Sebagai warga Kota Bandung yang sudah terdaftar sejak tahun 2002, aku terbilang jarang banget olah raga di Gasibu. Selain karena jaraknya yang lumayan jauh dari rumah, Gasibu juga selalu menjadi lautan manusia setiap hari Minggu tiba, Kayaknya datang dari seluruh penjuru kota Bandung tuh, orang-orang. Bahkan mungkin juga dari sekeliiling, seperti Cimahi, Kabupaten Bandung ataupun Kab. Bandung Barat. Mungkin orang luar kota yang liburan juga ada.
Tetapi, akhir akhir ini aku suka menjadikan Lapangan Gasibu sebagai tempat janji temu. Jadi kalau janjian dengan teman yang lokasinya jauh dari Bandung Timur, ya udah pas banget deh di tengah sini. Aku pikir, dari pada ketemuan di tempat makan, pesan makanan, ngobrol-ngobrol terus pulang. Mendingan janjian di sini, olah raga bareng dan akhirnya ya makan makan juga sih.. tapi setidaknya sebelum masuk kalori baru udah ada kalori yang terbuang sebelumnya. Lumayan kan..
Biasanya olah raga yang kulakukan di sini ya cuman jalan kaki aja. Karena sejujurnya aku udah nggak kuat lari juga. Belum pernah coba lagi sih, cuman kalau sesekali lari entah mengejar angkot atau bis kota, habis itu rasanya engap banget. Jadi ya udahlah menyerah aja.. mengingat faktor usia yang udah nggak muda juga.
Jalan kaki di Gasibu aku tetep memakai masker. Orangnya itu banyak banget. Pokoknya kalau jalan di sini depan belakang kanan kiri full orang. Memakai masker juga melindungi aku dari kamera kamera yang bergentayangan. Di mana orang-orang banyak yang membuat konten juga, dan kadang tanpa permisi masukin kita ke dalam framenya. Sebagai penganut paham memblurkan orang di media sosial, sungguh aku nggak terima kalau aku masuk ke dalam frame orang tanpa izin. wkwkwk..
Selain lari dan jalan kaki, di sini bisa juga olah raga bulu tangkis. Di sekitar lapangan terdapat persewaan raket, tepatnya di jalan antara lapangan dengan Hotel Pullman. Main bulu tangkisnya di situ juga, tanpa lapangan. Jadi ya ala ala aja... Yang penting keringetan dan gembira..
Setelah lelah berolah raga, waktunya wisata kuliner... Tahun lalu sempat kelihatan banyak penjual di jalan samping pullman itu. Tapi hari ini tadi kulihat udah bersih. Bahkan di lokasi bekas jualan itu terlihat beberapa aparat sedang duduk istirahat. Tapi ada juga sih tukang dagang semacam tukang pecel gendong, tukang eskrim, arum manis, kopi panas, dll.. intinya mah yang bukan jualan pake gerobak masih bisa jualan di situ.
Karena yang kucari kali ini adalah sate jando/gajih, aku dan temenku celingak celinguk.. Ketika melihat asap di kejauhan, aha.. pasti itu tuh.. kami pun berjalan ke arah taman Lansia. Ternyata tukang sate udah pindah ke situ. Kami pun memesan 10 tusuk sate ayam dan 10 tusuk sate jando. Total harganya 70rb rupiah. Karena tempatnya penuh banget dan ditungguin antrian, kami makan sat set tanpa ngobrol ini itu.
Setelah mengambil motor di Taman Lansia, kami pulang bersama setelah mengambil motor di Taman Lansia dengan biaya parkir 5 ribu rupiah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.