Catatan ini disarikan dari buku yang ditulis oleh Muhammad Rasyid Dimas, penasaran lihat
namanya kirain orang Indonesia. Ternyata buku ini merupakan terjemahan.
Muhammad Rasyid Dimas ini lulusan Fakultas Pendidikan dan Psikologi Al
Imarat University dengan nilai excellent dan menduduki peringkat satu. Selain itu beliau juga master (excellent juga) di Bidang Perencanaan, Analisis dan Perancangan Sistem.
Menurut beliau, ada 20 kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak
1. Memaksakan kewajiban tanpa memberi pemahaman
Kebanyakan
yang dikatakan orang tua adalah kalimat perintah. Misal, cepat bangun,
cepat makan, pakailah pakaianmu, dsb. Hal ini kadang membuat anak pura
pura tidak mendengar dan tidak mengerjakannya. Disisi lain, orang tua
juga tidak boleh membiarkan si anak menolak perintah dan melanggar
larangan lantaran mengikuti hawa nafsunya. Maka menjadi kewajiban orang
tua untuk memberikan pemahaman tentang apa dan kenapa suatu kewajiban
dibebankan.
Hal
ini akan melatih daya pikir si anak untuk menjangkau suatu hikmah atas
kenapa suatu kewajiban ditetapkan. Jangan sampai kelak dia melanggar
peraturan dan meninggalkan kewajiban hanya dengan alasan karena dia
tidak yakin atau belum bisa menerimanya.
2. Menyikapi perilaku anak hanya dengan satu pola
Misalnya
orang tua selalu bersikap keras, padahal anak sudah berusaha menjadi
baik. Ini akan membuat anak putus asa dan malas berbuat baik, toh tetap
dipersalahkan. atau anak selalu disanjung padahal dia berbuat
kesalahan, maka akan membuatnya tidak mempunyai kepedulian.
3. Enggan menerapkan disiplin
Anak
membutuhkan disiplin seperti mereka membutuhkan kasih sayang. Kadang
orang tua mudah berputus asa, atau lemah tekadnya untuk membuat anak
disiplin. ada juga orang tua yang khawatir, ketika dia menerapkan
kesiplinan, maka akan kehilangan cinta si anak.
4. Tidak menggunakan siasat nafas panjang saat menyikapi kesalahan anak
Sabar,
sabar dan sabar. Itulah kata yang mewakili dalam hal mendidik anak.
Wasiat "jangan marah" yang sering diungkapkan Rasulullah juga berlaku
dalam mendidik anak. Karena sikap sabar, tenang, bijak dan pemaaf sangat
diperlukan dalam membentuk kepribadian anak.
Beberapa hal yang harus difahami orang tua dlm menyikapi kesalahan anak :
- parameter dunia anak berbeda dengan parameter orang dewasa
- anak berbuat kesalahan adalah lumrah, karena sedang proses belajar
- permasalahan personal tidak akan selesai dalam sehari semalam, jadi perlu waktu dan kesabaran
5. Tidak berupaya mengetahui motif anak berbuat salah
Kadang
si anak berbuat kesalahan tanpa sengaja atau tanpa tahu bahwa dia
berbuat kesalahan, jadi orang tua harus berusaha mengetahui latar
belakangnya.
6. Selalu menerima syarat yang diajukan oleh anak
Hentikanlah
memberikan imbalan atas suatu kewajiban yang dilakukan anak. Ini seolah
olah merupakan "suap" bagi si anak. Lebih baik meluruskan motivasi si
anak sejak awal daripada setelah besar lebih susah untuk melakukannya.
7. Berlebihan dalam berjanji kepada anak
8. Menghukum anak atas perbuatan baiknya
Misalnya,
si anak tiba tiba membereskan tempat tidur sebagai kejutan untuk
ibunya. Setelah itu dia lapor pada ibunya, Bu aku sudah membereskan
tempat tidur. Kemudian si Ibu berkata : Kamu harusnya mandi dulu baru
membereskan tempat tidur !"
Nah
si anak akan kecewa. Atau orang tua yang malas memberikan pujian atas
hasil karya anak, karena dia sedang sibuk bekerja, dengan jawaban
jawaban "Sana, main lagi aja, ibu sedang sibuk" dll secara tidak
langsung "menghukum" si anak yang telah berbuat kebaikan.
9. Tidak menghukum perilaku buruk anak
Misal
si A memukul temannya, orang tua hanya berkata "namanya juga anak-anak,
nanti juga berbaikan lagi". Ini akan membuat si A semakin menjadi -
jadi di lain waktu.
10. Memberikan isyarat negatif Katakan selalu kata kata positif terhadap anak untuk memotivasi. Kamu anak pinter, kamu anak pemberani dsb
11. Membandingkan seroanga anak dengan anak lain dengan tidak adil
12. Memberlakukan standar ganda
Misalnya,
pernah orang tua tertawa-tawa dan merasa lucu ketika si anak jalan
jalan telanjang dalam rumah. Besoknya dia melakukan hal yang sama tapi
pas ada tamu, eh, orang tua marah. Maka si anak akan bingung.
Contoh
lain, orang tua meminta anak bicara jujur, tapi pernah meminta si anak
mengatakan ayah tidak ada, ketika ada tamu yang tidak disukai, dll.
13. Tidak memenuhi kebutuhan kasih sayang dan cinta anak
Anak
membutuhkan kepasatian bahwa dirinya dicintai. Rasa cinta kepada anak,
akan membuatnya aman dan tentram serta tumbuh alami dan terhindar dari
kegoncangan jiwa, frustasi maupun rendah diri. Anak yang mendapat cinta
dan kasih sayang, lebih cenderung bersikap patuh, bisa bekerja sama dan
disiplin.
14. Tidak memperhatikan patokan-patokan dalam memberikan sanksi fisik
Tidak
memberlakukan hukuman fisik sama sekali, adalah hal yang salah juga.
Tetapi, hukuman fisik adalah langkah terakhir. Selain itu, hindari
menghukum saat marah. Ada tahapan tahapan memberikan hukuman :
- sampai dua tahun anak tidak boleh dihukum, tapi diberi imbalan atas perbuatan baiknya.
- setelah tiga tahun anak dapat menangkap perubahan roman muka ketika kita marah atau tidak suka.
-
sampai usia delapan tahun, hukumannya adalah mengambil/mengurangi
kenikmatan jika si anak bersalah.misal anak merusak mainan, maka
mainannya disimpan utk waktu tertentu.
- sampai sepuluh tahun, anak ditegur dengan kata-kata.
- setelah 10 tahun anak boleh dipukul dengan "pukulan edukatif". (tidak dimuka, tidak di kepala, tidak menyakitkan, tidak keras)
- mengganti pukulan dengan kecaman ketika si anak sudah sampai tahap "menjadi teman" yaitu sekitar 12-14 tahun.
15. Tidak memperhatikan perbedaaan individual dalam mendidik anak
Setiap
anak mempunyai kecenderungan yang berbeda, ada anak penurut, ada anak
yang mudah menerima akhak baik, ada anak kritis, semua harus disesuaikan
dengan si anak.
16. Tidak bertahap dalam berinteraksi dengan anak
Dalam
memperbaiki akhak, pertama yang kita lakukan adalah meluruskan secara
umum di hadapan semua anak tanpa menyebutkan si pelaku kesalahan. Jika
tidak berhasil, maka luruskanlah di tempat tertutup (terpisah dari anak
lain). Selain itu, bila cukup dengan isyarat, maka janganlah dilakukan
dengan yang lebih keras dari itu. Harap dipahami, bahwa manusia sulit
untuk merubah seluruh perilakunya secara sekaligus, sehingga harus
bertahap.
17. Menghina, melecehkan, dan diskriminatif dalam memperlakukan anak
18. Tidak kompak dalam cara mendidik
Komunikasi
orangtua, ayah dan ibu, harus menerapkan cara yang sama dalam mendidik
anak. Jangan sampai si ayah menolak prinsip ibu, atau sebaliknya. karena
ini akan membingungkan si anak.
19. Tidak melibatkan anak dalam membuat aturan
Ini
adalah semacam kesepakatan antara ortu dan anak. Sehingga anak pun akan
lebih bertanggung jawab ketika dia juga ikut menentukan peraturan.
20. Bersikap negatif dan salah terhadap anak
Otoriter, over protektif, mengabaikan/tidak peduli, memanjakan adalah contoh sikap yang salah terhadap anak.
wallahu 'alam bish-showwab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.