Suka duka bekerja di tempat yang dinilai orang begitu basah, begitu
mudah menerima segala pemberian dan gratifikasi, ya resiko laaahh..
Sebelum
koorps-ku modernisasi sih aku mafhum sekali bila itu terjadi. Tapi
setelah hampir sepuluh tahun berjuang, merubah keadaan, merubah kondisi,
membangun citra, Oh.. kalau masih menemui hal hal seperti itu, Aduuuh... sedih deh...
Memang
sih, dalam hati kecilku, akuu tidak memungkiri, pastilah masih ada
segelintir orang yang masih bermain api. Mereka yang biasa hidup berfoya
foya dari uang persembahan, pasti nggak akan cukup hidup sederhana
dengan uang barang belasan juta (kelas pejabat), atau uang 8-10 juta
kelas rakyat seperti aku. Yang bagiku itu sudah jumlah yang
alhamdulillaaah...
Kalau nurutin napsu (sengaja ya, ditulis pake 'p') mah gak bakalan ada habisnya..
Yap,
kembali ke topik. Peraturan pelayanan di kantorku adalah dari jam 8
pagi sampai jam 16 sore. Kemarin ada customer datang, mau lapor, udah
lewat dari jam empat. Melihat wajahnya dan kusut rambutnya, nggak tega
rasanya mau menolak. Mana perempuan lagi. Gerimis pula. Aduh.. bener
bener nggak tega deh, memintanya datang kembali esok pagi.
Akhirnya aku terima saja laporan dia, karena itu laporan tahunan yang tanda terimanya manual.
Setelah berbasa basi sebentar, si mbaknya bilang
"Mbak.. jangan marah ya.."
"Iya nggak papa, kan mbak nggak saya marahin kan ? ini laporannya saya terima" kataku
"Iya terima kasih. tapi ini udah di luar jam kerja Mbak .." kata dia lagi
"Oh,
ini masih jam kerja saya, jam kerja saya sampai jam lima sore" kataku
lagi sambil nyekrek nyekrek tanda terima ke laporannya.
Eh, tiba tiba
si mbaknya ngeluarin duit dan menyorongkannya kepadaku . Alamaaak....
Aku yang (terus terang) baru pertama mengalami kaget. Dan untunglah
segera mengendalikan diri
"tidak mbak terima kasih. Kami tidak
menerima pemberian dari pelayanan yang kami berikan" Kataku. Pasti kalau
wajahku putih, saat itu jadi merah. Aku sih, malu aja klo menerima
gituan. Kayaknya kok nggak sebanding sama harga diri yang di
pertaruhkan.
Akhirnya mbak nya mengerti dan pulang. Semoga dia mengenang, bahwa tidak semua pegawai korps-ku mudah tergoda oleh uang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Kesan
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.