Desember 2012
Siang itu aku berniat ke sekolah mbak Fathimah untuk mengambil raport. Aku berangkat dari kantor dengan motor pinjaman.Selembar limapuluh ribuan terakhir kubawa untuk berjaga-jaga.
Untuk menyingkat jarak dan waktu aku mengikuti jalur angkot, melewati jalan pintas ke arah Antapani melalui jalan Jakarta yang satu arah. Sempat curiga juga kok enggak ada motor selain aku? Ketika melihat polisi bergerombol di perempatan, sempat terpikir mau 'pura-pura' membeli kue di toko kue yang ada di dekat perempatan. Tapi ketika ingat bahwa uangku tinggal selembar, maka niat itu aku urungkan.
Benar saja, seorang polisi segera berdiri menyambut ketika motorku makin mendekati mereka.Aku berhenti.
"Selamat siang, bu. Boleh lihat SIM nya ?" kata pak polisi sopan
Aku dengan pede mengeluarkan SIM, pak polisi mengamati.
"Maaf Bu, SIM Ibu sudah habis.
"Masa sih, Pak ? Bukannya masih tahun depan Pak?'. tanyaku kaget campur polos.
"Benar Ibu, silakan dilihat, sudah habis sejak 6 bulan yang lalu " kata pak polisi seraya mengembalikan SIM-ku.
"Aduuh maaf pak, saya tidak pernah mengeluarkan SIM dari dompet. Saya ingatnya baru habis tahun depan bersamaan dengan KTP saya. " Kataku sambil menyerahkan KTP ke pak polisi
"Ibu mengajar di mana ?" pak polisi menyelidik
"Saya ibu rumah tangga sesuai KTP saya. *maaf, KTP-ku memang ibu rumah tangga. Ini mau ambil rapot anak saya, Pak" belaku sambil ngebayangin bakal 'kena' berapa nih.
"Nah Ibu, Ibu melanggar dua peraturan ya bu.. pertama ibu mengemudi tanpa surat ijin yang sah, kedua ibu memasuki jalur yang dilarang. Boleh pinjam STNK- nya ?" kata-kata pak polisi bagaikan vonis bagiku.
Dueng dueng.. dengan berat hati aku keluarkan STNK motor pinjaman. Aku berdebar menunggu. Apa kelanjutan dari ini semua. Apakah seperti yang diceritakan teman-temanku ?
"Bu, pelanggaran ini mau di selesaikan di persidangan atau di sini ?" pak polisi menawarkan solusi yang aku sudah tahu kemana arahnya.
Aku berhitung cepat. Mengingat kerjaanku sebagai semacam customer service yang agak susah keluar *tepatnya enggak tega sama temen sebelah kalau sering sering ijin keluar * dan aku juga teringat kata bapakku dulu, kalau ditilang maka STNK akan ditahan. Aduh, gimana nih, ini kan motor pinjaman. Nanti aku bilang gimana sama pemilik motor. Setelah mempertimbangkan hal - hal tersebut, akhirnya akupun memilih menyelesaikan di tempat.
Dengan berat hati kuserahkan lima puluh ribuan terakhirku untuk menyelesaikan urusan agar aku bisa segera ke sekolah mbak dan segera balik kantor . *padahal kabarnya bisa minta kembalian yah *
*kisah nyata, 395 kata
Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Kinzihana
Tilang? saya pernh kena tilang dua kali mbak.
BalasHapusYg kedua karena lupa gak nyalakan lampu depan motor dan mbonceng teman tanpa helm [lha kan searah pulang kerja, dia mau ke terminal naik bis],
al hasil STNK di tahan deh dan pas sdang gak bisa dtg jd ambil STNKnya ya di Polres dgn tetap byr denda
hihi ... kalau ditumpangin teman itu ya mbaak... kadang kita serba salah. Semoga enggak kena tilang lagi deh.. kedepannya.
HapusIiiiish, harusnya minta kembalian, mbak.
BalasHapusBilang aja, kembaliannya mau buat beli makan siang anak2. kalo dia nggak mau ngasih juga, TER-LA-LUUUU...!
hihi... waktu itu aku kan belum tahuuu... *masih polos
HapusHihihi......
BalasHapusNo comment ah... :D
komen dong mbaak...
HapusDuh r=tilang menilang itu kayakberhadapan sama malaikat maut ya hihi
BalasHapusmakasih ya mak sudah berpartisipasi
Makluuuumm.... baru pertama.. jadi takut juga Mak
HapusMakasih kembali :D