dan setahun terakhir sampai 4 kali dirawat, menjadi kifarat segala dosa.
Ya Allah, ampunilah dosa orang tua kami semua, sayangilah mereka di sana, dekaplah dengan kasihMu. lapangkanlah alam kuburnya, terangilah dengan cahayaMu.
Amiin
Ceritanya pas Abi ke Lampung kemaren, modemku dimainin Faiz. Sore itu padahal aku dan Faiz abis main lepi berdua. Nah pas aku shalat, aku dengar Faiz matiin leppi dan membereskan barang barangnya termasuk si modem itu. Aku lihat dia pegang pegang.Nah setelah shalat, aku pergi pengajian berdua Faiz. Mbak dan Fikri masih pada sekolah.
Malamnya pas aku perlu modem, si Faiz udah tidur. Ditanyain ya nggak mungkinlah dia ingat. Kucari cari ngider seluruh penjuru rumah yang kira kira bisa jadi tempat nggeletakin modem, eh gak ketemu juga. Udah dibantu Mbak dan Fikri, tetep nggak ketemu.
Besok paginya pas Faiz bangun, kutanyain dimana modemnya. Dia langsung menuju rak buku. Dan, enggak ada. Nggak mungkin disimpan disitu, karena nggak ada orang yang mungkin mindahin.
Sampai besoknya dan besoknya dan besoknya si modem tetep nggak ketemu. Udah bongkar kamar, bongkar tempat mainan, meja kompi, rak baju dia, tas sekolah dia, tetep nggak ketemu.
Lenyap, tak berbekas.
Aku yakin Faiz nggak membawanya keluar rumah, soalnya pas pergi itu aku gandeng tangannya kosong. gak megang apapun. sampai seminggu itu modem nggak ada juga.
Kebayang kan ya, betapa seorang blogger (walaupun belum full time) dan OL seller seperti aku kehilangan modem. Mana belum BEP lagi.
Selama beberapa hari itu, kalau malam semuanya udah pada tidur aku diam diam masih mencari modem. Berharap benda itu tiba tiba ada di anak tangga lah, atau diselipan buku. Atau tiba tiba muncul di dalam tas leppi.
Berharap keajaiban.
Di saat aku mencari itulah,diam diam juga aku sudah mulai melow. Gini ya rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Entahlah, akhir akhir ini aku sering mikir yang enggak enggak. Eh yang iya iya. Sering berpikir tentang kehilangan dalam arti kematian.Kematian kan sesuatu yang pasti ya. Entah aku yang ditinggal. Entah aku yang meninggalkan. Makanya MP-ku ini juga kunamai "di sisa waktuku" / di sisa umurku. Cuma kapan persisnya itu yang ghaib. Tak seorangpun tahu.
Yah, gitu deh. Kehilangan modem aja kebayang bayang di mata.
Syukurrr banget , alhamdulillah, emang di rumahku nggak ada juara beres beres yang bisa menandingi Abi. Tepat seminggu, dari Sabtu ke Sabtu, sepulang aku pengajian yang sama, modem itu sudah tergeletak di atas meja kompi. Abi yang menemukan. Di mana ? Di tempat aku selama ini nyari nyari. Jadi memang si bibi Titi ini yang kurang teliti. Apapun ya alhamdulillah.
Nah pas aku posting tentang kehilangan itu, udah panjang dan lebar, eh, si inet langsung putus. Akupun jadi ilfill untuk menuliskannya kembali. Tapi aku memang harus menuliskan kembali.
Sekarang aku akan bicara tentang kehilangan lagi. Ini tentang kehilangan orang yang kita cintai di rumah kita. Pasti bakalan sering ya kebayang dia mondar mandir di rumah, dia duduk, dan bercengkrama dengan kita. Memang aku ini yang melow banget kali yah.
Orang sekedar nutup korden rumah karena suami pulang kemaleman aja udah membayangkan gimana kalau tiba tiba tugas menutup korden itu menjadi tugasku selamanya. Tes tes, air mata udah langsung netes.
Waktu Ibuku meninggal, adik bungsuku sampai berbulan bulan nggak mau potong rambut, karena yang terakhir mencukur rambutnya adalah Ibu. Dia juga nggak mau makan, karena setiap makan pasti bareng Ibu/dilayani Ibu. (Emang adikku ini manja banget sama Ibu)
Udah gitu tahun itu memang dia lagi nganggur, udah lulus SMA , gagal SMPTN dan lagi bimbel (doang) buat SMPTN berikutnya. Hampir tiap hari bareng Ibu yang sudah pensiun.
Sedangkan aku, ketika Ibu meninggal, aku udah bertahun tahun ninggalin rumah. Udah gitu, Bapak dan Ibuku juga udah pindah dari rumah tempat kami dibesarkan. Bisa dikatakan aku tidak/belum punya kenangan di rumah baru itu.
Tambah lagi, aku tidak bisa mengantarkan jenazah ibu ke pemakaman. Karena Ibu meninggal di Jawa Tengah, dan tahun itu aku masih di Kupang.Bukan berarti nggak cinta kalau aku nggak kebayang bayang Ibu.
Karena yang kurasakan saat ini adalah, Ibuku bagai tetap ada di rumah, entah sedang apa. Mungkin sedang memasak kluban (urap) kesukaanya, lantas makan dengan nasi dingin dan duduk di dingklik. Atau mungkin sedang menjahit, sedang berkebun, atau merajut. Mungkin pula sekedar duduk duduk di teras belakang sambil cari angin.
Aku tidak punya memori tentang prosesi meninggalnya Ibu.
Demikian juga Bapak. Ketika Bapakku meninggal, kami semua masih di Kupang. Sebenarnya sudah ada SK pindah. Tapi berangkatnya masih dua minggu lagi. Karena masih packing, membereskan ini itu. Mau langsung pulang kampung, kok kesannya lari dari tanggung jawab. Pekerjaan belum diserah terimakan. Mau pulang, ongkosnya mahal amat. Tidak mampu kami bolak balik Kupang Jawa Tengah sebulan dua kali dengan 3 balita. Orang pindahnya juga atas permintaan sendiri jadi nggak dapat uang jalan.
Akhirnya kamipun tidak dapat mengantarkan jenazah Bapak ke pemakaman.
Sama seperti Ibu, akupun tidak pernah merasa Bapak meninggal. Yang kebayang (di rumah lama) Bapakku sedang baca koran sampai tertidur dan kacamatanya ditangan. Atau bercelana pendek di pagi hari, kemudian menyeterika pakaiannya sendiri. Paling sering adalah Bapak berjalan mondar mandir di halaman sempit depan rumah yang penuh batu kali. Batu itu ditata Bapak sendiri. Kalau sekarang orang menanam kerikil di semen untuk semacam pijat refleksi gitu. Dan kapanpun Bapak melihat ada batu yang berubah dari posisinya, entah karena anak anak berlarian atau karena aku nyapunya grusa grusu maka Bapak akan membetulkan posisi batu itu.
Kalau aku nyapunya nggak bersih (susah kan nyapu area berbatu), Bapak akan mengambil bambu kecil yang runcing untuk menusuk satu demi satu daun yang masih tersisa. Ada daun belimbing, daun jambu biji,daun jambu air.
Yah. aku tidak pernah melihat Bapakku meninggal.
Maka ketika Ibu mertuaku (anak anak memanggil Eyang Putri) meninggal dan ternyata kami pun tidak bisa mengejar saat pemakaman (padahal kami udah di Bandung), maka akhirnya aku mulai belajar. Mungkin inilah bentuk kasih sayang Allah pada perantau macam kami ini. Abi delapan bersaudara tapi cuma dia yang di luar Lampung. Semua ada di Lampung. Inilah cara Allah menghadirkan orang tua yang kami cintai. Di mana, aku dan suami dan anak anakku tidak bisa sering sering hadir secara fisik di dekat mereka. Mereka selalu hidup dalam benak kami berupa memori.
Allah sambungkan kami kini dengan doa yang kami lantunkan dengan sepenuh kesadaran, bahwa Allah udah memanggil beliau beliau semua.Dan kami berusaha ikhlas menerimanya.
Tapi diam diam juga kami jadi melantunkan doa, semoga ketika Eyang Kakung nggak ada nanti, kami diberi kesempatan untuk menghadiri, mengurus jenazah, memandikan dan mengantar ke jenazah ke pemakaman . Karena itulah bentuk penghormatan kami yang terakhir kepada orang tua.
Dan Sabtu dini hari kemarin, saat itu tiba. Telepon dari Lampung membangunkan kami semua. Pukul satu Eyang sudah tiada meninggalkan kami semua. Eyang yang kami cinta, Eyang tempat kami pulang, Eyang yang selalu kami rindukan dan hanya bisa bertemu (hampir) saat lebaran saja,kini telah kembali pada Robbnya. Pada Pencipta dan Pemiliknya.
Ternyata Sejak hari Selasa malam Eyang yang relatif sehat sepulang dari RS, udah nggak mau makan. Maunya shalaaaaaattt terus.
Kalau ditanya jawabnya sedikit saja. Mungkin beliau sedang bercengkrama dengan Allah dalam dzikir dan munajat.
Allah mudahkan kami pulang segera ke lampung. Dini hari itu aku langsung cari rental mobil. Tapi sampai jam 3 belum dapat juga.
Trus papa mbak Eci telepon, kalau sampai jam 7 belum masuk kapal, berarti nggak akan ketemu Eyang. Abi sudah hampir khawatir nggak ketemu lagi.
Aku yakinkan "bisa". Kita akan cari pesawat. Minimal Abi duluan.
Di saat kepepet itulah aku baru ingat kalau aku punya teman yang punya biro perjalanan.
Aku telpon dia dan alhamdulillah... Pesan mendadak untuk minimal dua seat ternyata dapat 8 seat. Semua dimudahkan Allah.
Semua sudah takdir Allah. Akhirnya kami dapat mengantarkan Eyang ke tempat peristirahatan terakhir.
Terbayang wajahnya yang sejuk dan damai. Bagaikan tidur saja. Semoga sakit Eyang selama beberapa waktu dan setahun terakhir sampai 4 kali dirawat, menjadi kifarat segala dosa.
Ya Allah, ampunilah dosa orang tua kami semua, sayangilah mereka di sana, dekaplah dengan kasihMu. lapangkanlah alam kuburnya, terangilah dengan cahayaMu.
Amiin
Selasa, 17 April 2012
Abi AKu Datanggg
Rasa rasanya udah nggak tega dengar F5 selalu berceloteh lila lila
teuing kemaren. Aku sih nggak cerita ke Abi. Nggak tega lah.. Dia disana
aja tiap hari jagain Eyang dan nginep di Rumah Sakit.
Rencana awal mau pulang Sabtu sore supaya Ahad pagi udah sampai di Bandung. Karena melihat keadaan Eyang yang belum ada kemajuan yang berarti,akhirnya pulangnya dipepetin ke Ahad sore.
Wah ...tambahan 1x24 jam juga jadi berasa lama.
Untungnya mak Sondang hari minggu ngajakin ikut cooking class yang sungguh sungguh mengasyikkan. Jadi nggak gitu kerasa.
Singkat kata, alhamdulillah semua berjalan lancar
Jam 20.13 F3 kirim SMS "Ummi bis-nya baru jalan"
aku balas titi deje (kok nyebut namaku sendiri yah)
Terus jam 01.53 dia sms lagi "Udah sampai pelabuhan Merak"
Alhamdulillah. Ku balas, semoga perjalanan lancar , sampai Bandung dengan selamat"
Besoknya pagi pagi sekali eh, sekitar jam 6 an, aku dan Faiz duduk duduk di teras.
Dan ketika taksi itu berhenti di depan pagar, F4 berteriak
"Abi aku datanggg...."
Dan sepagian itu semua melepas rindu
Aih aih.. baru juga seminggu yah..
Rencana awal mau pulang Sabtu sore supaya Ahad pagi udah sampai di Bandung. Karena melihat keadaan Eyang yang belum ada kemajuan yang berarti,akhirnya pulangnya dipepetin ke Ahad sore.
Wah ...tambahan 1x24 jam juga jadi berasa lama.
Untungnya mak Sondang hari minggu ngajakin ikut cooking class yang sungguh sungguh mengasyikkan. Jadi nggak gitu kerasa.
Singkat kata, alhamdulillah semua berjalan lancar
Jam 20.13 F3 kirim SMS "Ummi bis-nya baru jalan"
aku balas titi deje (kok nyebut namaku sendiri yah)
Terus jam 01.53 dia sms lagi "Udah sampai pelabuhan Merak"
Alhamdulillah. Ku balas, semoga perjalanan lancar , sampai Bandung dengan selamat"
Besoknya pagi pagi sekali eh, sekitar jam 6 an, aku dan Faiz duduk duduk di teras.
Dan ketika taksi itu berhenti di depan pagar, F4 berteriak
"Abi aku datanggg...."
Dan sepagian itu semua melepas rindu
Aih aih.. baru juga seminggu yah..
Jumat, 13 April 2012
Abi Aku Mana Sih, Meuni Lila Lila Teuing...
Sejak selasa malam yayang Cinta mudik ke Lampung bertiga F3 dan F4.
Eyang sakit, agak parah dari biasanya, sehingga para anak yang merantau
dipanggil pulang ke rumah.
Ini pertama kali Faiz ditinggal Abi dan beberapa kakaknya. Terus terang, rumah memang terasa sepi. Separuh biang keributan berpindah tempat.
Baru juga Abi berangkat naik taksi menuju pool Damri di stasiun, dia sudah menangis nangis.
Untuk menghiburnya, aku nekad ajak Faiz ke rumah tante Nur di Girimekar sambil nganterin carrot cake buat mas Lintang. (di jalan baru mikir, gimana kalau ketemu si tomcat udah mau gelap gini...). Untunglah Faiz kubonceng di belakang.
Sepulang dari sana dan shalat maghrib, aku ajak Faiz ke minimarket dekat rumah untuk belanja kebutuhan rumah yang dah pada habis.
Eh si Faiz dah mulai komen komen "abi aku mana sih.. meuni lila lila teuing..." (Abi aku kemana, kok lama amat)
Dan sampai hari ini, hari ke 3 Abi di Lampung, lila lila teuing itulah yang dia ucapkan di saat pagi hari bangun tidur, di saat sore hari aku pulang kantor.
Aduh Nak, berdoa ya..semoga Eyang lekas sehat, jadi Abimu lekas pulang ke Bandung.
Ini pertama kali Faiz ditinggal Abi dan beberapa kakaknya. Terus terang, rumah memang terasa sepi. Separuh biang keributan berpindah tempat.
Baru juga Abi berangkat naik taksi menuju pool Damri di stasiun, dia sudah menangis nangis.
Untuk menghiburnya, aku nekad ajak Faiz ke rumah tante Nur di Girimekar sambil nganterin carrot cake buat mas Lintang. (di jalan baru mikir, gimana kalau ketemu si tomcat udah mau gelap gini...). Untunglah Faiz kubonceng di belakang.
Sepulang dari sana dan shalat maghrib, aku ajak Faiz ke minimarket dekat rumah untuk belanja kebutuhan rumah yang dah pada habis.
Eh si Faiz dah mulai komen komen "abi aku mana sih.. meuni lila lila teuing..." (Abi aku kemana, kok lama amat)
Dan sampai hari ini, hari ke 3 Abi di Lampung, lila lila teuing itulah yang dia ucapkan di saat pagi hari bangun tidur, di saat sore hari aku pulang kantor.
Aduh Nak, berdoa ya..semoga Eyang lekas sehat, jadi Abimu lekas pulang ke Bandung.
| Dekatnya.. |
Langganan:
Postingan (Atom)