Sebagai seseorang yang menggeluti multi peran (cie cie...) dan memiliki
multi talent (jiah.. enggak banget) salah satu hal yang kulakukan di
sela sela hari libur adalah berkebun. Di seberang jalan depan rumahku
terbentang sawah nan luas, adalah setengah hektar. Tapi bukan milikku ..
hehe.. jadi aku cuma menikmati saja proses si Bapak membajak sawah,
menyemai bibit, menanamnya, mencabut gulma dan beberapa hari (iyah,
hari.. karena gak kerasa, usia padi kan paling 3 bulanan yah..)
kemudian, akan terdengar suara kelontang kaleng kaleng berisi kerikil
pengusir burung burung ketika padi mulai menguning. Dan saat yang paling
berbahagia adalah ketika di pagi buta, beberapa Ibu sudah duduk duduk
di pinggir sawah, itu pasti saatnya panen tiba. Lumayan laaaah... meski
cuma lihat, cukup jadi pengusir penat kehidupan kota Bandung, wabil
khusus Cijambe, yang mulai macet di pagi dan sore hari.
Eh,
kebunku bukan yang kuceritakan tadi ya.. kebunku hanya sepetak tanah
sisa yang tidak dibeton oleh pemilik lama, kira kira ukuran 50 cm x 200
cm. Hayaaah.. berkebun apa ?? Macam macamlah aku tanam di situ. Ada
bunga anggrek liar di pinggir tembok, disusul rumput menghampar,
dipinggir pinggirnya aku tanam sansivera, disela sela rumput sekarang
aku tanam sebuah pohon nanas (haha..sebuah saja), satu pohon kunyit, dan
satu pohon kemangi. hehe.
Nah di hari bumi tahun ini, aku menanam
pohon kersen. Orang ada yang bilang buah cery kampung, atau apalah
terserah kalian menyebutnya. Eit jangan diketawain, itu pohon pinggir
jalan ya.. Ini mah soal menentramkan diri, mengenang masa kecil,
memanjat pohonnya, meraih buahnya yang mulai merah ranum, dan langsung
hap ! masuk mulut tanpa dicuci. hmmm... yummmi...
Beberapa teman
melarangku, Bibi juga, katanya banyak ulat. Suamiku nggak ngelarang (ya
eyalaaah... dia kan tumbuh di kota, gak hafal masalah 'perkebunan'. Abi
lah yang membantu menghancurkan semen kira kira ukuran 50x50 cm, dan
menggali lubangnya untuk si Kersen kesayangan. Daaaannn... dalam 6 bulan
saja, pohon itu sudah tumbuh, rimbun dan rindang. Lengkap dengan ulat
ulatnya yang bergelantungan (tuh kaaan.... kata Bibi). Ulat bulu
lagiii....
Merasa sebagai satu satunya oknum yang wajib bertanggung
jawab, hari Sabtu pagi minggu lalu aku berpakaian lengkap, membawa galah
dan memukul mukul ranting kersen itu agar si ulat berjatuhan. setelah
berjatuhan, dengan kejamnya aku matiin pakai galah bambu. Adalah....
barang 30 ekor ulat. Alamaaaak.. janganlah kau tanya apa yang kurasakan
ketika melakukan itu. Demi si buah cery kampung aku rela melakukannya.
Mau lihat sebagian ulat itu ? Ini dia, yang bersembunyi di bawah pot di dekat pohon kersen itu.
Hiiiii....
hiii...geli liatnya....*merinding.... :)
BalasHapuskunjungan perdana,..slm kenal yaa maaak
hihi... saya juga sebenernya, tapi gimana lagi, gak ada yang mau membasmi. Jadi terpaksa si penanam pohon harus tanggung jawab.
HapusMakasih kunjungannya ya Maak. *siap2 kunjungan balik
ulaaatttt.......... hiiiiiyyyyy..
BalasHapus*kabur...
hi.. hi.... *kejar, sambil ngacungin ulat bulu di ujung ranting
Hapusulat..... bisa nangis aku liatnya. Trauma lagi kecil, bengkak sekujur tubuh hanya dicium ulat kekekekke
BalasHapuswah harus di terapi dong bun, biar ilang traumanya :)
Hapus