Habis nulis cerita sedih,
saking menghayatinya sampai ini muka juga kebawa sedih. Sampai sampai
di kirimin pesan dari teman di back office katanya klo ngelayanin
customer jangan pake cemberut. Walaupun aku ngeles, aku hari ini off
dari melayani customer karena dapat tugas lain, mencetak tanda terima
surat dari pos yang seabreg jumlahnya. Hihi.. tapi katanya ituh para
tamu kan tetap melihat wajah cemberutku (padahal sedih).
Baiklah biar
agak sedikit ceria aku cerita lucu tentang seorang Bapak yang sudah
sepuh. Aku perkirakan usianya di atas usia pensiun. Mungkin sekitar 60
tahun bahkan lebih. Cara bicara dan cara berjalannya yang mengatakan
itu.
Pertama aku bertemu adalah waktu bapak itu lapor spt tahunan.
Tapi belum diisinya si laporan itu. Beliau hanya membawa SSP. Jadi aku
nggak bisa menerima.
Lucunya begini, laporan tahunan itu kan
diterimanya di tenda khusus di luar kantor. Sedangkan kami di loket
hanya menerima laporan bulanan. Saat itu antrian penuh sekali. Pas aku
panggil nomor 130 (wuih aku masih ingat nomornya), dan ternyata nomor
130 ini lapor tahunan dan aku persilakan ke loket di luar, dengan sigap
bapak ini menggantikan posisi nomor antrian 130 sambil meminta potongan
kertas nomor antrian 130 yang tadi tidak diberikan padaku oleh si nomor
130 yang asli.
Tweng weeeng....
OK Baiklah... berhubung sudah
sepuh aku sedikit mentolerir dengan menerima laporan beliau. Walaupun
sesungguhnya laporan itu tidak dapat diterima juga, karena ternyata ada
kesalahan nomor kode di SSP-nya. Harus dilakukan pemindahbukuan. Jadi
aku persilakan beliau untuk konsultasi ke AR karena kalau aku jelasin di
loket, antrian bakal mandek dan jadi panjang.......
Nah dua hari
kemudian, ada anak muda yang membawa satu tumpuk laporan bulanan dan
surat surat. Saat itu loket juga ramai sekali. Maklum mendekati tanggal
20, batas akhir laporan bulanan.
Eh, di antara surat itu aku
menemukan surat si Bapak yang tadi. Permohonan pemindahbukuan. Nah,
iseng iseng aku ajak ngobrol si anak muda tadi (kupikir tadinya
konsultan si Bapak),
"Oh, ini jadinya pemindahbukuan ya ?" kataku sambil menginput surat si Bapak.
"Ada masalah bu ? " tanya si anak muda. "Soalnya saya tidak tahu, saya cuma dititipin, itu Bapaknya ada di belakang".
Gubrak
!! Aduh Maaaak.... aku mau berburuk sangka nih, kayaknya Bapak itu
sadar benar, dengan ketuaannya dia bisa mendapatkan kemudahan. Yang
pertama 'nyabet' antrian orang, yang kedua 'nitip' ke antrian yang lebih
awal.
Tapi aku kok jadi miris ya... dengan aksi menelikung nelikung seperti ini... apa jangan jangan aku yang lebay !! *tepok jidat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.