Rabu, 07 Mei 2014

IQ Anakku Very Superior ?


Fikri udah mau UN minggu depan. (ini ketauan draft dari tau kapan).
Fikri udah UN hari ini. Eh, sudah tinggal sehari lagi, besok. Mohon doa ya teman temiiin...
Kalau lihat effort dia sih... aku gak se-dag dig dug jaman Fadhila.
Umminya berdoa ? Ya insya allah... namanya juga ibu, pengen yang terbaik buat anaknya.
Apalagi semester dua ini dia mulai rajin shaum senin kamis. Pernah nyobain puasa daud tapi nggak tahan kali ya... karena masih banyak kegiatan. Masih les seminggu 2x pleus kadang futsal sama teman-temannya.

Kalau aku lihat trend prestasinya juga alhamdulillah ada peningkatan.
Aku sih bukan type yang minta anak jadi juara. Aku cuma minta mereka 'berlomba dengan dirinya sendiri'.  Katanya kan nafsu itu lawan yang paling berat ya... soalnya bak musuh dalam selimut gituu...
Ya alhamdulillah dari posisi 20 sekian di kelasnya pas naik kelas tiga kemarin, Fikri masuk 10 besar kelas di semester 1. Dan beberapa TO juga nilainya membaik.
Aku pernah posting sekilas  tentang hasil TO Fikri di sini.
Makanya pas Fikri bilang mau sekolah di tengah kota, di SMA-nya pak Walikota dulu, akhirnya Abi berpikir ulang soal sekolah harus dekat rumah (dan negeri dan bagus hehe) .
Abi pun memberi gambaran Fikri nanti musti berangkat jam berapa, sarapan jam berapa (ini terkait Ummi kan kudu masak jam berapa), dan pulangnya pun jam berapa harus diperhitungkan resikonya, capek dsb.
Soal biaya nanti Abi dan Ummi yang pikirkan, bagian Fikri adalah meraih nilai agar bisa masuk sekolah tsb. Abi kasih target 5 besar di sekolah sekarang, baru yakin ( insya Allah) masuk SMA 3.
Soalnya SMA 3 dan SMA dekat rumah itu kan sama-sama cluster satu. Kalau Fikri nggak masuk 3, nggak bisa lagi milih SMA dekat rumah walaupun nilainya cukup, dia harus masuk yang cluster 2.
Fikripun terdiam. Mikir kali ya... biasanya jam 6 masih bisa hahahehe di dapur sama aku, atau main bola sama Faiz, ngupi-ngupi cantik eh ganteng dsb.

Nah, hari kemarin pas dia nunjukin hasil TO terakhir yang turun, dia bilang mau berfikir ulang soal sekolah tengah kota. Males euy.... pagi pagi sekali perginya.
Ya kubilang aja, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mendapat sesuatu. Jer basuki mawa bea. Itu kata orang Jawa.
Ya kita lihat nilai kamu ntar ya Nak....
Kemudian  aku juga ngingetin dia agar jangan terpengaruh soal gossip bocoran soal dan lembar jawab. Pokoknya bismillah.
Bukan sekedar jumlah nilai yang kita kejar, tapi keberkahan ilmu itulah yang jadi tujuan, sebagai bagian dari ibadah kita. Dan itu hanya bisa bila selalu menjaga kejujuran.

Kemudian, beberapa hari lalu dia menunjukkan psikotest di sekolahnya. aku sedikit kaget lihat hasilnya.

M. Fikri Ghazy Rabbani memiliki potensi kecerdasan berada pada taraf very superior dengan IQ-158 (berdasarkan skala TIKI) ptensi dalam bidan akademis yang dimiliki sangat baik, tetapi diharapkan jangan cepat puas dan tetap mempertahankan prestasi yang ada
Terus terang aku kaget. Antara bahagia dan cemas. Seneng lah ya.. anak berpotensi pinter, kan kecerdasan nurun dari ibu (keukeuh). Tapi cemas dan khawatir juga, jangan jangan selama ini aku dan suami belum memberikan pola asuh yang cocok buat anak pinter gitu. Jangan jangan selama ini banyak potensi kecerdasan yang terabaikan. Banyak laaah... sampai-sampai, jangan jangan karena pengentahuanku yang terbatas, jadi banyak hal yang Fikri butuhkan yang nggak kepikiran olehku.

Melihat hal itu aku bertanya kepada salah satu psikolog yang aku kenal. Sedang S3, praktisi pendidikan.
Pas aku bilang anakku IQ 158 dia bilang nggak mungkin. Biasanya test yang di sekolah itu levelnya lebih mudah. Jadi nilai IQ akan turun.
Tapi kemudian dia meralat lagi, seandainya turun 10 poin ya masih tinggi juga ya.. atuh dicoba mbak Titi, masuk ke SMA 3, barangkali bisa masuk kelas aksel (akselerasi)
(weeeek... suamiku termasuk yang anti aksel)

Trus minggu berikutnya, aku juga nanya ke teman psikolog yang lain. Beliau sedang S3 juga. praktisi pendidikan juga. konsultan beberapa sekolah di luar Jawa khusus menangani kelas akselerasi
Dan pas kubilang IQ 158 beliau mengatakan "Nggaaak mungkiin... anak very superior itu akan kelihatan sejak awal. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Nggak mungkin ibu baru tahu anak ibu very superior setelah sebesar ini. Test di mana dia ?"
Test di sekolah, kataku.
siapa yang nge-tes ?
Ada yang menawarkan dari lembaga test gitu
Berapa biayanya ?
50 rebu
Nah ini, kadangkala ada lembaga test yang menjual murah test test seperti ini. Mereka ini hanya mengejar uang. Seharusnya sebuah lembaga psikologi tidak mengeluarkan produk skala IQ anak, tetapi tes minat dan bakat. Yah , ini masalah kode etik profesi juga sih.. dan kadang kala juga ada yang baru sarjana psikologi sudah 'berani' bikin lembaga test. Harusnya dia ambil profesi psikolognya dulu, minimal. Atau sudah ambil S2 psikologi linier. Psikologi terapan juga nggak bisa. harusnya gelarnya M.PSi baru boleh memeriksa seperti itu. Itupun bukan untuk IQ

Trus aku minta Fikri untuk mengirim gambar surat itu. Daaaaan....

Yang Tanda tangan M.Psi
Waah... nggak mungkin lho Bu, anak ibu very superior. Ini skala TIKI yang mana ? Ada beberapa grade soalnya. Jangan jangan dikasih yang mudah untuk SD (ah masa' iya sih ?). Terus skala TIKI itu ada beberapa test, minimal 4 test. Nggak mungkin, IQ 158 nggak ketahuan.

Yaaa...kali aja Bu, karena keterbatasan saya, saya tidak dapat mendeteksi seberapa cerdas anak saya.

Nggak, anak very superior itu akan berbeda, akan ketahuan dari obrolannya

Ya mau tahu dari obrolan gimana, wong sama saya aja nggak kepikiran, masa' mau saya obrolin sama dia

Ya pokoknya enggak mungkin deh, IQ very superior. Anak very superior itu prestasi di kelasnya bagus, selalu tertantang dengan segala hal, jadi tidak ada kata menyerah buat dia. Mau gurunya nggak enak, mau temannya nggak enak, dia tidak akan terpengaruh, justru itu menjadi tantangan buat dia. Terus nggak bisa juga langsung masuk kelas aksel, harus menjalani serangkaian test lagi... (ya kebetulan suami juga termasuk yang enggak setuju adik pake kelas aksel, nanti kakaknya kebalap, dan kasian si anak aksel, nggak sempat main musti ngebut belajar - eh ini versi awam yaaa.a.....)

Aku manggut manggut aja
Ya sebenernya sih... nggak terlalu penting buat saya, berapa skala IQ anak saya, mau superior atau very superior. Maksudnya nanya itu supaya saya enggak salah langkah menangani ke depannya.
Ya kalau bener kan, kasihaan... kalau ternyata selama ini cuma dikasih tantangan 'segitu'. Ya kalau ternyata hasilnya salah (haiyaaaaah... sesama psikolog saling adu argumen) ya nggak papa juga. Toh selama ini aku dan Fikri sudah menjalin hubungan yang bagus, anak juga terbuka sama ortu, dari cerita soal pelajaran, sampai soal ngidol (JKT 48) dan rencana bisnis. Itu sudah lebih dari cukup laaah buatku.

Tapi pas melihat siapa yang bertanda tangan di surat itu, si Ibu psikolog yang kedua agak melunak.
"Bu, kalau ibu mau periksa lebih detil, dapat menghubungi psikolog di jalan pager gunung, (hihi gak mau nyebut nama, ntar kayak promosi) beliau juga konsultan aksel. Tapi test-nya nanti juga bukan test IQ, melainkan penelusuran bakat dan minat."

Iya deh, Bu.... aku tanya Fikri dulu.
Dan pas kuceritain Fikri, dianya cuma nyengir aja.
Mi, daripada ratusan ribu buat periksa, mendingan buat jalan jalan aja... hahaha
Dasar bocah, umminya udah khawatir, anaknya selow aja. Ya udah lah Fik, kita ngebakso berdua aja yuuk...

12 komentar:

  1. ahhaahahahhaah mbak, aku sebel deh kalimat yang "nggak mungkiin, bla bla bla dan biasanya langsung kelihatan* ya bener katamu, bisa jadi kita terlewat karena ketidak tahuan kita. Kan mau mastiin yeee...Dan maksudnya kalau superior itu anaknya keliatan pasti kayak profesor ya?
    Eh iya ke psikolog di pager gunung aja sana. Nanti tengokin krucilsku sekalian ahahaha kan sederetan sama skulnya.
    Mau dong ngebakso aduh jadi kangen mandeep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya itulah Maak, cuman aku jadi sedikit terbuka -cieee-. Psikolog yang kedua itu pernah nasehatin aku kalau anak curhat kita tunjukkan empati, bla bla bla pas kuceritain soal Ayuk yang 'patah hati' sebelum jadian dan kemudian Ayuk bilang ke aku "ummi, sekarang aku tahu kenapa orang patah hati bisa bunuh diri", jawabanku kan ke Ayuk sante aja : "trus, kamu mau bunuh diri?". Jawabanku itu di salahin katanya nggak empati dan bisa memicu bunuh diri beneran.
      Ya aku sih cuma nyengir, wlp psikolog punya semboyan 'i know you more than you' atau apa, aku kan kenal anakku dan segala kebiasaannya...
      Nah tapi dengan jawaban atas pertanyaanku di atas, akhirnya aku tahu bahwa psikolog juga manusia, haha ada kalanya lupa.
      Masa orang lagi bingung dan nanya malah dibanting.
      Masih untung akunya gak keGRan dg hasil test itu, kalau posisi dari GR dibanting gitu bisa down kali yaa wkwkwk.
      Yang pager gunung itu, fikrinya hoream alias males menjalani tes sekitar 2 jam gitu.
      Ya udahlah nunggu aja nanti masuk sma juga ada psikotest lagi kok. Kita lihat aja nanti, yg tanda tangan m.psi atau bukan qiqiqi

      Soal.ngebakso nanti kita realisasi di arisan Juni aja yaaa...

      Hapus
  2. Iya juga ya Fik.. buat jalan-jalan kayaknya seru tuh hihihi...
    Wah begitu ya ternyata, sepertinya jangan langsung percaya ya mbak :). Dulu aku pernah tes yang di sekolah sama test ditempat psiko gitu, soal-soalnya lebih susah yang di tempat psikolog :p, menurutku loh yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju ya Tan... buat jalan jalan ajah.. jatah dia bulan ini jalan - jalan soalnya...
      oh emang bener ya..test di tempat psikolog lebih susah soalnya ? IQ Fikri bakalan turun ddoooong qiqiqi

      Hapus
  3. Huaaaaa.. memang hasil tes suka membingungkan. Ya aku bisa ngrasain mb Titi pasti antara seneng dan deg-degan. Dan Fikri..benerr Nak... ngapain ousing kudu tes ini-itu, sayang uangnya.. jalani aja apa yang ada di depanmu.. dan kalo memang ntar bisa masuk SMA tengah kota itu.. mungkin di situlah jalanmu ntar bisa lebih mengasah kemampuanmu... amien...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiiiip Amaaah..... kayaknya dia juga enjoy aja, jalanin yang di depan mata. Soal SMA tengah kota itu paling kita tunggu hasil UN keluar. Sekarang mah santai ajaa duluu... ini hari terakhir UN diaa.

      Hapus
  4. Saya pernah mendapat pengalaman juga tentang tes yang dilakukan oleh suatu lembaga.

    Dan, ketika tes lagi, langsung di Psikolog tuh hasilnya beda, Mba. Hihihihi
    So, benar juga kata temannya. Mungkin, dari lembaga menaikkan hasil. Emmm, tapi mbuh ding, Mba. :D

    Yang penting, rajin membaca dan belajar saja,. Lak mengko pinter. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi... ternyata benar ya.. hal itu?
      ya udah lah.. makin mantep juga nggak usah tes lagi
      bener bener, sing penting rajin sinau ya.....

      Hapus
  5. ahhh berasa ada temen, aku salah satu ortu yang juga gak NGEH kalo anaknya superior *kalo fikri very superior, kalo anak anakku superior* itu ketauan dari sikap dan tingkah laku awalnya, tapi itu juga psikolog PG Arfa dulu suspect nya Arfa ADHD, diminta di periksa lebih lanjut aja...akhirnya aku periksa ke ahli tumbuh kembang di jalan haruman atas rekomendasi sodara aku.

    Begitu dateng, dokter ngobrol ama Arfa, disuruh keliatannya tampak seperti main main padahal test awal lalu dokter bilang kemudian di akhir sesi, ini saya yakin bukan ADHD, karna dia masih bisa konsentrasi lebih lama, saya lebih yakin kalo dia ini superior aktif, krn tadi saya lakukan beberapa test awal sudah menunjukkan ke arah sana, saya kasih schedule untuk test lebih lanjut ya...akhirnya test dan terbukti, IQ nya 123 trus dia diterapi. Azka juga begitu, dia 126, padahal waktu test di sekolah 109.

    kata dokter, kenapa hasilnya bisa beda karna kalo di sekolah itu kan test nya umum, maksudnya barengan gitu jadi gak detail dan IQ itu masih bisa berubah hasil test nya, selain itu tergantung kondisi si anaknya juga...gitu dokter neuropediatric yang nanganin Azka dan Arfa waktu itu menjelaskan. Sorry tie jadi panjang gini hehehee...abiiss sebeell ama orang yg bilang GAK MUNGKIN begitu, PD amat sih ! *looh kok jadi esmosi* hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi.. mau balas komen yang super panjang ini dari hape meuni watir, takut udah ngetik panjang dan lebar bari berjuang antara jempol dan jari di layar sentuh, ..
      kalau pas SD anak-anak memang levelnya superior, tapi karena aku juga nggaak ngeh, aah.. biasa aja kali, jadi ya kubiarin aja, toh anak-anak bisa ngikutin pelajaran, dan alhamdulillah semuanya wajar terkendali, nggak ada yang perlu perhatian khusus. eh.. si Fikri pernah ding, aku dipanggil gurunya pas kelas 5, katanya kalau udah selesai ngerjain tugas atau apa, dia suka manjat-manjat pintu dan jendela.. waktu itu aku mikirnya ya wajar kali Paak.. namanya juga anak laki. .hihi... *ibupembelaanakpisan*
      tapi setelah dikasih tau ini itu masalah itu selesai. dan di sekolah juga fikri bukan yang ranking satu gitu.. ya tapi selalu 5 besar. berhubung aku ini cetek banget, masih mikir itu hal yang wajar, karena bapak ibunya juga langganan juara kelas hahahaha..

      aih .. tapi sudahlah soal Fikri ini biarlah jadi catatan saja, ntar lihat dia masuk sma kan ada test ulang. kalau memang perlu perhatian khusus nanti aku konsul khusus juga. yang penting anak-anak kita tumbuh jadi anak-anak yang shalih dan shalihah ya Teh.. terutama .. bisa menjalankan kewajiban kepada Sang Pencipta. yang lain lain mah nyusul insya Allah. Amiin

      Hapus
  6. Hatu hati dengan iq segitu, orang yg iq nya diatas 130 tu lebih cendrung mudah bosan dan keras kepala, dan janganlah anda sombong karena iq tidak menjamin masa depan

    BalasHapus
  7. Hatu hati dengan iq segitu, orang yg iq nya diatas 130 tu lebih cendrung mudah bosan dan keras kepala, dan janganlah anda sombong karena iq tidak menjamin masa depan

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Kesan