Kasus 1
Aku punya teman
seumuran adik bungsuku, laki laki, awalnya berteman dekat dengan
suamiku. Terus karena sering ke rumah, kami semua jadi dekat. Abi, aku
dan anak anak. Dia menurutku cukup rame. Cukup akrab dengan anak anak
juga. Saking dekatnya, kadang dia curhat masalah pribadi.
Setelah si teman ini menikah, aku putuskan hubungan curhat ini. Kataku : tidak terima panggilan dan pengaduan. Asli semua curhat dia aku cuekin. Toh udah punya istri ini. Pikirku dia bisa cerita ke istrinya.
Istrinya, seorang perempuan yang rame juga. Mudah akrab. Dan segera juga jadi akrab sama aku dan suamiku.
Akhirnya tempat mengadu ini digantikan oleh si istri.
Kupikir tadinya dua orang ramai itu akan segera akrab sebagai suami istri dan teman. Ternyata tidak semudah itu, saudara saudara !
Si
istri selalu mengadu suaminya cuek. Si suami kadang keceplosan ngaduin
istri (yah klo udah sms atau kirim inbox aku kan gak bisa nolak)
istrinya nggak pengertian.
Kasus 2
Aku, orangnya ramai. Mudah (merasa) akrab dengan seseorang. Meski tidak mudah curhat. Aku mudah merasa dekat dengan siapapun.
Suamiku, orangnya cool, cenderung pendiam, meski di lingkungan tertentu yang dia nyaman dia bisa jadi ramai juga.
Bagaimana komunikasi diantara kami ? Akrabkah ? Hangatkah ?
Setelah
15 tahun menikah, aku punya pandangan sendiri tentang komunikasi ini.
Mungkin nggak ada di teori pakar komunikasi manapun.
Menurutku, pola komunikasi ini akan tumbuh alami seperti yang dibiasakan.
Nah dibiasakan ini, oleh siapa ? ya oleh kita laah.
Kalau
kita mudah patah semangat, mudah patah arang ketika membangun
komunikasi, akhirnya komunikasi itu akan dingin. Sudah jamak orang tahu,
perempuan itu umumnya sangat boros dalam berkata kata. Sebaliknya, laki
laki itu cenderung irit bahkan ada yang pelit berkata kata.
Jadi
tidak selalu hahahihi kita juga dijawab hahahihi sama suami, palingan
dijawab hi aja atau ha aja. Kalau kita kemudian berhenti di situ, aduh,
kasihan banget deh kita, dan anak anak kita. Kadang para suami itu tidak
memahami detail (contoh, pulang bepergian mau langsung makan, padahal
kita para istri pulang bepergian masih harus ngurusin anak dulu, ngecek
dulu makanan masih ada nggak, membereskan barang bawaan dsb dsb).
Lah
kalau gara gara jawaban super irit itu terus masalah anak nggak
diceritain, masalah dapur nggak diceritain, masalah masalah pribadi kita
yang misalnya nggak sreg sama suami nggak disampaikan, lah dari mana
para suami itu bakalan tau ? Yang rugi siapa ? semuanya. Kita
rugi menanggung sendiri semua masalah. Anak rugi aspirasi tidak
tersampaikan. Suami rugi jadi kurang perhatian sama anak dan keluarga.
Aku
banyak belajar dari anak anakku. Kelima anakku punya tipe komunikasi
yang berbeda beda dengan Abinya. Ternyata hasilnya berbeda. Yang lain
mah cenderung diem dan menurut apa yang dikatakan Abinya. Atau apa yang
disikapi Abinya.
Tetapi setelah F5 lahir, dia kok lain yah..
Kalau dimarahin Abi, sebentar kemudian dia mendekat. Menggoda.
Ternyata .. setelah berkali kali, setelah sekian lama berulang... si Abi luluh juga.
Jadi si Abi marahnya mudah cair kalau menghadapi Faiz. Aku menyebutnya komunikasi model Faiz ini sebagai komunikasi penuh percaya diri. Nggak tau kalau lagi diambekin, nggak tau kalau lagi dicuekin. (Mungkin karena memang masih polos)
Nah
kalau kita, sudah dewasa, pakailah kata pura pura. Pura pura nggak tahu
kalau ada yang ngambek. Pura pura nggak tahu kalau lagi dijutekin.
Maafkan kalau dia yang salah. Minta maaflah kalau ktia yang salah. Kalau
kita yang jutek, rugi sendiri.
Kalau kita mudah cair, aku yakin, lingkungan kita juga akan menyesuaikan.
Kalau
mengharap kata kata berbunga bunga, indah indah, aih, mending ke laut
aja deh. Sedikit sekali suami yang bertipe seperti itu kali....
Bahagialah mereka yang berjodoh. Tapi kalau suami kita lempeng, apakah kita jadi tidak bahagia ?
Jangan
dong. Kita harus bahagia menerima suami kita. Apapun keadaannya ketika
menikah sama kita. Yakinlah, suami istri itu akan saling mempengaruhi.
Saling mewarnai dan diwarnai. Saling menggenapkan. Kalau suami ada
kekurangan, kita juga ada kekurangan. Banyak, bahkan.
Masa' sih.. semua sisi dari suami kita jelek. Nggak kan ?
Masa sih, semua sisi kita baik ? Nggak mungkin laah...
Bersabarlah. Bersabarlah. Ikhlaskan ... Ikhlaskan..
Apalagi
perempuan dikasih kesabaran yang panjang. Untuk hamil, untuk menanggung
beban kehamilan itu, untuk melahirkan dan menyusui anaknya, untuk
mendidik mereka. Pastilah, Allah juga kasih kesabaran untuk menghadapi
suaminya. hehehe ya nggak ya nggak ?
Aih sudahlah. Harusnya
temanku itu baca ini. Tapi sudah kok. Semua yang kutulis disini sudah ku
sampaikan pada mereka. Semoga waktu akan merubah keadaan mereka. Dan
ALlah curahkan kesabaran buat mereka menjalaninya. Dan kita juga diberi
kesabaran dan petunjuk dalam menjalani rumah tangga ini. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.