Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2024

Mempersiapkan Makan-makan bisa Sambil Rebahan?

Duapuluh atau sepuluh tahun lalu, ketika usiaku masih kepala tiga dan empat, sama sekali tidak terbayangkan olehku kalau mempersiapkan acara makan-makan ternyata bisa dilakukan sambil rebahan. Teringat ketika Abi mengabarkan kalau akan ada teman Abi yang mau pada rapat di rumah sekitar sepuluh orang, aku paniknya minta ampun. 

Yang pertama kulakukan ya mempersiapkan wadah hidangan, terus dilanjutkan dengan mengumpulkan piring dan gelas. Aku cari yang sama bentuknya atau minimal sewarna, setelah itu baru menentukan ini aku pesan di warung mana ya sayuran dan lauk pauknya.

Silakan dibayangkan sendiri. Duapuluh tahun lalu bearti aku ada 3 balita di rumah hehe, kalau 10 tahun lalu aku ada lima anak di rumah. Paling besar baru masuk SMA dan bungsuku masih SD.

Dan kini tahun 2024, ketika semua anak sudah beranjak dewasa, yang bungsu juga sudah memasuki usia 16 tahun, justru aku bisa melakukan persiapan makan-makan tanpa tekanan apapun.

Jadi ceritanya H-1 si F5 kembali ke pondok, Abi meminta semua orang kumpul di rumah. Nggak ngapa-ngapain sih, duduk-duduk aja santuy. Ngobrol sana sini. Abi juga melarangku masak untuk makan siang. Jajan aja katanya. ya udah alhamdulillah. Karena yang mau nraktir Abi ya kita nurut aja pilihan restonya. Ternyata Abi milih Solaria. 

Karena hari itu adalah hari mager sekeluarga, makan siang bareng menu Solaria ini tidak dilakukan di restonya/dine in, melainkan pesan makanan secara daring.Baiklah.. dengan senang hati.

Telepon genggam Abi pun beredar menyambangi jiwa-jiwa yang sedang rebahan. Masing-masing mengklik menu yang dipilih di aplikasi langsung. Kata Abi bebas mau pilih menu mana aja. Eh ternyata anak-anak juga nggak aji mumpung lho. Mereka memilih menu yang memang bener-bener diinginkan. Ketika ditawari menu yang lebih mahal mereka juga tetap keukeuh dengan pilihan pertamanya.

Jajanan Solaria

Satu hal yang aku harus banyak belajar ke Abi adalah diam-diam empatinya itu lho. Ketika anak-anak sedang sibuk memilih menu, Abi berpesan jangan lupa pilihin satu untuk driver. Katanya "Abi nggak tega membayangkan driver nungguin di resto, terus mencium aroma masakan dan dia tidak dapat menikmatinya. Yah.. bener juga sih. Kemudian anak-anak menimpali, katanya ada beberapa resto yang menawarkan menu untuk driver di saat kita memesan makanan melalui aplikasi tsb.

Walhasil hari itu, kami sekeluarga sukses makan-makan sesuai selera masing-masing. Akupun merdeka meski menu aneka rupa, aku tak perlu mengerjakan apa-apa. Cukup berterima kasih dan menghabiskan makanan dengan bahagia.

Minggu, 31 Maret 2024

Kapan Terakhir Mudik?



Kapan terakhir mudik? Pernah mudik? Belum pernah mudik?

Pertanyaan seputar mudik hanya cocok ditanyakan kepada para perantau. Kenapa? Karena istilah mudik itu identik dengan pulang kampung. Aku selalu beranggapan, mudik itu dari kata menuju udik (kampung). Eh ternyata ada yang bilang kalau mudik itu dari bahasa Jawa ngoko yakni mulih dhilik (pulang sebenar) dan mulih dhisik (pulang dulu). Pulang ke mana? Tentunya ke daerah asal. Di mana ada orang tua dan keluarga besar tinggal. Jadi sekalian antara ketemu dengan orang tua dan dengan sanak saudara.

Kini, seiring perkembangan trend di masyarakat, istilah mudik sudah agak terwarnai hal lain. Yaitu adanya kondisi bahwa mudik menjadi ajang flexing ataupun pamer keberhasilan selama di perantauan. Ya kalau itu bener sih, sah sah aja. Maksudku .. yang bersangkutan bener-bener sukses. Bisa beli kendaraan, bisa ngumpulin harta kekayaan sehingga bisa dibawa ke kampung halaman. Kalau nggak berhasil ya nggak bakalan bisa pulang kampung dengan membawa oleh oleh atau pun hampers untuk orang kesayangan.

Baca juga : Mempersiapkan Hampers

Yang nggak bener itu, kalau semua pencapaian dia hanya fake. Mobil hanya sewaan. Oleh-oleh dari duit hasil pinjeman. Jadi memaksakan diri biar terlihat sukses dan mapan. Maka setelah lebaran, pulang dari mudik, bukannya seneng ketemu sanak saudara  malah pusing ngembaliin duit gimana caranya. 

Kenapa mudik dilakukan di hari raya?  karena hari raya adalah momen berkumpulnya  keluarga bahkan keluarga besar. Mudik itu biasanya ke kampung orang tua, atau tempat di mana dulu kita dibesarkan. Mudik juga menjadi sarana silaturahim setelah sekian lama berpisah.  Selain itu, saat ini juga pemerintah menyediakan cuti yang cukup panjang untuk hari raya. Jadi hitung-hitung liburan ya.. dengan tujuan kampung halaman.

Keluargaku sendiri, sudah lama tidak pulang kampung atau mudik ini. Sejak Eyang Kakung meninggal, Abi udah wanti-wanti ke anak-anak bahwa home base kita adalah Bandung. Maka kemanapun kelak kalian pergi, mudiknya juga ke Bandung. Bukan ke Bandar Lampung atau ke Jawa Tengah.

Maka sejak beberapa tahun terakhir ini, kami melewatkan lebaran hanya di Bandung saja. tidak keluar kota bahkan tak jarang tidak keluar rumah juga. Yang penting kebersamaannya ya..


Minggu, 30 April 2023

Assalamu'alaikum, Dunia...



Hai hai sahabat blogger-ku ... lama sekali kita tidak bersua di sini ya.. ya Allah.. itu kalau ada balita udah sekolah kali yak, kalau punya anak SD udah lulus ujian... dan kalau kerja udah pindah golongan atau malah udah naik jabatan... wkwkwk
Dari postingan terakhir tahun 2016..

Jadi gini ceritanya... Agak sakit sih.. tapi karena aku yakin hari ini udah luka itu udah membaik, jadi aku mau cerita..Kenapa aku berhenti ngeblog... 
Mungkin buat sebagian orang ini alasan sepele.. Nggak papa. Kan kekuatan orang beda-beda ya..
Waktu itu.. suatu siang. Aku dapat kabar kalau rumah kemasukan orang jahat. Laptop Abi, laptop Umi yang sehari-hari dipakai anak-anak, diambil semua. Dan memang cuman dua itulah kali ya,.. barang layak jual yang bisa mereka bawa. Walaupun mereka mengobrak abrik semua lemari pakaian, mengeluarkan semua isinya, membalik melepas sprei, membalik kasur,  nggak ada yang mereka temukan. Sejujurnya di rumah memang nggak ada barang berharga sih, karena kan harta paling berharga tuh keluarga ya.. dan seisi rumah lagi keluar semua. wkwkwk gariing yak..
Tapi .. ya begitulah ceritanya.. aku yang biasanya nulis di malam hari, nggak bisa nulis lagi. 
Bukan kehilangan 'barang'nya yang menyakitkan, tapi kehilangan 'kenangan' yang disimpan di dua laptop itulah yang membuatku berhenti sekian lama.  
Karena foto-foto semua disimpan di laptop, bahkan hasil scan foto jaman muda, menikah, hingga F1 - F4 bayi juga disimpan disana. 
Yah .. tetapi waktu terus berjalan, dan aku percaya .. waktu adalah obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Kenangan-kenangan baru juga sudah terukir... mungkin memang kita perlu 'lupa', agar otak sedikit mempunyai jeda. 
Di balik semua itu, pasti ada kehendak Allah yang mengatur semua kejadian ini... kita tinggal mencari hikmahnya.

Daaan.. kini sekian tahun kemudian.. mau update ah .. keadaan bocah-bocah, yang sebagian besar udah nggak bocah lagi. ..udah gadis dan bujang..
F1 : udah kerja sekarang ya.. di Cimahi
F2 : masih nyusun skripsi di Bandung
F3 : udah lulus D3 di Bogor lagi lanjut S1 di Bandung
F4 : masuk semester 2 di Yogya
F5 : Mondok di Jawa Timur

Umi dan Abi semakin tua haha
Di rumah kebanyakan tinggal berdua aja.. kadang F2 dan F3 nggak kemana-mana.. Kadang F1 liburan akhir pekan di rumah. Tapi kalau malam F2 sibuk dan F3 kuliah ya tinggal berdua, kalau orang Jawa bilang thengak thenguk hihi.. kalau anak sekarang bilang gabut.. 

Demikianlah waktu berjalan ya.. kalau di atas aku sebutin waktu akan menyembuhkan, mungkin waktu juga yang akan menuliskan kisah-kisah barunya buat kita.. entah menggembirakan, entah menyedihkan.. semua dari kita harus siap untuk menerima dan menjalaninya...
Pelan-pelan ajaa...








 

Sabtu, 18 Juli 2015

Selamat Idul Fitri

Assalamu'alaikum teman-teman...apa kabar?
Ternyata sudah hampir setahun blog ini nggak kutengok.
Mumpung masih suasana Idul Fitri, kami sekeluarga mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1436H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selasa, 31 Desember 2013

Kisah Kasih Asisten Rumah Tangga

Ini bukan cerita tentang ART yang menjalin asmara ya.. tapi cerita tentang ART yang pernah menemani dan mengasuh anak-anakku.
Jadi aja ini semacam kaleidoskop ART gituuu...

Sewaktu kami tinggal di Kupang selama  hampir 5 tahun dan sampai lahir anak ketiga, tidak ada ART di rumah. Jadi pekerjaan rumah ya dikerjakan berdua aja sama Abi. Kalau Abi nyuci aku setrika. Kalau aku nyuci ya Abi yang setrika. Kadang Abi ya nyuci ya setrika ya ngepel, ya ngisi air hehehe...*istringelunjak*
Trus anak-anak gimana dooong kalau ditinggal kerja?

Pas Mbak Fathimah lahir, ada Ummi dan Cici  yang bersedia menjaga mbak Fathimah. Beliau berdua sepasang suami istri. Anak-anaknya dua orang dan menjadi murid pengajian Abi. Jadi pagi hari sebelum ngantor kami ke rumah beliau nganter mbak Fathimah, siang istirahat nengok ke rumah beliau, baru sore dibawa pulang. Meski punya bayi dan belum presensi sidik jari, aku gak bisa santai-santai istirahat siang. Karena waktu itu berlaku absen 4x. Jadi jam 12 istirahat tanda tangan dan maksimal jam 13.30 sudah harus kembali ke kantor /tanda tangan lagi. Makanya kalau yang nakal, pulangnya bukan jam 12, tapi jam 13 baru keluar, balik lagi menjelang jam pulang.
Kalau telat kembali setelah istirahat ? Ya telat/tlb. Jadi sehari bisa tlb/pc dua kali.
Tapi syukur juga aku ngalamin ini, sepuluh tahun kemudian pas di Bandung, dpt boss yang peduli banget masalah ini, udah enggak kaget. Karena aku sudah mengalami yang lebih dari itu.

Ketika Fikri lahir, Ummi dan Cici enggak sanggup menjaga dua anak. Alhamdulillah ada Nenek Khalid dan Kak Ida yang bersedia. Rumahnya lebih dekat dengan tempat tinggalku. Jadi pagi-pagi mbak Fathim dan Fikri: diboyong ke sana. Eh, Fikri aku bawa ngantor dulu ding, sampai 6 bulan ASI ekslusifnya. Baru setelah itu aku titipin di Nenek. Aku bawain masakan dan jajan-jajanan buat de krucils. Sufor juga nyimpen di rumah Nenek. Nenek Khalid ini baiiiik banget. Seringkali di akhir minggu kami dibikinkan kue-kue gitu. Favoritnya adalah bolu rasa jeruk, waktu itu aku belum tertarik baking, yang kuingat, rasa jeruk itu didapat dari sirup ABC aja, segimana dan bagaimananya aku gak perhatiin hehehe... Trus kalau lebaran dibikinin kuker dan baju baru. Pokoknya enggak itungan. Banyak utang budi sama Nenek Khalid ini.
Pas Fadhila lahir, Nenek Khalid sempat kebingungan bagaimana ini menjaga 3 anak. Fadhila kubawa ngantor sampai usia 6 bulan.
Trus Abi sudah mengajukan pindah ke Jawa. SK Abi keluar, aku menyusul mengajukan pindah juga.
Alhamdulillah waktu itu ada satu lagi anak gadis beliau yang baru keluar dari Pesantren Putri Padang Panjang dan sedang melamar  pekerjaan. Namanya Kak Aminah. Kak Aminah ini yang bersedia membantu menemani Fadhila, akhirnya Fadhila ikut juga ke rumah Nenek Khalid. Iramanya masih sama. Siang istirahat aku ke rumah Nenek. Sore nanti jemput. Jemputnya bukan di rumah, tapi di TPA/Taman Pendidikan Al Qur'an di masjid samping rumah. Karena kalau sore Kak Ida dan kak Aminah mengajar TPA. Kecuali Fadhila kecil yang kujemput di rumah Nenek. Demikian berlangsung selama Agustus-November tahun itu.

Nenek dan Kakek Khalid, pas pulang Haji 2007 mampir ke Bandung
'Cucu' kesayangan Nenek Khalid, sampai tangis-tangisan pas nganter ke bandara saat kami pindahan

Fadhila berumur hampir setahun saat kami pindah Bandung. Waktu itu Mbak Fathimah  sudah sekolah TK sampai siang. Inilah pertama kalinya kami punya ART di rumah.
ART pertama : Mbak Rini, lulusan SMA dari Jawa. Modelnya PP gitu, pagi datang, sore pulang.
Sebelum mulai bekerja, aku main dulu ke rumah kontrakannya. Dia ngontrak dekat kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di Bandung. Dekat rumah teman pengajianku juga.
Hari-hari pertama bekerja pakai celana pendek selutut. Lha aku aja sama pak suami gak boleh pakai celana pendek demi menjaga pandangan Fikri,,  ini ada gadis pakai celana pendek di rumah. Akhirnya kusediakan beberapa celana panjang untuk dipakainya. Alhamdulillah mba Rini gak keberatan.
Untuk memilih acara tivi, kami belikan tabloid bintang, dan kami lingkari acara-acara yang boleh ditonton bersama anak-anak. Kalau anak-anak tidur, terserah mbak Rini mau nonton apa.
Pekerjaan utama menjaga anak dan setrika. Masak dan nyuci sudah kukerjakan sebelum mba Rini datang. Bebersih rumah Abi yang melakukan.
Sayang, mbak Rini kerja hanya dua minggu saja. Dua minggu ?
Umminya galak ya.... kebanyakan peraturan kalii... gajinya kecil pulak.
Hahaha... enggaklaah... insya Allah. Mba Rini pamit baik-baik karena dia diterima kerja di pabrik tekstil. Jadi dia kerja di rumahku iseng-iseng aja nunggu jawaban lamaran kerja. Ya sudah deh belum rejeki. Padahal enak lho ngobrol sama mbak Rini. Yaeyalah... anak sma gitu lho...
Beberapa waktu kemudian pas ketemu lagi aku pangling karena mbak Rini sudah berkerudung cantik.

ART kedua Bi Erna
Usianya sudah setengah tua. Aku tidak ke rumah beliau dulu karena kami sudah kenal sering ketemu di warung ketika belanja.
Default pekerjaannya masih sama dengan Mbak Rini.
Paling sebulanan Bibi ini kerja, minta berhenti karena jam kerjanya terlalu panjang. Maunya yang nyuci setrika terus pulang gituuu... seperti ART pulang pergi pada umumnya. Yah.. bi, emang yang kami butuhkan teman anak-anak selama kami bekerja. Kalau kerjaan rumah mah udah biasa kami kerjakan bersama.
Ya sudah deeh.... kamipun merelakan bibi pindah.

Tidak lama kemudian, ada Bi Marie.
Alhamdulillah masa-masa mencari ART ini GPL alias gak pakai lama. Soalnya model ART pulang pergi ini banyak banget di komplekku. Kalau aku menyapu halaman pagi-pagi, pasti ketemu mereka berangkat kerja. Makanya pas aku perlu, nitip pesan aja sama yang lewat itu -para ART tetanggaku- untuk dicarikan.
Bi Marie bersama kami hampir dua tahunan.  Fikri sudah sekolah juga. Jadi kalau pagi bi Marie hanya berdua Fadhila. Pekerjaan mencuci aku delegasikan. Masak tetap aku yang mengerjakan. Kayaknya masih mendingan membiarkan anak main air daripada anak main dekat kompor..
Nah pas aku mau melahirkan anak ke empat, aku ambil cuti besar selama 3 bulan. Karena aku di rumah, dan tidak dapat tunjangan, maka aku bilang bi Marie kondisiku, aku tidak memungkinkan untuk membayar gajinya. Jadi Bibi Mari aku cutikan, dengan perjanjian kalau dapat kerjaan ya silakan bekerja di tempat lain. Gak balik ke aku gapapa. Tapi kalau mau kembali ya pintu rumah kami terbuka.
Kurang lebih sebulanan, bi Marie main ke rumah dan cerita sudah punya kerjaan. Aku ikut seneng juga, bi Marie enggak nganggur lagi.

Ketika cutiku hampir habis, tante sebelah menawarkan ART. Yang ditawarkan adalah ibu teh Entin-ART beliau. Namanya Bi Esih.
Yang mengejutkan adalah, Tante mensyaratkan Bi Esih pake kerudung untuk bekerja di rumahku. Padahal belum ada pembicaraan apapun antara aku dan bi Esih. Dan akupun enggak menjadikan itu sebagai syarat. Toh ketiga ART terdahulu juga aku gak pakai syarat itu. Tapi bi Esih ternyata menerima. Ya alhamdulillah...
Jadi kalau berangkat kerja Bibi pakai kerudung rapi. Kalau di rumah/pas libur ya kostumnya lain lagi.
Seperti ART terdahulu, aku main ke rumah bibi. Kenalan sama keluarganya, sama suaminya. Asalnya dari Kuningan tapi sudah menetap di Bandung. Suami ya punya toko di pasar.
Tahun-tahun pertama sama Bi Esih itu ibarat orang pacaran putus nyambung gitu. Kadang kesel. Tapi ya untunglah kalau malam Bibi pulang, jadi pas pagi datang lagi, aku udah ilang marahnya.
Misalnya : Bibi keukeuh membawa anak-anakku pulang ke rumahnya kalau siang hari. Tapi Bibi selalu berdalih "moal diculik, moal diciwitan". Gak akan diculik, gak akan dicubitin, tetap disayang.
Iyaaa... percaya. Justru saking sayangnya Bibi sama anak-anak, dan memberikan apa saja, dan mengijinkan nonton apapun di rumahnya itulah yang membuat kami khawatir. Rasa-rasanya seperti ada perebutan perhatian anak-anak dan inkonsistensi peraturan rumah gitu. Tapi ya alhamdulillah setiap malam Bibi pulang anak anak kembali pada kami dan tetap diingatkan dengan peraturan rumah, sebagai anak Abi dan Umi. Lama-kelamaan posisi Bibi itu seperti orang tua kami, gak bisa dibantah. Gemes ? Pecat aja sih ! *ups
Hahahaha.... *iya sekarang bisa ketawa*
Pernah... pernah aku mau day-care in siTeteh waktu itu. Udah survey sana sini, tapi ternyata si Tetehnya juga enggak bisa ditinggalin dan toh mikirnya bentar lagi juga sekolah. Ya udah deh, enggak jadi.
Pernah juga aku mau berhentikan Bibi pas lahiran Faiz. Dengan alasan aku gak bisa membayar gajinya. Eh ternyata Bibi cuma dua hari berhenti, habis itu tetap datang, katanya tetep mau ikut keluarga kami, enggak dibayar juga enggak papa. Drama banget enggak siih ???
Kenapa bisa gitu? Enggak dibayar gak papa. Dibayar nanti-nanti aja, maksudnya.
Tahukah saudara-saudara, Bibi itu bekerja bukannya butuh penghasilan. kayaknya ngisi waktu luang aja. Hasil pasar suaminya sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua. Jadi gaji bibi tiap bulan dibelikan perhiasan (*pinjem dong Bi... buat digadaiin, 4 bulaaan aja..... ) dan setelah terkumpul banyak, menjadi tanah dan sapi di kampung sana. Bibi tidak tertarik overtime kalau dia enggak mau.
Bibi ini baiiik banget sama anak-anak. Enggak pernah mau makan di rumahku, makanya siang selalu pulang dan makan di rumahnya.Katanya buat anak-anak aja. Dibawain oleh - oleh juga enggak mau, kecuali dianter ke rumahnya. Sekarang aja, setelah bibi ada cucu, aku bilang 'titip buat Eka', bibi enggak bisa nolak lagi.
Tiap habis gajian pasti beliin oleh-oleh buat anak-anak. tiap Senin/habis libur pasti mbawain kue buat anak-anak. Jangan tanya kalau habis mudik, pasti bawa beras dan sayuran untuk kami.
Dan yang paling jooss, kalau lebaran dikasih THR, trus ngasih lagi THE lagi ke anak-anakku. Bibi juga mbeliin baju buat anak-anak.  Dulu jamannya Firda, ya Firda yang dikasih. Sekarang jaman Faiz, ya Faiz yang banyak dikasih perhatian sama Bibi.
Dan kurasa Bibi pun perlahan tapi pasti banyak menyesuaikan dengan kebiasaan kami. Pasti dia juga banyak makan hatinya sama kami, namanya juga 7 orang. orang banyak ya banyak maunya.
Itulah sebabnya kami selalu menekankan pada anak-anak, hormatilah bibi sebagai pengganti orang tua selama ummi dan abi enggak ada di rumah. Harus nurut sama bibi. Kalau disuruh makan ya makan, kalau disuruh mandi ya mandi. Kalau keluar rumah pamit sama bibi.

Bi Esih bersama Eka dan Faiz

Dengan 10 tahun bi Esih bersama kami, rasanya aku sudah membuktikan satu anekdot yang ku dapat dari temen kantor :
"Yang membuat pembantu betah itu, kalau bukan karena majikannya yang baik banget, pasti karena dianya yang baik banget".

Rabu, 06 November 2013

Selamat Milad, Teteh...

JTanggal 5 kemarin Teteh genap 10 tahun.
Masih jelas terbayang, Ramadhan 10 tahun lalu, di pagi hari. Aku sudah cuti sejak tanggal 1 Nov.Masih ngurusin mandi F1 dan F2 yang masih TK. Tumben keluar flek. Aku minta Mbak dan Fikri bergegas. Mungkin hari ini adik bayi akan lahir, kataku. Mereka nurut. Ayuk yang belum belum 3 tahun juga bersikap manis.
Setelah Mbak dan Fikri sekolah, dan Ayuk sudah sarapan pleus mandi aku berangkat ke Bidan dianter Abi naik motor. Ayuk di rumah sama Bibi.
Jam 8-an berangkat ke Bidan. Jam 10-an masih ditelpon pengurus DKM kantor nanyain penceramah ba'da Zhuhur :D  Kira-kira jam sebelasan Teteh lahir dengan selamat. Alhamdulillah...

Masih jelas juga terdengar, kata-kata Fikri di sore hari ketika datang : 'kenapa Ummi ngelairin adik perempuan lagi? Aku tambah nggak ada temen'.
Tapi nyatanya, Fikri tetap sayang sama adik perempuannya.

Farah Nada Firdausi.
Kabar kebahagiaan dan kesejukan Firdaus di rumah ini. Yang selalu bangga karena pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri di tanggal ulang tahunnya.
Yang selalu bilang 'iya' ketika dimintai tolong apa saja dan oleh siapa saja penghuni rumah. Sampai-sampai yang enggak masuk akal - nemenin Ayuk cuci piring malam2, atau nemenin mbak belajar di kamarnya- tetep dijabanin.
Yang menurut Ummi kamu sudah 'dibully' kakak adikmu, kamu jalani santai -santai saja sampai Ummi harus mewakilimu untuk menolak dan bilang 'tidaaaak'.

Barakallah... selamat milad anakku. Segala doa kebaikan terkumpul untukmu. Semoga doa Abi dan Ummi dalam namamu pun mewujud dalam lakumu.
Sudah makin besar ya Nak... tangga kehidupan makin naik, tantangan ke depan makin besar. Berlakulah seperti orang besar. Dan peliharalah selalu jiwa besarmu.
Semoga Allah mengabulkan segala permintaanmu. Amiin.

Pict : kuenya rasa Mak Ika ... makasih share resepnya. Ada yang dulat dulit nggak sabar nunggh dipotong kuenya

Kamis, 17 Oktober 2013

4 Hari Libur Panjaaaang

Holiday kali ini enggak ada acara kemana-mana. Yah biasanya juga enggak kemana-mana sih... hehehe.. Tadinya keluarga Echi mau lebaran di Bandung, tapi berhubung Echi gak bisa cuti, dari awal bulan Mama Echi dah SMS kalau enggak jadi lebaran di Bandung.

Hari Sabtu anak-anak masih sekolah seperti biasa. Masih UTS malahan. Trus Abi dines sampai pagi. Jadi ya...enggak seru aja cuma berdua Faiz di rumah. Sore nanti ada ibu-ibu mau pada silaturrahim di rumah, aku masak bubur candil dan bubur sumsum yang udah terbilang sukses.
Abis zhuhur aku bekam sama Nenek Ranan. Waaah... asyiknya, bekam berbonus curcol hehe. Biasanya kalau bekam basah, darahku enggak banyak. Etapi kemarin banyak lhoo... kenapa ya.. apa karena lama enggak dibekam ? Trus sama Nenek Ranan titik yang dibekam banyak banget, punggung 2, pinggang 2, al kahil+leher 3, betis masing-masing dua jadi 4, trus di kaki dekat jari-jari 2, dan di punggung tangan antara ibu jari dan telunjuk 2, dada 2 ya Allaaah.... 17 titik. Biasanya aku 7 aja, paling banter gambah dua di kaki. Kirain bakal kenapa-kenapa, ternyata enak juga. Sementara aku dibekam, Mama Ranan bikin pancake, jadi habis dibekam aku disuguhin pancake rasa pisang. enaaakk...
Sorenya ada teman-teman datang ya gak kerasa aja tau tau maghrib.

Hari Minggu aku bikin ketan. Setengah kilo langsung tandas sbagian dibawa Abi ke kantor. Ihiirrr... senengnya. Jarang-jarang Abi mau bekal makanan dari rumah. Karena hari libur , dan biasanya anak-anak suka nyari cemilan, habis ketan terbitlah kacang ijo. Etapi nanti malem kan mau sahur puasa Arafah, sedang Abi nggantiin temennya dines. Yaah... enggak seru deh, sahur enggak ada Abi. Tapi Abi janji mau nelpon pas jam sahur. Abis makan malam aku masak lagi buat sahur pleus nyobain bikin oreo stick yang sangat membuatku penasaran.  Akhirnya bisaaaa..... berhasil laaah... meski sempat gagal dikiit.

Hari Senin full masak. Ini sibesar kesatu dan kedua malah sekolah, gak ada yang bisa membantu. Alhamdulillah F3-F5 ada semua. Hehe... mulailah aku mencuci 3 ekor ayam anteran tetangga. Trus aku ungkep. Ati ampelanya aku ungkep terpisah. Pun cekernya aku rebus buat kaldu. Sampai siang jam sebelasan baru beres. Alhamdulillah anak-anak puasa semua, kecuali Faiz. Cincaylah makanan Faiz mah sama ayam goreng atau telor ceplok-ceplok di wajan alias scramble egg.
Baru, siang itu pula aku berburu selongsong ketupat. Alhamdulillah dapat.
Jadi habis zhuhur setelah selongsong ketupat dicuci, ditiriskann dulu. Habis itu baru diisi. Tugas Ayuk dan Teteh untuk mengisi ketupat. Diisinya sekitar ¾ -nya. Ini mah resep mertua. Alhamdulillah ketupatnya jadi bagus. Trus habis itu baru kupas kentang. Abis ashar opor mateng, trus dianterin wafer tango sama bu dokter keluarga hahaha bukannya kita yang kirim parcel, kebalik ya ...
Trus buat buka puasa, bikin putu ayu, martabak tahu dan.... seblak. Sessuatu pokoknya... Malem takbiran Abi keluar beli susu ultra coklat. Yuhuuy.. alhamdulillah, besok gak perlu bikin susu coklat. Oh ya, minum susu coklat di pagi hari lebaran ini adalah kebiasaan dari Ibu Mertua alm.

Selasa pagi lebaran, kegiatan mulai lebih pagi. Anak-anak juga dibangunin lebih pagi, trus diingetin untuk mandi sunah hari raya. Kami berangkat shalat lebih pagi. Karena biasanya kalau Idul Adha shalatnya jam setengah tujuh. Sunahnya tidak makan minum sebelum shalat. Maka anak-anak gak ada yang makan minum. Kecuali Faiz aku kasih roti cream meises sisa sahur Abi, karena khawatir kelaperan :D dan rewel. Alhamdulillah, dua lebaran ini (Idul Fitri kemarin pleus sekarang) Faiz dah shalat sama Abi. Udah bukan balita ya Nak, jadi shalatnya di shaf depan aja :D
Overall lancaaar... anak gadis aku pesenin habis shalat dengerin kutbah, jangan ngobrol, ini sunnah juga. Semoga nanti besar mereka dapat memetik hikmah, biar lebih mantep. Meskipun sebenarnya lebih utama menjalani sunnah karena cinta Rasulullah SAW semata.
Abis shalat nggak ada foto official hehe.. gak ada yang motoin/gak ada kamera. *ikut kebawa maling tahun lalu*
Lagian, Abi juga buru-buru ganti baju karena mau nungguin air yang kemarin enggak ngalir.
Ya udew, para cewek pun lepas kerudung dan menikmati ketupat opor ala Ummi.

Pict : abaikan rendang yang kurang hitam ituh yah... enggak keliatan malah ya..

Sabtu, 13 April 2013

Mizan dan Hobby Baca Keluargaku

Aku mengenal Mizan mungkin belum sepanjang usianya yang kini mencapai 30 tahun. Tapi begitu mengenalnya, langsung lekat macam jatuh cinta pada pandangan pertama :)

Ketika tahun 2002 aku pindah ke Bandung, aku diajak Mbak Siti bergabung di Ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah) Jawa Barat. Sekretariatnya di jalan Bekalivron. Setiap aku ke sekretariat Salimah, aku melihat tulisan Mizan dalam warna biru yang terpampang besar di sebuah gedung di jalan sebelahnya, jalan Yodkali. Aku baru tahu kalau itu nama sebuah penerbit, saat di rumah mbak Siti banyak sekali buku - buku dari Mizan. Yang paling berkesan adalah serial Cerita Nabiku yang selalu dibacakan mbak Siti untuk 3 anakku yang masih kecil - kecil. Selain itu ada pula serial Sahabat Nabiku dan Cerita Balita. Mbak Siti saat itu belum dikaruniai putera, tapi kecintaannya terhadap anak-anak, membuatnya mengoleksi buku anak-anak. Akhirnya akupun mulai mengoleksi juga buku-buku tersebut untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak sudah terbiasa membaca dari bayi, jadi buku - buku anak yang kubeli sekitar sepuluh tahun lalu itu, masih utuh sampai sekarang.

Buku-buku Mizan diantara buku-buku yang lain


Beberapa waktu kemudian, aku bertemu dengan bu Erna yang menawarkan buku - buku  ke kantor. Yang paling berkesan adalah Halo Balita dan I Love My Al Qur'an. Hanya saja saat itu aku merasa buku - buku itu masih 'mahal' jadi akupun menahan diri untuk membeli. Namun setelah bu Erna mengajakku ikut seminar parenting tentang manfaat mendongeng dalam mendidik anak, maka pandanganku tentang buku mahal menjadi berubah. Mahal atau tidak itu dipengaruhi oleh pandangan kita tentang prioritas. Kalau misalnya pendidikan anak menjadi prioritas, maka 'semahal apapun' itu, orang tua pasti akan mengupayakan memberikan sarana-sarananya.
Dengan pertimbangan di rumah masih ada 3 balita (2003 lahir anak keempat), maka aku memutuskan membeli Halo Balita dengan sistem arisan Rp. 125.000/bulan selama 10 bulan. Ternyata masih terjangkau :).
Paket  Halo Balita ini mirip dengan serial Cerita Balita, tapi dalam versi lengkap dan edisi board book. Lengkap, karena terdiri dari tema self help untuk melatih kemandirian, ada tema value agar anak-anak menerapkan nilai moral dan ada tema spiritual untuk melatih dan mengenalkan anak pada kehidupan beragama. Ada hadiah boneka tangan berupa tokoh tokoh dalam buku yaitu Sali, Saliha dan Mio si kucing.  Alhamdulillah, tidak menyesal aku membelinya, karena aku merasakan sendiri manfaat membacakan cerita-ceritanya setiap menjelang tidur kepada anak-anakku.


Pengalaman lain yang tidak kalah berkesan adalah : bersama Halo Balita aku mendapatkan piala pertamaku pada Lomba Mendongeng Orang Tua dan Guru yang diadakan oleh TK Al Hadits Arcamanik 7 Mei 2006. Temanya memang cerita dari serial Halo Balita. Bukunya disediakan oleh panitia. Karena aku sudah memiliki bukunya, aku punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saat lomba aku membacakan cerita Aku Bisa Mandi Sendiri, lengkap membawa properti berupa gayung, sikat gigi, odol, sabun dan handuk :). Hasilnya ? Aku juara pertama ! :D

Piala dan Mio yang masih ada sampai sekarang
Kesukaan membaca ini memang menjangkiti kami sekeluarga. Enggak emak, enggak anak, enggak bapak. Begitu anak kelima lahir, maka si anak keempat ini gantian membacakan buku untuk adiknya :

F4 membaca Halo Balita untuk F5
Setelah anak - anak semakin besar, salah satu kebiasaan keluarga kami adalah selalu membawa mereka ke toko buku di saat mereka ulang tahun, berprestasi di sekolah atau setiap kali berhasil mengkhatamkan Al Qur'an.  Ketika mereka SD mereka banyak memilih buku - buku KKPK (Kecil Kecil Punya Karya). Setelah mereka SMP maka bergeser ke Pink Berry.
Kalau aku suka novel - novel Qonita, tapi yang paling kusuka adalah serial Anne of Avonlea.
Suamikupun mengoleksi buku - buku terbitan  Qonita, Bentang dan buku Mizan lainnya. Baru-baru ini dia membeli The Casual Vacancy dan Sandyakala Rajasawangsa karya Langit K.H.  (aku baru baca yang TCV ).

Sekarang aku bisa dikatakan menjadi salah satu bagian Mizan, persisnya sebagai book advisor di Mizan Dian Semesta (MDS). Masih newbie. Pencapaianku juga  belum seberapa dibandingkan dengan teman-teman lain yang memang fokus di sana. Tapi alhamdulillah, setiap bulan ada saja transaksi dan komisi tentu saja. Yang paling aku suka adalah, komisi dari MDS tidak harus menunggu lama, cukup satu pekan setelah buku terkirim, maka komisi akan segera masuk rekening kita. Sejak 2012 aku bergabung, kuhitung-hitung, baru menjual  5 paket Halo Balita, 2 paket Nabiku Idolaku dan satu arisan Ensiklopedi Bocah Muslim serta satu lagi segera menyusul peserta arisan Halo Balita. Karena buku-bukunya memang bagus, bermutu dan tentu saja bermanfaat, maka aku bersemangat dan percaya diri menawarkan kepada teman-teman. Alhamdulillah, komisinya bisa buat beli buku lagi.


Postingan ini diikutsertakan dalam lomba #MizanAndMe


Selasa, 02 April 2013

Aku dan Keluargaku : Edisi Lebaran

Full Team, foto Lebaran 2012

Baiklah.. khusus untuk mas Furqon yang sedang punya hajat, dan juga buat teman teman yang baru berkunjung ke sini.. perkenalkan...inilah keluargaku..
Berdiri di barisan belakang, dari kiri ke kanan :
F1 : Mbak Fathimah
F3 : Ayuk Fadhila
F2 : Kyai Fikri

Duduk di barisan depan :
F5 : Faiz dipangku sama Ummi
F4 : Teteh Firda dipangku sama Abi

Foto bersama di momen Lebaran ini menjadi saat yang ditunggu tunggu. Entah Idul Fitri entah Idul Adha, selalu kami foto bersama. Ah ya, wajahku mungkin kelihatan sedikit pucat ya.. karena hari pertama Idul Fitri itulah aku pertama kali keluar rumah setelah bedrest di seminggu terakhir di bulan Ramadhan. #curcol.
Nah .. sekarang semakin kenal kaaaan... dan nggak bingung lagi kalau kusebut F1, F2 dst.. :D



Senin, 04 Maret 2013

Hari Pencoblosan

Tanggal 24 Februari kemarin masyarakat Jawa Barat menentukan 'nasibnya' untuk lima tahun mendatang. Kenapa menentukan nasib ? Karena di hari itu mereka memilih gubernur/kepala daerah.
Mungkin kesannya sepele ya.. hanya mencoblos selembar kertas. Namun kisah dibalik itu tidak sesederhana tampaknya.
Bisa dibayangkan seandainya dalam setiap kesempatan pemilihan semacam itu terjadi 'salah pilih', ternyata orang yang dicoblos tidak amanah menjalankan kewajibannya, waaah.. kalau aku sih bakal menyesal seumur hidup, minimal menyesal selama 5 tahun itu.
Kenapa aku bersemangat memilih pemimpin ? Terinspirasi sama novel Tereliye (Burlian) di salah satu bab ada yang bercerita tentang pemilihan kepala desa. Diantara sekian banyak calon-calon yang buruk menurut pandangan masyarakat, tetep ayah Burlian berpendapat  harus memilih satu yang terbaik diantara mereka. Kenapa ? Yah, karena memang kita perlu pemimpin.
Menurutku pemimpin inilah yang akan mengarahkan,  memutuskan, dan mengambil resiko. Jangankan manusia, hewan-hewan di dunia ini saja mempunyai pemimpin. Lihatlah bebek, selalu ada satu bebek yang berjalan terdepan. Burung-burung terbang membentuk formasi V, ada yang paling depan. Ketika yang terdepan kelelahan, maka dia mundur dan diganti oleh satu burung yang lain.
Rasulullah pun memerintahkan kita untuk memilih pemimpin dalam sebuah perjalanan hatta itu cuma diikuti oleh 3 peserta. Jadi memang pemimpin itu sangat urgen. Setidaknya aku pribadi termasuk yang meyakini ini.

Oleh karena itu, akupun tidak keberatan ketika diajak untuk ikut kegiatan semacam voter education. Untuk meningkatkan kepedulian tentang hak pilih ini. Supaya tingkat partisipasi dalam pemilihan makin tinggi.
Kebayang ya.. kalau satu orang berfikiran "Ah.. cuma aku ini yang nggak milih" . Eh, ternyata satu orang ini dikalikan sekian, terjadi di sekian daerah, akhirnya jumlahnya mencapai 20% dari seluruh daftar pemilih tetap. Banyak kaaann ? Oke kalau karena alasan ekonomi, misalnya buruh pabrik asal Garut, kerja di Bandung, gak bisa mudik 'sekedar' untuk nyoblos. Yang model begini aku masih agak maklum. Tapi kalau untuk yang kepikiran 'ah cuma aku ini yang nggak nyoblos' itu, aku belum bisa terima.
Kepikiran nggak ya.. sama mereka, berapa biaya negara yang 'disia-siakan' karena dia nggak milih. Biaya cetak kartu suara dia, biaya nglipet kartu suara dia, biaya transport dari KPU ke TPS, dsb. Itu kan pemborosan namanya..
Trus kepikiran nggak ya... kalau ternyata 'suara' yang seharusnya menjadi hak dia, karena dia nggak milih, eh malah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertangggung jawab untuk menggelembungkan suara salah satu kandidat.
Trus yang lebih parah lagi, karena sekian orang yang berfikiran sama tadi enggak menentukan pilihan -padahal dia bisa- ternyata pemilukada harus berlangsung dua putaran maka akan lebih banyak lagi anggaran negara yang 'terbuang percuma'.
Mungkin ini terkesan lebay, tapi memang kenyataannya itung itungannya demikian.
Makanya KPUD juga udah ngeluarin ketetapan untuk memudahkan, siapapun yang namanya tidak ada di daftar pemilih tetap, asalkan punya KTP Jawa Barat, maka dia boleh mempergunakan hak pilihnya. Tinggal mau apa enggak.
Setidaknya aku telah 'mengambil resiko' mengamanahkan kepemimpinanku kepada seseorang. Kalau dia salah, aku berhak mengingatkan. Kalau di amanah, maka aku akan memberikan pujian.
Eh, kok jadi serieus gini ... hehe okelah itu tadi cuma pendapatku saja. Boleh setuju boleh juga punya pendapat lain. Monggo...

Jadi yang aku lakukan di hari pencoblosan kemarin itu ...

Pagi-pagi jalan bareng, sekeluarga ke pasar kaget di Pasir Jati, sekalian sarapan



Trus agak siang ke TPS deeh... nyoblos calon gubernur

Trus pulang nyoblos ada odong odong lewat, nemenin F5 naek odong-odong
Sisa hari itu aku isi dengan merajut sambil berdoa, mendoakan pilihanku tentu saja dan berdoa biar pemilu aman tentram damai, nggak pakai rusuh, yang kalah bisa legowo yang menang nggak usah bangga. Siapin aja kerja.  Sayang rajutannya gak sempat difoto, udah keburu habis. Buat jualan #eh.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Wow ! Sambil Koprol

Punya anak lima dengan lima karakter yang berbeda selalu memberikan warna  tersendiri di dalam kehidupan .
Adakalanya mereka bertengkar, sehingga membuat perasaanku sulit dilukiskan
Adakalanya mereka ribuuuutt di depanku sehingga membuatku nge-hang, persis BB kebanyakan task.
Yah begitulaaah...
Udah gitu, seperti telah menjadi agenda rutin anak anak, setiap ummi mereka baaarrrrrruuu saja masuk rumah, entah dari kerja (biasanya pulang kerja) atau dari mana, selaluu saja anak anak ngerubutin. Bercerita semua, kadang satu persatu, kadang berebutan, semua diceritakan. Aku menyebutnya acara seputar Indonesia. :D
Nah, kalau pulang kerja kan menjelang maghrib, biasanya habis maghrib bersambung lagi.

Seperti beberapa hari lalu, F1-F4 berkumpul mengelilingiku. F5 gak ikut karena lagi tidur. (Tidur siang kesorean). Nah Mbak Fathimah menceritakan salah satu temannya yang menjadi bintang FTV.  Aneh kan... yang lain mah cerita sekolah, pelajaran, nilai dsb... Dan ceritanya itu 'maksa' banget. Sudah beberapa hari mengulang topik yang sama. Aku lagi masak, cerita itu. Aku lagi duduk crita itu. Dan kemaren sambung lagi entah yang keberapa kalinya.
"Ummi, temen aku ada yang main film lho.."
"Iya... " kataku sambil memperbaiki duduk
"Ih, ummi, meuni nggak ditanya, siapa namanya gitu .."
"Tahu, Andira kan ?" jawabku ngasal. Sesungguhnya nama temennya yang SMP ini -yang bintang pelm- aku nggak inget. Males ah *penting gitu ?
"Bukan lagi.. itu mah teman SD. Yang ini mah teman SMP"
Kemudian si Mbak menyebut satu nama. Aku nggak memperhatikan. Karena yang lain juga udah ngantri mau membacakan berita
Nah di puncak cuap cuap mereka yang melompat lompat topiknya itu, tiba tiba si Mbak nyeletuk
"Ummi... bilang wow gitu..."
"Iya... Wow !" kataku. Dan entah setan ketawa dari mana yang tiba tiba  membisiki, akupun bilang wow dan kemudian jungkir balik di kasur.
Lalu kami semua , Aku, mbak, fikri, Ayuk dan Teteh tertawa semua.  Akupun tak sanggup menahan geli. Sampai sampai pas Abi masuk kamar karena doi baru keluar dari kamar mandi, terheran heran, ngapain lima orang ini ngikik dan ngakak sampai segitunya.

Dan yang nggak nahan adalah komentar Fikri "Ummi, koprol mah enggak gitu ..."
Huh !

Jumat, 07 September 2012

Mengecat Rumah

Sebulan sebelum Ramadhan tiba, suamiku kerja bakti ngecat rumah. Selama ini memang doi selalu ngecat sendiri. Seingetku selama berumah tangga, belum pernah minta tolong orang untuk ngecat.
Disamping karena alasan keuangan, aku yakin, pasti karena si Abi bakalan nggak puas dengan kerjaan orang. hehehe... know him so well laaah....

Memang yang ngecat Abi sendiri, tapi yang lain lainnya hmmm... mau nggak mau semua terlibat. Pertama tama adalah mengeluarkan isi ruangan yang akan dicat. Kalau kamar tidur, maka keluarlah semua isi kamar, ada lemari pakaian, lemari buku, meja belajar, tempat tidur, kasur dsb.dan segala isinya tentu saja.
Buku buku, baju, sprei, bantal wkwkwk
Tahap berikutnya adalah menunggu perintah, menggeser tangga, mengambilkan ini, atau itu atau lainnya.

Setelah proses mengecat selesai apakah kita bisa langsung masukin barang ? tentu tidak. Kami musti bantu ngepel lantai yang walaupun di alas koran tetep aja ada cat tembok yang berjatuhan barang satu atau dua lusin ;P titik.
Setelah ngepel selesai, barulah masukin lemarinya, rak bukunya , meja belajarnya, dsb.
Terakhir adalah menyusun kembali semua barang barang yang tadi dikeluarkan dari lemari, rak buku, meja belajar, dsb..
Jadiiii... kesimpulannya ya lumayanlah yang harus dikerjakan para asisten di sekeliling "tukang cat".
Mungkin akan lebih praktis jika meminta tukang cat profesional untuk mengerjakan ini, tapi ... dengan mengecat rumah sendiri ini, banyak keuntungan yang kami dapatkan
pertama jelas lebih hemat, karena tidak perlu membayar honor tukang. walaupun tentu saja, tetep sedia cemilan cemilan buat semua isi rumah yg kerja ekstra
kedua : lebih puas dengan hasilnya
ketiga : kami dapat 'liburan' dan 'hiburan' yang sangat spesial.
keempat : mengecat sendiri menjadi kesempatan buat anak anak untuk menentukan mengatur ulang kamar mereka, mulai dari warna dinding sampai komposisi kamar dan hiasan2 apa yang akan mereka tambahkan.

Nah dibalik cerita ngecat itu, ada satu hal yang membuat cukup dag dig dug selama beberapa hari berturut turut, yaitu si Abi yang naik tangga, di mana tangganya diletakkan di atas dua meja kecil. Hadeeeuh... sambil bebantu cuma bisa berdoa dalam hati. Semoga tidak terjadi apa apa. Alhamdulillah, semua lancar dan beres...

Abi istirahat sejenak di atas. sambil nyawang2 hasil ngecatnya

in action.. kayaknya nggak sadar ada canded camera.



Terus terang, aku mendingan lihat Faiz manjat manjat gini, tinggal diteriakin... "turun Naaak !"


F5, naik tempat tidur manjat jendela

Untunglah ya... ngecat rumah itu nggak perlu sering sering..

Senin, 27 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri 1433 H

Selamat Idul Fitri 1433 H
Taqobbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin



Senin, 04 Juni 2012

Su Minum Air Timor, Na..

Warning ! Postingan Mellow !

Pagi tadi, pas sarapan, beberapa  anak OJT di ruangan nanya nanya tentang penempatan. Pas aku cerita pernah di Kupang dan 5 tahun di sana mereka terlihat takjub. Tambah takjub ketika aku ceritakan kondisi Kupang saat kami di sana.
Pagi itu sih.. aku cerita biasa aja... tapi pas baca status g-talk salah satu temanku yang nulis

 Not to drink the water of mahakam river. otherwise you'll be back

tiba tiba saja aku jadi kangen Kupang. Kangen ? Kangen apanya ? Yah kangen semuanya laaah...
Kok bisa ? Ya bisa laaah..
Fakta :
* Kupang adalah rumah pertamaku setelah menikah. Pertama tinggal serumah dengan laki laki selain Bapak/adik/kakak. Suka duka, tawa dan air mata dibagi berdua. Belajar mengurus rumah dan segala isinya.
* Kupang adalah kota pertama aku tinggal sangat jauh dari orang tua dan nggak bisa pulang sendiri (naik kereta ekonomi dari Senen - OOT).
* Kupang adalah pertama aku hamil, dan melahirkan anak anak dan membesarkan mereka jauh dari orang tua dan tanpa ART
* ke Kupang adalah pertama aku bepergian naik pesawat (gak penting kali yah)
* Kupang adalah kota pertama yang membuatku tahu rasanya naik kapal besar (walaupun mabok laut)
* Di Kupang aku merasakan benar benar dunia kerja dan bagaimana harus mengambil tindakan dan memutuskan antara berbagai kepentingan. (anak sakit, badan lelah, kerjaan menunggu, atasan beda pandangan, beda kultur, beda bahasa, toleransi, memahami, membawa diri,  banyak deh )
* Di Kupang pula aku menemukan saudara saudara se iman yang demikian tulus. Menemukan orang tua. Menemukan teman. Menemukan sahabat. Menemukan guru. Berkesan deh !

Itu aku belum cerita keindahan alamnya ya... atau keunikan alamnya...
Kebetulan aku tinggal di komplek rumah dinas suamiku, tempatnya di pinggir laut. Tepatnya di Jalan Tim Tim desa Pasir Panjang.  Itu memang jalan satu satunya menuju Timor Timur saat itu. Keluar komplek, nyebrang jalan udah sampai di pantai. Pasirnya putih, banyak karang berserakan di bibir pantainya. Kesukaan kami adalah bermain air di Minggu pagi atau habis shalat maghrib langsung ke pantai untuk menikmati sisa sisa senja. Kalau terbangun di malam hari, hanya suara debur ombak di tengah sunyi.

Kebetulan rumahku menghadap ke timur. Setiap hari, kalau mau lihat matahari terbit, tinggal melihat jendela. Maka tampaklah si matahari malu malu dari balik bukit.
Kalau pertengahan bulan Hijriyah, serasa bulan terbit di halaman rumah. Lebay ? Tapi begitulah. Kami cukup membuka pintu yang menghadap lapangan luas itu, dan di ujung lapangan sana, bulan melambai.
Kalau udara cerah, kami keliling kota naik motor di malam hari. Dari jalan depan GKN Kupang, terlihat laut luas membentang, ditingkah cahaya dari perahu nelayan yang kelap kelip bertebaran.
Pasar ? Jangan tanya timbangan. Mungkin telur dan gula menjadi sedikit produk yang ditimbang.
Yang lainnya ? satuannya "kumpul". satu kumpul, dua kumpul. Seperti taningan bahasa Jawa gitu.
Ikan ? Segarrr semua. Bahkan bisa ambil di perahu nelayan langsung. Kalau mau ikat fillet, tinggal beli yang sudah dipotong potong dari ikan besar itu. Kakap, tongkol, pari...
Jangan tanya udang dan cumi. Segarr segarr segarr....

Yang nggak di suka ? nggak usahlah aku ceritain ... ntar kalian nggak mau ke sana suatu saat nanti.
Pokoknya semua yang pernah ke Kupang nggak bisa lupa. Mereka bilang "su minum air Timor, na.." (sudah minum air pulau Timor, sih....)

ini aku di dalam rumah pertamaku, bersama F1, F2 dan F3


Senin, 21 Mei 2012

"Tamu Tak Diundang"

Libur panjang kemaren, si Abi udah niat mau mengecat rumah.
Meskipun hari Kamisnya Abi sempat ke kantor, tapi katanya 3 hari cukuplah buat menyelesaikan satu kamar. Maka Abi pun mantap dengan rencananya itu.
Aku sendiri hari Kamis itu sempat jalan jalan ke pasar sama F5, trus blogging sebentar, sorenya aku crafting . Hari selanjutnya bakal full di rumah. Pertemuan pertemuan dengan Ibu ibu juga aku jadwalkan di rumah aja.  Hari libur yang sempurna !

Kira kira abis maghrib laah.. tiba tiba Mama Echi nelpon Abi, Trus sama Abi di kasih aku.

Mama nanya : Titi kok nggak jadi ke Cilacap ? 

Iya Ma... Fikri baru pulang study tour tadi pagi. Lagian nggak ada duit. *curcol
 (Emang sih aku sempat kepikiran mau ke Cilacap sama Fikri. Tapi kan jadwalnya hampir bersamaan dengan jadwal study tour Fikri. Fikrinya juga baru pulang dari Yogya hari Kamis pagi. Jadi aku nggak jadi pergi.)
 
Mama nggak jadi ke Bandung ? tanyaku

Iya nih.. nggak jadi. Belum kelihatan ujung duitnya. Gelap banget. Jadi nggak kelihatan. Mama menjawab sambil ketawa.

Udah lah telpon itu selesai sampai disitu. Eh.. pas Abi mau ke masjid. Abi berhenti sebentar di depan pintu.  Menatapku yang baru selesai menutup pembicaraan dengan Mama.
"Tumben ya.. Ayuk nelpon ?"
"Ayuk inget kali, Ummi cerita mau ke CIlacap"

Mungkin jawabanku cukup memuaskan. Abi berangkat aja ke masjid.

Daaaannn... belum juga Abi pulang dari masjid. Terdengar suara mobil berhenti depan rumah, dan suara pintu pagar dibuka.

"Mama dataaaanggg... " kataku reflek ke anak anak.

Huh dasar ! Dikerjain.
Tapi seneng juga siiih... dikunjungiii...... bawa mpek mpek asli Lampung. (bukan asli Palembang ya...) yuhuuuu....
(Sorry ya Mak Sondang, setiap sodara datang di long week end, dikau gak kebagian oleh olehnya...*malas nganter apa pelit ? )

Full Day Outing !

Seperti sudah kuceritakan kemaren, Echi sekeluarga (Echi, Mama Echi, Papa Echi) datang ke Bandung tiba tiba aja. Berasa dapat tok tok wow.
Seneng karena ditengok saudara. Secara lebih sering kan kita ke Lampung sekeluarga
Seneng karena dapat oleh olehnya
Seneng karena biasanya ada sessi nganter belanja. Yang itu nggak pernah kami jalani ketika nggak ada tamu.
(Aneh juga ya.. katanya nggak seneng belanja tapi seneng nganter orang belanja. Ngelaba dikit laaah)

Ceritanya Echi sekeluarga ke Bandung itu adalah ngambilin barang barang yang masih tertinggal di Bandung. Waktu Echi lulus Unpad dan masuk HSBC, barang barang dari kost dia sebagian disimpan di rumah kami. Trus waktu keluar dari HSBC dan pulang ke Lampung, barang barang sebagian ditinggal di kost sepupu Echi di Asia Afrika.
Nah setelah sebagian barang itu diambilin (nggak bisa semua, karena mereka bawa sedan), hari Jumat ini acara utamanya adalah cari sepatu Echi. Karena Echi  Mei ini masuk ke BRI Bandar Lampung. Posisinya sesuai yang dia inginkan, bukan lagi di marketing tapi di back office. Sambil menyelam minum air. Selain itu ada agenda silaturrahim ke salah satu saudara yang aku nggak tau secara persis silsilahnya, tempatnya di Cipaganti. Pulangnya nganterin kebaca Echi untuk dipermak ke Jatihandap. OKe Coy ! Let's Go !

Kami berangkat dari rumah jam sepuluhan. Karena F1 sampai F4 sekolah semua, maka yang pergi mendampingi Echi's family cuma aku, Abi dan F5. Sebagai penumpang, aku nggak tau kayak mana ngatur jurusan. Si Papa nyetir juga lurus aja. Udah lewat Cicaheum kira kira dekat Gasibu baru nanya ini kemana dulu ? Kata Echi ke Kings. Yaelah.. lain jurusan kataku dalam hati.
Yau udah lewat Gasibu aja. pake jalur ke kantor. Usulku.
Akhirnya lewat Gasibu. Eh pas lewat Nasi Bancakan si Echi nyeletuk.
Kita makan dulu aja...
Ya udew akhirnya belok dulu ke Bancakan. Sumpeee... udah sepuluh tahun di Bandung, aku sendiri belum pernah ke sini.
Singkat kata kita makan di Bancakan. Aku senang suasanya kampungnya. Meja kayu pendek pendek, lesehan beralas tikar pandan. Piring pake piring seng jaman dahulu yang bergambar bunga mawar. Makanan tersaji (tepatnya siap saji) di baskom baskom gitu.
Nasinya ada pilihan nasi timbel atau nasi liwet. Cepat sekali. Tinggal ambil ambil. Trus minumannya ada es cendol, es goyobod sama es cincau. Ada juga es lilin jadul yang pake cetakan gitu. Ada kue balok/kue pancong. Full jadul !
Dan ajaibnya lagi, makan berlima dewasa dan satu anak, cuman 125 rebu doang !!
Recomended buat jalan jalan keluarga berikutnya. (*emak pelit langsung berhitung)

Karena udah hampir Jumatan, maka Papa dan Abi berhenti di masjid Unisba buat Jumatan. Ibu ibu dan F5 melanjutkan perjalanan ke Kings pake taksi.
Pertama nyari crocs.. setiap lapak dimasukin. Enggak ada yang cocok. Terus ke toko toko sepatu di belakang Yogya Kepatihan situ. Eh.. enggak dapat. stt si Bejo udah minta pulang dan kehausan.
Terus dilanjutkan masuk Yogya nyari sepatunya sampai jam duaan. Echi dan Mama shalat. (eh ternyata mushola lantai dasar ini lumayan enak, di area perluasan situ).
Enggak dapat juga. (hadoooh...)
Karena waktu menjelang ashar sepakat ke Masjid Agung dulu.  Setelah shalat di lanjut lagi.
Kali ini menuju Kings. Masih nyari sepatu. Akhirnya (syukurlaaah) dapat di Giovani.
Ternyata belum selesai petualangan kita. Masuk lagi ke Kota Kembang, masih nyari sepatu buat Mama. Karena hari semakin sore, dan dikejar gerimis, akhirnya dapat juga itu sepatu.

Yuk yuk ke acara berikutnya. Kita menuju Cipaganti. Pas kita di bunderan dokter Cipto itu masih sekitar setengah lima. Ampuuuun... Cipaganti macetooosss.. Nyampe di rumah Saudara, di jalan apa itu yang ada SLB, udah hampir jam 6. Nggak mungkin kaaan ngobrol cuma sebentar, Terakhir ke sini klo gak salah aku hamil Faiz menjelang nikahnya Tante Mpi.
Akhirnya habis maghrib baru cabut. Pulang lewat Siliwangi, DU dan PHH Mustofa.
Udah waktunya makan malam booo....
Setelah rembug sana rembug sini sepakat ke Selasih di Jalan Cikutra.
RM Selasih ini aku mengenal dari kelompok pengajian. Udah lama banget juga nggak ke sana. Cuma pas kemaren diceritain anak KPP Majalaya jauh jauh dari Jl Peta ke Cikutra untuk ke Selasih, jadi aku keinget lagi.
Tempatnya enaaaak... luaaaasss... Wifi nya kuaaat... *ga nyambung* makanan ada Indonesia ada Eropa.  Dan yang terpenting harganya paaasss.
Papa pesan Sop Buntut dan Nasi Tutug Oncom *ga nyambung ya*
Mama pesan masakan Cina. Eci pesan mi sarang burung. Aku pesan mi Aceh. Abi nasi goreng dan F5 bakso. Minumnya jus biasa dan air mineral..
Tambahan pesanan ada roti maryam keju coklat susu (lumayan enak) dan aku bungkusin pancake buat anak anak.
Total semuanya 150 rebu.... *salah ngetung nggak ya... enggak kok, karena asli murah pas di kantong mahasiswa*
Ah ya.. pas sebelah kita makan ini ada sekelompok mahasiswa kayaknya lagi rapat getu.. trus di sebelahnya lagi ada keluarga besar (ketahuan dari jenjang umurnya yang berbeda beda, ada kakek nenek, ayah ibu dan anak anaknya)

Abis makan pada shalat isya di mushola. Trus pulang.  Pulang ? Eh nggak. Masih satu tujuan lagi. ke Jatihandap.
Sebagai penjelajah Bandung Timur berasa sotoy lah itu si Jatihandap. Komplek UNisba. Oh iya di sana. Di atas rumah boss-ku naik dikit... perasaaan
Eh ternyataaa.... Ya ampyuuun.. si komplek itu jauuuuuhhh.. sekali di atas sana. Mana malam. Jalan sempit. Hadoooh... beruntunglah si Papa udah dari kelas 6 SD bisa nyetir, belajarnya kan di jalan lintas Sumatera. Jadi medan segitu yah.. lewatlaah.
AKhirnya sampai rumah jam sepuluh. Anak anak yang nungguin di rumah udah pada ngantuukk. Pas tadi di Selasih aku bilang Abi, sms-in anak anak, kata Abi biarin aja. Sekali kali ditinggaliiin....
Tapi aslii baru kali ini  anak anak ditinggalin hampir seharian. Jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam.
Syukurlaaah.. mereka baik baik saja. Dan yang terpenting, nggak ada yang ngambek. Tau kali ya.. kita cuma mengantarkan tamuuu... Sekali kaliiii..

Ini foto Mama Echi, Echi dan Papa waktu di Selasih. Aku nggak sempat popotoan.

Jumat, 18 Mei 2012

Akhirnya...


Akhirnya... setelah sekian lama.. selain mudik tentu saja, baru kali inilah kembali jalan jalan dengan formasi full team.
Emang sih.. secara teknis bakalan susah jalan jalan bertujuh sementara kendaraan rodanya masih ada dua, belum nambah nambah juga.
Terpaksalah harus sewa roda orang lain ya.. hehehe.. Maka, pas Abi ngajak makan bareng minggu kemaren aku seneng banget. Walaupun berangkatnya separo tim naik motor dan separo lagi naik angkot nggak masalah laah..

Ceritanya minggu kemaren pas banget timingnya.
F1 sampai F3 baru pada selesai khatam AL Qur'an. Biasanya sih hadiahnya ke toko buku. Berhubung si rak buku udah mulai mual dijejalin melulu, dan belum ada rencana membeli rak lagi, maka untuk sementara membeli buku di stop dulu eh, tepatnya membawa pulang buku distop dulu. (karena ada aja buku yang masih nginep di laci kantor)
Jadi sebagai hadiah khatam kali ini adalah ngajak jalan jalan eh ngajak makan siang bersama.
Tujuannya kali ini masih yg sekali naek angkotlah.. yaitu ke Saung Legit di Cibiru.

Sebagai prolognya : Saung ini bener bener seperti rumah jaman dahulu.Masuk pertama di tampak muka adalah jajaran meja kayu persegi dengan kursi kayu yang kokoh bersandaran tinggi. Kayunya bukan kayu muda seperti kebanyakan sekarang, tapi kelihatan kayu tua. Trus agak ke belakang ada saung saung buat lesehan. Saungnya ada 4 doang. Yang dua terpisah, yang dua lagi bisa digabungin kalau pesertanya banyak. Dan khas rumah makan sunda ada kolam ikan ya.. tapi asyiknya di legit ini, kolamnya dangkal, tapi airnya penuh hampir sampai ke jembatan kecilnya. Jadi anak anak puas banget melihat ikannya yang besar besar itu.

Alhamdulillah kami dapat saung yang paling ujung belakang, yg menurutku paling enak. posisinya paling tinggi dan nggak dilewati orang.

Soal harganya ? di atas ampera dikitlaaah...Tapi karena judulnya hadiah khatam ya masih sekitar budgetlah.
Soal makanannya ? Di sini ada makanan Indonesia, ada juga makanan Eropa. Jadi tinggal pilih, mau nyoba yang mana.
Kalau tanya padaku gimana makanannya, aku pasti menjawab enak semua. Karena lidahku cuma mengenali dua rasa, enak dan enak sekali. haha. tapi berdasarkan apa yang dipesan sama anak anak dan yang direkomendasikan sama Abi.. Maka.... ini pendapat mereka :
Pesanan mbak si tenderloin steak - kayak sate katanya (tapi empuk lho...)
Pesanan fikri : chicken cordon blue - enak banget
Pesanan ayuk : spageti saus bolognaise katanya juga enak
Pesanan teteh : chicken steak katanya enak, kata mbak kayak sate. (ini empuk juga..)
Pesanan bejo : (sunda pisan) nasi timbel komplit - katanya enak juga wong dia makannya banyak 
Pesanan Abi : nasgor sea food. Kayaknya sih enak, soalnya si Abi dari rumah udah mantep mau pesan ini. Kata mbak juga enak. Kataku sih, kurang item/kurang kecap
Minumannya standarlah... jus jus gitu ada yg pake float es krim juga.
Tapi yang aku baru lihat adalah es cocktail yg ternyata aneka buah potong,disusun dalam gelas gitu, trus diatasnya dikasih eskrim . Jadi kayaknya lebih enak dimakan setelah es meleleh sampai buah iris yg paling bawah ya.. Tapi dasar anak anak, es krimnya di serbu duluan, jadi sisanya tinggal makan buah iris doang.

Ah, Tapi itu semua nggak terlalu penting, yang lebih penting dari makanan makanan itu adalah.. kebersamaannya. Sampai lama banget kita di sono.Sekitar dua jam lah. Goler goleran di saungnya yang disediain bantal kecil dan bantal gede. Sampai ngantuk karena angin semilir.
Sementara bejo malah asyik bolak balik cuci tangan yang wastafelnya pendek dan unik pisan. Yaitu pake bakul anyaman bambu yang di dalamnya dilapis semen kali ya.. jadi nggak bocor. Pokoknya tampak luar adalah bakul di bawah kran.
Trus klo mau manggil pramusaji kita pukul kentongan yg ada di saung. hihi..
Trus anak anak juga gantian mainin nangkepin capung dari android Abi yang dapat wifi gratisan

Yah pokoknya asyiklah. Dan tentu saja, untuk sementara hutang jalan jalan ke anak udah dibayar. hehe.. dan ini adalah pengalaman baru buat mereka. Makan makanan kelas menengah gitu... *emak emak pelit mulai berhitung, padahal membayar juga kagak*

Nah supaya nggak dibilang "no pic hoax" aku culikin foto dari sini.

RM Legit, Jl Cipadung, Cibiru

Sabtu, 28 April 2012

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu aku dah ngetik postingan tentang kehilangan. Mungkin bukan kehilangan hal yang besar. Tapi kok rasanya .. tetep gimana ya..
Ceritanya pas Abi ke Lampung kemaren, modemku dimainin Faiz. Sore itu padahal aku dan Faiz abis main lepi berdua. Nah pas aku shalat, aku dengar Faiz matiin leppi dan membereskan barang barangnya termasuk si modem itu. Aku lihat dia pegang pegang.Nah setelah shalat, aku pergi pengajian berdua Faiz. Mbak dan Fikri masih pada sekolah.
Malamnya pas aku perlu modem, si Faiz udah tidur.  Ditanyain ya nggak mungkinlah dia ingat. Kucari cari ngider seluruh penjuru rumah yang kira kira bisa jadi tempat nggeletakin modem, eh gak ketemu juga. Udah dibantu Mbak dan Fikri, tetep nggak ketemu.
Besok paginya pas Faiz bangun, kutanyain dimana modemnya. Dia langsung menuju rak buku. Dan, enggak ada. Nggak mungkin disimpan disitu, karena nggak ada orang yang mungkin mindahin.
Sampai besoknya dan besoknya dan besoknya si modem tetep nggak ketemu. Udah bongkar kamar, bongkar tempat mainan, meja kompi, rak baju dia, tas sekolah dia, tetep nggak ketemu.
Lenyap, tak berbekas.
Aku yakin Faiz nggak membawanya keluar rumah, soalnya pas pergi itu aku gandeng tangannya kosong. gak megang apapun. sampai seminggu itu modem nggak ada juga.

Kebayang kan ya, betapa seorang blogger (walaupun belum full time) dan  OL seller seperti aku kehilangan modem. Mana belum BEP lagi.

Selama beberapa hari itu, kalau malam semuanya udah pada tidur aku diam diam masih mencari modem. Berharap benda itu tiba tiba ada di anak tangga lah, atau diselipan buku. Atau tiba tiba muncul di dalam tas leppi.
Berharap keajaiban.
Di saat aku mencari itulah,diam diam juga aku sudah mulai melow. Gini ya rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Entahlah, akhir akhir ini aku sering mikir yang enggak enggak. Eh yang iya iya. Sering berpikir tentang kehilangan dalam arti kematian.Kematian kan sesuatu yang pasti ya. Entah aku yang ditinggal. Entah aku yang meninggalkan. Makanya MP-ku ini juga kunamai "di sisa waktuku" / di sisa umurku. Cuma kapan persisnya itu yang ghaib. Tak seorangpun tahu.

Yah, gitu deh. Kehilangan modem aja kebayang bayang di mata.

Syukurrr banget , alhamdulillah, emang di rumahku nggak ada juara beres beres yang bisa menandingi Abi. Tepat seminggu, dari Sabtu ke Sabtu, sepulang aku pengajian yang sama, modem itu sudah tergeletak di atas meja kompi. Abi yang menemukan. Di mana ? Di tempat aku selama ini nyari nyari. Jadi memang si bibi Titi ini yang kurang teliti. Apapun ya alhamdulillah.

Nah pas aku posting tentang kehilangan itu, udah panjang dan lebar, eh, si inet langsung putus. Akupun jadi ilfill untuk menuliskannya kembali. Tapi aku memang harus menuliskan kembali.

Sekarang aku akan bicara tentang kehilangan lagi. Ini tentang kehilangan orang yang kita cintai di rumah kita. Pasti bakalan sering ya kebayang dia mondar mandir di rumah, dia duduk, dan bercengkrama dengan kita. Memang aku ini yang melow banget kali yah.
Orang sekedar nutup korden rumah karena suami pulang kemaleman aja udah membayangkan gimana kalau tiba tiba tugas menutup korden itu menjadi tugasku selamanya. Tes tes, air mata udah langsung netes.

Waktu Ibuku meninggal, adik bungsuku sampai berbulan bulan nggak mau potong rambut, karena yang terakhir mencukur rambutnya adalah Ibu. Dia juga nggak mau makan, karena setiap makan pasti bareng Ibu/dilayani Ibu. (Emang adikku ini manja banget sama Ibu)
Udah gitu tahun itu memang dia lagi nganggur, udah lulus SMA , gagal SMPTN dan lagi bimbel (doang) buat SMPTN berikutnya. Hampir tiap hari bareng Ibu yang sudah pensiun.
Sedangkan aku, ketika Ibu meninggal, aku udah bertahun tahun ninggalin rumah. Udah gitu, Bapak dan  Ibuku juga udah pindah dari rumah tempat kami dibesarkan. Bisa dikatakan aku tidak/belum punya kenangan di rumah baru itu.
Tambah lagi, aku tidak bisa  mengantarkan jenazah ibu ke pemakaman. Karena Ibu meninggal di Jawa Tengah, dan tahun itu aku masih di Kupang.Bukan berarti nggak cinta kalau aku nggak kebayang bayang Ibu.
Karena yang kurasakan saat ini adalah, Ibuku bagai tetap ada di rumah, entah sedang apa. Mungkin sedang memasak kluban (urap) kesukaanya, lantas makan dengan nasi dingin dan duduk di dingklik. Atau mungkin sedang menjahit, sedang berkebun, atau merajut. Mungkin pula sekedar duduk duduk di teras belakang sambil cari angin.
Aku tidak punya memori tentang prosesi meninggalnya Ibu.

Demikian juga Bapak. Ketika Bapakku meninggal, kami semua masih di Kupang. Sebenarnya sudah ada SK pindah. Tapi berangkatnya masih dua minggu lagi. Karena masih packing, membereskan ini itu. Mau langsung pulang kampung, kok kesannya lari dari tanggung jawab. Pekerjaan belum diserah terimakan. Mau pulang, ongkosnya mahal amat. Tidak mampu kami bolak balik Kupang Jawa Tengah sebulan dua kali dengan 3 balita. Orang pindahnya juga atas permintaan sendiri jadi nggak dapat uang jalan.
Akhirnya kamipun tidak dapat mengantarkan jenazah Bapak ke pemakaman.
Sama seperti Ibu, akupun tidak pernah merasa Bapak meninggal. Yang kebayang (di rumah lama) Bapakku sedang baca koran sampai tertidur dan kacamatanya ditangan. Atau bercelana pendek di pagi hari, kemudian menyeterika pakaiannya sendiri. Paling sering adalah Bapak berjalan mondar mandir di halaman sempit depan rumah yang penuh batu kali. Batu itu ditata Bapak sendiri. Kalau sekarang orang menanam kerikil di semen untuk semacam pijat refleksi gitu. Dan kapanpun Bapak melihat ada batu yang berubah dari posisinya, entah karena anak anak berlarian atau karena aku nyapunya grusa grusu maka Bapak akan membetulkan posisi batu itu.
Kalau aku nyapunya nggak bersih (susah kan nyapu area berbatu), Bapak akan mengambil bambu kecil yang runcing untuk menusuk satu demi satu daun yang masih tersisa. Ada daun belimbing, daun jambu biji,daun jambu air.
Yah. aku tidak pernah melihat Bapakku meninggal.

Maka ketika Ibu mertuaku (anak anak memanggil Eyang Putri) meninggal dan ternyata kami pun tidak bisa mengejar saat pemakaman (padahal kami udah di Bandung), maka akhirnya aku mulai belajar. Mungkin inilah bentuk kasih sayang Allah pada perantau macam kami ini. Abi delapan bersaudara tapi cuma dia yang di luar Lampung. Semua ada di Lampung. Inilah cara Allah menghadirkan orang tua yang kami cintai. Di mana, aku dan suami dan anak anakku tidak bisa sering sering hadir secara fisik di dekat mereka. Mereka selalu hidup dalam benak kami berupa memori.
Allah sambungkan kami kini dengan doa yang kami lantunkan dengan sepenuh kesadaran, bahwa Allah udah memanggil beliau beliau semua.Dan kami berusaha ikhlas menerimanya.

Tapi diam diam juga kami jadi melantunkan doa, semoga ketika Eyang Kakung nggak ada nanti, kami diberi kesempatan untuk menghadiri, mengurus jenazah, memandikan dan mengantar ke jenazah ke pemakaman . Karena itulah bentuk penghormatan kami yang terakhir kepada orang tua.

Dan Sabtu dini hari kemarin, saat itu tiba. Telepon dari Lampung membangunkan kami semua. Pukul satu Eyang sudah tiada meninggalkan kami semua. Eyang yang kami cinta, Eyang tempat kami pulang, Eyang yang selalu kami rindukan dan hanya bisa bertemu (hampir) saat lebaran saja,kini telah kembali pada Robbnya. Pada Pencipta dan Pemiliknya.
Ternyata Sejak hari Selasa malam Eyang yang relatif sehat sepulang dari RS, udah nggak mau makan. Maunya shalaaaaaattt terus.
Kalau ditanya jawabnya sedikit saja. Mungkin beliau sedang bercengkrama dengan Allah dalam dzikir dan munajat.
Allah mudahkan kami pulang segera ke lampung. Dini hari itu aku langsung cari rental mobil. Tapi sampai jam 3 belum dapat juga.
Trus papa mbak Eci telepon, kalau sampai jam 7 belum masuk kapal, berarti nggak akan ketemu Eyang. Abi sudah hampir khawatir nggak ketemu lagi.
Aku yakinkan "bisa". Kita akan cari pesawat. Minimal Abi duluan.
Di saat kepepet itulah aku baru ingat kalau aku punya teman yang punya biro perjalanan.
Aku telpon dia dan alhamdulillah... Pesan mendadak untuk minimal dua seat ternyata dapat 8 seat. Semua dimudahkan Allah.
Semua sudah takdir Allah. Akhirnya kami dapat mengantarkan Eyang ke tempat peristirahatan terakhir.
Terbayang wajahnya yang sejuk dan damai. Bagaikan tidur saja. Semoga sakit Eyang selama beberapa waktu dan setahun terakhir sampai 4 kali dirawat, menjadi kifarat segala dosa.

Ya Allah, ampunilah dosa orang tua kami semua, sayangilah mereka di sana, dekaplah dengan kasihMu. lapangkanlah alam kuburnya, terangilah dengan cahayaMu.
Amiin

Senin, 23 April 2012

Cinta Buku

belum berani keluar kamar, atau pas ngantri kamar mandi, udah baca lagi. Walaupun kadKami mencintai buku. Amat mencintai buku. Ingat jaman SD dulu Ibu selalu pinjam dari sekolahan. Setelah aku agak gede, kebetulan aku ditugasi jadi penjaga perpustakaan. Uuuh.. senengnya.

Yah, perasaan pas aku udah punya uang sendiri, aku secara tetap menyisihkan uang untuk beli buku. Udah gitu aku kos sekamar dengan karyawan PT Gema Insani Pers (penerbit buku Islam yg jaya saat itu) . Eh, ternyata ketika sudah menikah, koleksi eh simpanan bukuku jauuuuuuuuhhh di bawah koleksi suamiku. Sampai dikatain, gajimu habis kemana, kok bukunya cuma segini.Yah, gimana enggak kalah, si dia sih, mainannya ke Kwitang. Pusatnya buku tea.Lagian, hihi.. tau sendiri lah.. cewek kan ini itu kebutuhannya. Ngomong pake bayar aja dijabanin. (telpon telponan maksudnya...) Jaman itu kan ada kartu telepon tea yah.. atau kalau di tempat kos ada telpon rumah pake koin. Klo kehabisan koin, nuker dulu di situ situ juga dengan membuka gemboknya.
Eh, kembali ke buku.

Katanya hari ini kan hari buku. (harinya dah mau habis). Unesco menetapkan 23 April sebagai World Book Day. Tujuannya adalah untuk menggiatkan membaca, penerbitan dan hak cipta. Sejarahnya kenapa tanggal ini yang dipilih,  karena  ini adalah tanggal lahir dan tanggal kematian William Shakespeare.

Dan, kalau mengingat masa lalu betapa buku itu sangat sulit didapatkan. Udah gitu harganya juga cukup mahal. Inget waktu di Kupang, NTT. Setiap ada teman tugas ke Jakarta entah diklat entah apa, pasti titipan kita ya si buku itu. Dari mulai buku serius semacam Fatwa - Fatwa Kontemporer ustadz Yusuf Qordowi, sampai buku kecil kecil untuk Fathimah dan Fikri saat itu.
Seneng juga sih melihat anak anak sekarang terlihat akrab sekali dengan buku. Pulang sekolah pada baca. Malam malam habis belajar, buku jadi pengantar tidur. Pagi hari kala mereka bangun tidur kepagian dan yang sebel juga, mau disuruh ini itu mereka sedang asyik berkutat dengan buku. hehe

Ini adalah beberapa sisa koleksi buku anak jaman Fathimah kecil dulu. (14 tahun lalu)

Buku buku di atas yang berjudul Labu dan Kehidupan Semut itu aku beli di Kupang. Udah di tumpukan paling bawah toko buku yang berdebu. Tapi bukunya bagus, terbitan Gramed klo gak salah. Trus buku Pocahontas itu nitip temenku yang diklat, tapi dia nggak mau dibayar, karena abis diklat keluar SK Mutasi dia pindah ke Jawa. Buku buku selanjutnya itu udah beli di Bandung. Terbitan Mizan Yang paling depan itu diwarnai sama Mbak Fathimah

rak pertama

Makanya, sekarang bersyukur banget di Bandung ini toko buku dapat di jangkau hanya dengan sekali ayun kaki. (lebay) Pameran buku tiga kali setahun ya.. Dua kali pameran Ikapi dan satu kali Islamic Book Fair. Belum lagi event-event nya Grup Gramedia yang udah nggak pernah ikut pameran buku Bandung lagi. Yang ada sekarang kejar kejaran sama anggaran RT yang makin membengkak.  Segitu juga tetep sih.. selalu jatuh cinta sama buku. Rak buku di rumah udah nggak sanggup lagi menampung pertambahanan buku.
Setelah pakai rak rak kecil diskonan dari hypermarket gitu... dan makin lama makin penuh, kebetulan sekali temen nawarin rak buku ini. Dengan bahan kayu jati, menurutku harganya sesuai lah.
Keidean dari rak pertama dan si penjual nawarin boleh mesen, maka kita pesan rak kedua. Sengaja dibuat tinggi dan jarak antar susunan nggak selebar rak pertama. Rak ini untuk menyimpan novel novel, materi materi kuliah, majalah dsb.
Tapi tetep aja rak buku masih berantakan dan buku anak anak pun masih nyebar di rak yang kecil kecil dan di meja belajar mereka.

PR : Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan semua buku buku itu.