Beberapa hari yang lalu aku dah ngetik postingan tentang kehilangan.
Mungkin bukan kehilangan hal yang besar. Tapi kok rasanya .. tetep
gimana ya..
Ceritanya pas Abi ke Lampung kemaren, modemku dimainin
Faiz. Sore itu padahal aku dan Faiz abis main lepi berdua. Nah pas aku
shalat, aku dengar Faiz matiin leppi dan membereskan barang barangnya
termasuk si modem itu. Aku lihat dia pegang pegang.Nah setelah shalat,
aku pergi pengajian berdua Faiz. Mbak dan Fikri masih pada sekolah.
Malamnya
pas aku perlu modem, si Faiz udah tidur. Ditanyain ya nggak mungkinlah
dia ingat. Kucari cari ngider seluruh penjuru rumah yang kira kira bisa
jadi tempat nggeletakin modem, eh gak ketemu juga. Udah dibantu Mbak
dan Fikri, tetep nggak ketemu.
Besok paginya pas Faiz bangun,
kutanyain dimana modemnya. Dia langsung menuju rak buku. Dan, enggak
ada. Nggak mungkin disimpan disitu, karena nggak ada orang yang mungkin
mindahin.
Sampai besoknya dan besoknya dan besoknya si modem tetep
nggak ketemu. Udah bongkar kamar, bongkar tempat mainan, meja kompi, rak
baju dia, tas sekolah dia, tetep nggak ketemu.
Lenyap, tak berbekas.
Aku
yakin Faiz nggak membawanya keluar rumah, soalnya pas pergi itu aku
gandeng tangannya kosong. gak megang apapun. sampai seminggu itu modem
nggak ada juga.
Kebayang kan ya, betapa seorang blogger (walaupun
belum full time) dan OL seller seperti aku kehilangan modem. Mana
belum BEP lagi.
Selama beberapa hari itu, kalau malam semuanya
udah pada tidur aku diam diam masih mencari modem. Berharap benda itu
tiba tiba ada di anak tangga lah, atau diselipan buku. Atau tiba tiba
muncul di dalam tas leppi.
Berharap keajaiban.
Di saat aku mencari itulah,diam diam juga aku sudah mulai melow. Gini ya rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Entahlah,
akhir akhir ini aku sering mikir yang enggak enggak. Eh yang iya iya.
Sering berpikir tentang kehilangan dalam arti kematian.Kematian kan
sesuatu yang pasti ya. Entah aku yang ditinggal. Entah aku yang
meninggalkan. Makanya MP-ku ini juga kunamai "di sisa waktuku" / di sisa
umurku. Cuma kapan persisnya itu yang ghaib. Tak seorangpun tahu.
Yah, gitu deh. Kehilangan modem aja kebayang bayang di mata.
Syukurrr
banget , alhamdulillah, emang di rumahku nggak ada juara beres beres
yang bisa menandingi Abi. Tepat seminggu, dari Sabtu ke Sabtu, sepulang
aku pengajian yang sama, modem itu sudah tergeletak di atas meja kompi.
Abi yang menemukan. Di mana ? Di tempat aku selama ini nyari nyari. Jadi
memang si bibi Titi ini yang kurang teliti. Apapun ya alhamdulillah.
Nah
pas aku posting tentang kehilangan itu, udah panjang dan lebar, eh, si
inet langsung putus. Akupun jadi ilfill untuk menuliskannya kembali.
Tapi aku memang harus menuliskan kembali.
Sekarang aku akan
bicara tentang kehilangan lagi. Ini tentang kehilangan orang yang kita
cintai di rumah kita. Pasti bakalan sering ya kebayang dia mondar mandir
di rumah, dia duduk, dan bercengkrama dengan kita. Memang aku ini yang
melow banget kali yah.
Orang sekedar nutup korden rumah karena suami
pulang kemaleman aja udah membayangkan gimana kalau tiba tiba tugas
menutup korden itu menjadi tugasku selamanya. Tes tes, air mata udah
langsung netes.
Waktu Ibuku meninggal, adik bungsuku sampai
berbulan bulan nggak mau potong rambut, karena yang terakhir mencukur
rambutnya adalah Ibu. Dia juga nggak mau makan, karena setiap makan
pasti bareng Ibu/dilayani Ibu. (Emang adikku ini manja banget sama Ibu)
Udah
gitu tahun itu memang dia lagi nganggur, udah lulus SMA , gagal SMPTN
dan lagi bimbel (doang) buat SMPTN berikutnya. Hampir tiap hari bareng
Ibu yang sudah pensiun.
Sedangkan aku, ketika Ibu meninggal, aku udah
bertahun tahun ninggalin rumah. Udah gitu, Bapak dan Ibuku juga udah
pindah dari rumah tempat kami dibesarkan. Bisa dikatakan aku tidak/belum
punya kenangan di rumah baru itu.
Tambah lagi, aku tidak bisa
mengantarkan jenazah ibu ke pemakaman. Karena Ibu meninggal di Jawa
Tengah, dan tahun itu aku masih di Kupang.Bukan berarti nggak cinta
kalau aku nggak kebayang bayang Ibu.
Karena yang kurasakan saat ini
adalah, Ibuku bagai tetap ada di rumah, entah sedang apa. Mungkin sedang
memasak kluban (urap) kesukaanya, lantas makan dengan nasi dingin dan
duduk di dingklik. Atau mungkin sedang menjahit, sedang berkebun, atau
merajut. Mungkin pula sekedar duduk duduk di teras belakang sambil cari
angin.
Aku tidak punya memori tentang prosesi meninggalnya Ibu.
Demikian
juga Bapak. Ketika Bapakku meninggal, kami semua masih di Kupang.
Sebenarnya sudah ada SK pindah. Tapi berangkatnya masih dua minggu lagi.
Karena masih packing, membereskan ini itu. Mau langsung pulang kampung,
kok kesannya lari dari tanggung jawab. Pekerjaan belum diserah
terimakan. Mau pulang, ongkosnya mahal amat. Tidak mampu kami bolak
balik Kupang Jawa Tengah sebulan dua kali dengan 3 balita. Orang
pindahnya juga atas permintaan sendiri jadi nggak dapat uang jalan.
Akhirnya kamipun tidak dapat mengantarkan jenazah Bapak ke pemakaman.
Sama
seperti Ibu, akupun tidak pernah merasa Bapak meninggal. Yang kebayang
(di rumah lama) Bapakku sedang baca koran sampai tertidur dan
kacamatanya ditangan. Atau bercelana pendek di pagi hari, kemudian
menyeterika pakaiannya sendiri. Paling sering adalah Bapak berjalan
mondar mandir di halaman sempit depan rumah yang penuh batu kali. Batu
itu ditata Bapak sendiri. Kalau sekarang orang menanam kerikil di semen
untuk semacam pijat refleksi gitu. Dan kapanpun Bapak melihat ada batu
yang berubah dari posisinya, entah karena anak anak berlarian atau
karena aku nyapunya grusa grusu maka Bapak akan membetulkan posisi batu
itu.
Kalau aku nyapunya nggak bersih (susah kan nyapu area berbatu),
Bapak akan mengambil bambu kecil yang runcing untuk menusuk satu demi
satu daun yang masih tersisa. Ada daun belimbing, daun jambu biji,daun
jambu air.
Yah. aku tidak pernah melihat Bapakku meninggal.
Maka
ketika Ibu mertuaku (anak anak memanggil Eyang Putri) meninggal dan
ternyata kami pun tidak bisa mengejar saat pemakaman (padahal kami udah
di Bandung), maka akhirnya aku mulai belajar. Mungkin inilah bentuk
kasih sayang Allah pada perantau macam kami ini. Abi delapan bersaudara
tapi cuma dia yang di luar Lampung. Semua ada di Lampung. Inilah cara
Allah menghadirkan orang tua yang kami cintai. Di mana, aku dan suami
dan anak anakku tidak bisa sering sering hadir secara fisik di dekat
mereka. Mereka selalu hidup dalam benak kami berupa memori.
Allah
sambungkan kami kini dengan doa yang kami lantunkan dengan sepenuh
kesadaran, bahwa Allah udah memanggil beliau beliau semua.Dan kami
berusaha ikhlas menerimanya.
Tapi diam diam juga kami jadi
melantunkan doa, semoga ketika Eyang Kakung nggak ada nanti, kami diberi
kesempatan untuk menghadiri, mengurus jenazah, memandikan dan mengantar
ke jenazah ke pemakaman . Karena itulah bentuk penghormatan kami yang
terakhir kepada orang tua.
Dan Sabtu dini hari kemarin, saat itu
tiba. Telepon dari Lampung membangunkan kami semua. Pukul satu Eyang
sudah tiada meninggalkan kami semua. Eyang yang kami cinta, Eyang tempat
kami pulang, Eyang yang selalu kami rindukan dan hanya bisa bertemu
(hampir) saat lebaran saja,kini telah kembali pada Robbnya. Pada
Pencipta dan Pemiliknya.
Ternyata Sejak hari Selasa malam Eyang yang relatif sehat sepulang dari RS, udah nggak mau makan. Maunya shalaaaaaattt terus.
Kalau ditanya jawabnya sedikit saja. Mungkin beliau sedang bercengkrama dengan Allah dalam dzikir dan munajat.
Allah mudahkan kami pulang segera ke lampung. Dini hari itu aku langsung cari rental mobil. Tapi sampai jam 3 belum dapat juga.
Trus
papa mbak Eci telepon, kalau sampai jam 7 belum masuk kapal, berarti
nggak akan ketemu Eyang. Abi sudah hampir khawatir nggak ketemu lagi.
Aku yakinkan "bisa". Kita akan cari pesawat. Minimal Abi duluan.
Di saat kepepet itulah aku baru ingat kalau aku punya teman yang punya biro perjalanan.
Aku telpon dia dan alhamdulillah... Pesan mendadak untuk minimal dua seat ternyata dapat 8 seat. Semua dimudahkan Allah.
Semua sudah takdir Allah. Akhirnya kami dapat mengantarkan Eyang ke tempat peristirahatan terakhir.
Terbayang
wajahnya yang sejuk dan damai. Bagaikan tidur saja. Semoga sakit Eyang
selama beberapa waktu dan setahun terakhir sampai 4 kali dirawat,
menjadi kifarat segala dosa.
Ya Allah, ampunilah dosa orang tua
kami semua, sayangilah mereka di sana, dekaplah dengan kasihMu.
lapangkanlah alam kuburnya, terangilah dengan cahayaMu.
Amiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.