Sabtu, 20 Mei 2023

Edisi Mellow

Pernah suatu hari aku bertandang ke tetangga yang kebetulan putra putrinya sudah mentas semua, dan tinggal jauh di kota yang berbeda. Kemudian tanpa kuminta, Ibu itu bercerita tentang perasaaannya. Kata beliau, setiap kangen anaknya, beliau akan memandangi kamar yang sekarang hampa, dan air mata pun akan mengalir begitu saja.  Kupikir waktu itu ibu itu lebay amat yak.. cuman ditinggal anak nikah, lagipula itu kan hanya soal waktu. Masih dapat bertemu. Toh teknologi komunikasi juga sudah berkembang, bisa melakukan panggilan video setiap saat, ataupun kalau berkunjung transportasi juga sudah begitu mudah. Tapi aku cuman membatin ya.. nggak kubilang juga "ah, Ibu lebay.."

Hingga akupun melihat sendiri ketika anak pertama kami kuliah di luar kota. Jaraknya hanya sekitar 20km. Sebenarnya dapat ditempuh pulang pergi setiap hari, tapi kasian juga anaknya nanti capek. Belum kalau pas ada tugas, yang mengharuskan pulang malam, kamipun harus mempertimbangkan soal keamanan. Akhirnya anak pun dilepas ngekost. Kami berdua yang mengantar, mencarikan barang-barang yang dibutuhkan untuk melengkapi kamar kosnya. Awalnya sih aku nggak nyadar ya sama perubahan pak Su, yaitu sering berlama-lama sholat di kamar F1. Setelah sekian waktu berlalu, baru cerita, kalau sebenarnya ketika sholat di kamar itu beliau dalam posisi kangen.. Akupun gak bilang "Ah, Abi lebay". 

Ketika F2 kuliah di kabupaten sebelah dan ngekos juga, sedikit banyak udah lebih siap ya..  Karena doi kan anak laki. Sebenarnya bisa juga ditempuh PP, tapi kami belum memungkinkan untuk menambah kendaraan roda dua, jadi buat kelancararan kuliah di tahun pertama, F2 pun ngekos.  Alhamdulillah di tahun kedua adar rezeki, F2 pulang ke rumah, nggak ngekos lagi. Tapi senam jantung mulai episode baru. Pulang jelang tengah malam... bikin deg degan dan susah tidur. Akhirnya minta dia untuk selalu share loc kalau pas on the way pulang. Walaupun kadang umi tertidur juga sih... tapi masih banyak begadangnya.  Lama lama juga biasa...

Ketika F3 kuliah lebih jauh lagi, drama baru pun dimulai. Karena kebetulan umi yang mengantar dan mencarikan kost-an, jadi kebayang perjalanan kuliah-tempat kos seperti apa. Jadi setiap malam pun dipantau, lagi dimana, udah pulang belum... utamanya itu.. yang lain lain soal makan dan kesehatan otomatis aja ikutan. Tapi ya alhamdulillah nggak lebay.. menurutku sih biasa aja.. nggak tau ya kalau orang lain melihat mah..

Beda cerita pas F5 yang sekolah di luar kota ya.. udalah paling kecil, eh sekolahnya paling jauh pula. Si Umi yang paling melow ternyata. Gimana enggak ya.. Pas doi masih di rumah, setiap malam ada night routine, setelah sesi membaca buku bersama F5 selalu usap usap kepala Umi dan cium umi sebagai pengantar tidur . Kadang disertai kata-kata, "mimpi indah Umi... semoga Umi mimpi ketemu Rasulullah SAW, good night... yah semacam itu lah.. Kalau umi udah (pura-pura) tidur, dia baru naik ke kamarnya. Dan itu nggak ada yang menggantikannya melakukan itu semua.. Tapi kemudian sesama walsan saling mengingatkan, seorang ibu harus tenang, nanti anaknya juga ikut tenang. Kalau umi gelisah, kepikiran, anak pun di sana jadi nggak betah. Beneran TITIP-nya... (Tega, Ikhlash, Tawakal, Ikhtiar, Percaya).



Alhamdulillah mungkin memang sudah Allah siapkan skenarionya ya.. bersamaan dengan F5 lanjut sekolah itu, Umi pindah kerjaan baru yang cukup menyita waktu dan pikiran. Nggak lama sih, tiga bulan aja, tapi kayaknya itu jadi pengalaman kerja terberat sepanjang 30 tahun aku kerja... ini nggak lebay ya... asli. Jadi pas pulang ke rumah karena udah capek bisa segera tidur walaupun tanpa di ninabobo.

Dari beberapa peristiwa itu, sekarang aku jadi belajar  menahan diri, untuk tidak menggunakan kata "lebay" secara serius.  Soalnya kondisi orang itu beda beda kan.. kekuatannya juga beda-beda.. jangankan beda orang, beda waktu aja bisa jadi seseorang udah beda kekuatan... Sekian cerita soal mellow-mellow an. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.